KabarNet

Aktual Tajam

Jika Terpilih, Prabowo-Hatta Diminta Berantas Mafia Peradilan

Posted by KabarNet pada 26/06/2014

CAPRES-CAWAPRES PRABOWO-HATTA JIKA DIPILIH RAKYAT TEGAKKAN HUKUM DAN ADILI HAKIM-HAKIM HITAM SERTA BERANTAS MAFIA PERADILAN

Oleh : JJ Amstrong Sembiring
Koordinator PBH Komparta Indonesia
(Pusat Bantuan Hukum Komunitas Pengacara Jakarta Indonesia)

Sebentar lagi Rakyat Indonesia akan kembali memilih calon Presiden Republik Indonesia pada tanggal 9 juli 2014 dan semoga kelak menjadi pemimpin di Indonesia adalah Prabowo-Hatta.

Dimana kemudian proses perubahan masa depan rakyat Indonesia akan ditentukan oleh mereka Prabowo-Hatta.. Berubah atau tidak berubah negeri ini ke depannya nanti ada ditangan pemimpin baru Indonesia.

Sebagai rakyat Indonesia tentunya mengharapkan dan merindukan pemipin di negeri tercinta ini.untuk dimasa lima tahun ke depan bisa menegakkan keadilan hukum dan memberantas mafia peradilan.

Rakyat sudah muak dengan mafia peradilan bergentayangan dilembaga penegak hukum, kita lihat saja supremasi hukum di Indonesia cuma pemanis bibir hakim sebagai penguasa ruang sidang. Lihat saja kinerja institusi hukum, terutama lembaga peradilan dimana banyak masyarakat pencari keadilan belum puas, dan masih kecewa dengan institusi kehakiman yang belum bebas dari praktik suap. Padahal kesejahteraan hakim sudah di atas rata-rata, dengan penghasilan sekitar Rp 10 juta/bulan untuk hakim baru (0 tahun). ”Dari hasil survei, 60 persen responden menyatakan kekuasaan kehakiman dinilai belum bersih dari praktik suap,” kata peneliti Indonesian Legal Roundtable (ILR) Erwin Natoesmal dalam jumpa pers di Warung Daun, Jalan Cikini, Jakarta Pusat, Selasa (detiknews, 9/4/2013). Badan Peradilan dalam lingkungan peradilan umum, sebagaimana diatur dalam Pasal 2 UU No. 8/198 diubah dengan UU No.8/2004 dan terakhir di ubah dengan UU No. 49 Tahun 2009 tentang Tentang Peradilan Umum memberi difinisi,” Peradilan umum adalah salah satu pelaku kekuasaan kehakiman bagi rakyat pencari keadilan pada umumnya. Pengadilan sebagai ujung tombak pelaku kekuasaan kehakiman bagi para pencari keadilan harus menjamin terlaksana keadilan dan kepastian hukum. Tetapi dalam praktik mencari keadilan peradilan belum dapat memberikan pelayanan sebagai public servise (pelayan publik) yang memadahi, apalagi berkaitan dengan kekusaan dan kewenangan yang dimiliki dari putusan yang dijatuhkan justru malah menimbulkan ketidakadilan bagi pencari keadilan. Lembaga tersebut terkesan lemah dan “kurang vitamin” menahan runtuhnya supremasi hukum. Tak heran bila jika masyarakat pencari keadilan menilai berbagai peristiwa hukum yang digelar hakim tak lebih dari rangkaian tontonan hukum yang semu. Kinerja peradilan hingga kini tetap tidak dapat diprediksi, dan opini masyarakat maupun pasar pun semakin menguat bahwa peradilan tidak dapat dan belum dapat melaksanakan fungsinya secara independen bebas dari pengaruh kepentingan. Korupsi dan suap tetap menjadi permasalahan utama yang membayangi kinerja dan dan kredibilitas institusi peradilan. Reformasi peradilan yang berjalan hingga kini kurang memperhatikan strategi dan arah reformasi yang seharusnya hendak dituju. Dengan kata lain hingga kini Reformasi Peradilan belum memenuhi harapan publik.

Tak aneh, jika masyarakat pencari keadilan menganekdotkan akronim H A K I M yang menyebutkan (Hubungi Aku Kalau Ingin Menang) sepatutnya lah menjadi dasar evaluasi sikap dan perilaku para hakim untuk kembali ke jalan Tuhan. (sumber : Putusan hakim harus mengandung nilai keadilan bagi kehidupan konkret manusia. Aspek keadilan menunjuk kesamaan hak di depan hukum (equality before the law), baik kepada penguasa maupun rakyat jelata.”Hakim alim Hakim disembah, Hakim lalim hakim Bedebah”.(sumber : lentera.com, 07 November 2013).

Belum lama ini, eksistensi kewibawaan hakim kembali lagi sedang dipertanyakan ditengah masyarakat, sejak disinyalir oleh berbagai media cetak atau online tentang seorang hakim yang tertangkap tangan sedang menyidangkan perkara 320 perdata menggunakan handycam di PN Jakarta Barat, “Majelis Hakim yang terdiri Harijanto, SH, MH (Hakim Ketua), Sigit Hariyanto, SH, MH (Hakim Anggota), dan Julien Mamahit, SH (Hakim Anggota), Dan salah satu anggota hakim bernama Sigit Hariyanto, SH, MH menggunakan kamera video merekam saat sidang berlangsung dan kemudian persidangan tersebut ditutup tanpa ada agenda jadwal sidang berikutnya oleh Ketua Majelis bernama Harijanto, SH, MH,

Kejadian peristiwa memalukan itu mestinya menjadi momen para hakim untuk menunjukkan sikap “kesejatian” mereka, sebagaimana sikap hakim yang dilambangkan dalam kartika, cakra, candra, sari, dan tirta itu merupakan cerminan perilaku hakim yang harus senantiasa diimplementasikan dan direalisasikan oleh semua hakim dalam sikap dan perilaku hakim yang berlandaskan pada prinsip Ketuhanan Yang Maha Esa, adil, bijaksana dan berwibawa, berbudi luhur, dan jujur.

Ketaqwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa, yang melandasi prinsip-prinsip kode etik dan pedoman perilaku hakim ini bermakna pengamalan tingkah laku sesuai agama dan kepercayaan masing-masing menurut dasar kemanusiaan yang adil dan beradab. Ketaqwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa ini akan mampu mendorong hakim untuk berperilaku baik dan penuh tanggung jawab sesuai ajaran dan tuntunan agama dan kepercayaan yang dianutnya.

Di dalam kode etik dan perilaku hakim jelas-jelas disebutkan bahwa kewajiban hakim untuk memelihara kehormatan dan keluhuran martabat, serta perilaku hakim sebagaimana ditentukan dalam peraturan perundang-undangan harus diimplementasikan secara konkrit dan konsisten baik dalam menjalankan tugas yudisialnya maupun di luar tugas yudisialnya, sebab hal itu berkaitan erat dengan upaya penegakan hukum dan keadilan.

Sekarang sudah ada Kode Etik dan Pedoman Perilaku Hakim yang merupakan panduan keutamaan moral bagi hakim, baik dalam menjalankan tugas profesinya maupun dalam hubungan kemasyarakatan di luar kedinasan. Hakim sebagai insan yang memiliki kewajiban moral untuk berinteraksi dengan komunitas sosialnya, juga terikat dengan norma – norma etika dan adaptasi kebiasaan yang berlaku dalam tata pergaulan masyarakat.

Dengan kata lain Kode Etik dan Pedoman Perilaku Hakim yang merupakan pegangan bagi para Hakim seluruh Indonesia serta Pedoman bagi Mahkamah Agung RI dan Komisi Yudisial RI dalam melaksanakan fungsi pengawasan internal maupun eksternal. Prinsip-prinsip dasar Kode Etik dan Pedoman Perilaku Hakim diimplementasikan dalam 10 (sepuluh) aturan perilaku sebagai berikut : (1) Berperilaku Adil, (2) Berperilaku Jujur, (3) Berperilaku Arif dan Bijaksana, (4) Bersikap Mandiri, (5) Berintegritas Tinggi, (6) Bertanggung Jawab, (7) Menjunjung Tinggi Harga Diri, (8) Berdisplin Tinggi, (9) Berperilaku Rendah Hati, (10) Bersikap Profesional.

Hebatnya lagi kejadian memalukan itu bukan cuma hanya di Jakarta saja, di daerah lain pun terjadi di Jawa Timur, salah satu hakim Pengadilan Negeri (PN) Surabaya malah tertangkap kamera sedang tidur pulas. Hakim Hari Widodo tertidur di tengah sidang gugatan perceraian yang digelar di ruang Tirta 2 PN Surabaya. Hakim Hari Widodo nampak sangat enak menikmati tidurnya ketika memimpin sidang di PN Surabaya (sumber : http://www.lensaindonesia.com/). Mengenaskan sekali!

Perlu diketahui bahwa profesi hakim itu memiliki sistem etika yang mampu menciptakan disiplin tata kerja dan menyediakan garis batas tata nilai yang dapat dijadikan pedoman bagi hakim untuk menyelesaikan tugasnya dalam menjalankan fungsi dan mengemban profesinya. Meskipun kondisi-kondisi tersebut belum sepenuhnya terwujud, namun hal tersebut tidak dapat dijadikan alasan bagi Hakim untuk tidak berpegang teguh pada kemurnian pelaksanaan tugas dan tanggung jawab sebagai penegak dan penjaga hukum dan keadilan yang memberi kepuasan pada pencari keadilan dan masyarakat.

Mantan Ketua Komisi Konstitusi Jimly Asshiddiqie mengakui masih banyak hakim yang belum memahami dan menjalankan kode etik. “Kode etik hanya sebatas pengetahuan, belum menjadi kebiasaan para hakim,” kata Jimly saat dihubungi, Jumat, 7 Maret 2014. Karena itu, Jimly mengusulkan mereka mengikuti re-training tentang apa itu kode etik. Menurutnya, jika seorang hakim melakukan kesalahan, institusi yang terkait harus secepatnya mengembalikan kepercayaan publik. “Bukan menghukum orangnya saja,” katanya.

Sistem etika harus digalakkan dengan menyidangkan pelanggaran etik secara terbuka sehingga ada pembelajaran kasus. Jimly menilai kurangnya pemahaman hakim terhadap kode etik membuat mereka meremehkan. Mereka, katanya, tidak punya sense of ethics sehingga tak mampu menjaga perilakunya. “Bagaimana mau dipercaya memutus perkara kalau kelakuannya saja tidak benar,” katanya. (sumber : id.berita.yahoo.com, 7 Mar 2014).

Dalam optik hukum Prof. Sahetapy mengatakan para lulusan sarjana hukum termasuk hakim yang dengan gelar S.H. bukan “sarjana halal” melainkan “sarjana haram”. Meminjam istilah Satjipto Rahardjo, hakim, jaksa, pengacara, dan polisilah yang menjadi penegak dan pembuat hukum (rule making).

Namun, apabila perannya tidak dapat dilaksankaan dengan baik, para penegak hukum justru berubah menjadi penghancur hukum itu sendiri (rule breaking). Dalam kaitan itu, relevan jika menyimak dari perkataan Wiji Thukul “Apa guna punya ilmu tinggi kalau hanya untuk mengibuli. Apa guna banyak baca buku kalau mulut kau bungkam melulu.”. Bahkan Pramoedya Ananta Toer lebih sarkartis mengatakan, “Kalau ahli hukum tak merasa tersinggung karena pelanggaran hukum sebaiknya dia jadi tukang sapu jalanan.”

Terlalu lebay jika dikatakan Hakim adalah perwakilan Tuhan untuk menegakkan keadilan dan kebenaran di muka bumi ini. Dimana profesi ini paling berkuasa dalam memutuskan suatu perkara di ruang sidang pengadilan yang tersebar di seluruh pelosok negeri ini. Ibarat kata pepatah itu, jauh panggang dari api. Dan terlalu lebay juga jika orang mengatakan bahwa Hakim Perwakilan Tuhan merupakan titik tumpu penegakan hukum. Jaksa boleh korup, pengacara boleh bengkok, asal hakim masih memiliki nurani, keadilan pasti dapat ditegakkan. Tidak mengherankan apabila padanya disandangkan predikat “Yang Mulia” karena memang tugas hakim sungguh mulia.

Kilas balik belakang, dimana semua orang tersentak, ketika sejumlah hakim yang disebut ‘wakil tuhan’ ditangkapi karena menerima suap oleh koruptor. Di ruang publik muncul cemoohan, hakim tak bermoral itu bukan lagi ‘wakil tuhan’, tapi ‘wakil setan’. Karenanya, sangat pantas hakim koruptor itu diberikan hukuman mati. “Julukan hakim adalah wakil tuhan, ternyata sudah tak berlaku lagi bagi para hakim pelaku korupsi. Betapa tidak, dengan mudahnya para hakim yang seharusnya adil dalam menangani perkara dan tidak tergoda materi justru terlibat korupsi. (sumber :harianterbit.com, 31 Agustus 2012). Banyak kasus yang muncul memperlihatkan elegi penegakan hukum. Orang miskin gampang diproses ke meja hijau meski karena kesalahan kecil, tetapi hukum sulit menjangkau ‘ke atas’ dengan berbagai dalih. Kisah AAL, anak yang dimejahijaukan karena kasus pencurian sandal, bukan hanya satu-satunya perkara yang bisa menimbulkan kesan keadilan hanya milik orang bermodal alias berpunya dan punya jabatan.

Dalam kaitannya, oleh karena itu pesta demokrasi pemilihan presiden Indonesia melibatkan seluruh rakyat Indonesia untuk memilih. Meski pastinya setelah terpilih rakyat tidak meminta hal-hal yang berlebihan. Tapi hanya mengharapkan sebuah keajaiban perubahan kepada presiden yang baru.

Visi dan misi yang pernah disampaikan dihadapan rakyat banyak harus diimplemantasikan. Akan tetapi perlu kita garis bawahi Visi dan misi yang mana nantinya akan membuat perubahan. Semoga niat baik itu benar-benar melaksanakan tugas nya sebagai seorang presiden kita.

Akhir dari tulisan ini maka kami dari PBH Komparta Indonesia mendoakan semoga Capres-Cawapres Prabowo-Hatta menjadi Presiden/Wakil Presiden kelak dambaan seluruh rakyat Indonesia ! [KbrNet/Slm]

4 Tanggapan to “Jika Terpilih, Prabowo-Hatta Diminta Berantas Mafia Peradilan”

  1. Anonim said

    Andi Malarangeng di tetapkan KPK sebagai tersangka karna pengguna anggaran. Kenapa Jokowi juga sebagai pengguna anggaran tdk di tetapkan sebagai tersangka, kasus TransJakarta oleh jaksa Agung. ANEH NEGERI INI. Ada yg salah hukum kita yaaaa……

  2. http://www.mindwarpsectorfour.com/corporatocracy.htm

  3. PRET,,,,PRET PRET……kam,,,,,,

  4. Ora Ngurus said

    tuh HATTA anaknya enak enteng bebas udah bikin koit orang.. mata loe biar apaham asu !

Komentar "PILIHAN" akan diambil menjadi artikel KabarNet.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: