KabarNet

Aktual Tajam

Prasetyo Jadi Jaksa Agung, Kasus Transjakarta Aman

Posted by KabarNet pada 22/11/2014

Jaksa Agung1Jakarta – KabarNet: Kritik atas keputusan Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengangkat HM. Prasetyo sebagai Jaksa Agung makin terdengar nyaring. Pelantikan Prasetyo mendapat kritik tajam, termasuk dari media massa yang resmi mendukung pencalonan Jokowi pada masa Pilpres 2014.

Sosok Prasetyo tidak cukup meyakinkan dalam agenda besar pemberantasan korupsi. Soal rekam jejak selama berdinas di Kejaksaan Agung, eks politisi Partai Nasdem itu pun tidak punya prestasi menonjol termasuk setelah ditunjuk sebagai Jaksa Agung Muda bidang Pidana Umum (JAM Pidum) oleh Jaksa Agung saat itu, Abdul Rahman Saleh.

Tidak salah jika Anggota Komisi III DPR, Bambang Soesatyo mencium adanya agenda dibalik pengangkatan Jokow terhadap HM. Prasetyo sebagai Jaksa Agung. Bamsoet meminta Presiden Joko Widodo (Jokowi) memastikan penunjukan HM Prasetyo tersebut tidak akan mengganggu proses penyidikan kasus dugaan korupsi pengadaan Bus Transjakarta di Kejaksaan Agung.

Dengan latar belakang Prasetyo selaku politikus Partai NasDem yang mendukung pemerintah, tentu membuat publik khawatir akan menggangu independensi penegakan hukum. Apalagi, kasus dugaan korupsi pengadaan Bus Transjakarta berkali-kali menyebut nama Jokowi.

“Figur Jaksa Agung baru dan kasus korupsi pengadaan Bus Transjakarta otomatis menjadi paket isu yang mau tak mau harus direspons Presiden Joko Widodo dan para pembantunya. Klarifikasi dari kantor presiden menjadi sangat penting karena sosok Jaksa Agung baru, HM Prasetyo, menuai banyak kecaman,” katanya, seperti dikutip okezone.com, Jumat 21 November 2014.

Sekretaris Fraksi Partai Golkar ini mengatakan, memang ada sebagian orang yang beranggapan kalau penunjukan Prasetyo sarat kepentingan Presiden Jokowi. Tentunya kepentingan itu dikaitkan dengan kasus pengadaan Bus Transjakarta di Pemprov DKI semasa Jokowi masih menjadi gubernur, dan saat ini tengah ditangani oleh Kejaksaan Agung.

“Anggapan itu menguat karena publik memerhatikan bahwa penunjukan Prasetyo sebagai Jaksa Agung terlalu dipaksakan. Presiden tidak memperdulikan aspirasi publik yang tidak menghendaki sosok Jaksa Agung yang berasal dari partai politik,” jelasnya.

Bamsoet menambahkan, Presiden Jokowi tidak bisa berdiam diri dan harus menjelaskan kepada publik terkait desas-desus tersebut. Sebab, penunjukan yang tergesa-gesa ini semakin membuat publik menduga-duga adanya kepentingan personal Presiden.

“Ini adalah konsekuensi yang harus diterima Presiden. Menyikapi desas-desus seperti itu, Presiden sebaiknya tidak berdiam diri. Presiden dan para pembantunya harus memberi klarifikasi agar desas-desus itu tidak berkepanjangan,” pungkasnya.

Selain Bambang Soesatyo, hal senada juga dipaparkan oleh pengamat politik Universitas Padjajaran (Unpad) Idil Akbar. Ia menilai, pengangkatan Prasetyo diduga melanggar Undang-Undang Kejaksaan soal rangkap jabatan. Pasalnya, Presiden Joko Widodo mengangkat Prasetyo saat masih aktif menjadi anggota DPR. “Karena itu jika kemudian timbul kecurigaan akan arah hukum Indonesia menjadi kabur adalah wajar,” katanya, seperti dikutip Rakyat Merdeka, Sabtu 22 November 2014.

Lebih mengherankan, bagaimana penuntasan kasus korupsi pengadaan bus Transjakarta oleh Kejaksaan Agung yang diduga melibatkan Jokowi saat masih menjabat gubernur. Apabila, pejabat Jaksa Agung berasal dari partai pendukung Jokowi di Pemilihan Presiden 2014. “Bukankah kasus ini sudah berada di tangan Kejagung? Inilah mengapa banyak kalangan mempertanyakan pertimbangan Prasetyo dipilih menjadi Jaksa Agung,” jelas Idil.

*****

Selain itu analis politik, Ray Rangkuti juga angkat bicara. Menurutnya ada tiga cacat yang menyertai pengangkatan HM Prasetyo, sebagai Jaksa Agung baru oleh Presiden Joko Widodo (Jokowi)…. Berikut tiga cacat yang diutarakan kepada wartawan, Jumat 21 November 2014.

Cacat pertama, proses pemilihan Jaksa Agung dilakukan dengan cara tertutup. Tanpa ada semacam pemberitahuan di awalnya tentang nama-nama yang dinominasikan oleh Presiden sebagai calon Jaksa Agung. “Efek pertama mengakibatkan cacat yang kedua. Yakni, proses yang tidak transparan dengan sendirinya mengabaikan partisipasi masyarakat,” jelasnya.

Menurut Ray, sama sekali tak pernah diungkapkan siapa saja bakal calon Jaksa Agung. Dengan sendirinya masyarakat tidak pernah membuat semacam penilaian rekam jejak. Apakah calon-calon yang dimaksud tepat, kredibel, punya keberanian, jujur dan bersih, serta punya prestasi untuk membongkar bobrok dalam tubuh Kejaksaan Agung.

Masih kata dia, Kejaksaan Agung masuk dalam tiga lembaga yang masih jauh dari pembenahan reformasi, selain birokrasi dan kepolisian. Kini, bayangan akan buramnya pembenahan kejaksaan makin kuat dengan pemilihan Prasetyo sebagai Jaksa Agung. “Dan ini cacat ketiga. Pribadi HM Prasetyo bukan figur menonjol di lingkungan kejaksaan. Masa baktinya sebgai Jampidsum tak menorehkan prestasi apapun. Tak ada kasus besar diungkap,” tegas Ray.

Lebih dari itu, pemikirannya tentang reformasi kejaksaan juga tak terdengar sama sekali. Selain tak berprestasi, Prasetyo juga merupakan kader partai politik. Tentu hal ini seperti menyepelekan semangat Jokowi sendiri yang ingin menegakkan pemerintahan yang jauh dari tekanan dan kepentingan parpol.

Sebelumnya, Jokowi tiba-tiba secara resmi mengangkat HM Prasetyo sebagai Jaksa Agung. Hal itu tertuang dalam Keppres Nomor 131/2014 tentang Pengangkatan Jaksa Agung RI. Banyak kalangan mempertanyakan terkait Prasetyo yang dipilih menjadi Jaksa Agung. Bagaimana penuntasan kasus korupsi pengadaan bus Transjakarta oleh Kejaksaan Agung yang diduga melibatkan Jokowi saat masih menjabat gubernur. Apabila, pejabat Jaksa Agung berasal dari partai Nasdem yang notabene pendukung Jokowi di Pemilihan Presiden 2014. Bukankah kasus ini sudah berada di tangan Kejagung ??. [KbrNet/rmol/Oke]

6 Tanggapan to “Prasetyo Jadi Jaksa Agung, Kasus Transjakarta Aman”

  1. anti jokowi said

    wah wah wah
    ketika si ki joko dodo jadi presiden, indonesia makin berantakan
    kasus korupsi yg melibatkan ki joko dodo makin hilang dan justru memakan tumbal
    korupsi taman BMW, videotron di solo, impor bis busuk dr cina senila Rp. 1,5 trilyun dlsbg
    nah sekarang si ki joko dodo mau bermain “aman”
    dia angkat orang2 yg punya sikap siap melindungi si ki joko dodo

    __________

    ray rangkuti kan pendukung si ki joko dodo
    kok sekarang jadi orang yg mengkritik ki joko dodo
    aneh sekali

  2. taUbat said

    Berkesan untuk perimbangan, kekuatan dalam kubu (++)

    Kabinet Kerja + K I H + Jaksa Agung + K…. + ….

  3. Jika begini maka dugaan orang-orang atas kasus pengadaan bus transjakarta semakin jelas. tetapi ada yang dilupakan, bahwa lembaga lain seperti KPK tetapi bisa mengambil inisiatif untuk menuntaskan kasus itu. Hanya saja harus ditunggu masa pensiun mantan Gubernur DKI ini, dan juga pergantian personil di KPK.

    Entahlah, karena alibi terkuat adalah kekuasaan.

  4. Paulus Nabi Palsu said

    Saatnya REVOLUSI PROLETAR, hancurkan semua asing, aseng dan antek2x pribumi, kembalikan kedaulatan rakyat.

  5. mantep semoga bertugas sesuai fungsinya kalaunya gak ya….sudah lah. namanya wong cilik bisanya berdoa

  6. Anonim said

    SARIMIN KORUPSI BUSWAY……WKKKKK

Komentar "PILIHAN" akan diambil menjadi artikel KabarNet.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: