KabarNet.in

Aktual Tajam

Sejarah Lepasnya Timor Timur Yang tak Pernah Terungkap

Posted by KabarNet pada 03/08/2013

MENIT-MENIT LEPASNYA TIMOR-TIMUR DARI INDONESIA

Berikut ini adalah tulisan seorang wartawan yang meliput jajak pendapat di Dili, Timor-timur. Tulisan berikut ini sungguh luar biasa, namun sekaligus membuat dada sesak.

Ditulis oleh Kafil Yamin, wartawan kantor berita The IPS Asia-Pacific, Bangkok, yang dikirim ke Timor Timur pada tanggal 28 Agustus 1999 untuk meliput ‘Jajak Pendapat Timor-Timur’ yang diselenggarakan UNAMET [United Nations Mission in East Timor], 30 Agustus 1999. Judul asli dari tulisan ini adalah Menit-Menit yang Luput dari Catatan Sejarah Indonesia. Saya sengaja ubah judulnya dengan maksud agar lebih jelas mengenai apa yang terkandung dalam tulisan tersebut. 

MENIT-MENIT YANG LUPUT DARI CATATAN SEJARAH INDONESIA

Oleh: Kafil Yamin

Jajak pendapat itu, yang tidak lain dan tidak bukan adalah referendum, adalah buah dari berbagai tekanan internasioal kepada Indonesia yang sudah timbul sejak keruntuhan Uni Soviet tahun 1989. Belakangan tekanan itu makin menguat dan menyusahkan Indonesia. Ketika krisis moneter menghantam negara-negara Asia Tenggara selama tahun 1997-1999, Indonesia terkena. Guncangan ekonomi sedemikian hebat; berimbas pada stabilitas politik; dan terjadilah jajak pendapat itu.

Kebangkrutan ekonomi Indonesia dimanfaatkan oleh pihak Barat, melalui IMF dan Bank Dunia, untuk menekan Indonesia supaya melepas Timor Timur. IMF dan Bank Dunia bersedia membantu Indonesia lewat paket yang disebut bailout, sebesar US$43 milyar, asal Indonesia melepas Timtim.

Apa artinya ini? Artinya keputusan sudah dibuat sebelum jajak pendapat itu dilaksanakan. Artinya bahwa jajak pendapat itu sekedar formalitas. Namun meski itu formalitas, toh keadaan di kota Dili sejak menjelang pelaksanan jajak pendapat itu sudah ramai nian. Panita jajak pendapat didominasi bule Australia dan Portugis. Wartawan asing berdatangan. Para pegiat LSM pemantau jajak pendapat, lokal dan asing, menyemarakkan pula – untuk sebuah sandiwara besar. Hebat bukan?

Sekitar Jam 1 siang, tanggal 28 Agustus 1999, saya mendarat di Dili. Matahari mengangkang di tengah langit. Begitu menyimpan barang-barang di penginapan [kalau tidak salah, nama penginapannya Dahlia, milik orang Makassar], saya keliling kota Dili. Siapapun yang berada di sana ketika itu, akan berkesimpulan sama dengan saya: kota Dili didominasi kaum pro-integrasi. Mencari orang Timtim yang pro-kemerdekaan untuk saya wawancarai, tak semudah mencari orang yang pro-integrasi.

Penasaran, saya pun keluyuran keluar kota Dili, sampai ke Ainaro dan Liquica, sekitar 60 km dari Dili. Kesannya sama: lebih banyak orang-orang pro-integrasi. Di banyak tempat, banyak para pemuda-pemudi Timtim mengenakan kaos bertuliskan Mahidi [Mati-Hidup Demi Integrasi], Gadapaksi [Garda Muda Penegak Integrasi], BMP [Besi Merah Putih], Aitarak [Duri].

Setelah seharian berkeliling, saya berkesimpulan Timor Timur akan tetap bersama Indonesia. Bukan hanya dalam potensi suara, tapi dalam hal budaya, ekonomi, sosial, tidak mudah membayangkan Timor Timur bisa benar-benar terpisah dari Indonesia. Semua orang Timtim kebanyakan berkomunikasi dalam bahasa Indonesia. Para penyedia barang-barang kebutuhan di pasar-pasar adalah orang Indonesia. Banyak pemuda-pemudi Timtim yang belajar di sekolah dan universitas Indonesia, hampir semuanya dibiayai pemerintah Indonesia. Guru-guru di sekolah-sekolah Timtim pun kebanyakan orang Indonesia, demikian juga para petugas kesehatan, dokter, mantri.

Selepas magrib, 28 Agustus 1999, setelah mandi dan makan, saya duduk di lobi penginapan, minum kopi dan merokok. Tak lama kemudian, seorang lelaki berusia 50an, tapi masih terlihat gagah, berambut gondrong, berbadan atletis, berjalan ke arah tempat duduk saya; duduk dekat saya dan mengeluarkan rokok. Rupanya ia pun hendak menikmati rokok dan kopi.

Mungkin karena dipersatukan oleh kedua barang beracun itu, kami cepat akrab. Dia menyapa duluan: “Dari mana?” sapanya.

“Dari Jakarta,” jawabku, sekalian menjelaskan bahwa saya wartawan, hendak meliput jajak pendapat.

Entah kenapa, masing-masing kami cepat larut dalam obrolan. Dia tak ragu mengungkapkan dirinya. Dia adalah mantan panglima pasukan pro-integrasi, yang tak pernah surut semangatnya memerangi Fretilin [organisasi pro-kemerdekaan], “karena bersama Portugis, mereka membantai keluarga saya,” katanya. Suaranya dalam, dengan tekanan emosi yg terkendali. Terkesan kuat dia lelaki matang yang telah banyak makan asam garam kehidupan. Tebaran uban di rambut gondrongnya menguatkan kesan kematangan itu.

“Panggil saja saya Laffae,” katanya.

“Itu nama Timor atau Portugis?” Saya penasaran.

“Timor. Itu julukan dari kawan maupun lawan. Artinya ‘buaya’,” jelasnya lagi.

Julukan itu muncul karena sebagai komandan milisi, dia dan pasukannya sering tak terdeteksi lawan. Setelah lawan merasa aman, tiba-tiba dia bisa muncul di tengah pasukan lawannya dan melahap semua yang ada di situ. Nah, menurut anak buah maupun musuhnya, keahlian seperti itu dimiliki buaya.

Dia pun bercerita bahwa dia lebih banyak hidup di hutan, tapi telah mendidik, melatih banyak orang dalam berpolitik dan berorganisasi. “Banyak binaan saya yang sudah jadi pejabat,” katanya. Dia pun menyebut sejumlah nama tokoh dan pejabat militer Indonesia yang sering berhubungan dengannya.

Rupanya dia seorang tokoh. Memang, dilihat dari tongkrongannya, tampak sekali dia seorang petempur senior. Saya teringat tokoh pejuang Kuba, Che Guevara. Hanya saja ukuran badannya lebih kecil.

“Kalau dengan Eurico Guterres? Sering berhubungan?” saya penasaran.

“Dia keponakan saya,” jawab Laffae. “Kalau ketemu, salam saja dari saya.”

Cukup lama kami mengobrol. Dia menguasai betul sejarah dan politik Timtim dan saya sangat menikmatinya. Obrolan usai karena kantuk kian menyerang.

Orang ini menancapkan kesan kuat dalam diri saya. Sebagai wartawan, saya telah bertemu, berbicara dengan banyak orang, dari pedagang kaki lima sampai menteri, dari germo sampai kyai, kebanyakan sudah lupa. Tapi orang ini, sampai sekarang, saya masih ingat jelas.

Sambil berjalan menuju kamar, pikiran bertanya-tanya: kalau dia seorang tokoh, kenapa saya tak pernah mendengar namanya dan melihatnya? Seperti saya mengenal Eurico Gueterres, Taur Matan Ruak? Xanana Gusmao? Dan lain-lain? Tapi sudahlah.

Pagi tanggal 29 Agustus 1999. Saya keluar penginapan hendak memantau situasi. Hari itu saya harus kirim laporan ke Bangkok. Namun sebelum keliling saya mencari rumah makan untuk sarapan. Kebetulan lewat satu rumah makan yang cukup nyaman. Segera saya masuk dan duduk. Eh, di meja sana saya melihat Laffae sedang dikelilingi 4-5 orang, semuanya berseragam Pemda setempat. Saya tambah yakin dia memang orang penting – tapi misterius.

Setelah bubar, saya tanya Laffae siapa orang-orang itu. “Yang satu Bupati Los Palos, yang satu Bupati Ainaro, yang dua lagi pejabat kejaksaan,” katanya. “Mereka minta nasihat saya soal keadaan sekarang ini,” tambahnya.

Kalau kita ketemu Laffae di jalan, kita akan melihatnya ‘bukan siapa-siapa’. Pakaiannya sangat sederhana. Rambutnya terurai tak terurus. Dan kalau kita belum ‘masuk’, dia nampak pendiam.

Saya lanjut keliling. Kota Dili makin semarak oleh kesibukan orang-orang asing. Terlihat polisi dan tentara UNAMET berjaga-jaga di setiap sudut kota. Saya pun mulai sibuk, sedikitnya ada tiga konferensi pers di tempat yang berbeda. Belum lagi kejadian-kejadian tertentu. Seorang teman wartawan dari majalah Tempo, Prabandari, selalu memberi tahu saya peristiwa-peristiwa yang terjadi.

Dari berbagai peristiwa itu, yang menonjol adalah laporan dan kejadian tentang kecurangan panitia penyelenggara, yaitu UNAMET. Yang paling banyak dikeluhkan adalah bahwa UNAMET hanya merekrut orang-orang pro-kemerdekaan di kepanitiaan. Klaim ini terbukti. Saya mengunjungi hampir semua TPS terdekat, tidak ada orang pro-integrasi yang dilibatkan.

Yang bikin suasana panas di kota yang sudah panas itu adalah sikap polisi-polisi UNAMET yang tidak mengizinkan pemantau dan pengawas dari kaum pro-integrasi, bahkan untuk sekedar mendekat. Paling dekat dari jarak 200 meter. Tapi pemantau-pemantau bule bisa masuk ke sektratriat. Bahkan ikut mengetik!

Di sini saya perlu mengungkapkan ukuran mental orang-orang LSM dari Indonesia, yang kebanyakan mendukung kemerdekaan Timtim karena didanai asing. Mereka tak berani mendekat ke TPS dan sekretariat, baru ditunjuk polisi UNAMET saja langsung mundur. Tapi kepada pejabat-pejabat Indonesia mereka sangat galak: menuding, menuduh, menghujat. Berani melawan polisi. Di hadapan polisi bule mereka mendadak jadi inlander betulan.

Tambah kisruh adalah banyak orang-orang pro-integrasi tak terdaftar sebagai pemilih. Dari 4 konferensi pers, 3 di antaranya adalah tentang ungkapan soal ini. Bahkan anak-anak Mahidi mengangkut segerombolan orang tua yang ditolak mendaftar pemilih karena dikenal sebagai pendukung integrasi.

Saya pun harus mengungkapkan ukuran mental wartawan-wartawan Indonesia di sini. Siang menjelang sore, UNAMET menyelenggarakan konferensi pers di Dili tentang rencana penyelenggaraan jajak pendapat besok. Saya tentu hadir. Lebih banyak wartawan asing daripada wartawan Indonesia. Saya yakin wartawan-wartawan Indonesia tahu kecurangan-kecurangan itu.

Saat tanya jawab, tidak ada wartawan Indonesia mempertanyakan soal praktik tidak fair itu. Bahkan sekedar bertanya pun tidak. Hanya saya yang bertanya tentang itu. Jawabannya tidak jelas. Pertanyaan didominasi wartawan-wartawan bule.

Tapi saya ingat betapa galaknya wartawan-wartawan Indonesia kalau mewawancarai pejabat Indonesia terkait dengan HAM atau praktik-praktik kecurangan. Hambatan bahasa tidak bisa jadi alasan karena cukup banyak wartawan Indonesia yang bisa bahasa Inggris. Saya kira sebab utamanya rendah diri, seperti sikap para aktifis LSM lokal tadi.

Setelah konferensi pers usai, sekitar 2 jam saya habiskan untuk menulis laporan. Isi utamanya tentang praktik-praktik kecurangan itu. Selain wawancara, saya juga melengkapinya dengan pemantauan langsung.

Kira-kira 2 jam setelah saya kirim, editor di Bangkok menelepon. Saya masih ingat persis dialognya:

“Kafil, we can’t run the story,” katanya.

“What do you mean? You send me here. I do the job, and you don’t run the story?” saya berreaksi.

“We can’t say the UNAMET is cheating…” katanya.

“That’s what I saw. That’s the fact. You want me to lie?” saya agak emosi.

“Do they [pro-integrasi] say all this thing because they know they are going to loose?”

“Well, that’s your interpretation. I’ll make it simple. I wrote what I had to and it’s up to you,”

“I think we still can run the story but we should change it.”

“ I leave it to you,” saya menutup pembicaraan.

Saya merasa tak nyaman. Namun saya kemudian bisa maklum karena teringat bahwa IPS Asia-Pacific itu antara lain didanai PBB.

***

Kira-kira jam 5:30 sore, 29 Agustus 199, saya tiba di penginapan. Lagi-lagi, Laffae sedang dikerumuni tokoh-tokoh pro-integrasi Timtim. Terlihat Armindo Soares, Basilio Araujo, Hermenio da Costa, Nemecio Lopes de Carvalho, nampaknya mereka sedang membicarakan berbagai kecurangan UNAMET.

Makin malam, makin banyak orang berdatangan. Orang-orang tua, orang-orang muda, tampaknya dari tempat jauh di luar kota Dili. Kelihatan sekali mereka baru menempuh perjalanan jauh.

Seorang perempuan muda, cukup manis, tampaknya aktifis organisasi, terlihat sibuk mengatur rombongan itu. Saya tanya dia siapa orang-orang ini.

“Mereka saya bawa ke sini karena di desanya tidak terdaftar,” katanya. “Mereka mau saya ajak ke sini. Bahkan mereka sendiri ingin. Agar bisa memilih di sini. Tidak ada yang membiayai. Demi merah putih,” jawabnya bersemangat.

Saya tergetar mendengar bagian kalimat itu: “…demi merah putih.”

Mereka semua ngobrol sampai larut. Saya tak tahan. Masuk kamar. Tidur. Besok jajak pendapat.

Pagi 30 Agustus 1999. Saya keliling Dili ke tempat-tempat pemungutan suara. Di tiap TPS, para pemilih antri berjajar. Saya bisa berdiri dekat dengan antrean-antrean itu. Para ‘pemantau’ tak berani mendekat karena diusir polisi UNAMET.

Karena dekat, saya bisa melihat dan mendengar bule-bule Australia yang sepertinya sedang mengatur barisan padahal sedang kampanye kasar. Kebetulan mereka bisa bahasa Indonesia: “Ingat, pilih kemerdekaan ya!” teriak seorang cewek bule kepada sekelompok orang tua yang sedang antre. Bule-bule yang lain juga melakukan hal yang sama.

Sejenak saya heran dengan kelakuan mereka. Yang sering mengampanyekan kejujuran, hak menentukan nasib sendiri. Munafik, pikir saya. Mereka cukup tak tahu malu.

Setelah memantau 4-5 TPS saya segera mencari tempat untuk menulis. Saya harus kirim laporan. Setelah mengirim laporan. Saya manfaat waktu untuk rileks, mencari tempat yang nyaman, melonggarkan otot. Toh kerja hari itu sudah selesai.

Sampailah saya di pantai agak ke Timur, di mana patung Maria berdiri menghadap laut, seperti sedang mendaulat ombak samudra. Patung itu bediri di puncak bukit. Sangat besar. Dikelilingi taman dan bangunan indah. Untuk mencapai patung itu, anda akan melewati trap tembok yang cukup landai dan lebar. Sangat nyaman untuk jalan berombongan sekali pun. Sepanjang trap didindingi bukit yang dilapisi batu pualam. Di setiap kira jarak 10 meter, di dinding terpajang relief dari tembaga tentang Yesus, Bunda Maria, murid-murid Yesus, dengan ukiran yang sangat bermutu tinggi.

Patung dan semua fasilitasnya ini dibangun pemerintah Indonesia. Pasti dengan biaya sangat mahal. Ya, itulah biaya politik.

Tak terasa hari mulai redup. Saya harus pulang. Besok pengumuman hasil jajak pendapat.

Selepas magrib, 30 September 1999. Kembali saya menunaikan kewajiban yang diperintahkan oleh kebiasaan buruk: merokok sambil minum kopi di lobi penginapan. Kali ini, Laffae mendahului saya. Dia sudah duluan mengepulkan baris demi baris asap dari hidung dan mulutnya. Kami ngobrol lagi.

Tapi kali ini saya tidak leluasa. Karena banyak tamu yang menemui Laffae, kebanyakan pentolan-pentolan milisi pro-integrasi. Ditambah penginapan kian sesak. Beberapa pemantau nginap di situ. Ada juga polisi UNAMET perwakilan dari Pakistan.

Ada seorang perempuan keluar kamar, melihat dengan pandangan ‘meminta’ ke arah saya dan Laffae. Kami tidak mengerti maksudnya. Baru tau setelah lelaki pendampingnya bilang dia tak kuat asap rokok. Laffae lantas bilang ke orang itu kenapa dia jadi pemantau kalau tak kuat asap rokok. Kami berdua terus melanjutkan kewajiban dengan racun itu. Beberapa menit kemudian cewek itu pingsan dan dibawa ke klinik terdekat.

Saya masuk kamar lebih cepat. Tidur.

Pagi, 4 September 1999. Pengumuman hasil jajak pendapat di hotel Turismo Dili. Bagi saya, hasilnya sangat mengagetkan: 344.508 suara untuk kemerdekaan, 94.388 untuk integrasi, atau 78,5persen berbanding 21,5persen.

Ketua panitia mengumumkan hasil ini dengan penuh senyum, seakan baru dapat rezeki nomplok. Tak banyak tanya jawab setelah itu. Saya pun segera berlari mencari tempat untuk menulis laporan. Setelah selesai, saya balik ke penginapan.

Di lobi, Laffae sedang menonton teve yang menyiarkan hasil jajak pendapat. Sendirian. Saat saya mendekat, wajahnya berurai air mata. “Tidak mungkin. Ini tidak mungkin. Mereka curang..” katanya tersedu. Dia merangkul saya. Lelaki pejuang, tegar, matang ini mendadak luluh. Saya tak punya kata apapun untuk menghiburnya. Lagi pula, mata saya saya malah berkaca-kaca, terharu membayangkan apa yang dirasakan lelaki ini. Perjuangan keras sepanjang hidupnya berakhir dengan kekalahan.

Saya hanya bisa diam. Dan Laffae pun nampaknya tak mau kesedihannya terlihat orang lain. Setelah beberapa jenak ia berhasil bersikap normal.

“Kota Dili ini akan kosong..” katanya. Pelan tapi dalam. “Setelah kosong, UNAMET mau apa.”

Telepon berbunyi, dari Prabandari Tempo. Dia memberi tahu semua wartawan Indonesia segera dievakuasi pakai pesawat militer Hercules, karena akan ada penyisiran terhadap semua wartawan Indonesia. Saya diminta segera ke bandara saat itu juga. Kalau tidak, militer tidak bertanggung jawab. Semua wartawan Indonesia sudah berkumpul di bandara, tinggal saya. Hanya butuh lima menit bagi saya untuk memutuskan tidak ikut. “Saya bertahan, nDari. Tinggalkan saja saya.”

Laffae menguping pembicaraan. Dia menimpali: “Kenapa wartawan kesini kalau ada kejadian malah lari?” katanya. Saya kira lebih benar dia mikirnya.

Saya lantas keluar, melakukan berbagai wawancara, menghadiri konferensi pers, kebanyakan tentang kemarahan atas kecurangan UNAMET. “Anggota Mahidi saja ada 50 ribu; belum Gardapaksi, belum BMP, belum Halilintar, belum masyarakat yang tak ikut organisasi,” kata Nemecio Lopez, komandan milisi Mahidi.

Kembali ke penginapan sore, Laffae sedang menghadapi tamu 4-5 orang pentolan pro-integrasi. Dia menengok ke arah saya: “Kafil! Mari sini,” mengajak saya bergabung.

“Sebentar!” saya bersemangat. Saya tak boleh lewatkan ini. Setelah menyimpan barang-barang di kamar, mandi kilat. Saya bergabung. Di situ saya hanya mendengarkan. Ya, hanya mendengarkan.

“Paling-paling kita bisa siapkan seribuan orang,” kata ketua Armindo Soares, saya bertemu dengannya berkali-kali selama peliputan.

“Saya perlu lima ribu,” kata Laffae.

“Ya, lima ribu baru cukup untuk mengguncangkan kota Dili,” katanya, sambil menengok ke arah saya.

“Kita akan usahakan,” kata Armindo.

Saya belum bisa menangkap jelas pembicaraan mereka ketika seorang kawan memberitahu ada konferensi pers di kediaman Gubernur Abilio Soares. Saya segera siap-siap berangkat ke sana. Sekitar jam 7 malam, saya sampai di rumah Gubernur. Rupanya ada perjamuan. Cukup banyak tamu. Soares berbicara kepada wartawan tentang penolakannya terhadap hasil jajak pendapat karena berbagai kecurangan yang tidak bisa dimaklumi.

Setelah ikut makan enak, saya pulang ke penginapan sekitar jam 8:30 malam. Sudah rindu bersantai dengan Laffae sambil ditemani nikotin dan kafein. Tapi Laffae tidak ada. Anehnya, penginapan jadi agak sepi. Para pemantau sudah check-out, juga polisi-polisi UNAMET dari Pakistan itu. Tak banyak yang bisa dilakukan kecuali tidur.

Namun saat rebah, kantuk susah datang karena terdengar suara-suara tembakan. Mula-mula terdengar jauh. Tapi makin lama makin terdengar lebih dekat dan frekuensi tembakannya lebih sering. Mungkin karena perut kenyang dan badan capek, saya tertidur juga.

Tanggal 5 September pagi, sekitar jam 09:00, saya keluar penginapan. Kota Dili jauh lebi lengang. Hanya terlihat kendaran-kendaraan UNAMET melintas di jalan. Tak ada lagi kendaraan umum. Tapi saya harus keluar. Apa boleh buat – jalan kaki. Makin jauh berjalan makin sepi, tapi tembakan nyaris terdengar dari segala arah. Sesiang ini, Dili sudah mencekam.

Tidak ada warung atau toko buka. Perut sudah menagih keras. Apa boleh buat saya berjalan menuju hotel Turismo, hanya di hotel besar ada makanan. Tapi segera setelah itu saya kembali ke penginapan. Tidak banyak yang bisa dikerjakan hari itu.

Selepas magrib 5 Setember 1999. Saya sendirian di penginapan. Lapar. Tidak ada makanan. Dili sudah seratus persen mencekam. Bunyi tembakan tak henti-henti. Terdorong rasa lapar yang sangat, saya keluar penginapan.

Selain mencekam. Gelap pula. Hanya di tempat-tempat tertentu lampu menyala. Baru kira-kira 20 meter berjalan, gelegar tembakan dari arah kanan. Berhenti. Jalan lagi. Tembakan lagi dari arah kiri. Tiap berhenti ada tarikan dua arah dari dalam diri: kembali atau terus. Entah kenapa, saya selalu memilih terus, karena untuk balik sudah terlanjur jauh. Saya berjalan sendirian; dalam gelap; ditaburi bunyi tembakan. Hati dipenuhi adonan tiga unsur: lapar, takut, dan perjuangan menundukkan rasa takut. Lagi pula, saya tak tau ke arah mana saya berjalan. Kepalang basah, pokoknya jalan terus.

Sekitar jam 11 malam, tanpa disengaja, kaki sampai di pelabuhan Dili. Lumayan terang oleh lampu pelabuhan. Segera rasa takut hilang karena di sana banyak sekali orang. Mereka duduk, bergeletak di atas aspal atau tanah pelabuhan. Rupanya, mereka hendak mengungsi via kapal laut.

Banyak di antara mereka yang sedang makan nasi bungkus bersama. Dalam suasa begini, malu dan segan saya buang ke tengah laut. Saya minta makan! “Ikut makan ya?” kata saya kepada serombongan keluarga yang sedang makan bersama. “Silahkan bang!.. silahkan!..” si bapak tampak senang. Tunggu apa lagi, segera saya ambil nasinya, sambar ikannya. Cepat sekali saya makan. Kenyang sudah, sehingga ada tenaga untuk kurang ajar lebih jauh: sekalian minta rokok ke bapak itu. Dikasih juga.

Sekitar jam 3 malam saya berhasil kembali ke penginapan.

Pagi menjelang siang, tanggal 6 September 1999. Saya hanya duduk di lobi penginapan karena tidak ada kendaraan. Tidak ada warung dan toko yang buka. Yang ada hanya tembakan tak henti-henti. Dili tak berpenghuni – kecuali para petugas UNAMET. Nyaris semua penduduk Dili mengungsi, sebagian via kapal, sebagian via darat ke Atambua. Orang-orang pro-kemerdekaan berlarian diserang kaum pro-integrasi. Markas dan sekretariat dibakar. Darah tumpah lagi entah untuk keberapa kalinya.

Sekarang, saya jadi teringat kata-kata Laffae sehabis menyaksikan pengumuman hasil jajak pedapat kemarin: “Dili ini akan kosong..”

Saya pun teringat kata-kata dia: “Saya perlu lima ribu orang untuk mengguncang kota Dili..” Ya, sekarang saya berkesimpulan ini aksi dia. Aksi pejuang pro-integrasi yang merasa kehilangan masa depan. Ya, hanya saya yang tahu siapa tokoh utama aksi bumi hangus ini, sementara teve-teve hanya memberitakan penyerangan mililis pro-integrasi terhadap kaum pro-kemerdekaan.

Tentu, orang-orang pro-integrasi pun mengungsi. Laffae dan pasukannya ingin semua orang Timtim bernasib sama: kalau ada satu pihak yang tak mendapat tempat di bumi Loro Sae, maka semua orang timtim harus keluar dari sana. Itu pernah diucapkannya kepada saya.

Inilah hasil langsung jajak pendapat yang dipaksakan harus dimenangkan. Hukum perhubungan antar manusia saat itu sepasti hukum kimia: tindakan lancung dan curang pasti berbuah bencana.

***

Saya harus pulang, karena tidak banyak yang bisa dilihat dan ditemui. Untung masih ada omprengan yang mau mengantara ke bandara. Sekitar jam 11 pagi saya sampai di pelabuhan udara Komoro. Keadaan di bandara sedang darurat. Semua orang panik. Semua orang ingin mendapat tiket dan tempat duduk pada jam penerbangan yang sama. Karena hura-hara sudah mendekati bandara. Lagi pula penerbangan jam itu adalah yang satu-satunya dan terakhir.

Bule-bule yang biasanya tertib kini saling sikut, saling dorong sampai ke depan komputer penjaga kounter. Ada bule yang stres saking tegangnya sampai-sampai minta rokok kepada saya yg berdiri di belakang tenang-tenang saja. Beginilah nikmatnya jadi orang beriman.

Banyak yang tidak kebagian tiket. Entah kenapa saya lancar-lancar saja. Masuk ke ruangan tunggu, di situ sudah ada Eurico Gutteres. Saya hampiri dia, saya bilang saya banyak bicara dengan Laffae dan dia menyampaikan salam untuknya. Eurico memandang saya agak lama, pasti karena saya menyebut nama Laffae itu.

Sore, 7 Novembe3, 1999, saya mendarat di Jakarta.

Penduduk Timtim mengungsi ke Atambua, NTT. Sungguh tidak mudah mereka mengungsi. Polisi UNAMET berusaha mencegah setiap bentuk pengungsian ke luar Dili. Namun hanya sedikit yang bisa mereka tahan di Dili.

Di kamp-kamp pengungsian Atambua, keadaan sungguh memiriskan hati. Orang-orang tua duduk mecakung; anak-anak muda gelisah ditelikung rasa takut; sebagian digerayangi rasa marah dan dendam; anak-anak diliputi kecemasan. Mereka adalah yang memilih hidup bersama Indonesia. Dan pilihan itu mengharuskan mereka terpisah dari keluarga.

Pemerintah negara yang mereka pilih sebagai tumpuan hidup, jauh dari menyantuni mereka. Kaum milisi pro-integrasi dikejar-kejar tuntutan hukum atas ‘kejahatan terhadap kemanusiaan’, dan Indonesia, boro-boro membela mereka, malah ikut mengejar-ngejar orang Timtim yang memilih merah putih itu. Eurico Guterres dan Abilio Soares diadili dan dihukum di negara yang dicintai dan dibelanya.

Jendral-jendral yang dulu menikmati kekuasaan di Timtim, sekarang pada sembunyi. Tak ada yang punya cukup nyali untuk bersikap tegas, misalnya: “Kami melindungi rakyat Timtim yang memilih bergabung dengan Indonesia.” Padahal, mereka yang selalu mengajarkan berkorban untuk negara; menjadi tumbal untuk kehormatan pertiwi, dengan nyawa sekalipun.

Sementara itu, para pengungsi ditelantarkan. Tak ada solidaritas kebangsaan yang ditunjukkan pemerintah dan militer Indonesia.

Inilah tragedi kemanusiaan. Melihat begini, jargon-jargon negara-negara Barat, media asing, tentang ‘self determination’, tak lebih dari sekedar ironi pahit. Sikap negara-negara Barat dan para aktifis kemanusiaan internasional yang merasa memperjuangkan rakyat Timtim jadi terlihat absurd. Sebab waktu telah membuktikan bahwa yang mereka perjuangkan tak lebih tak kurang adalah sumberdaya alam Timtim, terutama minyak bumi, yang kini mereka hisap habis-habisan.

Pernah Laffae menelepon saya dari Jakarta, kira-kira 3 bulan setelah malapetaka itu. Ketika itu saya tinggal di Bandung. Dia bilang ingin ketemu saya dan akan datang ke Bandung. Saya sangat senang. Tapi dia tak pernah datang..saya tidak tahu sebabnya. Mudah-mudahan dia baik-baik saja.

***

12 TAHUN BERALU SUDAH. APA KABAR BAILOUT IMF YANG 43 MILYAR DOLAR ITU? SAMPAI DETIK INI, UANG ITU ENTAH DI MANA. ADA BEBERAPA PERCIK DICAIRKAN TAHUN 1999-2000, TAK SAMPAI SEPEREMPATNYA. DAN TIDAK MENOLONG APA-APA. YANG TERBUKTI BUKAN MENCAIRKAN DANA YANG DIJANJIKAN, TAPI MEMINTA PEMERINTAH INDONESIA SUPAYA MENCABUT SUBSIDI BBM, SUBSIDI PANGAN, SUBSIDI LISTRIK, YANG MEMBUAT RAKYAT INDONESIA TAMBAH MISKIN DAN SENGSARA. ANEHNYA, SEMUA SARANNYA ITU DITURUT OLEH PEMERINTAH RENDAH DIRI BIN INLANDER INI.

Yang paling dibutuhkan adalah menutupi defisit anggaran. Untuk itulah dana pinjaman [bukan bantuan] diperlukan. Namun IMF mengatasi defisit angaran dengan akal bulus: mencabut semua subsidi untuk kebutuhan rakyat sehingga defisit tertutupi, sehingga duit dia tetap utuh. Perkara rakyat ngamuk dan makin sengsara, peduli amat.

Melengkapi akal bulusnya itu IMF meminta pemerintah Indonesia menswastakan semua perusahaan negara, seperti Bank Niaga, BCA, Telkom, Indosat.

Pernah IMF mengeluarkan dana cadangan sebesar 9 milyar dolar. Tapi, seperti dikeluhkan Menteri Ekonomi Kwik Kian Gie ketika itu, seperak pun dana itu tidak bisa dipakai karena hanya berfungsi sebagai pengaman. Apa bedanya dengan dana fiktif?

Lagi pula, kenapa ketika itu pemerintah Indonesia seperti tak punya cadangan otak, yang paling sederhana sekalipun. KENAPA MAU MELEPAS TIMTIM DENGAN IMBALAN UTANG? BUKANKAN SEMESTINYA KOMPENSASI? ADAKAH DI DUNIA INI ORANG YANG HARTANYA DI BELI DENGAN UTANG? NIH SAYA BAYAR BARANGMU. BARANGMU SAYA AMBIL, TAPI KAU HARUS TETAP MENGEMBALIKAN UANG ITU. BUKANKAH INI SAMA PERSIS DENGAN MEMBERI GRATIS? DAN DALAM KASUS INI, YANG DIKASIH ADALAH NEGARA? YA, INDONESIA MEMBERI NEGARA KEPADA IMF SECARA CUMA-CUMA.

Kalau saya jadi wakil pemerintah Indonesia waktu itu, saya akan menawarkan ‘deal’ yang paling masuk akal: “Baik, Timor Timur kami lepas tanpa syarat. Ganti saja dana yang sudah kami keluarkan untuk membangun Timtim selama 24 tahun.” Dengan demikian, tidak ada utang piutang.

SAMPAI HARI INI INDONESIA MASIH MENYICIL UTANG KEPADA IMF, UNTUK SESUATU YANG TAK PERNAH IA DAPATKAN. SAYA HARAP GENERASI MUDA INDONESIA TIDAK SEBODOH PARA PEMIMPIN SEKARANG. [KbrNet/Slm]

Source: Petani Keyboard

352 Tanggapan to “Sejarah Lepasnya Timor Timur Yang tak Pernah Terungkap”

  1. Buat Yuri Colmera,

    Sebaiknya asset2 anda segera diurus dan didaftarkan di Agraria Timor Leste, Tetapi perlu di ketahui bawah warga negara asing tidak diperbolehkan memiliki tanah, tetapi di perbolehkan memiliki aset di atas tanah tersebut. Jika ada saudara di Timor Leste sebaiknya mengurus secepatnya.

    Semoga info ini membantu anda.
    Salam

  2. Anonymous said

    Video tentang Salah pilih Indonesia

    https://www.youtube.com/watch?v=tHCDh4ubtkY

  3. Anonymous said

    LIVE SCORR

  4. maun PEDRO……….gmn cara untuk mendaftarkan??saya tlah menjual tanah trsebut kpd kawan saya yg kelahiran tim-tim dan sdh mnjd warga negara sana tp kata kawan saya dia tdk bisa menempati

    saya orang indonesia(kelahiran timor-timur) tapi saya bangga dengan sahabat dan saudara-saudara yg ada d timor-leste.biarkan mereka yg blm prnh tinggal d timor-leste menggongong maun.

    bagi saudara-saudaraku yg d tanah pertiwi.kita sepantas nya malu pada timor-leste karena apa yg di miliki timor-leste di rampas oleh bangsa kita.di mata mata kalian slama ini?
    lihat lah pemerintah yg hanya bisa mengucap janji tapi tidak pernah menepati janji nya tersebut………..
    kalian berkoar-koar tapi apa yg kalian dapat???nol kan.

    kita sesama manusia harus saling menjaga bukan saling menghujat
    kita mati gk bakalan bawa bangsa indo/timles.yg kita bawa hanya kain
    maka dari itu lebih baik kita saling INTROPEKSI

    salam hangat buat sodara-sodaraku bangsa indonesia
    salam hangat juga buat kolega-kolegaku di timor-leste

  5. Jangan mencari kambing hitam.biarlah yg lalu berlalu tidak baik mengungkit masa lalu.lebih baik sekarang kita saling berangkulan agar ke depan nya kita bisa saling tolong-menolong

  6. kpd: yuri colmera

    saya setuju dengan comentar anda.dari semua sudut pandang jelas anda benar bahwa kita(INDONESIA)harus arif menyikapi timor-leste yg tlah menerima kebrutalan TNI di masa lalu

  7. obrigado barak KORBAN KEBOHONGAN SBY atas partisipasi anda atas coment saya.

  8. Anonymous said

    Salah tulis wartawan goblok,tau apa kau anjing ttg timor leste. Yg kautulis hanya keburukan pro merdeka saja tp indonesia membantai rakyat. Timor leste kau tdk tau iti anjing tai het o nia aman,,,, Fuck you,,,,!!!!

  9. Anonymous said

    Terasa sesak dada ini

  10. Andi said

    Kamu ya anjing

  11. Oscar Lima said

    Kemerdekaan sudah di tinggu sejak 1975. Indonesia masuk sebagai aneksasi kedaulatan Timor Leste. Semua pembangunan di Leste waktu itu untjk mencari dukungan dar masarakay ugk bergabung dgn Indonesia. Tapu Rakyat Timor Leste lebih senang merdeka setelah menderjta selama 27 Tahun dan ragusan ribu orang kehilanagn nyawa. Refrerendum adalah hasil sah dan akurat bahwa masratakat Maubere sudah pasti akan memilih merdeka karna sejarah yg kelam selama pemwrintahan indonesia. Viva Timor…

  12. vitoria said

    woiii..anjin kau andi..wartawan goblok sembarang tulis berita yang gak jelas…anjing dasar bangsa indonesia bodoh dan pembohong….

  13. roy said

    Vitoria said. …..kau kalau mau marah sama andi jangan bawa nama bangsa indonesia…lu akan behadpan dengan indonesia mau,,bisa hancur lu

  14. jaya satriya said

    sedih mendengar nya APA lg says putra asli Timur Timur KNP this begini JD nya

  15. jaya satriya said

    sampai sekarang exs warga Timor timur bellum menerima gnti rugi aset yg di jnjikan pk SBY pengajuan kemarin 50jt kini KBR nya dpt 10jt Dan ITU sangat jauh Dari hrpan warga exs Timor timur..Dan parah nya lg..kekuasaan pk.SBY kurang 2bln lg lengser..trust gmn basin warga exs Tim Tim ini

  16. Kalika Cake Shop (Toko Kue Kalika)

    What’s Happening i’m new to this, I stumbled upon this I’ve discovered It
    positively helpful and it has aided me out loads.
    I’m hoping to contribute & aid other users like its
    aided me. Great job.

  17. Manfaat Buah Segar

    I’ve been surfing on-line greater than three hours today,
    but I by no means discovered any interesting article like
    yours. It is pretty price sufficient for me. Personally,
    if all site owners and bloggers made good content material as you did, the web will be a
    lot more useful than ever before.

  18. toko kue ulang tahun bandung

    I think the admin of this site is actually working hard for his web page, since here
    every material is quality based data.

  19. Anonymous said

    apa boleh buat?/??semua udh berlalu kok??? timor leste udah merdekaaaaaaaaaaaaa. viva timor leste

  20. ari said

    seaandainya saya jadi jendral disana darah mereka halal untuk kami tumpahkan di indonesia timtim

  21. Anonymous said

    prabu sang grama wijaya peletak dasar kerajaan raya majapahit. kita bangga punya itu raja bijaksana

  22. Apolly said

    Meskipun di beritakan yang tidak2 dan di jelek2kin PUN TIMOR LESTE sudah merdeka……Biar kalian mengonggong hingga urat tenggorokkan putuspun percuma..hahahahahah…..toh udah merdeka dan tidak bisa lagi di ganggu gugat !!!!!!!

  23. […] http://kabarnet.in/2013/08/03/sejarah-lepasnya-timor-timur-yang-tak-pernah-terungkap/ […]

  24. Anonymous said

    Hahaha… itu hanya MENIT-MENIT YANG LUPUT DARI CATATAN SEJARAH INDONESIA (full of shits), bagaimana dengan BERTAHUN-TAHUN KESENGSARAAN YANG DIRASAKAN MASYARAKAT TIMOR LESTE. Silahkan datang dan saksikan sendiri di ” Museu da Resistencia de Timor Leste” di Dili.

  25. adi said

    Sayang sekali investigasi anda terlalu dangkal

  26. Erimbo19 said

    Wartawan Abunawas semoga anda tdk sedang kumpul2 berita lagi buat Papua,… sampe ada berita aneh2 ingat sampe di nerakapun saya akan ketemu anda.

  27. Anonymous said

    Itulah indonesia.kecil-kecil cabe rawit,a besar cabe-cabean.
    Blm kaya dan blm jdi pemimpin suka membela negara.sudah kaya jadi pemimpin suka membelot belit

  28. @methala said

    Leste telah merdeka biarlah mereka membangun negaranya dengan adil damai dan sentosa. Dan bagi saudaraq d pro integrasi semoga mereka jg mendapat hak hidup seperti warga negara indonesia umumnya.

  29. Anonymous said

    Itu hanya detik2 terakhir saja TNI ada dibelakang milisi pro integrasi untuk membunuh prokemerdekaan dan membumihanguskan Timor leste jadi tdk ada satu aset dari indo yg tersisa,bagaimana mungkin kau minta inbalan dari IMF untuk aset mu yg sudah kau bakar habis dan nyawa kami timor leste hampir 200.000 org yg gugur paska invasi oleh kebrutalanTNI Kau bisa membayar itu??kamu sebagai wartawan tulis berita yg tdk berbobot dasar biadab,tolol pake dengkul engak pake otak.

  30. Anonymous said

    Kafil yamin, sebenarnya tugas wartawan itu netral dan imparsial tulisan mu ini hanya sebuah retorika Yg tdk ada faktanya dan tdk perlu di baca lebih cocok buang ke ton sampah,bagaimana mungkin tulis sebuah berita hanya dalam seminggu bisa rangkun seluruh kejadian yang terjadi di bilang curang,dibilang dikembalikan aset indo….cobalah mencari sumber yg banyak supaya melengkapi tulisan mu…apakah saudara mengetahui Timor Leste sudah mendeklarikan kemerdekaanya sebelum indonesia menganeksasi besar 2an ke Timor leste gunakan semua kekuatan alat berat baik dari udara darat dan laut untuk mengempur Negeri leluhur kami itu peran yg tdk seimbang yg hanya memakai senjata, dan dari situ ratusan ribu jiwa yg melayang,begitu juga penembakan dan kebrutalan TNI dalam tragedi santa cruz kpd pemuda dan mahasiswa yg dengan tangan kosong ditembaki secara membabi buta tampa peri kemanusian, begitu juga d sebelum dan sesudah jajak pendapat TNI dan polri beri senjata kpd milisi pro jakarta tuk membunuh prokem dan membumihanguskan Timor Leste…jadi apa yang indonesia bangun selama 24 tahun hanya membangun dan menghaguskan kembali jadi abu nol besar…

  31. Anonymous said

    Silakan anda bercerita panjang lebar, hanya orang bodoh seperti anda yang akan mempercayainya..! Selamat..!

  32. Anonymous said

    Anda pikir gampang di percayai dengan semua tulisan anda? Asal kamu tau sebelom Indonesia masuk ke Timor Leste, Timor Leste sudah merdeka sejak tahun 1975. Jadi 100% omong kosong.

  33. Cintus said

    boleh dibilang kamu wartawan yg terlambat …kamu baku naik di jakarta sana tidak tau info ttg kami disini…..derita kami sejak 75 invasi militer masuk disini tdk sm sperti keluarga kamu……..Anjin KAFIL YAMIN kamu itu wartawan yg tidak laku….kamu itu wartawan yg berat sebelah…kedatangan km waktu di timor timur itu hanya berita basih aja tau…..kamu dapat lafaek di kota dili itu org2 yg takut perang lari ke kota tau…lafaek itu org flustrasi tau.

  34. Gibrael said

    Mas Kafil,
    carilah buku yang berjudul Detik-detik terakhir, yang ditulis oleh mba Maria Kuntari kalo g salah itu namanya, dia asli dari Jakarta, seorang wartawati dari surat kabar KOMPAS.
    Bukunya lebih mendasar tentang masalah Timor-Leste, dia datang ke timtim beberapa tahun sebelom jajak pendapat 1999 dan tau persis masalah orang timor-leste.

    Terima kasih

  35. Memang gobolk si Khafil Yamin ini…apa yg Indonesia bangun disini, Timor-Leste ini…bukan dr duitnya indonesia….tapi dr bank dunia….tau…monyet wartawan…sewaktu anda disini juga anda tdk bisa bertemu dgn yg pro kemerdekaan krn mereka pd lari semua krn di kejar oleh milisi yg dibacking oleh tni dan polri….jadi tulisanmu ini…hei wartawan babi….hanya sepihak….monyet….anjing

  36. firaku said

    wartawan bodoh luar biasa. ini wartawan yang ingin membunuh diri sendiri. tidak memiliki secreat. anda membunuh dirimu sendiri dan juga teman2mu. kamu kira pekerjaanmu hanya berakhir di tiles saja. tdk ada di lain tempat atau lain negara.

  37. Anonymous said

    Analisis saya tentang tulisan ini bahwa ini bukanlah sebuah artikel yang ditulis oleh seorang journalist yang berkualitas. Alasanya semua informasi yang tercantum didalamnya hanyalah sebuah personal account aja dan sebuah refleksi atas ketidak puasan san penulis terhadap event yang secara tidak langsung bertentangan dengan persepsi yang seharusnya ia ingingkan terjadi. Kalau memang seorang journalist yang professional, ia tahu benar bahwa artikelnya tidak bias ke satu sisi saja tapi harus netral, dengan mengutip semua informasi dari kedua belah pihak. Untuk menilai bahwa kejadian itu benar atau tidak, bukan seorang journalist yang langsung menilai kejadian itu didalam artikelnya, tapi ia hanya memberi bukti-bukti yang akurat dari pihak pro’s and cons, dan pembacalah yang menilai jika kejadian itu memang demikian. Contoh kecil dari tulisan ini yang sangat tidak professional bagi seorang journalist itu adalah dengan hanya mencantumkan info-info tentang “Lafaek”. Pertanyaan besar yang muncul bagi pembaca setelah membaca tulisan ini adalah “Siapakah si Lafaek?, Apa peranannya diwaktu itu? Jika dia memang orang penting atau VIP pro-integrasi dan jabatannya waktu ita sebagai apa? Apakah ia seorang jendral TNI yang mempunyai power untuk meminta lima ribu orang prajurit guna membumi hanguskan kota Dili? Siapakah yang sebenarnya bertangun jawab atas keamanan diwaktu itu? Apakah informasi yang Lafaek berikan lebih akurat dari informasi dari Gubernur Tim-tim waktu itu? Apa hubungan Lafaek dengan mengadakan rapat bersama pejabat-pejabat pemerintah setempat? Siapakah pemimpin-pemimpin tertingi dari kedua belah pihak diwaktu itu dan apa tangapan mereka tentang hasil jajak pendapat? Jika terjadi kecurangan dalam jajak pendapat, apakah ada opsi selanjutnya yang telah disepakati dari kedua belah pihak untuk ditindak lanjuti?

    Terlalu banyak pertanyaan yang muncul dari tulisan ini dan kadang bisa membuat para pembaca melakukan false assumption tentang kualitas wartawan2 dari Indonesia yang meliput berita. Terkadan pula saya sebagai pembaca memprediksi kualitas penulis yang mengaku as journalist for IPS Asia-Pacific. Saya tahu bahwa journalist yang dipekerjakan oleh IPS Asia-Pacific adalah orang-orang yang benar-benar berkualitas tinggi dalam hal journalism atau news covering. Jadi saya beranggapan bahwa artikel yang disebut oleh penulis dari artikel diatas ke IPS dan ditolak untuk dipublikasikan memang benar karena tidak memenuhi elemen-elemen sebagai a news value dan bertentangan dengan code of ethics dari seorang journalist.

    Cheers

  38. Bonifasius Ratrigis said

    Timor Leste telah merdeka, apapun yang telah terjadi di masa lampau mari antara rakyat Timor Leste dan Rakyat Indonesia kita lupakan saja. Biarlah saudara-saudara kita di Timor Leste terus membangun negaranya penuh kedamaian. Saatnya kita saling menghormati sebagai adik-kakak dan saudara kita. Salam sayang dari Timor Barat (Indonesia).

  39. Jangan terulang untuk ketiga kalinya:

    1. Presiden Soekarno pernah membentuk operasi Dwikora salah satunya untuk menganeksasi Kalimantan Utara.
    2. Presiden Soeharto pernah membentuk operasi Seroja untuk aneksasi Timor Leste.

    Lupa bahwa kedua wilayah tersebut bukan exs Hindia Belanda yang secara internasional dinyatakan bahwa Negara Kesatuan Republik Indonesia wilayahnya adalah exs Hindia Belanda di Asia Tenggara.

  40. Terima kasih buat yang buat artikel walau belum mampu,,, Kemerdekaan Timor – Leste sudah di sahkan sejak 1975 seperti pak Oscar Lima beri komen di atas,,,,dan ketegasan status kemerdekaan negara RDTL ditegaskan lagi oleh Santo Paus II ketika berkunjung ke Timor – Leste 1989 artinya semua artikel yang saudara tulis tidak ada manfaat dan sampahkan saja lebih baik. Timor – Leste adalah sebuah negara sejaka 1975 namun hanya dipantaukan dan daibantuin oleh tetanga Indonesia. Bagaimanapun Timor – Leste adalah sebuah negara tetang yang sangat baik dalam hubungannya dengan negara sahabat Indonesia. Kita generasi muda jangan salah melangkah. Terima kasih

  41. Anonymous said

    10 tahun aku ikut berpartisipasi ikut bangun timtim,ingat waktu aku duduk menikmati sekaleng bir di dpn ktr gubernur.

  42. Anonymous said

    ini wartawan cari berita apa sepertinya intel, lho kalo dulu orang prokemerrdekaan tahu anda bisa2 disembelihin pa…

  43. Anonymous said

    kamu bilang UNAMET curang, buktinya apa, semua orang prokemerdekaan itu tahu kalau curang kenapa tdk protes PBB, presiden Habibie yg julukan jenius aja tidak bisa, apalagi tolol2 yg berkome tar yg tak karukarauan… yg penting sekarang rakyat Timor Leste sudah merdeka tidak membelinggu oleh negara manapun, dan bebas dan hidup teteram damai menuju sejahtera.

  44. Anonymous said

    dasar wartawan stupid fuck off

  45. Anonymous said

    thanks bwt post tulisan ini, salut bwt tulisan ini, kemerdekaan kami diambil dgn curang lwt invasi 07-12/1975, kemenangn prokem is kemnngn pra diplomt Timor-Leste. sasan aja.., kalian kali coba turunkan tulisan yg berbobot yg merangkul semua realitas masyarakt,

  46. Anonymous said

    wartawan bunuh diri.

  47. Anonymous said

    wartawan bodo kebohongan publik..kamu liput tidak kampaya terakhir cnrt pada saat itu

  48. leste said

    dari tulisan aja udah kita tahu bahwa dia bukan seorang jurnalis dan tidak pernah ke tim2 krena
    1. patung bunda maria nga ada yang ada patung kristo raja
    2. hasil jajak pendapat diumumkan di hotel timor bukan di hotel turismo

    mendingan kamu cuci pantat trus tidur aja goblok…buat yg mereka yg memberi komentar asal2an aja itu sama aja dngan jurnalis gadungan
    makan itu jurnalis gadungan kalain….goblok

  49. Jgn hina Indonesia Cukup anda bangga dgn Negri Mu.. Klo sy mati Dan hidup ku until Indonesia. Gak peduli siapa anda ingat jgn hina Indonesia.

  50. aku cinta said

    kpd: kafil yamin
    kamu udah mandi atau belum karena kemarau panjang kita diindonesia lagi krisis air bersih
    jangan kamu bikin malu lagi negara kita (indonesia) di media karena pemimpin kita sudah pernah memalukan nama negara kita di dunia internasional karena tidak bisa melakukan diplomasi luar negeri buktinya politik @JoseRamosHorta bisa berdiplomasi sampai TIM-TIM bisa lepas dari INDONESIA
    jadi jngan kau ungkit masa lalu biarkan TIMOR LESTE urus rumah tangga mereka dan mari kita tanyakan kpda pemerintah kita air menberikan kita air bersih krena kamu dan aku serta masyarakat seindonesia kita belum mandi…..okey

  51. Ruben C said

    kpd kafil yamin,
    kalau mau mengeluh soal nasib Bangsa Indonesia jangn bawa bawa Timor Leste sbg alasan fatal.

  52. Anonymous said

    Mr. Kafil,sayang sekali kalau tugas anda wartawan tapi khusus meliput beritanya versi Seorang Laffaek dan hasil tulisan mu ini di anggap sampah hanya provokatif, anda ini pasti milisi juga anak buahya laffaek karena kalian berdua nginap di satu penginapan.Kamu sebagai wartawan harusnya kamu tau berapa wartawan indonesia yang di bunuh oleh milisi pro integrasi. Kamu harus cari tau seluruh informasi mengenai Timor-Leste….. wartawan yang tidak berbobot .

Komentar "PILIHAN" akan diambil menjadi artikel KabarNet.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.

Bergabunglah dengan 5.236 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: