KabarNet

Aktual Tajam

Soeharto Bingung Soal Tahlilan

Posted by KabarNet pada 14/06/2011

Di kalangan umat Islam, terdapat perbedaan pandangan mengenai tahlilan untuk orang yang baru meninggal. Ada yang menganggap tahlilan bukan sebagai tradisi Islam bahkan cenderung dianggap sebagai bid’ah atau penyimpangan ajaran Islam. Banyak pula yang menganggap tahlilan tidak menyimpang dari ajaran.

Kebingungan akibat perbedaan pandangan soal tahlilan ini juga dialami oleh mantan presiden Soeharto. Seperti dituturkan Muhammad Maftuh Basyuni dalam buku Pak Harto, The Untold Stories, di malam pertama setelah tahlilan dan doa untuk almarhumah Ibu Tien Soeharto di Dalem Kalitan, Solo, Soeharto menanyakan soal tahlilan.

“Apa benar kita tidak boleh membaca tahlil untuk jenazah?” tanya Soeharto kepada Maftuh Basyuni, yang saat itu menjabat sebagai Kepala Rumah Tangga Kepresidenan.

Maftuh saat itu menjawab, ada pendapat yang mengatakan membaca tahlil atau Al Quran kepada orang yang telah meninggal tak ada gunanya. “Mereka berpedoman kepada hadits nabi yang menyatakan bahwa seseorang yang telah meninggal telah putus amalnya, kecuali tiga hal, yaitu amal jariah, ilmu bermanfaat yang ditinggalkan, dan anak saleh yang mendoakan orang tuanya,” jelas Maftuh.

Maftuh kemudian melanjutkan, ada yang menganggap membaca doa dan ayat Al Quran kepada orang yang meninggal sesuai sunnah Nabi. Karena Nabi dalam doanya juga menyebutkan. “Ya Allah ampunilah kaum muslimin baik yang masih hidup maupun yang sudah mati”.

Mendengar penjelasan Maftuh, Soeharto seakan tidak puas, dan kemudian kembali bertanya. “Kalau memberi makan kepada yang mendoakan?” tanya Soeharto.

Maftuh kemudian menjelaskan alasan tentang anggapan tidak boleh. “Orang yang kesripahan (sedang berkabung) itu sudahlah susah dan sedih, kok masih dibebani lagi,” jelas Maftuh.

Kemudian, Maftuh menjelaskan alasan yang membolehkan, yaitu ada hadits yang mewajibkan umat Islam untuk menghormati tamu. “Penghormatan kepada tamu biasanya dalam bentuk minum dan makan,” jelas Menteri Agama di era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono ini.

Masih belum puas dengan jawaban Maftuh, Soeharto kemudian bertanya, pendapat apa yang dipilih Maftuh. Maftuh menjawab memilih yang membolehkan tahlilan dan memberi makan.

“Soal pahala itu hak prerogatif Tuhan. Kita membaca Tahlil dengan tentunya berharap ada pahala buat yang sudah meninggal, kalau tidak ada pahala pun, ya tidak apa. Adapun memberi makan, tentu sebatas kemampuan yang bersangkutan. Apalagi kalau yang kesripahan (berkabung) itu Presiden, tentu makanan datang sendiri,” jawab Maftuh.

Mendengar jawaban itu, Soeharto pun tertawa lirih. Sembari mendorong dahi Maftuh dengan lembut seperti orang tua kepada anak, Soeharto pun berkata. “(Dasar) kamu.”

Seperti apapun keislaman Soeharto, hubungan Soeharto dengan umat Islam cenderung naik-turun. Bagi kalangan fundamentalis Islam, Soeharto dianggap musuh karena ‘memaksakan’ Pancasila sebagai asas tunggal. Oleh kalangan fundamentalis, ini dianggap sikap syirik atau penyembahan sesuatu selain Tuhan.

Penolakan dan perlawanan terhadap asas tunggal Pancasila pun terus dilakukan terhadap Soeharto. Sejumlah tokoh yang menentang keras pun bahkan sampai melarikan diri ke Malaysia karena ‘diburu’ oleh pemerintahan Soeharto, antara lain Abu Bakar Ba’asyir dan Abdullah Sungkar.

Bahkan, penolakan asas tunggal berujung pada pelanggaran Hak Asasi Manusia, yang terkenal dengan sebutan Peristiwa Tanjung Priok Berdarah 1984. Dikabarkan ratusan orang tewas saat militer menangani peristiwa Tanjung Priok, 12 September 1984. Namun, versi pemerintah yang dibacakan Panglima ABRI LB Moerdani menyebutkan korban tewas hanya 18 orang dan luka-luka sebanyak 53 orang.

Akibat peristiwa ini, keluarga korban Tanjung Priok pun masih belum bisa memaafkan Presiden Soeharto. Tak heran, korban Tanjung Priok pula yang menentang saat Soeharto diusulkan menjadi pahlawan nasional.

Wawancara dengan Dahlia Biki (Putri Amir Biki)

Meski sudah 26 tahun lewat, Tragedi Tanjung Priok 1984 itu tak lekang dari ingatan Nur Dahlia Biki, putri da’i dan tokoh masyarakat Priok, Amir Biki.

Amir Biki, bersama sejumlah tokoh dan ribuan warga Priok, mendatangi Kodim Tanjung Priok meminta pembebasan empat warga, pada 12 September 1984. Mereka ditangkap dua hari sebelumnya setelah terlibat bentrok antara tentara dengan jamaah Mushala As-Sa’adah Tanjung Priok. Amir yang bekas aktivis Posko 66 itu mencoba menengahi, tapi gagal.

Saat barisan massa yang marah menuju Kodim, mereka dihadang pasukan tentara. Menurut saksi mata, tentara lalu memberondong tembakan. Biki, seperti kesaksian bekas Wakil Ketua DPR/MPR AM Fatwa, tewas tertembus peluru. Versi pemerintah menyebutkan 53 tewas, sementara laporan versi LSM menyebut angka 400.

Meski Dahlia, 32 tahun, tak melihat langsung insiden itu, tapi dia mengingat suasana tegang di sekujur Priok, termasuk kematian ayahnya. Di tengah simpang siur nasib ayahnya, Dahlia bermimpi Biki meninggal. Lalu, mengapa dia sulit memaafkan mantan Presiden Soeharto, yang dianggapnya bertanggugjawab atas insiden itu?

Dahlia yang menamatkan studi S2 Komunikasi di Universitas Indonesia itu menuturkan alasannya. Berikut petikan wawancara yang berlangsung di Tanjung Priok, 21 Oktober 2010.

Apa peran ayah Anda, Amir Biki, di Tanjung Priok saat itu?

Papa itu termasuk salah satu yang disegani di Priok. Beliau itu aktivis 66, kegiatan sosial kemasyarakatannya kuat. Masyarakat Priok kan banyak suku, banyak pendatang. Jadi, kalau ada konflik antar suku, konflik apapun, biasanya Papa dipanggil untuk menyelesaikan, jadi mediator, sebagai penyambung ke pemerintah, dalam hal ini Kodim.

Berapa usia Anda saat peristiwa Tanjung Priok terjadi?

Waktu itu aku baru 6 tahun, kelas 2 SD, jadi masih kecil banget. Yang terlihat dan terekam, waktu itu malam mati lampu, gelap, kebetulan aku mimpi Papa meninggal. Malam itu Mama dapat telepon dari Wakil Gubernur DKI saat itu, Bapak Edi (Mayjen Edi Nalapraya, red), dikasih tahu Papa meninggal. Mama masih belum percaya. Mungkin saat itu dini hari jam dua, jam tigaan. Tapi terus aku mimpi, baru Mama yakin. Pada saat era Reformasi, aku mendampingi Mama. Kami berjuang ke Komnas HAM, dari mulai penyidikan sampai kemudian kami gali kubur, kami cari kuburan, kami identifikasi di RS Cipto Mangunkusumo.

Buat Anda, apa dampak kejadian itu?

Ngeri, karena rumah dijaga ABRI 24 jam. Tapi, karena kami masih anak kecil, bapak-bapak ABRI itu baik-baik saja. Yang terekam tuh ngeri aja, karena kami diawasi. Kemudian, tidak ada siapa pun yang datang. Dulu biasanya rumah kami itu tempat orang nongkrong. Setelah habis subuh, Papa sarungan, semua temannya datang ke rumah, sarapan. Setelah kejadian itu, sepi. Untung karena Mama bidan, pasiennya banyak banget. Itu saja yang jadi hiburan buat Mama.

Kenapa orang tidak berani datang?

Aku rasa takut. Karena siapa pun yang dekat sama kami, terus dikejar-kejar saat itu. Kami merasa dikucilkan, tapi di lingkungan sekolah tidak. Mereka malah support kami karena mereka tahu seperti apa perjuangannya. Mama pernah mendengar kabar, keluarga Amir Biki akan dihabisi sampai ke bawah. Mama benar-benar menjaga kami. Kami dimasukkan pesantren sebagai salah satu cara menjaga kami.

Tidak ada gerakan solidaritas dengan keluarga korban yang lain?

Saat itu belum ada. Paling orang datang ke rumah bilang, “Bu, anak saya hilang, gak pulang-pulang.” Seperti itu saja.

Apa tindakan pemerintah saat itu?

Kami sering diinterogasi, rumah kami diacak-acak, sampai pasien Mama takut untuk datang.

Bagaimana pandangan Anda tentang sosok Soeharto kala itu?

Mengerikan. Zaman itu, siapa yang berani sama pemerintah? Saya pikir nggak ada, kecuali bapak saya.

Di mata pemerintah ketika itu, ayah Anda adalah pemberontak dan penghasut massa sehingga menyerbu markas Kodim.

Itu kan hanya ketakutan pemerintah, mereka buat secara sistematis kejadian seperti itu. Jadi, aku pikir itu memang sudah direncanakan jauh sebelum kejadian 12 September, di-set seperti itu. Yang aku tahu, Papa arahnya bukan seperti itu, bukan ingin menentang Pancasila, bukan menjadi pemberontak di negara, karena Papa sendiri kan berteman dengan kyai dari mana saja. Saya rasa bukan itu tujuan utamanya.

Pernah mendengar cerita Ibu mengenai pendapat ayah Anda tentang sosok Soeharto?

Nggak banyak yang bisa aku dengar tentang itu. Papa juga jarang ngobrol politik dengan mama. Namanya perempuan, mama takut, “Udah Pak, nanti kamu ditembak.” Papa bilang, “Udah, kamu tenang saja. Aku kuat.” Jadi, lebih ke obrolan suami-istri saja, mendukung secara mental.

Pernah mengalami kesulitan semasa pemerintahan Orde Baru?

Yang terasa sekali adalah saat mencari kerja. Waktu kuliah dulu, aku menjadi salah satu nominator penerima beasiswa Supersemar karena kebetulan prestasi akademisku bagus. Tapi begitu dilihat anaknya Amir Biki, gagal. Kemudian, waktu melamar pekerjaan. Waktu itu aku melamar jadi PNS, ikut-ikutan sama yang baru lulus di Departemen Hukum dan HAM. Di meja depan, aku lihat dokumenku langsung dipisahkan dari yang lain. Begitu dia buka, dia lihat nama belakangku Biki, langsung dipisahkan di depan mataku.

Apa reaksi Anda saat itu?

Nangis. Aku langsung mundur dari antrean panjang, aku langsung merasa.

Anda marah?

Kalau dibilang marah, ya marah sampai saat ini. Kok Papa meninggal dengan cara begitu. Beda kalau mungkin meninggalnya wajar, sakit, atau kecelakaan. Tapi ini aku tahu dia ditembak. Kalau menuruti hati, rasanya aku mau bergabung terus dengan teman-teman aktivis, tiap hari demo. Tapi kan buktinya pengadilan HAM nggak selesai. Dari sekian banyak tersangka, yang kena hanya yang menembak saja, 12 orang. Yang lain lepas.

Menjelang Soeharto wafat, muncul usul supaya pemerintah mengampuni Soeharto. Tanggapan Anda?

Pastinya nggak bisa kami terima, karena kami tahu itu sesuatu yang sistematis. Tidak mungkinlah penembak jitu dari ABRI berani menembak kalau nggak ada perintah atasan. Secara manusiawi, aku kasihan melihat Soeharto. Tapi, kalau mengingat berapa banyak manusia yang meninggal, yang hilang saat itu, sepertinya nggak seimbang.

Pandangan Anda tentang anak-anak Soeharto?

Saya tidak pernah berhubungan dengan mereka, tapi kalau melihat secara manusiawi, biasa saja.

Pernah dengar ada permintaan maaf Tommy Soeharto atas nama ayahnya kepada para keluarga korban kekerasan Orde Baru?

Saya tak pernah tahu. Sebagai manusia, kalau minta maaf ya sudah kami maafkan. Tapi kemudian apa yang bisa dia lakukan untuk kami? Tolong dong nama baik Papa direhabilitasi, biar imbasnya tidak terasa kepada kami anak cucunya. Papa dengan teman-temannya itu bukan gerombolan. Mereka berjuang untuk sesuatu yang benar. Waktu itu petugas Babinsa masuk masjid pakai sepatu. Orang Islam mana yang bisa terima? Pengumuman pengajian disiram pakai air got, siapa yang bisa terima?

Ada peristiwa yang secara langsung Anda lihat?

Melihat langsung tidak, tapi ketika masalah ini diangkat di Komnas HAM, kami gali kuburan massal di TPU Mengkok Sukapura dan Kramat Gangseng. Di Rindam tidak jadi digali karena dua tempat tadi sudah dianggap cukup untuk menjadi bukti terjadinya pelanggaran berat HAM. Ketika itu, sudah delapan mayat ditemukan. Papa itu satu-satunya mayat yang boleh dibawa pulang oleh keluarga, setelah kejadian itu.

Kini muncul usulan pemberian gelar pahlawan nasional terhadap Soeharto. Pendapat Anda?

Ini bukan setuju atau tidak setuju, tidak semata-mata melihat apa yang sudah dikerjakan Soeharto. Ada beberapa syarat mengenai ini, kemudian ada sisi lain yang juga harus ditimbang soal kasus-kasus pelanggaran berat yang sudah dilakukannya. vivaNews

4 Tanggapan to “Soeharto Bingung Soal Tahlilan”

  1. PedagangMercon said

    Saya pernah diinterograsi Polisi, gara2 jual mercon besar. Makanya saya sekarang berhenti jual mercon. Kalau dipikir2 ada benernya juga tuh Polisi..

  2. Tahlilan itu kalimat yang banyak dibacakan pada waktu tawassul (yaitu kalimat tahlil=Lailaha illalloh), maka disebut tahlilan, intinya mendo’akan jenazah yang sudah dikuburkan…karena menurut hadits dalam kitab Nashoihul’Ibad pada Makalah Ketiga :
    1. Abu Bakar Siddiq ra berkata : “Barangsiapa yang masuk kubur tanpa bekal seakan-akan dia mengarungi lautan tanpa kapal
    2. Nabi saw bersabda, “Keadaan mayat di dalam kubur tak ubahnya bagaikan orang yang tenggelam meminta tolong”.
    Maka disanalah si mayyit membutuhkan do’a dari yang hidup, mereka tidak butuh mobil, kulkas ataupun motor. Karena ketika dia bangun seperti orang mimpi “dimana mobil saya, rumah saya???, ternyata hidup didunia hanya sebatas mimpi belaka”
    Semoga tulisan saya ini menambah wawasan berpikir qita, sehingga tidak menyebut syirik/musyrik terhadap yang suka bertahlilan.

  3. gusjan said

    Nabi memiliki beberapa anak, yang anak laki2 semua

    meninggal sewaktu masih kecil. Anak-anak perempuan

    beliau ada 4 termasuk Fatimah, hidup sampai

    dewasa.
    Ketika Nabi masih hidup, putra-putri beliau yg

    meninggal tidak satupun di TAHLIL i, kl di do’akan

    sudah pasti, karena mendo’akan orang tua,

    mendo’akan anak, mendo’akan sesama muslim amalan

    yg sangat mulia.

    Ketika NABI wafat, tdk satu sahabatpun yg TAHLILAN

    untuk NABI,
    padahal ABU BAKAR adalah mertua NABI,
    UMAR bin KHOTOB mertua NABI,
    UTSMAN bin AFFAN menantu NABI 2 kali malahan,
    ALI bin ABI THOLIB menantu NABI.
    Apakah para sahabat BODOH….,
    Apakah para sahabat menganggap NABI hewan….

    (menurut kalimat sdr sebelah)
    Apakah Utsman menantu yg durhaka.., mertua

    meninggal gk di TAHLIL kan…
    Apakah Ali bin Abi Tholib durhaka.., mertua

    meninggal gk di TAHLIL kan….
    Apakah mereka LUPA ada amalan yg sangat baik,

    yaitu TAHLIL an koq NABI wafat tdk di TAHLIL i..

    Semua Sahabat Nabi SAW yg jumlahnya RIBUAN,

    Tabi’in dan Tabiut Tabi’in yg jumlahnya jauh lebih

    banyak, ketika meninggal, tdk ada 1 pun yg

    meninggal kemudian di TAHLIL kan.

    cara mengurus jenazah sdh jelas caranya dalam

    ISLAM, seperti yg di ajarkan dalam buku2 pelajaran

    wajib dr SD – Perguruan tinggi. Termasuk juga tata

    cara mendo’akan Orang tua yg meninggal dan tata

    cara mendo’akan orang2 yg sdh meninggal dr kaum

    muslimin.

    Saudaraku semua…, sesama MUSLIM…
    saya dulu suka TAHLIL an, tetapi sekarang tdk

    pernah sy lakukan. Tetapi sy tdk pernah mengatakan

    mereka yg tahlilan berati begini.. begitu dll.

    Para tetangga awalnya kaget, beberapa dr mereka

    berkata:” sak niki koq mboten nate ngrawuhi

    TAHLILAN Gus..”
    sy jawab dengan baik:”Kanjeng Nabi soho putro

    putrinipun sedo nggih mboten di TAHLILI, tapi di

    dongak ne, pas bar sholat, pas nganggur leyeh2,

    lan sakben wedal sak saget e…? Jenengan Tahlilan

    monggo…, sing penting ikhlas.., pun ngarep2

    daharan e…”
    mereka menjawab: “nggih Gus…”.

    sy pernah bincang-bincang dg kyai di kampung saya,

    sy tanya, apa sebenarnya hukum TAHLIL an..?
    Dia jawab Sunnah.., tdk wajib.
    sy tanya lagi, apakah sdh pernah disampaikan

    kepada msyarakat, bahwa TAHLILAN sunnah, tdk

    wajib…??
    dia jawab gk berani menyampaikan…, takut timbul

    masalah…
    setelah bincang2 lama, sy katakan.., Jenengan

    tetap TAHLIl an silahkan, tp cobak saja

    disampaikan hukum asli TAHLIL an…, sehingga

    nanti kita di akhirat tdk dianggap menyembunyikan

    ILMU, karena takut kehilangan anggota.., wibawa

    dll.

    Untuk para Kyai…, sy yg miskin ilmu ini,

    berharap besar pada Jenengan semua…., TAHLIL an

    silahkan kl menurut Jenengan itu baik, tp sholat

    santri harus dinomor satukan..
    sy sering kunjung2 ke MASJID yg ada pondoknya.

    tentu sebagai musafir saja, rata2 sholat jama’ah

    nya menyedihkan.
    shaf nya gk rapat, antar jama’ah berjauhan, dan

    Imam rata2 gk peduli.
    selama sy kunjung2 ke Masjid2 yg ada pondoknya,

    Imam datang langsung Takbir, gk peduli tentang

    shaf…

    Untuk saudara2 salafi…, jangan terlalu keras

    dalam berpendapat…
    dari kenyataan yg sy liat, saudara2 salfi memang

    lebih konsisten.., terutama dalam sholat.., wabil

    khusus sholat jama’ah…
    tapi bukan berati kita meremehkan yg lain.., kita

    do’akan saja yg baik…
    siapa tau Alloh SWT memahamkan sudara2 kita kepada

    sunnah shahihah dengan lantaran Do’a kita….

    demikian uneg2 saya, mohon maaf kl ada yg tdk

    berkenan…
    semoga Alloh membawa Ummat Islam ini kembali ke

    jaman kejayaan Islam di jaman Nabi…, jaman

    Sahabat.., Tabi’in dan Tabi’ut Tabi’in
    Amin ya Robbal Alamin

  4. Berikut ini saya bawakan sejumlah pendapat Ulama-ulama Syafi’iyah tentang
    masalah dimaksud, yang penulis kutip dari kitab-kitab Tafsir, Kitab-kitab Fiqih
    dan Kitab-kitab Syarah hadits, yang penulis pandang mu’tabar (dijadikan
    pegangan) di kalangan pengikut-pengikut madzhab Syafi’i.
    1. Pendapat Imam As-Syafi’i rahimahullah.
    Imam An-Nawawi menyebutkan di dalam Kitabnya, SYARAH MUSLIM,
    demikian. “Artinya : Adapaun bacaan Qur’an (yang pahalanya dikirimkan kepada
    mayit), maka yang masyhur dalam madzhab Syafi’i, tidak dapat sampai kepada
    mayit yang dikirimi. Sedang dalilnya Imam Syafi’i dan pengikut-pengikutnya, yaitu
    firman Allah (yang artinya), ‘Dan seseorang tidak akan memperoleh, melainkan
    pahala usahanya sendiri’, dan sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam (yang
    artinya), ‘Apabila manusia telah meninggal dunia, maka terputuslah amal
    usahanya, kecuali tiga hal, yaitu sedekah jariyah, ilmu yang dimanfaatkan dan
    anak yang shaleh (laki/perempuan) yang berdo’a untuknya (mayit)”. (An-Nawawi,
    SYARAH MUSLIM, juz 1 hal. 90). Juga Imam Nawawi di dalam kitab Takmilatul
    Majmu’, Syarah Madzhab mengatakan. “Artinya : Adapun bacaan Qur’an dan
    mengirimkan pahalanya untuk mayit dan mengganti shalatnya mayit tsb, menurut
    Imam Syafi’i dan Jumhurul Ulama adalah tidak dapat sampai kepada mayit yang
    dikirimi, dan keterangan seperti ini telah diulang-ulang oleh Imam Nawawi di
    dalam kitabnya, Syarah Muslim”. (As-Subuki, TAKMILATUL MAJMU’ Syarah
    MUHADZAB, juz X, hal. 426). (menggantikan shalatnya mayit, maksudnya
    menggantikan shalat yang ditinggalkan almarhum semasa hidupnya -pen).
    2. Al-Haitami didalam Kitabnya, AL-FATAWA AL-KUBRA AL-FIGHIYAH,
    mengatakan demikian.
    “Artinya : Mayit, tidak boleh dibacakan apapun, berdasarkan keterangan yang
    mutlak dari Ulama’ Mutaqaddimin (terdahulu), bahwa bacaan (yang pahalanya
    dikirimkan kepada mayit) adalah tidak dapat sampai kepadanya, sebab pahala
    bacaan itu adalah untuk pembacanya saja. Sedang pahala hasil amalan tidak
    dapat dipindahkan dari amil (yang mengamalkan) perbuatan itu, berdasarkan
    firman Allah (yang artinya), ‘Dan manusia tidak memperoleh, kecuali pahala dari hasil usahanya sendiri”. (Al-Haitami, AL-FATAWA AL-KUBRA AL-FIGHIYAH, juz
    2, hal. 9).
    3. Imam Muzani, di dalam Hamisy AL-UM, mengatakan demikian.
    “Artinya : Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memberitahukan sebagaimana
    yang diberitakan Allah, bahwa dosa seseorang akan menimpa dirinya sendiri
    seperti halnya amalan adalah untuk dirinya sendiri bukan untuk orang lain”. (Tepi
    AL-UM, AS-SYAFI’I, juz 7, hal.262).
    4. Imam Al-Khuzani di dalam Tafsirnya mengatakan sbb.
    “Artinya : Dan yang masyhur dalam madzhab Syafi’i, bahwa bacaan Qur’an
    (yang pahalanya dikirimkan kepada mayit) adalah tidak dapat sampai kepada
    mayit yang dikirimi”. (Al-Khazin, AL-JAMAL, juz 4, hal.236).
    5. Di dalam Tafsir Jalalaian disebutkan demikian.
    “Artinya : Maka seseorang tidak memperoleh pahala sedikitpun dari hasil usaha
    orang lain”. (Tafsir JALALAIN, 2/197).
    6. Ibnu Katsir dalam tafsirnya TAFSIRUL QUR’ANIL AZHIM mengatakan (dalam
    rangka menafsirkan ayat 39 An-Najm).
    “Artinya : Yakni, sebagaimana dosa seseorang tidak dapat menimpa kepada
    orang lain, demikian juga menusia tidak dapat memperoleh pahala melainkan
    dari hasil amalnya sendiri, dan dari ayat yang mulia ini (ayat 39 An-Najm), Imam
    As-Syafi’i dan Ulama-ulama yang mengikutinya mengambil kesimpulan, bahwa
    bacaan yang pahalanya dikirimkan kepada mayit adalah tidak sampai, karena
    bukan dari hasil usahanya sendiri. Oleh karena itu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi
    wa sallam tidak pernah menganjurkan umatnya untuk mengamalkan (pengiriman
    pahala bacaan), dan tidak pernah memberikan bimbingan, baik dengan nash
    maupun dengan isyarat, dan tidak ada seorang Sahabatpun yang pernah
    mengamalkan perbuatan tersebut, kalau toh amalan semacam itu memang baik,
    tentu mereka lebih dahulu mengerjakannya, padahal amalan qurban
    (mendekatkan diri kepada Allah) hanya terbatas yang ada nash-nashnya (dalam
    Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam) dan tidak boleh
    dipalingkan dengan qiyas-qiyas dan pendapat-pendapat”. Demikian diantaranya
    pelbagai pendapat Ulama Syafi’iyah tentang TAHLILAN.

Komentar "PILIHAN" akan diambil menjadi artikel KabarNet.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: