KabarNet

Aktual Tajam

Niat Bongkar Penyelundupan TKW, Malah Dipecat

Posted by KabarNet pada 29/08/2014

Niat Bongkar Penyelundupan TKW, Malah Dipecat

Dukung Brigpol Rudy Soik Melawan Trafficking di NTT!

NTT – KabarNet: Perempuan dan anak-anak di bawah umur dari berbagai kabupaten/kota di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) seringkali menjadi korban perdagangan manusia atau trafficking, baik untuk dipekerjakan secara ilegal ke luar negeri maupun ke berbagai daerah lain di Indonesia. Tidak sedikit korban trafficking itu adalah perempuan di bawah umur yang kemudian disiksa sampai mati oleh majikannya.

Korban trafficking umumnya ditipu para perekrut tenaga kerja yang disebar oleh sejumlah Perusahaan Pengerah Jasa Tenaga Kerja Indonesia (PJTKI) ke kampung-kampung. Kepada para korban yang umumnya masih di bawah umur, para perekrut maupun pengelola PJTKI memberikan janji muluk-muluk, di antaranya tawaran gaji menggiurkan, agar bersedia disalurkan sebagai pekerja ke luar negeri atau ke daerah lain. Namun, setelah dikirimkan ke daeah/negara tujuan, para TKI/TKW diperlakukan layaknya budak, bahkan tidak sedikit yang meregang nyawa.

Sudah banyak bukti. Sebut saja Nirmala Bonat yang mengalami siksaan luar biasa oleh majikannya di Malaysia, Wilfrida Soik yang nyaris dihukum mati di Malaysia, atau penyekapan sejumlah TKI asal NTT di Medan yang menyebabkan dua orang meninggal dunia. Demikian pula penyekapan dan tindakan kekerasan terhadap TKI/TKW asal NTT di Pulau Batam, Kepulauan Riau, serta banyak lagi kasus serupa.

Penyekapan, kekerasan fisik, bahkan pembunuhan terhadap TKI/TKW NTT sering terjadi dan telah berlangsung selama bertahun-tahun, namun kasus-kasus tersebut tak pernah tuntas. Tidak ada keseriusan Kepolisian Daerah (Polda) NTT dan Pemerintah Provinsi NTT untuk menuntaskan kasus tersebut. Pun tercium adanya dugaan kerjasama antara oknum perwira di Polda NTT dengan para PJTKI. Kini muncul kecurigaan masyarakat dan sejumlah lembaga swadaya masyarakat di NTT bahwa ada mafia hukum yang memperjualbelikan kasus, tak terkecuali kasus-kasus terkait pengiriman TKI/TKW illegal ke luar NTT.

Brigadir Polisi (Brigpol) Rudy Soik sebagai putra asli NTT terpanggil untuk menyelamatkan saudara/i sedaerah dari tindakan trafficking. Namun ketika sedang memproses kasus 52 TKW illegal asal NTT yang hendak diselundupkan ke luar daerah, mendadak dihentikan secara sepihak oleh atasannya, yakni Direktur Krimsus Polda NTT, Komisaris Besar Mochammad Slamet. Merasa tidak ada yang salah dalam proses penyidikan tersebut, Brigpol Rudy Soik melaporkan atasannya tersebut ke Komisi Nasional Hak Azasi Manusia (Komnas HAM). Atas tindakannya, muncul selentingan di lingkungan Polda NTT bahwa Brigpol Rudy Soik akan di-Susno Duadji-kan alias dicari-cari kesalahannya kemudian dipecat dari Polri.

Brigpol Rudy Soik tidak gentar dan siap dipecat demi mencegah terus berulangnya trafficking terhadap perempuan dan anak-anak di bawah umur asal NTT. Untuk itu, mari kita bersama bergandengan tangan memberi dukungan kepada Brigpol Rudy Soik untuk melawan para mafia hukum di Polda NTT yang hendak menghambat proses penyidikan kasus trafficking di daerah tersebut. Mari kita lawan semua jaringan trafficking di NTT, termasuk mereka yang bersembunyi di ketiak pejabat kabupaen/kota, Pemerintah Provinsi NTT, dan Polda NTT. Lawan sekarang… !

Source: change.org

Brigadir Rudy Adukan Komandannya ke Komnas HAM, Ini Jawaban Polda NTT

KUPANG, KOMPAS.com – Kepolisian Daerah Nusa Tenggara Timur (NTT) akan menggelar perkara internal terkait sikap Brigadir Rudy Soik, penyidik pada Direktorat Kriminal Khusus Polda NTT yang mengadukan atasannya Direktur Krimsus Polda NTT, Komisaris Besar Mochammad Slamet ke Komisi Nasional Hak Asasi Manusia di Jakarta, Selasa (19/8/2014) lalu.

Kepala Bidang Humas Polda NTT, Ajun Komisaris Besar Okto Riwu kepada Kompas.com, Minggu (24/8/2014), mengatakan bahwa gelar perkara akan dilakukan di Polda NTT dengan melibatkan pihak terkait termasuk Brigadir Rudy dan Komisaris Besar Mochammad Slamet. [Baca: Adukan Komandannya ke Komnas HAM, Langkah Briptu Rudy Dipuji]. “Rencananya kami mau lihat materi persoalannya melalui gelar perkara Senin (25/8/2014) besok sehingga bisa diketahui persis kebenarannya,” kata Okto.

Menurut Okto, jajarannya tidak bisa berkomentar banyak soal sikap Brigadir Rudy karena semuanya akan diketahui melalui hasil ekspos besok. “Intinya kami tunggu besok saja ya baru semuanya bisa diketahui dengan pasti,” ujar dia.

Diberitakan sebelumnya, Brigadir Rudy Soik, mengadukan Komisaris Besar Mochammad, karena menghentikan secara sepihak penyidikan kasus calon TKI ilegal yang sedang ia tangani.

Kasus itu, kata Rudy, berawal pada akhir Januari 2014 lalu. Ketika itu ia bersama enam orang temannya di Ditreskrimsus Polda NTT melakukan penyidikan terhadap 26 dari 52 calon TKI yang diamankan karena tak memiliki dokumen.

Sebanyak 52 TKI itu direkrut PT Malindo Mitra Perkasa dan ditampung di wilayah Kelurahan Maulafa, Kota Kupang. Penyidikan pun dimulai, dan Rudy menemukan bukti yang cukup.

Namun, pada saat ia hendak menetapkan tersangka (perekrut calon TKI), datanglah perintah sepihak dari Dirkrimsus, Kombes Mochammad Slamet yang memintanya untuk menghentikan kasus tersebut tanpa alasan yang jelas.

Rudy siap dipecat dari keanggotaannya sebagai polisi jika terbukti laporan yang diadukannya itu adalah rekayasa. Sementara itu jika komandan yang terbukti bersalah maka dia meminta masyarakat dan pemerintah untuk menghukum komandannya itu.

Selain itu, Rudy meminta Polda NTT untuk tidak memperlakukannya seperti musuh bagi polisi, karena bagaimanapun dia dan komandannya Kombes Mochammad Slamet adalah anggota polisi aktif. “Sebagai putra asli NTT, saya sangat prihatin dengan anak-anak kita yang dipekerjakan tanpa melalui prosedur yang benar. Saya tahu orangtua mereka di kampung itu akses komunikasi sangat sulit, sehingga kalaupun direkrut dengan cara yang benar keberadaannya di Malaysia bisa diketahui oleh orangtua mereka. Jangan sampai mereka (calon TKI) meninggal pun, orangtua tidak tahu dan menggangap mereka masih aktif kerja,” kata Rudy.

 

Laporkan Komandannya ke Komnas HAM, Brigpol Rudy Tak Takut Dipecat

KUPANG, KOMPAS.com — Brigadir Polisi Rudy Soik, penyidik Direktorat Kriminal Khusus Polda Nusa Tenggara Timur, yang mengadukan atasannya, Kombes Pol Mochammad Slamet, ke Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) dan Komisi Ombudsman pada pekan ini, mengaku siap dipecat jika pengaduan itu tidak memiliki dasar kuat.

Rudy melapor ke Komnas HAM dan Ombudsman RI serta Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK) itu terkait perintah atasannya yang menjabat sebagai Direktur Kriminal Khusus untuk menghentikan penyidikan kasus 26 dari 52 calon tenaga kerja Indonesia (TKI) ilegal di Kota Kupang pada Januari 2014 yang ditangani oleh Rudy bersama enam orang rekannya.

“Saya ingin semua masyarakat tahu bahwa saya siap dengan Dirkrimsus untuk kita paparkan materiil di depan masyarakat. Jika saya berbohong atau merekayasa, maka saya siap berhenti dan dipecat tidak dengan hormat dari kepolisian. Tetapi, jika saya bisa membuktikan bahwa ini adalah penyalahgunaan wewenang dari Direskrimsus maka masyarakat dan pemerintah harus menghukum dia (Kombes Pol Mochammad Slamet),” kata Rudy, Sabtu (23/8/2014) pagi.

Menurut Rudy, pada akhir Januari 2014 lalu, bersama enam orang temannya di Ditkrimsus Polda NTT, dia melakukan penyidikan terhadap 26 dari 52 calon TKI yang diamankan karena tak memiliki dokumen.

Ke-52 TKI itu direkrut PT Malindo Mitra Perkasa dan ditampung di wilayah Kelurahan Maulafa, Kota Kupang. Penyidikan pun dimulai dan Brigpol Rudy menemukan bukti yang cukup sehingga pada saat ia hendak menetapkan tersangka (perekrut calon TKI), datanglah perintah sepihak dari atasannya untuk menghentikan kasus tersebut tanpa alasan yang jelas. (baca selengkapnya: Adukan Komandannya ke Komnas HAM, Langkah Briptu Rudy Dipuji)

“Waktu turun ke TKP, kami berhasil amankan 52 calon TKI (semuanya wanita) ini yang ditampung di dalam garasi rumah yang mirip sel tahanan sehingga kita langsung periksa mereka dan menanyakan identitasnya. Dari 52 orang itu, 26 lainnya tidak memiliki identitas (sementara diproses) karena itu kesimpulannya para calon TKI ini ilegal sehingga jelas melanggar Undang-Undang Nomor 39 tentang Tenaga Kerja, khususnya Pasal 50 dan Pasal 70,” ungkap Rudy.

“Kasus itu kemudian digelar Subdit yang dihadiri Wasidik dan kami tujuh orang penyidik menetapkan bahwa ini adalah perbuatan pidana dan langsung dibuatkan suratnya. Setelah itu saya lapor ke Dirkrimsus bahwa ini sudah terpenuhi unsur pidananya dan Dirkrimsus mengatakan kalau penyidik merasa yakin, maka segera tahan Direkrut PT Malindo Mitra Perkasa. Begitu hendak ditahan, tiba-tiba, atas perintah Dirkrimsus, saya disuruh untuk menghentikan kasus itu tanpa alasan yang jelas dan data-datanya dihilangkan,” tambah Rudy.

Rudy mengatakan, semua proses sudah dilakukan berdasarkan perintah atasannya. Merasa penghentian kasus tersebut tidak sesuai aturan, dirinya lantas mempertanyakan alasannya. Tetapi, dia justru dituduh melawan komandannya sendiri.

Rudy juga memastikan bahwa tersangkanya adalah petinggi di lingkup Polda NTT sendiri jika kasus itu dilanjutkan dan melibatkan dirinya sebagai penyidik. “Kemarin saya bicara di hadapan Direktur Tindak Pidana Umum, kalau kasus ini saya dilibatkan, maka saya akan tetapkan Dirkrimsus dan Dirkrimum sebagai tersangka,” ujar Rudy.

PT Malindo Mitra Perkasa, lanjut Rudy, tidak memiliki izin di NTT dan berulang kali dilaporkan ke Polda, tetapi mengendap begitu saja. “Sebagai putra asli NTT, saya sangat prihatin dengan anak-anak kita yang dipekerjakan tanpa melalui prosedur yang benar. Saya tahu orangtua mereka di kampung itu akses komunikasi sangat sulit sehingga kalaupun direkrut, dengan cara yang benar sehingga keberadaan mereka di Malaysia bisa diketahui oleh orangtua mereka. Jangan sampai mereka (calon TKI) meninggal pun, orangtua tidak tahu dan menganggap mereka masih aktif kerja,” kata Rudy.

Satu Tanggapan to “Niat Bongkar Penyelundupan TKW, Malah Dipecat”

  1. Anonim said

    Ah….memang polisi hampir mayoritas gitu kok apalagi dengan para cokong yg bisa menggelontorkan / memenuhi pundi-pundi nya apapun dilakukan termasuk mengorbankan anak buah atau bawahan yg benar2 kerja baik itu sudah menjadi rahasia umum.

Komentar "PILIHAN" akan diambil menjadi artikel KabarNet.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: