KabarNet

Aktual Tajam

Menjaga Informasi Pembebasan Tanah Proyek Tol

Posted by KabarNet pada 15/08/2010

Peradaban saat ini yang telah memasuki era Gelombang Ketiga seperti dikemukakan futurolog Alvin Toeffler, menjadikan informasi tak ubahnya senjata. Sebagai sumber kekuatan, informasi bukan hanya menjadi sarana mencari untung, tetapi juga alat yang mengakibatkan pihak lain menjadi korban. Kasus pemindahbukuan dana lahan pengganti jalan tol untuk warga Desa Jatirunggo, Pringapus, Kabupaten Semarang, menjadi salah satu buktinya. Broker untung besar, memanfaatkan informasi menyangkut harga yang dipatok pemerintah untuk lahan tersebut.

Akses broker pada informasi dan sumber dana, telah menimbulkan kerugian bagi warga Jatirunggo. Lahan warga yang diputuskan pemerintah untuk dihargai Rp 50 ribu per meter persegi, telah terlebih dahulu dijual kepada broker dengan harga tak sampai separonya. Masyarakat yang kesehariannya lebih didominasi oleh era peradaban Gelombang Pertama karena bersandar pada kultur agraris, .memang potensial menjadi objek bisnis. Belum lagi bila lahan yang dimilikinya tidak lagi menjadi andalan utama mereka dalam mencari nafkah.

Di sisi lain, pergerakan peradaban telah memungkinkan perubahan dalam dinamika bisnis. Apa pun bisa dijadikan peluang bisnis. Para spekulan tanah tidak hanya jeli membaca peluang, tetapi juga memadukannya dengan membangun jaringan lobi yang mampu mengakses informasi penting. Fenomena inilah yang harus diwaspadai Tim Pembebasan Tanah (TPT) Proyek Jalan Tol agar persoalan di Jatirunggo tidak terulang. TPT tak hanya berkepentingan pada kelancaran proyek, tetapi juga memastikan tidak ada pihak yang ”membonceng” untuk mendapatkan keuntungan besar.

Karenanya, patut dihargai upaya TPT yang siap mengusulkan pemindahan lokasi pengganti lahan hutan yang terkena proyek jalan tol Semarang-Solo, bila perundingan untuk pembelian lahan di Desa Mluweh, Ungaran Timur, Kabupaten Semarang, berlangsung berlarut-larut. Warga memang harus mendapatkan dana yang layak, karena kehilangan tanahnya. Tetapi, bila harga tanah menjadi tidak wajar karena ada pihak-pihak lain yang bermain, memang sebaiknya tak lagi menggunakan lahan itu. Kesuksesan sebuah proyek juga diukur dari ketepatan waktunya.

Bila proyek tol tepat waktu, tetapi lahan penganti atas hutan yang terpakai tidak segera didapatkan, maka proyek tersebut juga tidak bisa disebut sukses. Melihat molornya awal pembangunan tol Semarang Solo, serta kasus di Jatirunggo dan alotnya tawar-menawar di Mluweh, tak bisa dipungkiri permasalahan pemanfaatan lahan memang pelik. Spekulan tanah diduga sebagai pihak yang memperkeruh suasana. Kondisi demikian membuat pemerintah perlu mengkaji ulang mekanisme perencanaan dan sosialisasi .

Perencanaan diharapkan tidak bocor, dan bisa cepat disosialisasikan kepada warga. Alternatif lebih dari satu lokasi pengganti perlu disiapkan dalam proses tersebut, untuk mengantisipasi bila perundingan pembebasan lahan berlasung alot. Adanya kesenjangan waktu yang relatif lama antara perencanaan dan sosialisasi memungkinkan bergentayangannya para spekulan tanah yang memanfaatkan kebocoran informasi. Kasus di Jatirunggo jangan sampai terulang, dan itu berarti informasi pembebasan lahan tol perlu dijaga kerahasiaannya, sehingga kepentingan rakyat bisa terjaga sampai pencairan dana. [SM/KN]

Komentar "PILIHAN" akan diambil menjadi artikel KabarNet.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: