KabarNet

Aktual Tajam

Akui Agama Baha’i, Menag Tanam Bom Waktu!

Posted by KabarNet pada 01/09/2014

Mirza Husain Ali An-Nuri (Baha'ullah)

Mirza Husain Ali An-Nuri (Baha’ullah)

Baha’i merupakan ‘sekte’ yang dinisbatkan kepada seorang bangsawan bernama Mirza Husain Ali An-Nuri yang lahir pada tahun 1233 Hijriyyah, di Desa Nur, perkampungan Mazandran Persia (Iran). Ia dikenal sebagai “Baha’ullah”, dan mengklaim dirinya telah menerima wahyu dari Allah. Ia juga dinobatkan sebagai utusan Allah yang menghapus Syari’at Nabi Muhammad SAW.

Pada tahun 1852, Baha’ullah pernah ditahan di penjara bawah tanah ‘SIYAH-CHAL’ di kota Teheran- Iran, dan saat itu pula dia mengaku menerima awal dari misi Ilahinya sebagai PERWUJUDAN Allah. Baha’ullah dikeluarkan dari penjara, dan langsung disingkirkan ke Baqdad – Iraq.

Baha’ullah selama di Iraq secara diam-diam menyebarkan kembali ajaran pendahulunya, Mirza Alí Muhammad dari Shiraz, Iran, yang dikenal dengan gelarnya Sang Bab. Pada tahun 1850 Sang Bab dihukum mati di kota Tabríz, oleh penguasa Iran saat itu. Jenazahnya diambil oleh pengikutnya dan dikirim Palestina (saat ini di Bukit Karmel Israel).

Baha’ullah mendidik dan menghidupkan kembali ajaran Sang Bab kepada pengikutnya melalui beberapa Kitab sucinya dan sejak itulah ajaran Baha’ullah ini dikenal sebagai sekte Baha’i. Karena meresahkan, Baha’ullah diusir dari Iraq ke Konstantinopel (Turki).

Pada tahun 1868, Baha’ullah kembali diusir oleh kesultanan Turki dan disingkirkan ke kota Akka (sekarang diduduki Israel). Pada tahun 1892, Baha’ullah meninggal dunia di desa Bahji Israel dekat kota Akka, tempat yang kini menjadi kiblat sekte Baha’i di kawasan bukit Karmel.

Sebelum meninggal dunia, Baha’ullah menunjuk putranya, Abdul Baha’ sebagai pemimpin sektenya agar Baha’i tidak mengalami perpecahan. Abdul Baha’ melanjutkan misi ayahnya ke beberapa negara melalui surat-surat, termasuk ke para pengikut Baha’i di Iran. Abdul Baha’ pun akhirnya mati di kota Haifa Israel pada tahun 1921.

Abdul Baha'

Abdul Baha’

Baha’i sendiri mulai berkembang pada abad 19, tepatnya tahun 1863 M. Ajaran yang dibawa Baha’ullah ini terus berkembang hingga penganutnya mencapai sekitar 5-6 juta orang. Baha’i masuk ke Indonesia sekitar tahun 1878 M, konon dibawa oleh dua orang pedagang dari Persia dan Turki, yaitu Jamal Effendy dan Mustafa Rumi. Di Indonesia, pemeluk sekte Baha’i ini sangat sedikit, hanya terbilang ratusan orang saja.

Presiden Soekarno sempat mengeluarkan Keppres No. 264/1962 yang melarang Baha’i aktif di Indonesia. Keputusan tersebut dikeluarkan, karena Soekarno menilai paham Baha’i tidak sesuai dengan kepribadian Indonesia, menghambat revolusi, dan bertentangan dengan cita-cita nasionalisme Indonesia. Namun di era Presiden Abdurrahman Wahid, Keppres tersebut (No. 264/1962), dicabut lalu diganti dengan Keppres No. 69/2000.

Akhir-akhir ini, Baha’i menjadi perbincangan masyarakat, setelah Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin tiba-tiba secara terang-terangan menegaskan tengah mengkaji Baha’i sebagai agama baru di Indonesia. Padahal sebelumnya sekte Baha’i di sebagian besar masyarakat Indonesia terdengar masih asing.

Kajian sekte Baha’i ini dilakukan dengan alasan Menteri Dalam Negeri Gamawan Fauzi mengirimkan surat kepada Menag Lukman Hakim yang mempertanyakan tentang Baha’i. Menurut Lukman, Baha’i merupakan agama dan dalam pembelaannya ia mengatakan, selayaknya Baha’i ini mendapat pelayanan yang sama dari negara seperti enam agama lainnya. “Menteri Agama perlu masukan untuk mengakui (secara konstitusi) Baha’i sebagai agama atau tidak, karena ini bukan agama baru tapi sudah berkembang sejak abad 17,” kata Lukman Hakim, Jumat 25 Juli 2014 lalu.

Sekadar diketahui, pemerintah hingga kini hanya mengakui enam agama dalam konstitusi: Islam, Kristen, Katholik, Hindu, Budha, dan Khonghucu. Sedangkan Baha’i sampai saat ini bukanlah yang diakui sebagai agama.

Menag Lukman Hakim Saifuddin melalui jawaban surat resmi kepada Mendagri, Kamis 24 Juli 2014, menyatakan bahwa Baha’i merupakan agama dari sekian banyak agama yang berkembang di lebih dari 20 negara.

Dalam suratnya, Menag menyatakan bahwa Baha’i bukan aliran dari suatu agama. Baha’i termasuk agama yang dilindungi konstitusi sesuai Pasal 28E dan Pasal 29 UUD 1945. Berdasar UU 1/PNPS/1965 dinyatakan agama Baha’i merupakan agama di luar Islam, Kristen, Katholik, Hindu, Budha, dan Khonghucu. Penganut agama di luar enam ini dibiarkan keberadaannya sepanjang tidak melanggar UU No 1/PNPS/1965 tentang Pencegahan Penyalahgunaan dan/atau Penodaan Agama. Baha’i mendapat jaminan dari negara dan dibiarkan adanya sepanjang tidak melanggar ketentuan peraturan perundang-undangan. Umat Baha’i sebagai warganegara Indonesia berhak mendapat pelayanan kependudukan, hukum, dll dari Pemerintah.

Berikut copy surat jawaban Menag Lukman Hakim kepada Menteri Dalam Negeri Gamawan Fauzi:

Jawaban surat resmi dari Menag Lukman Hakim kepada Mendagri, Kamis 24 Juli 2014. Dok: KabarNet.

Jawaban surat resmi dari Menag kepada Mendagri, Kamis 24 Juli 2014. Dok: KabarNet.

Para penganut sekte Baha’i ini meyakini kitab suci mereka adalah Aqdas. Sedangkan shalatnya berkiblat ke (makam Sang Bab & Baha’ullah) yang terletak di bukit Karmel di Israel. Rumah ibadah Baha’i dinamakan Mashriqu’l-Adhkar, yakni tempat untuk berdoa, meditasi dan melantunkan ayat-ayat suci Baha’i dan agama-agama lain. Dalam menjalankan ritualnya, pemeluk Baha’i di antaranya harus menjalankan shalat wajib Baha’i, membaca tulisan suci setiap hari dan berpuasa hanya 19 hari.

Dalam ajaran sekte Baha’i, agama dipandang sebagai suatu proses pendidikan bagi umat manusia melalui para utusan Tuhan, yang disebut para “PERWUJUDAN ALLAH”. Baha’ullah dianggap sebagai PERWUJUDAN ALLAH yang terbaru. Dia mengaku sebagai pendidik Ilahi yang telah dijanjikan bagi semua umat dan yang dinubuatkan dalam agama Kristen, Islam, Buddha, dan agama-agama lainnya.

Beberapa Doktrin Baha’i, Pemikiran dan Ritual, diantaranya:

  1. Baha’i meyakini bahwa Allah telah mengungkapkan Diri-Nya melalui beberapa makhluq-Nya Utusan Allah dan bahwa Allah memiliki solusi yang dinamakan “Albab” dan “Baha’i”.
  2. Baha’i telah memenetapkan penghapusan Syariat Nabi Muhammad SAW.
  3. Baha’i beriman adanya reinkarnasi, bahwa pahala dan hukuman satu-satunya terletak pada roh.
  4. Baha’i berkeyakinan bahwa semua agama adalah benar, kitab Taurat dan Injil tidak ada perubahan. Mereka berkepetingan untuk menyatukan semua agama dalam satu sekte Baha’i.
  5. Baha’i meyakini bahwa Buddha, Konfusius, Zoroaster, Brahma dari India, Cina dan Persia.
  6. Baha’i mengimani terjadinya peristiwa penyaliban Yesus Kristus.
  7. Baha’i tidak mempercayai mukjizat para nabi dan hakikat wujudnya malaikat dan jin serta menyangkal keberadaan surga dan neraka juga tidak mempercayai hari kiamat.
  8. Baha’i mengharamkan penggunaan jilbab pada wanita dan menghalalkan kawin kontrak. Perempuan mendapat hak yang sama dalam menerima harta waris.
  9. Baha’i berkiblat ke Bahji (ke arah makam Sang Bab & Baha’ullah) di bukit Karmel Israel sebagai pengganti dari Masjidil Haram.
  10. Baha’i melaksanakan shalat tiga kali sehari, yaitu pagi, siang dan sore. Setiap shalat terdiri dari 3 raka’at. Jika berwudhu menggunakan air mawar, dan jika tidak didapati cukup dengan mengucapkan “Dengan nama Allah yang maha suci.. maha suci..” hingga 5 kali.
  11. Baha’i melarang shalat berjama’ah kecuali shalat mayit.
  12. Baha’i mengkuduskan bilangan sembilan belas, dan menjadikan jumlah bulan dalam setahun sembilan belas bulan dan jumlah setiap bulan sembilan belas hari.
  13. Baha’i berpuasa dengan cara yang disebut bulan baha’i, yaitu Ela dan dimulai dari tanggal 2 sampai 21 Maret. Baha’i berpuasa dengan menahan diri dari matahari terbit sampai terbenam, diikuti dengan hari lebaran yang disebut ‘NOWRUZ’.
  14. Baha’i mengharamkan Jihad, angkat senjata dan berperang melawan orang-orang kafir.
  15. Baha’i menolak bahwa Muhammad SAW adalah penutup para nabi dan wahyu masih tetap ada.
  16. Baha’i mebatalkan haji ke Mekah, oleh karena itu haji mereka ke tempat pemakaman ” Sang Bab & Baha’ullah” di bukit Karmel Israel.

Dengan serentetan data dan fakta tentang Baha’i, sangat mengherankan Menag Lukman Hakim Saifuddin yang notabene salah satu tokoh muslim, bisa membela dan mengakui Baha’i sebagai agama. Tidak jelaskah poin-poin dalam dasar agama Baha’i menjadi cukup bukti bahwa ia LAKSANA BOM WAKTU yang akan meledak menjadi konflik horizontal dalam tubuh umat islam. Belum lagi selesai masalah sekte Ahmadiyah yang cukup mengganggu islam, kini Menag seperti melempar BOLA API DI TENGAH UMAT ISLAM dengan pengakuan terhadap agama Baha’i. Bagaimana mungkin Menag membela sekte Baha’i dengan dasar bahwa mereka memeiliki hak-hak yang harus dibela sementara dalam waktu yang sama mengesampingkan hak-hak umat islam sebagai mayoritas untuk menolak pengakuan terhadap sekte Baha’i.

Satu poin penting yang sangat mendasar untuk menolak sekte Baha’i sebagai agama di Indonesia adalah PENGHAPUSAN MEREKA TERHADAP SYARIAT NABI MUHAMMAD SAW yang jelas tercantum dalam kitab suci mereka. Bukankah ini pelecehan terhadap islam? Satu poin ini sudah cukup untuk membuktikan bahwa mereka adalah SEKTE SEMPALAN DALAM ISLAM yang ritual dan ajarannya banyak sekali kemiripan dengan islam. Hal ini dikemudian hari akan menimbulkan PERTENTANGAN dan KEKACAUAN.

Yang mengatakan sekte Baha’i adalah agama hanya kaum LIBERAL. Tidak menutup kemungkinan bahwa Lukman Hakim Saifuddin adalah salah satu AKTIVIS/ AGEN LIBERAL yang berhasil menyusup dalam pemerintahan untuk mendukung sekte sempalan yang sejenis dengan Baha’i. Bila sampai ada pengakuan resmi negara terhadap Baha’i, hal ini berpotensi menimbulkan banyak masalah di masa depan, menimbulkan konflik besar di masyarakat yang mayoritas beragama islam.

Jangan disalahkan bila dikemudian hari akan ada aksi penolakan besar dari umat islam atas kecerobohan pemerintah membuka jalan bagi sekte Baha’i untuk menjadi agama di negeri Indonesia ini. Bisa dibayangkan akibat yang akan timbul bila sekte Baha’i diberi ruang pengakuan, maka RATUSAN ALIRAN SESAT akan BERBONDONG-BONDONG menuntut pengakuan yang sama dari pemerintah Indonesia untuk dijakdikan sebagai agama. Semoga pemerintah dapat membuat keputusan yang arif dan bijak, menimbang dari berbagai sudut pandang dan berlepas dari keputusan seorang Menag yang tidak saja ceroboh, berpikiran pendek, sekaligus juga INKOMPETEN menjaga kestabilan kehidupan beragama di Indonesia.

Salim Syarief MD

4 Tanggapan to “Akui Agama Baha’i, Menag Tanam Bom Waktu!”

  1. Richard Kristiadi said

    Koq suka sekali import barang-barang dari ARABPATIGENAH, hanya akan membuat Indonesia menjadi semakin terpecah belah

  2. asal tak menggerogoti islam seperti ahmadiah dan syiah tuh

  3. Anonim said

    Biasa modal jenggot

  4. Wahyudi said

    WAHAI ANAK-ANAK MANUSIA!
    Tidak tahukah engkau mengapa Kami menjadikan engkau semua dari tanah yang sama? Supaya yang satu janganlah meninggikan dirinya di atas yang lainnya. Renungkanlah selalu dalam kalbumu bagaimana engkau dijadikan. Karena Kami telah menjadikan engkau semua dari zat yang sama, maka adalah kewajibanmu untuk laksana satu jiwa, berjalan dengan kaki yang sama, makan dengan mulut yang sama dan berdiam dalam negeri yang sama, supaya dari wujudmu yang terdalam, dengan perbuatan-perbuatan dan tindakan-tindakanmu, tanda-tanda kesatuan dan hakikat keterlepasan dapat dijelmakan. Demikianlah nasihat-Ku kepadamu. Wahai kumpulan cahaya! Perhatikanlah nasihat ini, supaya engkau memperoleh buah kesucian dari pohon kemuliaan yang gaib. (Bahá’u’lláh)

Komentar "PILIHAN" akan diambil menjadi artikel KabarNet.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: