KabarNet.in

Aktual Tajam

Target di Balik ILC-TV One Memblowup Terorisme

Posted by KabarNet pada 18/09/2013

HENDRO AKAN GEMBIRA DAN BISA TIDUR NYENYAK KARENA PENGAMAT TERORISME YANG BISA IKUT FRAME BNPT BUKAN LAGI POLISI ATAU ORANG INTELIJEN SENDIRI, TETAPI JUSTRU ANAK-ANAK MUSLIM SEPERTI NOOR HUDA, AL CHAIDAR DAN ABDUL RAHMAN AYYUB YANG UCAPANNYA LEBIH FASIH.

Oleh: Harits Abu Ulya

WAJAH mantan Kabakin AM Hendropriono begitu pucat dan badannya kurang nyaman duduk saat disorot kamera ketika pengamat Koordinator Indonesian Crime Analyst Forum (ICAF), Mustofa B Nahrawardaya dan Penasihat Indonesia Police Watch (IPW) Johnson Panjaitan mengkritik kerja kepolisian yang sedikit-sedikit menuduh pelakunya “teroris” di acara Indonesia Lawyer Club (ILC), TV One, 17 September 2013 bertema “Kini, Polisi Yang Diteror.” 

Bahkan ketika gilirannya berbicara sebagai pamungkas acara, Hendro mengusulkan kepadaEditor in Chief TV One Karni Ilyas, yang juga pemandu acara ILC agar tidak lagi mengundang pengamat atau LSM yang menyudutkan polisi.

“Tolong nara sumber-nara sumber yang bisa membuat rakyat tersesat, jangan diundang lagi,” ujarnya.

Di sisi lain, dia mengaku bangga dan memuji-muji 3 nara sumber lain dalam acara itu. Pertama, Direktur Yayasan Prasasti Perdamaian (YPP), Noor Huda Ismail. Huda pernah menempuh kuliah Jurusan Sastra Arab Fakultas Adab IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta merangkap kuliah di Jurusan Ilmu Komunikasi Fisipol UGM. Ia pernah menjadi wartawan di koran The Washington Post biro Asia Tenggara kemudian melanjutkan studi S2 di Skotlandia.

Penulis buku “Temanku, Teroris?” ini sangat laku bahkan sampai ke luar negeri karena pernah nyantri di Pondok Pesantren al Mukmin Ngruki.

Kedua, Al Chaidar, mantan pentolan Darul Islam/NII, dan ketiga sumber lain adalah Abdul Rahman Ayyub, mantan aktivis Jamaah Islamiyah (JI) namun kini bersebrangan dengan Ustad Abubakar Ba’asyir.

Kepada ketiga nara sumber ini, Hendro memuji. Bahkan, menyebutnya, apa yang disampaikan mereka adalah informasi A1 dalam intelijen.

“Apa yang disampaikan oleh Noor Huda Ismail, apa yang disampaikan oleh Al Chaidar, itu yang dalam istilah intelijen punya nilai A1. Ini fakta, sumbernya terpercaya, dan dia nyusup ke sana,” ujar Hendro.

Seperti diketahui, informasi A1 adalah informasi yang sudah dipastikan kebenarannya. Agak berbeda dengan C3,  masih diragukan karena sumber juga tidak jelas.

“Menurut saya, orang-orang seperti inilah yang layak dijadikan nara sumber. Dan ketika saya memperhatikan, ini hari adalah hari terakhir saya menjadi nara sumber. Karena pengetahuan saya sudah kalah dengan anak-anak ini (Noor Huda Ismail, Al Chaidar), jadi kita mesti tahu diri,” tambah Hendro yang pernah dekat dengan pentolan NII Az Zaitun, Panji Gumilang.

Semua pemirsa ILC tahu bahwa topik utama yang diangkat adalah “Kini, Polisi Yang Diteror”. Dan ketika mengikuti dengan seksama pemirsa juga tahu akhirnya dialog mengerucut bahwa kelompok “teroris” dengan ideologinya menjadi sumber dan akar masalahnya. Sebagaimana kesimpulan Hendro sendiri di ujung acara.

Modus TV One ini sudah yang kesekian kalinya, melakukan penggiringan opini atas satu fakta tindak kejahatan lepas dari TKP. Di mana cenderung membuat kesimpulan gegabah dan dipaksakan.

Dari komposisi peserta ILC saja yang hadir, jelas terlihat sekali hampir 80 persen mereka yang sudah dalam frame pemikiran tendensius bahwa “teroris”lah biang kerok semua aksi-aksi teror pada polisi belakangan ini.

Ini saja sangat bisa dipahami kemana arah kesimpulan dialog dan kemana persepsi publik digiring. Jika publik bertanya-tanya kenapa bisa demikian, analisa saya bahwa dibalik itu semua ada faktor yang sangat mempengaruhi.

Pertama, TV One punya komitmen dengan BNPT untuk menjadi “public relation” dalam kepentingan kontra terorisme. Wajar kalau kemudian diberbagai kasus “terorisme” TV One menjadi salah satu TV terdepan melakukan liputan di tempat operasi Densus 88 dan Satgas BNPT. Dan itu seolah menjadi “kompensasi” yang didapatkan TV One, termasuk menjadi terdepan untuk mem blow up isu-isu terkait terorisme.

Kedua, Dalam kasus teror di dua bulan terakhir ini sikap Mabes Polri cukup proporsional, tidak mudah menarik kesimpulan bahwa ini adalah kasus terorisme. Mereka berangkat dari TKP dan membuka semua perspektif dan kemungkinan. Melakukan analisa berbagai kemungkinanya. Mabes lebih banyak memaksimalkan peran Resmob. Kita yang inten mencermati isu terorisme akan bisa melihat perubahan signifikan sikap Polri yang tidak murah obral tuduhan terorisme dalam dua bulan terakhir ini.

Saya melihat Densus 88 saat ini “terkunci” langkahnya. Apalagi Satgas BNPT yang dipimpin oleh Petrus Golose, seperti tidak punya panggung atas berbagai kasus teror yang terjadi.

Ketiga, Nampaknya ada pengurangan dana yang signifikan bagi Densus 88 dan khususnya untuk Satgas BNPT, dan ini memberi pengaruh mereka makin sulit untuk “bergerak” dan bermanufer sesukanya.

Maka wajar jika kemudian pihak BNPT dan kru perlu memainkan “mindset”, yaitu kepada media seperti TV One untuk membangun propaganda dan tekanan opini agar bisa melabeli aksi-aksi teror selama ini benar adanya adalah terorisme. Ini cukup dimengerti dengan pujian-pujian Hendro pula kepada Karni Ilyas dan TV One.

Boleh jadi, dengan langkah seperti itu bisa diharapkan tergelarnya “karpet merah” bagi Densus 88 dan Satgas BNPT untuk kembali eksis dan mendapat panggung kemudian berikutnya adalah kucuran dana yang lebih besar lagi.

Sesungguhnya, jika dicermati, di balik hiruk pikuk berita aksi penembakan polisi, di sana ada “pertarungan” yang tidak wajar dari pihak BNPT dan Densus 88 yang intinya mereka harus punya “panggung eksistensi”.

Akhirnya di luar upaya pengungkapan kasus yang dilakukan oleh Mabes, justru BNPT di luar sangat kontrproduktif bernafsu membangun opini dan propaganda dengan beragam statemen. Ini dilakukan para pejabat teras BNPT sampai para pengamat binaan mereka dan pengamat patner mereka bahkan para kombatan yang loyal yang ‘menjilat” semua kata mereka.

Wajar saja, karena kerjanya kontra terorisme akhirnya setiap kasus kejahatan dan teror diruang publik disimpulkan adalah aksi terorisme. Padahal dalam kasus teror, tidak menutup kemungkinan adanya langkah-langkah intelijen “ilegal” reproduksi “teror” yang digunakan sebagai pembenaran dan keberlangsungan proyek kontra terorisme.

Di Indonesia, istilah terorisme versi BNPT dan Densus 88 sudah bergeser sedemikian rupa, yang terjadi lebih banyak adalah “teroris opini” dibandingkan terorisme sebagai sebuah aksi, yang sesungguhnya layak dicermati secara obyektif dengan label terorisme.

Semoga masyarakat makin cerdas bisa membedakan manakah media TV yang obyektif dan manakah yang subyektif tendensius menjadi corong kepentingan-kepentingan tertentu yang opuntunir (pembeo).

Mungkin tahun-tahun ke depan, Hendro akan gembira dan bisa tidur nyenyak karena pengamat terorisme yang bisa ikut frame BNPT bukan lagi polisi atau orang intelijen sendiri, tetapi justru anak-anak Muslim seperti Noor Huda, Al Chaidar dan Abdul Rahman Ayyub yang ucapannya lebih fasih.

Sebagaimana ucapakan menarik Brigjen Pol Petrus R Golose dari (BNPT), yang mengatakan ia dengan Abdul Rahman Ayyub sekarang berteman baik.*

Pemerhati Kontra Terorisme dan Direktur CIIA

Source: Hidayatullah,COM

6 Tanggapan to “Target di Balik ILC-TV One Memblowup Terorisme”

  1. tulisan ini cukup menarik
    saya jkutip sebagian

    “Semua pemirsa ILC tahu bahwa topik utama yang diangkat adalah “Kini, Polisi Yang Diteror”. Dan ketika mengikuti dengan seksama pemirsa juga tahu akhirnya dialog mengerucut bahwa kelompok “teroris” dengan ideologinya menjadi sumber dan akar masalahnya. Sebagaimana kesimpulan Hendro sendiri di ujung acara.

    Modus TV One ini sudah yang kesekian kalinya, melakukan penggiringan opini atas satu fakta tindak kejahatan lepas dari TKP. Di mana cenderung membuat kesimpulan gegabah dan dipaksakan.”

    kesimpulan dr hendro
    adalah WAHABI sbg dalang penembakan polisi
    coba tonton akhir dr komentar si hendro

  2. Jangan Lupa,,dalam acara tersebut ada proposal permintaan dana kepolusian untuk mengganti revorver, dan anti peluru baru ???

    wawwww..jangan-jangan….

    Info dari forum sebelah..

    Nara sumber: Kemaren saya di datangi oleh kerabat saya yang seorang intel densus88 dia datang untuk memperingatkan saya agar tidak terpengaruh apabila ada hasutan sekelompok orang untuk berjihad di indonesia, kerabat saya itu mendengar dari sepupu saya bahwa saya sering memposting berita2 jihad luar negri di akun-2 saya lalu dia datang untuk memperingatkan saya agar berhati2 bila ada ajakan dari teman atau bahkan sekelompok orang yang mengaku akan berjihad di negri indonesia ini.

    Saya baru tau bahwa densus88 mempunyai cara picik untuk melanggengkan namanya. SINGKAT SAJA kerabat saya menjelaskan cara cara densus membuat orang jadi tersangka teroris

    1>- DENSUS88 mempunyai intel di akun akun jejaring sosial, kerjanya untuk mencari dan memantau (AKUN) yang berjiwa mujahid/mempunyai cita2 mati syahid/yang sering memposting berita berita jihad

    2>- setelah target di temukan maka akun intel DENSUS88 yang menyamar sebagai mujahid akan mengirimkan pertemanan dan setelah di konfirmasi,maka mereka akan memulai bertanya2 dimana alamat rumahnya sambil di iringi perbincangan tentang penegakkan syariat di indonesia klo semua lancar maka mereka akan melakukan pertemuan rahasia

    3>- Bagi yang akun nya sudah terpampang alamat yang jelas dan ada foto profil aslinya,si intel akan langsung menjadikan dia target dg mengutus orang yang mengaku sebagai perindu syahid

    4>- Setelah melakukan pertemuan dan terjadi kecocokan pemikiran, maka sang calon korban DENSUS88 ini akan langsung di beri latihan meliter, atau langsung di persenjatai

    5- Setelah itu Calon korban ini di carikan tempat atau rumah kontrakan yang tentunya strategis bagi DENSUS88 untuk menyerbu (kita tau rata semua penyergapan TERORIS adalah rumah kontrakan)

    6>- setelah para calon korban ini sampai di kontrakan, bahan2 peledak yang belum komplit mereka hantarkan ke kontrakan,biasanya intel2 tersebut mengatakan bahwa itu akan di jadikan bom rakitan dan untuk mengajari calon korban ini merakit bom( namun bagi DENSUS88 itu hanyalah alat sebagai barang bukti nantinya).

    7>- perlu di ketahui bahwa para calon korban ini di beri senjata dengan peluru yang terbatas, agar saat mereka melakukan perlawanan tidak terlalu lama(agar kehabisan peluru) sehingga saat mereka kehabisan peluru DENSUS88 bisa langsung menembak mati korban dg alasan melakukan perlawanan saat mau di tangkap

    8>- Setelah semua siap maka akan terjadilah drama penggerebekan TERORIS, dan akan di siarkan biasanya secara LIVE di tv one yg sudah di beri tahu sebelumnya

    9>- Saat penggrebekan terjadi,biasanya akan terjadi kontak senjata, itu di karenakan sang calon korban ini sudah di doktrin untuk membenci pancasila dan seluruh aparat keamanan terutama DENSUS88 sehingga saat mereka tau bahwa yang datang densus88 para korban ini sangat bersemangat, karena mereka fikir bahwa mati di tangan DENSUS88 adalah mati syahid

    10>- Perlu di ketahui bahwa yang di rekrut para intel ini adalah anak anak muda yang mempunyai jiwa perang dan mempunyai cita cita mati syahid,namun tanpa sadar mereka telah di kelabui untuk menjadi tumbal DENSUS88 agar terus exist, selain itu juga sebagai cara untuk me minimalisir para pejuang khilafah di indonesia

    11>- Anggota/Regu DENSUS88 yang bertugas menyergap memang tidak tahu menahu dengan skenario ini,untuk menjaga kerahasiaan operasi,, mereka hanya tau bahwa yang sedang mereka sergap adalah anggota teroris/jaringan al-qaidah

    12>-Si korban akan langsung di tembak mati di tempat tampa peradilan dan tanpa bukti bahwa telah melanggar hukum, agar dia tidak bisa menjelaskan kronologi perekrutannya (adapun yang masih hidup,mereka tidak akan mampu berkutik dan membela diri karena mereka tidak sadar klo yang merekrut mereka ini adalah intelijen DENSUS88 dan mereka pun akan mengakui bahwa mereka adalah mujahid (Red-mujahidin buatan densus).

    Saya di buat tak berkata oleh kerabat saya dengan fakta2 yang dia beberkan, karena memang begitu sama persis klo saya fikir dengan aksi2 penangkapan TERORIS yang di lakukan DENSUS88 info dari ( muhammad M,,,,T,,,) Sahabat2 muslimku semua, berhati2lah kalian INGAT,,,!!!!! jika ada yang mengajak berjihad di indonesia kalian harus berhati2 terkecuali seruan dari ORMAS-2 yang sudah kita kenal sebelumnya SEBARKAN,,,,,,,!!! MARI SELAMATKAN SAUDARA2 KITA DARI SKENARIO BUSUK DENSUS88 AGAR TIDAK MENJADI TUMBAL BERIKUTNYA.

  3. Munafikun said

    @Revolusi Belum Berakhir

    Pembuat fitnah murahan….layaknya beberapa orang yng menganalisa kasus cebongan dulu, sebelum adanya pengakuan pelaku…

  4. Afdhall said

    Yang teroris us…

  5. incar said

    teror kata lebih kejam dari fitnah, dipraktekkan TVone

  6. Kaum Muslimin yg dimuliakan Allah SWT,
    Densus 88, sebagai penyebar fitnah bagi kepentingan asing, tdk perlu kita herankan, bila kita memahami latar belakang terbentuknya organisasi yg lebih loyal kepada kepentingan asing (AS) yg telah memberikan biaya jutaan dollar, ketimbang loyal kpd Polri sbg institusi induk semangnya.
    Semuanya memang telah digariskan dalam Protokol Zionis dimana NKRI merupakan target utama yg akan diporak porandakan. Kita sbg kaum Muslimin, wajib sadar bahwa bahaya sedang mengancam kita bersama, Protokol Zionis sudah masuk, menyebar, menyusup dan mempengaruhi berbagai elemen bangsa, mulai Legislatif, eksekutif dan Yudikatif, termasuk organisasi-organisasi komprador penjilat asing dan media masa (diantaranya TvOne dan MNC Group), dalam gerak seirama antara politik dan ekonomi.
    Ini bukan fitnah, karena Al Quran (Surat Al Maidah : 51 dan 82 dan Alhadist) telah mengingatkan kita betapa BAHAYA nya Fitnah bangsa Yahudi, kesemuanya dalam rangka menjadikan “The New World Orders” (Pemerintahan Tunggal Dunia) dalam satu kendali oleh Zionis.
    Terkadang kita hanya terlena dengan Pilkada, subtansinya hanyalah adu domba untuk menghancukan nilai-nilai keimanan, kebangsaan dan ekonomi.
    Sadar …. sadar …. sadar…… Kokohkan jati diri diri kita

Komentar "PILIHAN" akan diambil menjadi artikel KabarNet.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 5.046 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: