KabarNet

Aktual Tajam

Peristiwa Ponpes Umar Bin Khattab, Pilot Project Tutup Ngruki?

Posted by KabarNet pada 18/07/2011

Mungkin tidak pernah terbayang ada kesepakatan jahat untuk membuat citra Pondok Pesantren buruk, terkesan radikal, dan berisi orang-orang yang melawan ideologi negara.

Memang sulit dibayangkan orang awam. Tapi konspirasi itu bisa saja terjadi di Indonesia. Bahkan, hanya dengan satu saja ledakan kecil di Pondok Pesantren di kampung kecil, hampir semua orang kemudian menuntut pentingnya pengetatan dan pengawasan ekstra terhadap semua Pondok Pesantren di seluruh Indonesia. Seluruh perhatian kemudian terpusat pada pentingnya mengendalikan Pondok Pesantren agar terhindar dari pengaruh radikalisme dan terorisme.

“Terkadang sebuah peristiwa bisa direkayasa sedemikian rupa agar timbul dampak yang sesuai dengan keinginan,” ujar Koordinator Indonesian Crime Analyst Forum (ICAF), Mustofa B. Nahrawardaya, kepada Rakyat Merdeka Online, Senin (18/7).

Mustofa menjabarkan beberapa hal. Bagi orang awam, Bom Bali 1 yang terjadi pada Oktober 2002 mungkin dikira benar-benar bikinan Amrozi Cs. Bom yang menewaskan 202 orang ini, bahkan disangkal sendiri oleh mantan Kepala Bakin, ZA Maulani (almarhum) sebagai bikinan Amrozi Cs. Karena jika dilihat dari bahan yang ditemukan di TKP, bahan tersebut hanya bisa dimiliki oleh Israel, Perancis dan Amerika Serikat. Pada sidang, para pelaku yang sekarang sudah dieksekusi mati, mengaku bahwa bahan yang digunakan hanya bahan-bahan dari materi petasan. Sedangkan yang ditemukan di TKP adalah semacam C4, maupun bekas RDX.

“Tentu itu bukan keanehan, karena memang Amrozi Cs hanyalah tumbal. Maka dari itu, meski para pelaku mengaku hanya menggunakan 1 kwintal bahan petasan sekalipun, menurut ZA Maulani, tak mungkin bisa menghancurkan TKP hingga sedahsyat yang terlihat di lokasi ledakan,” ujar Mustofa.

Bisa dilihat dalam sidang-sidang, lanjutnya, para pelaku tampak bodoh dan tak bisa terampil merangkai secara profesional. Dampak dari Bom Bali I adalah pemerintah kemudian memburu seluruh orang-orang yang pernah belajar bom semacam Amrozi. Mereka tak tidak lain, adalah para bekas Mujahidin yang pernah berjuang dan berjihad di Afganistan, Ambon, dan Maluku. Jumlah mereka, menurut beberapa sumber, mencapai 3000 orang. Sebagian dari 3000 veteran Mujahidin ini sudah dihabisi aparat di Indonesia maupun negara-negara tetangga. Yang menjadi janggal, teroris kini tidak pernah habis meski Densus sudah menangkapi dan menembak mati dedengkot-dedengkot teroris macam Noordin M Top, Dr Azahari, Dulmatin, dan lain-lain. Setiap hari muncul nama baru yang dikait-kaitkan dari terduga yang sudah ditembak mati.

Berbagai persitiwa bom di Indonesia pasca Bom Bali 1, juga meninggalkan dampak luar biasa. Banyak keluarga Muslim yang berpenampilan mengenakan cadar, berbaju gamis, celana ngantung, berjenggot, atau semacam itu, akhirnya menjadi terkucilkan. Polisi sering membiarkan media over blow-up ambil gambar dan mempublikasikan terduga pelaku bom yang berpakaian muslim.

“Dan anehnya, cara-cara ini terus menerus digunakan oleh Densus 88 setiap kali ada persitiwa bom. Lebih bodoh lagi, Densus 88 tak segan menyertakan kitab suci Umat Islam bernama Al Qur’an sebagai barangbukti terorisme,” katanya lagi.

Terakhir, Mustofa menjelaskan, bom di Pondok Pesantren Umar Bin Khattab (UBK) Bima, Nusa Tenggara Barat. Tidak jelas, siapa yang merakit, menaruh, dan meledakkan bom. Yang jelas, sebelum ada bom, dikabarkan anggota Polsek setempat yakni Brigadir Rokhmad tewas dibunuh oleh salah seorang santri Ponpes UBK bernama Saban Abdurahman. Sebenarnya publik juga belum mengetahui latar belakang penusukan itu. Mengapa tiba-tiba ada penusukan hingga menewaskan seorang polisi. Satu-satunya sumber, hanya datang dari polisi sendiri.

Sebuah bom meledak beberapa hari setelah polisi menangkap pelaku penusukan (Senin, 11/7). Siapa yang merakit, dan meledakkan bom itu, belum diketahui. Dengan adanya ledakan tersebut, kini ada alasan polisi untuk memasuki pondok. Polisi lalu menangkapi santri dan kembali menenteng satu peti Al Quran sebagai barangbukti, selain beberapa barang bukti lain,” ungkapnya.

Polisi juga menyebut dugaan adanya bom adalah untuk membalas dendam polisi karena menangkap Ubaid, salah satu tersangka pelatihan militer yang konon ada kaitan dengan ponpes UBK. Belakangan polisi mengaitkan mereka dengan JAT-nya Abu Bakar Baasyir karena ada jaket bertuliskan Jamaah Anshorut Tauhid (JAT).

Dampak berikutnya, beberapa tokoh masyarakat buru-buru menyuarakan perlunya pemerintah mengawasi semua pondok pesantren. Salah satu ormas Islam yang dipayungi PBNU, GP Ansor malah langsung membentuk Densus 99 untuk membantu Densus 88.

“Saya menduga, peristiwa di Ponpes Bima adalah sebuah pilot project liar untuk kelak bisa dipakai polanya, menutup Ponpes Al Mukmin Ngruki di Solo. Apalagi Abu Bakar Baasyir sudah mendekam di tahanan, kemungkinan melakukan aksi serupa di Ngruki sungguh sangat mudah. Apakah caranya dengan akan ‘ledakan’ juga, atau dengan variasi lain, kita tunggu,” tutupnya. Rakyat Merdeka

Komentar "PILIHAN" akan diambil menjadi artikel KabarNet.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: