KabarNet

Aktual Tajam

Sri Mulyani Curiga Ada Rekayasa Bailout Century

Posted by KabarNet pada 02/05/2014

Jakarta – KabarNet: Mantan Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati mempertanyakan semakin membengkaknya biaya penyelamatan Bank Century. Sebab, pada Awalnya untuk menyelamatkan Bank Century hanya memerlukan Rp632 miliar.

Namun beberapa hari kemudian, keperluan penyelamatan Bank Century merangkak ke angka Rp2,6 triliun dan terus mengalami penambahan sampai Rp6,7 Triliun. Sebab itu, dia menanyakan ke Bank Indonesia (BI) soal alasan peningkatan hal tersebut.

Penegasan itu disampaikan Sri Mulyani saat menjawab pertanyaan Jaksa KPK, Ahmad, soal pemberian bailout Rp2,6 triliun saat bersaksi untuk terdakwa Budi Mulya di Pengadilan Tipikor Jakarta, Jumat 2 Mei 2014.

“Saya menanyakan kepada BI apa yang menyebabkan angka berubah, dan apa yang menjadi pertimbangan BI. Saat itu Ibu Siti Fadjrijah (mantan Deputy Gubernur BI, red.)maupun dari saudara pemeriksa saudara Heru (Kristiana) menjelaskan bahwa SSB ( surat surat berharga) dimacetkan,” kata Sri.

Namun pihak Bank Indonesia tidak memberi informasi secara rinci kepada Sri Mulyani selaku ketua KSSK (Komite Stabilitas Sistem Keuangan) sekaligus menkeu saat itu. Namun, pihak BI hanya menjawab bahwa SSB Bank Century dimacetkan. “Saya menanyakan kenapa dimacetkan, ‘Karena bank ini bank gagal’,” kata Sri menirukan jawaban Heru.

Mendengar jawaban seperti itu, Sri Mulyani mencurigai adanya rekayasa soal pemberian bailout kepada Bank Century. Sebab, kata Sri, SSB Bank Century baru jatuh tempo pada awal 2009. Sedangkan SSB tersebut dimacetkan pada awal 2008. “Padahal SSB itu baru jatuh tempo awal tahun 2009,” ungkap Sri.

Sebab itu, dia mempertanyakan mengapa SSB Bank Century dimacetkan. Namun, dia tidak pernah mendapat jawaban akurat dari pihak BI. “Jadi ada suatu judgment (pertimbangan) yang mengatakan saya sangat mempertanyakan kenapa BI hanya menginformasikan kemacetan itu sesudah keputusan itu dibuat.” tandas Sri Mulyani.

BI Sembunyikan Data Bank Century

Sri Mulyani juga menuding pihak Bank Indonesia menyembunyikan informasi dan data-data keadaan Bank Century sebelum diputuskan menjadi bank gagal berdampak sistemis.

Informasi dan data keadaan bank sebenarnya sangat penting untuk mengambil keputusan. Kekurangan data itu semakin mencurigakan. Apalagi, Sri Mulyani yang saat 2008 itu menjadi menteri keuangan, hanya diberi waktu 4,5 jam untuk memutuskan. Saat itu Bank Indonesia dikendalikan Boediono selaku gubernur BI. “Jadi ada yang mengatakan saya sangat mempertanyakan kenapa BI hanya menginformasikan kemacetan itu sesudah keputusan itu dibuat,” lanjut Sri Mulyani.

Pertanyaan itu selalu muncul dibenak dia lantaran Bank Century sejak 2005 sudah diawasi secara khusus. Namun BI tidak dapat mendeteksi permasalahan Bank Century. “Saya mempertanyakan kalau sudah pengawasan khusus kenapa BI tidak bisa mendeteksi aqrual-aqrual fiktif tersebut. Saya mempertanyakan pengawasan BI ,” ujar direktur Bank Dunia tersebut.

Pasalnya, mengenai akurasi data itu merupakan tanggung jawab BI. “Mengenai bank gagal berdampak sistemis mengenai akurasi data itu adalah tanggung jawab BI,” tegasnya.

Perubahan Kebutuhan Modal Century Dinilai Janggal

Perkembangan pemberian kebutuhan modal terhadap Bank Century, memang aneh. Mantan Menteri Keuangan Sri Mulyani mengakui ada yang janggal, dari Rp632 miliar menjadi Rp2,6 triliun.

Sri Mulyani saat itu selain menjabat Menteri Keuangan (Menkeu) sekaligus Ketua Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK). Mengetahui kejanggalan perubahan tersebut, Sri Mulyani menanyakan kepada pihak Bank Indonesia . Saat itu Gubernur Bank Indonesia adalah Boediono, yang kini menjadi Wakil Presiden RI .

“Saya merasa sangat kaget dengan angka yang berubah dari Rp632 miliar menjadi Rp2,6 triliun atau CAR yang dari minus 3,5 jadi 35% lebih, waktu hanya dalam waktu sesudah weekend (Sabtu-Minggu). CAR terus berubah, saya bisa mati berdiri ini,” tambah Sri Mulyani.

Setelah mengetahui hal itu, Sri Mulyani menyelidiki sebab terjadinya perubahan tersebut serta hal yang menjadi pertimbangan pihak BI. “Pada saat itu Fadjriah dan dari saudara pemeriksa saudara Heru menjelaskan bahwa surat berharga dimacetkan,” jelasnya. “Saya menanyakan apa alasan dimacetkan karena bank ini bank gagal, padahal surat berharga baru akan jatuh tempo pada awal 2009,” tambah Sri.

Sri juga mempertanyakan kenapa BI hanya menginformasikan soal kemacetan itu. Ia pun mempertanyakan kenapa BI tidak dapat mendeteksi soal akrual fiktif. “Saya menanyakan bahwa Bank Century meski sudah di bawah penanganan intensif khusus, saya mempertanyakan kenapa Bank Indonesia tidak dapat mengindifikasi akrual fiktif,” kata Sri.

Dalam surat dakwaan Budi Mulya jelas dikatakan bahwa yang bersangkutan berperan terkait penetapan Bank Century sebagai bank gagal berdampak sistemik sehingga diberikan Penyertaan Modal Sementara (PMS) oleh Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) sampai sebesar Rp 6.762.361.000.000.

Selanjutnya, pada rapat KSSK dengan Komite Koordinasi (KK) pada tanggal 21 Nopember 2008, sekitar pukul 04.30 WIB, yang dihadiri oleh Sri Mulyani selaku Ketua KSSK, Boediono selaku anggota KSSK, Raden Pardede selaku Sekretaris KSSK dan Arief Surjowidjojo selaku konsultan hukum, secara tiba-tiba diputuskan bahwa Bank Century ditetapkan sebagai bank gagal berdampak sistemik. Selanjutnya, meminta LPS melakukan penanganan terhadap bank tersebut.

Padahal, dalam rapat pra KSSK yang dilakukan pada 20 November 2008 sekitar pukul 23.00 WIB, belum diputuskan perihal penetapan Bank Century sebagai bank gagal berdampak sistemik. Mengingat, banyak pendapat yang menyatakan bahwa Bank Century tidak terkategori sebagai bank berdampak sistemik. Sebagaimana, dikatakan oleh Rudjito selaku Ketua Dewan Komisioner LPS, Anggito Abimanyu, Fuad Rahmany dan Agus Martowardojo.

Kemudian, dalam Rapat Dewan Komisioner (RDK) LPS diputuskan jumlah PMS untuk memulihkan Bank Century mencapai Rp 2.776.000.000.000, yang akhirnya terealisasi mulai 24 Nopember 2008 sampai 1 Desember 2008.

Namun, di tengah waktu pertransferan PMS tersebut terjadi masalah yang membuat Sri Mulyani menekankan pada BI untuk membuat pertanggungjawaban atas penanganan Bank Century.

Walaupun merasa kecewa akan sikap BI, pemberian PMS tetap dilanjutkan sampai 1 Desember 2008.

Pemberian PMS terus berlangsung sampai 24 Juli 2009 dan jumlahnya mencapai Rp 6.762.361.000.000. Padahal, upaya penyelamatan tersebut terbukti tidak mampu membantu Bank Century, terlihat dari CAR per 31 Desember 2008 yang menurut hasil audit kantor akuntan publik Amir Abadi Jusuf & Mawan, masih dalam posisi negatif 22,29 %. [KbrNet/Inilah/adl]

Komentar "PILIHAN" akan diambil menjadi artikel KabarNet.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: