KabarNet

Aktual Tajam

Pangeran Diponegoro

Posted by KabarNet pada 10/02/2015

Pangeran Diponegoro lahir pada 1785, bernama Gusti Raden Mas Ibnu Jarot atau Raden Mas Ontowiryo. Ia putra tertua dari Sultan Hamengkubuwono III (1811 – 1814). Ibunya, Raden Ayu Mangkarawati, keturunan Kyai Agung Prampelan, ulama yang sangat disegani di masa Panembahan Senapati mendirikan kerajaan Mataram. Bila ditarik lebih jauh lagi, silsilahnya sampai pada Sunan Ampel Denta, seorang wali Sanga dari Jawa Timur.

Dalam bukunya, Dakwah Dinasti Mataram, Dalam Perang Dipnegoro, Kyai Mojo dan Perang Sabil Sentot Ali Basah, Heru Basuki menyebutkan, bahwa saat masih kanak-kanak, Diponegoro diramal oleh buyutnya, Sultan Hamengkubuwono I, bahwa ia akan menjadi pahlawan besar yang merusak orang kafir. Heru Basuki mengutip cerita itu dari Louw, P.J.F – S Hage – M nijhoff, Eerstee Deel Tweede deel 1897, Derde deel 1904, De Java Oorlog Van 1825 – 1830 door, hal. 89.

Suasana kraton yang penuh intrik dan kemerosotan moral akibat pengaruh Belanda, tidak kondusif untuk pendidikan dan akhlak Diponegoro kecil yang bernama Pangeran Ontowiryo. Karena itu, sang Ibu mengirimnya ke Tegalrejo untuk diasuh neneknya, Ratu Ageng di lingkungan pesantren. Sejak kecil, Ontowiryo terbiasa bergaul dengan para petani di sekitarnya, menanam dan menuai padi. Selain itu ia juga kerap berkumpul dengan para santri di pesantren Tegalrejo, menyamar sebagai orang biasa dengan berpakaian wulung.

Bupati Cakranegara yang menulis Babad Purworejo bersama Pangeran Diponegoro pernah belajar kepada Kyai Taftayani, salah seorang keturunan dari keluarga asal Sumatera Barat, yang bermukim di dekat Tegalrejo. Menurut laporan Residen Belanda pada tahun 1805, Taftayani mampu memberikan pengajaran dalam bahasa Jawa dan pernah mengirimkan anak-anaknya ke Surakarta, pusat pendidikan agama pada waktu itu. Di Surakarta, Taftayani menerjemahkan kitab fiqih Sirat AlMustaqim karya Nuruddin Ar Raniri ke dalam bahasa Jawa. Ini mengindikasikan, Diponegoro belajar Islam dengan serius. (Dr. Kareel A. Steenbrink, 1984, Beberapa Aspek Tentang Islam di Indonesia Abad ke 19, Penerbit Bulan Bintang Jakarta hal. 29).

Dalam Babad Cakranegara disebutkan, adalah Diponegoro sendiri yang menolak gelar putra mahkota dan merelakan untuk adiknya R.M Ambyah. Latar belakangnya, untuk menjadi Raja yang mengangkat adalah orang Belanda. Diponegoro tidak ingin dimasukkan kepada golongan orang-orang murtad. Ini merupakan hasil tafakkurnya di Parangkusuma. Dikutip dalam buku Dakwah Dinasti Mataram: “Rakhmanudin dan kau Akhmad, jadilah saksi saya, kalau-kalau saya lupa, ingatkan padaku, bahwa saya bertekad tak mau dijadikan pangeran mahkota, walaupun seterusnya akan diangkat jadi raja, seperti ayah atau nenenda. Saya sendiri tidak ingin. Saya bertaubat kepada Tuhan Yang Maha Besar, berapa lamanya hidup di dunia, tak urung menanggung dosa (Babad Diponegoro, jilid 1 hal. 39-40).

Perang besar

Dalam bukunya, Beberapa Aspek Tentang Islam di Indonesia Abad ke 19, Kareel A. Steenbrink, mencatat, sebagian besar sejarawan menyepakati bahwa perang Diponegoro lebih bersifat perang anti-kolonial. Beberapa sebab itu antara lain: 1. Wilayah kraton yang menyempit akibat diambil alih Belanda, 2. Pemberian kesempatan kepada orang Tionghoa untuk menarik pajak, 3. Kekurangadilan di masyarakat Jawa, 4. Aneka intrik di istana, 5. Praktek sewa perkebunan secara besar-besaran kepada orang Belanda, yang menyebabkan pengaruh Belanda makin membesar, 6. Kerja paksa bukan hanya untuk kepentingan orang Yogyakarta saja, tetapi juga untuk kepentingan Belanda.

Namun menurut Louw, sebab-sebab sosial ekonomis tadi dilandasi oleh alasan yang lebih filosofis, yaitu jihad fi sabilillah. Hal ini diakui oleh Louw dalam De Java Oorlog Van 1825-1830, seperti dikutip Heru Basuki: “Tujuan utama dari pemberontakan tetap tak berubah, pembebasan negeri Yogyakarta dari kekuasaan Barat dan pembersihan agama daripada noda-noda yang disebabkan oleh pengaruh orang-orang Barat.”

Baron H. Merkus de Kock (dilukis oleh F.V.A. Ridder de Stuers pada tahun 1849)

Baron H. Merkus de Kock (dilukis oleh F.V.A. Ridder de Stuers pada tahun 1849)

Hal ini tampak dari ucapan Pangeran Diponegoro kepada Jendral De Kock pada saat penangkapannya. “Namaningsun Kangjeng Sultan Ngabdulkamid. Wong Islam kang padha mukir arsa ingsun tata. Jumeneng ingsun Ratu Islam Tanah Jawi” (Nama saya adalah Kanjeng Sultan Ngabdulkhamid, yang bertugas untuk menata orang Islam yang tidak setia, sebab saya adalah Ratu Islam Tanah Jawa). (Lihat, P. Swantoro, Dari Buku ke Buku, Sambung Menyambung Menjadi Satu, (2002).

Kareel A Steenbrink menyebutkan, pemikiran dan kiprah Pangeran Diponegoro menarik para ulama, santri dan para penghulu merapat pada barisan perjuangannya. Peter Carey dalam ceramahnya berjudul Kaum Santri dan Perang Jawa pada rombongan dosen IAIN pada tanggal 10 April 1979 di Universitas Oxford Inggris menyatakan keheranannya karena cukup banyak kyai dan santri yang menolong Diponegoro. Dalam naskah Jawa dan Belanda, Carey menemukan 108 kyai, 31 haji, 15 Syeikh, 12 penghulu Yogyakarta, dan 4 kyai guru yang turut berperang bersama Diponegoro.

Bagi sebagian kalangan, ini cukup mengherankan. Sebab, pasca pembunuhan massal ulama dan santri oleh Sunan Amangkurat I tahun 1647, hubungan santri dengan kraton digambarkan sangat tidak harmonis. Namun Pangeran Diponegoro yang merupakan keturunan bangsawan dan ulama sekaligus, berhasil menyatukan kembali dua kubu tersebut.

Paduan motivasi agama dan sosial ekonomi ini menyebabkan Perang Diponegoro menjadi perang yang sangat menyita keuangan pemerintah kolonial, bahkan hampir membangkrutkan negeri Belanda. Korban perang Diponegoro: orang Eropa 8.000 jiwa, orang pribumi yang di pihak Belanda 7.000 jiwa. Biaya perang 20 juta gulden. Total orang Jawa yang meninggal, baik rakyat jelata maupun pengikut Diponegoro 200.000 orang. Padahal total penduduk Hindia Belanda waktu itu baru tujuh juta orang, separuh penduduk Yogyakarta terbunuh.

Data ini menunjukkan, dahsyatnya Perang Diponegoro dan besarnya dukungan rakyat terhadapnya. Oleh bangsa Indonesia, Pangeran Diponegoro yang dikenal dengan sorban dan jubahnya, kemudian diakui sebagai salah satu Pahlawan Nasional, yang sangat besar jasanya bagi bangsa Indonesia. Louw dalam De Java Oorlog Van 1825 – 1830, menulis: “Sebagai seorang yang berjiwa Islam, ia sangat rajin dan taqwa sekali hingga mendekati keterlaluan.”……Demikianlah artikel penting yang ditulis Saudara Ir Arif Wibowo tentang Pangeran Diponegoro.******************

Lukisan Diponegoro Karya A.J. Bik

Lukisan Diponegoro Karya A.J. Bik

Ciri khas Pangeran Diponegoro yang sering terlihat di lukisan dan gambar sang pangeran adalah sebilah keris. Keris ini terselip di pinggang Diponegoro dan terlihat jelas di balik jubah putihnya. Keris ini bernama Bondoyudo yang berarti Jago Duel Tanpa Senjata. Keris ini digunakan Diponegoro untuk mengobarkan semangat tempur balatentaranya di masa-masa sulit selama melawan Belanda.

Salah satu gambar Diponegoro membawa pusaka ini terlihat di lukisan karya Adrianus Johannes Bik, yang dilukis di Batavia pada 1830. Disebutkan bahwa A.J. Bik yang membuat lukisan atas dirinya adalah seniman paling terdidik di Hindia Belanda.

Dalam lukisan itu terlihat Pangeran mengenanakan busana ulama yang dipakainya selama Perang Jawa (1825-1830). Pakaian ini berupa sorban, baju koko tanpa kerah dan jubah. Sebuah selempang tersampir di bahu kanan dan keris pusaka Kanjeng Kiai Bondoyudo terselip di ikat ponggang yang terbuat dari sutra bermotif bunga-bunga.

Tampak dalam gambar ini pipi Pangeran Diponegoro demikian cekung. Hal demikian itu menonjolkan tulang pipinya yang tinggi. Pipi cekung dan tulang pipi yang menonjol ini adalah akibat sakit malaria yang dideritanya sejak ia berkelana di hutan-butan Bagelen pada masa akhir Perang Jawa yang ia kobarkan.

Tidak banyak orang yang tahu tentang gambaran Pangeran Diponegoro dalam keadaannya yang sakit dan pucat seperti itu sebab banyak penggambaran sosok Pangeran Dipongeoro yang ditampilkan dengan demikian gagah atau garang ketika memimpin peperangan. Keteguhannya untuk terus bertahan sekalipun sekutu-sekutunya banyak yang menyerah dan ditangkap Belanda barangkali juga turut menggerogoti sisi psikologisnya yang pada gilirannya juga ikut memperlemah daya tahan fisik pribadinya. Sekalipun demikian, ia tetap teguh untuk tidak menyerah kepada Belanda sampai kemudian ia ditaklukkan melalui meja perundingan yang dirancang dengan segala kelicikan dan tipu muslihat Belanda yang sama sekali mengabaikan sifat-sifat kesatriaan.

Apa yang terjadi atas Pangeran Diponegoro ini mungkin sama seperti yang dialami Jenderal Soedirman yang juga memimpin perang dalam keadaan sakit. Sekalipun mereka menderita demikian mereka tetap tidak manja bahkan tetap tidak mau dirayu, dibujuk dengan iming-iming kekuasaan dan harta benda yang dapat menjamin hidup duniawi mereka.

Pangeran Diponegro adalah seorang pangeran yang berbeda dari ningrat kebanyakan. Ia besar diluar istana dan amat dekat dengan rakyat. Berbeda dengan orang-orang ningrat lain dalam keraton yang belajar agama Islam secara sambil lalu, Diponegro memperdalam agama Islam secara serius. Ditambah dengan kebiasaannya berpuasa dan beruzlah di tempat-tempat terpencil, maka spiritualitasnya amat tinggi, serta membuatnya disegani dan ditakuti.

Pangeran yang terkenal saleh ini legendanya bagai mistik. Selama berkobarnya Perang Jawa pada 1825-1830, ia menjadi seperti yang diramalkan kakek buyutnya, Pangeran Mangkubumi, benar-benar memberikan “kehancuran besar” bagi Belanda.

Pangeran Diponegoro wafat pada Senin 8 Januari 1855 di Benteng Rotterdam, Makassar. Diponegoro wafat persis setelah matahari terbit pada pukul 06.30 WIB. Dia wafat saat usianya mencapai 70 tahun. Kemudian jenazahnya dimakamkan di Kampung Melayu, Makassar, bersama dengan keris pusakanya Kanjeng Kiai Bondoyudo.

Seorang Pangeran Diponegoro harus diletakkan secara terhormat sebagai pahlawan pejuang agama Allah. Era reformasi dan keterbukaan harusnya mampu dimanfaatkan sekolah-sekolah dan lembaga pendidikan Islam. Pelajaran sejarah sangat penting diberikan dengan mengungkap fakta dan perspektif yang benar untuk membentuk persepsi dan sikap hidup. Ketekunan, keikhlasan, kezuhudan, dan semangat jihad Pangeran Diponegoro seharusnya dipaparkan dengan benar kepada anak didik sehingga mereka tergerak untuk mengambil hikmah dan meneladani sang pahlawan Islam tersebut.

Berita Terkini, Pemerintah Indonesia menerima secara resmi tongkat Pangeran Diponegoro yang dikembalikan pihak Belanda. Sudah ratusan tahun tongkat itu dibawa ke negeri Belanda. Tongkat itu diambil setelah Diponegoro ditangkap.

Di Galeri Nasional, Kamis 5 Februari 2045 malam, perwakilan dari Belanda Michael Bauld menyerahkan tongkat yang selalu dibawa Diponegoro selama perang Jawa. Tongkat itu disita pihak Belanda saat Diponegoro ditangkap pada 1832 silam. Kini, tongkat pusaka tersebut dipajang di ruang pusaka Gedung A Galeri Nasional bersamaan dengan tombak perang miliknya dan pelana kuda Diponegoro.

[Dok KabarNet/Arif Wibowo]

Satu Tanggapan to “Pangeran Diponegoro”

  1. Paulus Nabi Palsu said

    Masya Allah, semoga perjuangan Jihad Fi Sabilillaah Pangeran Diponogoro dapat menjadi inspirasi bagi kita semua Kaum Muslim Indonesia dengan mengambil iktibar dan hikmah didalam meneladani semangat, kesabaran, keikhlasan, kesungguhan dan konsistensi beliau di dalam berjuang melawan kezaliman dan menegakan kebenaran.

    Kemudian selanjutnya mari kita “cetak” Pangeran Diponegoro 2x baru melalui neoregenerasi islam baru agar tercipta pemimpin2x islam yg berkepribadian Mukmin, jujur, cerdas, amanah, zuhud, mencintai umat, kasih sayang sesama muslim tapi TEGAS terhadap orang kafir, memajukan iptek, memajukan umat melalui ekonomi syariah dan dapat mempersatukan umat dengan meneladani kisah ‘epik’ dari perjuangan Pangeran Diponegoro.

    Oleh sebab itu, baik ulama maupun kita semua dpt berperan lebih aktif didalam menyampaikan pesan2x moral melalui ceramah, dakwah dan pendidikan agar nilai2x islam dapat membentuk karakter anak2x generasi kita jangan sampe tokoh2x kartun saja yg dikenal anak2x tapi tdk mengenal tokoh 2x islam yg berjasa membentuk peradaban dunia sementara kemajuan zaman modern sekarang adalah hasil kemajuan yg dirintis oleh peradaban islam jauh ketika orang kristen eropa masih belum tau gosok gigi dan belum kenal minyak wangi.

    Gitu aza kok repot.

Komentar "PILIHAN" akan diambil menjadi artikel KabarNet.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: