KabarNet

Aktual Tajam

Rekayasa Hukum

Posted by KabarNet pada 15/08/2010

Benar ada, atau tidak adanya rekaman pembicaraan antara Ary Muladi dengan Ade Rahardja dari Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) sebagai bagian dari alat bukti dalam sidang Anggodo Widjojo, merupakan sisi lain tentang buruknya moral penegakan hukum di negeri ini. Jika percakapan itu akan membantu menjelaskan tentang duduk perkara dua pimpinan KPK Chandra M Hamzah dan Bibit Samad Riyanto, ”ke mana” atau ”benar-benar adakah” rekaman tersebut tentu menjadi fakta pembuktian yang tak boleh diabaikan.

Kapolri Bambang Hendarso Danuri dalam rapat kerja dengan Komisi III DPR pernah menyatakan kepolisian memiliki rekaman tersebut. Belakangan, Polri cenderung berputar-putar ketika alat bukti tersebut diminta oleh pengadilan. Lalu yang dijanjikan untuk diserahkan hanya call data record (CDR) yang tidak dapat dijelaskan kapan berlangsungnya. Ada apa sebenarnya dengan semua itu? Di balik dua spekulasi yang berkembang, kita mengaitkan kondisi ini dengan kekarutmarutan penegakan hukum di Tanah Air.

Pertama, sebenarnya tidak ada rekaman, sehingga ketika disampaikan ke publik bahwa polisi memilikinya, hal itu diduga dimaksudkan untuk menguatkan opini mengenai tudingan adanya suap terhadap pimpinan KPK. Spekulasi ini memperkuat dugaan adanya rekayasa hukum. Spekulasi kedua, rekaman tersebut memang ada, tetapi karena menyebutkan beberapa hal konfidensial atau nama yang ”sensitif” untuk diketahui publik, maka diputuskan untuk melakukan tarik-ulur, kemudian menyimpulkan ketiadaannya.

Desakan berbagai pihak agar polisi menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi, tentu menambah misterius keberadaan rekaman tersebut. Pernyataan di depan forum DPR bersifat formal, sehingga harus dipertanggungjawabkan. Dengan kondisi yang muncul sekarang, dan spekulasi yang berkembang, kiranya wajib bagi DPR untuk mengklarifikasi Kapolri. Jika hal ini dibiarkan berlalu, ketidakpastian karena keterkaitan dengan kepentingan-kepentingan tertentu hanya akan menambah muram dunia penegakan hukum kita.

Perjalanan kasus Bibit – Chandra, perang opini yang berlangsung di ranah publik, hingga penafsiran hukum dalam penyelesaian ini, telah menciptakan panggung yang benar-benar membingungkan. Berbagai tafsir politik pun muncul. Muara dari panggung ini untuk memojokkan dan melemahkan eksistensi KPK sangatlah terasa. Ditambah dengan kontroversi ada atau tidak adanya bukti rekaman percakapan Ary Muladi – Ade Rahardja itu, lengkaplah ketemaraman yang melingkupi langit penegakan hukum di negeri ini.

Yang terpenting di balik semua itu adalah makin berkembangnya skeptisme publik terhadap kemaujudan rasa keadilan rakyat. Jika fakta sangat mudah diputarbalikkan, hukum direkayasa untuk target-target tertentu, dan penegak hukum dengan ringannya justru asyik bermain-main dengan hukum, maka tidak berlebihanlah pernyataan guru besar Fakultas Hukum Undip Suteki, bahwa kecenderungan hukum bersifat represif terhadap rakyat kecil dan protektif terhadap orang-orang besar, merupakan sebuah realitas yang niscaya.

[SM]

Komentar "PILIHAN" akan diambil menjadi artikel KabarNet.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: