KabarNet

Aktual Tajam

Inilah Caleg yang Ditipu ‘Rp117 Juta’ oleh Ketua PPK

Posted by KabarNet pada 25/04/2014

Pasuruan – KabarNet: Pada Minggu 20 April 2014 sore, seorang Caleg DPRD Jawa Timur Dapil 2, Agustina Amprawati melaporkan 12 Ketua Panitia Pemilihan Kecamatan (PPK) dan 1 anggota PPK Kabupaten Pasuruan ke Panwaslu setempat.

Wanita ini tidak terima dan merasa ditipu, lantaran tidak memperoleh tambahan 5000 suara per-kecamatan, sesuai yang dijanjikan para PPK tersebut. Padahal, dari pengakuannya, ia telah memberi uang sebanyak Rp 117 juta, dan membelikan satu unit Honda Megapro bekas senilai Rp 11.150.000 untuk PPK yang kini telah di-nonaktifkan oleh KPU Kabupaten Pasuruan.

Selama beberapa hari, banyak media elektronik dan media cetak baik lokal dan nasional, yang memberitakan tindakan wanita kelahiran Malang 17 Agustus 1967 ini.

Ditemui di sebuah cafe di Kota Pasuruan, Agustina mengaku sudah memikirkan matang-matang tindakannya melaporkan 13 PPK ke Panawas, meski dirinya selaku pemberi uang atau penyuap. “Enggak, saya nggak takut karena saya di posisi korban. Saya ditipu,” kata ibu empat orang anak ini, Rabu 23 April 2014.

Hingga saat ini, dia masih meyakini bahwa dirinya merupakan korban penipuan. Sebab, kata Tina panggilan akrabnya, awalnya para PPK itu yang memberikan tawaran kepadanya, kemudian pada akhirnya meminta sejumlah uang. “Saya siap menerima konsekuensinya. Saya ditawari, saya diminta uang. Otomatis saya kan ditipu,” kata Tina, yang mengaku siap pernyataanya dikonfrontir oleh ke-13 PPK yang telah ia laporkan.

Ia mengatakan, motivasinya untuk melaporkan ke-13 PPK semata-mata hanya untuk meminta pertanggungjawaban atas janji yang diberikan kepadanya. “Kita sebetulnya , tidak ada motivasi lain. Hanya meminta pertanggungjawaban mereka. Kerena setelah meminta uang, mereka terus menghindar,” ucapnya.

Bungsu dari 11 bersaudara ini menduga, 13 PPK yang ia laporkan tidak hanya menerima uang darinya, namun dari caleg-caleg yang lain. “Ada apa dibalik ini semua, kenapa PPK berani berspekualsi bertanda tangan di atas materai. Saya menduga, PPK menerima uang yang lebih besar dari saya. Sehingga komitmen dengan saya diabaikan,” terangnya.

Dia juga yakin, banyak caleg lain yang berbuat sama seperti dirinya. Bahkan, selain PPK juga banyak pihak yang terlibat, karena untuk bisa menambah suara tidak mudah tanpa diketahui PPS, KPPS, dan KPU. Oleh karena itu, dirinya tidak pernah merasa risau atau khawatir atas tindakannya. “Karena saya korban penipuan, kenapa harus risau. Justru, risaunya saya ini kenapa sampai detik ini, rentetan PPK sampai di bawahnya belum juga diperiksa,” ungkapnya.

Ia juga merasa kecewa, dengan sikap partainya, yang selama ini tidak pernah memberikan dukungan kepadanya. Termasuk juga, ketika dia mendapat persoalan yang sekarang dialaminya. “Sekarang gini, untuk apa saya memikirkan partai, kalau partai nggak memikirkan saya. 11 bulan saya tinggalkan keluarga saya untuk mensosialisasikan nama besar Prabowo,” kata wanita yang memiliki dua gelar sarjana ini.

Selain mengorbankan waktu, tidak sedikit uang yang sudah ia keluarkan untuk membiayai dana kampanyenya. Dia mengaku, sudah menghabiskan uang sebanyak 600 juta, untuk membuat kaus dan alat peraga kampanya. Jumlah tersebut, belum termasuk dana untuk sosialisasi. “Saya nggak pernah ngitung jumlah pastinya. Sudah di atas Rp 1 milyar lebih untuk bersosialisasi. Seperti untuk biaya makan, pendirian posko dan lain-lain,” kata Agustina.

Uangnya yang kini telah habis untuk biaya kampanyenya itu, merupakan uang pribadinya dari hasil kerja kerasnya. Sehari-hari dirinya bekerja sebagai seorang kontraktor, dan memiliki sebuah perusahaan bernama CV Permata.

Agustina mengaku, baru kali pertamanya ini dirinya maju sebagai caleg. Meski sebenarnya, ia lebih nyaman menjabat sebagai Ketua Perempuan Indonsia Raya (Pira) organisasi di bawah partai Gerindra Kota Pasuruan. “Tapi karena kuota untuk caleg wanita kurang saya ditiunjuk ketua DPC untuk maju,” kata wanita yang mengaku gemar beroganisasi sejak duduk di bangku sekolah ini.

Agustina mengatakan, alasannya terjun ke dunia politik karena ia bisa mempunyai banyak teman dan juga menambah relasi. Sebab, sebagai seorang pengusaha, wajar bila dirinya harus mempunyai banyak jaringan dan relasi. “Sebagai pengusaha, saya harus punya banyak mempunyai jaringan dan teman. Di dalam politik kan harus punya banyak teman,” kata warga RW Monginsidi 3/1 Kelurahan Kebonagung, Kecamatan Purworejo, Kota Pasuruan ini.

Berorganisasi, kata Agustina, sudah dimulainya sejak di duduk bangku SMAK Kota Pasuruan. Awalnya ia bergabung dengan ormas Muslimat, Kecamatan Gondang Wetan, Kabupaten Pasuruan. Setelah lulus sekolah, ia bekerja di beberapa perusahaan kontraktror di PT Kalpataru di Karah Indah, Surabaya. Selanjutnya dia kembali ke Pasuruan, di perusahan kontraktor Kraton Indah, sambil kuliah di STKIP Kota Pasuruan. Saat itu, dirinya mengambil jurusan Hukum dan lulus pada 2002. Kemudian, dia kembali kuliah mengambil jurusan teknik sipil di Darul Ullum Jombang, dan lulus pada 2007, sambil bekerja di perusahaan kontraktor.

Sementara itu, awal mulanya ia aktif di partai Pro Mega, pada sekitar tahun 1997-1998, kemudian ia menjabat sebagai bendahara PAC Demokrat Purworejo. Setelah itu, dia menjaabat sebagai ketua Lembaga Demokrat Sejati (LDS) Kota Pasuruan.

Agustina juga sempat memegang jabatan sebagai ketua DPC Partai Demokrasi Pembaruan (PDP) Kota Pasuruan. Dan terakhir, dirinya menjabat sebagai Ketua Perempuan Indonsia Raya Kota Pasuruan.

Saat ditanya pelajaran yang ia dapat dari semua persoalan ini, Agustina mengaku baru sadar kalau politik itu sangat kejam, tidak mengenal saudara dan kawan. “Ternyata di dalam politik itu sangat kejam, tidak mengenal saudara dan kawan,” katanya.

Untuk diketahui, Agustina juga terancam dijerat pasal 12 ayat 2 UU/31/1999 jo UU/20/2001 tentang gratifikasi. Menanggapi hal itu, Agustina tetap tidak merasa khawatir, dan enggan menanggapinya terlalu serius. “Kalau masalah jerat menjerat itu nanti. Akan tetapi saya tidak bisa memastikan apakah saya kena jerat Juga. Sebab saya tidak merasa menyuap mereka tetapi cenderung menjadi korban,” imbuhnya.

Kronologi Penyuapan 13 PPK Versi Agustina

Dari hasil informasi yang dihimpun berikut beberapa pengakuan yang kembali dibeberkan oleh Agustina saat di mintai keterangan oleh Suryono pane selaku Ketua Panwaslu Kab.Pasuruan :

“Awalnya saya dipertemukan dengan 4 orang PPK yakni Tauhid, Khumaidi, Eko dan Imam oleh teman saya di rumah makan Pring Kuning. Petermuan tersebut berjalan biasa saja dan tidak membahas tentang uang. Namun sesudah saya pulang Umroh sekitar pertengahan bulan Februari, saat itu setelah saya habis sholat di Masjid Bangil, ditelepon oleh Khumaidi selaku PPK Gempol untuk menanyakan tindak lanjut atas pertemuan yang pernah digelar di Pring Kuning beberapa hari lalu. Mendapati pertanyaan dari Khumaidi lalu saya jawab “tindak lanjut apa mas ?. Khumaidi lalu berkata “ini teman-teman 13 PPK sudah menunggu mbak Tina. Atas jawaban dari Khumaidi tersebut dirinya lalu mempersilakan dan memberikan jawaban ‘kalau ingin ketemu silakan dirumah atau dikantor juga boleh’, lebih baik dikantor saja biar steril,” urainya dengan gamblang.

Keesokan harinya masih pada pertengahan bulan pebruari, 13 PPK ditemui di kantornya dan membahas teknik pemenangan atas pencalonan dirinya sebagai Caleg DPRD Propinsi Jawa timur dapil Pasuruan-Probolinggo.

“Teknik yang ditawarkan oleh mereka yakni akan membantu mengamankan perolehan suara, mengukur kekuatan lawan di Pasuruan – Probolinggo, menambahkan suara sebanyak 5000 pada 13 PPK dan bila suara yang didapatkan dirinya (Agustina) dibawah caleg lainnya,” tambah Agustina.

Setelah membicarakan teknik tersebut, juru bicara ke 13 PPK yakni Tauhid dari PPK Prigen memberikan rincian kas bon 13 PPK untuk biaya pemenangannya tersebut. Sedangkan yang melakukan perincian kas bon saat itu adalah PPK Gempol, Khuamidi.

“Malah Tauhid juga menyampaikan dihadapan 13 PPK dan dirinya siapa yang harus kita didukung kalau bukan putra daerah untuk menjadi anggota DPRD Propinsi Jatim,”lanjutnya.

Pada tanggal 12 Maret terjadilah transaksi sesuai dengan rincian yang telah disodorkan oleh Tauhid dan Khumaidi untuk kas bon pertama sebesar Rp.77 juta bagi 13 PPK.

Dalam pengakuan Tina, dirinya memberikan uang tahap pertama sebesar Rp.77 juta kepada Khumaidi untuk dibagikan pada PPK yang hadir pada saat itu. Sedangkan 2 PPK yang terlambat datang uangnya dibawa oleh Tauhid dan 1 jatah uang kas bon untuk PPK Kraton yakni Anshori diambil keesokan harinya dengan diantar oleh Tauhid disertai dengan kwitansi. Kemudian, pada 7 april atau H-2 pencoblosan, seorang anggota PPK Winongan, Endang kembali meminta tambahan Rp. 25 juta untuk pemenangan di wilayahnya. [KbrNet/Slm]

Source: surabaya.tribunnews.com

Komentar "PILIHAN" akan diambil menjadi artikel KabarNet.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: