KabarNet

Aktual Tajam

Banyak Utang, Caleg Gagal Mulai Diburu Debt Collector

Posted by KabarNet pada 13/04/2014

Jakarta – KabarNet: Meski hasil pileg belum resmi keluar dari KPU. Namun para caleg sudah bisa memperkirakan perolehan suaranya. Mereka yang sudah tahu tidak lolos langsung menghilang dari kediamannya. Sebab, mereka takut ditagih oleh ‘debt collector’ atas pinjaman dana yang mereka gunakan untuk kampanye lalu.

Seorang caleg DPR RI dari dapil Jawa Timur, H Suwiknyo dilaporkan ke Mabes Polri oleh pasangan Romy Kurniawan dan Dewy AR karena menghilang saat ditagih utang sebesar Rp 1,42 miliar.

Muncul dugaan, Suwiknyo hilang karena sudah menghabiskan uang yang dia pinjam untuk kampanye. Suwiknyo adalah wiraswasta dan mencalonkan diri dari Partai Keadilan dan Persatuan Indonesia (PKPI). “Utangnya mencapai satu miliar empat ratus dua puluh lima juta rupiah. Hingga saat ini kami tidak mengetahui keberadaannya. Padahal, kami sudah menempuh jalur kekeluargaan agar utang dilunasi, namun Suwiknyo malah menghilang. Pihak keluarga juga tidak ada iktikad baik, maka langkah melapor ke Mabes Polri akan kami tempuh,” kata Romy kepada Wartawan di Jakarta.

“Istrinya juga tidak memberitahukan di mana keberadaannya, terkesan menutup-nutupi. Sudah lebih dari lima kali saya mendatangi rumahnya, tapi istrinya sendiri tidak kooperatif, Suwiknyo sengaja menghilangkan kontak sejak Oktober 2013, nomornya sudah tidak bisa dihubungi,” ujar Dewy yang mendampingi suaminya.

Romy menjelaskan, data yang ia terima, H Suwiknyo S.Pd tinggal di Dasana Indah Pesona Dewata III, Bojong Nangka, Kabupaten Tangerang. Suwiknyo sempat ingin menjadi caleg Nasdem, kemudian Hanura, hingga akhirnya setelah ditelusuri, ia terdaftar sebagai caleg dari PKPI.

Kabarnya, kata Romy, sudah banyak korban Suwiknyo. “Sebelum dia menghilang pada Oktober 2013 dia sempat mau pinjam lagi, untungnya istri saya mengingatkan sudah, sudah cukup,” pungkas Romy kesal.

Selain Suwiknyo, banyak caleg juga yang tidak berani pulang ke rumah lantaran tak bisa membayar uang saksi yang diordernya menjaga TPS.

Seorang caleg, Junaidi, mengaku mengaku kerap mendapat telepon dan menerima pesan singkat dari para saksi. Ia sebenarnya ingin melunasi honor saksi. Hanya saja, ia tidak punya uang. Apalagi, berdasarkan penghitungan internal, ia kalah. “Sekarang kami terpaksa harus menginap di rumah ketua partai,” jelasnya.

Caleg Gagal Banyak Utang Di Bank
Mantan Ketua Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) Yunus Husein menyatakan ada fenomena unik saban mendekati pemilihan umum (Pemilu). Banyak bank akan mengalami persoalan nasabah yang gagal membayar pinjaman (non-performance loan).

Menurut Husein, tidak sedikit calon anggota legislatif (caleg) partai politik mencari dana kampanye dari perbankan. Karena mereka belum tentu terpilih, akhirnya ada yang tidak bisa melunasi kreditnya. “Di Indonesia pinjaman caleg relevan dibicarakan karena sistem pemilihannya high cost, caleg untuk menang dia pinjam uang ke bank,” ujarnya.

Kasus yang mengganggu kesehatan perbankan ini melibatkan pula kejahatan kerah putih. PPATK di era Yunus mencatat banyak kepentingan memainkan pinjaman, dengan menekan direksi bank. “Termasuk juga kejahatan perbankan seperti penggelapan, sampai pemalsuan kredit memang meningkat menjelang Pemilu,” kata Yunus.

Kebetulan pula, setiap pemilu selalu ada bank yang mengalami masalah dan akhirnya bangkrut. Kasus itu misalnya Bank Bali pada 2004, lantas Bank Century pada 2008.

Yunus memastikan, aliran dana tidak wajar maupun pinjaman yang bermasalah memang selalu terlacak jelang pemilu. Hal itu pun sempat merepotkan Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN). “Misalnya pada waktu Bank Bali, dan kasus Bank BNI 2003-2004, indikasinya ada yang cari-cari masalah, lantas tagihannya nyangkut di BPPN,” ungkap pria yang kini menjadi Direktur Analisis Sumber Daya Manusia, Bank Indonesia ini.

Sementara Guru Besar Psikologi Politik Universitas Indonesia, Hamdi Muluk mengatakan, para caleg gagal tersebut rawan stres terutama bila mereka sudah menghabiskan uang banyak selama berkampanye. Biasanya, tambah dia, tekanan tersebut lebih besar karena menahan rasa malu jika tidak lolos menjadi wakil rakyat. “Sudah banyak modal dan terlalu percaya diri menjadi pemenang ternyata tidak terpilih, ini dapat menimbulkan stres,” katanya.

Hamdi mengatakan, caleg stres bisa terlihat dalam sepekan setelah pemilu legislatif 2014. “Berdasarkan pengalaman pada Pemilu Legislatif 2009, para caleg mulai mengalami depresi sepekan setelah pemungutan suara,” kata Hamdi.

Hamdi juga mengatakan, di Indonesia, politik dan uang belum bisa dipisahkan. Dia mencontohkan, demi sebuah jabatan atau menjadi anggota dewan seseorang rela mengeluarkan uang miliaran rupiah. Celakanya tak semua uang yang disebar merupakan dana pribadi, ada sebagian yang merupakan utang.

Akibatnya calon yang gagal terpilih banyak yang mengalami stres. Apalagi mereka yang telah mengeluarkan uang hingga miliaran rupiah. “Mereka itu ngutang gila-gilan dan banyak ngomong sosialisasi ke masyarakat. Kalau enggak siap mental dan resikonya ya stres. Mereka enggak realistis dan enggak ngukur kemampan sendiri. Itu masalahnya,” kata Hamdi.

Masih Utang Dipercetakan
Sejumlah caleg yang sedang bertarung dalam Pemilu 9 April 2014 belum melunasi tagihan order percetakan materi kampanye yang mereka pesan kepada beberapa percetakan. “Baru kasih DP tapi belum lunasi, janjinya setelah pencoblosan akan dilunasi,” kata pelaku usaha percetakan di kawasan Bungur Senen, M. Irsyad.

Hanya saja, ungkapnya, hingga sehari menjelang pencoblosan di Tempat Pemungutan Suara (TPS), para caleg yang memiliki utang order pesanan atribut alat peraga kampanye tersebut belum juga melunasi tagihannya.

Untungnya, kata dia, saat meminta DP pada caleg-caleg tersebut, nilainya cukup tinggi, sehingga biaya pembuatan alat peraga kampanye yang dipesan itu bisa teratasi. “Tapi, keuntungannya belum ada. Bahkan, modalnya juga tidak cukup,” keluhnya.

Hal yang sama juga dialami pemilik percetakan lainnya. Menurut pengusaha digital printing ini, jumlah caleg yang memiliki tagihan dari order baliho tanda gambar yang dipesan di percetakan tersebut ada sekitar puluhan orang. Seperti rekan seprofesinya tadi, pengusaha ini juga telah mengantisipasi hal tersebut dengan meminta uang muka tinggi kepada pemesan. “Kami bersama rekan-rekan percetakan berharap caleg yang memesan ratusan lembar baliho itu terpilih agar dapat melunasi utangnya kepada kami,” bebernya.

Ia mengatakan, sebenarnya uang muka yang diminta sudah mampu menutupi biaya operasional. “Kalau mintanya 100 lembar, uang muka bisa menutupi biaya operasional. Kalau jujur sebenarnya tidak rugi. Semakin pesan banyak biaya cetak semakin murah,” katanya.

Sementara Suharta pemilik usaha percetakan offset Suryajaya di Bungur, Senen, Jakarta Pusat, mengatakan order dari caleg dan partai politik sudah diterima lunas bayarannya. “Aman sudah lunas semua, dibayar di muka,” katanya.

Ditegaskan, dari awal sudah bertekad untuk tidak mengerjakan order materi pemilu bila tidak dibayar terlebih dahulu. Suharta mengaku belajar dari rekan-rekan seprofesinya pada pemilu lalu ketika banyak dari usaha percetakan bangkrut gara-gara tagihan order tidak dibayar lunas.

Rekan Suharta yang juga bekerja di usaha percetakan di wilayah Bungur, Senen, Budi mengatakan order materi kampanye pemilu kali ini tidak sebanyak pemilu lima tahun lalu. “Dibanding Pilkada DKI malah ramai yang Pilkada DKI. Sekarang sepi, mungkin karena sudah banyak saingan di daerah-daerah ya,” katanya.

Lima tahun lalu, usahanya banyak mendapatkan pesanan dari caleg-caleg, bahkan parpol dari luar daerah, bahkan hingga Makassar dan Maluku. Untuk pemilu tahun ini, dia hanya mengerjakan pesanan untuk caleg dari wilayah DKI Jakarta. “Kalau omzet ya naik pastinya, ya sekitar 10-20 persen nambah dibandingkan hari biasa,” tambahnya. [KbrNet/Slm]

Source: nonstop-online.com

2 Tanggapan to “Banyak Utang, Caleg Gagal Mulai Diburu Debt Collector”

  1. M Nuh vs Tyson: Dilema UN Dalam kondisi ketidak merataan, buruknya mutu dan infrastruktur, UN dgn biaya mahal itu sama dgn org blm punya celana dan baju tapi sdh pakai dasi.

    Sudah tahu semua sekolah mengerjasamakannya. Kepala daerah akan marah kpd kadis dikbud jika capaian rata-rata rendah. Kepala sekolah bisa terancam.

    Ada polisi dan ada pemantau. Semua mereka berhonor dan aganya hanya itu yang dipentingkannya krn mrk pun tahu yg mrk kerjakan adalah proyek senu nasional.

    Bukan tdk perlu mengetahui hasil belajar siswa secara nasional dan jika hanya itu tujuannya beri saja setengah milyar kpd dua lembaga survey, mereka akan memberimu data valid yg tepat utk menjadi dasat pengambilan kebijakan.

    Prioritas negara dlm pendidikan adalah mentransfer iptek. Kerjakanlah proses itu sebaik-baiknya dan jgn utamakan ujian sbg skala prioritas. Gila jugalah kau menguji sebuah standar utk semua org yg berbeda proses dan perlakuan (proses belajar mengajar), akses dan fasilitas serta guru. Di mayoritas tempat malah guru tak mencukupi dan ruang belajar buruk. Lagalah Mike Tyson yg terlatih tinju dengan M Nuh. Kira-kira berepa menit waktu buat Tyson utk membuktikan M Nuh dikanvaskan dan akhirnya sadar bhw UN itu memang proyek senu?

    Dlm banyak kesempatan bertemu dgn para guru saya baru bertemu seorang guru fisika yg yakin anaknya masuk perguruan tinggi tanpa bimbel dan bintes.

    Artinya ini semua sandiwara yang mungkin dianggap perlu utk tambahan pendapatan bagi elit kependidikan di tanah air.

    Bayangkan, tak ada celana dan baju sama sekali, tetapi menggantungkan dasi di leher. Senu!!!!

    Sent from my iPhone

    >

  2. Penonton said

    Serba salah emang jadi caleg di jaman sekarang …….. hik, hik, hik …….

    GAK PROMOSI GAK DIKENAL, PROMOSI KUDU NGEROGOH KOCEK TINGGI.

    Kepilih tetep STRES, karena harus mikir bagaimana cara balik modal sedangkan gaji udah ke hitung 5 tahun cuma dapet Rp 50 juta x 60 bulan = Rp 3 milyar.

    Gak kepilih …. apalagi jadi STRUK mikirin biaya tinggi udah keluar tapi gak dapet apa-apa alias Rp 0,-

    Masih untung kalau Ybs GAK NGELUARIN DUIT DARI HUTANG ATAU HABIS-HABISAN JUAL HARTA …….
    Lha kalo kenyataannya begitu, gimana ?

    Pantas aja kalo edan karena MIMPI INDAHNYA BERUBAH TOTAL JADI MIMPI BURUK.

    Pelajaran berharga : MENDINGAN JADI RAKYAT BIASA AJA AH ………..

Komentar "PILIHAN" akan diambil menjadi artikel KabarNet.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: