KabarNet

Aktual Tajam

Kisah Sukses Si Raja Tipu Gunawan Jusuf SGC Lampung

Posted by KabarNet pada 02/05/2014

Berteman karib, hubungan Toh Keng Siong dengan Gunawan Jusuf berakhir di pengadilan. Toh Keng Siong cucu dari Toh Kian Cui, salah satu orang terkaya di Singapura pada era 1930-an, terjalin di tahun 1997.

Presiden SBY Jadi Supir Bos Sugar Grup Company Gunawan Jusuf

Presiden SBY Jadi Supir Bos Sugar Grup Company Gunawan Jusuf

Kerajaan bisnis Toh berkibar sejak dua generasi sebelum dia. Sekitar dua dekade lalu, keluarga Toh berkibar di bisnis konstruksi. Proyek-proyeknya tersebar di Brunei, Malaysia dan Indonesia. Pada 1987, keluarga taipan itu masih sempat membuat perusahaan baru: Aperchance Company Ltd, yang berbasis di Hongkong.

Perusahaan ini juga yang belakangan digunakan Toh untuk menyalurkan uangnya ke PT. Makindo Sekuritas milik Gunawan Jusuf sebesar US$ 126 juta (Rp 1,13 triliun). “Itu uang keluarga yang dihasilakn dari darah dan keringat kami”’ ujar Toh sambil mengingat perkataan pengacara Gunawan Jusuf, Hotman Paris Hutapea, bahwa bagi Gunawan, uang sebesar itu hanya cukup buat beli bakso.

Perkenalan antara Gunawan Jusuf dan Toh Keng Siong terjalin di tahun 1997. Setahun setelah itu di tahun 1998, saat terjadi huru-hara besar-besaran menjelang lengsernya Presiden Soeharto, Gunawan Jusuf menelpon Toh dari Jakarta. Pemilik Grup Makindo itu berniat mengungsikan keluarganya ke Singapura. Gunawan meminta Toh menjadi penjamin keluarganya selama tinggal di Negeri Singa. Toh yang sudah mengenal Gunawan sekitar setahun, kemudian mengiyakan permintaan Gunawan tersebut. Dengan jaminan dari Toh tersebut, keluarga Gunawan bisa tinggal di Negeeri itu selama dua tahun dan anak-anaknya diizinkan menempuh studi di sekolah Amerika Serikat di Singapura.

Sejak itu hubungan Gunawan dan Toh menjadi akrab, dan Gunawan masuk dalam keluarga besar Toh. Gunawan dikenalkan dengan ayah dan ibunya Toh. Sangking dekatnya, keluarga Toh sering mengunjungi keluarga Gunawan di kediamannyauntuk sekedar mengajak makan bersama atau menghabiskan libur akhir pekan. Tak disangka, hubungan dekat itu kini berakhir di meja sengketa.

Pada tahun 1999, Gunawan meminta Toh Keng Siong untuk menempatkan uangnya dalam bentuk Deposito berjangka di PT. Makindo Sekuritas. Toh tergiur dengan ujuk rayu dan iming-iming bunga hampir lima persen yang dijanjikan Gunawan. Untuk ukuran bunga bank di Singapura saat itu, rate ini cukup tinggi. Bahkan, untuk rupiah yang ditanam Toh, Gunawan menjanjikan bunga 14,3 persen.

Gunawan tak menjelaskan bagaimana dia bisa memberikan bunga yang lebih tinggi dibanding rata-rata bank saat itu. “This is my secret trade” ujar Gunawan. Toh tak curiga, hubungan baik keluarga telah membuatnya terlena. Apalagi jangka waktu deposito yang dipilih hanya satu bulan, investasi yang paling beresiko kecil.

Melalui perusahaanya yang berbasis di Hongkong, Aperchance Company Limited, sepanjang tahun 1999-2002 Toh mentransfer US$ 126 juta (Rp 1,13 trilyun) ke rekening Makindo. Transfer itu dilakukan melalui Merryl Lynch International Singapura, HSBC Singapura, dan BNP Paribas Hongkong ke rekening Makindo di Bank Credit Suisse Singapura, United Overseas Bank AG Singapura, dan HSBC Singapura. Dana itu ditransfer dalam berbagai bentuk mata uang : Rupiah, Dollar Amerika, Dollar Asutralia, Dollar Selandia Baru, Dollar Singapura, Dollar Hongkong, dan Euro.

Setiap uang kiriman Toh diterima, Makindo mengirim surat konfirmasi yang ditandatangani oleh Claudine Jusuf, Direktur Makindo yang juga istri Gunawan. Pada 9 Mei 2001, Claudine juga menandatangani surat untuk Aperchance Company Ltd, yang menyatakan Makindo akan memenuhi kewajibannyamembayar kembali uang itu setelah jatuh tempo kapanpun diminta. Gunawan mengklaim sudah memberikan bunga kepada Toh atas investasinya, namun pernyataan itu disangkal oleh Toh, “Not even one cent”, katanya.

Gunawan Yusuf

Gunawan Yusuf

Kecurigaan Toh kepada Gunawan terjadi saat Grup Makindo, melalui PT. Garuda Panca Artha membeli Sugar Group Companies dari BPPN pada tahun 2001. Apalagi nilai penjualan Sugar Grup mirip dengan jumlah uang yang ia titipkan ke Makindo. Toh mulai bertanya-tanya dari mana Gunawan mendapat uang sebesar itu untuk membeli Sugar Group. Padahal Gunawan tidak meminjam dari bank. Saat lelang BPPN terjadi, Sugar Group yang tadinya dimiliki oleh Salim Group ingin dibeli kembali oleh pemilik lamanya. Salim meminjam tangan Gunawan untuk membeli kembali asetnya tersebut. Akan tetapi saat pemasukan penawaran dilakukan Gunawan membelot dan menawar atas nama Grup nya sendiri. Keberanian Gunawan untuk membelot dari Salim dan membeli Sugar Group dari BPPN atas nama Makindo muncul setelah Gunawan bertemu dengan Fauzi Toha mantan salah satu Direksi Gula Putih Mataram (anak perusahaan Sugar Group) yang didepak oleh Salim karena melakukan penyimpangan. Saat itu Gula Putih Mataram masih milik Salim Group.

Pada November 2002, Toh menelpon Gunawan dan mengatakan ingin menarik semua uangnya. Gunawan terkejut, dia lalu terbang ke Singapura membawa istri, anak, beserta Rahmiati (alm) ibunya untuk menghadap Toh. Gunawan mengaku tak bisa membayar uang itu dan meminta tidak ditagih dulu. Setelah dua kali pertemuan di Singapura dan Jakarta, keduanya sepakat hutang itu akan dicicil US$ 5juta setiap bulannya. Akan tetapi Gunawan tidak menepati janjinya dan tak pernah membayar. Merasa ditipu, Toh memutuskan menempuh jalur hukum. Ia memperkarakan Gunawan ke pengadilan Singapura. Kembali Gunawan datang bersama keluarganya, mencium tangan Toh sambil meminta Toh menghentikan gugatannya. Terlanjur kesal, Toh tak memperdulikan permohonan itu. Pengadilan di Singapura mengeluarkan putusan Mareva Injunction. Maksudnya, pengadilan membekukan aset-aset tergugat (Gunawan) dan melarang tergugat memindahkan asetnya ke luar wilayah Tapi Toh kalah ditingkat banding. Hakim memutuskan kasus ini tidak bisa disidangkan di Singapura karena Makindo berbasis di Indonesia. Hubungan kedua saudara angkat ini pun memanas. Toh, melalui pengacaranya, mengumumkan putusan Mareva Injunction di media. Pengumuman itu dibalas Gunawan dengan melayangkan gugatan penghinaan terhadap pengadilan (contempt of court) kepada Aperchance.

Pada April 2004, Toh melaporkan kasusnya ke Markas Besar Kepolisian Republik Indonesia. Tak pernah meminta keterangan Toh, polisi mengeluarkan Surat Perintah Penghentian Penyidikan (SP3) 3 bulan kemudian. Setelah itu, giliran Gunawan melancarkan balasan. Ia menggugat kuasa hukum Toh dengan tudingan membuat surat palsu. Bahkan ketika Aperchance mengajukan bukti baru (novum), Mabes Polri begitu saja mengabaikannya dan tidak mau membuka kembali SP3 dan melanjutkan penyidikan atas diri Claudine Jusuf dan Gunawan Jusuf. Padahal keduanya sempat dijadikan tersangka. Aperchance juga sempat melaporkan kasus hutangnya plus putusan pengadilan Singapura ke Badan Pengawas Pasar Modal dan Direktorat Jenderal Pajak. Tapi lagi-lagi tak membawa hasil karena Gunawan saat itu tercatat sebagai salah satu penyandang dana terbesar untuk SBY dalam Pilpres 2004.

Melalui kuasa hukum Aperchance, Oscar Sagita dari Law Firm Lucas SH & Partners, Toh mengajukan gugatan Pra Peradilan ke Pengadilan Negeri Jakarta Selatan. Pada 19 Oktober 2012, Pengadilan Negeri Jakarta Selatan mengeluarkan Putusan pra peradilan No: 33/Pid.Prap/2012/PN.JKT.SEL. Berdasarkan amar putusan pra peradilan tersebut setidaknya ada empat poin :

  1. Mengabulkan permohonan pra peradilan dari pemohon (Aperchance) untuk seluruhnya,
  2. Menyatakan surat tentang ketetapan penghentian penyidikan No.Pol. : S.Tap/51a/VII/2004 tanggal 20 Juli 2004 dan Surat Perintah Penghentian Penyidikan No.Pol. : SPPP/R/51/VII/2004 /Dit II Eksus tanggal 20 Juli 2004 adalah tidak sah,
  3. Memerintahkan termohon untuk melanjutkan penyidikan atas dugaan tindak pidana penggelapan dan penipuan yang dilakukan para tersangka Claudine Jusuf dan Gunawan Jusuf, sebagaimana laporan polisi No.Pol : LP/125/IV/2004/Siaga-III tanggal 20 April 2004,
  4. Membebankan kepada termohon untuk membayar biaya permohonan sebesar Rp 10.000,- (sepuluh ribu rupiah).

Berdasarkan putusan Mahkamah Konstitusi No. 65/PUU-IX/2012 tanggal 1 Mei 2012, semua putusan pra peradilan berkekuatan hukum tetap. Oleh karena itu secara hukum tidak ada upaya hukum apapun tehadap putusan pra peradilan No. 33/Pid.Prap/2012/PN.JKT.SEL tanggal 19 Oktober 2012. Artinya Mabes Polri harus segera melanjutkan penyidikan terhadap tindak pidana penipuan yang telah dilakukan oleh Claudine Jusuf dan Gunawan Jusuf kepada Toh Keng Siong.

Sugar Group Companies yang selama ini dikenal sering menggelontorkan dana dalam Pemilihan Kepala Daerah di Propinsi Lampung baik pemilihan Bupati maupun Gubernur, dan juga untuk menyumbang dan membiayai seluruh operasional Partai Demokrat di Lampung melalui karyawannya yang ditempatkan sebagai Ketua Partai Demokrat Lampung, ternyata disinyalir dibeli Gunawan melalui uang hasil penipuan. Artinya uang yang selama ini dibagi-bagikan dalam Pemilukada oleh Sugar Group merupakan uang dari usaha menipu.

Source: RONIN INDONESIA

KPK Takut Menangkap Gunawan Jusuf?

Jakarta – Peneliti Indonesia Economic Development Studies (IEDS) Musyafaur Rahman mempertanyakan, mengapa hingga kini Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) tidak berani menangkap pengemplang pajak di Lingkaran Istana? Termasuk menelusuri kedekatan konglomerat Gunawan Jusuf dengan lingkar kekuasaan, dimana bos ‘raja gula’ ini namanya disebut dalam Buku “Gurita Cikeas” masuk dalam lingkar yang diklasifikasikan sebagai “donator” Cikeas.

“Untuk menelusuri kedekatan Gunawan dengan lingkar kekuasaan, maka rasanya publik tidak perlu terlalu sulit menganalisa, siapa Gunawan Jusuf, dan mengapa dia tak tersentuh hukum?” ungkap Musyafaur, sembari menunjukkan satu foto yang sempat menjadi sorotan media, saat Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) tampak mengendarai mobil bioethanol yang dikemudikannya sendiri dengan Gunawan Jusuf sebagai salah satu penumpangnya.

Ketika itu, jelasnya, Presiden melakukan peninjauan pabrik bioetanol sekaligus mengujicoba mobil berbahanbakar bioetanol di PT Indo Lampung Distellery, milik Gunawan Yusuf, di Lampung Tengah.

“Sederet pemberitaan juga sempat mengkaitkan nama tersebut dengan sejumlah orang-orang yang bersentuhan langsung dengan kalangan penguasa baik di Lampung maupun di lingkar Istana,” ungkapnya pula.

Meski asumsi dan dugaan tersebut belum pernah terbukti secara yuridis, jelas dia, namun fakta yang mempertontonkan bagaimana kalangan tersebut selalu lepas dari berbagai jerat hukum membuat opini yang berkembang dan menjadi gunjingan publik itu seolah benar adanya.

“Akhirnya pertanyaan kembali terlontar ke KPK,mampukah mereka (KPK) menepiskan rumor dan membongkar berbagai kasus pengemplangan pajak ini untuk dikonversi menjadi pendapatan negara untuk kesejahteraan rakyat? mengingat figur layaknya Gunawan Jusuf ini tidak hanya ada 1 di Republik Indonesia,” ujarnya mempertanyakan.

Pengemplang Pajak dan Kekuasaan
Musyafaur mengungkapkan, sudah menjadi rahasia umum bahwa keberanian pengusaha untuk mengemplang pajak kepada negara antara lain disebabkan mereka masuk dalam lingkar kekuasaan dan memiliki sumbangsih yang tidak kecil bagi para penguasa di negeri ini. Sehingga dalam banyak kasus mereka pasti selalu terhindar dari jerat hukum karena aparat “keder” untuk memperkarakan mereka.

“Salah satu kasus yang sempat mencuat di permukaan dan bukan dari sektor tambang dan migas namun justru dari sektor lainnya yakni perkebunan, sempat menjadi sorotan media besar sekelas Tempo dan Bisnis Indonesia dan menjadi bahasan dalam buku karya George Junus Aditjondro adalah dugaan pengemplangan pajak yang dilakukan oleh Sugar Group Company yang dimiliki oleh Gunawan Jusuf dibawah bendera PT. Garuda Panca Artha (GPA)” bebernya.

Sebagaimana diberitakan, pada 11 Mei 2011 Komisi II DPR pernah melakukan RDPU bahas penipuan, pemalsuan, penggelapan pajak Sugar Grup ini. Komisi II DPR juga membahas penyerobotan lahan masyarakat di 4 Kecamatan di Kab Tulang Bawang, Lampung oleh Sugar Grup Company berdasarkan laporan dari Bupati Tulang Bawang.

DPR sendiri, lanjutnya, sudah memanggil semua pihak terkait hal tersebut, termasuk besaran tunggakan pajak yang angkanya mencapai puluhan triliun rupiah saat itu. Namun kasus itupun belakangan redup dan majalah tempo sempat mendapatkan somasi dari pihak SGC khusus terkait laporan mengenai dugaan penggelapan pajak yang dilakukan oleh Gunawan Jusuf.

Pengemplang Pajak
Musyafaur menilai, pernyataan Ketua KPK Abraham Samad terkait angka pengemplangan pajak di negeri ini sangat fantastis seolah membuka mata kita mengenai betapa bobroknya pengelolaan negeri yang memiliki kekayaan alam melimpah ini.

“Hal ini juga menunjukkan bahwa secara rasio maka rakyat kecil akan selalu berada di posisi tertindas karena selamanya akan membayar pajak lebih mahal dari orang-orang yang justru seharusnya memiliki kewajiban terhadap negeri ini dan menikmati lebih dari kekayaan Indonesia,” tandas Musyafaur Rahman, Selasa (17/9/2013).

Sebagai ilustrasi, jelasnya, Angka Proyeksi penerimaan pajak di Indonesia tahun 2012 yang dikeluarkan Direktorat Jenderal Pajak mencapai Rp1.033 triliun. Sementara realisasinya seperti yang dipaparkan oleh Fuad Rachmany, Dirjen Pajak Kemenkeu adalah sebesar Rp 835,26 triliun. Selisih 197,74 triliun lainnya tidak pernah dijelaskan kepada publik.

“Lebih parah lagi untuk tahun 2013, proyeksi penerimaan pajak justru menurun sebesar 995,21 triliun. Realisasinya diperkirakan juga akan menurun dibandingkan penerimaan pajak di tahun lalu,” tandasnya.

Sejauh ini, menurutnya, perkiraan konservatif IMF (International Monetary Fund) yang diumumkan ke publik dan menjadi dasar dalam proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia menyatakan perhitungan perkiraan potensi pajak yang hilang di negeri ini mencapai lebih dari 40 persen.

“Ketidakmampuan pemerintah dalam mengoptimalkan penerimaan pajak, jelas menjadi persoalan tersendiri yang pada akhirnya hanya menimbulka implikasi penambahan utang baru yang hampir selalu lebih besar dari cicilan dan menyebabkan utang menumpuk,” tegas Peneliti IEDS.

Untuk itu, tegas dia, sudah tepat kiranya jika KPK memposisikan dirinya berada di garda terdepan untuk mengoptimalkan pendapatan negara dari sektor pajak. “Namun pertanyaannya seberapa kuat dan seberapa berani KPK menindaklanjuti para pengemplang pajak yang sebagian besar dari mereka ditengarai memiliki kedekatan dengan kekuasaan,” ungkapnya. [KbrNet/Slm]

Source: edisinews.com

Sewindu Kasus Penggelapan Dana Rp 1.3 Triliun yang Terbengkalai

DIA amat pendiam. Rambut tersisir rapi, laku tutur yang santun dan mengalir, sikap terpelajar, serta bahasa tubuh yang rileks. Itulah gambaran sepintas Gunawan Yusuf. Namun, dari tangan Presiden Direktur Sugar Group Companies (SGC) ini nasib pergulaan Tanah Air ikut ditentukan: 30 persen kebutuhan gula nasional mengalir dari Tulangbawang, lokasi pabriknya. Begitulah yang tertulis di buku 100 Tokoh Terkemuka Lampung seperti dikutip paratokohlampung.blogspot.com.

Di samping citra anak manis yang digambarkan terhadap raja gula itu, Gunawan Yusuf juga memiliki wajah lain yang berkesan seperti seorang raja tega yang arogan. Setelah membaca beberapa sumber berita di media cetak dan internet, ternyata pria berusia 58 tahun ini diketahui publik memiliki banyak masalah. Mulai dari sengketa dengan Salim Group dan Marubeni Corporation, dugaan penggelapan pajak, gesekan dengan media seperti harian Bisnis Indonesia dan Majalah Tempo, serta yang baru-baru ini diangkat kembali adalah soal dugaan penggelapan dana nasabah yang telah lebih dari sewindu dihentikan penyidikannya oleh Polisi alias kena SP3.

Dana nasabah Makindo yang diduga menguap di tangan Gunawan Yusuf, pemilik Makindo, sudah lebih dari satu dekade tak dibayarkan kepada pemilik dana yang berhak. Awal kejadian gagal bayar dana milik Toh Keng Siong yang disimpan dalam TIme Deposit Confirmation (TDC) senilai US$ 134 Juta (sekitar Rp 1,3 Triliun) di Makindo terjadi di saat jatuh tempo pada 1 November 2002.

Menurut Toh Keng Siong kepada program Metro Realitas di Metro TV, saat ia menagih dana miliknya di Makindo yang telah jatuh tempo, Gunawan Yusuf mengaku sedang bermasalah dengan kantor pajak. “Agar tidak menimbulkan kecurigaan kantor pajak, Gunawan Yusuf bilang tidak dapat membayar sekaligus dan minta agar pelunasan bisa dilakukan dengan cara mencicil,” kata Toh Keng Siong, warga negara Singapur yang merupakan Direktur Aperchance Company Limited.

Hingga awal Maret 2003 Gunawan Yusuf masih rajin mencicil utang-utangnya kepada Toh Keng Siong. Pembayaran terakhir yang dilakukan Gunawan Jusuf tercatat sebesar US$ 5 juta pada 6 Maret 2003. Namun, setelah itu, Gunawan Jusuf tiba-tiba nekad tidak mengakui adanya utang tersebut.

Melalui pengacaranya, Gunawan Jusuf membantah tudingan Toh Keng Siong. “Kami ini bukan bank, jadi mana mungkin, dana US$ 134 juta itu bukan duit sedikit, masa lo taruh duit di perusahaan bukan bank,” kata pengacara Gunawan Yusuf, Hotman Paris, kepada wartawan usai bertemu Kabiro Penilaian Keuangan Perusahaan Sektor Jasa Bapepam Noor Rachman. (Detik.com, 27/2/2006)

Sejak 20 April 2004, Toh Keng Siong telah melaporkan kasus pidana penggelapan dan penipuan yang dilakukan Gunawan Yusuf ke Mabes Polri. Namun, hanya dalam waktu tiga bulan sejak laporan diserahkan, Mabes Polri telah mengeluarkan SP3.

Ketika Toh telah mengajukan bukti baru (novum), Mabes Polri begitu saja mengabaikannya dan tidak mau membatalkan SP3 agar bisa melanjutkan penyidikan atas Gunawan Jusuf dan istrinya, Claudine Jusuf yang juga merupakan Direktur Makindo.

Beberapa kalangan menduga terjadinya pembiaran terhadap kasus ini selama bertahun-tahun karena kedekatan Gunawan Yusuf dengan istana dan orang-orang yang berpengaruh di lingkaran kekuasaan. Bahkan, ada yang berspekulasi bahwa dana Toh Keng Siong yang digelapkan Gunawan juga mengalir untuk menyokong kampanye Pemilu dan Pilpres 2004.

Melihat track record-nya, Gunawan Yusuf yang lihai dan ambisius memang selalu berusaha untuk mendekat dengan kekuasaan yang bisa membekingi kiprah dan pengembangan bisnisnya. Sejak masa pemerintahan Soeharto, dia sudah dekat dengan kekuasaan dan diketahui kenal dekat dengan putra-putri Presiden RI kedua tersebut.

Menurut kalangan terdekatnya, Gunawan Yusuf sejak awal memang telah memperhitungkan Partai Demokrat sebagai partai yang prospektif dalam Pemilu 2004. Karena itu, dia berusaha mendekat dan akhirnya menjadi salah satu penyokong dana yang terhitung sejak awal ikut membesarkan Partai Demokrat dan mendukung SBY sebagai capres. Posisi penting Gunawan di partai baru ini terlihat ketika pada peringatan HUT Partai Demokrat 9 September 2004 di Istora Senayan, dia hadir dan duduk di barisan tamu-tamu penting berdekatan dengan SBY yang baru saja meraih suara terbanyak di Pilpres 2004 putaran pertama.

Kedekatan Gunawan Jusuf dengan istana semakin terlihat jelas, ketika pada 27 Februari 2007, berbagai media cetak nasional merilis foto SBY yang mengendarai mobil berbahanbakar bioetanol bersama Gunawan Yusuf. Ketika itu Presiden melakukan peninjauan pabrik bioetanol sekaligus mengujicoba mobil berbahanbakar bioetanol di PT Indo Lampung Distellery, milik Gunawan Yusuf, di Lampung Tengah.

Pasca keluarnya Putusan Pra Peradilan No. 33/Pid.Prap/2012/PN.JKT.SEL yang telah diputuskan Hakim Pengadilan Negeri Jakarta Selatan tanggal 19 Oktober 2012, Polisi diminta untuk melanjutkan penyidikan atas dugaan tindak pidana penggelapan dan penipuan yang dilakukan oleh Claudine Jusuf dan Gunawan Jusuf, selaku Direksi Makindo.

“Sesuai putusan Mahkamah Konstitusi No.65/PUU-IX/2012 tanggal 1 Mei 2012, semua putusan praperadilan telah berkekuatan hukum tetap. Oleh karena itu, secara hukum tidak ada upaya hukum apapun terhadap Putusan Pra Peradilan No. 33/Pid.Prap/2012/PN.JKT.SEL, tanggal 19 Oktober 2012” kata Oscar Sagita, pengacara Toh Keng Siong.

Beranikah Polri segera menindaklanjuti perintah pengadilan untuk melanjutkan pengusutan? Benarkah sebagian dana hasil penggelapan Gunawan Yusuf juga mengalir untuk menyokong Pemilu dan Pilpres 2004? Tanyakan pada rumput yang bergoyang, seperti lirik lagu Ebiet G. Ade yang terkenal itu.

Kasus ini akan semakin menarik diamati jika telah dilimpahkan ke mahkamah peradilan. Jika Gunawan Yusuf terbukti bersalah seperti yang dituduhkan. Maka, ganjaran yang diterimanya akan bertumpuk. Tak hanya penggelapan dana nasabah, Gunawan juga akan terkena perkara penggelapan pajak karena selama ini tidak mengakui uang Toh Keng Siong sebagai dana kelolaan perusahaannya, PT Makindo, yang tentunya merupakan subjek pajak. Selain itu, citra Gunawan Yusuf yang selama ini dikenal sebagai pengusaha sukses yang membesarkan Sugar Group Company, perusahaan produsen gula dengan merek dagang Gulaku itu juga akan ikut tercoreng.

Kita tunggu perkembangannya..

  • groups.yahoo.com/group/faktor/message/1297
  • books.google.co.id/books?id=pvKs0TQDhG4C&pg=PA109&lpg=PA109&dq=gunawan+jusuf,+gunawan+yusuf&source=bl&ots=zXr7Z2mdbK&sig=N91U016DT2i-ZsxziL_QpmTibTQ&hl=en&sa=X&ei=myypUJH-HInwrQeqp4GoDQ&redir_esc=y#v=onepage&q=gunawan%20jusuf%2C%20gunawan%20yusuf&f=false
  • groups.yahoo.com/group/partai-keadilan/message/18701
  • kabarnet.in/membongkar-gurita-cikeas/
  • forum.viva.co.id/eksekutif-dan-legislatif/86373-membongkar-gurita-cikeas-kontroversial.html
  • rusdimathari.wordpress.com/tag/makindo/
  • rusdimathari.wordpress.com/2008/04/21/cahaya-keselamatan-sby/#more-622
  • m.dewanpers.or.id/page/berita/?id=1839
  • finance.detik.com/read/2006/02/27/181917/548371/6/arsip.html
  • news.detik.com/index.php/detik.read/tahun/2006/bulan/07/tgl/11/time/182015/idnews/633663/idkanal/10
  • conglomeratemonitor.blogspot.com/2007/02/makindo-dililit-pajak-rp494-miliar.html

4 Tanggapan to “Kisah Sukses Si Raja Tipu Gunawan Jusuf SGC Lampung”

  1. sapii said

    Kata SBY. “ Jokowi memang hebat“.

  2. jebreet said

    siapa Gubernur lampung sekarang, yg baru terpilih?

  3. Anonim said

    sugar grop copanis mulai menurun saat ini

  4. Grevino said

    Fyi..
    Pemilik JJ royal coffee bernama Jeremiah Jusuf yg tak lain merupakan anak dari Gunawan Yusuf.
    Mafia macam ini tidak akan pernah bisa di hilangkan selama hukum dapat diperjual belikan.

Komentar "PILIHAN" akan diambil menjadi artikel KabarNet.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: