KabarNet

Aktual Tajam

Haramkan Maulid Nabi, STAI Ali bin Abi Thalib Diserbu Warga

Posted by KabarNet pada 08/02/2015

Surabaya – KabarNet: Ratusan warga di sekitar Jalan Sidotopo Kidul, Surabaya, menuntut penutupan Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Ali bin Abi Thalib, karena dalam penerbitan buletin tertulis larangan melakukan peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW. Warga menduga, Kampus STAI Ali bin Abi Thalib telah mengajarkan ajaran sesat, baik ke mahasiswanya maupun masyarakat luas.

Dalam aksi demo dijaga ketat aparat kepolisian dari Polres Tanjung Perak Surabaya dan TNI, selain berorasi, warga juga membentangkan spanduk besar bertuliskan ‘Warga Bersepakat Atas Pemberhentian Aktivitas STAI Ali bin Abi Thalib’. Warga juga memblokade akses Jalan Sidotopo Kidul. “Masalah ini harus segera diluruskan. Merayakan peringatan kelahiran Nabi kok dilarang? Ini ajaran aneh, jelas mengarah pada kesesatan umat,” kata koordinator aksi, Adras Ridwan, di sela unjuk rasa di depan kampus setempat, Sabtu 7 Februari 2015.

Aksi yang dikawal ketat Kepolisian Resor Pelabuhan Tanjung Perak tersebut, selain berorasi, warga membawa poster bertuliskan tuntutan penutupan sekolah yang sudah berdiri sekira 10 tahun tersebut. “Kami tidak terima dan meminta sekolah ini dihentikan dulu proses belajar-mengajarnya tiga bulan. Kalau perlu ditutup sekalian,” ucapnya, menegaskan.

Para pengunjuk rasa juga membentangkan beberapa poster, di antaranya bertuliskan “Faham Wahabi Tidak Diterima”, “Warga Semampir Tidak Menerima Ajaran STAI Ali bin Abi Thalib”, dan “Kami Umat Nabi, Bukan Penyembah Nabi”.

Aksi warga ini dipicu beredarnya buletin dakwah “Al-Iman” edisi 205, tahun ke-5, nomor 9, bulan Rabiyl Awal 1436 H bertema Aqidah yang dibagikan pada Jumat (16/1) yang berjudul “Bolehkah Merayakan Maulid Nabi Muhammad SAW?” Pada isi di salah satu artikel bertuliskan, “Merayakan Maulidan adalah sarana yang dapat menjerumuskan seseorang ke dalam perbuatan kesyirikan, karena di dalam acara tersebut terdapat pujian-pujian yang berlebihan terhadap Rasulullah … “.

“Hal itu sudah membuat sebagian besar warga gelisah dan tidak nyaman. Harus ada tanggung jawab dari manajemen dan pengelola kampus,” tukas Sekretaris Ikatan Keluarga Madura (Ikamra) Kota Surabaya.

Atas dasar tersebut, lanjut dia, pihaknya akan memberi laporan secara lisan dan tertulis kepada Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jatim, Pimpinan Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jatim, Wali Kota Surabaya, Gubernur Jatim, serta aparat kepolisian.

Wakil Ketua Yayasan STAI Ali Bin Abi Thalib, Syaiful Hasan, beralasan tulisan di buletin tersebut sebuah kekeliruan bagi STAI dari tulisan salah seorang mahasiswanya yang diterbitkan tanpa seizin dan sepengetahuan dosen penanggung jawab buletin yang bertugas mengoreksi isi atau materi. “Karena sudah terjadi, maka kami mohon maaf kepada semua pihak yang merasa tersinggung dengan isi buletin. Kejadian ini benar-benar tanpa disengaja, tetapi sebuah kesalahan murni yang tentunya memberi pelajaran bagi STAI dan staf,” tuturnya.

Dalam peristiwa ini, pihak kepolisian dari Polres Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya, melakukan penjagaan agar tidak terjadi kericuhan. Agar terhindar dari hal-hal yang tidak diinginkan, pihak kepolisian memberikan jalur tengah negosiasi atau mempertemukan tokoh di Sitotopo dengan pihak kampus yang difasilitasi anggota polisi dan koramil setempat.

Berikut ini adalah surat pernyataan dari warga :

FORUM WARGA SIDOTOPO KIDUL
KELURAHAN SIDOTOPO SURABAYA
JL. SURTIKANTI II/12 SURABAYA

Kepada Yth. :
Pimpinan/Pemilik Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) ALI BIN ABI THALIB
Jl. Sidotopo Kidul No. 51 Surabaya
Di TEMPAT

SURAT PERNYATAAN WARGA

Kami segenap warga Sidotopo Kidul Surabaya dan sekitarnya sangat merasa terganggu dan dirugikan atas beredarnya Buletin Dakwah Al-Iman Edisi 205 yang diterbitkan oleh STAI ALI BIN ABI THALIB yang beralamatkan di Jl. Sidotopo Kidul No. 51 Surabayal “atas pelecehan terhadap peringatan Kelahiran Nabi Muhammad SAW. / Maulidurrosul Muhammad SAW. karena telah menganggap menodai Umat Islam khususnya Ahlussunnah Wal-Jama’ah.

Kami segenap warga Sidotopo Kidul Surabaya dan sekitarnya yang mayoritas Muslim Ahlussunnah Wal-Jama’ah tidak pernah mengalami teguran; baik langsung maupun tidak langsung dari pihak manapun tentang peringatan-peringatan Islam khususnya Maulid Nabi Muhammad SAW. bahan kami didukung oleh tokoh-tokoh Agama dalam peringatan-peringatan tersebut.

Kami segenap warga Sidotopo Kidul Surabaya dan sekitarnya, mengalami keserasahan dan kekhawatiran dengan kejadian ini; untuk mengantisipasi kejadian-kejadian yang tidak dinginkan maka, kami menyatakan sikap, BERSEPAKAT terhadap PEMBERHENTIAN segela bentuk aktifitas dan kegiatan-kegiatan lainnya yang berada didalam STAI ALI BIN ABI THALIB Jl. Sidotopo Kidul No. 51 Surabaya. BUBAR / DIBUBARKAN paling lambat dalam waktu 3 bulan terhitung dari surat PERNYATAAN WARGA ini dikeluarkan.

Demikian surat pernyataan ini dibuat, atas perhatiannya disampaikan terima kasih.

Surabaya, 07 Februari 2015
Ketua FORUM WARGA

H. SULTON / ABDUL WALI
Yang bersepakat dibawah ini : (terlampir)

[KbrNet/OkeZone]

17 Tanggapan to “Haramkan Maulid Nabi, STAI Ali bin Abi Thalib Diserbu Warga”

  1. Pembeda! said

    STAI itu gak dimana2 sesat semua kok, mereka diciptakan mmg utk mencetak umat Islam awam menjadi sekuler dan bahkan pluralisme, yg diajarkkan disana semua agama benar, sementara Islam sendiri radikal, bhkn blm lama ini ada hal menyedihkan dmN org2 STAI mempelajari ajaran kasih digereja semarang, sgt akrab sekali mereka dg pendeta, sementara sgt sinis dg Ulama, Na’udzubillahi mindzalik.
    Saya sepakat seluruh STAI yg ada diindonesia di BUBARKAN Semua!!!!!!
    BUBARKAN jg org yg mengaku2 cendikiawan2 Muslim namun pernyataan2nya Anti Islam!

  2. murtadoni said

    YAAA
    Namanya juga islam ya kayak begini.
    saling mengkafirkan saling tuduh sesat.entar saling bantai deh kayak di suriah irak yaman mesir libya somalia dallll

    ajaran setan sih..

  3. Pembeda said

    Ajaran setan itu yg nyembah mayat terkutuk!
    Ngajarin membunuh dg membunuh sesembahan sendiri, ga ada ajaran kasihnya sama sekali, lambangnya aja ngeri, manusia disiksa, waduch, benar2 ajaran setan!
    Layak utk diwaspadai!
    Kerjaanya kl ga ngadu domba ya menjajah negara2 Muslim. Kristen Ajaran setan !

  4. Pembeda said

    Murtadoni@
    antara protestan dan katolik mana yg ajaranya yg sesuai dg ajaran Yesus,bukan ajaran gereja!

    Karena Katolik bilang protestan Sesat!
    Sedangkan
    Protestan bilang Katoliklah yg Sesat!
    Saksikan disini:
    http://www.facebook.com/gerejakatolik/posts/10150128594249638

    Kl dua2nya benar tentu tdk mgkin, kl kedua2nya sesat itu baru mungkin, jd jawaban kamu gimana?

  5. Paulus Nabi Palsu said

    @ Pembeda

    Murtadoni itu si Atheis OTAK PORNO yg kebanyakan baca ayat2x porno di bibel sambil berlindung di balik ketiak gus dur.

    Gitu aza kok repot.

  6. Pembeda said

    Paulus nabi palsu@
    Ha haaa iya iya, dia dh frustasi dg ajaran setan agama lamanya ya gan?
    Yaiyalah gan, gimana ga frustasi punya sesembahan yg digebukin massa sampe mati. Terkutuk oleh Allah pula(Ulangan 21:22-23).
    Persis Iblis terkutuknya sesembahan kristen, He hee…

  7. Aswaja said

    BERILMU SEBELUM BERKATA DAN BERAMAL,, INGAT… INGAT…. INGAT…

  8. Aswaja said

    ini yg lengkapnya tentang Maulid Fatwa Ulama Besar Seputar Maulid February 16, 2009 (7:31 am)Dilihat 3,220 kali Author:almakassari Categories: aqidah, bid’ah Tags: fatwa , fatwa maulid , fatwa ulama Para pembaca yang budiman, ketahuilah bahwa wajib atas setiap muslim dan muslimah untuk cinta kepada Rasulullah -Shollallahu ‘alaihi wasallam- . Bahkan tidak akan sempurna keimanan seseorang hingga ia mencintai Nabi -Shollallahu ‘alaihi wasallam- , melebihi kecintaannya kepada orang tuanya, anak-anaknya, bahkan seluruh manusia. Nabi -Shollallahu ‘alaihi wasallam- bersabda, ﻻَ ﻳُﺆْﻣِﻦُ ﺃَﺣَﺪُﻛُﻢْ ﺣَﺘَّﻰ ﺃَﻛُﻮْﻥَ ﺃَﺣَﺐَّ ﺇِﻟَﻴْﻪِ ﻣِﻦْ ﻭَﺍﻟِﺪِﻩِ ﻭَﻭَﻟَﺪِﻩِ ﻭَ ﺍﻟﻨَّﺎﺱِ ﺃَﺟْﻤَﻌِﻴْﻦَ “Tidak beriman salah seorang di antara kalian hingga aku lebih dicintai daripada orang tuanya, anak-anaknya, dan seluruh manusia.” [HR. Bukhariy (15), dan Muslim (44)] Syaikh Muhammad bin Jamil Zainu – hafizhahullah – berkata, “Hadits ini memberikan faedah kepada kita bahwasanya keimanan tidak akan sempurna hingga seseorang mencintai Rasulullah -Shollallahu ‘alaihi wasallam- melebihi kecintaannya kepada orang tuanya, anaknya, dan seluruh manusia.” [Lihat Minhajul Firqatun Najiyah (hal. 111)] Setelah kita mengetahui hal ini, lalu bagaimana cara mencintai Nabi -Shollallahu ‘alaihi wasallam- ? Cinta kepada Nabi -Shollallahu ‘alaihi wasallam- adalah dengan mengikuti syari’at beliau. Tidaklah dibenarkan bagi seseorang untuk mengada-adakan suatu perkara baru dalam syariat beliau, dengan anggapan hal tersebut bisa mendekatkan diri kepada Allah atau suatu bentuk kecintaan kepada Nabi -Shollallahu ‘alaihi wasallam- , atau itu adalah bid’ah hasanah . Padahal semua bid’ah dalam agama adalah sesat dan buruk !! Di edisi kali ini, kami akan bawakan fatwa ulama besar berkenaan dengan perkara yang dianggap oleh sebagian orang merupakan bentuk kecintaan kepada Nabi – Shollallahu ‘alaihi wasallam- , padahal perkara tersebut tidak ada dasarnya sama sekali dalam syari’at yang mulia ini dan bukan pula bentuk kecintaan kepada Nabi – Shallallahu ‘alaihi wa sallam-, yakni perayaan maulid Nabi -Shollallahu ‘alaihi wasallam- . Fatwa Syaikh Abdul Aziz bin Baaz (mantan mufti di sebuah negeri Timur Tengah), ditanya tentang hukum perayaan maulid Nabi -Shollallahu ‘alaihi wasallam- . Syaikh bin Baaz -rahimahullah- menjawab, “Tidaklah dibenarkan seorang merayakan hari lahir (maulid) Nabi -Shollallahu ‘alaihi wasallam- dan hari kelahiran lainnya, karena hal tersebut termasuk bid’ah yang baru diada-adakan dalam agama. Padahal sesungguhnya Rasul -Shollallahu ‘alaihi wasallam- , para Khalifah Ar- Rasyidin dan selainnya dari kalangan sahabat tidak pernah melakukan perayaan tersebut dan tidak pula para tabi’in yang mengikuti mereka dalam kebaikan di zaman yang utama lagi terbaik. Mereka adalah manusia yang paling tahu tentang Sunnah, paling sempurna cintanya kepada Nabi dan ittiba’-nya (keteladanannya) terhadap syariat beliau dibandingkan orang-orang setelah mereka. Telah shahih (sebuah hadits) dari Nabi -Shollallahu ‘alaihi wasallam-, beliau bersabda, ﻣَﻦْ ﺃَﺣْﺪَﺙَ ﻓِﻲْ ﺃَﻣْﺮِﻧﺎَ ﻫَﺬَﺍ ﻣَﺎ ﻟَﻴْﺲَ ﻣِﻨْﻪُ ﻓَﻬُﻮَ ﺭَﺩٌّ “Barang siapa yang membuat-buat perkara baru dalam agama ini yang bukan bagian dari agama ini, maka hal itu tertolak”. [HR. Al-Bukhariy dalam Shohih -nya (2697) dan Muslim(1718)] Beliau juga bersabda, “Wajib atas kalian berpegang kepada sunnahku dan sunnah para khalifah ar rasyidin yang mendapat petunjuk sesudahku. Peganglah ia kuat- kuat dan gigit dengan gigi geraham. Berhati-hatilah kalian dari perkara-perkara baru yang diada-adakan, karena semua perkara baru itu adalah bid’ah dan semua bid’ah adalah sesat.” [Abu Dawud (4617), At-Tirmidziy (2676), dan Ibnu Majah (42). Di- shohih-kan Al-Albaniy dalam Shahih Al-Jami’ (2546)] Jadi, dalam dua hadits yang mulia ini terdapat peringatan yang keras dari berbuat bid’ah dan mengamalkannya. Allah -Ta’ala- berfirman, “Apa saja yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah; dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah amat keras hukumannya .” (QS. Al- Hasyr :7). Allah -Ta’ala- berfirman, “Maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah- Nya takut akan ditimpa cobaan atau ditimpa azab yang pedih.” (QS. An-Nur :63). Allah -Ta’ala- berfirman, “Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” (QS. Al-Ahzab :21). Allah -Ta’ala- berfirman, “Pada hari Ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat- Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu.” (QS. Al-Maidah :3). Membuat perkara baru -semacam maulid- ini akan memberikan sangkaan bahwa Allah -Ta’ala- belum menyempurnakan agama untuk umat ini, dan Nabi – Shollallahu ‘alaihi wasallam- belum menyampaikan kepada umatnya apa yang pantas untuk mereka amalkan, sehingga datanglah orang-orang belakangan ini membuat-buat perkara baru dalam syariat Allah apa yang tidak diridhoi Allah, dengan sangkaan hal tersebut bisa mendekatkan diri mereka kepada Allah. Padahal perkara ini –tanpa ada keraguan- adalah bahaya yang sangat besar, termasuk penentangan kepada Allah dan Rasul-Nya. Padahal sungguh Allah telah menyempurnakan agama ini bagi hamba-Nya; Allah telah menyempurnakan nikmat-Nya atas mereka dan Nabi -Shollallahu ‘alaihi wasallam- sungguh telah menyampaikan syariat ini dengan terang dan jelas. Beliau tidaklah meninggalkan suatu jalan yang bisa mengantarkan ke surga dan menjauhkan dari neraka, kecuali beliau telah sampaikan kepada umatnya, sebagaimana dalam hadits yang shahih dari sahabat Abdullah bin Amer -radhiyallahu ‘anhu-, beliau berkata, Rasulullah -Shollallahu ‘alaihi wasallam- bersabda, ﺇِﻧَّﻪُ ﻟَﻢْ ﻳَﻜُﻦْ ﻧَﺒِﻲٌّ ﻗَﺒْﻠِﻲْ ﺇِﻻَّ ﻛَﺎﻥَ ﺣَﻘًّﺎ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﺃَﻥْ ﻳَﺪُﻝَّ ﺃُﻣَّﺘَﻪُ ﻋَﻠَﻰ ﺧَﻴْﺮِ ﻣَﺎ ﻳَﻌْﻠَﻤُﻪُ ﻟَﻬُﻢْ , ﻭَﻳُﻨْﺬِﺭَﻫُﻢْ ﺷَﺮَّ ﻣَﺎ ﻳَﻌْﻠَﻤُﻪُ ﻟَﻬُﻢْ “Tidaklah Allah mengutus seorang nabi, kecuali wajib atasnya untuk menunjukkan kebaikan atas umatnya apa yang ia telah ketahui bagi mereka, dan memperingatkan mereka dari kejelekan yang ia ketahui bagi mereka.” [HR.Muslim dalam Shohih-nya (1844)] Suatu hal yang dimaklumi bersama, Nabi kita – Shollallahu ‘alaihi wasallam- adalah Nabi yang paling utama, penutup para nabi dan yang paling sempurna penyampaiannya dan nasihatnya. Andaikata perayaan maulid ini termasuk agama yang diridhoi Allah, niscaya Nabi -Shollallahu ‘alaihi wasallam- akan jelaskan kepada umatnya atau pernah melaksanakannya atau setidaknya para sahabat pernah melakukannya. Akan tetapi, tatkala hal tersebut tidak pernah sama sekali mereka lakukan, maka diketahuilah hal tersebut bukanlah dari Islam sedikit pun juga, bahkan dia termasuk dari perkara-perkara baru yang telah diperingatkan bahayanya oleh Nabi -Shollallahu ‘alaihi wasallam- sebagaimana dalam dua hadits yang tersebut di atas. Hadits-hadits lain yang semakna dengannya telah datang (dari Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam-), seperti sabda beliau dalam khutbah jum’at: ﺃََﻣَّﺎ ﺑَﻌْﺪُ, ﻓَﺈِﻥَّ ﺧَﻴْﺮَ ﺍﻟْﺤَﺪِﻳْﺚِ ﻛِﺘَﺎﺏُ ﺍﻟﻠﻪِ , ﻭَﺧَﻴْﺮَ ﺍﻟْﻬَﺪْﻱِ ﻫَﺪْﻱُ ﻣُﺤَﻤَّﺪٍ, ﻭَﺷَﺮَّ ﺍْﻷُﻣُﻮْﺭِ ﻣُﺤْﺪَﺛَﺎﺗُﻬَﺎ , ﻭَﻛُﻞَّ ﺑِﺪْﻋَﺔٍ ﺿَﻼَﻟَﺔٌ “Sesungguhnya sebaik-baik perkataan adalah Kitabullah, sebaik-sebaik petunjuk adalah petunjuk Muhammad – Shollallahu ‘alaihi wasallam-, sejelek-jeleknya perkara adalah yang diada-adakan dan setiap bid’ah adalah sesat.” [HR.Muslim Shohih -nya (867)] Demikian fatwa dari Syaikh Abdul Aziz bin Baaz – rahimahullah- , Anda bisa lihat dalam kitab Majmu’ Fatawa As-Syaikhbin Baz (1/183), dan Al-Bida’ wal Muhdatsat (hal 619-621). Syaikh Abdul Aziz bin Baaz juga ditanya, “Apa hukum menyampaikan nasihat atau ceramah pada hari maulid Nabi -Shollallahu ‘alaihi wasallam-? Syaikh bin Baaz menjawab, “Amar ma’ruf nahi mungkar, memberikan bimbingan dan arahan kepada manusia, menjelaskan kepada mereka tentang agama mereka, dan memberikan nasihat kepada mereka dengan sesuatu yang bisa melembutkan hati mereka adalah perkara yang disyariatkan pada setiap waktu, karena adanya perintah untuk perkara tersebut datang secara mutlak, tanpa ada pengkhususan waktu tertentu. Allah -Ta’ala-berfirman, “Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar. Merekalah orang-orang yang beruntung.” (QS. Al-Maidah : 104). Allah -Ta’ala- berfirman, “Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan dialah yang lebih mengetahui orang- orang yang mendapat petunjuk.” (QS. An-Nahl :125). Allah juga menjelaskan keadaan orang-orang munafik dan sikap para da’i (penyeru) di antara mereka, “Apabila dikatakan kepada mereka: “Marilah kamu (tunduk) kepada hukum yang Allah telah turunkan dan kepada hukum Rasul”, niscaya kamu lihat orang-orang munafik menghalangi (manusia) dengan sekuat-kuatnya dari (mendekati) kamu. Maka bagaimanakah halnya apabila mereka (orang-orang munafik) ditimpa sesuatu musibah disebabkan perbuatan tangan mereka sendiri. Kemudian mereka datang kepadamu sambil bersumpah: “Demi Allah, kami sekali-kali tidak menghendaki selain penyelesaian yang baik dan perdamaian yang sempurna”. Mereka itu adalah orang-orang yang Allah mengetahui apa yang di dalam hati mereka. Karena itu berpalinglah kamu dari mereka, dan berilah mereka pelajaran, dan katakanlah kepada mereka dengan perkataan yang berbekas pada jiwa mereka.” (QS. An- Nisa’ : 61-63); dan ayat-ayat lain. Jadi, Allah memerintahkan untuk berdakwah dan memberikan nasihat secara mutlak, tidak mengkhususkannya pada waktu tertentu. Sekalipun nasihat dan bimbingan ini semakin dianjurkan ketika ada tuntutan kepadanya, seperti khutbah Jum’at dan hari Ied, karena warid (datang)-nya hal tersebut dari Nabi -Shollallahu ‘alaihi wasallam- .Demikian pula ketika melihat suatu kemungkaran, ini berdasarkan sabda Nabi -Shollallahu ‘alaihi wasallam-, ﻣَﻦْ ﺭَﺃَﻯ ﻣِﻨْﻜُﻢْ ﻣُﻨْﻜَﺮًﺍ ﻓَﻠْﻴُﻐَﻴِّﺮْﻩُ ﺑِﻴَﺪِﻩِ , ﻓَﺈِﻥْ ﻟَﻢْ ﻳَﺴْﺘَﻄِﻊْ ﻓَﺒِﻠِﺴَﺎﻧِﻪِ , ﻭَﻣَﻦْ ﻟَﻢْ ﻳَﺴْﺘَﻄِﻊْ ﻓَﺒِﻘَﻠْﺒِﻪِ , ﻭَﺫَﻟِﻚَ ﺃَﺿْﻌَﻒُ ﺍْﻹِﻳْﻤَﺎﻥِ “Barang siapa di antara kalian yang melihat kemungkaran, maka hendaklah dia mengubahnya dengan tangannya. Jika dia tidak mampu, maka dengan lisannya. Jika dia tidak mampu, maka dengan hatinya. Yang demikian itu adalah selemah-lemahnya iman.” [HR.Muslim (49)] Adapun pada hari maulid, maka di dalamnya tidak boleh ada suatu pengkhususan dengan suatu ibadah tertentu yang bisa mendekatkan diri kepada-Nya, adanya nasihat, bimbingan, pembacaan kisah maulid, karena Nabi -Shollallahu ‘alaihi wasallam- tidak pernah mengkhususkan hal tersebut dengan perkara-perkara tersebut. Andaikan hal tersebut baik, niscaya Nabi – Shollallahu ‘alaihi wasallam- adalah orang yang paling pantas untuk (melakukan) hal tersebut. Akan tetapi nyatanya beliau tidak pernah melakukannya. Menunjukkan bahwa adanya pengkhususan- pengkhususan tersebut dengan ceramah, pembacaan kisah maulid atau selainnya termasuk perkara-perkara bid’ah. Telah shahih dari Nabi -Shollallahu ‘alaihi wasallam- bahwa beliau bersabda, ﻣَﻦْ ﺃَﺣْﺪَﺙَ ﻓِﻲْ ﺃَﻣْﺮِﻧﺎَ ﻫَﺬَﺍ ﻣَﺎ ﻟَﻴْﺲَ ﻣِﻨْﻪُ ﻓَﻬُﻮَ ﺭَﺩٌّ “Barang siapa yang membuat-buat perkara baru dalam agama ini yang bukan bagian dari agama ini, maka hal itu tertolak”. [HR. Al-Bukhariy dalam Shohih -nya (2697) dan Muslim(1718)] Demikian pula halnya para sahabat, mereka tidak pernah melakukan hal tersebut, padahal mereka adalah manusia yang paling tahu tentang Sunnah dan paling bersemangat untuk mengamalkannya”. [Lihat Fatawa Al-Lajnah Ad-Da’imah (5591), dan Al-Bida’ wa Al- Muhdatsat wa ma laa Ashla lahu (628-630)] Jadi, maulid bukanlah sarana syar’i dalam beribadah dan mencintai Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam -. Tapi ia adalah ajaran baru yang disusupkan oleh para pelaku bid’ah dan kebatilan . Bid’ah perayaan hari lahir (ulang tahun) secara umum serta perayaan hari lahir Nabi – Shallallahu ‘alaihi wasallam- (maulid) secara khusus, tidak muncul, kecuali pada zaman Al-Ubaidiyyun pada tahun 362 H. Ulama’ bermadzhab Syafi’iyyah, Al-Hafizh Ibnu Katsir Ad-Dimasyqiy -rahimahullah- dalam Al-Bidayah wa An- Nihayah (11/127) berkata, “Sesungguhnya pemerintahan Al-Fathimiyyun Al-Ubaidiyyun yang bernisbah kepada Ubaidillah bin Maimun Al-Qoddah, seorang Yahudi yang memerintah di Mesir dari tahun 357 – 567 H, mereka memunculkan banyak hari-hari raya. Di antaranya perayaan maulid Nabi -Shallallahu ‘alaihi wasallam-”. Sumber : Buletin Jum’at Al-Atsariyyah edisi 79 Tahun II. Penerbit : Pustaka Ibnu Abbas. Alamat : Jl. Bonto Te’ne No. 58, Kel. Borong Loe, Kec. Bonto Marannu, Gowa- Sulsel. HP : 08124173512 (a/n Ust. Abu Fa’izah). Pimpinan Redaksi/Penanggung Jawab : Ust. Abu Fa’izah Abdul Qadir Al Atsary, Lc. Editor/Pengasuh : Ust. Abu Fa’izah Abdul Qadir Al Atsary, Lc. Layout : Abu Dzikro. Untuk berlangganan/pemesanan hubungi : Ilham Al- Atsary (085255974201). (infaq Rp. 200,-/exp)
    Rusmi • 7 hari lalu
    penulis buletin itu Benar kok..masyarakat aja yg KURANG memperdalam ilmu agamanya. Rasulullah sendiri yg melarang ummatnya memujinya secara berlebihan dalam sebuah hadist shohih “Janganlah kalian memujiku secara berlebihan sebagaimana nashara memuji Isa bin Maryam”.. pokoknya masih banyak hadist2 shohih yg dari Rasulullah yg melarang utk diagungkan..percuma masyarakat marah kalau larangan Nabi saja mereka tidak hiraukan..PENTINGNYA MEMPERDALAM ILMU AGAMA YG LURUS.

  9. Ahlusunnah said

    ini yg lengkapnya tentang Maulid Fatwa Ulama Besar Seputar Maulid February 16, 2009 (7:31 am)Dilihat 3,220 kali Author:almakassari Categories: aqidah, bid’ah Tags: fatwa , fatwa maulid , fatwa ulama Para pembaca yang budiman, ketahuilah bahwa wajib atas setiap muslim dan muslimah untuk cinta kepada Rasulullah -Shollallahu ‘alaihi wasallam- . Bahkan tidak akan sempurna keimanan seseorang hingga ia mencintai Nabi -Shollallahu ‘alaihi wasallam- , melebihi kecintaannya kepada orang tuanya, anak-anaknya, bahkan seluruh manusia. Nabi -Shollallahu ‘alaihi wasallam- bersabda, ﻻَ ﻳُﺆْﻣِﻦُ ﺃَﺣَﺪُﻛُﻢْ ﺣَﺘَّﻰ ﺃَﻛُﻮْﻥَ ﺃَﺣَﺐَّ ﺇِﻟَﻴْﻪِ ﻣِﻦْ ﻭَﺍﻟِﺪِﻩِ ﻭَﻭَﻟَﺪِﻩِ ﻭَ ﺍﻟﻨَّﺎﺱِ ﺃَﺟْﻤَﻌِﻴْﻦَ “Tidak beriman salah seorang di antara kalian hingga aku lebih dicintai daripada orang tuanya, anak-anaknya, dan seluruh manusia.” [HR. Bukhariy (15), dan Muslim (44)] Syaikh Muhammad bin Jamil Zainu – hafizhahullah – berkata, “Hadits ini memberikan faedah kepada kita bahwasanya keimanan tidak akan sempurna hingga seseorang mencintai Rasulullah -Shollallahu ‘alaihi wasallam- melebihi kecintaannya kepada orang tuanya, anaknya, dan seluruh manusia.” [Lihat Minhajul Firqatun Najiyah (hal. 111)] Setelah kita mengetahui hal ini, lalu bagaimana cara mencintai Nabi -Shollallahu ‘alaihi wasallam- ? Cinta kepada Nabi -Shollallahu ‘alaihi wasallam- adalah dengan mengikuti syari’at beliau. Tidaklah dibenarkan bagi seseorang untuk mengada-adakan suatu perkara baru dalam syariat beliau, dengan anggapan hal tersebut bisa mendekatkan diri kepada Allah atau suatu bentuk kecintaan kepada Nabi -Shollallahu ‘alaihi wasallam- , atau itu adalah bid’ah hasanah . Padahal semua bid’ah dalam agama adalah sesat dan buruk !! Di edisi kali ini, kami akan bawakan fatwa ulama besar berkenaan dengan perkara yang dianggap oleh sebagian orang merupakan bentuk kecintaan kepada Nabi – Shollallahu ‘alaihi wasallam- , padahal perkara tersebut tidak ada dasarnya sama sekali dalam syari’at yang mulia ini dan bukan pula bentuk kecintaan kepada Nabi – Shallallahu ‘alaihi wa sallam-, yakni perayaan maulid Nabi -Shollallahu ‘alaihi wasallam- . Fatwa Syaikh Abdul Aziz bin Baaz (mantan mufti di sebuah negeri Timur Tengah), ditanya tentang hukum perayaan maulid Nabi -Shollallahu ‘alaihi wasallam- . Syaikh bin Baaz -rahimahullah- menjawab, “Tidaklah dibenarkan seorang merayakan hari lahir (maulid) Nabi -Shollallahu ‘alaihi wasallam- dan hari kelahiran lainnya, karena hal tersebut termasuk bid’ah yang baru diada-adakan dalam agama. Padahal sesungguhnya Rasul -Shollallahu ‘alaihi wasallam- , para Khalifah Ar- Rasyidin dan selainnya dari kalangan sahabat tidak pernah melakukan perayaan tersebut dan tidak pula para tabi’in yang mengikuti mereka dalam kebaikan di zaman yang utama lagi terbaik. Mereka adalah manusia yang paling tahu tentang Sunnah, paling sempurna cintanya kepada Nabi dan ittiba’-nya (keteladanannya) terhadap syariat beliau dibandingkan orang-orang setelah mereka. Telah shahih (sebuah hadits) dari Nabi -Shollallahu ‘alaihi wasallam-, beliau bersabda, ﻣَﻦْ ﺃَﺣْﺪَﺙَ ﻓِﻲْ ﺃَﻣْﺮِﻧﺎَ ﻫَﺬَﺍ ﻣَﺎ ﻟَﻴْﺲَ ﻣِﻨْﻪُ ﻓَﻬُﻮَ ﺭَﺩٌّ “Barang siapa yang membuat-buat perkara baru dalam agama ini yang bukan bagian dari agama ini, maka hal itu tertolak”. [HR. Al-Bukhariy dalam Shohih -nya (2697) dan Muslim(1718)] Beliau juga bersabda, “Wajib atas kalian berpegang kepada sunnahku dan sunnah para khalifah ar rasyidin yang mendapat petunjuk sesudahku. Peganglah ia kuat- kuat dan gigit dengan gigi geraham. Berhati-hatilah kalian dari perkara-perkara baru yang diada-adakan, karena semua perkara baru itu adalah bid’ah dan semua bid’ah adalah sesat.” [Abu Dawud (4617), At-Tirmidziy (2676), dan Ibnu Majah (42). Di- shohih-kan Al-Albaniy dalam Shahih Al-Jami’ (2546)] Jadi, dalam dua hadits yang mulia ini terdapat peringatan yang keras dari berbuat bid’ah dan mengamalkannya. Allah -Ta’ala- berfirman, “Apa saja yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah; dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah amat keras hukumannya .” (QS. Al- Hasyr :7). Allah -Ta’ala- berfirman, “Maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah- Nya takut akan ditimpa cobaan atau ditimpa azab yang pedih.” (QS. An-Nur :63). Allah -Ta’ala- berfirman, “Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” (QS. Al-Ahzab :21). Allah -Ta’ala- berfirman, “Pada hari Ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat- Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu.” (QS. Al-Maidah :3). Membuat perkara baru -semacam maulid- ini akan memberikan sangkaan bahwa Allah -Ta’ala- belum menyempurnakan agama untuk umat ini, dan Nabi – Shollallahu ‘alaihi wasallam- belum menyampaikan kepada umatnya apa yang pantas untuk mereka amalkan, sehingga datanglah orang-orang belakangan ini membuat-buat perkara baru dalam syariat Allah apa yang tidak diridhoi Allah, dengan sangkaan hal tersebut bisa mendekatkan diri mereka kepada Allah. Padahal perkara ini –tanpa ada keraguan- adalah bahaya yang sangat besar, termasuk penentangan kepada Allah dan Rasul-Nya. Padahal sungguh Allah telah menyempurnakan agama ini bagi hamba-Nya; Allah telah menyempurnakan nikmat-Nya atas mereka dan Nabi -Shollallahu ‘alaihi wasallam- sungguh telah menyampaikan syariat ini dengan terang dan jelas. Beliau tidaklah meninggalkan suatu jalan yang bisa mengantarkan ke surga dan menjauhkan dari neraka, kecuali beliau telah sampaikan kepada umatnya, sebagaimana dalam hadits yang shahih dari sahabat Abdullah bin Amer -radhiyallahu ‘anhu-, beliau berkata, Rasulullah -Shollallahu ‘alaihi wasallam- bersabda, ﺇِﻧَّﻪُ ﻟَﻢْ ﻳَﻜُﻦْ ﻧَﺒِﻲٌّ ﻗَﺒْﻠِﻲْ ﺇِﻻَّ ﻛَﺎﻥَ ﺣَﻘًّﺎ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﺃَﻥْ ﻳَﺪُﻝَّ ﺃُﻣَّﺘَﻪُ ﻋَﻠَﻰ ﺧَﻴْﺮِ ﻣَﺎ ﻳَﻌْﻠَﻤُﻪُ ﻟَﻬُﻢْ , ﻭَﻳُﻨْﺬِﺭَﻫُﻢْ ﺷَﺮَّ ﻣَﺎ ﻳَﻌْﻠَﻤُﻪُ ﻟَﻬُﻢْ “Tidaklah Allah mengutus seorang nabi, kecuali wajib atasnya untuk menunjukkan kebaikan atas umatnya apa yang ia telah ketahui bagi mereka, dan memperingatkan mereka dari kejelekan yang ia ketahui bagi mereka.” [HR.Muslim dalam Shohih-nya (1844)] Suatu hal yang dimaklumi bersama, Nabi kita – Shollallahu ‘alaihi wasallam- adalah Nabi yang paling utama, penutup para nabi dan yang paling sempurna penyampaiannya dan nasihatnya. Andaikata perayaan maulid ini termasuk agama yang diridhoi Allah, niscaya Nabi -Shollallahu ‘alaihi wasallam- akan jelaskan kepada umatnya atau pernah melaksanakannya atau setidaknya para sahabat pernah melakukannya. Akan tetapi, tatkala hal tersebut tidak pernah sama sekali mereka lakukan, maka diketahuilah hal tersebut bukanlah dari Islam sedikit pun juga, bahkan dia termasuk dari perkara-perkara baru yang telah diperingatkan bahayanya oleh Nabi -Shollallahu ‘alaihi wasallam- sebagaimana dalam dua hadits yang tersebut di atas. Hadits-hadits lain yang semakna dengannya telah datang (dari Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam-), seperti sabda beliau dalam khutbah jum’at: ﺃََﻣَّﺎ ﺑَﻌْﺪُ, ﻓَﺈِﻥَّ ﺧَﻴْﺮَ ﺍﻟْﺤَﺪِﻳْﺚِ ﻛِﺘَﺎﺏُ ﺍﻟﻠﻪِ , ﻭَﺧَﻴْﺮَ ﺍﻟْﻬَﺪْﻱِ ﻫَﺪْﻱُ ﻣُﺤَﻤَّﺪٍ, ﻭَﺷَﺮَّ ﺍْﻷُﻣُﻮْﺭِ ﻣُﺤْﺪَﺛَﺎﺗُﻬَﺎ , ﻭَﻛُﻞَّ ﺑِﺪْﻋَﺔٍ ﺿَﻼَﻟَﺔٌ “Sesungguhnya sebaik-baik perkataan adalah Kitabullah, sebaik-sebaik petunjuk adalah petunjuk Muhammad – Shollallahu ‘alaihi wasallam-, sejelek-jeleknya perkara adalah yang diada-adakan dan setiap bid’ah adalah sesat.” [HR.Muslim Shohih -nya (867)] Demikian fatwa dari Syaikh Abdul Aziz bin Baaz – rahimahullah- , Anda bisa lihat dalam kitab Majmu’ Fatawa As-Syaikhbin Baz (1/183), dan Al-Bida’ wal Muhdatsat (hal 619-621). Syaikh Abdul Aziz bin Baaz juga ditanya, “Apa hukum menyampaikan nasihat atau ceramah pada hari maulid Nabi -Shollallahu ‘alaihi wasallam-? Syaikh bin Baaz menjawab, “Amar ma’ruf nahi mungkar, memberikan bimbingan dan arahan kepada manusia, menjelaskan kepada mereka tentang agama mereka, dan memberikan nasihat kepada mereka dengan sesuatu yang bisa melembutkan hati mereka adalah perkara yang disyariatkan pada setiap waktu, karena adanya perintah untuk perkara tersebut datang secara mutlak, tanpa ada pengkhususan waktu tertentu. Allah -Ta’ala-berfirman, “Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar. Merekalah orang-orang yang beruntung.” (QS. Al-Maidah : 104). Allah -Ta’ala- berfirman, “Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan dialah yang lebih mengetahui orang- orang yang mendapat petunjuk.” (QS. An-Nahl :125). Allah juga menjelaskan keadaan orang-orang munafik dan sikap para da’i (penyeru) di antara mereka, “Apabila dikatakan kepada mereka: “Marilah kamu (tunduk) kepada hukum yang Allah telah turunkan dan kepada hukum Rasul”, niscaya kamu lihat orang-orang munafik menghalangi (manusia) dengan sekuat-kuatnya dari (mendekati) kamu. Maka bagaimanakah halnya apabila mereka (orang-orang munafik) ditimpa sesuatu musibah disebabkan perbuatan tangan mereka sendiri. Kemudian mereka datang kepadamu sambil bersumpah: “Demi Allah, kami sekali-kali tidak menghendaki selain penyelesaian yang baik dan perdamaian yang sempurna”. Mereka itu adalah orang-orang yang Allah mengetahui apa yang di dalam hati mereka. Karena itu berpalinglah kamu dari mereka, dan berilah mereka pelajaran, dan katakanlah kepada mereka dengan perkataan yang berbekas pada jiwa mereka.” (QS. An- Nisa’ : 61-63); dan ayat-ayat lain. Jadi, Allah memerintahkan untuk berdakwah dan memberikan nasihat secara mutlak, tidak mengkhususkannya pada waktu tertentu. Sekalipun nasihat dan bimbingan ini semakin dianjurkan ketika ada tuntutan kepadanya, seperti khutbah Jum’at dan hari Ied, karena warid (datang)-nya hal tersebut dari Nabi -Shollallahu ‘alaihi wasallam- .Demikian pula ketika melihat suatu kemungkaran, ini berdasarkan sabda Nabi -Shollallahu ‘alaihi wasallam-, ﻣَﻦْ ﺭَﺃَﻯ ﻣِﻨْﻜُﻢْ ﻣُﻨْﻜَﺮًﺍ ﻓَﻠْﻴُﻐَﻴِّﺮْﻩُ ﺑِﻴَﺪِﻩِ , ﻓَﺈِﻥْ ﻟَﻢْ ﻳَﺴْﺘَﻄِﻊْ ﻓَﺒِﻠِﺴَﺎﻧِﻪِ , ﻭَﻣَﻦْ ﻟَﻢْ ﻳَﺴْﺘَﻄِﻊْ ﻓَﺒِﻘَﻠْﺒِﻪِ , ﻭَﺫَﻟِﻚَ ﺃَﺿْﻌَﻒُ ﺍْﻹِﻳْﻤَﺎﻥِ “Barang siapa di antara kalian yang melihat kemungkaran, maka hendaklah dia mengubahnya dengan tangannya. Jika dia tidak mampu, maka dengan lisannya. Jika dia tidak mampu, maka dengan hatinya. Yang demikian itu adalah selemah-lemahnya iman.” [HR.Muslim (49)] Adapun pada hari maulid, maka di dalamnya tidak boleh ada suatu pengkhususan dengan suatu ibadah tertentu yang bisa mendekatkan diri kepada-Nya, adanya nasihat, bimbingan, pembacaan kisah maulid, karena Nabi -Shollallahu ‘alaihi wasallam- tidak pernah mengkhususkan hal tersebut dengan perkara-perkara tersebut. Andaikan hal tersebut baik, niscaya Nabi – Shollallahu ‘alaihi wasallam- adalah orang yang paling pantas untuk (melakukan) hal tersebut. Akan tetapi nyatanya beliau tidak pernah melakukannya. Menunjukkan bahwa adanya pengkhususan- pengkhususan tersebut dengan ceramah, pembacaan kisah maulid atau selainnya termasuk perkara-perkara bid’ah. Telah shahih dari Nabi -Shollallahu ‘alaihi wasallam- bahwa beliau bersabda, ﻣَﻦْ ﺃَﺣْﺪَﺙَ ﻓِﻲْ ﺃَﻣْﺮِﻧﺎَ ﻫَﺬَﺍ ﻣَﺎ ﻟَﻴْﺲَ ﻣِﻨْﻪُ ﻓَﻬُﻮَ ﺭَﺩٌّ “Barang siapa yang membuat-buat perkara baru dalam agama ini yang bukan bagian dari agama ini, maka hal itu tertolak”. [HR. Al-Bukhariy dalam Shohih -nya (2697) dan Muslim(1718)] Demikian pula halnya para sahabat, mereka tidak pernah melakukan hal tersebut, padahal mereka adalah manusia yang paling tahu tentang Sunnah dan paling bersemangat untuk mengamalkannya”. [Lihat Fatawa Al-Lajnah Ad-Da’imah (5591), dan Al-Bida’ wa Al- Muhdatsat wa ma laa Ashla lahu (628-630)] Jadi, maulid bukanlah sarana syar’i dalam beribadah dan mencintai Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam -. Tapi ia adalah ajaran baru yang disusupkan oleh para pelaku bid’ah dan kebatilan . Bid’ah perayaan hari lahir (ulang tahun) secara umum serta perayaan hari lahir Nabi – Shallallahu ‘alaihi wasallam- (maulid) secara khusus, tidak muncul, kecuali pada zaman Al-Ubaidiyyun pada tahun 362 H. Ulama’ bermadzhab Syafi’iyyah, Al-Hafizh Ibnu Katsir Ad-Dimasyqiy -rahimahullah- dalam Al-Bidayah wa An- Nihayah (11/127) berkata, “Sesungguhnya pemerintahan Al-Fathimiyyun Al-Ubaidiyyun yang bernisbah kepada Ubaidillah bin Maimun Al-Qoddah, seorang Yahudi yang memerintah di Mesir dari tahun 357 – 567 H, mereka memunculkan banyak hari-hari raya. Di antaranya perayaan maulid Nabi -Shallallahu ‘alaihi wasallam-”. Sumber : Buletin Jum’at Al-Atsariyyah edisi 79 Tahun II. Penerbit : Pustaka Ibnu Abbas. Alamat : Jl. Bonto Te’ne No. 58, Kel. Borong Loe, Kec. Bonto Marannu, Gowa- Sulsel. HP : 08124173512 (a/n Ust. Abu Fa’izah). Pimpinan Redaksi/Penanggung Jawab : Ust. Abu Fa’izah Abdul Qadir Al Atsary, Lc. Editor/Pengasuh : Ust. Abu Fa’izah Abdul Qadir Al Atsary, Lc. Layout : Abu Dzikro. Untuk berlangganan/pemesanan hubungi : Ilham Al- Atsary (085255974201). (infaq Rp. 200,-/exp)
    Rusmi • 7 hari lalu
    penulis buletin itu Benar kok..masyarakat aja yg KURANG memperdalam ilmu agamanya. Rasulullah sendiri yg melarang ummatnya memujinya secara berlebihan dalam sebuah hadist shohih “Janganlah kalian memujiku secara berlebihan sebagaimana nashara memuji Isa bin Maryam”.. pokoknya masih banyak hadist2 shohih yg dari Rasulullah yg melarang utk diagungkan..percuma masyarakat marah kalau larangan Nabi saja mereka tidak hiraukan..PENTINGNYA MEMPERDALAM ILMU AGAMA YG LURUS.

  10. Anonim said

    merasa bahagia atas lahirnya nabi ko’ di bilang haram?
    bersdyukur atas lahirnya nabi ko’ haram?

  11. zeze said

    Allahumma sholli alaa muhammad

  12. Pembeda said

    Shallu alaihi…..

  13. Anonim said

    ini hanya akal-akal mahasiswa yang ingin kampusnya bisa di kenal oleh seluruh masyarakat

  14. Syah serang mesjid di bogor
    http://panjimas.com/news/2015/02/12/syiah-kembali-berulah-masjid-az-zikra-kh-arifin-ilham-diserang-gerombolan-syiah/

  15. Mantan Nahdiyin said

    Nahdyiin Bodoh..

    Mengajarkan TAUHID kok malah di DEMO..

    Harusnya Demo ke Club-Club malam aja ..

    KECEWA SAYA DENGAN NU !

    MENDING MASUK MUHAMADYAH !

  16. Asa said

    Pengikut Nahdiyyin makin dibodoh-bodahin aja ama pemimpinnya, coba pikir broo maulidan itu rukun islam yg nomer brp?shg lho pade mau nutup Kampus yg benar2 berlandaskan ajaran Islam,..
    G sepaham sekali aja mau bubarin, coba tuch yg di saudi dibubarin..
    Berani Enggak?

    Sadar toch le….
    Guru kalian yg paling berilmu tuch alumni mna ?

  17. Anonim said

    Kenapa kalian demo!! Lebih baik bicara baik baik
    Dan harus punya ilmu dulu

Komentar "PILIHAN" akan diambil menjadi artikel KabarNet.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: