KabarNet

Aktual Tajam

Polda NTT Lanjut Lidik Kasus TKI PT. MMP

Posted by KabarNet pada 29/08/2014

Kupang – KabarNet: Pengaduan Brigadir Polisi (Brigpol) Rudy Soik ke Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM), terkait penghentian penyidikkan kasus dugaan perdagangan orang terhadap 52 calon tenaga kerja asal NTT yang direkrut PT. Malindo Mitra Perkasa (MMP) oleh Direktorat Reserse dan Kriminal Khusus (Ditreskrimsus) beberapa waktu lalu, membawa titik terang.

Setelah melalui proses gelar perkara di Badan Reserse dan Kriminal (Bareskrim) Mabes Polri, Rabu 27 Agustus 2014, dimana dihadiri Direskrimsus Polda NTT, Kombes Pol. Moch Slamet dan Brigpol Rudy Soik didampingi Wakil Ketua Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK), Edwin Partogi Pasaribu, diputuskan bahwa tindakan memerintah menghentikan kasus itu oleh Direskrimsus Polda NTT terlalu prematur. Atas keputusan tersebut, Polda NTT melalui Kepala Bidang (Kabid) Humas, AKBP Okto Riwu menyatakan siap melanjutkan penyelidikkan kasus tersebut.

Okto Riwu yang dihubungi ke ponselnya, Kamis 28 Agustus 2014, mengatakan, Polda NTT sebagai jajaran dibawah Mabes Polri, wajib menjalankan keputusan ataupun rekomendasi gelar perkara yang dilakukan Bareskrim. “Tentunya apapun keputusan yang ditetapkan satuan atas (Mabes Polri, Red), wajib dilaksanakan. Polda siap lanjutkan penyelidikan untuk menemukan alat bukti awal guna proses hukum selanjutnya,” jelas mantan Wakapolres Lembata itu, Rabu 27 Agustus 2014 lalu.

Migrant Care
Sementara itu, Ambasador Anti Trafficking Indonesia For Migrant Wonder, Melani Subono dalam kunjungannya ke Kupang-NTT, mengatakan, sikap Brigpol Rudy Soik melaporkan pimpinannya terkait kasus perdagangan orang di NTT, dinilai sebagai langkah berani yang bisa membongkar jaringan mafia perdagangan manusia yang dilakukan oknum pada institusi kepolisian.

Dalam jumpa pers dengan Migrant Care, di Bandara El Tari, kemarin, sosok yang juga artis ibukota ini menilai, para pelaku trafficking di Indonesi mempunyai sifat yang lebih jahat dari binatang. “Bagaimana tidak, binatang tidak saja tidak sejahat mereka dengan menjual sesamanya hanya untuk mencari keuntungan,” tegas Melani.

Menurutnya, secara umum, para pelaku trafficking tidak mempunyai hati nurani. Mereka bisa seenaknya menjual saudara mereka sebangsa dan setanah air hanya untuk mendapat kekayaan semata. “Kasus-kasus ini sudah marak terjadi dan menimbulkan korban yang cukup banyak. Para pelaku trafficking sepertinya menutup mata mereka dengan melihat para tenaga kerja wanita yang mendapat penyiksaan sampai menyebabkan kematian,” keluhnya.

“Kadang saya berpikir, apakah para pelaku trafficking tidak mempunyai saudara perempuan, atau mereka itu dilahirkan dari rahim seorang perempuan. Sungguh miris jika memikirkan hal ini. Saya berharap agar suatu saat mereka sadar atas perbuatan mereka yang jahat bahkan lebih jahat dari binatang,” tambah Melani.

Bagi Melani, tindakan yang dilakukan Brigpol Rudy, membuatnta merasa mendapat teman dan saudara yang serius memerangi kasus perdagangan orang di Indonesia, khususnya di NTT. “Tindakannya sungguh berani. Saya ancungi jempol buat dia karena berani menetang atasannya demi keadilan. Sekarang saya tidak sendiri lagi. Sudah ada kawan dan saudara yang menemani saya menerikan anti perdagangan orang di Indonesia,” kata artis yang kini lebih banyak bergelut mengurusi masalah human trafficking.

Direktur Eksekutif Migrant Care, Anis Hidayah, mengatakan, kasus trafficking di NTT sudah seperti penyakit akut yang butuh penanganan sangat serius. Mafia trafficking tidak hanya melibatkan mafia dan aparat penegak hukum saja, tetapi melibatkan pejabat publik yang mempunyai PJTKI di Kota Kupang.

Anis mengatakan, jaringan trafficking di Indonesia sulit diatasi karena pengamanan bisnis sampai pada pengambilan kebijakan di tingkat pembuat undang-undang. Selain itu kasus trafficking masih aman karena dilegalisasi dan dilindungi UU Nomor 39/2004 tentang penempatan dan perlindungan TKI. Undang-undang dirancang oleh pejabat publik yang sampai saat ini juga masih menjabat dan mencoba untuk mengamankan UU tersebut agar jangan sampai direvisi.

Apresiasi yang sama juga datang dari pemerhati masalah TKI NTT, Magdelana Tiwu. “Sebagai orang NTT, Rudy mungkin sudah tidak tahan lagi melihat banyak saudaranya diperjualbelikan seperti hewan, sehingga dia membuka tabir ini kepada khalayak agar kasus perdagangan orang dihentikan,” kata sosok yang masih menjabat sebagai Wakil Ketua DPRD Belu ini diamini juru bicara Ampera, Gerogorius R. Daeng yang juga hadir dalam jumpa pers kemarin. [KbrNet/Slm]

Source: timorexpress.com

Komentar "PILIHAN" akan diambil menjadi artikel KabarNet.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: