KabarNet

Aktual Tajam

Ironi Sejarah Penyumbang Emas di Tugu Monas

Posted by KabarNet pada 08/09/2014

Jakarta – KabarNet: Monumen Nasional (Monas), memang tidak asing lagi bagi warga negara Indonesia, khususnya warga Jakarta. Monas yang terletak tepat di jantung ibu kota negara dan pemerintahan Republik Indonesia ini terlihat sangat gagah menjulang tinggi. Dalam sejarahnya, bangunan setinggi 128,70 meter ini dibangun pada masa pemerintahan Soerkarno.

Monas mulai dibangun pada bulan Agustus 1959 dan diresmikan dua tahun kemudian pada 17 Agustus 1961 oleh presiden Soekarno. Keseluruhan bangunan Monas ini dirancang oleh tiga orang arsitek yang ditunjuk oleh Soekarno, yakni Soedarsono, Frederich Silaban dan Ir. Rooseno.

Monas yang didirikan untuk memperingati semangat perjuangan kemerdekaan Bangsa Indonesia ini disimbolkan dengan lidah api yang tak pernah padam di pucuk Monas. Lambang lidah api tersebut dibuat dengan berbahan dasar emas. Namun tahukah anda asal usul emas yang terdapat di pucuk Monas? Dari manakah emas tersebut?

Pada saat pertama kali dibangun, di puncak tugu monas ditempatkan emas seberat 32 kilogram, dimana 28 kilogramnya adalah pemberian dari seorang saudagar kaya raya asal Aceh bernama Teuku Markam. Emas itu diberikan oleh Teuku Markam karena kala itu dirinya memang memiliki kedekatan dengan presiden Soekarno. Pada saat Indonesia merayakan kemerdekaannya yang ke 50, pemerintah Indonesia menambah kembali lapisan emas sebesar 18 kilogram, sehingga berat total emas yang melapisi api kemerdekaan di puncak monas menjadi 50 kilogram.

Pada masa pemerintahan Soekarno, Teuku Markam dikatakan memiliki andil besar dalam memajukan perekonomian bangsa Indonesia. Diantaranya, dia tercatat sebagai salah seorang yang ikut membebaskan Senayan untuk dijadikan sebagai pusat olah raga terbesar di Indonesia. Tidak hanya itu saja, andil Teuku Markam juga terlihat pada pembangunan infrastruktur di Aceh dan Jawa Barat begitu juga jalan raya Medan-Banda Aceh. Namun kemudian nama Teuku Markam sendiri seolah menghilang begitu saja, bahkan generasi sekarang banyak yang tidak mengetahui sosok Teuku Markam ini.

Teuku Markam dilahirkan tahun 1925 di Seuneudon, Alue Capli, Panton Labu Aceh Utara. Teuku Markam bin Teuku Marhaban ketika usia 9 tahun sudah menjadi yatim piatu. Teuku Markam kemudian diasuh kakaknya Cut Nyak Putroe. Teuku Markam hanya mengenyam pendidikan sampai kelas 4 SR (Sekolah Rakyat). Teuku Markam tumbuh lalu menjadi pemuda dan memasuki pendidikan wajib militer di Koeta Radja (Banda Aceh sekarang) dan tamat dengan pangkat letnan satu. Teuku Markam bergabung dengan Tentara Rakyat Indonesia (TRI) dan ikut pertempuran di Tembung, Sumatera Utara bersama-sama dengan Jendral Bejo, Kaharuddin Nasution, Bustanil Arifin dan lain-lain.

Selama bertugas di Sumatera Utara, Teuku Markam aktif di berbagai lapangan pertempuran. Bahkan ia ikut mendamaikan clash antara pasukan Simbolon dengan pasukan Manaf Lubis. Sebagai prajurit penghubung, Teuku Markam lalu diutus oleh Panglima Jenderal Bejo ke Jakarta untuk bertemu pimpinan pemerintah. Oleh pimpinan, Teuku Markam diutus lagi ke Bandung untuk menjadi ajudan Jenderal Gatot Soebroto. Tugas itu diemban Markam sampai Gatot Soebroto meninggal dunia. Adalah Gatot Soebroto pula yang mempercayakan Teuku Markam untuk bertemu dengan Presiden Soekarno.

Saat itu, Bung Karno memang menginginkan adanya pengusaha pribumi yang betul-betul mampu mengatasi masalah perekonomian Indonesia. Tahun 1957, ketika Teuku Markam berpangkat kapten (NRP 12276), kembali ke Aceh dan mendirikan PT Karkam. Perusahaan itu dipercaya oleh Pemerintah RI mengelola pampasan perang untuk dijadikan dana revolusi. Selanjutnya Teuku Markam benar-benar menggeluti dunia usaha dengan sejumlah aset berupa kapal dan beberapa dok kapal di Palembang, Medan, Jakarta, Makassar, Surabaya. Bisnis Teuku Markam semakin luas karena ia juga terjun dalam ekspor – impor dengan sejumlah negara. Antara lain mengimpor mobil Toyota Hardtop dari Jepang, besi beton, plat baja dan bahkan sempat mengimpor senjata atas persetujuan Departemen Pertahanan dan Keamanan (Dephankam) dan Presiden.

Komitmen Teuku Markam adalah mendukung perjuangan RI sepenuhnya termasuk pembebasan Irian Barat serta pemberantasan buta huruf yang waktu itu digenjot habis-habisan oleh Soekarno. Hasil bisnis Teuku Markam juga ikut menjadi sumber APBN serta mengumpulkan sejumlah 28 kg emas untuk ditempatkan di puncak Monumen Nasional (Monas). Sebagaimana kita tahu bahwa proyek Monas merupakan salah satu impian Soekarno dalam meningkatkan harkat dan martabat bangsa.

Sejarah kemudian berbalik. Di era Orde Baru peran dan sumbangan Teuku Markam dalam membangun perekonomian Indonesia seakan menjadi tiada artinya. Ia difitnah sebagai PKI dan dituding sebagai koruptor dan Soekarnoisme. Tuduhan itulah yang kemudian mengantarkan Teuku Markam ke penjara pada tahun 1966. Ia dijebloskan ke dalam sel tanpa ada proses pengadilan. Pertama-tama ia dimasukkan tahanan Budi Utomo, lalu dipindahkan ke Guntur, selanjutnya berpindah ke penjara Salemba – Jalan Percetakan Negara. Lalu dipindah lagi ke tahanan Cipinang, dan terakhir dipindahkan ke tahanan Nirbaya, tahanan untuk politisi di kawasan Pondok Gede Jakarta Timur. Tahun 1972 ia jatuh sakit dan terpaksa dirawat di RSPAD Gatot Subroto selama kurang lebih dua tahun.

Peralihan kekuasaan dari Soekarno ke Soeharto membuat hidup Teuku Markam menjadi sulit dan prihatin. Ia baru bebas tahun 1974. Ini pun, kabarnya, berkat jasa- jasa baik dari sejumlah teman setianya. Teuku Markam dilepaskan begitu saja tanpa ada konpensasi apapun dari pemerintahan Orba. “Memang betul, saat itu Teuku Markam tidak akan menuntut hak- haknya. Tapi waktu itu ia kan tertindas dan teraniaya,” kata Teuku Syauki Markam, salah seorang putra Teuku Markam.

Soeharto selaku Ketua Presidium Kabinet Ampera, pada 14 Agustus 1966 mengambil alih aset Teuku Markam berupa perkantoran, tanah dan lain-lain yang kemudian dikelola PT PP Berdikari yang didirikan Suhardiman untuk dan atas nama pemerintahan RI. Suhardiman, Bustanil Arifin, Amran Zamzami (dua orang terakhir ini adalah tokoh Aceh di Jakarta) termasuk teman-teman Markam. Namun tidak banyak menolong mengembalikan asset PT Karkam. Justru mereka ikut mengelola aset-aset tersebut di bawah bendera PT PP Berdikari. Suhardiman adalah orang pertama yang memimpin perusahaan tersebut. Di jajaran direktur tertera Sukotriwarno, Edhy Tjahaja, dan Amran Zamzami. Selanjutnya PP Berdikari dipimpin Letjen Achmad Tirtosudiro, Drs Ahman Nurhani, dan Bustanil Arifin SH.

Pada tahun 1974, Soeharto mengeluarkan Keppres N0 31 Tahun 1974 yang isinya antara lain penegasan status harta kekayaan eks PT Karkam/PT Aslam/PT Sinar Pagi yang diambil alih pemerintahan RI tahun 1966 berstatus “pinjaman” yang nilainya Rp 411.314.924,29 sebagai penyertaan modal negara di PT PP Berdikari. Kepres itu terbit persis pada tahun dibebaskannya Teuku Markam dari tahanan.

Sekeluar dari penjara, tahun 1974, Teuku Markam mendirikan PT Marjaya dan menggarap proyek-prorek Bank Dunia untuk pembangunan infrastruktur di Aceh dan Jawa Barat. Tapi tidak satupun dari proyek-proyek raksasa yang dikerjakan PT Marjaya baik di Aceh maupun di Jawa Barat, yang diresmikan oleh pemerintahan Soeharto. Proyek PT Marjaya di Aceh antara lain pembangunan Jalan Bireuen – Takengon, Aceh Barat, Aceh Selatan, Medan-Banda Aceh, PT PIM dan lain-lain. Teuku Syauki menduga, Rezim Orba sangat takut apabila Teuku Markam kembali bangkit. Untuk itulah, kata Teuku Syauki, proyek-proyek Markam “dianggap” angin lalu.

“Air susu dibalas air tuba,” itulah nasib ayah kami”, kata Teuku Syauki mengenai prilaku penguasa Orba. Untuk mengembalikan aset PT Karkam yang dikuasai oleh pemerintah, selaku ahli waris, Teuku Syauki Markam menyurati Presiden Gus Dur dan Wapres Megawati Soekarnoputri. Kekayaan Teuku Markam yang diambil alih itu ditaksir bernilai Rp 40 triliun lebih.

“Kami menuntut kepada pemerintahan sekarang untuk mengembalikan seluruh aset kekayaan orang tua kami,” kata Teuku Syauki Markam. “Seumur hidup saya akan berjuang mendapatkan kembali hak kelurga kami yang telah dirampas oleh pemerintahan Orba,” tekad Teuku Syauki yang nampak geram atas tingkah pola kekuasaan Orba yang menyebabkan keluarga mereka menderita lahir batin.

Teuku Markam meninggal dunia pada tahun 1985 akibat berbagai macam kompilasi penyakit dan hingga sekarang pemerintah Indonesia tidak sedikitpun menghargai jasanya, pengorbanannya dan perjuangannya terhadap kemerdekaan Indonesia, pertumbuhan ekonomi Indonesia serta Monas yang menjadi kebanggaan Indonesia. Indonesia bahkan tidak pernah berniat menjadikan Teuku Markam sebagai Pahlawan Nasional. Tapi Teuku Markam akan selalu menjadi pelecut semangat anak Aceh untuk memerangi segala macam kezaliman yang menimpa orang Aceh dan tanah Aceh tercinta, namanya tidak akan pernah lekang dari Sejarah Aceh selamanya. [Kbr/Slm]

Berbagai sumber…

4 Tanggapan to “Ironi Sejarah Penyumbang Emas di Tugu Monas”

  1. Richard Kristiadi said

    Oh pemerintah ORDE BARU, koq ya berani nanggung dosa sebesar itu ….

  2. Yogi said

    Memang nilai2 keikhlasan tdk bisa dinilai dengan materi brapapun juga,dan semua kembali kepada niatnya masing2 dan semua ada pertanggung jwbannya kelak…ingat pengadilan akherat lebih ngreri lagi

  3. Anonim said

    Yah inilah indonesia

  4. Semoga Allah mengampuni semua dosa beliau dan menerima semua amal ibadahnya…aamiin.
    Teruskan memperjuangkan hak milik beliau.

Komentar "PILIHAN" akan diambil menjadi artikel KabarNet.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: