KabarNet

Aktual Tajam

Kivlan Zein Akan Bongkar Keberadaan 13 Aktivis Hilang

Posted by KabarNet pada 28/08/2014

Jakarta – KabarNet: Mantan Kepala Staf Kostrad (Kas Kostrad) Mayjen TNI (Purn) Kivlan Zein akan memberi kejutan sebelum tanggal 17 September 2014 di Komnas HAM. Dirinya akan mengungkapkan nama orang yang mengetahui keberadaan 13 aktivis yang hilang pada Mei 1998 silam.

“Jadi, 13 orang pada waktu kerusuhan Mei 98, kata LSM itu hilang, saya tahu keberadannya dari seseorang. Orang itu akan saya ungkapnya nanti di Komnas HAM,”kata Kivlan kepada wartawan di Markas Prabowo-Hatta, Rumah Polonia, Cipuiang Cempedak, Jakarta, Rabu 27 Agustus 2014.

Kivlan tetap yakin mengetahui keberadaan 13 orang yang hilang itu berdasarkan seseorang yang masih tidak mau disebut namanya tersebut. Menurutnya, seseorang itu mengetahui persis kondisi dan posisi 13 orang tersebut. “Lagian sudah pernah dimuat di majalah Tempo. Kalau mau lebih dalam lagi seharusnya Komnas HAM juga panggil wartawan Tempo,” pinta Kivlan.

Meski demikian, Kivlan menyatakan dirinya tetap akan mendatangi Komnas HAM dan membeberkan fakta sejujur-jujurnya. “Intinya tunggu tanggal mainnya, nanti saya kabari,” kata orang dekat Prabowo ini.

Secara terpisah, Direktur Riset Setara Institute, Ismail Hasani, menegaskan Presiden terpilih Joko Widodo (Jokowi) harus berani mendorong pengusutan tuntas kasus pelanggaran HAM yang melibatkan tim pemenangan ataupun pendukungnya di Pilpres 2014. Setara Institute mencatat setidaknya ada tiga tokoh pendukung Jokowi yang terseret kasus pelanggaran HAM.

Yakni, bekas Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) Jenderal TNI (Purn) AM Hendropriyono, Ketua umum Partai Hanura, Jenderal TNI (Purn) Wiranto dan Ketua Umum PKPI Letjen TNI (Purn) Sutiyoso. “Hendropriyono, dia ada di kasus Talangsari Lampung, pembantaian pengikut Warsidi,” ungkapnya dalam jumpa pers di Jakarta, Rabu 27 Agustus 2014.

Menurut Ismail, saat kasus tersebut terjadi tahun 1989, Hendropriyono menjabat Komandan Korem Garuda Hitam Lampung. Hendropriyono yang kini dilibatkan Jokowi dalam Dewan Penasihat Tim Transisi Jokowi-JK pun diduga kuat terlibat kasus pembunuhan tokoh anti pelanggaran HAM, Munir, pada 2004. Ketika itu, Hendropriyono masih menjabat Kepala BIN di era Presiden Megawati Soekarnoputri.

Kalau Wiranto, lanjutnya, dianggap bertanggungjawab atas tragedi Mei 1998 dan kasus pembantaian massal di Timor Timur pada era Orde Baru. Sedangkan Sutiyoso, terekam bermain di belakang kasus Tragedi Mei 1998 dan peristiwa berdarah penyerbuan kantor PDI pada 27 Juli 1996.

Ismail menyerukan, agenda kabinet Jokowi-JK di bidang HAM mesti menggerakkan Kejaksaan Agung untuk memulai penyidikan yang tuntas terhadap kasus-kasus yang sudah diputuskan oleh Komnas HAM sebagai kasus pelanggaran HAM berat. [KbrNet/Slm]

Source: edisinews.com

Komentar "PILIHAN" akan diambil menjadi artikel KabarNet.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: