KabarNet

Aktual Tajam

Ternyata Tidak Ada Video Ba’asyir Sedang di Aceh

Posted by KabarNet pada 12/08/2010

TEMPO Interaktif, Jakarta – Kepala Badan Reserse dan Kriminal Markas Besar Kepolisian Komisaris Jenderal Ito Sumardi membantah kabar adanya barang bukti video berisi Abu Bakar Ba’asyir sedang menonton pelatihan militer di Aceh.

“Bukan video itu yang digunakan untuk menjerat dia (Ba,asyir),” kata Ito lewat sambungan telepon (11/8). Video apa yang dimaksud, Ito menyatakan tidak tahu. Karena semua barang bukti termasuk video, dipegang oleh penyidik. “Yang pasti video kegiatan lain,” kata Ito.

Kepala Bidang Penerangan Umum Markas Besar Kepolisian, Komisaris Besar Marwoto Soeto, kemarin menyebut video yang dimaksud adalah video yang menunjukkan Ba’asyir sedang menonton aktivitas pelatihan militer di Aceh. Video ini menjadi barang bukti utama keterlibatan Ba’asyir dalam jaringan teroris Jema’ah Tanzim Alqaeda Indonesia.

Pengacara Ba’asyir dari Tim Pembela Muslim, Ahmad Michdan mengatakan, dalam pemeriksaan siang tadi, penyidik memperlihatkan sebuah video kepada Ba’asyir. “Video itu berisi rekaman pelatihan militer di Aceh yang selama ini sering ditayangkan televisi,” kata Michdan lewat sambungan telepon (11/8).

Ba’asyir, kata Michdan, ogah menjawab pertanyaan penyidik terkait video tersebut. “Ustad Abu hanya tertawa melihat isi video itu saat penyidik memperlihatkannya,,” ujarnya. Kepada Michdan, Ba’asyir mengaku belum pernah melihat video itu.

Menurut Michdan, video yang diperlihatkan penyidik itu tidak akan bisa menjerat Ba’asyir. Sebab video pelatihan militer itu, sudah tersebar luas di situs Youtube dan sudah berkali-kali ditayangkan televisi. “Kalau si A menonton video itu, dia tidak bisa dianggap teroris,” katanya.

Source

——
Keberadaan Tiga Oknum Polri Harus Didalami Soal Terorisme Aceh?
OLEH: ARIEF TURATNO
ANDA sering nonton film Barat atau Amerika? Banyak film produksi Hollywood yang mengupas soal jaringan inteljen. Dan tidak sedikit diantara film-film tersebut yang mengetengahkan kisah mata-mata (intelijen) yang berpura-pura membelot. Dalam film Triple XXX misalnya, seorang agen terpaksa berpura-pura menjadi bandit, hanya untuk mengungkap jaringan bandit internasional. Atau seorang agen berpura-pura memihak musuh agar dapat menghancurkan musuh dari dalam.

Dan film produksi Hollywood juga tidak jarang mengisahkan seorang agen yang sengaja disusupkan ke suatu organisasi agar kelompok itu rusak. Bahkan diupayakan agar menjadi musuh bersama. Pertanyaan dan persoalannya adalah apakah ketiga oknum polisi yang terlibat dalam jaringan pelatihan teroris di Nanggroe Aceh Darussalam (NAD) termasuk bagian dari agen yang disusupkan?

Dari keterangan pihak Polri, mereka memang mengakui, jika ada tiga oknum polisi yang terlibat. Namun pihak Polri menolak jika mereka adalah agen atau mata-mata yang sengaja disusupkan ke jaringan tersebut. Pihak Polri malah mengatakan jika salah satu oknum itu telah dipecat dari dinas aktif Polri. Sedangkan dua oknum lainnya, berdasarkan keterangan Mabes Polri diduga dipengaruhi oleh oknum polisi yang dipecat itu. Benarkah?

Setiap pihak boleh menduga menurut asumsinya sendiri. Bagi Polri itulah jawabannya. Bagaimana dengan pandangan masyarakat? Tentu banyak pendapat dan pandangan yang satu berbeda dengan lainnya. Bagi mereka yang suka sekali menonton film action Barat atau Amerika, tentu akan menduga bahwa ketiga oknum polisi itu adalah agen yang sengaja disusupkan. Jika asumsi ini benar, saya beranggapan terlalu sumir apa yang mereka lakukan. Mengapa? Sebab mereka masih berada di luar jaringan.

Ketiga oknum polisi itu baru berada di luar lingkaran, belum berada di dalam lingkaran Ustadz Abubakar Ba’asyir. Mengapa? Karena mereka belum menjadi tangan kanan atau orang kepercayaan Ustadz Ba’asyir. Mereka baru berada di tempat orang-orang yang diduga punya kaitan dengan Ustadz Ba’asyir. Sehingga kalau tujuan penyusupan mereka adalah untuk mengungkap dan menyerat Ustadz Ba’asyir ke dalam jaringan teroris, menurut saya terlalu dini. Karena pasti hanya akan menemui ruang kosong. Dan ini sebabnya Ustadz Ba’syir lebih suka bungkam untuk menjawab semua pertanyaan penyidik polisi.

Sebab, meskipun polisi mengaku telah memiliki cukup banyak bukti. Nyatanya, mereka masih membutuhkan pengakuan dari Ustadz. Kalau benar polisi cukup punya bukti, buat apa mereka banyak bertanya. Pertanyaan diajukan kepada Ustadz Ba’asyir karena duduga polsi baru memiliki asumsi. Barangkali karena alasan inilah mantan Ketua Umum PP Muhamadiyah Syafi’i Maarif meminta kepada polisi untuk membebaskan pendiri dan pemimpin Pondok Pesantren Al Mukin, Ngruki tersebut.

Barangkali juga karena alasan serupa, sehingga Ustadz Abubakar Ba’asyir menolak memberikan jawaban atas pertanyaan penyidik. Karena mungkin Ustadz tahu persis bahwa para penyidik hanya menduga-duga atau mengait-kaitkan saja, tanpa bukti yang cukup. Dan bila asumi ini benar, maka bukan mustahil kelak Ustadz Ba’asyir akan mempermalukan polisi. Mengapa?

Bukankah Ustadz Ba’asyir mengatakan bahwa dia akan menjelaskan dan akan menjawab semua pertanyaan bila sampai di persidangan. Ini artinya Ustadz Ba’asyir kemungkinan memiliki kartu truf yang dapat menjungkalkan semua tuduhan terhadapnya. Namun begitu ini baru sebuah asumsi, belum pada kenyataan. Mengenai benar tidaknya asumsi tersebut, tentu kita akan menunggu perkara ini lebih lanjut. Artinya, siapa yang benar siapa yang salah masih belum tahu. Apakah Ustadz Ba’asyir atau polisi, akan kita lihat nanti di persidangan. Dengan catatan, jika perkara tersebut sampai disidangkan!

Komentar "PILIHAN" akan diambil menjadi artikel KabarNet.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: