KabarNet

Aktual Tajam

Islam vs Ahmadiyah

Dengan ini kami (ADMIN) menambahkan satu forum dialog “Islam vs Ahmadiyah” mengingat banyak pengunjung di situs KabarNet yang terlibat perdebatan seputar Ahmadiyah.

Pada awalnya, tanpa kami duga banyak pengunjung yang memanfaatkan postingan kami sebagai makalah diskusi/dialog, sehingga situs ini menjadi ajang Perdebatan. Maka kami mempersilahkan mengisi forum ini dengan berdialog yang sehat, cerdas dan bijak serta tidak melupakan etika dan norma kita sebagai bangsa timur. Tentunya, tidak menampilkan tulisan atau gambar yang sifatnya tidak senonoh (kata-kata jorok, hubungan intim). Kiranya forum ini dapat dimanfaatkan sebaik mungkin untuk memperluas wawasan  & menjadikan kita bangsa yang lebih demokratis. [13/10/2010]

Maaf dan Salam, ADMIN.

11.672 Tanggapan to “Islam vs Ahmadiyah”

  1. Abdullah said

    Allah Tuhan Yang Maha Mengetahui, Maha Kuasa berfirman: “Dan, berpegang-teguhlah kepada tali Allah dan jangan bercerai-berai” (Ali Imran 3:103). Peribahasa Indonesia “BERSATU KITA TEGUH, BERCERAI KITA RUNTUH”. Tali Allah yang dapat menyatukan orang-orang Islam yang beriman dan beramal shaleh sejak Nabi Adam as adalah Khilafat (Al Baqarah 2:30/31) yang senantiasa dimulai dengan Khalifah Allah (kenabian) dan yang digantikan dengan Khalifat-un-Nabi/Rasul (Khulafa-ur-Rasyidin) (An-Nur 24:55/56), dan saat ini Khilafat demikian itu telah dianugerahkan Allah kepada HMG Ahmad (Khalifatullah, Imam Mahdi & Perumpamaan Isa Ibnu Maryam) dan Jemaat Muslimin Ahmadiyah.

  2. Ade said

    Dedi berkata
    24/01/2015 pada 17:21

    Pendapat almarhum Buya Hamka……..dsb…dsb

    —– Almarhum Buya Hamka berpendapat dan menyakini bahwa Nabi Isa as telah WAFAT

    —– Bagaimana Bung Dedi anda bersependapat Dengan Almarhum Buya Hamka Nabi Isa as telah wafat atau tidak ?

  3. Ade said

    Dedi berkata
    24/01/2015 pada 17:21

    Pendapat almarhum Buya Hamka……..dsb…dsb

    —– Almarhum Buya Hamka berpendapat dan menyakini bahwa Nabi Isa as telah WAFAT

    —– Bagaimana Bung Dedi anda bersependapat Dengan keyakinan Almarhum Buya Hamka bahwa Nabi Isa as telah wafat atau tidak ?

  4. dedi said

    Abdullah said
    24/01/2015 at 22:25
    Ahmadiyah adalah Jemaat ….. yang didirikan oleh HMG Ahmad as atas perintah…., juga telah mengutus HMG Ahmad as sebagai Imam Mahdi dan Misal Isa Ibnu Maryam berkat ketaatannya yang sempurna kepada…..MG Ahmad as menerima mandat Ilahi untuk menerima baiat dari sekalian umat Islam di seluruh penjuru dunia, dan …… memerintahkan kepada semua umat Islam di seluruh penjuru dunia untuk bai’at kepadanya.

    ===>
    Pendapat Almarhum Buya Hamka:
    Kita tetap memegang pendirian Ahli Sunnah, bahwa sesudah Muhammad tidak akan datang nabi lagi. Karena soalnya sudah habis. kalau akan kita terima kedatangan itu, manakah yang akan kita tetapkan? Apakah Mirza Ghulam Ahmad, atau Mirza Ali Muhammad (Al-Bab), atau Bahaullah? Atau kita akui semuanya, padahal diantara satu sama lain berlawanan pula. Atau kita akui semuanya, dan kita akui pula yang lain yang akan mendakwakan dirinya menjadi nabi pula nanti.
    ==>Insya Allah kami akan selalu bersama Beliau, sebagaimana yang diajarkan Nabi Muhammad SAW, satu pendapat hingga akhir hayat kita….
    Wallahualam,

  5. Abdullah said

    Dedi said

    27/01/2015 at 06:16

    Pendapat Almarhum Buya Hamka:
    Kita tetap memegang pendirian Ahli Sunnah, bahwa sesudah Muhammad tidak akan datang nabi lagi. Karena soalnya sudah habis. kalau akan kita terima kedatangan itu, manakah yang akan kita tetapkan? Apakah Mirza Ghulam Ahmad, atau Mirza Ali Muhammad (Al-Bab), atau Bahaullah? Atau kita akui semuanya, padahal diantara satu sama lain berlawanan pula. Atau kita akui semuanya, dan kita akui pula yang lain yang akan mendakwakan dirinya menjadi nabi pula nanti.
    ==>Insya Allah kami akan selalu bersama Beliau, sebagaimana yang diajarkan Nabi Muhammad SAW, satu pendapat hingga akhir hayat kita…..

    ===>>> Ternyata pendiri Ahli Sunnah itu tidak sesuai dengan Al Qur’a & Hadits, karena menurut Al Qur’an & Hadits, kenabian itu masih terbuka bagi umat Islam yang bertakwa, beriman dan beramal shaleh, dan yang mentaati Allah dan Nabi Muhammad saw (An-Nisa 4:69/70, Al ‘Araf 7:35/36 & An-Nur 24:55/56). Lagipula, yang menetapkan dan mengakui kenabian/kerasulan itu bukan kita, melainkan Allah, Tuhan Yang Maha Mengutus.

  6. dedi said

    Abdullah said
    26/01/2015 at 16:44
    Allah Tuhan Yang Maha Mengetahui, Maha Kuasa berfirman: “Dan, berpegang-teguhlah kepada tali Allah dan jangan bercerai-berai” (Ali Imran 3:103)

    ==> Ahmadiyah pun bercerai berai….

    Wallahualam,

  7. Abdullah said

    Dedi said

    27/01/2015 at 13:26
    Abdullah said
    26/01/2015 at 16:44
    Allah Tuhan Yang Maha Mengetahui, Maha Kuasa berfirman: “Dan, berpegang-teguhlah kepada tali Allah dan jangan bercerai-berai” (Ali Imran 3:103)

    ==> Ahmadiyah pun bercerai berai….

    ===>>> Hanya Jemaat Muslimin Ahmadiyah yang tidak bercerai-berai, karena mengikuti Sunnah Rasulullah saw dan Sunnah Khulafa-ur-Rasyidin.

  8. Ade said

    Dedi berkata 27/01/2915 pada 17:21
    Pendapat almarhum Buya Hamka……..

    —-Pendapat dan kenyakinan Almarhum Buya Hamka adalah menyakini bahwa Nabi Isa as telah wafat.

    —-Bagaimana Bung Dedi, anda bersependapat dengan almarhum Buya Hamka yang menyakini Nabi Isa as telah wafat atau tidak…?

  9. Abdullah said

    Jemaat Muslimin Ahmadiyah Turut Berduka Cita Atas Kewafatan King Abdullah (Raja Saudi Arabia)

    25th January 2015
    PRESS RELEASE

    Ahmadiyya Muslim Community offers condolences on passing of King Abdullah
    The Ahmadiyya Muslim Community offers its condolences to the people of Saudi Arabia

    The Ahmadiyya Muslim Community offers its condolences to the people of Saudi Arabia upon the passing of the Custodian of the Two Holy Mosques, King Abdullah bin Abdul-Aziz Al Saud on 23 January 2015. Surely, to Allah we belong and to Him shall we return. (Holy Quran, Chapter 2, 157)

    May Allah the Almighty grant Saudi Arabia’s new monarch, King Salman bin Abdul-Aziz Al Saud the ability to serve his people in the very best way and to conduct all of his duties with wisdom and according to the true and peaceful teachings of Islam.

    http://www.alislam.org/egazette/press-release/ahmadiyya-muslim-community-offers-condolences-on-passing-of-king-abdullah/

  10. Abdullah said

    LOVE FOR ALL, HATRED FOR NONE

  11. dedi said

    Abdullah said
    27/01/2015 at 12:58
    Lagipula, yang menetapkan dan mengakui kenabian/kerasulan itu bukan kita, melainkan Allah, Tuhan Yang Maha Mengutus.

    ==>
    Nabi-nabi baru:
    1. Musailamah

    2. Mirza Ghulam Ahmad
    Mirza Ghulam Ahmad adalah nabi yang diciptakan pemerintah Inggris yang berkuasa di India Pakistan kala itu. Awalnya, pemerintah Inggris sangat gemas dengan sepak terjang aktivis Isalam yang tak kooperatif. Orang-orang Islam yang komit dengan Islamnya tidak mau bekerjasama dengan colonial Inggris. Bahkan mereka menyatakan bahwa perang melawan colonial Inggris adalah jihad suci yang menjanjikan pahala besar. Berbagai usaha yang dilakukan Inggris sering mentah dan kandas.
    Mengalihkan sikap kaum muslimin ini, pemerintah Inggris berusaha menciptakan boneka-boneka hidup yang ditanam di tubuh umat Islam. Maka dipilihlah Mirza Ghulam Ahmad. Kondisi kejiwaan sang nabi yang memang cinta popularitas, mendukung kepalsuan yang dibuat oleh Pemerintah Inggris. Dengan penuh ketundukan, ia rela membolak-balikkan agama Islam sehingga muncullah sebuah agama baru, Ahmadiyah.
    Lumayan sukses juga trik kolonial Inggris ini, terbukti dengan makin bertambahnya pengikut gerakan Ahmadiyah, sampai akhirnya menjadi gerakan dakwah yang menginternasional. Dukungan moral dan dana dari pemerintah Inggris membuat organisasi ini begitu pesat berkembang. Tak heran jika Ustadz Ahmad Haryadi eks da’I Ahmadiyah Indonesia menyatakan bahwa pasokan uang ke kantongnya tak pernah telat selama menjadi da’I Ahmadiyah.
    Ahmadiyah selain punya nabi sendiri yaitu si “Ahmad”, ia pun punya kitab suci yang berbeda dari Al-Qur’an yang diberi nama ‘Tadzkirah’ walaupun tidak diakui oleh kelompok ini. Isinya adalah bajakan dari ayat-ayat Al-Qur’an, dibolak-balik, potong sana dan sambung sini. Tak layak disebut kitab suci walaupun Ahmadiyah menyakini keotentikannya.
    Di negerinya sendiri, konon gerakan Ahmadiyah tidak diakui. Sampai para ulama Pakistan mengeluarkan fatwa tentang kafirnya para pengikut Ahmadiyah ini.

    3. Lia Aminudin dan nabi-nabi yang lain
    Selain Musailamah dan Mirza Ghulam Ahmad, masihbanyak lagi mereka yang mengaku sebagai nabi. Baik gerakan local maupun internasional. Yang terdekat, Di Sulawesi Selatan, ada nabi baru yang namanya Ali Taetang Laikabu (1974). Gerakannya local saja, hamper tak terdengar. Seakan tidak mau kalah dengan Ali, di Pulau Laut Kalimantan Selatan pada tahun 1979 Rasyidi menobatkan diri menjadi nabi. Dan konon di tahun 1986, Teguh Esha penulis novel “Ali Topan Anak Jalanan” pun mengaku sebagai rasul di bawah lembaga pencetak para rasul, Lemabag Kerasulan. Sedangkan di kota Bandung, orang yang mengaku menjadi nabi itu bernama Muhammad Mahyo Mahmud Marzuki.
    Dua tahun menjelang tahun 2000, Lia Aminudin yang mengaku sebagai Imam Mahdi dan Maryam menobatkan sebagai Nabi Isa. Agama Salamullah berdiri pula, mengiringi kelahiran kembali sang nabi dan ibunya.
    Dan pada bulan ini (Oktober 2007) berkembang aliran sesat yang meresakan dikalangan umat Islam, aliran yang bernama Al-Qiyadah Al-Islamiyah ini yang didirikan oleh Ahmad Moshaddeq alias H. Salam yang cikal bakal pendirian di Kampung Gunung Sari, Desa Gunung Bunder, Bogor ini sudah mulai merambah ke propinsi lain di Indonesia(Pent.)
    Banyak orang yang tergaet sudah dengan isu nabi baru. Dan mereka masih terus mencari mangsa baru untuk dimasukkan dalam daftar pesertanya. Selain yang sudah disebutkan di atas, masih ada lagi nabi-nabi palsu lainnya yang semuanya adalah jelas-jelas para pendusta. Munculnya sekte-sekte yang baru, membidani pula lahirnya nabi-nabi baru yang lainnya.

    Sikap Kaum Muslimin
    Kenabian dan kerasulan telah berakhir. Nabi Muhammad adalah pamungkas seluruh nabi dan rasul. Tidak akan lagi ada nabi dan rasul setelah Beliau. Inilah keyakinan dalam syariat Islam. Jadi, kalau ada yang mengaku-ngaku nabi, entah itu tetangga kita, atau teman kita barangkali, atau orang yang kita tidak kenal, maka jelas orang itu jelas pembohong. Ingat riwayat berikut :
    “Rasulullah keluar menuju perang Tabuk, dan beliau mewakilkan Ali (untuk tinggal di kota Madinah), maka Ali pun berkata, “Apakah engkau tinggalkan aku dengan para wanita dan anak-anak?” Rasulullah bersabda, “Apakah engkau tidak rela apabila kedudukanmu di sisiku sebagaimana kedudukan Harun di sisi Musa, namun tidak ada nabi setelahku.”(HR. Bukhari)
    Para ulama Islam sepakat bahwa mereka yang mengaku mendapatkan nubuwah setelah Rasulullah berarti telah keluar dari Islam. Tidak hanya yang mengaku, mereka yang hanya membenarkan kenabiannya saja, maka dianggap keluar dari Islam. Sampai mereka yang diam, tidak menyalahkan ‘kenabian baru’ tersebut, maka berarti dia telah keluar pula dari ajaran Islam. Na’udzubillah.

    Masih Berlanjut
    Isu nabi baru memang tidak berhenti pada Musailamah, Thulaihah, Mirza Ahmad, Lia aminudin, dan lainnya. Masih mungkin muncul Musailamah-Musailamah yang lain yang mengaku sebagai nabi.
    Sebenarnya, isu nabi baru itu tidak akan laku jika aqidah umat Islam mantap. Mungkinmereka akan berteriak-teriak danmengiklankan diri dimana-mana, namun percuma jika yang ditawari sudah mengetahui kebohongan tawaran tadi.
    Akhirnya, tidak ada yang lebih pas bagi generasi muda Islam kecuali tambah bersemangat mempelajari Islam. Jangan lupa juga berdoa supaya hati inidikokohkan Allah dalam kebenaran. Allahumma tsabit qalbi ala dienika.

    Sumber : Majalah El-Fata edisi 4/II/2002, Hal. 20-22

    Wallahualam,

  12. dedi said

    Abdullah said
    27/01/2015 at 14:09
    Hanya Jemaat Muslimin Ahmadiyah yang tidak bercerai-berai, karena mengikuti….

    ==> Mengikuti wahyu-wahyu “suci” MGA, sehingga timbul syariat-syariat baru, spt candah, makam suci Qadyan, dll.
    Terpecah, karena ada kepentingan dunia, monggo dibaca yang ada di situs the cult….

    Wallahualam,

  13. Abdullah said

    Dedi said

    29/01/2015 at 08:01

    Sumber : Majalah El-Fata edisi 4/II/2002, Hal. 20-22

    ===>>> Dedi lebih percaya kepada sumber-sumber selain Al Qur’an & Hadits? Ya, memang pada zaman Imam Mahdi, kebanyakan umat Islam telah meninggalkan Al Qur’an & Hadits sebagai pedoman utama agama Islam yang diajarkan oleh Nabi Muhammad saw.

  14. Abdullah said

    Dedi said

    29/01/2015 at 08:04

    Mengikuti wahyu-wahyu “suci” MGA, sehingga timbul syariat-syariat baru, spt candah, makam suci Qadyan, dll.
    Terpecah, karena ada kepentingan dunia, monggo dibaca yang ada di situs the cult….

    ===>>> Wahyu-wahyu suci dari Allah Tuhan Yang Maha Suci yang Dia firmarkan kepada HMG Ahmad (Khalifah Allah & Imam Mahdi) as memang sesuai dengan nubuatan di dalam Al Qur’an & Hadits, karena HMG Ahmad as dan Jemaat Muslimin Ahmadiyah hanya mengikuti syariat Islam. Sedangkan, mereka yang keluar dari Jemaat Muslimin Ahmadiyah telah membangkang perintah Allah di dalam Al Qur’an “berpegang teguhlah kepada Tali Allah, dan janganlah bercerai-berai” (Ali Imran 3:103), akibat berselisih mengenai sesuatu karena ada kepentingan dunia. Padahal, Allah telah memberikan solusi terbaik-Nya di dalam Al Qur’an:
    Hai orang-orang yang beriman,taatlah kepada Allah, dan taatlah kepada Rasul-Nya, dan kepada orang-orang yang memegang kekuasaan di antaramu. Dan, jika kamu berselisih mengenai sesuatu, maka kembalikanlah hal itu kepada Allah dan Rasul-Nya, jika kamu memang beriman kepada Allah dan Hari Kemudian. Hal demikian itu paling baik dan paling bagus akibatnya. (An-Nisa 4:59/60).

  15. dedi said

    Abdullah said
    02/02/2015 at 01:12
    kebanyakan umat Islam telah meninggalkan Al Qur’an & Hadits sebagai pedoman utama agama Islam yang diajarkan oleh Nabi Muhammad saw.

    ==> ??? ngaku sendiri???

    Wallahualam,

  16. Abdullah said

    Dedi said

    04/02/2015 at 05:46
    Abdullah said
    02/02/2015 at 01:12
    kebanyakan umat Islam telah meninggalkan Al Qur’an & Hadits sebagai pedoman utama agama Islam yang diajarkan oleh Nabi Muhammad saw.

    ==> ??? ngaku sendiri???

    ===>>> Ya, buktinya Dedi dan kebanyakan umat Islam tidak mau bersatu dalam Jemaat Muslimin Ahmadiyah yang senantiasa dipimpin oleh seorang Khalifah dengan Sistim Khilafat, sebagaimana dicontohkan oleh Nabi Muhammad saw dan Khulafa-ur-Rasyidin ra. Dedi dan kebanyakan umat Islam lebih suka bercerai-berai mengikuti para ulamanya masing-masing, padahal Allah melarang umat Islam bercerai-berai (Ali Imran 3:103).

  17. Abdullah said

    Pada zaman Imam Mahdi, kebanyakan umat Islam telah meninggalkan Al Qur’an & Hadits sebagaimana diajarkan oleh Nabi Muhammad Rasulullah saw, kecuali hanya para pengikut Imam Mahdi, yakni Jemaat Muslimin Ahmadiyah, yang sangat mentaati Nabi Muhammad Rasulullah saw.

  18. dedi said

    Abdullah said
    02/02/2015 at 01:26
    Wahyu-wahyu suci dari Allah Tuhan Yang Maha Suci yang Dia firmarkan kepada HMG Ahmad (Khalifah Allah & Imam Mahdi) as memang…

    ==> Memang tidak ada dalam sejarah Nabi SAW bahwa ada orang yang akan mendapatkan wahyu baru, karena Beliau adalah orang yang mendapatkan wahyu Allah yaitu berupa Al Quran, yang dihafalkan oleh para sahabat Beliau, hingga dikumpulkan oleh Khalifah Usman RA. Kumpulan Firman Allah yang sempurna sebagaimana Allah sempurnakan pula Agama Islam, yang akan selalu diikuti oleh Ummat Islam hingga akhir masa.

    Jika ada wahyu baru semacam yang dipercayai pengikut Qadyani, maka Allah sudah peringatkan:
    “Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.” QS 49:6.

    Wallahualam,

  19. dedi said

    Abdullah said
    02/02/2015 at 01:12
    Dedi lebih percaya kepada sumber-sumber selain Al Qur’an & Hadits?

    ==> Kami lebih percaya kepada Al Quran dan Hadist, sebagaimana yang telah disampaikan oleh Nabi Muhammad SAW, yang diteruskan kepada para sahabat Beliau hingga para ulama yang mukhlisiin, itulah yang kami pegang hingga akhir hayat.
    Tidak seperti ajaran Qadyani yang “hanya” percaya pada tafsir Al Quran dan Hadist versi mereka ditambah (yang disesuaikan dengan) “wahyu suci” Tadzkirah serta buku-buku internal saja.
    Bisa dilihat, Tadzkirah saja bisa terbit dengan beberapa versi, dari yang lama (terdapat kontroversi di sana sini) hingga edisi terbaru (editan).

    Oleh karenanya Ummat Islam tidak mudah tertipu dengan bujuk rayu pendakwah Qadyani untuk masuk ajarannya, yang tanpa sadar akan hanya memperkaya kroni “khalifah”… Dan bagi pendakwah ajaran itu, tentu tidak mau incomenya hilang gara-gara kembali kepada Islam….

    Sudah banyak buku-buku telaahan ajaran Qadyani ini baik yang ditulis oleh para ulama yang mukhlisiiin hingga mantan para pengikut ajaran ini. Ummat Islam hanya tinggal mengambil pelajaran (ingat Firman Allah 49:6), apakah mau tetap dalam ajaran yang lurus (Islam) atau pada yang sesat.

    Ajaran Qadyani pun terpecah…. Dari pendakwah Qadyani ini ngga mau kasih penjelasannya….

    Wallahualam,

  20. Abdullah said

    Dedi said

    04/02/2015 at 12:06
    Abdullah said
    02/02/2015 at 01:26
    Wahyu-wahyu suci dari Allah Tuhan Yang Maha Suci yang Dia firmarkan kepada HMG Ahmad (Khalifah Allah & Imam Mahdi) as memang…

    ==> Memang tidak ada dalam sejarah Nabi SAW bahwa ada orang yang akan mendapatkan wahyu baru, karena Beliau adalah orang yang mendapatkan wahyu Allah yaitu berupa Al Quran, yang dihafalkan oleh para sahabat Beliau, hingga dikumpulkan oleh Khalifah Usman RA. Kumpulan Firman Allah yang sempurna sebagaimana Allah sempurnakan pula Agama Islam, yang akan selalu diikuti oleh Ummat Islam hingga akhir masa.

    ===>>> Tuh kan sudah jelas bahwa Dedi sudah meninggalkan Al Qur’an. Coba baca ayat suci Al Qur’an berikut:
    “Dan tidak ada bagi manusia bahwa Allah berbicara kepadanya, kecuali dengan wahyu atau dari belakang tabir atau dengan mengirimkan seorang utusan guna mewahyukan dengan seizin-Nya apa yang Dia kehendaki. Sesungguhnya, Dia Mahaluhur, Mahabijaksana.” (Asy-Syura 42:51/52)

    Dalam ayat suci Al Qur’an yang berlaku sampai hari kiamat tersebut, Allah Al Mutakalliman senantiasa berbicara kepada manusia dengan wahyu, dari belakang tabir atau dengan mengirimkan seorang utusan guna mewahyukan dengan seizin-Nya apa yang Dia kehendaki. Dengan demikian, maka menurut Al Qur’an, wahyu baru dari Allah itu akan senantiasa turun kepada manusia atau utusan-Nya dengan seizin-Nya.

  21. Abdullah said

    Dedi said

    04/02/2015 at 12:14

    Kami lebih percaya kepada Al Quran dan Hadist, sebagaimana yang telah disampaikan oleh Nabi Muhammad SAW, yang diteruskan kepada para sahabat Beliau hingga para ulama yang mukhlisiin, itulah yang kami pegang hingga akhir hayat.

    ===>>> Coba Dedi buktikan dengan mentaati perintah Allah dalam ayat berikut: “Berpegang-teguhlah kepada Tali Allah dan jangan bercerai-berai” (Ali Imran 3:103).
    Apakah Dedi dan umat Islam lainnya tidak bercerai-berai dan berpegang-teguh kepada Tali Allah, yakni hidup dalam satu Jemaat Muslimin yang hanya memiliki satu orang pemimpin atau Imam yang mendapat petunjuk Allah, yakni seorang Khalifah, sebagaimana dicontohkan oleh Nabi Muhammad saw dan Khulafa-ur-Rasyidin ra?

  22. Abdullah said

    Dedi ngoceh

    Tidak seperti ajaran Qadyani yang “hanya” percaya pada tafsir Al Quran dan Hadist versi mereka ditambah (yang disesuaikan dengan) “wahyu suci” Tadzkirah serta buku-buku internal saja.
    Bisa dilihat, Tadzkirah saja bisa terbit dengan beberapa versi, dari yang lama (terdapat kontroversi di sana sini) hingga edisi terbaru (editan).

    Oleh karenanya Ummat Islam tidak mudah tertipu dengan bujuk rayu pendakwah Qadyani untuk masuk ajarannya, yang tanpa sadar akan hanya memperkaya kroni “khalifah”… Dan bagi pendakwah ajaran itu, tentu tidak mau incomenya hilang gara-gara kembali kepada Islam….

    Sudah banyak buku-buku telaahan ajaran Qadyani ini baik yang ditulis oleh para ulama yang mukhlisiiin hingga mantan para pengikut ajaran ini. Ummat Islam hanya tinggal mengambil pelajaran (ingat Firman Allah 49:6), apakah mau tetap dalam ajaran yang lurus (Islam) atau pada yang sesat.

    Ajaran Qadyani pun terpecah…. Dari pendakwah Qadyani ini ngga mau kasih penjelasannya….

    ===>>> Itu kan hanya ocehan Dedi yang tidak berdasarkan Al Qur’an dan Hadits.

  23. dedi said

    Abdullah said
    04/02/2015 at 11:36
    Jemaat Ahmadiyah, yang sangat mentaati….

    ==> Kepada pemerintah Inggris, dari “nabi” hingga (kroni) “khalifah”-nya….
    Mau bukti??? Googling aja…

    Wallahualam,

  24. Abdullah said

    Dedi said

    04/02/2015 at 20:36
    Abdullah said
    04/02/2015 at 11:36
    Jemaat Ahmadiyah, yang sangat mentaati….

    ==> Kepada pemerintah Inggris, dari “nabi” hingga (kroni) “khalifah”-nya….
    Mau bukti??? Googling aja…

    ===>>> Itu kan hanya tuduhan dan fitnahan dari Dedi dan para ulama Islam yang mengabaikan Al Qur’an (Al Baqarah 2:192) dan yang telah bercerai-berai membangkang larangan Allah (Ali Imran 3:103).

  25. dedi said

    1. Where are the white Ahmadi Murrabi’s?

    Postby rationalist » 26 Dec 2010, 15:25
    Are there any european/american/white born Ahamdi Murrabis or Shaikhs? Ahmadis market themselves as the oldest Islamic organization in the USA….in almost 100 years they havent gotten any whites in America to moonlight as Imams.

    I have never seen any. I know of one African American Murrabbi whose parents converted to Ahmadiyyat back int he 1960’s but none after him.

    On the flipside…Islam in the USA has Shaikh Hamza Yousaf and Sohaib Webb. And by the way..they both speak fluent Arabic.
    “Ahmadiyyat robbed me, didnt educate me properly”

    2. Re: Indeed ALL Prophets have died

    Postby Grannyathome52 » 30 May 2008, 19:49
    Salam alaikum, Farhan00!

    I converted in the end of 1975 to Islam and than 1980, short after the birth of our second daughter along with my husband who was Muslim by birth to Ahmadiyya. AMJ was in those days in Germany in my town the only organisation with programs in German and/or English language. There were other “Muslim” converts and books in German and English language. After short time I had been given work for Lajna (ladies group). After 1984 more and more Pakistanies came to Germany and “Jamaati work” became more and more. Until 1995 everything was okay and we were happy. So happy and satisfied that we even gave our son into “Waqfe Now” program. Starting 1995 we had over the years some really bad experiences with Jammati officials. And we came to know that there were “two Jamaats”: One for the eyes of the converts and the western society. And a second Jamaat, the “real Jamaat”, which run totaly according to the enherited and imported Punjabi rules. In these days we came to know some really bad things. Slowly, slowly we draw ourselves back but we still believed in MGA’s “Promised Messiah-ship”. Our son was the first who recognized the fake and left (not officially but for himself and for us) AMJ in about 2004. To encrease my faith I looked in internet for something from Ibn Kathir about the signs of the Last Time and the Messiah……and found Nuzhat Haneef’s book “Recognizing the Messiah”. I shared it with my family and than this book changed our life because it provided us with knowledge about “the other, the dark side “of AMJ and MGA. Finally we left in sommer 2006 and reverted to Islam. Al-hamdu-liLlah and shukr for Allah’s guidance He granted us in His mercy.
    In generell I can say that the life in AMJ is very tight and narrow . Members should not have their own opignions or positions. It’s some kind of global prison. AMJ thinks for you and you have to obey and to follow without questioning AMJ’s decisions. AMJ is a kind of dictatorship.
    As a European convert with out knowledge of Urdu life is even harder. The rules of the community are (or were at least 2 years ago) not translated. Fiqh Ahmadiyya is only in Urdu available and if you seek help from Jamaat the decisions are arbitrary. A very important point is also the personality cult.
    Since we left we are free. Free to believe and to take the Qur’an as Allah’s personal message for us. Free to read the books we want to read, to use the internet as we want and to spent time and money according to our own decision. And we are allowed to use our god-given intellect. Al-hamu-liLlah!

    Wallahualam,

  26. dedi said

    “The conferment of titles is the pleasure and the work of the Lord God. I have no share in it. As for the question why I have written like this? Why has this contradiction crept in? So, please, listen and understand with care. This contradiction is of the same kind as in Barahin-i-Ahmadiyya I wrote, at one time, that the Messiah, son of Mary, could descend from the heavens. Later on, however, I put forth that I, myself, am the Messiah expected to come in the later times. The basis of the contradiction in that case was the same. Although, in Barahin-i-Ahmadiyya itself, the Lord God called me Isa and also said to me that the tiding of my advent had been given earlier by God and His Apostle. Since, however, a portion of the Muslims happened to have become firm on the belief, and I myself believed the same, that Hazrat Isa would come down from the heavens, I endeavoured to take the Wahyi at the apparent level; in fact, I watered it down in interpretation, and clung to the former view I had shared with the rest of the Muslims; and this was the view I did my best to propagate in Barahin-i-Ahmadiyya. Later on, however, Revelations came down on me, like the rain from heaven, to the effect that I myself was the Promised Messiah, so eagerly expected to appear, with hundreds of wonderful Signs and the earth, as well as the heavens took their stand in support of my position; and brilliant manifestations forced me to perceive that I, myself, was the Masih expected to appear in the later times. Otherwise, my belief on these points was the same as I had stated in Barahin-i- Ahmadiyya… Similarly, to begin with this was my belief that in no way was I comparable in quality with reference to Jesus son of Mary. He was a Prophet, great among those chosen by the Lord. Even when something occurred, which seemed to establish my superiority over him, always I took it to imply some limited and partial preference. Later on, however, the Wahyi sent down on me by the Lord, like pouring rain, it did not allow me to remain clinging to this belief; and I found the title of Nabi clearly conferred on me, in a manner that I was a Nabi from one angle, an Ummati from another… Anyway, the long and short of it all is this that there is no contradiction in what I say, I but follow the Wahyi, from the Lord. Just as long as this awareness did not come to me, I continued to say what I had said at the outset. But when I was given this awareness, I began to say different from what I had said before. I am no more than a human being: I do not claim to be the Knower of the Unseen.” (Haqiqatul Wahyi, page 148-150)

    Wallahualam,

  27. dedi said

    Damascus is Qadian metaphorically

    Postby Shadab » 23 Dec 2008, 05:45
    Oh I forgot to mention

    Damascus is Qadian, the white Minaret is symbolic
    ((This Wahi “We have caused this to descend near Qadian” indicates that my appearance in Qadian had been foretold in previous revelations. This revelation shows that in Allah’s estimation Qadian resembles Damascus. The interpretation of this revelation is: We have sent it down close to Damascus on its eastern side near the White Minaret. It is to be noted that my place of residence is on the eastern edge of Qadian)) – Izala Auham page 73 footnote.

    Damascus is in Syria, the white Minaret is symbolic
    ((the hadith of Sahih Muslim concerning the descent of Isa near the minaret of Damascus indicates that he will travel to Damascus from some eastern countries that belong to India. It has been conveyed to me that the words of the hadith indicate the time of his appearance inasmuch as the value the letters of those words indicate the Hijri year of in which Allah raised me. The word minaret was chosen as indicating that the land of Damascus will be illuminated and brightened in consequence of the supplications of the Promised Messiah after having been darkened by all sorts of innovations. You are also aware that the land of Damascus has been the source of the mischief of the Christians)) – RK, vol 7, Hamamatul Bushra page 225.

    Qadian is referred to in the Holy Quran
    ((There is no doubt that Qadian is referred to in the Holy Quran)) – Ishtihar Minaratul-Masih May 28, 1900 page 8 footnote.

    ahmadiyyalibrary.com/see3.php?Tadhkira-550

    Damascus is Qadian, the white Minaret should be a physical one
    ((After the Festival Service in the big mosque, the Promised Messiah made a drawing of a minaret on a piece of paper and said: God has directed me to have a minaret like this one constructed)) – Tadhkirah page 779.

    .ahmadiyyalibrary.com/see3.php?Tadhkira-977

    Wallahualam,

  28. Abdullah said

    Jika Dedi dan umat Islam lainnya berselisih karena sesuatu dengan Jemaat Muslimin Ahmadiyah, maka Allah telah memberikan solusi-Nya di dalam Al Qur’an yang terbaik akibatnya bagi orang-orang yang beriman kepada Allah dan Hari Kemudian, sebagai berikut:

    “Hai orang-orang yang beriman,taatlah kepada Allah, dan taatlah kepada Rasul-Nya, dan kepada orang-orang yang memegang kekuasaan di antaramu. Dan, jika kamu berselisih mengenai sesuatu, maka kembalikanlah hal itu kepada Allah dan Rasul-Nya, jika kamu memang beriman kepada Allah dan Hari Kemudian. Hal demikian itu paling baik dan paling bagus akibatnya.” (An-Nisa 4:59/60)

    Dengan demikian, maka tetap berpegang-teguhlah kepada Tali Allah dan jangan bercerai-berai atau memusuhi dan memfitnah Jemaat Muslimin Ahmadiyah, apalagi mengeluarkan fatwa di luar Islam, sesat dan menyesatkan, karena hal itu bertentangan dengan firman Allah di dalam Al Qur’an berikut ini:

    “Dan, berpegangteguhlah kamu sekalian kepada Tali Allah dan janganlah bercerai-berai dan ingatlah akan nikmat Allah atasmu ketika kamu dahulu bermusuh-musuhan, lalu Dia menyatukan hatimu dengan kecintaan antara satu sama lain sehingga dengan nikmat-Nya kamu menjadi bersaudara; dan kamu dahulu berada di tepi jurang Api, kemudian Dia menyelamatkan kamu darinya. Demikianlah Allah menjelaskan Ayat-ayat-Nya kepadamu supaya kamu mendapat petunjuk. (Ali Imran 3:103/104)

  29. KabarNet said

    @Pengunjung KabarNet Yang Kami Hormati

    Pada malam hari ini Sabtu 7 Februari 2015 pukul 19:00 seperti biasa petugas Admin KabarNet melakukan pengecekan rutin berkala untuk memeriksa komentar-komentar Pengunjung yang, karena sesuatu dan lain hal diluar kontrol kami, terjaring secara otomatis oleh Spam Filter Software yang terpasang di situs KabarNet.

    Saat kami tengah dalam proses membebaskan komentar-komentar tersebut dari lokasi Spam, terjadi kendala teknis pada pusat server KabarNet sehingga berakibat terhapusnya beberapa komentar Pengunjung.

    Bagi para Pengunjung KabarNet yang merasa sudah mengirim komentar pada hari ini dan ternyata masih belum muncul sampai sekarang, diharapkan kerjasamanya untuk bersedia mengulang mengirimkan lagi komentar tersebut.

    Atas akibat gangguan teknis tersebut kami mohon maaf yang sebesar-besarnya.

    Maaf dan Salam,
    ADMIN KabarNet

  30. dedi said

    Abdullah said
    04/02/2015 at 16:39
    Dalam ayat suci Al Qur’an yang berlaku sampai hari kiamat tersebut, Allah Al Mutakalliman senantiasa berbicara kepada manusia dengan wahyu, dari belakang tabir atau dengan mengirimkan seorang utusan guna mewahyukan dengan seizin-Nya apa yang Dia kehendaki. Dengan demikian, maka menurut Al Qur’an, wahyu baru dari Allah itu akan senantiasa turun kepada manusia atau utusan-Nya dengan seizin-Nya.

    ==> Tafsir yang dibelokkan kepada wahyu MGA, selamanya nggak akan sesuai dengan yang sudah dipahami Ummat Islam, sebagaimana yang diajarkan Nabi SAW, para ulama yang mukhlisiin dulu hingga akhir masa…

    Wallahualam,

  31. dedi said

    To admin, tq

  32. Abdullah said

    Dedi said

    10/02/2015 at 09:48

    Tafsir yang dibelokkan kepada wahyu MGA, selamanya nggak akan sesuai dengan yang sudah dipahami Ummat Islam, sebagaimana yang diajarkan Nabi SAW, para ulama yang mukhlisiin dulu hingga akhir masa…

    ===>>> Setelah Nabi Muhammad saw, bukan hanya HMG Ahmad as saja yang menerima wahyu Allah, melainkan para sahabat dan Khulafa-ur-Rasyidin ra serta para Mujaddid Islam yang dibangkitkan Allah pada permulaan setiap abad (HR Abu Daud) juga menerima wahyu. Mereka tidak alergi, melainkan bersyukur menerima wahyu dari Allah, karena Al Qur’an menyatakan bahwa Allah Al Mutakalliman akan senantiasa berbicara kepada manusia, sebagaimana firman-Nya:
    “Dan tidak ada bagi manusia bahwa Allah berbicara kepadanya, kecuali dengan wahyu atau dari belakang tabir atau dengan mengirimkan seorang utusan guna mewahyukan dengan seizin-Nya apa yang Dia kehendaki. Sesungguhnya, Dia Mahaluhur, Mahabijaksana.” (Asy-Syura 42:51/52)

  33. dedi said

    Abdullah said
    11/02/2015 at 00:37
    Mereka tidak alergi, melainkan bersyukur menerima wahyu…

    ==> Bersyukur bahwa Lia Eden juga mendapat wahyu, siapa lagi yang mendapat wahyu dan mengakui dia adalah nabi dan rasul baru…. Itu lah pekerjaan orang yang sudah keluar dari Islam, dari jalan yang lurus, mereka adalah orang-orang yang masih mencari-cari pedoman selain Al Quran dan Hadist Nabi SAW.
    Sesudah itu mereka mencari takwil dari ayat Al Quran dan Hadist yang sesuai atau disesuaikan dengan wahyu nabi/rasulnya… Khatam diartikan sebagai stempel, kemudian cincin dan termulia, akhirnya mengakui sebagai penutup tapi diartikan sebagai penutup syariat…. Ma’a diartikan sebagai menjadi, dijadikan…

    Itu semua diluar yang dipahami oleh Ummat Islam, sebagaimana Al Quran diturunkan dalam bahasa Arab, Nabi SAW sebagai orang asli Arab mentafsirkan Al Quran sebagaimana Ummat Islam dahulu hingga akhir masa akan selalu pahami, tidak akan berubah…..

    Wallahualam,

  34. Abdullah said

    Dedi said

    11/02/2015 at 01:07

    Itu semua diluar yang dipahami oleh Ummat Islam, sebagaimana Al Quran diturunkan dalam bahasa Arab, Nabi SAW sebagai orang asli Arab mentafsirkan Al Quran sebagaimana Ummat Islam dahulu hingga akhir masa akan selalu pahami, tidak akan berubah…..

    ===>>> Memang tiada umat Islam yang akan mampu memahami kandungan Al Qur’an dengan benar jika tidak menggunakan akal sehat dan memiliki hati yang suci/bersih, karena Al Qur’an adalah kumpulan firman Allah Yang Maha Suci yang Dia wahyukan kepada Nabi Suci Muhammad Rasulullah saw. Orang-orang yang tidak memiliki hati yang suci/bersih dan tidak menggunakan akal sehat mengatakan bahwa setelah Al Qur’an, Allah Al Mutakalliman itu membisu, naudzubillahi mindzaalik. Padahal Al Qur’an dengan jelas menyatakan bahwa Allah Al Mutakalliman akan senantiasa berbicara kepada manusia untuk selama-lamanya, sebagaimana firman-Nya:
    “Dan tidak ada bagi manusia bahwa Allah berbicara kepadanya, kecuali dengan wahyu atau dari belakang tabir atau dengan mengirimkan seorang utusan guna mewahyukan dengan seizin-Nya apa yang Dia kehendaki. Sesungguhnya, Dia Mahaluhur, Mahabijaksana.” (Asy-Syura 42:51/52)

  35. Anonim said

    Abdullah said
    11/02/2015 at 22:58
    Memang tiada umat Islam yang akan mampu memahami kandungan Al Qur’an dengan benar jika tidak menggunakan akal sehat dan memiliki hati yang suci/bersih, karena Al Qur’an adalah kumpulan firman Allah Yang Maha Suci yang Dia wahyukan kepada Nabi Suci Muhammad Rasulullah saw. Orang-orang yang tidak memiliki hati yang suci/bersih dan tidak menggunakan akal sehat mengatakan bahwa setelah Al Qur’an, Allah Al Mutakalliman itu membisu, naudzubillahi mindzaalik.

    ===> Tiada Ummat Islam, siapakah itu? Para sahabat Nabi SAW, ulama-lama terdahulu yang mukhlisiin kah? Apakah mereka tidak sesuai dengan yang diajarkan Nabi SAW? Masya Allah… Astagfirullahaladziim…
    Pendakwah Qadyan ini sudah buta dengan Agama Islam, tertutup oleh iming-iming gaji dari kroni khalifah….

    Tiada yang layak yang diucapkan buat pendakwah ini:

    Lakum diinukum waliyadiiin….

    Wallahualam,

  36. dedi said

    Tafsir yang dibelokkan kepada wahyu MGA, selamanya nggak akan sesuai dengan yang sudah dipahami Ummat Islam, sebagaimana yang diajarkan Nabi SAW, para ulama yang mukhlisiin dulu hingga akhir masa…

    Wallahualam,

  37. Abdullah said

    Dedi berkata

    Tiada Ummat Islam, siapakah itu? Para sahabat Nabi SAW, ulama-lama terdahulu yang mukhlisiin kah? Apakah mereka tidak sesuai dengan yang diajarkan Nabi SAW? Masya Allah… Astagfirullahaladziim…

    ===>>> Ya tentu saja bukan para sahabat ra dan ulama-ulama mukhlisin terdahulu, melainkan umat Islam yang senang dengan bercerai-berai menjadi berbagai golongan, dan suka berperang dengan sesama umat Islam seperti yang sedang terjadi di Timur Tengah, serta umat Islam yang membenci, memfatwa sesat dan memerangi Jemaat Muslimin Ahmadiyah dan pendirinya, yakni HMG Ahmad (Khalifatullah, Imam Mahdi & Misal Isa Ibnu Maryam) as yang diutus Allah sebagai Nabi yang taat kepada Nabi Muhammad saw.

  38. Abdullah said

    Dedi said

    12/02/2015 at 17:47

    Tafsir yang dibelokkan kepada wahyu MGA, selamanya nggak akan sesuai dengan yang sudah dipahami Ummat Islam, sebagaimana yang diajarkan Nabi SAW, para ulama yang mukhlisiin dulu hingga akhir masa…

    ===>>> Tentu saja Al Qur’an yang ditafsirkan oleh HMG Ahmad (Khalifatullah, Imam Mahdi & Misal Isa Ibnu Maryam) as tidak akan sesuai dengan umat Islam yang suka bercerai-berai menjadi beberapa golongan, dan suka berperang dengan sesama umat Islam seperti yang sedang terjadi di Timur Tengah, serta yang suka memfatwa sesat dan memerangi Jemaat Muslimin Ahmadiyah dan pendirinya, yakni HMG Ahmad (Khalifatullah, Imam Mahdi & Misal Isa Ibnu Maryam) as yang diutus Allah sebagai Nabi yang taat kepada Nabi Muhammad saw.

  39. dedi said

    ==> Sesungguhnya di antara mereka ada segolongan yang memutar-mutar lidahnya membaca Al-Kitab, supaya kamu menyangka apa yang dibacanya itu sebagian dari Al-Kitab, padahal ia bukan dari Al-Kitab dan mereka mengatakan: “Ia (yang dibaca itu datang) dari sisi Allah”, padahal ia bukan dari sisi Allah. Mereka berkata dusta terhadap Allah, sedang mereka mengetahui. (QS. 3:78)

    Wallahualam,

  40. dedi said

    ….Sebenarnya, isu nabi baru itu tidak akan laku jika aqidah umat Islam mantap. Mungkin mereka akan berteriak-teriak dan mengiklankan diri dimana-mana, namun percuma jika yang ditawari sudah mengetahui kebohongan tawaran tadi….

    Sudah mantap dalam Islam, InsyaAllah….

    Wallahualam,

  41. Abdullah said

    Dedi said

    15/02/2015 at 04:30

    Sesungguhnya di antara mereka ada segolongan yang memutar-mutar lidahnya membaca Al-Kitab, supaya kamu menyangka apa yang dibacanya itu sebagian dari Al-Kitab, padahal ia bukan dari Al-Kitab dan mereka mengatakan: “Ia (yang dibaca itu datang) dari sisi Allah”, padahal ia bukan dari sisi Allah. Mereka berkata dusta terhadap Allah, sedang mereka mengetahui. (QS. 3:78)

    ===>>> Yang memutar-mutar lidah dan berkata dusta terhadap Allah itu Dedi dan umat Islam yang suka berperang dan bercerai-berai..

  42. dedi said

    Angel tenan……

    Tentu saja….. pendakwah ini sudah buta dengan Agama Islam, tertutup oleh iming-iming gaji dari kroni khalifah….

    Wallahualam,

  43. Abdullah said

    Dedi said

    15/02/2015 at 04:35

    ….Sebenarnya, isu nabi baru itu tidak akan laku jika aqidah umat Islam mantap. Mungkin mereka akan berteriak-teriak dan mengiklankan diri dimana-mana, namun percuma jika yang ditawari sudah mengetahui kebohongan tawaran tadi….

    ===>>> Mengenai pemahaman kenabian setelah Nabi Muhammad saw di dalam Al Qur’an bukanlah kebohongan, melainkan hanya suatu perbedaan pemahaman. Allah telah memberikan solusi terbaik untuk menyikapinya, bagi orang-orang Islam yang beriman kepada Allah dan Hari Kiamat, di dalam Al Qur’an, yakni:
    Hai orang-orang yang beriman, taatlah kepada Allah, dan taatlah kepada Rasul-Nya, dan kepada orang-orang yang memegang kekuasaan di antaramu. Dan, jika kamu berselisih mengenai sesuatu, maka kembalikanlah hal itu kepada Allah dan Rasul-Nya, jika kamu memang beriman kepada Allah dan Hari Kemudian. Hal demikian itu paling baik dan paling bagus akibatnya. (An-Nisa 4:59/60).

    Jika Dedi termasuk orang-orang yang beriman kepada Allah dan Hari Kiamat, tentu Dedi akan menyikapi suatu perbedaan pemahaman tentang kenabian sebagaimana dianjurkan Allah di dalam An-Nisa 4:59/60.

  44. Abdullah said

    Dedi said

    15/02/2015 at 10:09
    Angel tenan……

    Tentu saja….. pendakwah ini sudah buta dengan Agama Islam, tertutup oleh iming-iming gaji dari kroni khalifah….

    ===>>> Yang ANGEL karena TIDAK TAAT kepada firman Allah dalam An-Nisa 4:59/60 itu sesungguhnya Dedi, dan umat Islam yang suka memfatwa sesat, berperang dan bercerai-berai.

  45. dedi said

    Sesungguhnya di antara mereka ada segolongan yang memutar-mutar lidahnya membaca Al-Kitab, supaya kamu menyangka apa yang dibacanya itu sebagian dari Al-Kitab, padahal ia bukan dari Al-Kitab dan mereka mengatakan: “Ia (yang dibaca itu datang) dari sisi Allah”, padahal ia bukan dari sisi Allah. Mereka berkata dusta terhadap Allah, sedang mereka mengetahui. (QS. 3:78)

    ==> lihat saja tafisr Qadyani berasal dari wahyu MGA, yang dicocok-cocokkan… merasa wahyu MGA adalah benar… padahal mereka hanya membela pembayar gaji (kroni Qadyani)….

    Wallahualam,

  46. Abdullah said

    Sudahlah Ded, jangan memaksakan kehendak dan kebencian anda kepada Jemaat Ahmadiyah dan pendirinya, karena sejak Adam as, yang menjadikan seorang Khalifah di bumi itu bukan manusia, melainkan Allah Tuhan Yang Mahaperkasa, Mahabijaksana (Al Baqarah 2:30/31). Nah, pada zaman ini, Allah Tuhan Yang Mahaperkasa, Mahabijaksana telah menjadikan HMG Ahmad as sebagai Khalifah Allah, Imam Mahdi & Perumpamaan Isa Ibnu Maryam, berkat ketaatannya yang sempurna kepada Allah Yang Mahakuasa dan Nabi Muhammad saw (An-Nisa 4:69/70) dalam memenuhi janji-Nya kepada orang-orang Islam yang beriman dan beramal shaleh (An-Nur 24:55/56).

    Karena tidak ada paksaan dalam agama Islam (Al Baqarah 2:256/257), maka karena hal ini adalah kebenaran dari Allah Tuhan Yang Mahakuasa, maka barangsiapa menghendaki, ya berimanlah, dan barangsiapa menghendaki, ya ingkarlah (Al Kahfi 18:30), tetapi jika menemukan perselisihan karena sesuatu, maka ikutilah perintah Allah Yang Mahakuasa sebagai berikut:
    Hai orang-orang yang beriman, taatlah kepada Allah, dan taatlah kepada Rasul-Nya, dan kepada orang-orang yang memegang kekuasaan di antaramu. Dan, jika kamu berselisih mengenai sesuatu, maka kembalikanlah hal itu kepada Allah dan Rasul-Nya, jika kamu memang beriman kepada Allah dan Hari Kemudian. Hal demikian itu paling baik dan paling bagus akibatnya. (An-Nisa 4:59/60).

  47. Abdullah said

    Dedi said

    15/02/2015 at 11:50

    Sesungguhnya di antara mereka ada segolongan yang memutar-mutar lidahnya membaca Al-Kitab, supaya kamu menyangka apa yang dibacanya itu sebagian dari Al-Kitab, padahal ia bukan dari Al-Kitab dan mereka mengatakan: “Ia (yang dibaca itu datang) dari sisi Allah”, padahal ia bukan dari sisi Allah. Mereka berkata dusta terhadap Allah, sedang mereka mengetahui. (QS. 3:78)

    ==> lihat saja tafisr Qadyani berasal dari wahyu MGA, yang dicocok-cocokkan… merasa wahyu MGA adalah benar… padahal mereka hanya membela pembayar gaji (kroni Qadyani)….

    ===>>> Tafsir mana yang dicocok-cocokan?
    Wahyu Allah yang mana yang tidak benar?
    Siapa yang membayar gaji dan siapa yang digaji?

    JANGAN MEMFITNAH DED, ingatlah firman Allah: “Fitinah itu lebih buruk daripada pembunuhan” (Al Baqarah 2:192).

  48. dedi said

    SEKILAS TENTANG FAHAM AHMADIYAH

    ….Dalam masalah kedua ini, terjadi perbedaan yang mendasar antara sekte Lahore dan sekte Qadiani. Bagi Ahmadiyah masalah kenabian ini ada dua versi, yang pertama diistilahkan sebagai Nubuwwah Tasyri’iyyah (kenabian yang membawa Syari’at), dan kedua adalah Nubuwwah Gair Tasyri’iyyah (kenabian tanpa membawa syari’at). Selanjutnya dijelaskan bahwa kenabian versi kedua ini, meliputi Nubuwwah Mustaqillah (kenabian mandiri) dan Nubuwwah Gair Mustaqillah (kenabian yang tidak mandiri). Para nabi yang mandiri, adalah semua nabi yang datang sebelum nabi Muhammad SAW., dimana mereka tidak perlu mengikuti Syari’at nabi sebelumnya. Sedangkan yang dimaksud dengan nabi gair mustaqil (tidak mandiri) yaitu nabi yang mengikuti Syari’at nabi sebelumnya, seperti kenabian Mirza Ghulam Ahmad yang mengikuti syari’at Nabi Muhammad. Dengan demikian, menurut paham Ahmadiyah, hanya nabi-nabi yang membawa syari’at saja yang sudah berakhir, sedangkan nabi-nabi yang tidak membawa syari’at akan tetap berlangsung.

    Nabi mandiri dalam pandangan sekte Ahmadiyah Lahore, bisa berarti bahwa nabi jenis ini diberi wewenang oleh Tuhan atas dasar petunjuk-Nya, guna menghapus sebagian ajaran nabi sebelumnya yang dipandang tidak sesuai lagi saat itu, atau dengan menambah ajaran baru sehingga syari’at itu menjadi lebih sempurna. Terjadinya perubahan sedikit-sedikit dari nabi-nabi yang datang kemudian, sehingga syari’atnya menjadi lebih sempurna daripada syari’at yang dibawa nabi-nabi sebelumnya, maka jenis kenabian yang seperti itu, mereka istilahkan dengan nabi mustaqil.6 Oleh karena itu, kata “nabi” mempunyai dua arti, yaitu arti secara lugawi dan arti istilahi, maka golongan Lahore ini berkesimpulan, bahwa nabi yang tidak membawa syari’at disebut nabi lugawi atau nabi majazi, yang pengertiannya ialah seorang yang mendapat berita dari langit atau dari Tuhan. Selanjutnya, nabi yang membawa syari’at, mereka sebut nabi haqiqi, demikianlah paham Lahore.

    Bagaimana status kenabian al-Mahdi Ahmadiyah di mata pengikutnya? Dalam masalah ini, pandangan Ahmadiyah Lahore agaknya berbeda dengan pandangan Ahmadiyah Qadian. Sekalipun golongan Lahore secara implisit memandangnya sebagai nabi lugawi atau nabi majazi, namun mereka menolak paham golongan Qadiani secara tegas. Dalam pandangan mereka, al-Mahdi bukanlah nabi haqiqi, dia adalah Mujaddid (pembaharu) abad ke 14 H. Akan tetapi dia mempunyai banyak persamaan dengan nabi dalam hal ia (al-Mahdi) menerima wahyu atau berita samawi (langit). Oleh sebab itu dalam akidah mereka secara tegas menyatakan bahwa percaya kepada Mirza Ghulam Ahmad sebagai al-Mahdi dan al-Masih, bukan termasuk rukun iman, maka orang yang mengingkarinya tidak dapat dikatakan kafir (Tim Dakwah PB GAI, Aqidah Gerakan Ahmadiyah Lahore Indonesia, (Bagian Tabligh dan Tarbiyah, 1984), hal. 9)
    Selanjutnya mereka juga berpandangan bahwa wahyu yang diterimanya hanyalah wahyu walayah atau wahyu kewalian dan menurut paham mereka, bahwa wahyu macam inilah yang tetap terbuka, agar dengan wahyu tersebut, imam ummat manusia tetap hidup dan segar. Selain itu mereka beralasan bahwa Mirza atau al-Mahdi tidak pernah menyatakan dirinya sebagai nabi hakiki.

    Berbeda dengan paham kenabian sekte Qadiani, mereka memandang al-Mahdi al-Ma’hud (yang dijanjikan) sebagai nabi dan rasul yang wajib diyakini dan dipatuhi perintahnya, sebagaimana nabi dan rasul yang lain. Menurut paham sekte ini, seorang Qadiani tidak boleh membeda-bedakan antara nabi yang satu dengan yang lain, sebagaimana yang diajarkan oleh al-Quran dan yang dipesankan Nabi Muhammad SAW., untuk mengikuti al-Mahdi yang dijanjikan. Sekalipun demikian, paham kedua aliran tersebut, terdapat juga persamaannya yaitu mereka sepakat tentang berakhirnya nabi tasyri’i atau nabi mustaqil sesudah Nabi SAW. Dan penggunaan term wahyu selain al-Quran yang diturunkan Allah kepada siapa saja yang dikehendaki-Nya sesudah Rasulullah wafat.

    Adapun paham Mahdi Ahmadiyah mengenai Khatamul Anbiya’ atau penutup para nabi, golongan Lahore tampak tidak jauh berbeda dengan paham Sunni. Artinya mereka benar-benar berkeyakinan bahwa Nabi Muhammad adalah penutup sekalian para nabi, baik yang baru maupun nabi yang lama, sebagaimana yang dinyatakan dalam al-Qur-an Surah al-Ahzab: 40.

    “Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamu, tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup nabi-nabi …”

    Dalam hubungan ini, Nabi pun menyatakan dalam sabdanya:

    “Dan sesungguhnya akan datang di kalangan ummatku tiga puluh pendusta, semuanya menganggap dirinya sebagai nabi, dan aku adalah penutup para nabi dan tidak ada lagi nabi sesudahku.” (H.R. Bukhari)

    Penggunaan term nabi lugawi atau nabi majazi oleh golongan Lahore, mungkin sekali dikarenakan oleh pengakuan Mirza (al-Mahdi) sebagai penjelmaan ‘Isa al-Masih dan merasa telah berdialog langsung dengan Tuhan atau mukalamah mubasyarah, untuk menerima petunjuk-petunjuk-Nya.

    Akan tetapi bagi golongan Qadiani yang meyakini al-Mahdi sebagai nabi yang harus ditaati ajaran-ajarannya, mereka berusaha keras mencari dalil-dalil dan memajukan mereka. Misalnya dengan menginterpretasikan Surah al-Ahzab: 40, sesuai dengan paham mereka, maupun dengan menggunakan hadis-hadis Nabi, disamping mereka menggunakan berbagai pendapat ‘Ulama’ Sunni yang dapat menopang kekuatan hujjah (argumen) mereka……

    ….Akan tetapi masih ada sesuatu yang cukup menggelitik untuk dipertanyakan, yaitu apabila al-Mahdi ini adalah seorang nabi yang mendapat wahyu Allah atau seorang Wali, dalam menjalankan misi keagamaannya, sebagai yang diyakini oleh kaum Ahmadiyah, mengapa ia sangat hormat dan tunduk kepada pemerintah kolonial Inggris yang kafir? Bahkan bekerja sama untuk menghantam saudara seagama dan memusuhinya. Sikap al-Mahdi yang agresif dan emosional dalam berbagai tulisannya yang disiarkan, menunjukkan sifat dan sikap yang kurang tepat, sama sekali kurang layak dilakukan oleh seorang yang dipandang sebagai wali apalagi sebagai nabi atau rasul. Sedangkan sifat dan sikap ‘Isa a.s., Nabi untuk Bani Israil dahulu, sangat santun dan ramah terhadap orang yang beriman. Sebagai misal adalah serangan al-Mahdi Ahmadiyah ini terhadap sesama Muslim yang menolak sarannya, ia mengatakan:

    “Setiap orang yang menyalahi (paham)ku, maka dia adalah Nasrani, Yahudi, musyrik (tergolong) penghuni-penghuni neraka. Setiap laki-laki yang tidak mencari dan tidak masuk ke dalam jema’ah yang berbaitat kepadaku dan terus-menerus menentangku, maka dia adalah menentang Allah dan Rasul-Nya, dan dia tergolong penghuni neraka.”
    (Al-Maududi, Mahiyal Qadiyaniyah, (Quwait: Darul-Qalam), hal. 115).

    Inviting from Ahmadiyya to Islam
    Wallahualam,

  49. dedi said

    Abdullah said
    15/02/2015 at 16:46
    Tafsir mana yang dicocok-cocokan?

    ===> Cape deh…
    Khatam artinya materai, cincin, stempel, hingga ada kata “mematerai” dalam tafsir Qadyani demi membela MGA sebagai nabi…. aneh tidak?

    Wallahualam,

  50. Abdullah said

    Dedi said

    16/02/2015 at 06:22
    Abdullah said
    15/02/2015 at 16:46
    Tafsir mana yang dicocok-cocokan?

    ===> Cape deh…
    Khatam artinya materai, cincin, stempel, hingga ada kata “mematerai” dalam tafsir Qadyani demi membela MGA sebagai nabi…. aneh tidak?

    ===>>> Kalau cape dengan perselisihan karena sesuatu, ya sudah serahkan saja kepada Allah dan Rasul-Nya, jika Dedi ingin termasuk orang-orang yang beriman kepada Allah dan Hari Kemudian, karena itulah solusi terbaik dari Allah Yang Maha Penyayang, yang paling bagus akibatnya. (An-Nisa 4:59/60)

    Dengan mengutus HMG Ahmad as sebagai Khalifah Allah, Imam Mahdi & Perumpamaan Isa Ibnu Maryam kepada umat Islam, sesungguhnya Allah Yang Maha Perkasa, Maha Bijaksana telah memenuhi janji-Nya kepada orang-orang Islam yang beriman dan beramal shaleh (An-Nur 24:55/56). Selanjutnya, terpulang kepada umat Islam, apakah mau beriman atau mau ingkar (Al Kahfi 18:30), karena tidak ada paksaan dalam agama Islam (Al Baqarah 2:256/257).

  51. Ade said

    aneh tidak ? tidak aneh lah…yang aneh BANYAK ORANG TERLALU PINTAR MENILAI ORANG LAIN…….TAPI SAYANG….DIA TERLALU BODOH MENILAI DIRINYA SENDIRI ……koreksi diri sendiri…!!! jangan merasa pintar

  52. dedi said

    kroni Qadyani….

    No Record of Khuddam Chanda & Distribution of ‘Wealth’

    Postby alterego » 31 Jul 2011, 17:13
    Assalamo Alaikum,

    Just recieved some worrying data from my contact from the centre regarding Khuddam Chanda contributions.
    Or should I say the lack of?
    Well, lets see.
    There are approximately 200-250 Khuddam registered in Manchester.
    From this number, guess how many have no record of paying any khuddam or Ijtema chanda for last year?

    150!

    That’s right. 150 Khuddam have not paid any Khuddam Chanda over the last year, out of c200-250 in Manchester!.
    That is worse than poor performance! Its completely negative.

    Interesting Fact

    Did You Know that…..
    For every £1 you give in Khuddam Chanda; 40p goes to MKA UK National Departments for national activities, 30p goes to Markaz (Centre) and 30p goes back to regions/local for local activities.

    The problem with this is that the populated and rich London areas recieve a massive amount of money, a lot of which is wasted due to mis management. 95% of activities are held in the London area so all the investement is for them…the venues, food, transport, classes, lectures etc.
    What about us who live in far away cities/towns where jamaat numbers are small? we get nothing.
    Other areas such as the North recieve next to nothing!

    I’m certain that the 30p in every £1 my local area is supposed to recieve doesn’t!
    The other issue with the entire chanda system is that the Jamaat raises funds and invests heavily in pricey mosque (£1m+) projects in areas that already have a mosque or only have to travel 10-15 mins.

    The management conveniently forget that they could convert or build a small mosque for £250k-£500k in a local area where jamaat numbers are small. I know for a fact that in the north property is cheap as chips.

    The jamaat is always requesting that we increase attendance at mosques and that everyone should attend atleast 1-2 times a day. But how on earth are we supposed to if the nearest mosque is hours away?

    Instead of building a new mosque and spending say £2million. Why not purchase or build 8 £250k mosques in small local areas? Thats right, you could purchase or build 8 mosques instead of 1. Thats called real distibution. But in the eyes of the Amir, real distribution is classified under London! (I checked his file! LOL)

    The other thing is a lot of these mosque projects end up being over budget. To be honest, nearly every construction project in the UK goes over budget. However, this sometimes becomes a burden. For example, say a new mosque project is planned at £2 million. Now the jammat begins communicating for new funds for this project. People stretch themselves and sacrifice a lot of money to raise the £2 million.
    As construction is under way, the required budget increases to £2.5 million. Then £3 million. Then £3.5 million. At the end, total costs are £4 million. This becomes a burden as the jamaat continually pushes people to sacrifice more and more. What? you want me to be broke or something? The answer is yes.

    After this, another project starts! let alone all the other funds and chanda I ‘have’ to contribute towards. Give me a break!

    Also, im new to this site (in terms of posting)…and this is my first post. woohooo! 😀

    alterego

  53. Abdullah said

    Itu kan hanya perselisihan karena sesuatu hal. Serahkan saja kepada Allah dan Rasul-Nya, jika Dedi ingin termasuk orang-orang yang beriman kepada Allah dan Hari Kemudian, karena itulah solusi terbaik dari Allah Yang Maha Penyayang, yang paling bagus akibatnya. (An-Nisa 4:59/60)

    Dengan mengutus HMG Ahmad as sebagai Khalifah Allah, Imam Mahdi & Perumpamaan Isa Ibnu Maryam kepada umat Islam, sesungguhnya Allah Yang Maha Perkasa, Maha Bijaksana telah memenuhi janji-Nya kepada orang-orang Islam yang beriman dan beramal shaleh (An-Nur 24:55/56). Selanjutnya, terpulang kepada umat Islam, apakah mau beriman atau mau ingkar (Al Kahfi 18:30), karena tidak adaperbeda paksaan dalam agama Islam (Al Baqarah 2:256/257).

  54. dedi said

    Saya beragama Islam, saudara????

    Islam
    Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

    Islam (Arab: al-islām, الإسلام Tentang suara ini dengarkan (bantuan·info): “berserah diri kepada Tuhan”) adalah agama yang mengimani satu Tuhan, yaitu Allah. Dengan lebih dari satu seperempat miliar orang pengikut di seluruh dunia,[1][2] menjadikan Islam sebagai agama terbesar kedua di dunia setelah agama Kristen.[3] Islam memiliki arti “penyerahan”, atau penyerahan diri sepenuhnya kepada Tuhan (Arab: الله, Allāh).[4] Pengikut ajaran Islam dikenal dengan sebutan Muslim yang berarti “seorang yang tunduk kepada Tuhan”[5][6], atau lebih lengkapnya adalah Muslimin bagi laki-laki dan Muslimat bagi perempuan. Islam mengajarkan bahwa Allah menurunkan firman-Nya kepada manusia melalui para nabi dan rasul utusan-Nya, dan meyakini dengan sungguh-sungguh bahwa Muhammad adalah nabi dan rasul terakhir yang diutus ke dunia oleh Allah.

    Wallahualam,

  55. dedi said

    Ade said
    17/02/2015 at 00:51
    tidak aneh lah…

    ==> Karena ada yang dipertahankan oleh pendakwah Qadyani, gaji bulanan yang menggiurkan….

    Wallahualam,

  56. Abdullah said

    Oooooh Dedi cuma belajar agama Islam dari Wikipedia saja, pantas saja masih suka memfitnah dan bercerai-berai (Ali Imran 3:103/104). Sementara Jemaat Muslimin Ahmadiyah belajar agama Islam langsung dari Nabi Muhammad Rasulullah saw.

  57. Ade said

    karena gaji bulanan yang mengiurkan….emang kenapa bila mendapat gaji……iri jadi orang kok iri…biar saja dia mendapt gaji toh tidak minta sama Dedi..jadi orang ga usah iri lah koresi diri sendiri apa sdh benar hidup didunia ini..??…ga usah urusi orang lain…masing-masing diminta tanggung jawab dihadapan ALLAH…emang yang sampaikan oleh anda (dedi) menjamin orang lain masuk surga….!!!

  58. dedi said

    ooh… pendakwah qadyani ini baru tahu Islam, penulis wikipedia saja tahu mana Islam mana Qadyani…pendakwah qadyani ini pura-pura tidak tahu, atau sudah tahu tapi maunya ikutin jalan qadyani saja, langsung dari nabinya (karena nabinya merupakan jelmaan semua orang)……
    ngaku aja mendapat gaji, bener??? lah kalo begitu kan sudah jelas motivasinya….

    Wallahualam,

  59. Penonton said

    Waaaaakkakkakkakkakkak 😆

  60. Ade said

    hidup…kok hanya Iri dan dengki…dibesarin…..hahahahaha kasihan amat hidup loe-loe pada

  61. Ade said

    hidup…kok hanya Iri dan dengki…saja dibesarin…..hahahahaha kasihan amat hidup loe-loe pada

  62. dedi said

    Kita berdoa saja:

    Astaghfirullah Rabbal Barroya
    (Ampunilah Hamba Ya Allah Maha Penerima Taubat)

    Astaghfirullah Minal khotoya.
    (Ampunilah Hamba Ya Allah Daripada Segala Dosa)
    …4X

    Rabbi zidni ‘ilman naa fi’a
    (Tambahkan kepadaku ilmu yang berguna)

    Wa wa fiqni ‘amalam maqbula
    (Dan berikanlah aku amalan yang dimakbulkan)

    Wa Wa habli rizqan waasi’a
    (Dan kurniakan kepadaku rezeki yang meluas)

    Wa tub ‘alaia taubatan nasuha 2X
    (Dan perkenankan taubatku dengan taubat nasuha)

    Astaghfirullah Rabbal Barroya
    (Ampunilah Hamba Ya Allah Maha Penerima Taubat)

    Astaghfirullah Minal khotoya.
    (Ampunilah Hamba Ya Allah Daripada Segala Dosa)
    …2X

    Aku memohon ampun Ya Allah, Maha Penerima Taubat,
    Aku memohon ampun Ya Allah daripada segala dosa,
    Tambahkan kepadaku ilmu yang berguna,
    Berikanlah aku..amalan yang dimakbulkan,
    Kurniakan kepadaku rezeki yg meluas,
    Terimalah taubat kami dengan Taubat Nasuha

    Amiin Allohuma Amiiin….

    Wallahualam,

  63. Ade said

    Dari Anas bin Malik, beliau mengatakan :”Doa yang lebih sering diucapkan oleh Rasulullah SAW adalah….Allahumma aatina fid dunyaa hasanah wa fil akhiroti hasanah, wa qina ‘adzaban naar…( Ya…Allah berikanlah kepada kami kebaikan didunia, berikan pula kebaikan di akhirat dan lindungilah kami dari adzab neraka)” (HR. Bukhari no. 4522 dan Muslim no. 2690)

  64. Ade said

    Doa yang diberikan oleh dedi memang bagus…tapi lebih bagusnya lagi doa yang dipanjatkan oleh Rasulullah SAW, yang mana doa ini lebih sering diucapkan oleh Beliau SAW, yg di riwayatkan oleh Anas bin Malik di HR. Bukhari no. 4522 dan Muslim no. 2690

  65. Abdullah said

    Case closed

  66. dedi said

    Mirza Ghulam Ahmad believed Musa ﷺ is alive in the Heavens!
    In the Name of Allah, the Most Beneficent, the Most Merciful

    All Praise is for Allah, and may the peace and blessings of Allah be upon His Final Messenger Muhammad ﷺ.

    The whole foundation of Ahmadiyya revolves around the false belief that Isa ﷺ has died. The reason Ahmadis are so desperate to hold on to this belief is because without it, Mirza Ghulam Ahmad’s claims of being the “messiah of latter days” is immediately debunked. It is for this reason, that whenever Muslims attempt to engage in a debate or discussion with Ahmadis, the Ahmadis will always try to steer the discussion to the issue of Isa ﷺ, and they will attempt (unsuccessfully) to prove from the Quran and the Ahadith that Isa ﷺ has died.

    Among the evidences that Ahmadis try to use to support this claim is ayah 144 of Surah Aal-Imran, where Allah says:

    Ahmadis falsely believe that this Ayah is proof that ALL Messengers of Allah, including Isa ﷺ, have passed away. The following is the Ahmadi interpretation of this verse, from the website of vocal Ahmadi missionary Razi Qudrat:

    So, as we can see, Ahmadis believe that this verse includes ALL messengers, and therefore Isa ﷺ cannot be excluded, because undoubtedly, he was a messenger. Razi clearly states that “Even if one messenger is taken out from this statement then the entire verse fails in logic, which we know cannot happen with the words of Allah.” I have refuted the Ahmadi interpretation of this verse in a previous blog post, which can be found here: http://exahmadi.blogspot.com/2015/03/debunking-qadiani-claim-that-sahaba-had.html

    The interesting thing is, when we look at the writings of Ahmadiyya cult-founder Mirza Ghulam Ahmad, he CLEARLY claims that Isa ﷺ has died, but Musa ﷺ is alive!! This is something Ahmadis try their best to hide, and if it is brought up in a conversation, they try their utmost to ignore it.

    Here are some statements of Mirza Ghulam Ahmad regarding this issue:

    “Do you not read in the Quran that Allah has said: فَلاَ تَكُن فِي مِرْيَةٍ مِّن لِّقَآئِهِ (So do not be in doubt over his meeting). And you know that this ayah was revealed regarding Musa, so it is a CLEAR PROOF that Musa (alayhissalam) is alive. He had a meeting with the Messenger of Allah (Muhammad) ﷺ, and a DEAD PERSON CAN NOT MEET A LIVING PERSON. You cannot find ayat like this regarding Isa (alayhissalam), but yes, we find statements of his death on several occasions. So reflect! Because Allah loves those who reflect.” ( Hamamt-ul-Bushra in Arabic, Roohani Khazain vol 7 page 221,222)

    Another statement of Mirza Ghulam Ahmad regarding the life of Musa ﷺ is as follows:

    “Isa is just another prophet like other prophets, and is a servant of the Shariah of the Prophet (Musa) for whom all the milk (of women) was made Haram untill he reached his Mother’s milk. His God spoke to him on The Mount of Sinai and blessed him by making him His dear prophet. And he is the same Musa, the man of God, about whom there is a clear sign in the Quran that HE IS ALIVE IN THE HEAVENS, AND IT IS FARD (OBLIGATORY) ON US THAT WE SHOULD BELIEVE THAT HE IS ALIVE IN THE HEAVENS AND NOT AMONG THE DEAD.” (Noor e Haq in Roohani Khazain vol 8 page 68, 69)

    Now, these two statements of Mirza Ghulam Ahmad clearly show his belief that Musa ﷺ is alive in the heavens. Furthermore, he states that it is OBLIGATORY to believe that Musa ﷺ is alive in the heavens, and not dead, and he claims that the Quran clearly proves that Musa ﷺ is alive. Ahmadis cannot even use their regular cop-out excuse that Mirza made these statements “before he received revelation that Isa ﷺ had died” because he mentions Musa ﷺ being alive and Isa ﷺ being dead in the SAME PARAGRAPH in Hamamat-ul-Bushra, Roohani Khazain vol 7, pages 221-222, as referenced above. This puts Ahmadis is a very difficult position, because it contradicts their interpretation of the Quran 3:144, which they claim proves that ALL Messengers have passed away.

    In light of this, I have one question for Ahmadis:

    Is Musa ﷺ alive in the heavens?

    If you answer ‘YES’, you have automatically contradicted your interpretation of Quran 3:144, which you claim proves that ALL Messengers have died, because you have excluded Musa ﷺ, who was undoubtedly a messenger.

    If you answer ‘NO’, you have automatically admitted that Mirza Ghulam Ahmad was a liar, because he clearly said that it is OBLIGATORY to believe that Musa ﷺ is alive in the heavens, and NOT DEAD.

    There is no way an Ahmadi can answer this question without contradicting the foundation of Ahmadiyya itself. I hope Ahmadis will open their eyes and see this, and realize that Mirza Ghulam Ahmad was nothing but a fraud.

    May the peace and blessings of Allah be upon His Final Messenger Muhammad ﷺ, his family, his companions, and those who follow them until the Last Day.

    Wallahualam,

  67. dimas taufik said

    Nabi isa aja datangnya dari damaskus bukan dari daerah india ,lah ini ngaku nabi tapi meninggalnya di KAKUS,,ini ngaku nabi tapi di tolak cewe malah bikin ayat kutukan ,,TOBAT LAHHH wong sing buta hatinye ….intinya ahmadiyah sesat ini bukan karna bualan semata ,tapi karna fakta yang ada di depan mata..bukalah mata mu dan mata hatimu wong sing buta hatine

  68. anas said

    1. Di dalam Al Qur’an sudah jelas bahwa Nabi Muhammad SAW adalah nabi penutup. Paham tidak?(Bagi yang masih percaya adanya nabi setelah wafatnya Rasulullah SAW)

    2. Nabi Isa as itu sudah diwafatkan oleh Allah SWT. Silahkan ditelaah lagi 2 ayat berikut ini:

    “Dan ketika Allah berfirman, ‘Hai Isa putera Maryam, adakah engkau berkata kepada manusia, ‘jadikanlah aku dan ibuku sebagai dua tuhan selain Allah?’ Isa menjawab, ‘Maha Suci Engkau, tidak layak bagiku mengatakan apa yang bukan hakku; sekiranya aku ada mengatakannya tentu Engkau mengetahuinya. Engkau mengetahui apa-apa yang ada di dalam diriku dan aku tidak mengetahui apa-apa yang ada di dalam diri Engkau. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mengetahui segala yang ghaib” (Al Maa’idah : 116)

    “Aku tidak pernah mengatakan kepada mereka selain daripada yang telah Engkau perintahkan kepada ku, yaitu, ‘Sembahlah Allah Rabku dan Rabmu dan aku menjadi saksi terhadap mereka selama aku ada di antara mereka, akan tetapi setelah Engkau WAFATKAN aku, maka Engkaulah yang mengawasi mereka dan Engkaulah Yang Maha Menyaksikan atas segala sesuatu.” (Al Maa’idah : 117-118)

    Wallahu ‘alam

  69. Muhammad ibn Ali said

    @Muhammad menulis :

    Adalah sangat bermakna bahwa dalam ayat ini musuh-musuh Rasulullah SAW telah disebut dengan kata-kata tegas bahwa mereka itu “abtar” (tidak mempunyai keturunan lelaki), sedangkan menurut kenyataan sejarah, semua putera Rasulullah SAW, baik yang dilahirkan sebelum maupun sesudah ayat ini turun, telah wafat dan beliau tidak meninggalkan seorang pun putera. Hal itu menunjukkan, bahwa kata “abtar” di sini hanya berarti: orang yang tidak mempunyai keturunan ruhani (putera-putera ruhani) dan bukan putera-putera biologis seperti biasa dikatakan orang, yaitu yang ada pertalian darah.

    Jawaban hemat saya :

    – Allah maha Adil tapi keadilan Allah akan terlihat nanti di Alam setelah alam dunia

    – Imam Ja’far al-Shadiq as berkata, “Apabila Allah menghendaki kebaikan atas seseorang hamba maka Allah segerakan balasannya di dunia. Sebaliknya jika Allah menghendaki keburukkan atas seorang hamba maka ditundalah balasannya sehingga ia mendapatkannya di Hari kiamat.” (Bihar al-Anwar 81:177).

    Semoga Allah memberikan Sepantas-pantasnya ganjaran kepada orang-orang yang jahil terhadap Agama dan Rosulnya..Aamiin ya Rabb..

  70. Muhammad ibn Ali said

    @Muhammad

    Seandainya MGA ini adalah Imam Mahdi sekaligus Nabi Isa AS kenapa dia tidak bisa menumbuhkan keadilan yang seadil-adilnya didunia ?

  71. Anonim said

    Mirza Masroor
    leader of Ahmadiyya cult
    in Panama leaks

    How can such people be trusted with religious affairs?

    View story at Medium.com

    https://opencorporates.com/officers/pa?button=&q=mirza+masroor&utf8=%E2%9C%93

  72. Anonim said

    Mirza Masroor
    leader of Ahmadiyya cult
    in Panama leaks

    How can such people be trusted with religious affairs?

    View story at Medium.com

    https://opencorporates.com/officers/pa?button=&q=mirza+masroor&utf8=%E2%9C%93

Komentar "PILIHAN" akan diambil menjadi artikel KabarNet.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: