KabarNet

Aktual Tajam

Orang-Orang Fundamentalis Katolik di Lingkaran Jokowi

Posted by KabarNet pada 21/04/2014

Membongkar Peranan Jakob Soetoyo

Oleh: M. Sembodo

Tentu banyak yang terperangah ketika Jacob Soetoyo bisa mempertemukan beberapa duta besar negara-negara ‘hiu’ dengan Jokowi dan Megawati. Siapa sebenarnya Jacob Soetoyo?

Jacob memang lebih dikenal sebagai pengusaha. Tapi, dalam konteks menjadi fasilitator pertemuan Jokowi-Mega dengan para duta besar tersebut, tentu kapasitasnya sebagai bagian dari CSIS [Centre for Strategic and International Studies]. Sudah banyak yang tahu bahwa CSIS merupakan lembaga pemikir Orde Baru yang memberikan masukan strategi ekonomi dan politik pada Soeharto. Tapi, yang belum banyak diketahaui adalah hubungan CSIS dengan organisasi fundamentalis Katolik bernama Kasebul [kaderisasi sebulan] yang didirikan oleh Pater Beek, SJ. Tentang apa dan bagaimana Kasebul itu, silakan baca tulisan saya di [[Tikus Merah]]

Pada awalnya, Kasebul didirikan untuk memerangi komunisme. Setelah komunisme [PKI] dihancurkan oleh Soeharto, tujuan Kasebul beralih melawan dominasi Islam. Pater Beek, seorang rohoniawan Jesuit kelahiran Belanda, melihat bahwa setelah komunis tumpas ada lesser evil [setan kecil], yaitu: Islam. Untuk menghancurkan setan kecil tersebut, Pater Beek menganjurkan kaum fundamentalis Katolik dalam Kasebul bekersama sama dengan Angkatan Darat.

Selain itu, guna menghadapi ancaman Islam perlu dibentuk lembaga pemikir yang bisa mempengaruhi kebijakan pemerintah. Maka kemudian dibentuklah CSIS. Pater Beek mempunyai pemikiran sebagaimana diungkapkan Ricard Tanter:

“Visi [Pater] Beek pibadi atas peran Gereja, Gereja harus berperan dalam mengatur negara kemudian mengalokasikan orang-orang yang tepat untuk bekerja di dalam dan melalui negara.”[1]

Atas visi tersebut maka tugas dibebankan pada CSIS. Lembaga ini menurut Daniel Dhakidae merupakan penggabungan antara politisi dan cendekiawan Katolik dengan Angkatan Darat. Lembaga inilah yang kemudian memasok dan menjaga agar Orde Baru menerapkan negara organik versi gereja pra konsili Vatikan II.[2]

Siapa sosok yang berperan dalam pendirian CSIS? Sosok tersebut adalah Ali Moertopo. Selama ini dikenal sebagai kepercayaan Soeharto, tapi kedekatannya dengan Pater Beek belum banyak terungkap Ali pertamakali bekerjasama dengan Pater Beek dalam operasi pembebasan Irian Barat. Berdasarkan catatan Ken Comboy, saat itu tugas Ali sebagai perwira intelijen.[3] Pada saat yang bersamaan, Pater Beek juga berada di Irian Barat. Ia menyamar sebagai guru. Tugas sebenarnya dari Pater Beek adalah menjaga agar proses pembebasan Irian Barat tetap menguntungkan kepentingan Amerika. Tugas ini berhasil. Sebagaimana kita ketahui, sampai saat ini Freeport masih menguasai tambang emas di Papua.

Setelah CSIS berhasil dibentuk oleh Ali Moertopo, tugas pelaksa harian diserahkan pada 3 kader Kasebul: Jusuf dan Sofian Wanandi serta Harry Tjan Silalahi. Menurut Mujiburrahman, Jusuf dan Sofian Wanandi merupakan kader utama Kasebul yang dididik Pater Beek. Sewaktu mahasiswa dan pergolakan politik tahun 1965, keduanya menjadi bagian penting dari PMKRI [Pergerakan Mahasiswa Katolik Indonesia]. Sedangkan Harry Tjan Silalahi kader Kasebul yang ditempatkan di Partai Katolik sebagai sekretaris jenderal.[4] Tiga orang inilah yang hingga sekarang menahkodai CSIS. Lewat lembaga inilah kebijakan anti Islam dijalankan.

Pater Beek memang piawai dalam usaha menghancurkan Islam. Ia tidak hanya memakai orang Katolik seperti Jusuf Wanandi dan Harry Tjan untuk melakukannya, tapi juga memakai orang Islam sendiri. Ali Moertopo, misalnya, ia tumbuh dari keluarga santri, tetapi lewat CSIS dan Operasi Khususnya justru mengobok-obok Islam. Sebut nama lain seperti Daoed Joesoef. Ia seorang muslim asal Sumatera Timur, tapi berhasil digunakan oleh Pater Beek untuk membuat kebijakan yang merugikan umat Islam. Sewaktu menjabat sebagai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, ia melarang sekolah libur pada hari Ramadhan dan siswi yang beragama Islam dilarang menggunakan jilbab.

Bahkan tidak hanya itu. Kader Pater Beek dalam Kasebul juga dilatih menyusup dengan pindah agama menjadi Islam. Sebut saja Ajianto Dwi Nugroho. Sewaktu masih mahasiswa di Fisipol UGM ia berpacaran dengan mahasiswa IKIP Yogyakarta [sekarang UNY] yang berjilbab. Sekarang ia menikah dengan janda beranak satu yang beragama Islam. Dan, Ajianto saat ini mempunyai KTP yang mencantumkan agamanya adalah Islam. Ajianto merupakan kader Kasebul generasi baru yang masuk dalam lingkaran jasmev pada era Pilkada DKI untuk memenangkan Jokowi. Sekarang ia bergabung dalam lingkaran PartaiSocmed dengan target menjadikan Jokowi sebagai presiden. Itulah kehebatan kader-kader Kasebul dalam menjalankan misinya.

Nah, kenapa tiba-tiba Jacob Soetoyo muncul? Tentu saja ini berkaitan dengan persaingan para cukong di lingkaran Jokowi sendiri. Sudah banyak diketahui, James Riyadi telah mendukung Jokowi sejak awal. Selain dikenal sebagai pengusaha papan atas, yang belum banyak diketahui, ia adalah pemeluk fundamentalis Kristen. Ia dikenal sebagai pemeluk Kristen Evangelis. Di Amerika, aliran ini dikenal radikal dan fundamentalis. Salah satu pengikutnya adalah adalah keluarga Bush. Sikap anti Islamnya sudah mendarah daging. Ketika menjadi presiden, George W. Bush memerintahkan pasukannya untuk membantai ratusan ribu umat Islam di Afghanistan dan Irak. Inilah yang dianggap sebagai ancaman oleh fundementalis Katolik dalam lingkaran CSIS. Apalagi James Riyadi secara atraktif lewat familinya, Taher, mendatangkan Bill Gates ke Indonesia dengan tujuan agar seolah-olah Jokowi mendapatkan dukungan dari pengusaha papan atas Amerika Serikat.

Sudah menjadi rahasia umum, walaupun sama-sama memusuhi Islam, antara fundamentalis Katolik dan fundamentalis Kristen terjadi permusuhan yang sengit [pandangan mereka yang Islamphobia tentu saja tak mewakili pandangan mayoritas umat Nasrani di Indonesia yang sebagian besar menghargai toleransi]. Melihat manuver James Riyadi yang sudah dianggap kelewatan, maka turun tangalah Jacob mewakili lingkaran CSIS. Rupanya James melupakan bahwa ada dua jaringan di Indonesia yang mempunyai hubungan kuat dengan Amerika Serikat: CSIS dan PSI [Partai Sosialis Indonesia]. Jaringan CSIS pun unjuk taring. Tidak tangung-tangung mereka mengumpulkan duta besar dari negara berpengaruh antara lain: Amerika Serikat, China dan Vatikan. Begitu kuatnya pengaruh CSIS sampai-sampai duta-duta besar tersebut mau berkumpul di rumah Jacob yang tidak dikenal sebelumnya. Saking berpengaruhnya pula, Megawati, seorang mantan Presiden RI, bersedia mengikuti skenario CSIS. Di sinilah perang di antara cukong-cukong pendukung Jokowi antara faksi James Riyadi [Kristen] dengan faksi Jacob/CSIS/kasebul [Katolik] mulai ditabuh. Mereka semua melihat bahwa Jokowi akan menang Pilpres sehingga masing-masing perlu menanamkan pengaruh sejak awal.

Manuver CSIS lewat Jakob ini tentu membuat resah kubu James Riyadi. Pasca pertemuan tersebut media dalam kendali James Riyadi mulai mengungkit-ungkit peranan CSIS sebagai lembaga yang pada era Soeharto ikut mengebiri PDI. Megawati diingatkan tentang fakta itu. Tujuan akhirnya tentu saja agar Mega dan Jokowi menjauh dari CSIS sehingga James Riyadi bisa dominan lagi. Tapi jangan sampai dilupakan bahwa kubu CSIS/Jusuf Wanandi mempunyai koran The Jakarta Post, sebuah koran berbahasa Inggris yang cukup berwibawa, yang bisa melakukan serangan balik. Kita tahu sendiri, sekali memberitakan bahwa Puan mengusir Jokowi dari rumah Megawati, peta politik di internal PDIP berubah dratis. Puan tiba-tiba hilang, Megawati seperti tak memikirkan lagi koalisi, dan Jokowi seperti anak kehilangan induk, ke sana-kemari mencari teman koalisi.

Tapi, jangan dilupakan faksi Partai Sosialis Indonesia [PSI]. Partai yang didirikan Sutan Sjahrir pada era Seokarno ini memang sudah tak ada, tapi kadernya sampai saat ini masih bergentanyangan. Tokoh-tokoh PSI seperti Goenawan Mohamad terang-terangan sudah mendukung Jokowi. Ia menggunakan jaringan-jaringan yang dimilikinya seperti Jaringan Islam Liberal [JIL], Tempo grup sampai orang-orang Kiri yang berhasil dikadernya seperti Coen Husein Pontoh dan Margiyono—dulu anggota PRD yang kemudian murtad dengan mendirikan Perhimpunan Demokratik Sosialis [PDS]; PDS ini pendiriannya tidak bisa dilepaskan dari sosok Goenawan Mohamad; pendeklarasian organisasi ini dilakukan di Teater Utan Kayu [TUK]—yang sekarang melakukan manipulasi-manipulasi terhadap ajaran Marxisme agar bisa dijadikan dalih untuk mendukung Jokowi. Semua itu satu komando untuk mendukung Jokowi.

Selain Goenawan, ada faksi PSI yang dikomandoi oleh Jakob Oetama dengan kelompok Kompas-nya. Mereka mempunyai media nasional yang sudah sejak lama telah menggoreng Jokowi lewat pemberitaan-pemberitaannya. Sebagai sesama Katolik, Kompas grup tentu bisa bekerjasama dengan kubu CSIS. Mereka sama-sama pernah dididik oleh Pater Beek. Bahu membahu antara keduanya tentu saja akan menghasilkan kekuatan yang besar dengan jaringan media yang sudah mengakar kuat.

Dari lingkaran PSI lainnya ada Yamin. Ia salah satu yang membidani kelahiran Seknas Jokowi. Sewaktu mahasiswa pada tahun 80-an, ia aktif di kelompok kiri Rode yang berada di Yogyakarta. Ia dekat dekat dengan tokoh PSI Yogyakarta, Imam Yudhotomo. Yamin disokong aktivis kiri era 80-an, Hilmar Farid. Ia dulu pernah terlibat dalam masa-masa pembentukan PRD. Mantan istrinya, Gusti Agung Putri Astrid, merupakan kader Kasebul yang banyak terlibat dengan aksi-aksi sosial pada era 90-an; ia sekarang menjadi caleg PDIP dari dapil Bali. Peran Hilmar adalah sebagai perumus strategi yang perlu diambil Seknas Jokowi menghadapi Pilpres.

Faksi PSI lainnya ada Fajroel Rachman. Ia dulu dikenal sebagai aktivis mahasiswa ITB. Ia dekat dengan tokoh PSI zaman Orde Lama, Soebadio Sastrosastomo. Kelompok Fajroel ini sebetulnya yang paling lemah karena tidak mempunyai koneksi apa-apa. Makanya ia hanya bergerak di media sosial saja dengan mengandalkan jumlah follower di akun twitternya.

Di antara faksi-faksi PSI tersebut, yang mempunyai hubungan kuat dengan Amerika Serikat adalah faksi Goenawan Mohamad. Sebagaimana ditulis oleh Wijaya Herlambang, Goenawan adalah agen CIA yang sudah dipekerjakan sejak akhir era Soekarno. Begitu kuatnya hubungan Goenawan dengan Amerika bisa dilihat ketika ia kalah dalam sengketa dengan pengusaha Tomy Winata, Dubes AS turun langsung untuk “mendamaikan” kasus tersebut agar tidak berlarut-larut. Goenawan pula yang dulu ikut memuluskan langkah Boediono menjadi wakil presiden. Sebetulnya ia ingin mendorong Sri Mulyani maju, tapi partai SRI tidak lolos. Goenawan dan Sri Mulyani memang dekat. Ketika Sri Mulyani diserang Ical dalam kasus Bank Century sampai akhirnya ia mundur sebagai Menkeu, Goenawan amat marah sampai-sampai mengembalikan Bakrie Award yang pernah diterimanya.

Silahkan mengobrak-abrik semua analisa politik, tetap saja penyokong utama Jokowi ada tiga itu: fundamentalis Katolik [CSIS/Kasebul], fundamentalis Kristen [James Riyadi dkk], dan faksi PSI [Goenawan Mohamad dkk]. Nah, mengapa mereka turun bersama-sama mendukung Jokowi?

Bangkitnya Islam politik tentu saja dianggap sebagai ancaman. Sepanjang Pemilu Orde Baru, perolehan suara partai Islam dalam Pemilu 2014 adalah yang terbesar. Suara PKB, PAN, PKS, PPP dan PBB bila digabungkan mengungguli partai-partai yang lain. Tentu saja yang dianggap yang paling berbahaya adalah PKS. Sebelum Pemilu, PKS sudah dikesankan oleh berbagai lembaga survei [termasuk CSIS] tidak akan lolos ke Senayan. Senyatanya mereka masih memperoleh suara 7 persen—yang bisa jadi jumlah kursinya bisa menduduki peringkat ke empat di Senayan.

PKS dikenal dengan kader-kadernya dari kalangan kelas menengah. Kader-kader mereka selain militan juga tidak anti terhadap pendidikan Barat. Bayak kadernya yang kuliah di Amerika Serikat, Inggris dan Eropa. Walaupun berpikiran modern, mereka dikenal taat menjalankan ajaran Islam, baik yang wajib maupun sunnah. Mereka juga dikenal melek teknologi, berbeda dengan dengan Taliban, misalnya. Inilah yang menakutkan bagi tiga pendukung Jokowi di atas kalau sampai PKS menjadi partai yang berkuasa. Oleh sebab itu, oleh kalangan PSI, baik faksi Goenawan Mohamad maupun faksi Fajroel, PKS yang menjadi sasaran serangan. Silakan amati sendiri serangan-serangan mereka terhadap PKS di media sosial. Kadang kala serangan terhadap PKS juga dilancarkan lingkaran Kasebul di lingkaran PartaiSocmed. Gampang saja, kalau ada serangan kepada PKS, lihat saja latar belakangnya, pasti akan berkaitan dengan tiga komponen di atas: fundamentalis Katolik dan Kristen, serta PSI [ dan orang-orang Kiri yang diperalat tiga penyekong Jokowi tersebut]

Agar tak menyatu, partai yang berideologi Islam dibuat bimbang. Para pengamat sudah mulai bekerja dengan berbagai argumentasi bahwa poros partai-partai Islam sulit untuk diwujudkan. Terutama PKS yang akan dijadikan target kebimbangan ini. Mereka tak begitu khawatir dengan PKB, misalnya. Sosok Muhaimin Iskandar sudah dikenal sebagai orang pragmatis. Gus Dur saja ia khianati, apalagi umat Islam. PAN dan PPP juga hampir serupa. Sementara PBB suaranya tak signifikan. Tinggal PKS yang sulit dikendalikan. Apalagi sampai saat ini PKS tak mau membicarakan koalisi.

Kalau PKS nantinya akan mendukung Prabowo, maka akan diserang habis-habisan sebagai partai yang menyokong pelanggar HAM berat. Ini merupakan sasaran tembak yang empuk bagi kalangan PSI untuk menyerang PKS. Semisal PKS mendukung Ical, maka akan dihantam sebagai partai yang mendukung partai warisan Orde Baru: Golkar. Sementara itu, bila PKS akan membentuk poros partai Islam, akan diadu domba dengan sesama partai Islam. Maka diarahkan PKS untuk mendukung Jokowi. Dukungan ini penting untuk memperlihatkan bahwa Jokowi yang didukung Amerika lewat tiga tangannya tadi mendapatkan legitimasi dari partai Islam yang ideologis, yaitu PKS. Maka oponi pun diarahkan dengan berbagai argumentasi agar PKS merapat ke Jokowi. Bila jebakan ini berhasil menjerat PKS sehingga kemudian mendukung Jokowi dan tak berhasil membangun poros sendiri, maka hanya satu kata:wassalam. Satu benteng itu telah runtuh.

Sebagai penutup, dari semua uraian di atas, Jokowi sebetulnya tidak lebih hanyalah boneka bunraku. Boneka tersebut dimainkan dalam pertunjukkan sandiwara Jepang untuk menghibur kalangan bangsawan. Dan, bangsawan-bangsanwan yang terhibur dengan boneka bunraku bernama Jokowi bila kelak menjadi presiden adalah: fundamentalis Katolik [CSIS/Kasebul], fundamentalis Kristen [James Riyadi dkk] dan PSI [Goenawan Mohamad dkk]—yang ketiganya merupakan kaki tangan ndoro-ndoro di Amerika Serikat sana.

Pertanyaannya: apakah kita akan memilih boneka bunraku untuk memimpin 250 juta lebih penduduk Indonesia?***

*] Sebagian bahan tulisan ini diambil dari buku saya: Pater Beek, Freemason dan CIA

**] Penulis tinggal di Malang, Jawa Timur.

  • [1] Tanter, Richard. 1991. Beek, Father J. van. SJ, Appendix 1 of his Intelligence, Agencies and Trid Word Militarization: A Case Study of Indonesia [PhD, thesis, MonashUniversity], Australia.
  • [2] Dhakidae, Daniel. 2003. Cendekiawan dan Kekuasaan dalam Negara Orde Baru, Gramedia Pustaka Utama, Jakarta.
  • [3] Comboy, Ken. 2007. Intel, Menguak Tabir Dunia Intelijen di Indonesia, Pustaka Primata, Jakarta.
  • [4] Mujiburrahman. 2006. Feeling Threatened Muslim-Cristian Relations ini Indonesia’s Worder, AmsterdamUniversity Press, Nederland.

Source: Tikus Merah

21 Tanggapan to “Orang-Orang Fundamentalis Katolik di Lingkaran Jokowi”

  1. Anonim said

    Logika tulisan yang anda bangun ngawur …..Kita tahu sendiri, sekali memberitakan bahwa Puan mengusir Jokowi dari rumah Megawati, peta politik di internal PDIP berubah dratis. Puan tiba-tiba hilang, Megawati seperti tak memikirkan lagi koalisi, dan Jokowi seperti anak kehilangan induk, ke sana-kemari mencari teman koalisi……..Karena Jokowi mencari teman koalisi itu bukan seperti anak ayam kehilangan induk, tetapi itu amanat PDIP…alias perintah Megawati..TOLOL

  2. Munafikun said

    analisa sepihak. Coba konfirmasi ke beberapa orang yg disebutkan, semisal< Fajroel dan Unawan Muahamad. Yg jelas penulis adalah dari PKS

  3. Paulus Nabi Palsu said

    Sebenarnya analisa pada artikel ini bukan RAHASIA UMUM lagi, baik para analis politik maupun para intelijen sudah mengetahui sepak terjang para virus dan parasit ini (kristen, katolik, sepilis) yang sengaja ditularkan dari sumbernya (Amerika dan dedengkotnya) untuk mengobok2x dan mengadudomba umat islam sekaligus membuat mundur umat islam agar mengikuti model permainan mereka yaitu demokrasi dan HAM sementara kita gontok2xan mereka berhappy ria merampok kekayaan alam kita, itulah rekayasa dan tipudaya mereka.

    Bahkan, sejak zaman penjajah dahulu, etnis cina dijadikan penduduk no.1 diatas kAum pribumi oleh Belanda sebagai pemasok segala kebutuhan maupun logistik Belanda sekaligus menjadi antek2x didalam memusuhi pejuang indonesia dgn timbal balik mereka menguasai perdagangan di indonesia.

    Ciri khas etnis cina pada zaman dulu adalah memelihara anjing dan anjing ini digunakan mereka untuk memburu para pejuang hingga lari ke hutan2x dan bergerilya karena penciuman anjing dapat mengetahui persembunyian mereka.

    Hanya ada segelintir etnis cina yg telah berasimilasi dgn kaum pribumi melalui pernikahan dan mereka pada umumnya muslim yg turut dimarginalisasikan oleh Belanda ikut berjuang melawan penjajah.

    Makanya Bung Karno dulu berencana memulangkan para pengkhianat ini ke negara asalnya tapi masih toleran dgn melarang etnis cina untuk mempunyai HAK MILIK tapi cuman HAK GUNA namun di era Suharto mereka dikasih HAK MILIK akhirnya 80 persen kekayaan alam kita dikuasai cina, waktu zaman Gus Dur lebih gila, kebudayaan diakui dan hari besarnya jd libur nasional, zaman SBY (suka bohong ya) mengubah istilah cina jadi tionghoa, apa gak makin ngelunjak para cina di indonesia, nanti jika jokowi menang apa gak mungkin indonesia disulap jadi penang atau singapore ke dua?

  4. Diwaspadai golongan kapir masuk ke Istana

  5. Anonim said

    hahahahahahahahahaha ngawur bianget tulisane pengen keliatan pinter tp keblinger

  6. ATSMOSFIR said

    INSYA ALLAH 220 JUTA DARI 250 JUTA UMAT ISLAM INDONESIA BANGUN DARI EGO DAN KEBODOHAN WARISAN DEVIDE ET IMPERANYA PENJAJAH BARAT DAN SIAP MENCOBLOS PARTAI ISLAM BESAR YANG LAHIR DARI KOALISI SEMUA PARTAI ISLAM DI INDONESIA.

  7. M Taufik said

    Herannya, hampir semua rezim, ada analisa yg selalu dikait2kan dgn CSIS, mulai dari Soeharto sampe SBY. Cari aja digoogle tuh. Nanti seandainya Rhoma Irama jadi Presiden, ada lagi analisa2 yg mengkait2kan dgn CSIS. Aneh otak udang

  8. LAGI-LAGI CHINA ,,,,,,,,,,LAGI-LAGI CHINA
    China sejak awal sudah diperalat Belanda untuk mengelabuhi Umat Islam di tanah Jawa dengan menggunakan seolah-olah ada Wali Suci yang keturunan bangsa China,mengajarkan ajaran Islam yang cinta Damai baik untuk penjajaha sekalipun, Sehingga umat Islam sampai sekarang masih kena efek dari sebuah opini yang digelontorkan oleh penjajah Belanda,

  9. Komentnya orang Gila,

    Anonymous berkata
    21/04/2014 pada 12:04

    Logika tulisan yang anda bangun ngawur …..Kita tahu sendiri, sekali memberitakan bahwa Puan mengusir Jokowi dari rumah Megawati, peta politik di internal PDIP berubah dratis. Puan tiba-tiba hilang, Megawati seperti tak memikirkan lagi koalisi, dan Jokowi seperti anak kehilangan induk, ke sana-kemari mencari teman koalisi……..Karena Jokowi mencari teman koalisi itu bukan seperti anak ayam kehilangan induk, tetapi itu amanat PDIP…alias perintah Megawati..TOLOL

  10. Generale presidium said

    sebaiknya jangan mengeneralisir suatu kaum. Orang tionghoa di Indonesia juga banyak yg miskin. Mereka juga banyak yg menjadi korban2 konglomerat, yg tanah2nya di serobot. Mereka juga tidak semuanya kristen atau katolik. Begitu juga dgn kaum kristen, katolik, islam dan agama lainnya. Tidak semua jahat atau baik. Tuhan telah mengizinkan selalu ada dua sisi. Baik dan Jahat, dan DIA juga menciptakan berbagai suku bangsa.

    Jadi marilah kita membuat sesuatu analisa yg hati-hati. Apakah semua konglomerat itu jahat?, Apakah semua orang miskin itu baik?. Apakah semua rakyat Amerika jahat?, apakah semua orang Arab, baik?. Apakah semua haji, baik ?. Apakah semua wanita yg memakai Jilbab itu, baik?, Apakah semua pendeta atau kyai itu, baik?.

    So marilah kita melihat sesuatu dengan kacamata yg berbeda, bukan dengan kacamata kuda.

    Semoga kita bercermin, dimana posisi kita.

  11. Ahmad said

    Maaf, tulisan diatas sangat menraik & mungkin saja ada benarnya, tapi perlu diingat bahwa yang dimaksud adalah “oknum” Fundamentalis Katolik. Adapaun mayoritas umat katolik di Indonesia yang sudah hidup damai selama ini tentu tidak termasuk. Jadi bedakan oknum fundamentalis dengan mayoritas umat katolik. Saya sebagai seorang muslim, tetap menganggap kita semua umat beragama adalah saudara sebangsa dan se tanah air.

  12. Tulisan yang sangat menarik dan saya setuju dengan semua analisanya.

  13. murdiq said

    saya setuju dengan komen no 10. Selalu ada 2 sisi, baik dan jahat, dimanapun, siapapun. Analisa diatas, menggiring opini seolah2 yg disebutkan adalah orang2 jahat. Komen no 3 dan 8 menggiring kebencian pada suatu suku bangsa (rasis).

    Yang kita perlu ingat, segala sesuatu bisa terjadi atas Izin Allah SWT, apapun itu. Dan Allah sudah lebih dulu tau. Analisa2 boleh saja, tapi apakah fakta dan data yang bicara ?. Apakah itu cuma hasil pikiran pribadi?.

    Siapa yg bisa menempatkan pemimpin didunia ini?. Suara Rakyat adalah suara Tuhan. Jangan pernah memaksakan keinginan atau kehendak pribadi, jika anda belum bertanya kepada Tuhan. Contoh lah Nabi Nuh,

    Tidak usah dihiraukan analisa2 model begini, jika kita adalah umat yang beriman. Siapapun pemimpin kita kelak, syukuri saja, karena Tuhan punya suatu rencanaNya.

  14. Paulus Nabi Palsu said

    Semua orang jg tau menurut hukum alam ada baik ada buruk, ada siang ada malam, ada panas ada dingin dsb.

    Namun dalam konteks artikel ini, sudah sangat jelas disebutkan objek pelakunya, jd bagaimana mungkin bila disebutkan mengeneralisasi sebab sudut pandangnya jelas bukan dengan kacamata kuda.

    Kedua, baik setiap kaum apapun itu didunia ini pasti memiliki kecenderungan sifat khas atau karakter misalnya Bani Israel yg didalam baik al kitab maupun al quran digambarkan Allah swt sebagai bangsa yg selalu ingkar namun juga disebutkan ada yg sholeh meskipun cuman segelintir.

    Nah, berangkat dari premis diatas dalam konteks mayoritas dapat digambarkan model kasus sebenarnya meskipun kita tidak menutup sisi baik dan positifnya.

    Berangkat dari analogi diatas, sudah menjadi fakta yg tak terbantahkan lagi disertai bukti2x yg otentik yg disodorkan penulis pd artikel ini adanya konspirasi jahat unt menguasai indonesia oleh pihak2x tertentu sebab dalam dunia politik tidak ada yg terjadi secara kebetulan melainkan semua sudah direncanakan dengan matang

    Jadi kesimpulanya gak ada asap kalo gak ada api.

    Gitu aza kok repot

  15. murdiq said

    mau siapa yg merancang dan sebagus atau serapih apapun, kalo Allah swt tidak mengizinkan, tidak akan terjadi. Sebaliknya, kalo diizinkan, ya terjadi. Saya mah masih punya Iman, bahwa segala sesuatu bisa terjadi dengan seizinNya.

  16. Wong Cilik said

    Pusing-pusing amat …………..
    Apapun ceritanya 200 juta dari 250 juta umat Islam Indonesia tinggal COBLOS PARTAI ISLAM kalau mau dipimpin oleh orang seiman. Gitu aja kok repot, mas.

  17. Anonim said

    wkwkwkw ini mah tulisan fitnah tak jelas, wkwkwkw.. terus km lihat adiknya si Prabowo apa? muslim? inget bos, PS saja yg muslim ya, keluarganya semuanya tuh kristen protestan, donaturnya aja si HT jg kristen, …….kalo mau buat berita + buat narik pengunjung, buat info yg bener jgn BARANG SAMPAH dijadiin info hanya buat cari pembaca, ampun

  18. […] pula dengan dikelilinginya Jokowi tsb oleh orang-orang KATOLIK Fundamentalis ANTI ISLAM ,para cukong-cukong “penghisap darah” dan juga Jokowi ini dikendalikan oleh megawati sebagai […]

  19. […] “PENCITRAAN” Jokowi itu, itu semua sudah dimenej dengan sangat rapi dan terencana oleh Orang-orang KAFIR,Cukong-cukong kotor dan politisi-politisi BUSUK PDIP yang ada dibelakangnya. Jokowi cuma bertugas “menjalankannya saja”, karena dia cuma […]

  20. Anonim said

    memang benar politik itu 50% mencurigakan,.sisanya ketidakpastian dan ketidakjelasan…

  21. denish said

    memang benar politik itu 50% mencurigakan,.sisanya ketidakpastian dan ketidakjelasan…

Komentar "PILIHAN" akan diambil menjadi artikel KabarNet.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: