KabarNet

Aktual Tajam

Jangan Bilang Tidak Ada Transaksi, Pak Jokowi

Posted by KabarNet pada 12/06/2014

JK saat Pilpres 2014 ini memang terlihat sangat “njawani”, seolah patuh-patuh (manut-manut) saja dengan Jokowi. Tetapi nanti pada saatnya, menjelang pengumuman kabinet di Oktober 2014, JK akan mengeluarkan keasliannya. Seperti yang dilakukannya ke SBY sepuluh tahun lalu (Oktober 2004), pada 1-2 jam menjelang diumumkannya menteri-menteri di Istana Negara, JK akan mendesakkan list nama-nama menteri pilihannya pada Jokowi.

JK saat Pilpres 2014 ini memang terlihat sangat “njawani”, seolah patuh-patuh (manut-manut) saja dengan Jokowi. Tetapi nanti pada saatnya, menjelang pengumuman kabinet di Oktober 2014, JK akan mengeluarkan keasliannya. Seperti yang dilakukannya ke SBY sepuluh tahun lalu (Oktober 2004), pada 1-2 jam menjelang diumumkannya menteri-menteri di Istana Negara, JK akan mendesakkan list nama-nama menteri pilihannya pada Jokowi.

Saat itu di dalam Istana Negara, seluruh ilmu politik JK (menekan, mengancam, menyogok, fait-accomply, dll) akan keluar dan Jokowi tidak akan mampu berbuat apa-apa- sedangkan wartawan dan tamu-tamu asing sudah menanti di luar.

SBY saja 10 tahun lalu yang dikenal sebagai ahli strategi ulung, tidak mampu untuk berargumen-berdebat melawan JK, apalagi “hanya” Jokowi saat ini. Akhirnya hanya (atau setidaknya mayoritas) nama-nama pilihan JK sajalah yang akan muncul dalam kabinet. Dan seperti SBY 10 tahun lalu, Jokowi pun juga gigit jari.

Nama-nama yang akan disodorkan-paksa JK ke Jokowi pun “mutlak” adalah hasil proses transaksional politik. Kabarnya, JK sudah memulai proses “lelang jabatan” menteri ini di kalangan pengusaha. Tidak seperti “lelang jabatan” versi Jokowi yang berbasis kinerja, “lelang jabatan” versi JK ini benar-benar lelang- ada duit, ada posisi.

Kabarnya, pos-pos menteri dihargai Rp500 M hingga Rp1 T, ditawarkan kepada para pengusaha yang punya jagoan atau ingin mengajukan dirinya sendiri menjadi menteri. Nanti uang yang berhasil dikepulkan oleh JK, “ceritanya” akan disumbangkan kepada tim sukses pemenangan pilpres. Tapi memang tidak akan semuanya disumbangkan oleh JK, karena ada bagian yang “ditilep” olehnya sendiri.

Beredar kabar, bahwa belum lama ini duit Rp 1 T, yang dipinjamkan (?) oleh seorang bupati yang kaya raya untuk JK, hanya Rp500 M saja yang diberikannya kepada Megawati. Modus seperti ini memang bukan hal baru, pada 2004 sumbangan ARB sebesar Rp500 M untuk tim pemenangan SBY, hanya Rp 250 M yang diteruskan JK ke SBY- sisanya ditilep JK.

Kini, kabarnya beberapa pengusaha dari grup media besar sudah menganteri di “loket” JK, beberapa di antaranya bahkan masih jadi menteri di kabinet SBY-Boediono, namun berhasrat untuk kembali menjadi menteri di era Jokowi-JK nanti, atau menyodorkan jagoan-jagoannya yang berasal dari kalangan intelektual kampus.

Maka, dapat diprediksi, kabinet Jokowi nanti hampir pasti diisi oleh para pemain politik transaksional- pengusaha besar atau intelektual antek pengusaha. Artinya tidak akan ada peluang bagi tokoh-tokoh yang memang berintegritas dan kompeten untuk menduduki posisi menteri di kabinet Jokowi nanti.

Semua ini adalah realitas politik kekinian. Siapa yang punya duit, punya jaringan, dia akan kuasa. Seorang JK sangat mungkin tidak sepeserpun mengeluarkan duit dari kantung pribadi untuk pilpres ini, karena yang dia lakukan hanya mengelola duit-duit orang lain- sebagian dia kasih sumbang untuk tim, sebagian dia ambil untuk dirinya sendiri.

Jadi pemenang sejati dari politik transaksional terakbar di Indonesia saat ini adalah JK. Dia dapat posisi, wapres, dia juga dapat duit, hasil tilepan dari duit para pengusaha yang ngarep jadi menteri. Bagi JK yang sudah malang melintang berpolitik sejak era Orde Lama, yang merupakan aktivis politik seangkatan Taufik Kiemas, menjalankan modus politik seperti ini (politik transaksional) enteng saja.

Apalagi cuma diperlukan “menekuk” Jokowi untuk memastikan semuanya berjalan, tentu bukan masalah besar bagi JK. Makanya Pak Jokowi jangan naif, jangan pernah lagi bilang tidak ada transaksi duit dalam perpolitikan kita.

Oleh: Subandi Bandi, Pemerhati Sosial Politik

Source: aktual.co

4 Tanggapan to “Jangan Bilang Tidak Ada Transaksi, Pak Jokowi”

  1. Adji said

    ha ha ha….itu hanya mimpi…,kali ini orang tua ambisius itu akan gigit jari, dan bersiaplah menghadapi kasus2 yang dulu dipeti es kan….,bersama dengan pasanganya joko klemer….,hadapilah kenyataan yang benar tetap akan terkuak siapa sebenarnya kalian….

  2. Anonim said

    Jk sudah Aki aki

  3. Anonim said

    Katanya pensiun wakil Presiden 2009 mau pulang kampung dan ngurus MESJID.. Apa kata dunia.

  4. Anonim said

    Ingat JK pernah di PECAT GUS DUR kasus KKN

Komentar "PILIHAN" akan diambil menjadi artikel KabarNet.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: