KabarNet

Aktual Tajam

Cak Imin Pakabar ? Masih Ingat Kasus Kardus Durian ?

Posted by KabarNet pada 18/04/2014

Masih ingat kasus skandal kardus durian?.. Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Menakertrans) Muhaimin Iskandar pernah terlibat kasus suap terkait Dana Penyesuaian dan Infrastruktur Daerah (DPID) Kemenakertrans.

Tepatnya hari Kamis, tanggal 25 Agustus 2011, KPK melakukan penangkapan terhadap Sekretaris Direktorat Jenderal Pembinaan, Pembangunan Kawasan Transmigrasi (Ditjen P2KT) bernama I Nyoman Suisnaya, Kabag Program Evaluasi di Ditjen P2KT bernama Dadong Irbarelawan dan seorang pengusaha wanita bernama Dhanarwati di beberapa tempat berbeda. Dalam penangkapan tersebut, KPK menyita uang senilai Rp 1,5 miliar yang ditemukan dalam sebuah kardus durian.

Penyidik KPK menduga kuat bahwa uang sebesar Rp 1,5 miliar di kardus durian dari PT Alam Jaya Papua yang disita saat operasi tangkap tangan merupakan uang suap yang diperuntukkan bagi Muhaimin. Uang diberikan sebagai komitmen fee dari pengalokasian anggaran DPID empat daerah di Kabupaten Papua, yaitu Keerom, Manokwari, Mimika dan Teluk Wondama yang pengerjaannya dilakukan Alam Jaya Papua.

Fakta ini semakin terang saat Damianus Elly Sai, supir Dharnawati ketika bersaksi di pengadilan Tindak Pidana korupsi (Tipikor) Jakarta. Bermula saat dia mengantarkan majikannya, Dharnawati, untuk bertemu seseorang di Gedung Kemnakertrans, di kawasan Kalibata, Jakarta pada 25 Agustus 2011, hari yang sama dimana Dharnawati dan dua pejabat Kemnakertrans ditangkap oleh KPK.

Saat itu, Elly mengatakan, Dharnawati tak langsung ketemu pejabat itu, namun ke kantor BNI yang juga berada di komplek gedung Kemnakertrans tersebut. “Kemudian bu Nana perintah lagi, saya disuruh keluar cari kardus. Saya lalu cari di luar komplek kementerian,” kata Elly.

Dipilihanya kardus durian yang belakangan diketahui untuk menyimpan uang sebesar Rp1,5 miliar lantaran dirinya mengaku bingung harus mencari kemana, sampai Elly mengingat bahwa di seputar Kalibata banyak pedagang durian.

Kardus itu lantas diantarkan Elly ke majikannya yang menunggunya di pintu kantor BNI. “Lalu bu Nana perintahkan saya balik ke mobil dan tolong parkir mobil dekat pintu BNI. Setelah 10 menit ada satpam keluar bawa kardus tadi yang sudah dilakban rapih,” kata Elly.

Sesudah itu, Dharnawati lantas menghubungi pejabat Kemnakertans Dadong Irabelawan. Di sinilah kisah kardus durian berisi uang Rp1,5 miliar itu berlanjut. Dadong, ketika itu, memerintahkan anak buahnya bernama Dandan untuk mengambil bingkisan durian termahal itu. “Pak Dandan ngobrol sebentar dengan bu Nana. Akhirnya pak Dandan menghampiri saya, katanya tunggu saja di sini. Akhirnya pak Dandan masuk ke dalam (gedung). Nggak lama ada seseorang keluar menuju ke mobil yang akhirnya saya tahu kalau itu pak Dadong,” kata Elly……

Soal keterlibatan Muhaimin dalam kasus tersebut dikuatkan Hakim Pengadilan Tipikor. Dalam vonis terdakwa DPID, hakim memerintahkan penyidik KPK mendalami keterlibatan Muhaimin dalam kasus tersebut namun hingga kini kasusnya masih menggantung.

Saat itu kuasa Direksi PT Alam Jaya Papua Dharnawati menyebut permintaan uang datang langsung dari Muhaimin melalui Kepala Bagian Program dan Evaluasi Kementerian, Dadong Irbarelawan. Menurut Dadong, uang itu nantinya akan diserahkan kepada Muhaimin melalui Fauzi sebagai pihak yang diberikan wewenang oleh Muhaimin untuk berhubungan langsung dengan Ketua Umum PKB.

Muhaimin sempat memerintahkan agar Dadong Irbarelawan dan I Nyoman Suisnaya menyimpan uang dari Dharnawati sebesar Rp1,5 miliar. Hal itu terungkap dalam surat dakwaan terdakwa Dharnawati, Kuasa Direksi PT Alam Jaya Papua yang dibacakan dalam sidang perdananya di Pengadilan Tipikor.

Setelah dirinya diberitahu oleh Dadong Irbarelawan, Kabag Perencanaan dan Evaluasi di Ditjen P2KT bahwa akan ada pencairan dana Rp1,5 miliar yang merupakan bagian dari commitment fee yang disimpan dalam buku tabungan BNI milik Dharnawati yang disimpan Dadong.

Uang pun dicairkan sebesar Rp1,5 miliar dalam bentuk tujuh bendel atau 7.000 lembar uang kertas tunai pecahan Rp100 ribu dengan total Rp700 juta dan 16 bendel atau 16 ribu lembar pecahan Rp50 ribu dengan total Rp800 juta yang dimasukkan dalam kardus durian dan disimpan dalam mobil Avanza milik Dharnawati.

Kronologi Pencairan Dana Buat Muhaimin
Uang hadiah sebesar Rp2.001.384.328.- yang diberikan kepada Sesditjen P2KT I Nyoman Suisnaya, diberikan Dharnawati yang ditampung dalam sebuah buku tabungan Taplus BNI lengkap dengan kartu ATM dan nomer pinnya. Uang itu disebut diperuntukkan untuk Menakertrans, Muhaimin Iskandar. Hal itu terungkap dalam surat dakwaan Sesditjen nonaktif I Nyoman Suisnaya yang dibacakan dalam persidangan perdana di Pengadilan Tipikor, Jakarta, Rabu 16 November 2011.

Diuraikan secara bergantian oleh tim Penuntut Umum KPK yang diketuai Zet Tadung Allo, Dharnawati memberikan buku rekening dengan saldo sebesar Rp501 juta kepada terdakwa, menyusul mendapat informasi Menkeu dan Badan Anggaran DPR RI sudah menyetujui pengalokasian pagu anggaran DPPID TA 2011 bidang Transmigrasi untuk 19 kabupaten. Empat kabupaten di antaranya yang diminta Dharnawati yaitu Kabupaten Mimika, Keerom, Manokwari, dan Teluk Wondama sebesar Rp73,168 miliar.

Beberapa waktu kemudian, Nyoman kembali menghubungi Dharnawati melalui layanan pesan singkat meminta agar segera direalisasikan commitment fee sebesar Rp7,3 miliar. Atas permintaan itu, Dharnawati lalu menemui anak buah Nyoman, Dadong Irbarelawan untuk meminta buku tabungan guna melakukan pemindahbukuan.

Kemudian bertempat di Bank BNI Cabang Kemenakertrans di Kalibata, Dharnawati melakukan pemindahbukuan sebesar Rp1 miliar ke nomor rekening yang diserahkan ke Dadong. Pemindahbukuan kembali dilakukan sebesar Rp500 juta sehingga total saldo dalam buku tabungan adalah Rp2.001.384.328.-. Uang itu, kemudian dicairkan sebesar Rp1,5 miliar pada 23 Agustus 2011……

Dharnawati Didakwa Menyuap Muhaimin Iskandar

Dharnawati didakwa memberikan suap kepada Menakertrans, Muhaimin Iskandar, I Nyoman Suisnaya, Dadong Irbarelawan dan Jamaluddien Malik sebesar Rp 2.001.384.328.

Menurut Jaksa Penuntut Umum (JPU) Malino dalam sidang di Pengadilan Tipikor Jakarta, Rabu 16 November 2011, pemberian tersebut dimaksudkan agar PT Alam Jaya Papua ditunjuk sebagai kontraktor pembangunan KTM di empat wilayah di Papua dengan total anggaran Rp 73 miliar. Atas perbuatannya tersebut, Jaksa Malino mengatakan Dharnawati didakwakan dengan dua dakwaan. Dakwaan pertama, melanggar Pasal 5 ayat 1 huruf b UU Tipikor. Dakwaan kedua, melanggar Pasal 13 UU Tipikor.

Dalam dakwaan terhadap Dharnawati juga terkuak bahwa atas arahan Muhaimin Iskandar uang sebesar Rp 1,5 miliar dari Dharnawati disimpan terlebih dahulu oleh Nyoman dan Dadong. “Fauzi mengatakan atas arahan Menakertrans supaya uang disimpan dulu oleh Nyoman dan Dadong. Karena sudah tercium oleh wartawan,” kata

Kasus ini berawal dari tertangkapnya Dharnawati, Dadong, dan Nyoman. Bersamaan dengan itu, disita uang dalam kardus durian Rp 1,5 miliar. Dharnawati berkilah bahwa uang itu bukan “commitment fee” untuk Kemennakertrans, melainkan pinjaman untuk menteri Muhaimin membayar tunjangan hari raya (THR). Kasus ini juga melibatkan Ali, Fauzi, Sindu Malik, dan pengusaha Iskandar Pasojo alias Acos.

Muhaimin Disebut Minta Duit Lewat Dani Nawawi

Kamis, 02 Februari 2012 | 04:58 WIB
TEMPO.CO, Jakarta: Pengusaha Iskandar Pasojo alias Acos memberi kesaksian bahwa Dani Nawawi, orang yang mengaku sebagai staf khusus presiden, pernah meminta uang kepadanya atas nama Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Muhaimin Iskandar. Uang itu sebagai commitment fee lolosnya empat kabupaten di Papua menerima dana Percepatan Pembangunan Infrastruktur Daerah yang dikerjakan PT Alam Jaya Papua.

“Ada permintaan dari Menteri,” ujar Acos mengutip perkataan Dani dalam sidang Pengadilan Tindak Pidana Korupsi. Acos dihadirkan sebagai saksi untuk terdakwa I Nyoman Suisnaya, Sekretaris Jenderal Direktorat Pembinaan dan Pengembangan Kawasan Transmigrasi.

Acos menyebut Dani bertugas menjadi penghubung antara pengusaha dan pihak Kementerian Transmigrasi. Dialah yang mempertemukan kuasa direksi PT Alam Jaya Papua, Dharnawati alias Nana (kini terpidana), dengan terdakwa Nyoman Suisnaya serta Kepala Bagian Evaluasi dan Perencanaan Dadong Irbarelawan.

Kepada majelis hakim, Acos mengungkapkan, permintaan fee dari Dani itu disampaikan di ruangan kerja Nyoman Suisnaya. Ia tak menyebutkan kapan peristiwa itu terjadi. “Uangnya (untuk Menteri Muhaimin) diserahkan ke Nyoman saja,” ujar Dani seperti ditirukan Acos.

Kasus ini terbongkar saat Komisi Pemberantasan Korupsi menangkap Nyoman bersama Dadong dan Dharnawati di kantor Kementerian Transmigrasi. Saat penangkapan, KPK menyita uang Rp 1,5 miliar dalam kardus durian. Kata Acos mengutip Dharnawati, uang tersebut diminta Nyoman dan Dadong untuk kebutuhan Lebaran Menteri Muhaimin. Acos meyakini kebenaran keterangan Dharnawati.

Seperti diketahui, uang sebesar Rp 1,5 miliar tersebut diberikan Nana untuk memuluskan perusahaan memenangi tender proyek infrastruktur di empat kabupaten di Papua. Nilai proyek yang digarap Dharnawati mencapai Rp 73 miliar dari total nilai proyek Rp 500 miliar untuk 19 kabupaten di seluruh Indonesia.

Dalam dokumen pemeriksaan yang diperoleh Tempo pada pertengahan April 2011, Nyoman dan Dadong bertemu dengan Nana dan Dani di ruangan kerja Nyoman. Berdasarkan kesaksian Dharnawati, Dani lalu memperkenalkan diri sebagai staf khusus Presiden bagian Tim Penilai Akhir dan datang karena ditugaskan oleh Menteri Muhaimin.

Dani telah beberapa kali diperiksa KPK. Kepada wartawan, setelah ditanya penyidik Oktober tahun lalu, ia membeberkan uang dalam kardus durian itu memang akan diberikan kepada Muhaimin. Ia mengaku informasi itu diperoleh Dharnawati dari Nyoman dan Dadong.

“Dalam narasi permintaannya adalah untuk menanggulangi, jadi mohon ditalangi untuk menanggulangi kebutuhan THR Pak Menteri,” kata Dani. Muhaimin Iskandar berulang kali membantah keterlibatan dirinya. Menurut dia, namanya hanya dicatut oleh para terdakwa. “Kasus penyuapan yang dilakukan tidak terjadi sama sekali, tidak ada kaitan dengan saya,” kata Muhaimin setelah menjalani pemeriksaan penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi di kantor KPK, Senin 3 Oktober 2011.

Kepada Tempo sebelum sidang, Nyoman Suisnaya mengatakan Muhaimin menerima fee proyek itu melalui staf khususnya, Ali Mudhori. “Yang saya tahu, Ali menerima uang 1 miliar lebih dari Sindu Malik,” ujarnya. Pemberian uang, kata dia, dilakukan di lantai dua gedung Kementerian Transmigrasi, Kalibata, Jakarta. Menurut Nyoman, Muhaimin tak mungkin tak tahu orang dekatnya menerima uang proyek di kementeriannya.

ADA JATAH UNTUK “BOS BESAR”

Pada Jumat, 2 Maret 2012, terungkap rekaman pembicaraan antara Ali Mudhori dan M Fauzi kembali diputar dalam persidangan kasus dugaan suap program Percepatan Pembangunan Infrastruktur Daerah (PPID) Transmigrasi di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi, Jakarta, Dari rekaman itu terungkap, ada jatah “commitment fee” untuk “BOS BESAR”. M Fauzi dan Ali Mudhori adalah orang yang berperan aktif dalam upaya permintaan sejumlah uang kepada PT Alam Jaya Papua.

Sebutan “BOS BESAR” merupakan kode bagi Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi, Muhaimin Iskandar. Ali adalah mantan anggota Dewan Perwakilan Rakyat asal fraksi Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) dan pernah menjadi anggota tim asistensi Menakertrans. Adapun Fauzi adalah staf DPP PKB yang juga pernah ikut dalam tim asistensi.

Dalam rekaman pembicaraan yang terjadi 13 Agustus 2011 itu, Ali dan Fauzi membicarakan rencana penyerahan uang “commitmnt fee” dari pengusaha Dharnawati, terpidana 2,5 tahun pada kasus ini. “Saya sudah sepakat dengan Dadong dan Nyoman, langsung ke sampean. Pak Malik hanya laporan. Yang mereka takuti ini, haknya ‘BOS BESAR’ akan dikurangi, itu yang ditakutkan,” kata Ali. Dadong dan Nyoman menjadi terdakwa dalam kasus ini.

Saat ditanya siapa yang dimaksud BOS BESAR itu, Ali berkelit. Menurutnya, bos besar dalam rekaman tersebut adalah Sindu Malik. “Pengertian bos besar seperti yang saya bilang kemaren, Sindu Malik,” katanya.

Namun, dalam berita acara pemeriksaan yang dibuat saat Ali diperiksa penyidik KPK, dia mengakui bahwa “BOS BESAR” itu adalah Muhaimin Iskandar. Kutipan BAP Ali tersebut kemudian dibacakan jaksa Muhibuddin. “Dalam percakapan tersebut, saya katakan Fauzi, kalau ada perintah ‘BOS BESAR’ (Muhaimin), ‘Sampaikan ke saya dulu, jangan langsung ke Nyoman dan Dadong.’ Muhaimin menyampaikan, ‘Uang dipegang Dadong Nyoman dulu, jangan diberi siapa-siapa,” kata jaksa Muhibuddin menirukan Ali Mudhori dalam BAP…

———————

MUHAIMIN TERIMA SUAP RP 500 JUTA

Muhaimin Iskandar diduga telah menerima uang Rp500 juta dari Yan Mulia Abidin, sebagai imbalannya, Menteri Transmigrasi dan Tenaga Kerja tersebut akan menjadikan Soni Sumarsono, putra Yan Mulia menjadi Dirjen Pos & Telekomunikasi.

Kuasa hukum Yan Mulia Abidin, Andar M Situmorang mengatakan dana Rp500 juta tersebut diminta Muhaimin untuk keperluan Muktamar Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) pada 2005. Sebagai imbalannya, Soni Sumarsono akan dipromosikan Muhaimin menjadi Dirjen Postel.

Muhaimin juga berjanji, apabila Soni Sumarsono gagal menjadi Dirjen Postel, uang tersebut dikembalikan utuh, seperti bukti terlampir. Namun hingga saat ini, janji untuk mengembalikan dana Rp500 juta tidak pernah terealisir.

Andar M Situmorang (kuasa hukum Yan Mulia Abidin): Muhaimin sejak tahun 2000 sudah bakat penipu. Terima suap Rp500 juta alasan untuk biaya Muktamar PKB di Surabaya. Berbohong, janji tinggal janji promosikan jabatan kepada Jend TNI Purn Soni Sumarsono jadi Dirjen Postel di era Gus Dur. Uang diterima disaksikan nama-nama (sebagaimana terlampir) tersebut dan bukti petunjuk titipan Rp100 juta. Uang titipan di terima Muhaimin dan Said Agil Sirajd dalam waktu bersamaan) masing-masing Rp500 juta dan Rp100 juta. [Dok KabarNet]

2 Tanggapan to “Cak Imin Pakabar ? Masih Ingat Kasus Kardus Durian ?”

  1. taUbat said

    PKB BERHARAP DILIBATKAN DALAM PENENTUAN CAWAPRES JOKOWI

    SABTU, 10 MEI 2014 23:07 WIB

    JAKARTA (ANTARA NEWS) – PARTAI KEBANGKITAN BANGSA (PKB) BERHARAP DILIBATKAN DALAM PENENTUAN CALON WAKIL PRESIDEN PENDAMPING JOKO WIDODO YANG BIASA DISAPA JOKOWI, SETELAH RESMI BERKOALISI DENGAN PARTAI DEMOKRASI INDONESIA PERJUANGAN (PDIP).

    “PKB BERHARAP SETELAH PENETAPAN DUKUNGAN KEPADA JOKOWI DAN BERKOALISI DENGAN PDIP INI, SEMUA KEPUTUSAN STRATEGIS BAIK SOAL STRATEGI PEMENANGAN DAN PENENTUAN CAWAPRES DAPAT DIBAHAS BERSAMA ANTARPARTAI KOALISI PENDUKUNG JOKOWI,” KATA KETUA UMUM PKB MUHAIMIN ISKANDAR DALAM KETERANGAN TERTULISNYA HARI INI.

    MUHAIMIN MENYEBUTKAN, KOALISI DENGAN PDIP SEBAGAI KERJA SAMA DALAM KEBERSAMAAN KARENA SEMUA PROSES DAN LANGKAH KE DEPAN AKAN DIDISKUSIKAN BERSAMA ANTARA PDIP DAN PKB.

    “DEMIKIAN JUGA SOAL KABINET, NANTINYA BUKAN LAGI KITA SEBUT MENTERI PKB ATAU PDIP TAPI MENTERINYA PRESIDEN TERPILIH SEBAGAI HASIL DARI PEMBICARAAN DAN UJI KEPATUTAN ANGGOTA KOALISI,” KATANYA.

    MUHAIMIN MENEGASKAN KEPUTUSAN PKB BERKOALISI DENGAN PDIP YANG DIPUTUSKAN DI PESANTREN TARBIUATUNNASYIIIN, PACUL GOWANG, JOMBANG, JAWA TIMUR YANG DIASUH KETUA DEWAN SYURO PKB KH AZIS MANSYUR ITU MERUPAKAN KEPUTUSAN YANG DISEPAKATI BERSAMA SEGENAP PENGURUS PKB.

    “KAMI SEMUA BULAT DAN SEPAKAT MENDUKUNG JOKOWI DAN KAMI PILIH SEBAGAI CAPRES PKB KARENA DIA MENAWARKAN MODEL KEPEMIMPINAN EGALITER YANG TIDAK BERJARAK DENGAN RAKYAT,” KATANYA.

    MENURUT MUHAIMIN, POLA SEPERTI ITU SEKARANG SANGAT DIBUTUHKAN RAKYAT KARENA PEMBANGUNAN DI NEGERI INI MEMBUTUHKAN PARTISIPASI RAKYAT YANG BISA MUNCUL KALAU TIDAK ADA JARAK LAGI ANTARA PEMIMPIN DENGAN RAKYATNYA.

    “KAMI MENGISTILAHKAN DENGAN PEMBANGUNAN BANGSA LAHIR BATIN UNTUK INDONESIA YANG HEBAT,” TUTUPNYA.

    JAFAR M SIDIK

    http://www.antaranews.com/berita/433638/pkb-berharap-dilibatkan-dalam-penentuan-cawapres-jokowi

  2. taUbat said

    PKB MANTAP KOALISI DENGAN PDIP, KOALISI “PARTAI ISLAM” MAKIN JAUH TEREALISASI

    SUNDAY, MAY 11TH, 2014 – 06:41 AM

    JAKARTA (KOMPASISLAM.COM) – UPAYA SEJUMLAH TOKOH DAN PARA PETINGGI ORMAS ISLAM UNTUK MEMBUAT KOALISI PARTAI POLITIK (PARPOL) “ISLAM” MAKIN JAUH TEREALISASI DAN SEMAKIN JAUH DARI HARAPAN.

    PASALNYA, SALAH SATU PARPOL BERBASIS MASSA ISLAM YANG MEMPUNYAI PEROLEHAN TERTINGGI DALAM PILEG 9 APRIL LALU DARI PARPOL “ISLAM” LAINNYA, YAKNI PKB LEBIH MANTAP BERKOALISI DENGAN PDI PERJUANGAN (PDIP) YANG BERHALUAN NASIONALIS SEKULERIS.

    PARTAI KEBANGKITAN BANGSA (PKB) AKHIRNYA SECARA RESMI MENGUMUMKAN BAHWA MEREKA AKAN BERKOALISI DENGAN PDIP DAN MENGUSUNG CALON PRESIDEN (CAPRES) JOKO WIDODO (JOKOWI).

    KEPUTUSAN ITU DIAMBIL SETELAH MELAKUKAN RAPAT PLENO BERSAMA ANTARA JAJARAN DEWAN TANFIDZ DAN DEWAN SYURO DPP PKB DI PONDOK PESANTREN (PONPES) TARBIYATUNNASYIIN PACUNG GOWANG, JOMBANG, JATIM YANG DIHADIRI SEMUA PIMPINAN PKB.

    “KEPUTUSAN INI DIDASARKAN ATAS MASLAHAT KEBANGSAAN DAN KESEJAHTERAAN RAKYAT. PKB MEYAKINI JOKOWI AKAN MAMPU MENJAGA TEGAK DAN UTUHNYA NKRI, PELAKSANAAN ISLAM AHLU SUNNAH WAL JAMA’AH DAN PENINGKATAN KESEJAHTERAAN RAKYAT SELURUH INDONESIA,” KATA KETUA UMUM (KETUM) PKB, MUHAIMIN ISKANDAR DALAM PERNYATAAN PERS KEPADA MEDIA, SABTU (10/5/2014).

    MENURUT PRIA YANG AKRAB DISAPA CAK IMIN INI, KEPUTUSAN PKB DALAM MENDUKUNG JOKOWI JADI CAPRES DAN PILIHAN BERKOALISI DENGAN PDIP SEMATA-MATA KARENA INGIN MENCIPTAKAN PEMERINTAHAN YANG KUAT DAN BERWIBAWA SERTA EFEKTIF BAGI PEMBANGUNAN DAN PENINGKATAN KESEJAHTERAAN RAKYAT.

    CAK IMIN JUGA BERKILAH JIKA PILIHAN PKB BERKOALISI DENGAN PARTAI YANG BERHALUAN NASIONALIS SEKULERIS ITU DIDASARKAN OLEH MASUKAN DARI PARA KYAI, PENGURUS DPP, DAN KONSTITUEN PKB YANG DIMINTAI PANDANGANNYA.

    YANG LEBIH ANEH, CAK IMIN BERKATA JIKA BERSATUNYA PKB DAN PDIP KARENA ANTAR PEMIMPIN, ELIT, KYAI DAN TOKOH SERTA BASIS MASSA PKB DAN PDIP INI SUDAH TERJALIN BAIK SEJAK JAMAN REVOLUSI KEMERDEKAAN BANGSA INI.

    JOHN MUHAMMAD | KHALID | DBS

    http://www.kompasislam.com/2014/05/11/pkb-mantap-koalisi-dengan-pdip-koalisi-partai-islam-makin-jauh-terealisasi/

Komentar "PILIHAN" akan diambil menjadi artikel KabarNet.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: