KabarNet

Aktual Tajam

Polisi Ceroboh, Tidak Profesional Tangani Kasus JIS

Posted by KabarNet pada 08/11/2014

Jakarta – KabarNet: Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (Kontras) menilai, banyak fakta-fakta persidangan kasus JIS yang diduga bertolak belakang dengan BAP yang disusun polisi. Misalnya, hasil visum rumah sakit dan keterangan sejumlah saksi yang dihadirkan penuntut umum yang diduga semakin melemahkan cerita polisi. “Penilaian ini berdasarkan hasil monitoring dan investigasi yang dilakukan Kontras,” kata koordinator Kontras Haris Azhar, Selasa, 4 November 2014, di Jakarta.

Para terdakwa, kata Haris, diduga terpaksa mengakui perbuatan versi BAP karena tidak kuat menahan siksaan polisi. Seperti terdakwa Syahrial yang mengaku mengalami dugaan tindakan brutal dan kekerasan dari polisi mulai pukul 21.00 sampai 03.00, seusai ditahan April lalu. Karena tak kuat menanggung sakit, dia akhirnya menyerah.

Karena itu, kata Haris, penanganan kasus dugaan kekerasan seksual anak di Jakarta International School (JIS), menjadi salah satu bukti dugaan kecerobohan polisi. Polisi diduga tidak independen dan memaksakan kasus dari bukti-bukti yang lemah. “Kasus JIS kembali mempertontonkan kepada kita bagaimana sebuah rekayasa terjadi. Kematian seorang pekerja kebersihan JIS dengan muka lebam menjadi bukti bahwa tindak kekerasan oleh polisi itu nyata terjadi,” kata Haris.

Kasus JIS memperlihatkan bagaimana polisi membentuk rangkaian cerita yang diduga tidak berdasarkan alat bukti. Guna memaksakan cerita, polisi diduga melakukan kekerasan dan penyiksaan terhadap pekerja kebersihan JIS, agar mengakui kasus kekerasan seksual itu.

“Karena polisi berada di bawah koordinasi langsung Presiden, bapak Jokowi seharusnya juga mencermati kasus ini. Dengan kondisi polisi saat ini masyarakat semakin takut berhubungan dengan polisi, karena polisinya sendiri menunjukkan ketidaktaatan pada hukum. Kasus JIS adalah salah satu bukti tindakan polisi yang tidak profesional dan memaksakan sebuah kasus dari fakta yang lemah,” imbau Haris.

Haris juga menilai, sebagai sekolah ternama dan berlabel asing, JIS diduga dijadikan sebagai panggung dan penghakiman institusi dengan membentuk sentimen asing. Padahal dari kasus ini, yang dianggapnya menjadi korban adalah para pekerja kebersihan yang secara ekonomi tidak mampu dengan akses politik dan informasi yang lemah.

Dalam kesempatan ini perwakilan orangtua murid JIS Ayu Rahmat menuturkan, sejak awal kasus di JIS ini sangat janggal dan tidak masuk akal. Selain sistem dan kontrol di sekolah sangat ketat, cerita yang dimunculkan dalam BAP pekerja kebersihan itu mustahil terjadi. “Bagaimana mungkin seorang anak berusia 6 tahun mengalami sodomi lebih dari 13 kali oleh 4 orang kondisi lubang pelepasnya masih normal. Itu bukti visum dari RSCM dan SOS Medika yang sudah disampaikan ke majelis hakim,” jelas Ayu.

Ayu menambahkan, di TK JIS banyak orangtua siswa yang terlibat dan memonitor kegiatan anak-anaknya. Karena itu menjadi sangat aneh kita ibu Pipit yang tidak pernah datang ke sekolah tiba-tiba melaporkan kasus ini. “Kami bingung dengan semua cerita ini. Apalagi ada gugatan yang nilainya bisa digunakan untuk membeli seluruh tanah yang ditempati JIS. Ada apa ini semua,” katanya.

Ayu juga meminta Presiden Jokowi dan ibu Iriana untuk ikut memonitor kasus ini. Pasalnya kasus ini menjadi pertaruhan hidup mati bagi keluarga para terdakwa. Para pekerja kebersihan ini merupakan tulang punggung keluarga dan sumber nafkah bagi keluarganya. “Bayangkan jika kita dihukum oleh suatu perbuatan yang tidak pernah kita lakukan dan harus menanggungnya seumur hidup. Mereka punya anak, istri, orang tua dan anak asuh. Saya yakin dengan mengungkap kebenaran dalam kasus ini kita dapat menyelamatkan masa depan banyak keluarga dan orang-orang kecil yang mampu dan tidak bersalah ini,” imbuh Ayu.

Bukti Tuduhan Sangat Lemah, Motif Uang di Balik Kasus JIS

“Apabila kondisi traumatis MAK memang benar disebabkan oleh perbuatan sodomi yang dilakukan di sekolah, maka MAK tidak akan kembali ke sekolah.”

Demikian kesaksian psikolog Seto Mulyadi dalam sidang kasus pelecehan seksual di Taman Kanak-kanak Jakarta International (JIS) di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan pada 13 Oktober lalu, dalam acara briefing media yang digelar oleh Komisi Untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (Kontras), di Warung Cikini, Jakarta, 4 November 2014 kemarin.

Faktanya, MAK kembali ke sekolah dan menggunakan toilet tersebut berulang-ulang kali, walaupun sebetulnya ia dapat menggunakan toilet lain. Padahal bila memang ia mengalami trauma akibat sodomi di sekolah, maka ia tidak akan kembali ke sekolah.

Kak Seto memang mengatakan, berdasarkan dari tiga kali pemeriksaan psikologis terhadap MAK, MAK memang mengalami trauma psikologis, namun tidak dapat disimpulkan penyebab traumatik tersebut.

Masih banyak lagi tuduhan-tuduhan yang dilancarkan oleh keluarga korban MAK kepada petugas kebersihan, tidak sesuai dengan fakta dan bukti yang ada. Dari hasil penelusuran

Pertama, MAK diduga telah disodomi sebelum dan sesudah hari ulang tahun salah satu temannya pada 15 Maret 2014. Kemudian ceritanya berubah menjadi tuduhan sodomi sebanyak 13 kali di toilet Anggrek Kampus PIE JIS pada jam sekolah dari Desember 2013 – Maret 2014.

Faktanya, banyak foto MAK yang menunjukkan keceriaan di kurun waktu tuduhan tersebut. Di kurun waktu tersebut, Marc masih tetap pergi ke sekolah, bermain dan belajar seperti biasa. Terdapat kejanggalan bahwa seorang anak dapat dengan mudah kembali belajar dan bermain setelah diduga mengalami kekerasan seksual berulang kali.

Kedua, menurut matriks peristiwa, sodomi terjadi pada tanggal 21 Januari 2014 oleh Virgiawan, Zainal, Agun, dan Syahrial. Faktanya, berdasar absensi karyawan ISS, pada tanggal tersebut Virgiawan dan Agun tidak masuk kerja.

Sodomi kembali terjadi pada 17 Maret 2014 oleh Zainal, Azwar, Syahrial. Faktanya pada tanggal tersebut Zainal tidak masuk kerja dan Azwar ditugaskan di Cilandak.

Tuduhan terjadinya kekerasan seksual seharusnya di cross checked dengan jadwal-jadwal kerja di atas, tapi kenyataannya hal tersebut tidak dilakukan sehingga hal ini membuktikan bahwa tuduhan tidak sesuai dengan fakta dan bukti yang ada.

Ketiga, bukti-bukti medis menunjukkan Marc disodomi dan mengakibatkan menderita penyakit menular. Faktanya, berdasarkan hasil pemeriksaan dr. Narain di SOS Medika, bahwa korban tidak mengidap penyakit seksuat yang menular. Berdasarkan hasil visum RSCM, bahwa tidak ditemukan luka-luka pada lubang pelepas.

Keempat, menurut MAK, salah satu pelaku, Afrischa, melakukan kekerasan seksual terhadap MAK dengan memasukkan penisnya ke dalam anus MAK. Faktanya, Afrischa adalah seorang perempuan.

Masih banyak lagi bukti dan fakta yang menunjukkan bahwa tuduhan yang dilancarkan oleh keluarga korban kepada petugas kebersihan adalah rekayasa semata. Dan tentu saja ada motif di balik rekayasa kasus tersebut. Di antaranya adalah uang. Dengan adanya kasus ini, keluarga korban, dalam hal ini Ibu Theresia Pipit Widowati Kroonen menuntut pihak JIS sebanyak Rp 1,5 Triliun, seperti yang pernah diungkapkan oleh pengacara JIS Harry Ponto, pada 28 Oktober lalu, di Jakarta. [KbrNet/Slm]

Komentar "PILIHAN" akan diambil menjadi artikel KabarNet.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: