KabarNet.in

Aktual Tajam

Tragis! Ruben Divonis Mati Meski Tak Membunuh

Posted by KabarNet pada 14/06/2013

Jawa Timur – KabarNet: Kasus yang menimpa Ruben Pata Sambo, narapidana hukuman mati yang dituduh membunuh satu keluarga, merupakan bentuk dari kesesatan peradilan. Kasus salah vonis yang mengakibatkan 2 dari 3 orang harus menghadapi hukuman mati jadi potret buram penegakan hukum di Indonesia. Kasus ini dialami Ruben Pata Sambo dan Markus Pata Sambo. Keduanya dituduh melakukan pembunuhan berencana terhadap pasangan suami istri Andarias Pandin dan Martina La’biran.

Kasus salah vonis itu terkuak saat pelaku pembuhuhan sebenarnya tertangkap pada 30 November 2006. Mereka ialah Agustinus Sambo, Yulianus Maraya, Juni, dan Petrus Ta’dan. Bahkan keempatnya telah membuat pernyataan khusus yang menyatakan Ruben beserta anaknya tidak bersalah dan bukan merupakan pembunuh. Namun, Ruben tetap saja dijatuhi hukuman mati.

Yuliani Anni, anak Ruben Pata Sambo dan adik Markus Pata Sambo, dua terpidana mati yang mendekam di dua penjara di Jawa Timur, meyakini kasus yang membelit keluarganya sebagai rekayasa polisi. Sebab, saat penangkapan, tidak ada surat yang dibawa aparat, bahkan mereka langsung diseret ke Mapolres Tana Toraja.

“Ayah saya, saat ditangkap di rumah, polisi tidak membawa surat penangkapan. Ayah saya langsung diseret. Begitu juga kakak saya (Markus) diseret di kantornya dan langsung dipukuli oleh oknum polisi,” kata Yuliani kepada wartawan di Malang, Kamis (13/6/2013).

Selain itu, Anni juga mengatakan, ayahnya dipaksa oknum polisi untuk menandatanganii surat yang dia tidak tahu isinya. “Karena saat itu, di ruang gelap, tak ada lampunya,” katanya.

Soal upaya hukum yang sudah dilakukan, dia mengaku sudah berusaha memakai pengacara, tetapi tak ada hasilnya. “Sebelum 2012, saya minta bantuan ke LBH di Jakarta dan Komnas HAM dan juga ke KY. Tapi, tak ada tanggapan juga sampai sekarang,” kata Anni.

Anni mengaku tidak tahu apa yang harus dia lakukan demi membebaskan ayahnya dari penjara. “Saya sudah pasrah dan akan menempuh jalur hukum semampunya,” katanya.

Sebagai langkah terakhir, Anni bersama Kontras berupaya mengajukan PK ulang. “Siapa tahu PK ulang bisa diterima supaya kasus ayah saya ini bisa diselesaikan dan tidak dieksekusi mati,” kata Anni.

Selain menjadi korban rekayasa kasus pembunuhan, Ruben Pata Sambo dan Markus Pata Sambo juga menjadi korban kekerasan dan penyiksaan oleh sejumlah oknum polisi. Keduanya juga dipaksa mengakui perbuatannya. “Selama pemeriksaan dan penyidikan di kepolisian, mereka diperlakukan sangat buruk. Mereka disiksa, ditelanjangi, dan dipaksa mengakui pembunuhan. Bahkan, tangannya yang sedang patah menjadi sasaran penyiksaan tersebut,” kata Haris Azhar, Koordinator Eksekutif Nasional Kontras, ketika ditemui di Kantor Kontras di Jalan Borobudur, Menteng, Jakarta Pusat, Kamis (13/6/2013).

Keduanya merupakan korban rekayasa kasus pembunuhan. Pada saat persidangan, sejumlah saksi tidak pernah dihadirkan dalam persidangan yang dilangsungkan di Pengadilan Negeri Makale, Tana Toraja, Sulawesi Selatan. Kesaksian hanya menggunakan pengakuan keduanya saat diperiksa oleh polisi. Pengakuan ini penuh dengan rekayasa dan intimidasi oleh sejumlah oknum kepolisian. “Bayangkan, mereka disuruh mengaku membunuh. Mereka disiksa, dipukul, dan ditelanjangi,” tegas Haris.

Selain itu, kekerasan juga didapatkan oleh ayah dan anak ini di pengadilan dan di dalam penjara. Haris mengatakan, kekerasan ini secara sengaja dilakukan dan disponsori oleh oknum polisi dan petugas penjara. “Jadi, sidang itu hanya mengandalkan pengakuan yang dipaksakan. Ketika baru masuk penjara, mereka langsung dipukuli terus oleh tahanan lainnya dengan suruhan polisi dan sipir,” ujar Haris.

Untuk itu, Kontras sudah melayangkan surat permintaan untuk melakukan tindakan hukum atas pelaku-pelaku penyiksaan. Surat itu akan diberikan kepada Mabes Polri. Selain Mabes Polri, Kontras juga memberikan surat terkait rekayasa kasus ini ke Kejaksaan Agung, Komisi Yudisial, dan Kementerian Hukum dan HAM.

Dugaan rekayasa semakin terbukti pada 30 November 2006. Polisi berhasil menangkap 4 pelaku sesungguhnya pada kasus pembunuhan pasangan suami-istri di Tana Toraja, Sulawesi Selatan. Walaupun keempat pelaku sesungguhnya sudah memberikan kesaksian tertulis yang menerangkan bahwa Ruben dan Markus tidak terlibat dalam pembunuhan, keduanya belum dibebaskan. Sampai saat ini, Ruben dan Markus masih mendekam di dua penjara yang berbeda di Jawa Timur.

ORANG KECIL YANG TAK BERDAYA
Setrianto, anak dari terpidana mati Ruben, berharap bantuan Lembaga Bantuan Hukum (LBH) untuk membebaskan ayah dan saudaranya dari eksekusi hukuman mati. Setrianto bersama adiknya, Nataniel Tipa Sambo, berharap LBH memperjuangkan keadilan bagi Ruben dan Markus Peta Sambo yang divonis hukuman mati atas pembunuhan sekeluarga yang tidak mereka lakukan.

“Kami orang kecil yang tidak mengerti hukum. Pastinya saya bersama keluarga berharap ada pengacara atau Lembaga Bantuan Hukum yang mau mendampingi kami membebaskan bapak dan kakak,” ujar Setrianto, Kamis (13/6/2013).

“Kalau boleh kami kembali mengajukan PK (peninjauan kembali) dan grasi ke Presiden Susilo Bambang Yudoyono, maka hal itu kami lakukan. Namun, saat ini, kami bingung langkah apa yang yang harus dilakukan agar orangtua dan saudara bebas,” tambahnya.

Anak ketujuh dari delapan bersaudara ini berharap agar ayah dan kakaknya segera bebas sehingga bisa berkumpul kembali bersama keluarga. Setrianto menganggap tuduhan pembunuhan sadis yang disangkakan polisi kepada ayah dan kakaknya itu tidak benar. Sejak awal, mereka sudah tahu jika ayah dan saudaranya hanyalah korban fitnah. Hal ini juga didukung oleh pengakuan pelaku utama di persidangan.

Sebelumnya, pihak keluarga telah menempuh upaya hukum hingga ke tingkat PK, bahkan mengajukan permohonan grasi ke Presiden pada Maret 2013, tetapi ditolak karena dinilai sudah melewati batas waktu pengajuan grasi.

Kini mereka sedang menjalani masa tahanan di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Klas 1A Malang menanti pelaksanaan eksekusi hukuman mati. Ketiganya divonis hukuman mati dengan tuduhan terlibat kasus pembunuhan sadis terhadap Andrias dan istri serta anaknya pada Desember 2005 silam di Kabupaten Tana Toraja. Kasus pembunuhan itu dipicu persoalan tanah atau tongkonan.

Diberitakan sebelumnya, di Lembaga Pemasyarakatan Lowokwaru, Malang, saat ini mendekam Ruben Pata Sambo (72), terkait tuduhan menjadi otak pembunuhan sebuah keluarga pada 23 Desember 2005 silam. Namun, ternyata, bukan Ruben yang terlibat dalam kasus yang terjadi di wilayah hukum Kepolisian Resor Tana Toraja tersebut.

Sebab, empat pelaku pembunuhan yang sebenarnya telah ditangkap. Mereka pun telah membuat pernyataan bermeterai pada 30 November 2006 lalu dan menyebut Ruben dan anak-anaknya bukan otak ataupun pelaku pembunuhan. Mereka yang membuat pernyataan adalah Yulianus Maraya (24), Juni (19), Petrus Ta’dan (17), dan Agustinus Sambo (22). Mereka adalah warga Jalan Ampera, Makale, Tana Toraja.

Keempat pelaku tersebut sudah menyesali perbuatannya dan mengaku telah membunuh keluarga Andrias Pandin dan siap menerima hukuman setimpal. Empat anggota keluarga Pandin yang dibunuh adalah Andrias Pandin, Martina La’biran (istri Andrias), Israel, dan nenek dari Andrias Pandin.

LEMBAGA PERADILAN TIDAK BOLEH SE-ENAKNYA MENGHUKUM ORANG YANG TIDAK BERSALAH. RUBEN BESERTA ANAKNYA YANG JUGA TERSERET DALAM PERKARA YANG SAMA HARUS SEGERA DIBEBASKAN!. HAKIM JUGA HARUS DIPERIKSA KY, POLISI DIPERIKSA PROPAM DAN KOMPOLNAS, SERTA JAKSA HARUS DIPERIKSA KOMJAK!. [KbrNet/Slm/Kmps]

Satu Tanggapan to “Tragis! Ruben Divonis Mati Meski Tak Membunuh”

  1. gini mah gak tragis
    yg tragis itu orang baru diduga teroris langsung tembak mati oleh densus 88
    bilangnya di media masa terkait jaringan ini jaringan itu

Komentar "PILIHAN" akan diambil menjadi artikel KabarNet.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 4.980 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: