KabarNet

Aktual Tajam

Yusril Ungkap Rekayasa Hasil Pemilu

Posted by KabarNet pada 19/08/2014

Yusril Izha Mahendra mantan menteri Sekertaris Negara pada kabinet Indonesia Bersatu jilid satu pada pemerintahaan SBY, memparkan mengenai rekayasa hasil pemilu dan lembaga survei pada pemilu di Indonesia melalui akun Twitternya.

“Saya ingin menuliskan tentang lembaga survei Pemilu yang akhir-akhir ini sering menghebohkan dunia politik kita. Kita sudah tahu-sama-tahu bahwa lembaga-lembaga survei yang menjamur itu bukanlah lembaga yang murni akademis, tetapi lembaga profesial yang komersial. Tidak saya pungkiri bahwa dalam bekerja, lembaga-lembaga survei itu menggunakan metode-metode akademis. Namun aspek komersialnya tidak dapat diabaikan pula.

Partai politik atau politisi yang akan berkompetisi, sudah lazim meminta lembaga survei melakukan kegiatannya. Tujuannya bukan semata-mata untuk mengetahui kelemahan dan kekuatan dirinya, tetapi juga untuk membentuk opini publik.

Tidak jarang suatu lembaga survei sdh menandatangani kontrak dengan partai politik atau politisi untuk jangka waktu tertentu. Besarnya nilai kontrak tentu sesuai kemampuan partai atau politisi yang bersangkutan. Makin besar uang, makin canggih lembaga surveinya.

Biasanya laporan hasil riset ada 2 macam. Satu yang benar, hanya untuk kepentingan internal; dan yang tidak benar, untuk kepentingan publik. Hasil survei yang tidak benar dan disulap itulah yang dijadikan konsumsi untuk memengaruhi opini publik.

Hasil survei yang disulap itu dipublikasikan secara luas melalui jaringan media sehingga menjadi kontroversi. Hasil survei yang disulap itu bisa dijadikan sebagai bagian dari upaya kecurangan pemilu secara sistemik. Melalui pengumuman hasil survei yang meluas itu, pelan-pelan opini publik akan terbentuk, mana partai atau tokoh yang unggul, mana yang memble.

Kalau opini sudah terbentuk, langkah selanjutnya merekayasa perolehan suara agar pas seperti hasil survei. Banyak cara dapat dilakukan untuk merekayasa perolehan suara. Langkah pertama dimulai dari penyusunan Daftar Pemilih Tetap (DPT). Makin kacau dan tidak akurat DPT, rekayasa akan makin mudah. Surat suara yang berlebih, bisa dicoblos sendiri untuk menangkan suatu parpol.

Berbagai trik untuk mengatur perolehan suara dilakukan sejak dari tingkatan TPS (lokasi), PPS (Desa/Kelurahan), PPK (Kecamatan) sampai Kabupaten/kota. Luasnya wilayah negara kita membuat pengawasan penghitungan suara menjadi sangat sulit dan rumit. Ada potensi untuk curang disini.

Tiap kali Pemilu, Teknologi Infoemasi (IT) Komisi Pemilihan Umum selalu ngadat, pengumpulan suara lamban dan membosankan. Keadaan ini membuat orang lelah, apatis dan akhirnya putus asa serta tidak perduli lagi. Dalam keadaan seperti itu, praktik jual beli suara, transaksi pemindahan suara dari 1 parpol ke parpol lain terjadi dengan mudahnya.

Siapa yang dapat melakukan kecurangan seperti ini? Yang dapat melakukan kecurangan sistemik seperti itu hanya mereka yang kuat secara politik, birokrasi dan finansial. Akhirnya Pemilu ditentukan oleh transaksi uang dan kekuasaan. Suara rakyat dipermainkan dan dimanipulasi. Kedaulatan rakyat hanyalah mimpi.

Akhirnya apa yang terjadi? Hasil akhir pemilu persis seperti hasil survei yang sebelumnya sudah dicekokkan kepada public. Rakyat pun akhirnya dapat menerima urutan pemenang pemilu, toh sudah cocok dengan hasil survei jauh hari sebelum pemilu yang sudah ada di otak mereka. Kalau demikian, maka bukan lembaga survei itu yang canggih bisa memprediksi hasil Pemilu. Tapi sebaliknya, hasil pemilu yang direkayasa secara sistemik agar hasilnya sesuai dengan hasil survei. Semoga mencerahkan mengenai sisi lain survei dan hasil Pemilu di negeri yang makin antah berantah ini.” tutupnya.

Source: jeratnews.com

18 Tanggapan to “Yusril Ungkap Rekayasa Hasil Pemilu”

  1. Belum saat dan siap jika PILPRES di negeri kita secara langsung dan melalui data online, harus dibenahi dulu sistem dan metode dengan kuat. Jangan terlalu dipaksakan yg pd akhirnya byk menimbulkan masalah yg semua org tutup mata dan telinga baik dr kubu mana-pun.

  2. […] source […]

  3. […] SOURCE […]

  4. Anonim said

    Yusril kok di percayaaaa….

  5. Tuxlin said

    Pak yusril ini ahli tata negara kan?? Soal lembaga survei, sejak awal sih saya sudah ragu dengan semua hasil quick count mereka :mrgreen:

  6. saya setuju dengan pendapat pak yusril, hasil rekayasa lembaga survey yg jadi patokan ,bukan hasil yg sebenarnya jadi acuhan.

  7. Erwiza Erman said

    Saya pernsh mendapat informasi langsung dari salah seorang kandidat gubernur yang hendak bertarung dalam Pilkada. Kandidat ini tidak memiliki uang banyak, akan tetapi secara umum ia sangat disukai oleh rakyat sampai ke pelosok desa. Saya paham sekali ketenarannya karena berkali-kali melakukan penelitian ke desa-desa di wilayahnya. Ia menghubungi salah satu lembaga survey yg telah dipakai oleh presiden terpilih perhitungan KPU. Calon gubernur terhenyak, karena biaya survey sangat tinggi, dan lembaga survey menolak melakukan survey dan pindah ke kandidat gubernur lain dengan bayaran dua kali lipat, akan tetapi sang kandidat tdk begitu populer dibanding yg pertama. Alhasil, kandidat ini menang. Apa yang terjadi kemudian adalah bahwa gubernur yg menang yang cendrung mengikuti politik liberalisasi dalam pengelolaan sumberdaya yang dimliki daerahnya, telah membawa suburnya para pebisnis masuk, mengeksploitasi sumberdaya alamnya, dan sangat merusak lingkungan. Akibatnya, daerah itu babak belur.
    .

  8. Yg bener pasti yg terbaik.
    Apapun orang katakan , rakyat/masyarakt udah pd tau, mn yg bener, mn yg salah.
    Rakayt sekrang ingin bukti nyata dari seorang pejabat,bukan asl omdo2 aja. Yg gk jls raelisasi nya.
    Memang orang berpolitik harus bergabung dlm suatu Partai. Tp dlm persoalan pilpress secara langsung ,,,,, Rakat tdk terikat dg Partai.
    Rakyat memilih dg hati nurani nya, dg mn yg mereka anggap baik.
    Itulah mereka pilh. Dg ada nya hitung cept , yg terdiri dari bebrapa lembaga , yg jls menuRut rakyt mn yg menampikan hasil dg satu sama lain yg mendekati ,, itulah yg paling mendekati dg hasil sesungguh nya.
    Yg jauh menyimpang dari hasil yg lain ,,,itulah
    Yg tdk bener,,,,, itu kemungkinan di bayar oleh suatu ormos tertentu.

  9. agoes said

    Setau aku, prestasi yusril hanya pandai berkomentar.

  10. Anonim said

    Persis yg terjadi pilpresss 09 jul opini sdh terbentuk cuma kecurangan yg bsa mengalahkan no 2.

  11. david said

    Maaf tapi sepertinya tudingan itu harusnya yang cocok dengan tim dan rekan2 dari koalisi Prabowo tulisannya “Siapa yang dapat melakukan kecurangan seperti ini? Yang dapat melakukan kecurangan sistemik seperti itu hanya mereka yang kuat secara politik, birokrasi dan finansial. Akhirnya Pemilu ditentukan oleh transaksi uang dan kekuasaan. Suara rakyat dipermainkan dan dimanipulasi. karena : secara politik karena Tim prahara didukung paling banyak partai, termasuk partai yang berkuasa sekarang, kedua birokrasi, bukannya hampir sebagian besar Gubernur dan walikota dan bupati diseluruh negeri Indonesia berasal dari partai pendukung Prabowo, ketiga finansial, siapapun tidak akan membentah kalau Prabowo dan bbrp tokoh dibaliknya adalah taipan2 yang duitnya tdk terbatas

  12. ken said

    sebagai orang yang pernah menggeluti dan terlibat dalam survey tim calon dan partai tertentu, saya menyatakan bahwa apa yang dikatakan yusril adalah benar adanya. sekedar info,hasil survey yang tidak berpihak pada calon tertentu, akan menjadi bahan untuk meracik strategi mengalahkan calon yang kuat.caranya simple, hasil survey yang terbaru akan ditarik dan ditentukan berapa sselisih suara antara calon kuat dg calon yang menggunakan tim survey.apabila persentasenya sudah ada maka tugas tim survey yang berperan sebgai tim pemenangan lah yang menentukan caranya seperti apa agar selisih itu bisa berbalik ke yang mereka dukung.caranya jelas,memanipulasi dpt atau dptb di daerah atau tempat yang pengawasannya sangat minim,memasukkan orang dalam mereka ke dalam pps atau kpu daerah hingga ke pusat dan masih banyak lagi.contohnya, bila hasil survey selisihnya 10 juta suara sedangkan tps berjumlah 500 ribu lebih maka logikanya setiap tps hanya membutuhkan 20 orang pemilih siluman maka kemenangan itu mudah dicapai.maka jangan heran bila ada orang mati memilih,ada anggota pps yang memilih sampai berapa kali, ada mobilisasi massa yang tidak memiliki hak suara memilih di tempat lain dsb. seperti itulah gambaran ringkasnya. intinya sangat mudah dilakukan.

  13. Anonim said

    Kalo masalah keuangan Nasional kubu Prabowo lebih kuat, disamping prabowo sendiri banyak taipan2 nasional yang punya banyak uang, akan tetapi ternyata taipan dibelakang kubu Jokowi adalah taipan International seperti, Amrik, Australia dan Frence berapa banyak menyediakan dana untuk kemenangan Jokowi, selamat untuk Jokowi & JK semoga negara ini jangan dijual kepada pemodal kemenangan anda

  14. Anonim said

    Komentar pak yusril kok persis dengan apa yang dilakukan tim prahara dan pak sepertinya sering terlibat hal2 seperti itu dan sekarang berada di kubu prahara utk bangun opini kalau kubu jokowi curang … malu ah kita udah tau kok

  15. Anonim said

    Ken menulis :
    “sebagai orang yang pernah menggeluti dan terlibat dalam survey tim calon dan partai tertentu, saya menyatakan bahwa apa yang dikatakan yusril adalah benar adanya. sekedar info,hasil survey yang tidak berpihak pada calon tertentu, akan menjadi bahan untuk meracik strategi mengalahkan calon yang kuat.caranya simple, hasil survey yang terbaru akan ditarik dan ditentukan berapa sselisih suara antara calon kuat dg calon yang menggunakan tim survey.apabila persentasenya sudah ada maka tugas tim survey yang berperan sebgai tim pemenangan lah yang menentukan caranya seperti apa agar selisih itu bisa berbalik ke yang mereka dukung.caranya jelas,memanipulasi dpt atau dptb di daerah atau tempat yang pengawasannya sangat minim,memasukkan orang dalam mereka ke dalam pps atau kpu daerah hingga ke pusat dan masih banyak lagi.contohnya, bila hasil survey selisihnya 10 juta suara sedangkan tps berjumlah 500 ribu lebih maka logikanya setiap tps hanya membutuhkan 20 orang pemilih siluman maka kemenangan itu mudah dicapai.maka jangan heran bila ada orang mati memilih,ada anggota pps yang memilih sampai berapa kali, ada mobilisasi massa yang tidak memiliki hak suara memilih di tempat lain dsb. seperti itulah gambaran ringkasnya. intinya sangat mudah dilakukan”

    daku percaya 1000%

  16. Anonim said

    Kalau Pilkada mungkin benar, tapi kalau pilpres kali ini, yang hanya diikuti 2 capres dan jadi sorotan hampir seluruh masyarakat, kayaknya pendapat Pak Yusril nggak berlaku….

  17. Anonim said

    Menurut sy, itu bukan omngan Yusril., cm analisa penulis aj..

  18. Adji said

    Kalau kecurangan yg masih di dalam kepala apapun ya bisa yg jadi persoalan bisa membuktikan tidaknya itu…

Komentar "PILIHAN" akan diambil menjadi artikel KabarNet.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: