KabarNet

Aktual Tajam

Setiap Hari Para Cukong Keruk Belasan Ton Timah Negara

Posted by KabarNet pada 29/05/2015

Bangka – KabarNet: Belasan ton timah setiap harinya berhasil dikeruk pengusaha tambang yang beroperasi di bekas galian PT Kobatin Kabupaten Bangka Tengah (Bateng). Namun Pemkab Bateng ternyata tak bisa bertindak karena izin tambang langsung dikeluarkan oleh Pemprov Bangka Belitung.

Ketua LSM Gerakan Masyarakat Peduli Pembangunan, Alam dan Lingkungan (Gemppal) Bangka Tengah Bangka Belitung, Arman mengungkapkan, sedikitnya ada 500 ponton Tambang Inkonveksonal (TI) Rajuk beroperasi di wilayah Bemban shoot, 6, 8, 10 dan 12 di Kecamatan Koba hingga Sungai Timur Desa Kemingking Kecamatan Sungai Selan Bangka Tengah.

“Kalau kita akumulasikan satu ponton minimal menghasilkan pasir timah sebanyak 35 kg/hari maka totalnya mencapai 17,5 ton/ hari timah yang keluar dari wilayah eks tambang PT Kobatin,” kata Arman, seperti diberitakan RMOL Sumsel, Kamis (28/5).

Arman jelaskan, setiap pemilik tambang yang beroperasi memiliki bos atau cukong untuk pemodal awal, kemudian karena terikat hutang maka timah tersebut dijual kepada pemodal dengan harga yang sudah dimonopoli atau sebesar Rp 70 ribu/kg dari harga minimal seharusnya Rp 110 ribu/kg jika melihat harga timah dunia di bursa timah London (London Metal Exchange/LME) yang mencapai USD 15.840/ton.

“Artinya kalau kita berbicara royalti ataupun pajak daerahnya sekarang masuk kemana, kita di Kabupaten Bangka Tengah yang terkena dampak secara langsung dari aktifitas tambang illegal tersebut hanya jadi penonton kerusakan alam di tanah kelahiran. Beda halnya kalau PT Kobatin masih beroperasi dahulu kala, Kabupaten Bangka Tengah mendapatkan royalti Rp 20 milyar/tahun,” kata Arman.

Selaku penduduk pribumi Bangka Tengah, Arman merasa geram dengan cukong-cukong itu. “Mereka keruk hasil alam menggunakan tenaga pendatang khususnya orang-orang dari luar daerah tanpa memikirkan proses reklamasi hingga royalti sesuai aturan pertambangan dan lingkungan hidup,” sambungnya.

Arman berharap pemerintah pusat, Provinsi Babel dan Kabupaten Bangka Tengah serta Bangka Selatan peduli terhadap cadangan timah negara di eks KK PT Kobatin ini khususnya wilayah Kemingking. Aktifitas penambangan illegal di eks KK PT Kobatin sekarang jelas merugikan negara, masyarakat dan daerah.

“Kalau dibiarkan begini terus, kami pun patut mempertanyakan kinerja pihak terkait. Pajak aktifitas illegal atau uang siluman ini masuk ke siapa, ditambah lagi pembelian timah di bawah harga pasar dunia oleh para cukong,” terangnya.

Informasi didapatnya di lapangan, nama-nama kaki tangan kedua perusahaan PT RBT dan PT BPT yakni atas nama Abun warga Sungai Liat yang membeli timah di wilayah Desa Kemingking. Kemudian, Aming warga Sungailiat membeli timah di wilayah Bemban

Desa Penyak terutama timah milik H Kazar yang beroperasi di Daerah Aliran Sungai, dan Jek yang bertugas mengkoordinir pembelian timah di wilayah Kecamatan Lubuk Besar Bangka Tengah yang masuk kawasan hutan lindung dan hutan produksi.

Arman lanjutkan, koordinator besar atas aktifitas pembelian timah dibekas PT Kobatin, atas nama Frans dan Werdi selaku pengendali. “Nama-nama ini santer dimasyarakat, harusnya bisa dikroscek sehingga semuanya jelas. Sehingga tidak ada pihak yang dirugikan dalam hal carut marutnya eks PT Kobatin, terutama masyarakat Kecamatan Koba dan Kecamatan Sungai Selan hingga berpotensi terkena dampak radiasi,” ulas dia.

Arman menyesalkan, ada pihak-pihak yang mengaku panitia keamanan, kemudian meminta sejumlah uang sebagai uang keamanan sebesar Rp 500 ribu bagi ponton baru masuk, hingga Rp 200 ribu/hari/ponton setelah beroperasi. “Kalau kita hitung angka minimal 500 ponton sana, lalu kita dikalikan 200 ribu/hari maka uang fee keamanan oleh pantia mencapai 100.000.000/hari,” kata Arman

Arman juga menyayangkan, ada oknum masyarakat kemudian mengatasnamakan masyarakat desa mana saja di Kecamatan Koba, masalahnya selama ada aktifitas tambang illegal di Bemban hingga sekarang masyarakat tidak merasakan dampak apapun. “Contoh, Masjid Jamik Koba saja pembangunannya masih tersendat-sendat, sementara alam Kecamatan Koba habis dikeruk secara ilegal,” lanjut dia.

Salah seorang pemilik tambang yang berhasil diwawancara redaksi membenarkan bahwa ia dililit hutang sebesar Rp 10 juta dari salah satu bos koba, kemudian ia mencicil hutang itu membayarnya pakai timah. “Meskipun murah, mau tidak mau timahnya kita jual sama bos pemodal,” ungkap pria yang minta namanya disamarkan ini.

Kepala Distamben Bateng, Ariyanuar Prihatin mengatakan, kedua perusahaan PT RBT dan BPT itu tidak ada Izin Usaha Pertambangan(IUP) di wilayah Bangka Tengah.

Hal yang sama juga dikatakan Kepala Kantor Terpadu Pelayanan Satu Pintu (KTPSP) Bangka tengah, Zainal. Kata dia, pihaknya tak pernah mengeluarkan izin apapun untuk PT RBT. Sementara PT BPT ada beberapa Izin yang dikeluarkan, seperti Izin Mendirikan Bangunan (IMB), Izin Gangguan (Ho) dan Izin Gudang yang beralamat di Desa Air Mesu Timur Kecamatan Pangkalan Baru. “Kalau izin usaha pertambangan PT BPT bukan kita yang keluarkan, karena ranahnya Pemprov Babel,” kata Zainal. [sam]

Source: RMOL.CO

Satu Tanggapan to “Setiap Hari Para Cukong Keruk Belasan Ton Timah Negara”

  1. info isi artikel nya keren gan (y) sipp semangat lanjutkan 🙂

Komentar "PILIHAN" akan diambil menjadi artikel KabarNet.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: