KabarNet

Aktual Tajam

Buron Century Seret 3 Bekas Petinggi BI

Posted by KabarNet pada 14/10/2009

KASUS PT Bank Century Tbk mulai menyeret sejumlah bekas petinggi Bank Indonesia (BI). Rafat Ali Rizvi, salah satu pemegang saham Century yang sekarang buron, mengungkap keterlibatan tiga mantan petinggi bank sentral dalam proses kelahiran Century pada tahun 2004. Ketiga pejabat teras BI itu yakni bekas Deputi Gubernur Senior Anwar Nasution dan dua mantan deputi gubernur BI Aulia Tantowi Pohan dan Miranda S. Goeltom.

Menurut Rafat, proses perizinan merger Bank CIC, Danpac, dan Pikko menjadi Century, dimulai sejak tahun 2001 dan baru disetujui pada 2004. Dalam perjalanan proses itu dia mengaku bertemu dengan Aulia Pohan tiga kali. Selain itu masing-masing sekali dengan Miranda dan Anwar.

“Kami menanyakan mengapa izin merger lama sekali keluarnya,” katanya dalam wawancara dengan Tempo di sebuah tempat yang dirahasiakan. “Kami mendesak BI agar segera menerbitkan izin,” katanya lagi. Dalam pertemuan sebelumnya di Singapura, 12 September lalu, Rafat juga menyatakan kesediaannya datang ke Indonesia untuk memberikan kesaksian kepada polisi asalkan status tersangka atas dirinya dicabut. Rafat yang juga pemilik Chinkara Capital Ltd, investor Century, mengatakan, proses perizinan merger sepenuhnya diurus oleh Robert Tantular yang sudah divonis empat tahun penjara dalam kasus Century. “Robert mengatakan, dia mengurusi merger dengan Miranda, Anwar, dan Aulia,” ujarnya.

Meski demikian Rafat membantah adanya kolusi. “Setiap kali saya bertemu mereka, selalu resmi. Saya tidak pernah sendirian bertemu dengan para pejabat BI,” katanya.

Yang menarik Badan Pemeriksa Keuangan (BKP) yang juga dipimpin oleh Anwar Nasution kini sedang merampungkan audit investigasi atas Century yang diselamatkan pemerintah pada 20 November lalu. Selain menelisik aliran dana penyelamatan Rp 6,8 triliun, BPK memeriksa proses merger bank ini. Dan

Anwar Nasution, yang kini menjabat Ketua BPK, pernah menyatakan bahwa Century “cacat” sejak lahir. Sejumlah kalangan menyatakan CIC seharusnya sudah ditutup sejak tahun 2002 ketika diketahui banyak borok di tubuh bank itu.

Anwar sendiri mengakui pertemuan itu. Namun dia membantah disebut mengenalkan nama Rafat dalam rapat Dewan Gubernur BI. “Saya baru tahu Rafat dari pemeriksa bank lewat perantara Deputi Gubernur,” ujarnya tanpa menyebutkan nama pejabat itu. Ia juga menegaskan, ketika Century lahir pada Desember 2004, dirinya sudah enam bulan pensiun dari BI.

Besar kemungkinan pejabat itu adalah Aulia Pohan, besan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Ketika terkuak sejumlah penyelewengan di Bank CIC pada 2002, termasuk dana triliunan rupiah dari fasilitas kredit pemerintah Amerika Serikat, Aulia menjabat Deputi Gubernur Bidang Pemeriksaan (majalah Tempo, 1 September 2002). Hingga berita ini diturunkan, Aulia dan Miranda belum bisa dimintai konfirmasi karena telepon selulernya tidak aktif. Pesan pendek yang dikirim juga tidak berbalas. Sedangkan Amir Karyatin, kuasa hukum Aulia dalam kasus suap BI ke DPR, menolak berkomentar. “Saya tidak punya hak mengomentari masalah itu,” katanya.

Skandal Century tampak rumit sebab melibatkan sejumlah petinggi dan mantan pejabat negara. Sebelum Rafat, Deputi Gubernur Bank Indonesia Budi Rochadi menyebut kelahiran Century justru tak lepas dari tangan Anwar kala menjabat Deputi Gubernur Senior BI. Sebuah sumber mengatakan Anwar ikut merestui rencana masuknya sejumlah investor baru ke Century. Salah satunya Rafat Ali Rizvi, pemilik Chinkara Capital Ltd, kelahiran Pakistan, yang kini jadi buron. Anwar disebut-sebut yang pertama kali membawa nama Rafat ke rapat Dewan Gubernur BI pada 27 November 2001. Terhadap berbagai sinyalemen itu, Anwar membantahnya. Berikut wawancara Tempo dengan Anwar soal silang sengkarut skandal Century.

Anda disebut ikut membidani kelahiran Bank Century ketika menjabat Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia. Tanggapan Anda?

Saya sangat menyesalkan opini yang terbangun di media soal peran saya yang dianggap membidani kelahiran Bank Century. Berita ini cenderung tendensius karena kalian memilih kata “membidani”.

Memang benar, proses merger Bank CIC, Bank Pikko, dan Bank Danpac terjadi saat saya menjabat Deputi Gubernur Senior BI. Tapi harus diingat, proses itu belum apa-apa. Century baru resmi berdiri setelah saya pensiun dari BI. Saya menjabat Deputi Gubernur Senior BI sejak Juli 1999 hingga Juli 2004. Izin merger Bank CIC, Bank Pikko, dan Bank Danpac dikeluarkan pada 6 Desember 2004.

Artinya, izin merger keluar enam bulan setelah saya pensiun. Jadi dari mana saya disebut membidani kelahiran Century? Ini ada orang yang ingin melempar tanggung jawab ke orang lain karena tak mampu mengawasi bank dengan baik.

Apa peran Anda dalam rapat Dewan Gubernur BI yang membahas merger tiga bank itu?

Sejak sebelum dimerger, ketiga bank ini memang sudah bermasalah. Dalam rapat Dewan Gubernur pada 27 November 2001, yang dipimpin Gubernur BI Syahril Sabirin, dibahas apakah tiga bank ini harus ditutup atau tidak karena berbagai pelanggaran yang mereka lakukan. Mereka melanggar batas maksimum pemberian kredit, kekurangan modal, kualitas aktiva dan manajemennya buruk, ditambah pelanggaran yang dilakukan pemilik dan pengurusnya.

Jadi rekam jejak mereka memang tidak bagus. Melihat pelanggaran itu, saya usulkan bank-bank ini lebih baik dibubarkan. Tapi direktur yang mengawasi bank tersebut mengatakan lebih baik digabung saja supaya BI bisa lebih ketat mengontrol dan mengawasi pemiliknya.

Bagaimana sikap Anda setelah mendapat penjelasan itu?

Saya kembali bertanya, apa benar jika tiga bank itu digabungkan bisa lebih baik. Tapi direktur yang mengawasi bank itu dengan pasti mengatakan bisa lebih baik asalkan dikontrol secara ketat plus sejumlah persyaratan. Apalagi direktur ini mengatakan pemiliknya, Chinkara Capital milik Rafat Ali Rizvi, berjanji memperbaiki bank-bank itu, memenuhi persyaratan modalnya, dan tak melakukan pelanggaran. Baru, setelah ada tiga syarat itu, Dewan Gubernur menyetujui penggabungan.

Benarkah Anda yang mengenalkan nama Rafat Ali Rizvi dalam rapat Dewan Gubernur tersebut?

Tidak benar sama sekali. Saya baru tahu Rafat Ali dari pemeriksa bank lewat perantara Deputi Gubernur. Dia memastikan Rafat sudah lulus uji kepatutan dan kelayakan. Semua ini ada di notulensi rapat Dewan Gubernur. Saya tak mengenal Rafat secara pribadi. Jadi tak benar saya mempromosikan Rafat.

Apa hasil rapat Dewan Gubernur saat itu?

Secara prinsip, rapat menyetujui rencana akuisisi Bank CIC, Bank Pikko, dan Bank Danpac oleh Chinkara Capital. Pada saat itu juga, rapat menugasi pengawas bank mengkoordinasi penelitian kepemilikan saham dan kemungkinan adanya pelanggaran hukum.

Bagaimana dengan rapat Dewan Gubernur pada April 2004? Benarkah Anda yang memimpin rapat?

Saya memang memimpin rapat yang diikuti tiga Deputi Gubernur yang berada di bawah koordinasi saya. Rapat ini juga diikuti pemilik ketiga bank yang mengajukan permohonan merger. Kepada pemilik bank ini, kami minta mereka segera memenuhi komitmen, yakni menambah modal, menempatkan dana pada rekening penampungan di Bank CIC, dan mengajukan rencana merger dengan jadwal yang jelas. Rafat minta waktu satu minggu untuk menyetor dana ke rekening penampungan. Dia juga minta waktu membahas proposal merger, dan paling lambat diserahkan pada Oktober 2004.

Nah, tiga hari sebelum masa jabatan saya berakhir, direktorat yang mengawasi ketiga bank itu melaporkan penemuan rekayasa keuangan oleh Bank Pikko dan pelanggaran batas maksimum pemberian kredit di Bank CIC.

Apa yang Anda lakukan setelah menerima laporan?

Karena merger ketiga bank ini diputuskan Gubernur, proses merger tetap dilanjutkan. Sebagai jalan keluarnya, direktur yang bersangkutan mengusulkan supaya BI memberikan toleransi. Toleransi pertama adalah aktiva yang macet tak digolongkan sebagai aktiva macet sampai tanggal jatuh temponya, sehingga bank hasil merger bisa memenuhi persyaratan rasio kecukupan modal (CAR) 8 persen. Dalam masa tenggang ini, diharapkan ada pemodal baru yang masuk. Toleransi kedua, penundaan uji kepatutan terhadap pemilik bank.

Kalau sudah mengetahui ada rekayasa itu, kenapa Anda tidak mengusulkan merger dibatalkan?

Merger ini merupakan keputusan Gubernur BI yang harus dijalankan. Apalagi BI sudah memberikan toleransi sehingga proses penggabungan ketiga bank ini tetap dilanjutkan. Tiga hari setelah ditemukan rekayasa laporan keuangan itu, saya pensiun. Jadi apa yang terjadi dengan proses selanjutnya, saya sudah tak mengikuti lagi, termasuk realisasi pemberian toleransi itu.

Apakah temuan itu yang membuat Anda mengatakan Bank Century sudah cacat sejak lahir?

Coba lihat semua sejak awal, ketiga bank ini memang bermasalah. Setelah diberi toleransi, apakah ada realisasi dari toleransi itu? Saya tak bisa lagi mengontrol karena sudah tak menjabat di BI. Saya tak bisa dimintai pertanggungjawaban atas implementasi komitmen yang diberikan Rafat karena saya sudah tidak di BI. Seharusnya janji-janji itu terus ditagih. Kondisinya dicek dan dicek terus.

Secara pribadi, Anda setuju dimerger atau dibubarkan?

Sudah saya tanyakan apakah benar kalau tiga bank ini dimerger akan bisa lebih baik. Direktur yang menangani pengawasan bank kan sudah menyatakan bisa lebih baik. Ketika saya pensiun, proses merger itu terus berjalan. Apakah pemilik bank benar-benar menjalankan komitmennya, itu tanggung jawab BI.

Jadi Anda mempersoalkan pengawasan BI atas komitmen itu?

Keterangan Budi Rochadi (Deputi Gubernur BI) tentang peran saya itu menyesatkan. Seharusnya dia yang secara langsung bertanggung jawab terhadap lemahnya pengawasan di Century sejak Century berdiri pada 28 Desember 2004 sampai diambil alih Lembaga Penjamin Simpanan pada November tahun lalu. Kok, pelanggaran-pelanggaran itu terus dibiarkan.

Budi seharusnya juga mengetahui kualitas informasi yang dipasok BI ke Komite Stabilitas Sistem Keuangan dan Lembaga Penjamin Simpanan sehingga biaya penyelamatan Century bisa naik 10 kali lipat menjadi Rp 6,76 triliun. Fasilitas pinjaman jangka pendek untuk Century yang tidak dijamin dengan kolateral berkualitas tinggi itu seperti menebar uang rakyat dari helikopter untuk segelintir orang saja. Lha, mereka ini bukan kaum duafa.

Bukankah berbagai kebobrokan Bank CIC sudah terjadi sejak 2002 (Tempo, 1 September 2002), saat Anda menjabat Deputi Gubernur Senior? Kenapa terus dibiarkan hidup, bahkan dipersiapkan merger?

Ya itulah, memang banyak kelemahan di Bank Indonesia.

Proses merger menjadi salah satu poin yang akan diaudit oleh auditor Badan Pemeriksa Keuangan. Anda siap diperiksa?

Kalau memang audit sampai ke proses merger dan keterangan saya diperlukan, saya tidak keberatan diperiksa. Silakan saja, termasuk siapa saja yang ikut dalam rapat-rapat pembahasan merger tiga bank itu.

Apakah auditor BPK tidak risi karena posisi Anda?

Tidaklah. Auditor BPK tetap akan memeriksa siapa saja yang keterangannya diperlukan untuk kebutuhan audit. Fokus audit investigasi ini tetap pada ke mana aliran dana penyelamatan itu dan digunakan untuk apa saja. Itu yang utama.

Apakah audit BPK tak akan menyentuh kebijakan penyelamatan Century yang diambil pemerintah?

Soal kebijakan pemerintah, itu bukan wewenang kami. DPR juga menanyakan apakah Perpu Jaring Pengaman Sistem Keuangan (yang dijadikan dasar penyelamatan) itu sah atau tidak. Kami jawab, itu bukan tugas kami, tapi itu porsi Mahkamah Agung.

Berarti yang diaudit bagaimana proses pengambilan keputusannya?

Benar. Kenapa ongkosnya bisa naik 10 kali lipat? Apa saja indikator yang dipakai?

Apakah laporan audit sementara yang beredar di media itu benar-benar sesuai dengan hasil audit BPK?

Yang bertanya ke BPK itu DPR. Jadi kami hanya menjawab langsung ke DPR.

Apakah dalam laporan sementara itu semua pihak sudah diverifikasi?

Verifikasi sudah dilakukan. Yang belum diketahui ke mana larinya duit itu. Itu kan butuh waktu. Sampai nanti saya pensiun juga belum tentu diketahui ke mana saja uang itu. Waktu kasus Bank Bali, perlu bertahun-tahun dan dana yang tak kecil untuk melacak duitnya.

Kisruh Century ini seperti menguatkan kesan perseteruan BPK dan BI….

Tidak ada perseteruan itu. Saya tidak mengarah-arahkan temuan itu.

Tapi muncul kesan di BI bahwa dalam kasus suap dana Yayasan Pengembangan Perbankan Indonesia milik BI ke DPR ada ketidakadilan karena Anda seharusnya juga dinyatakan bertanggung jawab secara kolegial….

Betul (keputusan bersifat) kolegial. Tapi, kalau you dikasih informasi salah, lalu mengambil keputusan salah, masak ikut bertanggung jawab? Hanya karena Anda ada di situ, masak Anda pasti terlibat?

Jadi prinsip kolegial tak berlaku karena Anda merasa tak mendapat informasi yang benar?

Bagaimana bisa berlaku? Anda ditipu, kok. Saya hanya setuju uang Yayasan dipakai untuk keperluan sosial. Tapi saya tak mendapat laporan uang itu untuk apa saja. Apakah saya harus ikut bertanggung jawab?

Bukankah alasan tak mendapatkan informasi yang benar juga dikemukakan Burhanuddin Abdullah karena baru dua pekan menjabat Gubernur BI? Tapi kenyataannya dia diputus bersalah?

Tidak tahulah. Tanya saja pengadilan. (Duta Masyarkat)

2 Tanggapan to “Buron Century Seret 3 Bekas Petinggi BI”

  1. jelasnggak said

    Admin

    Sumbernya dari mana nih..?

  2. ADMIN said

    Sumber sudah kami cantumkan (Duta Masyarakat). untuk lebih jelas, klik di sini:
    http://dutamasyarakat.com/artikel-24300-buron-century-seret-3-bekas-petinggi-bi.html

    Maaf dan Salam, ADMIN.

Komentar "PILIHAN" akan diambil menjadi artikel KabarNet.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: