KabarNet

Aktual Tajam

Umat Islam Wajib Bersyukur atas Lahirnya Baginda Rasul

Posted by KabarNet pada 28/12/2014

Jakarta – KabarNet: Sesungguhnya Baginda Nabi Muhammad Sallallahu alaihi Wasallam adalah utusan Allah Ta’ala dan pembawa Rahmat bagi sekalian alam. Ketika manusia saat itu berada dalam kegelapan syirik, kufur, dan tidak mengenal Rabb Pencipta Alam. Manusia mengalami krisis spiritual dan kebejatan moral yang luar biasa. Nilai-nilai kemanusiaan sudah terbalik. Penyembahan terhadap berhala-berhala menjadi suatu kehormatan, perzinaan suatu kebanggaan, mabuk dan berjudi adalah kejantanan, merampok serta membunuh adalah suatu keberanian. Di saat seperti itu anugerah Ilahi memancar dari jazirah Arab, terlahirnya seorang Rasul yang ditunggu-tunggu untuk mengubah kerusakan aqidah dan kebejatan akhlaq. Kelahiran makhluk termulia ini membuat alam tersenyum dan gembira.

Tentu saja umat Islam sejati bergembira atas Rahmat dan karunia Allah Ta’ala yang dianugerahkan kepada kita, yaitu kelahiran sebaik-baik manusia Baginda Nabi Muhammad Sallallahu alaihi Wasallam yang membawa Rahmat kepada seluruh alam semesta. Maksud firman Allah Ta’ala : “Katakanlah: ‘Dengan kurnia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. Kurnia Allah dan rahmat-Nya itu adalah lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan. ’” [Yunus: 58].

Bahkan lebih dari 500 tahun sebelumnya, kabar gembira akan lahirnya seorang Nabi akhir zaman ini sudah diberitakan oleh Nabi Isa as, kepada umat bani Israil. Hal ini tercantum dalam Al-Qur’an:

وَإِذْ قَالَ عِيسَى ابْنُ مَرْيَمَ يَا بَنِي إِسْرَائِيلَ إِنِّي رَسُولُ اللَّهِ إِلَيْكُم مُّصَدِّقًا لِّمَا بَيْنَ يَدَيَّ مِنَ التَّوْرَاةِ وَمُبَشِّرًا بِرَسُولٍ يَأْتِي مِن بَعْدِي اسْمُهُ أَحْمَدُ فَلَمَّا جَاءَهُم بِالْبَيِّنَاتِ قَالُوا هَذَا سِحْرٌ مُّبِينٌ

“Dan (ingatlah) ketika Isa Ibnu Maryam berkata: “Hai Bani Israil, Sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu, membenarkan kitab sebelumku, Yaitu Taurat, dan memberi kabar gembira dengan (datangnya) seorang Rasul yang akan datang sesudahku, yang namanya Ahmad (Muhammad),………”. [As-Shaaf: 6]

Peringatan Maulid baginda Nabi Muhammad sallallahu`alaihi wasallam pertama kali dilakukan oleh raja Irbil (wilayah Iraq sekarang), bernama Muzhaffaruddin al-Kaukabri, pada awal abad ke 7 hijriyah. Ibn Katsir dalam kitab Tarikh berkata: “Sultan Muzhaffar mengadakan peringatan maulid Nabi pada bulan Rabi’ul Awwal. Beliau merayakannya secara besar-besaran. Beliau adalah seorang yang berani, pahlawan,` alim dan seorang yang adil – semoga Allah merahmatinya”.

Dijelaskan oleh Sibth (cucu) Ibn al-Jauzi bahwa dalam peringatan tersebut Sultan al-Muzhaffar mengundang seluruh rakyatnya dan seluruh para ulama’ dari berbagai disiplin ilmu, baik ulama’ dalam bidang ilmu fiqh, ulama’ hadits, ulama’ dalam bidang ilmu kalam, ulama’ usul, para ahli tasawwuf dan lainnya. Sejak tiga hari, sebelum hari pelaksanaan mawlid Nabi beliau telah melakukan berbagai persiapan. Ribuan kambing dan unta disembelih untuk hidangan para hadirin yang akan hadir dalam perayaan Maulid Nabi tersebut. Segenap para ulama’ saat itu membenarkan dan menyetujui apa yang dilakukan oleh Sultan al-Muzhaffar tersebut. Mereka semua berpandangan dan menganggap baik perayaan maulid Nabi yang dibuat untuk pertama kalinya itu.

Ibn Khallikan dalam kitab Wafayat al-A`yan menceritakan bahwa al-Imam al-Hafizh Ibn Dihyah datang dari Moroco menuju Syam dan seterusnya menuju Iraq, ketika melintasi daerah Irbil pada tahun 604 Hijrah, beliau mendapati Sultan al-Muzhaffar, raja Irbil tersebut sangat besar perhatiannya terhadap perayaan Maulid Nabi. Oleh karena itu, al-Hafzih Ibn Dihyah kemudian menulis sebuah buku tentang Maulid Nabi yang diberi judul “al-Tanwir Fi Maulid al-Basyir an-Nadzir”. Karya ini kemudian beliau hadiahkan kepada Sultan al-Muzhaffar.

Para ulama’, semenjak zaman Sultan al-Muzhaffar dan zaman selepasnya hingga sampai sekarang ini menganggap bahwa perayaan maulid Nabi adalah sesuatu yang baik. Para ulama terkemuka dan Huffazh al-Hadits telah menyatakan demikian. Di antara mereka adalah al-Hafizh Ibn Dihyah (abad 7 H), al-Hafizh al-’Iraqi (W. 806 H), Al-Hafizh Ibn Hajar al-`Asqalani (W. 852 H), al-Hafizh as-Suyuthi (W. 911 H), al-Hafizh aL-Sakhawi (W. 902 H), SyeIkh Ibn Hajar al-Haitami (W. 974 H), al-Imam al-Nawawi (W. 676 H), al-Imam al-`Izz ibn `Abd al-Salam (W. 660 H), mantan mufti Mesir yaitu Syeikh Muhammad Bakhit al-Muthi’i (W. 1354 H), Mantan Mufti Beirut Lubnan, yaitu Syeikh Mushthafa Naja (W. 1351 H) dan terdapat banyak lagi para ulama’ besar yang lainnya. Bahkan al-Imam al-Suyuthi menulis karya khusus tentang maulid yang berjudul “Husn al-Maqsid Fi ‘Amal al-Maulid”. Karena itu perayaan maulid Nabi, yang biasa dirayakan di bulan Rabi’ul Awwal menjadi tradisi ummat Islam di seluruh dunia, dari masa ke masa dan dalam setiap generasi ke generasi.

HUKUM PERINGATAN MAULID NABI
Peringatan Maulid Nabi Muhammad sallallahu`alaihi wasallam yang dirayakan dengan membaca sebagian ayat-ayat al-Qur’an dan menyebutkan sebagian sifat-sifat nabi yang mulia, ini adalah perkara yang penuh dengan berkah dan kebaikan-kebaikan yang agung. Tentu jika perayaan tersebut terhindar dari bid`ah-bid`ah sayyi-ah yang dicela oleh syara’.

DALIL-DALIL MENGENAI PERINGATAN MAULID NABI
Peringatan Maulid Nabi masuk dalam anjuran hadits nabi untuk membuat sesuatu yang baru yang baik dan tidak menyalahi syari`at Islam. Rasulullah sallallahu`alaihi wasallam bersabda:

Maksud hadits: “Barang siapa yang melakukan (merintis) dalam Islam sesuatu perkara yang baik maka ia akan mendapatkan pahala daripada perbuatan baiknya tersebut, dan ia juga mendapatkan pahala dari orang yang mengikutinya selepasnya, tanpa dikurangkan pahala mereka sedikitpun”. (Diriwayatkan oleh al-Imam Muslim di dalam kitab Shahihnya).

FAEDAH DARIPADA HADITS TERSEBUT:
Hadits ini memberikan kelonggaran kepada ulama’ ummat Nabi Muhammad sallallahu`alaihi wasallam untuk melakukan perkara-perkara baru yang baik dan tidak bertentangan dengan al-Qur’an, al-Sunnah, Atsar (peninggalan) maupun Ijma` ulama’.

Peringatan maulid Nabi adalah perkara baru yang baik dan sama sekali tidak menyalahi satu-pun di antara dalil-dalil tersebut. Dengan demikian berarti hukumnya boleh, bahkan salah satu jalan untuk mendapatkan pahala. Jika ada orang yang mengharamkan peringatan Maulid Nabi, berarti ia telah mempersempit kelonggaran yang telah Allah berikan kepada hamba-Nya untuk melakukan perbuatan-perbuatan baik yang belum pernah ada pada zaman Nabi.

HADITS SHOHIH BUKHORI MUSLIM TENTANG HARI ‘ASYURO
Hadits yang diriwayatkan oleh al-Imam al-Bukhari dan al-Imam Muslim di dalam kitab Shahih mereka. Diriwayatkan bahwa ketika Rasulullah tiba di Madinah, beliau mendapati orang-orang Yahudi berpuasa pada hari ‘Asyura’ (10 Muharram).

Rasulullah bertanya kepada mereka: “Untuk apa mereka berpuasa?” Mereka menjawab: “Hari ini adalah hari ditenggelamkan Fir’aun dan diselamatkan Nabi Musa, dan kami berpuasa di hari ini adalah karena bersyukur kepada Allah”. Kemudian Rasulullah sallallahu`alaihi wasallam bersabda: Maksud hadits:“Aku lebih berhak terhadap Musa daripada kalian (orang-orang Yahudi)”. Lalu Rasulullah sallallahu`alaihi wasallam berpuasa dan memerintahkan para sahabat beliau untuk berpuasa.

FAEDAH DARIPADA HADITS TERSEBUT:
Pengajaran penting yang dapat diambil daripada hadits ini ialah bahwa sangat dianjurkan untuk melakukan perbuatan bersyukur kepada Allah pada hari-hari tertentu atas nikmat yang Allah berikan pada hari-hari tersebut. Sama halnya melakukan perbuatan bersyukur karena memperoleh nikmat atau karena diselamatkan dari bahaya. Kemudian perbuatan syukur tersebut diulang pada hari yang sama di setiap tahunnya. Bersyukur kepada Allah dapat dilakukan dengan melaksanakan berbagai bentuk ibadah, seperti sujud syukur, berpuasa, sedekah, membaca al-Qur’an dan sebagainya. Bukankah kelahiran Rasulullah sallallahu`alaihi wasallam adalah nikmat yang paling besar bagi umat ini?! Adakah nikmat yang lebih agung daripada dilahirkannya Rasulullah pada bulan Rabi’ul Awwal ini?! Adakah nikmat dan karunia yang lebih agung daripada pada kelahiran Rasulullah yang menyelamatkan kita dari jalan kesesatan?! Demikian inilah yang telah dijelaskan oleh al-Hafizh Ibn Hajar al-`Asqalani.

HADITS SHOHIH MUSLIM TENTANG PUASA HARI SENIN
Hadits riwayat al-Imam Muslim di dalam kitab Shahihnya. Bahwa Rasulullah sallallahu`alaihi wasallam ketika ditanya mengapa beliau puasa pada hari Senin, beliau menjawab: Maksud hadits: “Hari itu adalah hari dimana aku dilahirkan”. (Riwayatkan al-Imam Muslim)

FAEDAH DARIPADA HADITS TERSEBUT:
Hadits ini menunjukkan bahwa Rasulullah sallallahu`alaihi wasallam melakukan puasa pada hari Senin karena bersyukur kepada Allah, bahwa pada hari itu baginda dilahirkan. Ini adalah isyarat dari Rasulullah sallallahu`alaihi wasallam, artinya jika baginda Rasulullah berpuasa pada hari Senin karena bersyukur kepada Allah atas kelahiran beliau sendiri pada hari itu, maka demikian pula bagi kita sudah selayaknya pada tanggal kelahiran Rasulullah sallallahu`alaihi wasallam tersebut untuk kita melakukan perbuatan syukur, misalkan dengan membaca al-Qur’an, membaca kisah kelahiran beliau sallallahu`alaihi wasallam, bersedekah, atau melakukan perbuatan baik dan lainnya. Kemudian, oleh karena puasa pada hari Senin diulangi setiap minggunya, maka berarti peringatan maulid juga diulangi setiap tahunnya.

ABU BAKR AS-SHIDDIQ BERHARAP WAFAT HARI SENIN
Imam Al-qasthallani, dalam komentarnya atas Al- Bukhari, mengatakan: Dalam bagian “al-Jana’iz (Jenazah)”, Al- Bukhari menamai satu bab utuh “Mati pada Hari Senin”. Di dalamnya ada sebuah hadits dari A’isyah as yang meriwayatkan pertanyaan dari ayahnya Abu Bakr As-Shiddiq, “Pada hari apakah Nabi SAW, wafat?” Ia menjawab: “Hari Senin.” Beliau bertanya: “Hari apa sekarang?” Ia menjawab: “Ayah, sekarang hari Senin.” Abu Bakr ra pun kemudian mengangkat tangannya dan berkata: “Ya Allah, aku memohon kepadamu biarkanlah aku mati pada hari Senin agar bersamaan dengan hari wafatnya Nabi saw.”

Imam Al-qasthallani melanjutkan: Mengapa Abu Bakr ra memohon agar kematiannya terjadi pada hari Senin? Karena dengan begitu, kematiannya akan bersamaan hari dengan hari wafatnya Nabi SAW, maksudnya untuk mendapatkan barakah dari hari tersebut … Apakah ada orang yang akan mencela permohonan Abu Bakr ra untuk meninggal pada hari tersebut untuk mendapatkan barakah? Pada masa sekarang, mengapa ada orang-orang yang mencela kegiatan merayakan dan memberi perhatian khusus pada hari kelahiran Nabi SAW, dengan maksud memperoleh keberkahan?

NABI MUHAMMAD SAW DAN TEMPAT KELAHIRAN ISA AS
Sebuah Hadits yang dianggap sahih oleh Hafiz Al-Haytsami menyatakan bahwa, pada malam Isra Mikraj, Nabi SAW. disuruh oleh Jibril as untuk shalat dua rakaat di Bait Lahm (Bethlehem). Jibril as bertanya kepadanya, “Tahukah engkau di manakah engkau melakukan shalat?” Ketika Nabi SAW, bertanya kepadanya “Di mana?” Ia memberi tahu beliau, “Engkau shalat di tempat Isa dilahirkan”.

FATWA BEBERAPA ULAMA’ AHLUSSUNNAH WAL JAMA`AH:
Fatwa al-Syaikh al-Islam Khatimah al-Huffazh Amir al-Mu’minin Fi al-Hadits al-Imam Ahmad Ibn Hajar al-`Asqalani. Beliau menyatakan seperti berikut: “Asal peringatan maulid adalah bid`ah yang belum pernah dinukilkan daripada (ulama’) al-Salaf al-Saleh yang hidup pada tiga abad pertama, namun demikian peringatan maulid mengandung kebaikan dan lawannya (keburukan), jadi barangsiapa dalam peringatan maulid berusaha melakukan hal-hal yang baik saja dan menjauhi lawannya (hal-hal yang buruk), maka itu adalah bid`ah hasanah”. Al-Hafizh Ibn Hajar juga mengatakan: “Dan telah nyata bagiku dasar pengambilan peringatan Maulid di atas dalil yang thabit (Sahih)”.

Fatwa al-Imam al-Hafizh al-Suyuthi. Beliau mengatakan di dalam risalahnya “Husn al-Maqshid Fi ‘Amal al-Maulid”. Beliau menyatakan seperti berikut: “Menurutku: pada dasarnya peringatan maulid, merupakan kumpulan orang-orang beserta bacaan beberapa ayat al-Qur’an, meriwayatkan hadits-hadits tentang permulaan sejarah Rasulullah dan tanda-tanda yang mengiringi kelahirannya, kemudian disajikan hidangan lalu dimakan oleh orang-orang tersebut dan kemudian mereka bubar setelahnya tanpa ada tambahan-tambahan lain, adalah termasuk bid`ah hasanah (bid`ah yang baik) yang melakukannya akan memperolehi pahala. Kerana perkara seperti itu merupakan perbuatan mengagungkan tentang kedudukan Rasulullah dan merupakan penampakkan (menzahirkan) rasa gembira dan suka cita dengan kelahirannya (Rasulullah) yang mulia. Orang yang pertama kali melakukan peringatan maulid ini adalah pemerintah Irbil, Sultan al-Muzhaffar Abu Sa`id Kaukabri Ibn Zainuddin Ibn Buktukin, salah seorang raja yang mulia, agung dan dermawan. Beliau memiliki peninggalan dan jasa-jasa yang baik, dan dialah yang membangun al-Jami` al-Muzhaffari di lereng gunung Qasiyun”.

Fatwa al-Imam al-Hafizh al-Sakhawi seperti disebutkan di dalam “al-Ajwibah al-Mardliyyah” Beliau menyatakan: “Peringatan Maulid Nabi belum pernah dilakukan oleh seorangpun daripada kaum al-Salaf al-Saleh yang hidup pada tiga abad pertama yang mulia, melainkan baru ada setelah itu di kemudian. Dan ummat Islam di semua daerah dan kota-kota besar sentiasa mengadakan peringatan Maulid Nabi pada bulan kelahiran Rasulullah. Mereka mengadakan jamuan-jamuan makan yang luar biasa dan diisi dengan hal-hal yang menggembirakan dan baik. Pada malam harinya, mereka mengeluarkan berbagai macam sedekah, mereka menampakkan kegembiraan dan suka cita. Mereka melakukan kebaikan-kebaikan lebih daripada kebiasaannya. Bahkan mereka berkumpul dengan membaca buku-buku maulid. Dan nampaklah keberkahan Nabi dan Maulid secara menyeluruh. Dan ini semua telah teruji”. Kemudian al-Sakhawi berkata: “Aku Katakan: “Tanggal kelahiran Nabi menurut pendapat yang paling sahih adalah malam Senin, tanggal 12 bulan Rabi’ul Awwal. Menurut pendapat lain malam tanggal 2, 8, 10 dan masih ada pendapat-pendapat lain. Oleh karenanya tidak mengapa melakukan kebaikan bila pun pada siang hari dan waktu malam ini sesuai dengan kesiapan yang ada, lebih baik jika dilakukan pada siang hari dan waktu malam bulan Rabi’ul Awwal seluruhnya”.

Bahkan Ibnu Taimiyyah berkata, ”Orang-orang yang melaksanakan perayaan Maulid Nabi SAW, akan diberi pahala. Demikian pula yang dilakukan oleh sebagian orang, adakalanya bertujuan meniru kalangan Nasrani yang memperingati kelahiran Isa AS, dan ada kalanya juga dilakukan sebagai ekspresi rasa cinta dan penghormatan kepada Rasulullah sallallahu`alaihi wasallam. Allah Ta’ala, akan memberi pahala kepada mereka atas kecintaan mereka kepada Nabi mereka, bukan dosa atas bid’ah yang mereka lakukan.” [Manhaj al-Salaf fi Fahm al-Nushush Bain al-Nazhariyyah wa al-Tathbiq, hal 399].

Simak juga kitab Iqtidha’ as-Sirath al-Mustaqim karya Ahmad ibn Taimiyah (meninggal tahun 728 hijriah) cet. Darul Fikr Lebanon th.1421 H. Pada hal.269 Ibnu Taimiyah berkata: “Adapun mengagungkan maulid dan menjadikannya acara rutinan, segolongan orang terkadang melakukannya. Dan mereka mendapatkan pahala yang besar karena tujuan baik serta sikapnya yang mengagungkan Rasulullah sallallahu`alaihi wasallam sebagaimana telah aku jelaskan sebelumnya padamu……”

Jika kita membaca fatwa-fatwa para ulama’ terkemuka ini dan merenungkannya dengan hati yang suci bersih, maka kita akan mengetahui bahwa sebenarnya sikap “BENCI” yang timbul daripada sebahagian golongan yang mengharamkan Maulid Nabi tidak lain hanya didasari kepada hawa nafsu semata-mata. Orang-orang seperti itu sama sekali tidak mempedulikan fatwa-fatwa para ulama’ yang saleh terdahulu. Di antara pernyataan mereka yang sangat menghinakan ialah bahwa mereka seringkali menyamakan peringatan maulid Nabi ini dengan perayaan hari Natal yang dilakukan oleh orang-orang Nasrani. Bahkan salah seorang tokoh dari mereka, karena sangat benci terhadap perayaan Maulid Nabi, dengan tanpa malu mengatakan binatang sembelihan untuk menjamu orang dalam peringatan maulid lebih haram dari daging babi. Wal iyadzu billah.

Golongan yang anti maulid menganggap bahwa perbuatan bid`ah seperti menyambut Maulid Nabi ini adalah perbuatan yang mendekati syirik (kekufuran). Dengan demikian, Abubakar Aljazairi – semoga Allah memberinya petunjuk – menyatakan, sembelihan yang disediakan untuk suguhan maulid lebih haram dari babi. Menurutnya, daging babi hanya haram saja dan tidak mengandungi unsur syirik (kekufuran).

Ahlussunnah menjawab:

Na`uzu Billah… Sesungguhnya sangat kotor dan jahat perkataan orang seperti ini. Bagaimana ia berani dan tidak mempunyai rasa malu sama sekali mengatakan peringatan Maulid Nabi, yang telah disetujui oleh para ulama’ dan orang-orang saleh dan telah dianggap sebagai perkara baik oleh para ulama’-ulama’ ahli hadits dan lainnya, dengan perkataan buruk seperti itu?! Orang seperti ini benar-benar tidak mengetahui kejahilan dirinya sendiri. Apakah dia merasakan dia telah mencapai derajat seperti al-Hafizh Ibn Hajar al-`Asqalani, al-Hafizh al-Suyuthi atau al-Hafizh al-Sakhawi atau mereka merasa lebih `alim dari ulama’-ulama’ tersebut?!

Bagaimana ia membandingkan makan daging babi yang telah nyata dan tegas hukumnya haram di dalam al-Qur’an, lalu ia samakan dengan hidangan makan dalam peringatan Maulid Nabi yang sama sekali tidak ada unsur pengharamannya dari nash-nash syari’at agama?! Ini berarti, bahwa golongan seperti mereka yang mengharamkan maulid ini tidak mengetahui Maratib al-Ahkam (tingkatan-tingkatan hukum). Mereka tidak mengetahui mana yang haram dan mana yang mubah (boleh), mana yang haram dengan nas (dalil al-Qur’an) dan mana yang haram dengan istinbath (mengeluarkan hukum). Tentunya orang-orang ”BODOH” seperti ini sama sekali tidak layak untuk diikuti dan dijadikan ikutan dalam mengamalkan agama ISLAM ini.

PEMBACAAN KITAB-KITAB MAULID
Di antara rangkaian acara peringatan Maulid Nabi adalah membaca kisah-kisah tentang kelahiran Rasulullah sallallahu`alaihi wasallam. Al-Hafizh al-Sakhawi menyatakan: “Adapun pembacaan kisah kelahiran Nabi maka sepatutnya yang dibaca itu hanya yang disebutkan oleh para ulama’ ahli hadits di dalam kitab-kitab mereka yang khusus menceritakan tentang kisah kelahiran Nabi, seperti al-Maurid al-Haniyy karangan al-‘Iraqi (Aku juga telah mengajarkan dan membacakannya di Makkah), atau tidak khusus-dengan karya-karya tentang maulid saja- tetapi juga dengan menyebutkan riwayat-riwayat yang mengandung tentang kelahiran Nabi, seperti kitab Dala-il al-Nubuwwah karangan al-Baihaqi. Kitab ini juga telah dibacakan kepadaku hingga selesai di Raudhah Nabi. Karena kebanyakan kisah maulid yang ada di tangan para penceramah adalah riwayat-riwayat bohong dan palsu, bahkan hingga kini mereka masih terus mengeluarkan riwayat-riwayat dan kisah-kisah yang lebih buruk dan tidak layak didengar, yang tidak boleh diriwayatkan dan didengarkan, justru sebaliknya orang yang mengetahui kebatilannya wajib mengingkari dan melarangnya untuk dibaca. Padahal sebenarnya tidak boleh ada pembacaan kisah-kisah maulid dalam peringatan maulid Nabi, melainkan cukup membaca beberapa ayat al-Qur’an, memberi makan dan sedekah, didendangkan bait-bait Mada-ih Nabawiyyah (pujian-pujian terhadap Nabi) dan syair-syair yang mengajak kepada hidup zuhud (tidak serakah kepada dunia), mendorong hati untuk berbuat baik dan beramal untuk akhirat. Dan Allah memberi petunjuk kepada orang yang Dia kehendaki”.

Golongan yang mengharamkan peringatan Maulid Nabi berkata: “Peringatan Maulid Nabi tidak pernah dilakukan oleh Rasulullah, juga tidak pernah dilakukan oleh para sahabatnya. Seandainya hal itu merupakan perkara baik niscaya mereka telah mendahului kita dalam melakukannya”.

Ahlussunnah menjawab:

Baik, Rasulullah sallallahu`alaihi wasallam tidak melakukannya, adakah baginda melarangnya? Perkara yang tidak dilakukan oleh Rasulullah tidak semestinya menjadi sesuatu yang haram. Tetapi sesuatu yang haram itu adalah sesuatu yang telah nyata dilarang dan diharamkan oleh Rasulullah sallallahu`alaihi wasallam. Disebabkan itu Allah ta`ala berfirman:

Maksud firman Allah: “Apa yang diberikan oleh Rasulullah kepadamu maka terimalah dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah”. (al-Hasyr: 7)

Dalam firman Allah ta`ala di atas disebutkan “Apa yang dilarang oleh Rasulullah atas kalian, maka tinggalkanlah”, tidak mengatakan “Apa yang ditinggalkan oleh Rasulullah maka tinggalkanlah”. Ini Berarti bahawa perkara haram adalah sesuatu yang dilarang dan diharamkan oleh Rasulullah sallallahu`alaihi wasallam tetapi bukan sesuatu yang ditinggalkannya. Sesuatu perkara itu tidak haram hukumnya hanya dengan alasan tidak dilakukan oleh Rasulullah sallallahu`alaihi wasallam. Melainkan ia menjadi haram ketika ada dalil yang melarang dan mengharamkannya.

Lalu kita katakan kepada mereka: “Apakah untuk mengetahui bahwa sesuatu itu boleh atau sunnah, harus ada nash daripada Rasulullah sallallahu`alaihi wasallam secara langsung yang khusus menjelaskannya?” Apakah untuk mengetahui boleh atau sunnahnya perkara maulid harus ada nash khusus daripada Rasulullah sallallahu`alaihi wasallam yang menyatakan tentang maulid itu sendiri?! Bagaimana mungkin Rasulullah menyatakan atau melakukan segala sesuatu secara khusus dalam umurnya yang sangat singkat?! Bukankah jumlah nash-nash syari`at, baik ayat-ayat al-Qur’an maupun hadits-hadits nabi, itu semua terbatas, artinya tidak membicarakan setiap peristiwa, padahal peristiwa-peristiwa baru akan terus muncul dan selalu bertambah?! Jika setiap perkara harus dibicarakan oleh Rasulullah secara langsung, lalu dimanakah kedudukan ijtihad (hukum yang dikeluarkan oleh mujtahid berpandukan al-Quran dan al-Hadits) dan apakah fungsi ayat-ayat al-Quran atau hadits-hadits yang memberikan pemahaman umum?! Misalnya firman Allah ta`ala: Maksud firman Allah: “Dan lakukan kebaikan oleh kalian supaya kalian beruntung”. (al-Hajj: 77)

Adakah setiap bentuk kebaikan harus dikerjakan terlebih dahulu oleh Rasulullah sallallahu`alaihi wasallam supaya ia dihukumkan bahwa kebaikan tersebut boleh dilakukan?! Tentunya tidak demikian. Dalam masalah ini Rasulullah sallallahu`alaihi wasallam hanya memberikan kaedah-kaedah atau garis panduan saja. Karena itulah dalam setiap pernyataan Rasulullah terdapat apa yang disebutkan dengan Jawami` al-Kalim yang artinya bahwa dalam setiap ungkapan Rasulullah terdapat kandungan makna yang sangat luas. Dalam sebuah hadits sahih, Rasulullah sallallahu`alaihi wasallam bersabda: Maksud hadits: “Barangsiapa yang melakukan (merintis perkara baru) dalam Islam sesuatu perkara yang baik maka ia akan mendapatkan pahala dari perbuatannya tersebut dan pahala dari orang-orang yang mengikutinya sesudah dia, tanpa berkurang pahala mereka sedikitpun”. (Riwayat al-Imam Muslim).

Dan di dalam hadits sahih yang lainnya, Rasulullah sallallahu`alaihi wasallam bersabda: Maksud hadits: “Barang siapa merintis sesuatu yang baru dalam agama kita ini yang bukan berasal darinya maka ia tertolak”. (Riwayat al-Imam Muslim)

Dalam hadits ini Rasulullah sallallahu`alaihi wasallam menegaskan bahwa sesuatu yang baru dan tertolak adalah sesuatu yang “bukan daripada sebahagian syari`atnya”. Artinya, sesuatu yang baru yang tertolak adalah yang menyalahi syari`at Islam itu sendiri. Inilah yang dimaksudkan dengan sabda Rasulullah sallallahu`alaihi wasallam di dalam hadits di atas: “Ma Laisa Minhu”. Karena, seandainya semua perkara yang belum pernah dilakukan oleh Rasulullah atau oleh para sahabatnya, maka perkara tersebut pasti haram dan sesat dengan tanpa terkecuali, maka Rasulullah tidak akan mengatakan “Ma Laisa Minhu”, tapi mungkin akan berkata: “Man Ahdatsa Fi Amrina Hadza Syai`an Fa Huwa Mardud” (Siapapun yang merintis perkara baru dalam agama kita ini, maka ia pasti tertolak). Dan bila maknanya seperti ini maka berarti hal ini bertentangan dengan hadits yang diriwayatkan oleh al-Imam Muslim di atas sebelumnya. Yaitu hadits: “Man Sanna Fi al-Islam Sunnatan Hasanatan….”.

Padahal hadits yang diriwayatkan oleh al-Imam Muslim ini mengandungi isyarat anjuran bagi kita untuk membuat sesuatu perkara yang baru, yang baik, dan yang sejalan dengan syari`at Islam. Dengan demikian tidak semua perkara yang baru itu adalah sesat dan ia tertolak. Namun setiap perkara baru harus dicari hukumnya dengan melihat persesuaiannya dengan dalil-dalil dan kaedah-kaedah syara`. Bila sesuai maka boleh dilakukan, dan jika ia menyalahi, maka tentu ia tidak boleh dilakukan. Karena itulah al-Hafizh Ibn Hajar al-‘Asqalani menyatakan: “Cara mengetahui bid’ah yang hasanah dan sayyi-ah (yang dicela) menurut tahqiq (penelitian) para ulama’ adalah bahwa jika perkara baru tersebut masuk dan tergolong kepada hal yang baik dalam syara` berarti ia termasuk bid`ah hasanah, dan jika tergolong kepada hal yang buruk dalam syara` maka berarti termasuk bid’ah yang buruk (yang dicela)”.

Golongan yang mengharamkan peringatan Maulid Nabi biasanya berkata: “Peringatan maulid itu sering dimasuki oleh perkara-perkara haram dan maksiat”.

Ahlussunnah menjawab:

Apakah kerana alasan tersebut lantas peringatan maulid menjadi haram secara mutlak?! Pendekatannya, apakah seseorang itu haram baginya untuk masuk ke pasar, dengan alasan di pasar banyak yang sering melakukan perbuatan haram, seperti membuka aurat, menggunjingkan orang, menipu dan lain sebagainya?! Tentu tidak demikian. Maka demikian pula dengan peringatan maulid, jika ada kesalahan-kesalahan atau perkara-perkara haram dalam pelaksanaannya, maka kesalahan-kesalahan itulah yang harus diperbaiki. Dan memperbaikinya tentu bukan dengan mengharamkan hukum maulid itu sendiri. Karena itulah al-Hafizh Ibn Hajar al-`Asqalani telah menyatakan bahwa: “Asal peringatan maulid adalah bid`ah yang belum pernah dinukil dari kaum al-Salaf al-Saleh pada tiga abad pertama, tetapi meskipun demikian peringatan maulid mengandung kebaikan dan lawannya. Barangsiapa dalam memperingati maulid serta berusaha melakukan hal-hal yang baik saja dan menjauhi lawannya (hal-hal buruk yang diharamkan), maka itu adalah bid`ah hasanah”.

Kalangan yang mengharamkan peringatan Maulid Nabi berkata: “Peringatan Maulid itu seringkali menghabiskan dana yang sangat besar. Hal itu adalah perbuatan mubazir. Mengapa tidak digunakan saja untuk keperluan ummat yang lebih penting?”.

Ahlussunnah menjawab:

Laa Hawla Walaa Quwwata Illa Billah… Perkara yang telah dianggap baik oleh para ulama’ disebutnya sebagai mubazir?! Orang yang berbuat baik, bersedekah, ia anggap telah melakukan perbuatan haram, yaitu perbuatan mubazir?! Mengapa orang-orang seperti ini selalu saja berprasangka buruk (su’u dzan) terhadap umat Islam?! Mengapa harus mencari-cari dalih untuk mengharamkan perkara yang tidak diharamkan oleh Allah dan Rasul-Nya?! Mengapa mereka selalu saja beranggapan bahwa peringatan maulid tidak ada unsur kebaikannya sama sekali untuk ummat ini?! Bukankah peringatan Maulid Nabi mengingatkan kita kepada perjuangan Rasulullah sallallahu`alaihi wasallam dalam berdakwah sehingga membangkitkan semangat kita untuk berdakwah seperti yang telah dicontohkan beliau?! Bukankah peringatan Maulid Nabi memupuk kecintaan kita kepada Rasulullah sallallahu`alaihi wasallam dan menjadikan kita banyak bersalawat kepada beliau?! Sesungguhnya maslahat-maslahat besar seperti ini bagi orang yang beriman tidak boleh diukur dengan harta.
Golongan yang mengharamkan peringatan Maulid Nabi sering berkata: “Peringatan Maulid itu pertama kali diadakan oleh Sultan Salahuddin al-Ayyubi. Tujuan beliau saat itu adalah membangkitkan semangat ummat untuk berjihad. Berarti orang yang melakukan peringatan maulid bukan dengan tujuan itu, telah menyimpang dari tujuan awal maulid. Oleh kerananya peringatan maulid tidak perlu”.

Ahlussunnah menjawab:

Kenyataan seperti ini sangat pelik. Ahli sejarah mana yang mengatakan bahwa orang yang pertama kali mengadakan peringatan maulid adalah sultan Salahuddin al-Ayyubi. Para ahli sejarah, seperti Ibn Khallikan, Sibth Ibn al-Jauzi, Ibn Kathir, al-Hafizh al-Sakhawi, al-Hafizh al-Suyuthi dan lainnya telah bersepakat menyatakan bahwa orang yang pertama kali mengadakan peringatan maulid adalah Sultan al-Muzhaffar, bukan sultan Shalahuddin al-Ayyubi. Orang yang mengatakan bahwa sultan Salahuddin al-Ayyubi yang pertama kali mengadakan Maulid Nabi telah membuat “fitnah yang jahat” terhadap sejarah. Perkataan mereka bahwa sultan Salahuddin membuat maulid untuk tujuan membangkitkan semangat umat untuk berjihad dalam perang salib, maka jika diadakan bukan untuk tujuan seperti ini berarti telah menyimpang, adalah perkataan yang sesat lagi menyesatkan.

Tujuan mereka yang berkata demikian adalah hendak mengharamkan maulid, atau paling tidak hendak mengatakan tidak perlu menyambutnya. Kita katakan kepada mereka: Apakah jika orang yang hendak berjuang harus bergabung dengan bala tentara sultan Salahuddin? Apakah menurut mereka yang berjuang untuk Islam hanya bala tentara sultan Salahuddin saja? Dan apakah di dalam berjuang harus mengikuti cara dan strategi Sultan Salahuddin saja, dan jika tidak, ia berarti tidak dipanggil pejuang namanya?!

Para ahli sejarah yang telah kita sebutkan di atas, tidak ada seorangpun daripada mereka yang mengisyaratkan bahwa tujuan maulid adalah untuk membangkitkan semangat ummat untuk berjihad di dalam perang di jalan Allah. Lalu dari manakah muncul pemikiran seperti ini?!

Tidak lain dan tidak bukan, pemikiran tersebut hanya muncul daripada hawa nafsu semata-mata. Benar, mereka selalu mencari-cari kesalahan sekecil apapun untuk mengungkapkan “kebencian” dan “sinis” mereka terhadap peringatan Maulid Nabi ini. Apa dasar mereka mengatakan bahwa peringatan maulid baru boleh diadakan jika tujuannya membangkitkan semangat untuk berjihad?! Apa dasar perkataan seperti ini?! Sama sekali tidak ada. Al-Hafizh Ibn Hajar, al-Hafizh al-Suyuthi, al-Hafizh al-Sakhawi dan para ulama’ lainnya yang telah menjelaskan tentang kebolehan peringatan Maulid Nabi, sama sekali tidak mengaitkannya dengan tujuan membangkitkan semangat untuk berjihad. Kemudian dalil-dalil yang mereka kemukakan dalam masalah maulid tidak menyebut perihal jihad sama sekali, bahkan mengisyaratkan saja tidak.

Dari sini kita tahu betapa rapuhnya dan tidak didasari perkataan mereka itu apabila berkaitan dengan hukum, istinbath dan istidhal. Semoga Allah merahmati para ulama’ kita. Sesungguhnya mereka adalah cahaya penerang bagi umat ini dan sebagai panutan bagi kita semua menuju jalan yang diridhai Allah. Amin Ya Rabb.

Beberapa syair shahabat yang memuji-muji Baginda Nabi Muhammad sallallahu`alaihi wasallam, dengan pujian indah dan tinggi. Di antaranya adalah pujian yang disampaikan sahabat Hassan bin Tsabit ra:

واحسن منك لم تر قط عيني    واجمل منك لم تلد النساء

خلقت مبرأ من كل عيب     كأنك قد خلقت كما تشاء

Yang lebih baik darimu, belum pernah mataku memandangnya
Yang lebih indah darimu, belum pernah pernah dilahirkan oleh para wanita
Engkau diciptakan terbebas dari segala kekurangan
Seolah engkau tercipta dengan sekehendakmu sendiri

Syair pujian Hassan bin Tsabit ra saat mengiringi pemakaman Baginda Nabi Muhammad sallallahu`alaihi wasallam:

Aku katakan, dan tak seorang pun dapat menemukan cela dari ucapanku
Kecuali orang yang telah kehilangan segala akal sehatnya
Aku tidak akan pernah berhenti menyanjung dan memujinya
Karena dengan berbuat begitu, mungkin aku akan kekal di dalam surga
Bersama Sang Pilihan, yang dorongannya untuk itu aku harapkan
Dan untuk mencapai hari itu, segala ikhtiarku kupertaruhkan

Sayyidina Abbas, paman Baginda Nabi Muhammad sallallahu`alaihi wasallam, melantunkan sebuah syair yang menyanjung kelahiran Baginda Nabi Muhammad sallallahu`alaihi wasallam:

Tatkala engkau dilahirkan, bumi bersinar terang
Dan cakrawala benderang penuh cahayamu
Sehingga kami dapat tembus memandang
Segala syukur kupanjatkan atas sinar terang
Cahaya dan jalan yang menunjuki itu

[KbrNet/Muslimedia]

5 Tanggapan to “Umat Islam Wajib Bersyukur atas Lahirnya Baginda Rasul”

  1. harirri said

    Halo saudara pengasuh kabarnet in;
    Berapa jumlah istri nabi?
    Yang paling muda umur berapa?
    Apa benar zaenab adalah menantunya sendiri?
    Apa benar Aishah dinikahi umur 6 thn?
    Apa latarbelakang nabi menikahi janda sebanyak itu?

    Terima kasih atas jawabannya.
    ___________________________________

    Yang Terhormat Saudara harriri,
    Untuk diketahui, dari sejak berdirinya media ini, Redaktur KabarNet tidak pernah melayani dialog tanya jawab dengan para pengunjung di kolom komentar (kecuali melakukan intervensi seperti yg kami lakukan sekarang ini).

    Untuk Anda ketahui, tipikal pertanyaan tendensius dari kelompok anti-Islam sejenis pertanyaan yang Anda ajukan tersebut sebetulnya sudah berulang kali dijawab tuntas oleh sejumlah komentator muslim di situs ini di Forum Dialog Religi-III, lalu ditanyakan lagi, kemudian dijawab lagi, dan masih juga ditanyakan lagi, dan dijawab lagi, dan demikianlah seterusnya berulang kali dengan materi pertanyaan yang sama.

    Karenanya kami sarankan Anda mengajukan pertanyaan tersebut DISINI (klik disini). Kami yakin Anda akan dilayani “dengan baik”.

    Maaf dan Salam
    Redaktur/Admin KabarNet

  2. Paulus Nabi Palsu said

    Allahumma sholli ‘alaa Muhammad wa ‘alaa alii Muhammad.

  3. Paulus Nabi Palsu said

    Maklum si kapir hariri selama ini cuman tau kalo bibel isinya cerita porno melulu makanya pertanyaanya disekitar sejengkal dibawah pusat aza.

    Dasar domba sesat bego.

  4. mamad cabull said

    Paulus Nabi Palsu said
    29/12/2014 at 14:50

    Maklum si kapir hariri selama ini cuman tau kalo bibel isinya cerita porno melulu makanya pertanyaanya disekitar sejengkal dibawah pusat aza.

    Dasar domba sesat bego.
    —————————————–

    Dasar onta bahlull
    bisanya nyalahin bibel.
    coba lihat Q 33.50

  5. Paulus Nabi Palsu said

    @mamad cabul

    Hahaha… Pertanyaan elo itu justru mempertontonkan kebodohan lo sendiri.

    Ayat Al Qur’an itu turun ada asbabun nuzulnya (sebab musababnya) bukan kayak kitab bibel porno yg dgn vulgar tertulis buah dada, zakar dan buah pelir hehehe..

    Unt mengetahui tafsir QS 33:50 tsb harus dilihat konteks ayatnya. Latar belakang diturunkanya ayat ini karena banyak wanita2x dari berbagai kalangan yg mendatangi Rasulullah SAW meminta unt dijadikan istri sebab kedudukanya yg mulia. Hal ini membuat hati Rasulullah resah sebab Rasulullah tdk mungkin memperistri mereka semua. Oleh karena itu Allah swt mewahyukan QS 33:50 melalui Jibril bahwa jika Rasulullah saw menyukai diantara mereka boleh menikahinya sebagai hak pengkhususan bg para nabi2x dan rasul2x Allah swt sebagaimana umumnya nabi2x berpoligami jika mereka menginginkanya.

    Jd kesimpulanya Rasulullah SAW bukan bernafsu dgn byk wanita justru hati Rasul resah dgn byknya wanita yg menawarkan diri unt dijadikan istri.

    Jd lain x kl mo bertanya yg lebih berbobot seperti kenapa di dalam kitab bibel yg katanya kitab suci tp didalamya tertulis kata2x zakar,buah dada, buah pelir, berahi?

    Pantesan nama lo mamad cabul.

    Ngaco aza lo

Komentar "PILIHAN" akan diambil menjadi artikel KabarNet.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: