KabarNet.in

Aktual Tajam

Makam Sahabat Nabi Dibongkar Pemberontak Suriah

Posted by KabarNet pada 11/05/2013

Yordania – KabarNet: Kelompok oposisi Suriah dukungan Arab Saudi, Qatar, Turki, AS dan Eropa beberapa pekan lalu menyerang makam Sayidina Jakfar at-Tayyar, sahabat dan sekaligus sepupu Nabi Muhammad SAW, yang sangat dihormati di Yordania serta umat Islam diseluruh dunia.

Mereka membakar makamnya di provinsi Karak di utara Jordan. Peristiwa itu terjadi pada Ahad, 05/05/13. Selain itu sebelumnya kelompok-kelompok pemberontak di Suriah ini juga menghancurkan makam sahabat Nabi SAW, Hujr bin Adi di pinggiran Damaskus, Suriah.

Mereka menggali makam Hujr bin Adi kemudian mengambil jenazahnya. Menurut laporan media setempat, Front al-Nusra menyerbu makam Hujr bin Adi di pinggiran Damaskus di kota Adra, mereka membongkar dan membawa kabur jenazahnya yang terlihat masih utuh ke lokasi yang tidak diketahui. Bahkan gambar yang diduga jasad sahabat itu sempat terpublikasi, pada bagian wajahnya masih terlihat bekas darah syahid… Allahu A’lam.

Atas peristiwa ini, kelompok Front al-Nusra yang berafiliasi dengan organisasi al-Qaeda, mengaku bertanggung jawab atas penghancuran makam-makam tersebut. Entah apa alasan mereka melakukan perbuatan biadab ini. Dengan alasan apa pun, perbuatan ini tidak bisa dibenarkan bahkan telah menyakiti hati umat Islam pada umumnya.

Aksi tersebut sontak mengundang kecaman keras dari berbagai pihak. Beberapa jam usai berita itu tersiar, para ulama dari berbagai mazhab langsung mengecam aksi dan perbuatan barbar tersebut. Menurut beberapa sumber, sekelompok pemberontak memasuki komplek pemakaman dengan merusak pagar pembatas. Mereka yang sudah mempersiapkan alat penggalian lantas mengeruk tanah makam sahabat Nabi tersebut. “Ketika mereka mendapatkan jasadnya, terlihat kondisinya masih utuh,” ujar salah seorang saksi mata yang menolak disebutkan namanya.

Seorang ulama terkemuka Saudi Arabia mengutuk keras penghancuran tempat-tempat makam Sahabat Nabi Muhammad SAW di Suriah dan Yordania yang dilakukan oleh Front al-Nusra, dan mengatakan tindakan semacam itu hanya untuk melayani kepentingan AS dan rezim Israel di wilayah tersebut. “Tindakan seperti dilakukan sejalan dengan agenda rezim Zionis dan kepentingan AS di kawasan itu untuk melibatkan dunia Muslim masuk dalam konflik sektarian dan melakukan ekspansionis dengan memakai separatis di wilayah ini,” kata Sheikh Ismae’il al-Hafoufi, Ahad, 05/05/13.

Dikatakannya, musuh Islam berusaha membangkitkan konflik sektarian di Suriah, Irak dan negara-negara Teluk Persia untuk mempercepat proses disintegrasi dari dalam, mereka menjarah dan melibatkan orang-orang muda dalam sengketa dan konflik internal.

Hafoufi juga menyesalkan atas bungkamnya organisasi Islam terkait tindakan asusila tersebut, dan mengatakan banyak organisasi Islam yang tergantung pada pendanaan asing dan tidak dapat menunjukkan reaksi independen.

Sementara itu Sheikh Mansour Mendour dari keluarga besar Al-Azhar Mesir mengutuk keras penghancuran dan penggalian kubur Hujr bin Adi, seorang sahabat Nabi (SAW) oleh kelompok Front al-Nusra di Suriah. Sheikh Mansour dalam sebuah wawancara dengan Al-Alam, mengatakan: “Sikap Al-Azhar selalu jelas dan melihat semua Muslim dengan hormat, dan sahabat Nabi memiliki tempat khusus dalam Quran.”

“Al Azhar mengutuk penistaan dan perlakuan tidak hormat terhadap jasad-jasad orang yang sudah meninggal khususnya sahabat besar Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Pasalnya mereka memiliki derajat yang tinggi, dan Al Azhar juga menentang sikap-sikap seperti ini. Itu perbuatan haram, terlebih jika dilakukan terhadap makam sahabat Nabi Saw, Hujr bin Adi yang pernah bertemu dengan Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan yang kedudukan tingginya jelas bagi siapapun,” katanya.

Sayidina Jakfar bin Abi Thalib yang mendapat julukan “at-Tayyar”, adalah shahabat sekaligus kerabat Nabi Muhammad SAW. Sayidina Jakfar merupakan salah satu komando yang gugur menjadi syahid di peperangan Mu’tah pada tahun ke-8 Hijriyah. Dalam perang Mu’ta kaum muslimin berhadapan dengan ratusan ribu pasukan gabungan antar tentara Romawi dan tentara Arab piminan Harqal.

Hujr bin Adi Al-Kinddi adalah shahabat Nabi Muhammad SAW. Beliau memeluk Islam sejak masa muda. Hujr dikenal seorang yang banyak beribadah, wara, zuhud, amanah dan peberani. Hujur bin Adi gugur menjadi syahid pada tahun sekitar 51-52 Hijriyah di masa dinasti Muawiyah bin Abu Sufyan. Hujur bin Adi adalah salah satu pasukan Sayidina Ali bin Abi Thalib dalam perang Jamal, Siffin dan Nahrawan. [KbrNet/Slm]

75 Tanggapan to “Makam Sahabat Nabi Dibongkar Pemberontak Suriah”

  1. Meini said

    Benar benar biadap, perbuatan yang tdk bisa dibiarkan….

  2. mommy said

    astagfirullah……apa yang diinginkan orang2 yang hina itu???? Allah tunjukkan bukti kebesaranNya dengan jasad masih utuh walau sdah ribuan tahun lalu syahid. Subhanallah. Semoga mereka yang jahat itu mendapat hidayahNya. amiiiin

  3. kunyil said

    Dibalik itu semua ada kebaikkan yang orang awam tidak mengetahuinya…. yaitu tidak menyembah kuburan / meminta-minta kepada yang telah meninggal…. walaupun yang meninggal itu wali atau sahabat sekalipun …. meminta/berdo’a hanya kepada Allah semata.

    Bagaimana sekarang ini telah banyak orang2x yang telah jauh dari agama…. mencari jalan pintas untuk mencari kekayaan… saya mendukung pemindahan jasad sahabat tersebut…. ke tempat yang tidak diketahui orang banyak…. agar tidak menjadikan makam2x sebagai wasilah mencari rezeki, atau sebagai tandingan Allah sebagai pemilik alam semesta.
    …& sebagai yang Maha Pemberi Rezeki….

    Coba deh bertanya kepada orang2x yang sering berziarah ke makam2x wali..atau orang sholeh.. tanya dengan JUJUR….dia itu ngapain & berdo’a apa….

    hanya sedikit orang yang bener2x berziarah mengingat kematian….. lebih baik itu menziarahi bapak/ibu yang telah meninggal… itu lebih utama dibandingkan menziarahi itu semua…. okeh

  4. hikmatiar said

    kunyil ente wahaby yaa atau salafy ??…jgn menyerang atau nyalahin kuburan nya dunk,,,sono keluar rumah datangin org2 muslim dan da’wahin tentang kelurusan niat umat dlm ber’amal…jgn befikir radikal gtu…emang kl kuburnya di pindahin atau di lenyapin sekalipun tuh budaya syirik ente jamin langsung ilang di hati org2 musrik….???…benahi dr dlm donq jgn dhohirnya diserang….jgn kata pepatah buruk muka cermin di tendang salah ‘ulama ente dach……..

  5. hikmatiar said

    ini masalah politik antara dunia islam dan konspiracy zionis yg menunggangi konflik disana…bkn masalah musrik2 an….sadar decc…

  6. ADI p said

    wah seru nih ..kalau melibatkan makam yang dibongkar …….
    banyak yang tersinggung……
    Sabar dulu …kalau makam itu seperti makam lainnya ..tidak dikeramatkan ….paling yang berani bongkar petugas TPU ( kontraknya sudah habis ….) tapi kalau dikeramatkan ….tempat minta rejeki …jodoh ….dlll dll dll dlll yaaa wajibnya dibongkar dari pada merusak aqidah …. SETUJU COY ?????????

  7. hasbi said

    sangat setuju, biar ngga jadi sesembahan sealain Allah.

  8. wahbaby said

    wah wah wah……para pengikut wahaby mulai bermunculan.
    heh ente2 emang gaj kesentuh ape hatinye melihat makam sahabat dan saudara Rasulullah Saw dibongkar paksa??? kok bisa ente ngaku ummat Nabi Muhammad saw? ck ck ck…hebaaattttt….coba bisa nggak kesampingkan dulu pikiran2 kotor ente itu yg mengaggap bhw org berziarah itu menyembah kuburan, minta sama kuburan hahahaha….nih ane ksh tau kite2 berziarah itu tentu mencontoh Rasulullah saw dan nggak ada sedikitpun niat utk minta2 sama tuh kuburan. Kita berdoa tentu dan pasti hanya kpd Allah swt jgn maen tuduh berdoa dikuburan itu minta sama kuburan….dasar bodoh ente. Kalo yg minta2 sama kuburan itu tentu itu bukan org Islam tapi org fasik yg nggak ngerti ajaran Islam. Paham ente?
    o ya ane jadi meragukan bhw ente2 ini ummat Nabi Muhammad. Lho kok bisa? ya iya lah hati ente2 pada nggak tersentuh sama sekali melihat kuburan sahabat dan saudara Nabi Muhammad dibongkar paksa begitu. Gimana yaaa sikap Nabi Muhammad ngeliat perilaku ummatnya seperti ente2 ini..ane nggak bisa ngebayangin….kesian ente2 pade.

  9. wahbaby said

    wah wah wah….para pengikut wahaby mulai bermunculan.
    heh ente2 emang gaj kesentuh ape hatinye melihat makam sahabat dan saudara Rasulullah Saw dibongkar paksa??? kok bisa ente ngaku ummat Nabi Muhammad saw? ck ck ck…hebaaattttt….coba bisa nggak kesampingkan dulu pikiran2 kotor ente itu yg mengaggap bhw org berziarah itu menyembah kuburan, minta sama kuburan hahahaha….nih ane ksh tau kite2 berziarah itu tentu mencontoh Rasulullah saw dan nggak ada sedikitpun niat utk minta2 sama tuh kuburan. Kita berdoa tentu dan pasti hanya kpd Allah swt jgn maen tuduh berdoa dikuburan itu minta sama kuburan….dasar bodoh ente. Kalo yg minta2 sama kuburan itu tentu itu bukan org Islam tapi org fasik yg nggak ngerti ajaran Islam. Paham ente?
    o ya ane jadi meragukan bhw ente2 ini ummat Nabi Muhammad. Lho kok bisa? ya iya lah hati ente2 pada nggak tersentuh sama sekali melihat kuburan sahabat dan saudara Nabi Muhammad dibongkar paksa begitu. Gimana yaaa sikap Nabi Muhammad ngeliat perilaku ummatnya seperti ente2 ini..ane nggak bisa ngebayangin….kesian ente2 pade.

  10. wahbaby said

    wah wah wah….para pengikut wahaby mulai bermunculan.
    heh ente2 emang gak kesentuh ape hatinye melihat makam sahabat dan saudara Rasulullah Saw dibongkar paksa??? kok bisa ente ngaku ummat Nabi Muhammad saw? ck ck ck…hebaaattttt….coba bisa nggak kesampingkan dulu pikiran2 kotor ente itu yg mengaggap bhw org berziarah itu menyembah kuburan, minta sama kuburan hahahaha….nih ane ksh tau kite2 berziarah itu tentu mencontoh Rasulullah saw dan nggak ada sedikitpun niat utk minta2 sama tuh kuburan. Kita berdoa tentu dan pasti hanya kpd Allah swt jgn maen tuduh berdoa dikuburan itu minta sama kuburan….dasar bodoh ente. Kalo yg minta2 sama kuburan itu tentu itu bukan org Islam tapi org fasik yg nggak ngerti ajaran Islam. Paham ente?
    o ya ane jadi meragukan bhw ente2 ini ummat Nabi Muhammad. Lho kok bisa? ya iya lah hati ente2 pada nggak tersentuh sama sekali melihat kuburan sahabat dan saudara Nabi Muhammad dibongkar paksa begitu. Gimana yaaa sikap Nabi Muhammad ngeliat perilaku ummatnya seperti ente2 ini..ane nggak bisa ngebayangin….kesian ente2 pade.

  11. Ly said

    Low yg se7 mkam sahabat Nabi di bongkar….! Wah wah wah parah berarti ente2 semua wajib d tumpas krna ente2 dah musuh mujahidin n jangan2 kalian adalah kaum zionis. Mf aje ya….! Nyadarlah n berfkr rasional .

  12. Salafi said

    Ibnu Taimiyah, Imam Rujukan Utama Kaum Wahhabi Ternyata Menshahihkan Hadis Tawasssul, lalu Apa kata kaum Wahhabi?

    Di antara praktik yang dikategorikan syirik dalam pandangan kaum Wahhâbiyah adalah bertawassul!

    Bertawassul artinya:

    Memohon hajat kita kepada Allah SWT dengan kedudukan seorang nabi atau hamba shaleh.

    Dalam pandangan kaum Wahhâbiyah, praktik memohon hajat kepada Allah SWT dengan menyebut kedudukan seorang nabi atau hamba shaleh dianggap mengandung unsur kemusyrikan…. menyekutukan Allah SWT dengan nabi atau hamba shaleh tersebut!

    Jika benar pemahaman menyimpang mereka tentang hakikat tawassul, maka yang pertama kali mengajarkan kemusyrikan adalah Rasulullah saw.! Nabi-lah biang kemusyrikan di tengah-tengah umat manusia! Wal iyâdzubillah min adh dhalâl.

    Jika benar pemahaman mereka, maka yang harus bertanggung jawab atas terjadinya kemusyrikan di tengah-tengah umat Islam adalah Ibnu Taimiyah, Syeikh Islamnya kaum Wahhâbiyah! Sebab ia menshahihkan hadis ‘Nabi mengajarkan sahabat Beliau bertawassul’.

    Dalam kesempatan ini saya tidak bermaksud membeberkan dalil-dalil ditetapkan tawassul dalam syari’at Islam melalui ayat dan hadis-hadis shahihah… akan tetapi saya hanya bermaksud membuktikan bahwa Syeikhul Islamnya kaum Wahhâbiyah ternyata berseberangan dan menentang akidah Wahhâbiyah!

    Perhatikan hadis di bawah ini:
    عن عثمان بن حنيف أنّه قال: إنّ رجلاً ضريراً أتى النبي فقال: أُدعُ الله أن يعافيني فقال _ صلى الله عليه وآله وسلم _ : «إن شئتَ دعوتُ وإن شئتَ صبرتَ وهو خير».
    قال: فادعه، قال: فأمره أن يتوضّأ فيُحسن وضوءه ويصلّي ركعتين ويدعو بهذا الدعاء: «اللّهمّ إنّي أسألك وأتوجّه إليك بنبيّك محمّد نبي الرحمة، يا محمد إنّي أتوجه بك إلى ربّي في حاجتي لتُقضى، اللّهمّ شفّعه فيَّ».
    قال ابن حنيف: فوالله ما تفرّقنا وطال بنا الحديث حتى دخل علينا كأن لم يكن به ضرّ

    “Dari Utsman ibn Hunaif, ia berkata, “Ada seorang buta datang menemui Nabi saw. lalu berkata, ‘Mohonkanlah kepada Allah agar menyembuhkanku (dari kebutaan)’ Maka beliau saw. bersabda, ‘Jika engkau mau aku berdoa, aku doakan. Jika engkau mau bersabar, itu lebih baik bagimu.’
    Orang itu berkata, ‘Doakan saja.’
    Maka Nabi saw. memerintahnya berwudhu’ dengan benar, lalu shalat dua raka’at dan berdoa dengan doa ini:

    اللّهمّ إنّي أسألك وأتوجّه إليك بنبيّك محمّد نبي الرحمة، يا محمد إنّي أتوجه بك إلى ربّي في حاجتي لتُقضى، اللّهمّ شفّعه فيَّ.

    ‘Ya Allah, aku memohon kepada Mu dan menghadap kepada Mu dengan Nabi Mu Muhammad; nabi (pembawa) rahmat. Hai Muhammad, aku menghadap kepada Tuhanku denganmu dalam hajatku ini agar dipenuhi. Ya Allah jadikan beliau pemberi syafa’at bagiku.”

    Ibnu Hunaif berkata, ‘Demi Allah, kami belum berpisah (dari majlis itu) dan panjang pembicaraan kita melainkan orang itu masuk ke tempat kami seakan tidak pernah buta.’”
    (Hadis ini diriwayatkan oleh Turmudzi dalam Sunan-nya, Kitab ad Da’awât, bab ke 119, dengan hadis no.3578, Ibnu Mâjah dalam Sunan-nya,,1/441 hadis no.1385 dan Musnad Ahmad,4/138).

    Dalam berargumentasi dengan hadis di atas tentang disyari’atkannya bertawassul dengaan kedudukan hamba istimewa; Nabi Muhammad saw. perlu dilakukan pembuktian pada dua level:

    1] sanad

    dan

    2] kesempurnaan mataannya.

    Sanad Hadis:
    Tidak seorang pun yang layak dipertimbangkan keterangannya mencacat keshahihan hadis ihi. Yang mencacatnya hanya akan memamerkan kejahilannya dalam ilmu Rijâl! Bahkan Ibnu Taimyah berkata demikian:
    قد روى الترمذي حديثاً صحيحاً عن النبي أنّه علّم رجلاً أن يدعو فيقول: اللّهمّ إنّي أسألك وأتوجّه إليك بنبيّك. وروى النسائي نحو هذا الدعاء.
    “Turmudzi telah meriwayatkan sebuah hadis shahih dari Nabi, beliau mengajarkan kepada seorang untuk berdoa dan berkata: “Ya Allah aku memohon kepada Mu dan menghadap kepada Mu dengan Nabi Mu.” Nasa’I juga meriwayaatkan hadis yang mirip dengan doa ini. (Baca: Majmû’ah ar Rasâil wa al masâil,1/13)

    Imam Turmudzi juga menshahihkannya. Ia berkata:
    هذا حديث حق حسن صحيح.
    “Ini adalah hadis yang haq hasan shshih.”

    Ibnu Majah berkata:
    هذا حديث صحيح.
    “Ini adalah hadis shahih.”

    Syeikh ar Rifâ’i berkata:
    لا شك أنّ هذا الحديث صحيح ومشهور.
    “Tidak diragukan lagi bahwa hadis ini adalah shshih dan masyhur (At Tawashshul Ilâ hakikah at Tawassul:158)
    Demikian juga dengan hadis riwayat Imam Bukhari di bawah ini:

    “Adalah Umar ibn al Khaththab jika kaum Muslimin mengalami paceklik, mereka memohon turun hujan kepada Allah dengan kedudukan Abbas ibn Abdul Muththallib, dan ia berkata:
    كان عمر بن الخطاب إذا قحطوا استسقى بالعباس بن عبد المطلب وقال: اللّهمّ إنّا كنّا نتوسّل إليك بنبيّنا فتسقينا، وإنّا نتوسّل إليك بعمّ نبيّنا فاسقنا، قال: فيُسقون
    “Ya Allah dahulu kami bertawassul kepadaamu dengan Nabi kami lalu Engkau turunkan hujan untuk kami. Kami sekarang bertawassul kepada Mu dengan paman nabi kami, maka turunkan hujan untuk kami. (perawi) berkata,’Maka diturunkan hujan untuk mereka.’” (HR. Bukhari,2/32, Bab Shalat Istisqâ’)

    Adapun makna dan kandungan hadis di atas jelas sekali, Nabi saw. memerintah orang tersebut aagar membaca doa yang tegas-tegas mengandung unsur tawassul, yakni “memohon kepada Allah dengan Nabi Mu”

    Mengapa kalimat itu diajarkan Nabi kepada sahabat tersebut? Bukankah itu inti bertawassul seperti yang sekarang dipraktikkan umat Islam, selain kaum Wahhâbiiyah? Kenapa Nabi Muhammad saw, tidak memerintah saja sahabat itu untuk langsung meminta kepada Allah SWT tanpa menyebut-nyebut Nabi-Nya sebagai perantara dengan menyebbut kedudukannya sebagai nabi pembawa rahmat?!

    Selain itu, mengapa, sejak awal kedatangan sahabat buta itu yang berkata, ‘Mohonkanlah kepada Allah agar menyembuhkanku (dari kebutaan)’ … mengapa Nabi saw. tidak menegurnya dan bersabda kepadanya, ‘Mintalah langsung kepada Allah, Allah itu lebih dekat kepada hamba-Nya dari urat nadi hamba itu sendiri! Jadi langsung saja minta kepada Allah tanpa perantara dan meminta orang lain mendoakanmu! Karena meminta-minta dari selain Allah itu syirik!
    Apakah Nabi saw.tidak memahami kenyataan itu?! Dan hanya Muhammad Ibnu Abdil Wahhab (pendiri faham Wahhabi) saja yang memahami bahwa meminta dari selain Allah itu syirik!!… bertawassul itu syirik!! Bahwa seorang hamba hendaknya memohon langsung dari Tuhannya!!

    PERTANYAAN:
    Nah,sekarang masihkah kaum Wahhâbi/Salafi menganggap praktik bertawassul yang dilakukan kaum Muslimin Ahlusunnah wal Jama’ah seperti NU, FPI dsb sebagai kemusyrikan?!

    Buktinya apa yang dilakukan kaum Muslimin (selain Wahhabi) tidak keluar dari apa yang dituntunkan Nabi Muhammad saw.
    Yang aneh di sini ialah bahwa kaum Wahhâbiyah yang biasanya menyanjung tinggi ucapan-ucapan Ibnu Taimyah, menjadikannya sebagai rujukan utama, bahkan paling banyak dirujuk oleh Muhammad Ibn Abdil Wahhab pendiri sekte Wahhabi, dan tidak jarang mereka menjadikannya setingkat nash suci yang tak boleh dibantah dan ditentang… mengapa kini mereka menyimpang dan menentangnya?!

    Betul2 Wahhabi adalah Kaum ahli takfir yang Aneh Tapi Nyata!

  13. Anonymous said

    orang2 yg tidak menghormati yg telah gugur (wafat) berarti mereka2 itu orang yg sesat.dan sekaligus mereka pasti tdk akan menghormati orang yg msh hidup, mereka adlh musuh Alloh dan rslNya. MEREKA ADALAH BINATANG2 LIAR.

  14. tempakul said

    Begini nih orang yang belajar taklid buta kepada guru yang sering kekuburan….

    Tawassul hadist yang benar, itu meminta di do’akan kepada orang yang masih HIDUP yaitu orang2x sholeh, rajin ibadah dengan pemahaman yang lurus…. bukan kepada orang2x yang telah meninggal….ya… INGAT.

    Karena waktu itu rasulullah sudah wafat, dicarilah orang yang paling sholeh diantara para sahabat…. terpilihlah paman nabi untuk diminta mendo’akan…. begitu bos ceritanya….itupun konteknya adalah PAMAN NABI MASIH HIDUP….okeh… bukan telah meninggal ya…

    makanye belajar hadist jangan kulitnya aja…. ngga tau maknanya… apalagi isinya…. bodoh amat ya…. amat aja ngga bodo-bodo amat…hehehe

    kenyataan sekarang ini…. ngapain orang yang sudah menginggal dibacakan al qur’an…. dasarnya apa… darimana dalil nya…yang ada tuh baca al qur’an itu di rumah2x kalian…. Al qur’an itu hanya buat orang yang yang masih hidup…. bukankah anda setiap jum’at baca surat yasin….ayat 70 “supaya Dia (Muhammad) memberi peringatan kepada orang-orang yang hidup (hatinya) dan supaya pastilah (ketetapan azab) terhadap orang-orang kafir”.

    hadist nabi “Jangan jadikan rumahmu sebagai kuburan dan Jangan sebaliknya”… artinya adalah… bacakan rumah2x kalian dengan al Qur’an semoga menjadikan rumah mu berkah…. bukan.. baca al qur’an malah dikuburan.

    “Jangan jadikan kuburan orang2x sholeh sebagai wasilah meminta…. lalu apa bedanya zaman nabi dengan zaman sekarang….orang jahiliyah dulu tidak mau menegakkan kalimat tauhid… karena dia tau bahwa satu2xnya yang patut di ibadahi adalah Allah subhana wa ta’ala….. bukan lata & uzah

    bila kita ditanya ngga cinta Rasul & para sahabat….hehehe… Justru kita lebih cinta kepada mereka semua…. lah kita tau al qur’an dan hadist… itu darimana….ya..dari para sahabat lah…. yang meriwayatkan hadist… bagaimana mengenal nabinya… cara ibadahnya… cara kehidupan sehari-hari,…. nah sekarang saya bertanya kepada yang mengaku-ngaku cinta rasulullah deh…. JAWAB DENGAN JUJUR YA….

    apakah anda telah mengenali bentuk fisik Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam? Apakah anda telah mengetahui sifat-sifat terpuji beliau? Apakah anda mengetahui nama istri-istri dan anak-anak beliau? Apakah anda mengetahui nama hewan tunggangan beliau? Mampukah anda menjelaskan sejarah hidup Nabi Muhammad semenjak kecil sampai beliau dibesarkan? Sejarah hidup beliau semenjak belum diangkat sebagai rasul hingga beliau wafat? Sanggupkah anda menceritakan peperangan yang pernah dialami Nabi Muhammad? Berapakah jumlah sabda beliau yang pernah anda baca dan hafalkan? Bisakah anda menceritakan pengalaman Nabi dalam peristiwa Isra’ dan Mi’raj? Dapatkah anda bercerita tentang isi perjanjian beliau dengan orang-orang Yahudi di kota Madinah? Siapakah orang-orang kesayangan Rasulullah?.

    Masih terlalu dini untuk menyatakan,”Aku cinta Nabi Muhammad” karena semua itu hanya sebuah pengakuan tanpa bukti. Sungguh amat menyedihkan sekali keadaan generasi muda umat Islam saat ini. Banyak dari mereka yang tidak kenal dengan Nabinya kecuali hanya sebatas nama beliau saja. Padahal diantara pertanyaan yang harus dijawab oleh setiap muslim didalam kuburnya adalah,”Siapakah Nabimu?”.

  15. mudah – mudahan makin berkurang, masjid – masjid yang isinya banyak kuburan, kuburuan itu hanya untuk mengingatkan kita akan kesana nantinya bukan minta sesuatu kepadanya yang telah tiada…

    jangan terbawa agama pangan, indonesia ini berdiri dari pondasi hindu yang kuat dimana kuburan menjadi sesembahan, islam itu membawa perubahan dari yang jahiliya menjadi kharomah..

    kalo dah beragama islam tapi tetap berperilaku jahiliyah, jangan katakan Anda Umat Islam,,,

  16. Asep kidul said

    @tempakul…ckckckck!ni orang ditaro dimana otaknya ya?gila apa edan bin sinting alias goblok!?sok ngerti hadist,al qur’an,pdhal bisa baca jg kagak!!!cuih tempakul ANJING!

  17. cool man said

    @tempakul : hehehehe…berarti ente ini menganggap Nabi Muhammad SAW itu sudah meninggal sama seperti manusia2 lainnya yaa?? kesiaaaan sekali ente ini.
    Nih ana mau ngasih tau ente sesuatu hal yang ente nggak tau atau lupa atau pura2 nggak tau…Wallahua’lam.
    Apa ente pernah dengar ayat yg menerangkan bahwa orang2 yg meninggal dalam jihad kepada Allah mereka itu tidak mati mereka itu masih hidup di sisi Allah SWT dan Allah SWT masih memberi rezeki kepada mereka.
    Tuuuhhh…org yg jihad fisabilillah aja di sisi Allah SWT masih hidup….apalagi Rasulullah SAW kekasih Allah SWT.
    Jadi ane bingung sama orang2 seperti ente ini….kok keras kepala menganggap Rasulullah itu sdh meninggal, sdh nggak ada apa2nya lagi, sdh nggak bisa lagi bertawassul kepada Beliau….ck ck ck ck…
    Kalo gitu ngapain juga ente kalo berdoa pake sholawat dulu…. kenapa nggak langsung aja???
    Kalo ane ngeliat ente ini ane jadi inget waktu dimesjid Nabawi, polisi2 disitu nggak ada sopan santunnya sama sekali terhadap makam Rasul SAW…sama nih kaya’ ente2 ini yang menganggap bahwa Rasulullah SAW itu sudah meninggal sudah habis sudah nggak ada apa2nya lagi. Ane jadi berprasangka terhadap orang2 seperti ente ini jangan2 tangannya udah gatel yaa mau ngebongkar makam Rasul SAW??? Astaghfirullah mudah2an pikiran ente masih waras dan dijauhi sama syetan.

    Jadi kesimpulannya : sudahlah biarin aja orang2 yg berdoa memohon kepada Allah SWT dengan bertawassul kepada Nabi Muhammad… mereka2 itu ada dalilnya….. kalo ente nggak senang sama tawassul ya udah mendingan diem aja nggak usah usil.
    O ya hati ente biasa2 aja membaca berita ini? (makam sahabat Nabi dibongkar dan diobrak-abrik)
    Panteessss

  18. gitu aja kok report said

    ya cari aja ayat2 atau hadits ttg siapa dan bagaimana orang2 yg sudah mati. Jadi gak usah mempeributkan apakah dia sahabat atau bukan ….

  19. Salafi said

    Ibnu Taymiah, Tokoh Rujukan Kaum Wahabi/Salafi Ternyata… Suka Tahlilan di Kuburan!

    Ciri khas dari warga Nahdhiyyin (NU) adalah tahlilan, yakni membacakan Al Qur’an dan wirid2 Tahlil, Tasbih, Tahmid, dan Takbir, yang diniatkan pahalanya untuk dihadiahkan kepada keluarga atau teman atau kaum Muslimin yang sudah meninggal dunia. Hal demikian dikarenakan keyakinan mereka bahwa pahala bacaan dan dzikir yang diniatkan untuk dihadiahkan pahalanya itu sampai kepada si mayyit berdasarkan dalil Hadits dari Rasulullah SAW.

    Praktik kaum Nahdhiyyin ini mendapat kecaman tajam dari Jama’ah Takfiriyah (kelompok yg gemar mengkafirkan umat Islam yang tidak semadzhab dengan mereka), yaitu kaum Salafiyyun alias Wahabi, para pengikut setia Ibnu Taimiah.

    Mereka menuduh Tahlilan sebagai praktik bid’ah yang sesat dan menyesatkan! Tidak pernah disyari’atakan dalam Islam! Dan untuk diketahui, bahwa Islam sejati dalam pandangan kaum Wahabi adalah apa yang disampaikan Ibnu Taimiah! Apa yang diucapkan Ibnu Taimiah adalah Islam dan apa yang ditolak Ibnu Taimiah bukan dari Islam! Pendek kata, bagi kaum Wahhabi/Salafi sejati (bukan Wahabi palsu), Ibnu Taimiah adalah barometer kebenaran Islam!

    Jihad paling digemari kaum Wahabi/Salafi adalah memberantas bid’ah sesat dan menyesatkan, dan tahlilan menurut mereka adalah praktik bid’ah yang sesat dan menyesatkan! Oleh kerena itu, kaum Salafiyyun alias Wahabi, berjuang mati-matian (tapi ga mati beneran) memberantas dan mengecam tahlilan ala NU. Kaum NU di mata kaum Salafi adalah ahli bid’ah, kuburiyyun (doyan ngalap berkah dari kuburan), maulidiyyun, istighatsiyyun, tawassuliyyun dll.

    Pendek kata praktik tahlilan itu bid’ah! Yang melakukannya atau membolehkannya adalah ahli bid’ah…. titik!!!

    Setelah ngotot berjuang meberantas tahlilan, eh lha kok ga taunya ternyata Ibnu Taimiah “Syeikhul-Islam”-nya Wahabi doyan tahlilan juga seperti orang NU.

    Tercatat dalam kitab Majmu’ Fatawa karya Ibnu Taimiah, bahwa pada suatu ketika beliau (Ibnu Taimiah) ditanya:

    “Apakah Pahala bacaan Al Qur’an itu sampai kepada mayyit?”

    Beliau menjawab: “Adapun bacaan di atas kuburan itu dimakruhkan oleh Abu Hanifah, Malik dan dalam salah satu riwayat Ahmad, sementara dalam riwayat beliau lainnya tidak memakruhkannya, ia mengizinkannya kerena telah sampai kepadanya hadis Ibnu Umar r.a. bahwa ia berwasiat agar dibacakan pembukaan dan penutup surah al- Baqarah di atas kuburannya. Dan telah diriwayatkan dari sebagian sahabat agar dibacakan surah al Baqarah di atas kuburan mereka. (Majmû’ Fatâwa, karangan Ibnu Taimiah, 24/298).

    Ia juga ditanya:
    “Apakah bacaan dan sedekah yang dilakukan seseorang untuk dihadiahkan pahalanya kepada mayyit itu sampai atau tidak?”

    Ibnu Taimiah menjawab:
    “Bacaan dan sedekah dan amal-amal kebajikan lainnya tidak diperselisihkan di antara ulama Ahlusunnah wal Jama’ah bahwa akan sampai pahala amal-amal ibadah mâliah (harta) seperti sedekah dan memerdekakan budak, sebagaimana sampai juga pahala doa dan istighfar, shalat jenazah dan mendoakannya di atas kuburan. Para ulama itu berselisih dalam masalah sampainya pahala amal-amal badainiah seperti puasa, shalat dan bacaaan Al Qur’an. Pendapat yang benar (menurut Ibnu Taimiah) adalah semua pahala amal-amal itu akan sampai. Telah tetap dalam Shahihain (Bukhari & Muslim) dari Nabi saw., “Barang siapa mati dan ia ada tanggungan puasa maka keluarganya berpuasa untuknya.” Dalam hadis lain, “Bahwa Nabi memerintah seorang perempuan yang ditinggal mati ibunya sementara ia mempunyai tanggungan puasa agar si anak itu berpuasa untuk ibunya.”… (Majmû’ Fatâwa, karangan Ibnu Taimiah, 24/366)

    Dalam kesempatan lain ia juga ditanya:
    “Apakah bacaan keluarga mayyit, tasbihan, tahmidan dan tahlilan serta takbiran (membaca Al Qur’an, subhanallah, Alhamdulillah, Lâ Ilâha Illallah, dan Allahu Akbar) jika dihadiahkan pahalanya untuk si mayyit akan sampai atau tidak?

    Maka Ibnu Taimiyah menjawab:
    “Akan sampai bacaan keluarga; tasbihan, takbiran mereka, dan seluruh jenis dzikir kepada Allah jika dihadiahkan kepada mayit akan sampai.”

    Jadi sudah jelas sekali Ibnu Taimiah, tokoh rujukan kaum Wahhabi/Salafi, menegaskan bahwa Tahlilan bukan bid’ah dan pahalanya sampai kepada mayyit yang dibacakan tahlil. Maka jika NU dikecam sebagai ahli bid’ah yang sesat dan menyesatkan, maka yang pertama kali harus disesatkan dan dikecam sebagai pelaku Bid’ah adalah Ibnu Taimiah, Syeikhul-Islamnya Salafiyyin alias Wahabi itu!

    Aneh bin ajaib, mengapa kaum Wahabi/Salafi doyan membid’ahkan umat Islam yg melakukan tahlilan, sementara Ibnu Taimiah yang notabene imam mereka sendiri berpandangan sama dengan kalangan Nahdhiyiin (NU),

    Lagi pula kaum Wahabi/Salafi gemar menyanyikan lagu Salaf yang tidak ketahuan pengarangnya… eh ternyata Salafush Sholeh juga doyan tahlilan dan membaca Al Qur’an di atas kuburan! Laah ketahuan kan kalau Wahabi yang mengaku Salafi (mengikuti ulama Salaf) ini ternyata Salafy Gadungan! Yang lebih tepat kaum Wahabi tsb adalah pengikut “Salah – Fi” (Salah tempat)! Bukan Salafy (pengikut Salaf).

    Ck…ck…ck… kasihan.

  20. Bid'ah!!... Kafir!!... Syirik!! said

    Tempakul berkata
    13/05/2013 pada 07:24 e

    apakah anda telah mengenali bentuk fisik Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam?

    ===> sudah tau! Kitab tentang itu diobral di Toko Buku Gramedia.

    #

    Apakah anda telah mengetahui sifat-sifat terpuji beliau?
    ===> sudah tau! Kitab tentang itu diobral di Toko Buku Cahaya Ilmu.

    #
    Apakah anda mengetahui nama istri-istri dan anak-anak beliau?

    ===> sudah tau! Itu pelajaran anak2 tingkat SD

    #

    Apakah anda mengetahui nama hewan tunggangan beliau?

    ===> sudah tau! Itu dijelaskan di Sirah Ibn Ishaq yg diobral di Toko Buku Gunung Agung seharga Rp59ribu per jilid.

    #

    Mampukah anda menjelaskan sejarah hidup Nabi Muhammad semenjak kecil sampai beliau dibesarkan?

    ===> sudah tau! Kitab Tarikh tentang itu diobral di Toko Buku Bina Ilmu.

    #
    Sejarah hidup beliau semenjak belum diangkat sebagai rasul hingga beliau wafat?

    ===> sudah tau! Kitab Tarikh tentang itu diobral di Toko Buku Alma’arif.

    #

    Sanggupkah anda menceritakan peperangan yang pernah dialami Nabi Muhammad?

    ===> kurikulum pelajaran agama untuk murid SD

    #

    Berapakah jumlah sabda beliau yang pernah anda baca dan hafalkan?

    ===> sudah tau! Kitab Sahih Bukhari dan Sahih Muslim diobral di Pejual Buku Kaki Lima. Jadi tingaal baca aja.
    Apa??? Hafalkan?????? Ga ah… males!!

    #

    Bisakah anda menceritakan pengalaman Nabi dalam peristiwa Isra’ dan Mi’raj?

    ===> Bosan!! Setiap peringatan Isra’ Mi’raj di-ulang2 oleh para da’I penceramah.

    #

    Dapatkah anda bercerita tentang isi perjanjian beliau dengan orang-orang Yahudi di kota Madinah?

    ===> Bosan!! Dari seringnya dibahas oleh orang2 Kristen dan antek2 Liberal di situs2 anti Islam.
    #

    Siapakah orang-orang kesayangan Rasulullah?

    ===> Saya salah satunya.

    #

    Cape dech…

  21. Farasydaq said

    @Tempakul

    Saudaraku, mungkin anda kurang memahami benar dalam haditz2 TAWASSUL, sehingga anda mengatakan bahwa TAWASSUL itu tidak boleh untuk orang yang sudah mati???.. sebenarnya siapa yang membaca hadits cuma KULITNYA saja?.. mari kita kaji.

    Dalam komentar saudaraku mengatakan:

    Begini nih orang yang belajar taklid buta kepada guru yang sering kekuburan….

    Tawassul hadist yang benar, itu meminta di do’akan kepada orang yang masih HIDUP yaitu orang2x sholeh, rajin ibadah dengan pemahaman yang lurus…. bukan kepada orang2x yang telah meninggal….ya… INGAT.

    Karena waktu itu rasulullah sudah wafat, dicarilah orang yang paling sholeh diantara para sahabat…. terpilihlah paman Nabi untuk diminta mendo’akan…. begitu bos ceritanya….itupun konteknya adalah PAMAN NABI MASIH HIDUP….okeh… bukan telah meninggal ya…makanye belajar hadist jangan kulitnya aja…. ngga tau maknanya… apalagi isinya…. bodoh amat ya…. amat aja ngga bodo-bodo amat…hehehe>>>>>>…….”

    JAWABAN:
    Saudaraku, secara tidak langsung anda mengakui bahwa BERTAWWASUL kepada baginda Nabi Muhammad SAW sebenarnya diperbolehkan (KEPADA ORG YANG MASIH HIDUP), karena terdapat dalil hadits shahih. Namun demikian, saya yakin anda tidak akan melakukan amalan TAWASSUL! karena anda dasarnya EMOH berTAWASSUL. Sekalipun hal itu merupakan kebenaran, toh anda pun akan menolaknya…

    Sekilas hadits TAWASSUL: Datangnya seorang buta pada Rasul SAW, seraya mengadukan kebutaannya dan minta didoakan agar sembuh, maka Rasul SAW menyarankannya agar bersabar, namun orang ini tetap meminta agar Rasul SAW berdoa untuk kesembuhannya, maka Rasul SAW memerintahkannya untuk berwudhu, lalu shalat dua rakaat, lalu Rasul SAW mengajarkan doa ini padanya, ucapkanlah: “Wahai Allah, Aku meminta kepada Mu, dan Menghadap kepada Mu, Demi Nabi Mu Nabi Muhammad, Nabi Pembawa Kasih Sayang, WAHAI MUHAMMAD, Sungguh aku menghadap demi dirimu (Muhammad SAW), kepada Tuhanku dalam hajatku ini, maka kau kabulkan hajatku, wahai Allah jadikanlah ia memberi syafaat hajatku untukku” (Shahih Ibn Khuzaimah hadits no.1219, Mustadrak ala shahihain hadits no.1180 dan ia berkata hadits ini shahih dg syarat shahihain Imam Bukhari dan Muslim).

    Hadits diatas ini jelas jelas Rasul SAW mengajarkan orang buta ini agar berdoa dengan doa tersebut, Rasul SAW yg mengajarkan padanya, bukan orang buta itu yg membuat buat doa ini, tapi Rasul SAW yg mengajarkannya agar berdoa dengan doa itu, sebagaimana juga Rasul SAW mengajarkan ummatnya bershalawat padanya, bersalam padanya.

    Lalu muncullah pendapat saudara saudara kita, bahwa TAWASSUL hanya boleh pada Nabi SAW, pendapat ini tentunya keliru, karena Umar bin Khattab ra berTAWASSUL pada Abbas bin Abdul Muttalib ra. Sebagaimana diriwayatkan dalam Shahih Bukhari.

    Jangankan BERTAWASUL dengan org yang masih hidup, dengan benda mati pun dapat dilakukan, sebagaimana Rasulullah SAW berTAWASSUL pada tanah dan air liur sebagian muslimin untuk kesembuhan, sebagaimana doa beliau SAW ketika ada yg sakit: “Dengan Nama Allah atas tanah bumi kami, demi air liur sebagian dari kami, sembuhlah yg sakit pada kami, dg izin tuhan kami” (shahih Bukhari hadits no.5413, dan Shahih Muslim hadits no.2194), ucapan beliau SAW: “demi air liur sebagian dari kami” menunjukkan bahwa beliau SAW berTAWASSUL dengan air liur mukminin yg dengan itu dapat menyembuhkan penyakit, dg izin Allah SWT tentunya, sebagaimana dokter pun dapat menyembuhkan, namun dg izin Allah pula tentunya, juga beliau berTAWASSUL pada tanah, menunjukkan diperbolehkannya berTAWASSUL pada benda mati atau apa saja karena semuanya mengandung kemuliaan Allah SWT.

    TAWASSUL DENGAN ORANG YANG SUDAH MATI
    Adapula pendapat mengatakan TAWASSUL hanya boleh pada yg hidup, pendapat ini ditentang dengan riwayat shahih berikut : “telah datang kepada utsman bin hanif ra seorang yg mengadukan bahwa Utsman bin Affan ra tak memperhatikan kebutuhannya, maka berkatalah Utsman bin Hanif ra : “berwudulah, lalu shalat lah dua rakaat di masjid, lalu berdoalah dg doa : “: “Wahai Allah, Aku meminta kepada Mu, dan Menghadap kepada Mu, Demi Nabi Mu Nabi Muhammad, Nabi Pembawa Kasih Sayang, WAHAI MUHAMMAD, Sungguh aku menghadap demi dirimu (Muhammad SAW), kepada Tuhanku dalam hajatku ini, maka kau kabulkan hajatku, wahai Allah jadikanlah ia memberi syafaat hajatku untukku” (doa yg sama dg riwayat diatas)”, nanti selepas kau lakukan itu maka ikutlah dg ku ke suatu tempat.

    Maka orang itupun melakukannya, lalu utsman bin hanif ra mengajaknya keluar masjid dan menuju rumah Utsman bin Affan ra, lalu orang itu masuk dan sebelum ia berkata apa apa Utsman bin Affan lebih dulu bertanya padanya: “apa hajatmu?”, orang itu menyebutkan hajatnya maka Utsman bin Affan ra memberinya. Dan orang itu keluar menemui Ustman bin Hanif ra dan berkata: “kau bicara apa pada utsman bin affan sampai ia segera mengabulkan hajatku ya..??”, maka berkata Utsman bin hanif ra: “aku tak bicara apa2 pada Utsman bin Affan ra tentangmu, CUMA AKU MENYAKSIKAN RASUL SAW MENGAJARKAN DOA ITU PADA ORANG BUTA DAN SEMBUH”. (Majmu’ zawaid Juz 2 hal 279). Tentunya doa ini dibaca SETELA WAFATNYA Rasul SAW, dan itu diajarkan oleh Utsman bin hanif dan dikabulkan Allah.

    Ucapan: WAHAI MUHAMMAD.. dalam doa TAWASSUL itu banyak dipungkiri oleh sebagian saudara saudara kita, mereka berkata kenapa memanggil orang yg sudah MATI?, kita menjawabnya: sungguh kita setiap shalat mengucapkan salam pada Nabi SAW yg telah wafat: Assalamu alaika AYYUHANNABIYYU… (Salam sejahtera atasmu wahai Nabi……), dan Nabi SAW menjawabnya, sebagaimana sabda beliau SAW: “tiadalah seseorang bersalam kepadaku, kecuali Allah mengembalikan ruh ku hingga aku menjawab salamnya” (HR Sunan Imam Baihaqiy Alkubra hadits no.10.050)

    TAWASSUL merupakan salah satu amalan yang sunnah dan tidak pernah diharamkan oleh Rasulullah SAW, tak pula oleh ijma para Sahabat Radhiyallahu’anhum, tak pula oleh para tabi’in dan bahkan oleh para ulama serta imam-imam besar Muhadditsin, bahkan Allah memerintahkannya, Rasul SAW mengajarkannya, sahabat radhiyallahu’anhum mengamalkannya. Mereka berdoa dengan perantara atau tanpa perantara, tak ada yang mempermasalahkannya apalagi menentangnya bahkan mengharamkannya atau bahkan memusyrikan orang yang mengamalkannya.

    Tak ada pula yg membedakan antara TAWASSUL pada yg hidup dan mati, karena TAWASSUL adalah berperantara pada kemuliaan seseorang, atau benda (seperti air liur yg tergolong benda) dihadapan Allah, bukanlah kemuliaan orang atau benda itu sendiri, dan tentunya kemuliaan orang dihadapan Allah tidak sirna dg kematian, justru mereka yg membedakan bolehnya TAWASSUL pada yg hidup saja dan mengharamkan pada yg mati, maka mereka itu malah dirisaukan akan terjerumus pada kemusyrikan karena menganggap makhluk hidup bisa memberi manfaat, sedangkan akidah kita adalah semua yg hidup dan yg mati tak bisa memberi manfaat apa apa kecuali karena Allah memuliakannya, bukan karena ia hidup lalu ia bisa memberi manfaat dihadapan Allah, berarti si hidup itu sebanding dg Allah??, si hidup bisa berbuat sesuatu pada keputusan Allah??,

    tidak saudaraku.. Demi Allah bukan demikian, Tak ada perbedaan dari yang hidup dan dari yang mati dalam memberi manfaat kecuali dengan izin Allah SWT. Yang hidup tak akan mampu berbuat terkecuali dengan izin Allah SWT dan yang mati pun bukan mustahil memberi manfaat bila memang di kehendaki oleh Allah SWT.

    Ketahuilah bahwa pengingkaran akan kekuasaan Allah SWT atas orang yang mati adalah kekufuran yang jelas, karena hidup ataupun mati tidak membedakan kodrat Ilahi dan tidak bisa membatasi kemampuan Allah SWT. Ketakwaan mereka dan kedekatan mereka kepada Allah SWT tetap abadi walau mereka telah wafat.

    Sebagai contoh dari berTAWASSUL, seorang pengemis datang pada seorang saudagar kaya dan dermawan, kebetulan almarhumah (istri) saudagar itu adalah tetangganya, lalu saat ia mengemis pada saudagar itu ia berkata “Berilah hajat saya tuan …saya adalah tetangga dekat AMARHUMAH ISTRI tuan…” maka tentunya si saudagar akan memberi lebih pada si pengemis karena ia tetangga mendiang istrinya, Nah… bukankah hal ini mengambil manfaat dari orang yang telah mati? Bagaimana dengan pandangan yang mengatakan orang mati tak bisa memberi manfaat?, Jelas-jelas saudagar itu akan sangat menghormati atau mengabulkan hajat si pengemis, atau memberinya uang lebih, karena ia menyebut nama orang yang ia cintai walau sudah wafat.

    Walaupun seandainya ia tak memberi, namun harapan untuk dikabulkan akan lebih besar, lalu bagaimana dengan Arrahman Arrahiim, yang maha pemurah dan maha penyantun?, istri saudagar yang telah wafat itu tak bangkit dari kubur dan tak tahu menahu tentang urusan hajat sipengemis pada si saudagar, NAMUN TENTUNYA SI PENGEMIS MENDAPAT MANFAAT BESAR DARI ORANG YANG TELAH WAFAT, entah apa yang membuat pemikiran saudara saudara kita menyempit hingga tak mampu mengambil permisalan mudah seperti ini.

    Saudara saudaraku, boleh berdoa dengan tanpa perantara, boleh berdoa dg perantara, boleh berdoa dg perantara orang shalih, boleh berdoa dg perantara amal kita yg shalih, boleh berdoa dg perantara Nabi SAW, boleh pada shalihin, boleh pada benda, misalnya “Wahai Allah Demi kemuliaan Ka’bah”, atau “Wahai Allah Demi kemuliaan Arafat”, dlsb, tak ada larangan mengenai ini dari Allah, tidak pula dari Rasul SAW, tidak pula dari sahabat, tidak pula dari Tabi’in, tidak pula dari Imam Imam dan muhadditsin, bahkan sebaliknya Allah menganjurkannya, Rasul SAW mengajarkannya, Sahabat mengamalkannya, demikian hingga kini.

    Wallahu A’lam Bis-Showab

  22. anonim said

    Nabi Sulaiman berkata, Pengk. 9:4 Tetapi siapa yang termasuk orang hidup mempunyai harapan, karena anjing yang hidup lebih baik dari pada singa yang mati. 9:5 Karena orang-orang yang hidup tahu bahwa mereka akan mati, tetapi orang yang mati tak tahu apa-apa, tak ada upah lagi bagi mereka, bahkan kenangan kepada mereka sudah lenyap. 9:6 Baik kasih mereka, maupun kebencian dan kecemburuan mereka sudah lama hilang, dan untuk selama-lamanya tak ada lagi bahagian mereka dalam segala sesuatu yang terjadi di bawah matahari. 9:7 Mari, makanlah rotimu dengan sukaria, dan minumlah anggurmu dengan hati yang senang , karena Allah sudah lama berkenan akan perbuatanmu. 9:8 Biarlah selalu putih pakaianmu dan jangan tidak ada minyak di atas kepalamu. 9:9 Nikmatilah hidup dengan isteri yang kaukasihi seumur hidupmu yang sia-sia, yang dikaruniakan TUHAN kepadamu di bawah matahari, karena itulah bahagianmu dalam hidup dan dalam usaha yang engkau lakukan dengan jerih payah di bawah matahari. 9:10 Segala sesuatu yang dijumpai tanganmu untuk dikerjakan, kerjakanlah itu sekuat tenaga , karena tak ada pekerjaan, pertimbangan, pengetahuan dan hikmat dalam dunia orang mati, ke mana engkau akan pergi.

  23. LOGIKA said

    Saudara-2 seiman,

    Mengapa setiap ada kejadian yang menyangkut akidah Islam, kita selalu mendebatkannya ke arah negatif, yakni memperuncing jurang perbedaan ?

    Mengapa tidak sebaliknya kita berfikir positif untuk mendiskusikannya untuk mempersempit jurang perbedaan pemahaman ?

    Sekedar sharing saudaraku seiman, tak ada salahnya jika kita mengingat firman Allah SWT dalam kitab suci AL-QURAN Surat AL-MAIDAH, ayat :

    AYAT 44, yang berbunyi :

    إِنَّا أَنْزَلْنَا التَّوْرَاةَ فِيهَا هُدًى وَنُورٌ يَحْكُمُ بِهَا النَّبِيُّونَ الَّذِينَ أَسْلَمُوا لِلَّذِينَ هَادُوا وَالرَّبَّانِيُّونَ وَاْلأَحْبَارُ بِمَا اسْتُحْفِظُوا مِنْ كِتَابِ اللهِ وَكَانُوا عَلَيْهِ شُهَدَاءَ فَلاَ تَخْشَوُا النَّاسَ وَاخْشَوْنِ وَلاَ تَشْتَرُوا بِآيَاتِي ثَمَنًا قَلِيلاً وَمَنْ لَمْ يَحْكُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللهُ فَأُولَئِكَ هُمُ الْكَافِرُونَ

    Yang artinya:
    Sesungguhnya Kami telah menurunkan Kitab Taurat di dalamnya (ada) petunjuk dan cahaya (yang menerangi), yang dengan Kitab itu diputuskan perkara orang-orang Yahudi oleh nabi-nabi yang menyerah diri kepada Allah, oleh orang-orang alim mereka dan pendeta-pendeta mereka, disebabkan mereka diperintahkan memelihara kitab-kitab Allah dan mereka menjadi saksi terhadapnya. Karena itu janganlah kamu takut kepada manusia, (tetapi) takutlah kepada-Ku. Dan janganlah kamu menukar ayat-ayat-Ku dengan harga yang sedikit. BARANGSIAPA YANG TIDAK MEMUTUSKAN MENURUT APA YANG DITURUNKAN ALLAH, MAKA MEREKA ITU ADALAH ORANG-ORANG YANG KAFIR. (5: 44)

    AYAT 45, yang berbunyi :

    وَكَتَبْنَا عَلَيْهِمْ فِيهَا أَنَّ النَّفْسَ بِالنَّفْسِ وَالْعَيْنَ بِالْعَيْنِ وَالأَنفَ بِالأَنفِ وَالأُذُنَ بِالأُذُنِ وَالسِّنَّ بِالسِّنِّ وَالْجُرُوحَ قِصَاصٌ فَمَن تَصَدَّقَ بِهِ فَهُوَ كَفَّارَةٌ لَّهُ وَمَن لَّمْ يَحْكُم بِمَا أنزَلَ اللّهُ فَأُوْلَئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ

    Yang artinya :
    Dan kami telah tetapkan terhadap mereka didalamnya (At Taurat) bahwasanya jiwa (dibalas) dengan jiwa, mata dengan mata, hidung dengan hidung, telinga dengan telinga, gigi dengan gigi, dan luka-luka (pun) ada kisasnya. Barang siapa yang melepaskan (hakkisas) nya, maka melepaskan hak itu (menjadi) penebus dosa baginya. BARANGSIAPA TIDAK MEMUTUSKAN PERKARA MENURUT APA YANG DITURUNKAN ALLAH, MAKA MEREKA ITU ADALAH ORANG-ORANG YANG LALIM. (5;45)

    AYAT 47, yang berbunyi :

    وَلْيَحْكُمْ أَهْلُ الإِنجِيلِ بِمَا أَنزَلَ اللّهُ فِيهِ وَمَن لَّمْ يَحْكُم بِمَا أَنزَلَ اللّهُ فَأُوْلَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ

    Yang artinya :
    Dan hendaklah orang-orang pengikut Injil, memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah di dalamnya. BARANGSIAPA TIDAK MEMUTUSKAN PERKARA MENURUT APA YANG DITURUNKAN ALLAH, MAKA MEREKA ITU ADALAH ORANG-ORANG YANG FASIK. (5:47)

    Dari ketiga firman Allah SWT di atas, kita mendapat petunjuk berharga bahwa di mata Allah, orang yang :
    1. Tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan oleh Allah adalah orang yang KAFIR (5:44)
    2. Tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan oleh Allah adalah orang yang LALIM (5:45)
    3. Tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan oleh Allah adalah orang yang FASIK (5:47)

    KESIMPULANNYA

    SEGALA HAL YANG KITA SEDANG KITA PERKARAKAN SEBAIKNYA KITA KEMBALIKAN PENYELESAIANNYA SESUAI PETUNJUK ALLAH SWT DALAM KITAB SUCI AL-QURAN, apalagi jika kita berada dalam kebimbangan atau dilematis dalam pemahaman tentang sesuatu.

    SEkali lagi, sekedar sharing dan mohon maaf jika kurang berkenan.

    Wassalam.

    Insya Allah kita semua diberikan petunjuk-2-Nya tentang segala hal yang sedang kita perkarakan sehingga didapatkan kesamaan pandangan yang MEMPERKUAT UKHUWAH ISLAMIYAH. Amin.

  24. tempakul said

    Alhamdulillah… rupanya banyak yang kebakaran jenggot ya… walaupun ngga punya jenggot..ya….hehehe

    “Dan sesungguhnya Kami telah menurunkan kepadamu ayat-ayat yang jelas; dan tidak ada yang ingkar kepadanya, melainkan orang-orang yang fasik”. (QS. Al-Baqoroh : 99)

    “Sungguh aku meninggalkan kalian di atas (agama) yang putih (terang). Malamnya seperti siangnya. tidak ada yang menyimpang darinya, kecuali orang yang binasa”. [HR. Ibnu Abi Ashim dalam As-Sunnah (no. 48 & 49). Hadits ini di-shohih-kan oleh Syaikh Al-Albaniy dalam Takhrij Al-Misykah (59)]

    Manusia dalam menolak kebenaran juga terbagi dalam dua golongan:

    Golongan yang menolaknya, karena kebenaran belum sampai dengan baik kepadanya karena beberapa sebab….. masih mending nih orang ….

    TAPI

    Adapun golongan kedua, maka mereka yang menolak kebenaran, setelah nyatanya dan tegaknya kebenaran di depan mereka….banyak sebabnya :

    1. Cinta Kekuasaan dan Ketenaran – malu mengakui kebenaran… nanti jabatan / ketenaran runtuh…. kalo masih malu di dunia masih dimaklumi…. karena sifat manusia yang selalu lupa & salah….

    2. Menyombongkan diri dan Enggan Menerima Kebenaran … berdasarkan Al Qur’an dan Hadist – Kesombongan membuat orang jauh dari petunjuk Allah -Azza wa Jalla

    Semoga bermanfa’at… kebenaran itu pahit..seperti pahitnya jamu… yang menyembuhkan kalbu….kalo mau sembuh kudu diminum…

    Bila hati kita sakit…. masih bisa disembuhkan…..tergantung sakitnya… masih ringan…insya Allah mudah disembuhkan… tapi bila hati kita sakit akut (stadium 5 kali ya)…berat tuh penyembuhannya… tapi bila hati kita sudah mati…. mau gimana lagi…hidayah pun susah masuk….

  25. †ahmad fthonah al mukaromah bin lufhty azadissahgk† said

    Astafirullah al azim !!!

  26. †ahmad fthonah al mukaromah bin lufhty azadissahgk† said

    masyaallah ya rabbi al amin!!
    istighfar istighfar……

  27. ANTI KAUM SAWAH said

    Coba makam kuburannya BAPAKnya Atau IBUNYA orang-orang KAUM SAWAH (Salafi dan Wahabi)sini aku bongkar terus aku taruh diper-empatan jalan, mau gak dia

  28. @ani kaum sawah
    http://subhataswaja.wordpress.com/2012/11/27/fakta-propaganda-laknat-nu-aswaja-dengan-syiah-rafidhoh-iran-untuk-menjatuhkan-haramain-madinah-dan-mekkah/

  29. cool man said

    @tempakul : cobalah kasih counter atas komennya Farasydaq (komen no.21) dan Salafy (komen no.19) yang begitu lengkap. Coba dibantah satu2 hadist yang dia sebutkan. Jangan kasih komen seperti yg trakhir ini, kesannya nggak bagus :)

    malu lah sama pengunjung kabarnet ini :)

    Dan apakah bener seperti yg Salafy katakan bahwa Ibnu Taimiyah (ulama rujukan ente) itu mengatakan bahwa tahlilan itu bukan bid’ah dan pahalanya akan sampai ke mayyit?

    Ayo dong jawab yg bener jangan jawabannya kaya’ komen terakhir gitu :(

  30. Hasbi said

    Ajaran ulama Muhammad bin Adbul Wahhab atau ajaran Wahabi disebarluaskan oleh pemerintah dinasiti Saudi afiliasi dari Zionis Yahudi Amerika sedangkan Zionis Yahudi Amerika pendukung Zionis Yahudi Israel

    Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Siapa pun orang yang berkata kepada saudaranya,’ Wahai kafir ‘maka sungguh salah seorang dari keduanya telah kembali dengan kekufuran tersebut, apabila sebagaimana yang dia ucapkan. Namun bila tidak maka ucapan tersebut akan kembali kepada orang yang mengucapkannya. “(HR Muslim).

    Pangikut ajaran Wahabi memang tidak mengatakan “wahai kafir” namun mereka mengatakan bahwa kaum muslim yang berdoa kepada Allah ta’ala dengan bertawassul pada Wali Allah dan orang sholeh adalah termasuk perbuatan musyrik.

    Begitupula kaum muslim yang melakukan ziarah kubur sambil berdoa kepada Allah ta’ala di sisi kuburan dengan bertawassul pada Wali Allah dan orang sholeh adalah termasuk perbuatan musyrik dan diberi julukkan kuburiyyun (penyembah kuburan) sebagaimana contoh yang dapat kita ketahui dari syarah Qawa’idul ‘Arba karya ulama Muhammad bin Abdul Wahhab yang ditulis oleh ulama Sholih Fauzan Al-Fauzan pada http://mutiarazuhud.files. wordpress.com/2012/03 / pemahaman-tauhid-maw.pdf

    Salah satu gurunya ulama Muhammad bin Abdul Wahhab yakni Syaikh Muhammad bin Sulaiman AI-Kurdi as-Syafi’i, menulis surat berisi nasehat bahwa yang dilarang adalah meyakini orang ditawassuli atau di-istighotsahi bisa memberi manfaat tanpa kehendak Allah “berikut bunyi nasehatnya,

    “Wahai Ibn Abdil Wahab, aku menasehatimu karena Allah, tahanlah lisanmu dari mengkafirkan kaum muslimin, jika kau dengar seseorang meyakini bahwa orang yang ditawassuli bisa memberi manfaat tanpa kehendak Allah, maka ajarilah dia kebenaran dan terangkan dalilnya bahwa selain Allah tidak bisa memberi manfaat maupun madharrat , kalau dia menentang bolehlah dia kau anggap kafir, tapi tidak mungkin kau mengkafirkan As-Sawadul A’zham (kelompok mayoritas) diantara kaum muslimin, karena engkau menjauh dari kelompok terbesar, orang yang menjauh dari kelompok terbesar lebih dekat dengan kekafiran, sebab dia tidak mengikuti jalan muslimin. ”

    Para pengikut ajaran Wahabi, mereka mengingkari makna majaz (kiasan) atau makna tersirat yakni makna dibalik yang tertuls atau makna di balik yang tersurat

    Oleh karena mereka mengingkari makna majaz maka mereka salah memahami Al Qur’an dan As Sunnah.

    Misalnya mereka salah memahami hadits seperti

    Dari Aisyah radhiyallahu’anhu dia berkata, Rasulullah Shallallahu’alaihiwasallam bersabda dalam sakitnya yang menyebabkan dia tidak bisa bangkit lagi, ‘Allah melaknat kaum Yahudi dan Nashrani yang menjadikan kuburan para nabi mereka sebagai masjid’ (HR Muslim)

    Mereka menganggap kaum muslim yang berdoa kepada Allah di sisi kuburan telah menyembah kuburan karena mereka mengingkari makna majaz (kiasan) sehingga mereka mengartikan “jangan menjadikan kuburan para Nabi atau para Wali sebagai tempat beribadah meskipun beribadah kepada Allah ta’ala”

    Hadits tersebut menguraikan tentang laknat Allah ta’ala terhadap kaum Yahudi dan Nashrani dan kata masjid tidak dapat dimaknai sebagai larangan tempat sholat atau larangan tempat beribadah kepada Allah ta’ala namun kata masjid dikembalikan kepada asal katanya yakni Sajada yang artinya tempat sujud.

    Jadi “larangan menjadikan kuburan sebagai masjid” merupakan kalimat majaz (kiasan) yang maknanya adalah “larangan menyembah kuburan”.

    Sedangkan kaum muslim yang berdoa kepada Allah di sisi kuburan bukanlah menyembah kuburan.

    Jikalau larangan “jangan menjadikan kuburan sebagai masjid” dipahami dengan makna dzahir, tentu mustahil seukuran kuburan dijadikan masjid.

    Jikalau dipahami sebagai larangan “jangan menjadikan kuburan sebagai tempat beribadah”

    Tidak masalah kalau di sisi kuburan beribadah kepada Allah Azza wa Jalla karena yang terlarang adalah beribadah kepada kuburan alias menyembah kuburan.

    Mereka secara tidak disadari atau secara tidak langsung telah berdusta ata nama Rasulullah shallallahu alaihi wasallam atau telah memfitnah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam yang disebabkan mereka berpemahaman dan menjelaskan (menyampaikan) bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam telah melarang kuburan sebagai masjid dalam arti melarang kuburan sebagai tempat beribadah seperti sholat atau membaca Al Qur’an

    Mereka melarang sholat atau melarang membaca Al Qur’an di sisi kuburan maka mereka secara tidak disadari atau secara tidak langsung telah melarang Rasulullah shallallahu alaihi wasallam yang melaksanakan sholat jenazah di sisi kuburan dan tentunya membaca Al Fatihah yang termasuk bacaan Al Qur’an.

    حدثنا محمد أخبرنا أبو معاوية عن أبي إسحاق الشيباني عن الشعبي عن ابن عباس رضي الله عنهما قال مات إنسان كان رسول الله صلى الله عليه وسلم يعوده فمات بالليل فدفنوه ليلا فلما أصبح أخبروه فقال ما منعكم أن تعلموني قالوا كان الليل فكرهنا وكانت ظلمة أن نشق عليك فأتى قبره فصلى عليه

    Telah menceritakan kepada kami Muhammad telah mengabarkan kepada kami Abu Mu’awiyah dari Abu Ishaq Asy-Syaibaniy dari Asy-Sya’biy dari Ibnu ‘Abbas radliallahu’ anhuma berkata: Bila ada orang yang meninggal biasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melayatnya. Suatu hari ada seorang yang meninggal dunia di malam hari kemudian dikuburkan malam itu juga. Keesokan paginya orang-orang memberitahu Beliau. Maka Beliau bersabda: Mengapa kalian tidak memberi tahu aku? Mereka menjawab: Kejadiannya malam hari, kami khawatir memberatkan Anda. Maka kemudian Dia mendatangi kuburan orang itu lalu mengerjakan shalat untuknya. (HR Bukhari 1170)

    حدثنا يعقوب بن إبراهيم حدثنا يحيى بن أبي بكير حدثنا زائدة حدثنا أبو إسحاق الشيباني عن عامر عن ابن عباس رضي الله عنهما قال أتى رسول الله صلى الله عليه وسلم قبرا فقالوا هذا دفن أو دفنت البارحة قال ابن عباس رضي الله عنهما فصفنا خلفه ثم صلى عليها

    Telah menceritakan kepada kami Ya’qub bin Ibrahim telah menceritakan kepada kami Yahya bin Abu Bukair telah menceritakan kepada kami Za’idah telah menceritakan kepada kami Abu Ishaq Asy-Syaibaniy dari ‘Amir dari Ibnu’ Abbas radliallahu ‘anhuma berkata; Nabi Shallallahu’alaihiwasallam mendatangi kuburan. Mereka berkata; Ini dimakamkan kemarin. Berkata, Ibnu ‘Abbas radliallahu’ anhuma: Maka Ia membariskan kami di belakang Beliau kemudian mengerjakan shalat untuknya. (HR Bukhari 1241)

    Begitupula diriwayatkan Umar mengetahui bahwa Anas ra sholat di atas kuburan sehingga ia menginjak kuburan. Lalu Umar berkata, “Al-Qabr, al-Qabr! (Kuburan, Kuburan!) “Maka Anas ra melangkah (menghindari menginjak dalam batas kuburan), lalu melanjutkan shalatnya. [Lihat Fathul Bari Libni Hajar I: 524, Darul Ma'rifah, Beirut, 1379].

    Dalam kitab al-Muwatha ‘, Imam Malik ra menyebutkan sebuah riwayat tentang perbedaan pendapat para sahabat Nabi shallallahu alaihi wasallam tentang tempat penguburan jasad Nabi Shallallahu alaihi wasallam.

    Sebagian sahabat berkata, “Dia kita kubur di sisi mimbar saja”. Para sahabat lainnya berkata, “dikubur di Baqi ‘saja”. Lalu Sayyidinaa Abu Bakar ash-Shiddiq ra datang dan berkata, “Saya mendengar Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda,” Seorang nabi tidaklah dikubur kecuali di tempatnya meninggal dunia “.

    Lalu digalilah kuburan di tempat ia meninggal dunia itu “.

    Tentulah para Sahabat Nabi tidak akan mengusulkan agar Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dimakamkan di sisi mimbar kalau mengetahui terlarang sholat di dekat atau di area pemakaman. Posisi mimbar tentu merupakan bagian dari masjid. Namun, dalam riwayat di atas, tidak ada seorang pun dari sahabat Nabi shallallahu alaihi wasallam yang mengingkari usulan itu.

    Hanya saja usulan itu tidak diambil oleh Sayyidinaa Abu Bakar karena mengikuti perintah Nabi shallallahu alaihi wasallam agar dikubur ditempat ia meninggal dunia. Maka, ia pun dikubur di kamar Sayyidah ‘Aisyah ra yang melekat pada masjid yang digunakan sebagai tempat shalat oleh orang-orang muslim. Kondisi ini sama dengan kondisi kuburan-kuburan para wali dan orang-orang shaleh yang ada di dalam masjid-masjid pada zaman ini.

    Ummul mu’minin ‘Aisyah berkata, “Saya masuk ke dalam rumahku di mana Rasulullah dikubur di dalamnya dan saya melepas baju saya. Saya berkata mereka berdua adalah suami dan ayah. Ketika Umar dikubur bersama mereka, saya tidak masuk ke rumah kecuali dengan busana tertutup rapat karena malu kepada ‘Umar “. (HR Ahmad).

    Begitupula dengan dengan dikuburkannya Sayyidinaa Abu Bakar Radiyallahu’anhu dan Sayyidinaa Umar Radiyallahu’anhu di tempat yang sama dengan Nabi Shallallahu alaihi wasallam yaitu kamar Sayyidah ‘Aisyah Radiyallahu’anha yang masih dia gunakan untuk tinggal, duduk, lalu lalang dan melakukan shalat-shalat fardhu dan sunnah serta membaca Al Qur’an. Dengan demikian, hukum kemampuan ini merupakan ijma ‘para Sahabat radhiyallahu’anhum.

    Kita sudah mengetahui tempat mustajab untuk berdoa kepada Allah ta’ala seperti Multazam, Raudah, Hijr Ismail, Hajar Aswad, Maqom Ibrahim (tempat pijakan Nabi Ibrahim Alaihisalam) dan lain lain,

    Begitupula dengan kuburan para Wali Allah termasuk tempat mustajab untuk berdoa kepada Allah ta’ala

    Adz-Dzahabi; dalam karyanya; Siyar A’lam an-Nubala ‘, vol. 9, cet. 9, tentang biografi Imam Ma’ruf al-Karkhi; beliau adalah Abu Mahfuzh al-Baghdadi. Dari Ibrahim al-Harbi berkata: “Makam Imam Ma’ruf al-Karkhi adalah obat yang paling mujarab”. Adz-Dzahabi berkata: “Yang dimaksud adalah terkabulnya doa di sana yang dipanjatkan oleh orang yang tengah kesulitan, oleh karena tempat-tempat yang berkah bila doa dipanjatkan di sana akan terkabulkan, sebagaimana terkabulkannya doa yang dipanjatkan di waktu sahur (sebelum subuh), doa setelah shalat-shalat wajib, dan doa di dalam masjid-masjid …… “.

    Imam al Hafizh Abu al Faraj Abdurrahman Ibn al Jauzi (w 597 H) dalam kitabnya Sifat as Shofwah jilid 2 halaman 324, menyelenggarakan ziarah ke makam orang-orang Saleh dan Tawassul. Di halaman terseburi antara lain ditulis yang artinya sebagai berikut “Dia (Imam Ma’ruf al Karkhi) adalah obat yang mujarab, karenanya siapa yang memiliki kebutuhan maka datanglah ke makamnya dan berdoalah (meminta kepada Allah) di sana; maka keinginannya akan terkabulkan InsyaAllah. Makam beliau (Imam Ma’ruf al Karkhi) sangat terkenal di Baghdad; yaitu tempat untuk mencari berkah. Imam Ibrahim al Harbi berkata: Makam Imam Ma’ruf al Karkhi adalah obat yang mujarab “.

    Manshuur Dawaniqi (salah satu khalifah Bani ‘Abbas) bertanya kepada Imam Malik bin Anas “Ketika aku mau berdoa, apakah aku harus menghadap ke kiblat atau ke arah kuburan Nabi shallallahu alaihi wasallam?”

    Imam Malik menjawab, “Mengapa harus membelakangi Nabi shallallahu alaihi wasallam (karena kalau menghadap kiblat harus membelakangi Nabi shallallahu alaihi wasallam) sementara ia adalah perantaramu-wasilah kepada Allah-dan perantara ayahmu Adam as sampai hari kiamat. Menghadaplah ke makam Rasul shallallahu alaihi wasallam karena Tuhan menerima syafaat beliau. Karena Ia telah berfirman: ‘Dan kalau mereka yang berbuat aniaya itu-melakukan dosa-datang kepadamu-Muhammad-dan meminta ampun kepada Allah, dan RasulNyapun memintakan ampunan untuk mereka, maka sudah pasti mereka akan mendapatkan Allah Maha Penerima Taubat dan Maha Pengasih. ”

    Imam Ahmad dengan sanad yang baik (hasan) menceritakan dari Al-Mutthalib bin Abdillah bin Hanthab, dia berkata: “Marwan bin al-Hakam sedang menghadap ke arah makam Rasulullah-shallallahu alayhi wa sallam-, tiba-tiba ia melihat seseorang sedang merangkul makam Rasulullah. Kemudian ia memegang kepala orang itu dan berkata: ‘Apakah kau tahu apa yang kau lakukan?’. Orang tersebut menghadapkan wajahnya kepada Marwan dan berkata: ‘Ya saya tahu! Saya tidak datang ke sini untuk batu dan bata ini. Tetapi saya datang untuk sowan kepada Rasulullah-shallallahu alayhi wa sallam-’. Orang itu ternyata Abu Ayyub Al-Anshari-radliyallahu anhu-. (Diriwayatkan Imam Ahmad, 5; 422 dan Al-Hakim, 4; 560)

    Siyar A’lam an-Nubala ‘, vol. 12, cet. 14, tentang biografi Imam al-Bukhari (penulis kitab Shahih); beliau adalah Abu Abdillah Muhammad ibn Isma’il ibn Ibrahim al-Bukhari, dalam menceritakan tentang wafatnya. simak tulisan adz-Dzahabi berikut ini: “Abu ‘Ali al-Gassani berkata:” Telah mengabarkan kepada kami Abu al-Fath Nasr ibn al-Hasan as-Sakti as-Samarqandi; suatu ketika dalam beberapa tahun kami penduduk Samarqand merasa musim kemarau, banyak orang ketika itu telah melakukan shalat Istisqa ‘, namun hujan tidak juga turun. Kemudian datang seseorang yang dikenal sebagai orang saleh menghadap penguasa Samarqand, ia berkata: “Saya punya pendapat maukah engkau mendengarkannya? Penguasa tersebut berkata: “Baik, apa pendapatmu?”. Orang saleh berkata: “Menurutku engkau harus keluar bersama segenap manusia menuju makam Imam Muhammad ibn Isma’il al-Bukhari, makam beliau berada di Kharatnak, engkau berdoa meminta hujan di sana, dengan begitu semoga Allah menurunkan hujan bagi kita”. Sang penguasa berkata: “Aku akan kerjakan saranmu itu”. Maka keluarlah penguasa Samarqand tersebut dengan orang banyak menuju makam Imam al-Bukhari, banyak sekali orang yang menangis di sana, mereka semua meminta tolong kepada Imam al-Bukhari. Kemudian Allah menurunkan hujan yang sangat deras, hingga orang-orang saat itu menetap di Kharatnak sekitar tujuh hari, tidak ada seorangpun dari mereka yang dapat pulang ke Samarqand karena banyak dan derasnya hujan. Jarak antara Samarqand dan Kharatnak sekitar tiga mil ”

    Para Sahabat, bertawassul dan bertabarruk ke makam Rasulullah sebagaimana yang disampaikan oleh Ibnu katsir dalam kitab tanggalnya 7/105: “Berkata al hafidz Abu Bakar al Baihaqi, telah menceritakan Abu Nashar bin Qutadah dan Abu bakar al Farisi, mereka berdua berkata: telah menceritakan kepada kami Abu Umar bin Mathor, telah menceritakan kepada kami Ibrahim bin Ali Addzahli, telah menceritakan kepada kami Yahya bin Yahya, telah menceritakan kepada kami Abu Mu’awiyah dari ‘Amasy dari Abi Shalih dari Malik Ad Daar Ia berkata, “Orang-orang mengalami kekeringan panjang saat pemerintahan Umar. Kemudian seorang laki-laki datang ke makam Nabi Shallallahu alaihi wasallam dan berkata “Ya Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam mintakanlah hujan untuk umatmu karena mereka telah binasa”. Kemudian orang tersebut mimpi bertemu Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dan dikatakan kepadanya “datanglah kepada Umar dan ucapkan salam untuknya beritahukan kepadanya mereka semua akan diturunkan hujan. Katakanlah kepadanya “bersikaplah bijaksana, bersikaplah bijaksana”. Maka laki-laki tersebut menemui Umar dan menceritakan kepadanya akan hal itu. Kemudian Umar berkata “Ya Tuhanku aku tidak melalaikan urusan umat ini kecuali apa yang aku tidak mampu melakukannya” (Sanadnya shahih adalah penetapan dari Ibnu katsir. Malik adalah Malik Ad Daar dan ia seorang bendahara gudang makanan pada pemerintahan Umar, ia adalah tsiqoh)

    Al Hafidz Ibnu Hajar al Asqolani dalam Fathul Bari juz 2 pada kitab aljumah bab sualun nas al imam idza qohathu “, Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah dengan sanad yang shahih dari riwayat Abu Shalih As Saman dari Malik Ad Daar seorang bendahara Umar. Ia berkata “Orang-orang mengalami kemarau panjang saat pemerintahan Umar. Kemudian seorang laki-laki datang ke makam Nabi Shallallahu alaihi wasallam dan berkata “Ya Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam mintakanlah hujan untuk umatmu karena mereka telah binasa datanglah kepada Umar dst .. dan laki2 itu adalah Bilal bin Haris al Muzani”.

    Kaum muslim dapat bertabarruk yakni berdoa kepada Allah di sisi kuburan para wali Allah dengan berwashilah (berperantara) amal kebaikan berupa hadiah bacaan untuk ahli kubur sebelum inti doa yang akan dipanjatkan kepada Allah Azza wa Jalla.

    Ada pihak yang menyebarluaskan potongan pendapat Imam Syafi’i ~ rahmahullah bahwa bacaan Al Qur’an tidak sampai kepada yang wafat sehingga pendapat tersebut menjadi pendapat masyhur

    Latar belakang Al Imam Syafi’i ~ rahimahullah mengatakan bahwa bacaan Al Qur’an tidak sampai kepada yang wafat, karena orang-orang kaya yang di masa itu jauh hari sebelum mereka wafat, mereka akan membayar orang-orang agar jika ia telah wafat mereka menghatamkan Al Qur’an berkali-kali dan pahalanya untuknya, maka Al Imam Syafi’i ~ rahimahullah mengatakan bahwa pahala bacaan Al Qur’an tidak bisa sampai kepada yang wafat.

    Ketentuan sampai pahala bacaan tergantung niat (hati) jika niat tidak lurus seperti niat “jual-beli” maka pahala bacaan tidak akan sampai. Dituntut keikhlasan bagi setiap yang bersedekah baik dalam bentuk harta maupun dalam bentuk bacaan Al Qur’an.

    Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, “Allah tidak memandang rupa dan harta kamu tetapi Dia memandang hati dan praktek kamu.” (HR Muslim 4651).

    Kata Syaikh Ali bin Muhammad bin Abil lz: “Adapun Membaca Al-qur’an dan menghadiahkan pahalanya kepada orang yang mati secara sukarela dan tanpa upah, maka pahalanya akan sampai kepadanya sebagaimana sampainya pahala puasa dan haji”. (Syarah aqidah Thahawiyah hal. 457).

    Al Imam Syafi’i ~ rahimahullah mensyaratkan sampai pahala bacaan jika memenuhi salah satu dari kondisi berikut

    1. Pembacaan dihadapan mayyit (hadlirnya mayyit),
    2. Pembacanya meniatkan pahala bacaannya untuk mayyit
    3. Pembacanya mendo’akannya untuk mayyit

    Syaikhul Islam al-Imam Zakariyya al-Anshari dalam dalam Fathul Wahab:

    أما القراءة فقال النووي في شرح مسلم المشهور من مذهب الشافعي أنه لا يصل ثوابها إلى الميت وقال بعض أصحابنا يصل وذهب جماعات من العلماء إلى أنه يصل إليه ثواب جميع العبادات من صلاة وصوم وقراءة وغيرها وما قاله من مشهور المذهب محمول على ما إذا قرأ لا بحضرة الميت ولم ينو ثواب قراءته له أو نواه ولم يدع بل قال السبكي الذي دل عليه الخبر بالاستنباط أن بعض القرآن إذا قصد به نفع الميت نفعه وبين ذلك وقد ذكرته في شرح الروض

    “Adapun pembacaan al-Qur’an, Imam an-Nawawi mengatakan didalam Syarh Muslim, yakni masyhur dari madzhab Syafi’i bahwa pahala bacaan al-Qur’an tidak sampai kepada mayyit, sedangkan sebagian Ashhab kami menyatakan sampai, dan kelompok- kelompok ‘ulama berpendapat bahwa sampainya pahala seluruh ibadah kepada mayyit seperti shalat, puasa, membaca al-Qur’an dan yang lainnya. Dan apa yang dikatakan sebagai qaul masyhur dibawa pada pengertian ketika pembacaannya tidak di hadapan mayyit, tidak meniatkan pahala bacaannya untuknya atau meniatkannya, dan tidak mendo’akannya bahkan Imam as-Subkiy berkata; “yang menunjukkan atas hal itu (sampainya pahala) adalah hadits berdasarkan istinbath bahwa sebagian al-Qur’an ketika diqashadkan (ditujukan) dengan bacaannya akan bermanfaat bagi mayyit dan diantara yang demikian, sungguh telah di tuturkannya didalam syarah ar-Raudlah “. (Fathul Wahab bisyarhi Minhajit Thullab lil-Imam Zakariyya al-Anshari asy-Syafi’i [2/23]).

    Syaikhul Islam al-Imam Ibnu Hajar al-Haitami dalam Tuhfatul Muhtaj:

    قال عنه المصنف في شرح مسلم: إنه مشهور المذهب على ما إذا قرأ لا بحضرة الميت ولم ينو القارئ ثواب قراءته له أو نواه ولم يدع له

    “Sesungguhnya pendapat masyhur adalah diatas pengertian saat pembacaan bukan dihadapan mayyit (hadlirnya mayyit), pembacanya tidak meniatkan pahala bacaannya untuk mayyit atau meniatkannya, dan tidak mendo’akannya untuk mayyit” (Tuhfatul Muhtaj fiy Syarhi al-Minhaj lil-Imam Ibn Hajar al- Haitami [7/74].)

    Tawassul adalah salah satu metode berdoa dan salah satu pintu (Misykat) dari pintu-pintu untuk menghadap Allah Swt. Jadi yang ditawassulkan adalah amal kebaikan berupa hadiah bacaan untuk ahli kubur sebelum inti doa yang akan dipanjatkan kepada Allah Azza wa Jalla.

    Imam Nawawi berkata

    قال الشافعي رحمه الله: ويستحب أن يقرأ عنده شيء من القرآن, وإن ختموا القرآن عنده كان حسنا

    “Imam Syafi’i rahimahullah berkata:” disunnahkan agar membaca sesuatu dari al-Qur’an disisi quburnya, dan apabila mereka mengkhatamkan al-Qur’an disisi quburnya maka itu bagus “(Riyadlush Shalihin [1/295] lil-Imam an-Nawawi; Dalilul Falihin [6/426] li-Imam Ibnu ‘Allan; al-Hawi al-Kabir fiy Fiqh Madzhab Syafi’i (Syarah Mukhtashar Muzanni) [3/26] lil-Imam al-Mawardi dan lainnya .

    قال الشافعى: وأحب لو قرئ عند القبر ودعى للميت

    Imam Syafi’i mengatakan “aku menyukai sendainya dibacakan al-Qur’an disamping Qubur dan dibacakan do’a untuk mayyit” (Ma’rifatus Sunani wal Atsar [7743] lil-Imam al-Muhaddits al-Baihaqi.)

    Imam Ahmad kembali mengingkarinya karena atsar tentang hal itu tidak sampai kepadanya namun kemudian Imam Ahmad ruju ‘

    قال الحافظ بعد تحريجه بسنده إلى البيهقى قال حدثنا أبو عبدالله الحافظ قال حدثنا ابو العباس بن يعقوب قال حدثنا العباس بن محمد قال سألت يحي بن معين عن القرأءة عند القبر فقال حدثنى مبشر بن أسماعيل الحلبي عن عبد الرحمن بن اللجلاج عن أبيه قال لبنيه إذا أنا مت فضعونى فى قبرى وقولوا بسم الله وعلى سنه رسول الله وسنوا على التراب سنا ثم إقرأوا عند رأسى أول سوره البقرة وخاتمتها فإنى رأيت إبن عمر يستحب ذلك, قال الحافظ بعد تخريجه هذا موقوف حسن أخريجه أبو بكر الخلال وأخريجه من رواية أبى موسى الحداد وكان صدوقا قال صلينا مع أحمد على جنازة فلما فرغ من ذفنه حبس رجل ضرير يقرأ عند القبر فقال له أحمد يا هذا إن القراءة عند القبر بدعة فلما خرجنا قال له محمد بن قدامة يا أبا عبد الله ما تقول فى مبشر بن إسماعيل قال ثقة قال كتبت عنه شيئا قال نعم قال إنه حدثنى عن عبد الرحمن بن اللجلاج عن أبيه أنه أوصى إذا دفن أن يقرؤا عند قبره فاتحة البقرة وخاتمتها وقال سمعت ابن عمر يوصى بذلك قال فقال أحمد للرجل فليقرأ. اه

    al-Hafidh (Ibnu Hajar) berkata setelah mentakhrijnya dengan sanadnya kepada al-Baihaqi, ia berkata; telah menceritakan kepada kami Abu Abdillah al-Hafidz, ia berkata telah menceritakan kepada kami Abul ‘Abbas bin Ya’qub, ia berkata, telah menceritakan kepada kami al-’Abbas bin Muhammad, ia berkata, aku bertanya kepada Yahya bin Mu’in tentang pembacaan al-Qur’an disamping Qubur, maka ia berkata; telah menceritakan kepadaku Mubasysyir bin Isma’il al-Halabi dari’ Abdurrahman bin al -Lajlaj dari ayahnya, ia berkata kepada putranya, ketika aku telah wafat, letakkanlah aku didalam kuburku, dan katakanlah oleh kalian “Bismillah wa ‘alaa Sunnati Rasulillah”, kemudian gusurkan tanah diatasku dengan perlahan, selanjutnya bacalah oleh kalian disini kepalaku awal surah al- Baqarah dan mengkhatamkannya, karena sesungguhnya aku melihat Ibnu ‘Umar menganjurkan hal itu. Kemudian al-Hafidh (Ibnu Hajar) berkata setelah mentakhrijnya, hadits ini mauquf yang hasan, Abu Bakar al-Khallal telah mentakhrijnya dan juga mentakhrijnya dari Abu Musa al-Haddad sedangkan ia orang yang sangat jujur. Ia berkata: kami shalat jenazah bersama bersama Ahmad, maka tatkala telah selesai pemakamannya duduklah seorang laki-laki buta yang membaca al-Qur’an disamping Qubur, maka Ahmad berkata kepadanya; “hei apa ini, sungguh membaca al-Qur’an disamping Qubur adalah bid’ah “. Maka tatkala kami telah keluar, berkata Ibnu Qudamah kepada Ahmad: “wahai Abu Abdillah, apa komentarmu tentang Mubasysyir bin Isma’il? “, Ahmad berkata: tsiqah, Ibnu Qudamah berkata: engkau menulis sesuatu darinya?”, Ahmad berkata: Iya. Ibnu Qudamah berkata: sesungguhnya ia telah menceritakan kepadaku dari Abdurrahman bin al-Lajlaj dari ayahnya, ia berpesan ketika dimakamkan agar dibacakan pembukaan al-Baqarah dan mengkhatamkannya disamping kuburnya, dan ia berkata: aku mendengar Ibnu ‘Umar berwasiat dengan hal itu, Maka Ahmad berkata kepada laki-laki itu “lanjutkanlah bacaaanmu”.

    Abdul Haq berkata: telah diriwayatkan bahwa Abdullah bin ‘Umar-radliyallahu’ anhumaa-memerintahkan agar dibacakan surah al-Baqarah disisi quburnya dan diantara yang meriwayatkan demikian adalah al-Mu’alla bin Abdurrahman

    Berkata Muhammad bin ahmad almarwazi: “Saya mendengar Imam Ahmad bin Hanbal berkata:” Jika kamu masuk ke pekuburan, maka bacalah Fatihatul kitab, al-ikhlas, al falaq dan an-nas dan jadikanlah pahalanya untuk para penghuni kubur, maka sesungguhnya pahala itu sampai kepada mereka. Tapi yang lebih baik adalah agar sipembaca itu berdoa sesudah selesai dengan: “Ya Allah, sampaikanlah pahala ayat yang telah aku baca ini kepada si fulan …” (Hujjatu Ahlis sunnah waljamaah hal. 15)

    Mereka tetap keukeuh (bersikukuh) bahwa terlarang sholat, membaca Al Qur’an atau berdoa kepada Allah di sisi kuburan yang ditimbulkan karena mereka salah memahami hadits Rasulullah seperti

    Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda “Jadikanlah shalat kalian di rumah kalian dan jangan jadikan rumah tersebut seperti kuburan”

    Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda “Janganlah kalian jadikan rumah-rumah kalian sebagai kuburan, sesungguhnya syetan itu akan lari dari rumah yang di dalamnya dibacakan surat Al Baqarah.” (HR Muslim)

    Kedua hadits tersebut bukanlah pelarangan sholat atau membaca Al Qur’an di sisi kuburan.

    Sabda Rasulullah yang artinya “Jangan jadikan rumah kalian seperti kuburan” adalah kalimat majaz yang maksudnya adalah “jangan rumah kalian sepi dari (tidak dipergunakan untuk) sholat maupun membaca Al Qur’an”.

    Marilah kita simak pendapat para ulama terdahulu.

    Imam Baidhowi dalam kitab Syarh Az-Zarqani atas Muwaththo ‘imam Malik berkata:

    قال البيضاوي: لما كانت اليهود يسجدون لقبور الأنبياء تعظيما لشأنهم ويجعلونها قبلة ويتوجهون في الصلاة نحوها فاتخذوها أوثانا لعنهم الله, ومنع المسلمين عن مثل ذلك ونهاهم عنه, أما من اتخذ مسجدا بجوار صالح أو صلى في مقبرته وقصد به الاستظهار بروحه ووصول أثر من آثار عبادته إليه لا التعظيم له والتوجه فلا حرج عليه, ألا ترى أن مدفن إسماعيل في المسجد الحرام عند الحطيم, ثم إن ذلك المسجد أفضل مكان يتحرى المصلي بصلاته.
    والنهي عن الصلاة في المقابر مختص بالمنبوشة لما فيها من النجاسة انتهى

    Imam Baidhawi mengatakan: “Ketika konon orang-orang Yahudi bersujud pada kuburan para nabi, karena pengagungan terhadap para nabi. Dan menjadikannya arah qiblat serta mereka pun sholat menghadap kuburan tsb, maka mereka telah menjadikannya sebagai sesembahan, maka Allah melaknat mereka dan melarang umat muslim mencontohnya.

    Adapun orang yang menjadikan masjid di sisi orang shalih atau sholat di perkuburannya dengan tujuan menghadirkan ruhnya dan mendapatkan bekas dari ibadahnya, bukan karena pengagungan dan arah qiblat, maka tidaklah mengapa. Tidakkah engkau melihat tempat pendaman nabi Ismail berada di dalam masjidil haram kemudian Hathim?? Kemudian Masjidl haram tersebut merupaan tempat sholat yang sangat dianjurkan untuk melakukan sholat di dalamnya. Pelarangan sholat di kuburan adalah tertentu pada kuburan yang terbongkar tanahnya karena ada najis “(Kitab syarh Az-Zarqani bab Fadhailul Madinah)

    Imam Baidhawi memungkinkan membuat masjid di samping makam orang sholeh atau sholat dipemakaman orang sholeh dengan tujuan meminta kepada Allah agar menghadirkan ruh orang sholeh tersebut dan dengan tujuan mendapatkan bekas dari ibadahnya, bukan dengan tujuan pengagungan terhadap makam tersebut atau bukan dengan tujuan menjadikannya arah qiblat.

    Dan beliau menghukumi makruh sholat di pemakaman yang ada bongkaran kuburnya karena dikhawatirkan ada najis, jika tidak ada bongkarannya maka hukumnya dapat, tidak makruh.

    Menurut imam Baidhawi larangan yang bersifat makruh tanzih tersebut, bukan karena kaitannya dengan kuburan, namun kaitannya dengan masalah kenajisan tempatnya. Dia memperjelasnya dengan kalimat:

    لما فيها من النجاسة

    Huruf lam dalam kalimat tersebut bermanfaat lit ta’lil (menjelasakan alasan). Arti kalimat itu adalah karena pada pekuburan yang tergali terdapat najis. Sehingga menyebabkan sholatnya tidak sah, apabila tidak tergali dan tidak ada najis, maka sholatnya sah dan tidak makruh.

    Oleh karenanya imam Ibnu Abdil Barr, menolak dan menyalahkan pendapat kelompok orang yang berdalil engan hadits pelaknatan di atas untuk melarang atau memakruhkan sholat di pekuburan atau menghadap pekuburan. Dia mengatakan:

    وقد زعم قوم أن فى هذا الحديث ما يدل على كراهية الصلاة فى المقبرة وإلى المقبرة, وليس فى ذلك حجة

    “Sebagian kelompok menganggap hadits tersebut menunjukkan atas kemakruhan sholat di maqbarah / pekuburan atau mengarah ke maqbarah, maka hadits itu bukanlah hujjah atas hal ini”.

    Karena hadits di atas bukan menyinggung masalah sholat dipekuburan. Namun tentang orang yang menjadikan kuburan sebagai tempat peribadatan alias menyembah kuburan.

    Imam Az-Zarqani dalam kitab Syarh Muwaththo’nya berkata ketika mengomentari makna Masajid dalam hadits Qootallahu berikut:

    (اتخذوا قبور أنبيائهم مساجد) أي اتخذوها جهة قبلتهم مع اعتقادهم الباطل, وأن اتخاذها مساجد لازم لاتخاذ المساجد عليها كعكسه, وقدم اليهود لابتدائهم بالاتخاذ وتبعهم النصارى فاليهود أظلم

    “(Mereka menjadikan kuburan para nabi sebagai masjid / tempat sujud) yang dimaksud adalah mereka menjadikan kuburan para nabi sebagai arah qiblat mereka dengan aqidah mereka yang bathil. Dan menjadikan kuburan para nabi sebagai masjid melazimkan untuk menjadikan masjid (tempat sujud) di atas kuburan seperti sebaliknya. Dalam hadits di dahulukan orang Yahudi karena mereka lah yang memulai membuat kuburan sbgai masjid kemudian diikuti oleh orang nashoro, maka orang yahudi lebih sesat “.

    Kemudian setelah itu beliau menukil ucapan imam Baidhawi tersebut. Dan setelahnya beliau berkomentar:

    لكن خبر الشيخين كراهة بناء المساجد على القبور مطلقا, أي: قبور المسلمين خشية أن يعبد المقبور فيها بقرينة خبر: “اللهم لا تجعل قبري وثنا يعبد” فيحمل كلام البيضاوي على ما إذا لم يخف ذلك

    “Akan tetapi Hadits riwayat imam Bukhari dan Muslim tersebut menunjukkan kemakruhan membangun masjid di atas kuburan secara muthlaq, yaitu kuburan kaum muslimin karena ditakutkan penyembahan pada orang yang dikubur, dengan bukti hadits” Ya Allah, jangan jadikan kuburanku sesembahan yang disembah. Maka ucapan imam Baidhawi tersebut diarahkan jika tidak khawatir terjadinya penyembahan pada orang yang disembah “.

    Imam Ath-Thibiy dalam kitab Mirqah al-Mafatih syarh Misykah al-Mashobih berkata:

    : قال الطيبي: كأنه – عليه السلام – عرف أنه مرتحل, وخاف من الناس أن يعظموا قبره كما فعل اليهود والنصارى, فعرض بلعنهم كيلا يعملوا معه ذلك, فقال: (لعن الله اليهود والنصارى): وقوله: (اتخذوا قبور أنبيائهم مساجد): سبب لعنهم إما لأنهم كانوا يسجدون لقبور أنبيائهم تعظيما لهم, وذلك هو الشرك الجلي, وإما لأنهم كانوا يتخذون الصلاة لله تعالى في [ص: 601] مدافن الأنبياء, والسجود على مقابرهم, والتوجه إلى قبورهم حالة الصلاة; نظرا منهم بذلك إلى عبادة الله والمبالغة في تعظيم الأنبياء, وذلك هو الشرك الخفي لتضمنه ما يرجع إلى تعظيم مخلوق فيما لم يؤذن له, فنهى النبي – صلى الله عليه وسلم – أمته عن ذلك لمشابهة ذلك الفعل سنة اليهود, أو لتضمنه الشرك الخفي, كذا قاله بعض الشراح من أئمتنا, ويؤيده ما جاء في رواية: (يحذر ما صنعوا)

    Ath-Thibiy berkata “Seakan-akan Nabi Shallallahu alaihi wasallam mengetahui bahwa ia akan meninggal dan khawatir ada beberapa umaatnya yang mengagungi kuburan beliau seperti apa yang diperbuat oleh orang Yahudi dan Nashara. Maka Nabi mngucapkan kata laknat, agar umatnya tidak melakukan itu pada kuburan Nabi Shallallahu alaihi wasallam sehingga Nabi Shallallahu alaihi wasallam bersabda; “Semoga Allah melaknat orang Yahudi dan Nashoro” dan sabda Nabi Shallallahu alaihi wasallam “Mereka telah menjadikan kuburan para Nabi sebagai tempat sujud mereka .

    Alasan adanya pelaknatan, adakalanya mereka konon sujud pada kuburan para nabi sebagai bentuk pengagungan pada nabi mereka, dan inilah bentuk kesyirikan yang nyata. Dan adakalanya mereka membuat sholat di kuburan para Nabi, sujud pada kuburan mereka dan menghadap kuburan mereka saat sholat, karena mengingat ibadah pada Allah dengan hal semacam itu dan berlebihan di dalam mengagungi para nabi, dan hal ini merupakan bentuk kesyirikan yang samar, karena mengandung pada apa yang kembali akan pengangungan makhluk yang tidak ditoleran ileh syare’at.

    Maka Nabi Shallallahu alaihi wasallam melarang umatnya dari melakukan hal itu karena menyerupainya pada kebiasaan orang Yahudi. Atau mengandung syrirk yang samar sebagaimana dikatakan oleh sebagian dosen hadits dari para imam kita. Yang menguatkan hal ini adalah kalimat riawayat berikut “Nabi Shallallahu alaihi wasallam memberi peringatan agar tidak melakukan apa yang dilakukan oleh orang Yahudi dan Nashoro”.

    As-Syaikh As-Sanadi dalam kitabnya Hasyiah As-Sanadi berkomentar tentang maksud hadits di atas sebagai berikut:

    ومراده بذلك أن يحذر أمته أن يصنعوا بقبره ما صنع اليهود والنصارى بقبور أنبيائهم من اتخاذهم تلك القبور مساجد إما بالسجود إليها تعظيما أو بجعلها قبلة يتوجهون في الصلاة نحوها, قيل: ومجرد اتخاذ مسجد في جوار صالح تبركا غير ممنوع

    “Yang dimaksud hadits tersebut adalah bahwasanya Nabi Shallallahu alaihi wasallam memperingatkan umatnya agar tidak berbuat dengan makam beliau sebagaimana orang Yahudi dan Nashoro berbuat terhadap makam para nabi mereka berupa menjadikan kuburan sebagai tempat sujud. Baik sujud pada kuburan dengan rasa ta’dzhim atau menjadikannya sebagai qiblat yang ia menghadap padanya diwaktu shalat atau semisalnya. Ada yang berpendapat bahwa seamata-mata menjadikan masjid di samping makam orang sholeh dengan tujuan mendapatkan keberkahan, maka tidaklah dilarang “(Hasyiah As-Sanadi juz 2 hal / 41)

    Dari komentar para ulama di atas dapat kita tangkap bahwa illat, manath, motif atau alasan pelaknatan Nabi Shallallahu alaihi wasallam kepada orang yahudi dan nashoro adalah adanya penyembahan pada kuburan, mereka menjadikan kuburan sebagai tempat sujud, mereka menjadikan kuburan sebagai sesembahan sehingga ini merupakan bentuk kesyirikan kepada Allah SWT.

    Adapun umat Islam, maka tak pernah sekalipun ada sejarahnya umat Islam menyembah kuburan. Umat ​​Islam membangun kuburan hanya untuk memuliakan ahlul Qubur (terlebih kubur orang yang sholeh), menjaga kuburan dari hilang terhapus zaman, dan memudahkan para peziarah untuk berziarah, dalam menemukan kuburan di tengah-tengah ribuan kuburan lainnya, juga sebagai tempat berteduh para peziarah agar dapat mengenang dan menghayati dengan tenang orang yang ada di dalam kubur beserta amal serta segala jasa dan kebaikannya.

    Kaum muslim yang berziarah kubur sambil berdoa kepada Allah di sisi kuburan atau berdoa kepada Allah dengan bertawassul kepada ahli kubur yang telah meraih manzilah (maqom atau derajat) disisiNya adalah beribadah kepada Allah bukan meminta pertolongan atau menyembah atau beribadah kepada ahli kubur.

    Kaum muslim sangat paham dan sangat yakin bahwa yang mengabulkan doa mereka dan memberikan pertolongan hanyalah Allah Azza wa Jalla bukan ahli kubur atau bukan pula orang yang ditawassulkan.

  31. LOGIKA said

    Sependapat dengan uraian Hasbi, soal BERDO’A SEBAGAI BAGIAN DARI SEKIAN BANYAK IKHTIAR YANG WAJIB DILAKUKAN OLEH MANUSIA SEBAGAI HAMBA ALLAH SWT UNTUK MEMPEROLEH KERIDHOAN ALLAH SWT SEBAGAI TUHAN YANG MAHA ESA DAN MASALAH KEWENANGAN DALAM MENGABULKAN DO’A MANUSIA YANG PASTI MENJADI BAGIAN DARI KEKUASAN ALLAH SWT SEBAGAI SATU-2NYA TUHAN YANG ADA DAN WAJIB DISEMBAH itu adalah hal yang perlu diimani oleh setiap muslim yang beriman.

    Hal ini bisa dianalogkan dengan peristiwa sbb :

    KETIKA ADA SEORANG PASIEN YANG BEROBAT KE DOKTER ATAU BAHKAN TABIB, ada 2 hal penting yang perlu diimani dalam hal ini, yakni :

    1. Upaya sipasien meminta pertolongan Doket atau Tabib itu MERUPAKAN UPAYA ATAU IKHTIAR MANUSIA untuk memperoleh kesembuhan.

    2. SEANDAINYA SI PASIEN SEMBUH DARI PENGOBATAN ITU, MAKA KARUNIA (NIKMAT) KESEMBUHAN YANG DIPEROLEH SI PASIEN ITU SEJATINYA BUKAN DITENTUKAN ATAU BERASAL DARI SANG DOKTER ATAU TABIB yang mengobati, MELAINKAN DARI ALLAH SWT YANG MAHA KUASA DAN PENGASIH pada hamba-2-Nya. Kemampuan Dokter dan Tabib pun tak akan bermanfaat atau membuahkan hasil MANAKALA ALLAH SWT TIDAK MENGHENDAKINYA sembuh.

    Hikmah terpenting di sini adalah BAHWA DALAM ISLAM SEBAGAI AGAMA YANG DIRIDHOI OLEH ALLAH SWT, MAKA SEMUA DOA YANG BENAR ITU PASTI DITUJUKAN KEPADA ALLAH SWT, SEDANGKAN AHLI-2 AGAMA ATAU GURU BISA DIKATAKAN SEBAGAI PIHAK YANG MEMBANTU MENUNJUKKAN CARA BERDOA YANG BENAR KEPADA ALLAH SWT MENURUT AL-QURAN DAN HADIST.

    Jadi meminta bantuan orang yang dianggap ahli TIDAK SAMA ATAU BERBEDA JAUH dengan syirik yang berarti mengadakan tandingan atau sekutu bagi Allah SWT sebagai Tuhan Yang Maha Esa. Jelas sangat berbeda bukan ? Memang betul syirik adalah dosa sangat besar di mata Allah SWT yang sangat harus dijauhi oleh hamba-2-Nya. namun tidaklah bijak jika kita sembarangan menilai dalam meminta bantuan ahli agama dalam menunjukkan caranya berdoa yang benar kepada Allah SWT untuk dikatakan sebagai bagian dari perbuatan syirik.

  32. Laknatullah

  33. Anonym said

    LOGIKA berkata
    13/05/2013 pada 21:31

    Saudara-2 seiman,

    Sekedar sharing saudaraku seiman, tak ada salahnya jika kita mengingat firman Allah SWT dalam kitab suci AL-QURAN Surat AL-MAIDAH, ayat :

    AYAT 44, yang berbunyi :

    إِنَّا أَنْزَلْنَا التَّوْرَاةَ فِيهَا هُدًى وَنُورٌ يَحْكُمُ بِهَا النَّبِيُّونَ الَّذِينَ أَسْلَمُوا لِلَّذِينَ هَادُوا وَالرَّبَّانِيُّونَ وَاْلأَحْبَارُ بِمَا اسْتُحْفِظُوا مِنْ كِتَابِ اللهِ وَكَانُوا عَلَيْهِ شُهَدَاءَ فَلاَ تَخْشَوُا النَّاسَ وَاخْشَوْنِ وَلاَ تَشْتَرُوا بِآيَاتِي ثَمَنًا قَلِيلاً وَمَنْ لَمْ يَحْكُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللهُ فَأُولَئِكَ هُمُ الْكَافِرُونَ

    Yang artinya:
    Sesungguhnya Kami telah menurunkan Kitab Taurat di dalamnya (ada) petunjuk dan cahaya (yang menerangi), yang dengan Kitab itu diputuskan perkara orang-orang Yahudi oleh nabi-nabi yang menyerah diri kepada Allah, oleh orang-orang alim mereka dan pendeta-pendeta mereka, disebabkan mereka diperintahkan memelihara kitab-kitab Allah dan mereka menjadi saksi terhadapnya. Karena itu janganlah kamu takut kepada manusia, (tetapi) takutlah kepada-Ku. Dan janganlah kamu menukar ayat-ayat-Ku dengan harga yang sedikit. BARANGSIAPA YANG TIDAK MEMUTUSKAN MENURUT APA YANG DITURUNKAN ALLAH, MAKA MEREKA ITU ADALAH ORANG-ORANG YANG KAFIR. (5: 44)

    AYAT 45, yang berbunyi :

    وَكَتَبْنَا عَلَيْهِمْ فِيهَا أَنَّ النَّفْسَ بِالنَّفْسِ وَالْعَيْنَ بِالْعَيْنِ وَالأَنفَ بِالأَنفِ وَالأُذُنَ بِالأُذُنِ وَالسِّنَّ بِالسِّنِّ وَالْجُرُوحَ قِصَاصٌ فَمَن تَصَدَّقَ بِهِ فَهُوَ كَفَّارَةٌ لَّهُ وَمَن لَّمْ يَحْكُم بِمَا أنزَلَ اللّهُ فَأُوْلَئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ

    Yang artinya :
    Dan kami telah tetapkan terhadap mereka didalamnya (At Taurat) bahwasanya jiwa (dibalas) dengan jiwa, mata dengan mata, hidung dengan hidung, telinga dengan telinga, gigi dengan gigi, dan luka-luka (pun) ada kisasnya. Barang siapa yang melepaskan (hakkisas) nya, maka melepaskan hak itu (menjadi) penebus dosa baginya. BARANGSIAPA TIDAK MEMUTUSKAN PERKARA MENURUT APA YANG DITURUNKAN ALLAH, MAKA MEREKA ITU ADALAH ORANG-ORANG YANG LALIM. (5;45)

    AYAT 47, yang berbunyi :

    وَلْيَحْكُمْ أَهْلُ الإِنجِيلِ بِمَا أَنزَلَ اللّهُ فِيهِ وَمَن لَّمْ يَحْكُم بِمَا أَنزَلَ اللّهُ فَأُوْلَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ

    Yang artinya :
    Dan hendaklah orang-orang pengikut Injil, memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah di dalamnya. BARANGSIAPA TIDAK MEMUTUSKAN PERKARA MENURUT APA YANG DITURUNKAN ALLAH, MAKA MEREKA ITU ADALAH ORANG-ORANG YANG FASIK. (5:47)

    Itu kok terkait dengan Kitab Taurat dan Injil ya?

  34. LOGIKA said

    Ha, haa …..

    Pertanyaan yang sangat bagus saudara sebangsa : ANONYM.

    Jika saya boleh menebak, ente termasuk orang yang menjadikan kitab suci Injil atau Taurat sebagai peoman hidup ente, bukan ?

    Baiklah terlepas dari apakah ente muslim atau non muslim, ane cuma akan menjawab pertanyaan bagus ente. Yah, sekedar sharelah istilahnya.

    Saudara Anonym,

    Walaupun konteksnya mengenai BAGAIMANA SIKAP DAN PANDANGAN SEORANG MUSLIM SEHARUSNYA KETIKA MELIHAT SESEORANG BERDOA DEKAT MAKAM ATAU JASAD ORANG YANG SUDAH MENINGGAL, APAKAH ORNAG YANG DIHORMATU ATAU DIJUNJUNG TINGGI ATAU TIDAK sebagaimana sudah ane uraikan di atas, penunjukkan SURAT AL-MAIDAH AYAT 44, 45 DAN 47 oleh saya yang ketika dibaca sepintas bermakna BAGAIMANA SEHARUSNYA SIKAP SEORANG MANUSIA SEBAGAI HAMBA ALLAH DARI GOLONGAN MANAPUN YANG TELAH DIBERIKAN PETUNJUK-2 DARI ALLAH SWT TERMASUK SIKAP KAUM YANG TELAH MENERIMA KITAB SUCI INJIL DAN TAURAT UNTUK BERSIKAP ATAU MENERAPKANNYA DALAM KEHIDUPAN SEHARI-HARI, itu bagi umat Islam memberikan petunjuk atau hikmah bahwa :

    PADA DASARNYA SETIAP KITAB SUCI YANG DITURUNKAN OLEH ALLAH SWT KEPADA MANUSIA SEBAGAI HAMBA-2 CIPTAAN-NYA MELALUI PERANTARAAN RASUL-2 UTUSAN-NYA ITU ADALAH PETUNJUK KEBENARAN YANG HARUS DIIMANI, DICERNA DAN DIPATUHI UNTUK DILAKSANAKAN DALAM KEHIDUPANNYA SEHARI-HARI. ARTINYA, BAIK KITAB SUCI DZABUR YANG DITERIMA OLEH NABI DAUD AS, TAURAT YANG DITERIMA OLEH NABI MUSA AS, INJIL YG DITERIMA OLEH NABI ISA AS DAN AL-QURAN YANG DITERIMA OLEH NABI MUHAMMAD SAW SEMUANYA ADALAH PETUNJUK-2 DARI ALLAH SWT YANG WAJIB DIIMANI, DICERNA DAN DIPATUHI ISINYA OLEH SEGENAP MANUSIA (GOLONGAN) YANG MEMANG DITAKDIRKAN UNTUK MENERIMA DAN MENGAMALKANNYA.

    Jadi umat yang ditakdirkan untuk menerima kitab suci Dzabur waktu itu wajib menjadikan kitab sucinya itu sebagai pedoman hidupnya termasuk juga dalam memutuskan berbagai perkara atau masalah dalam kehidupannya sehari-2. Begitu juga dengan golongan-2 penerima kitab suci Allah SWT lainnya seperti Taurat, Injil dan Al-Quran sebagai kitab suci terakhir yang diturunkan Allah SWT untuk hamba-2-Nya hingga akhir jaman.

    Mudah-2an uraian singkat ini cukup menjawab pertanyaan saudara Anonymous.

  35. LOGIKA said

    Oh ya maaf, untuk menunjukkan keterkaitannya dengan konteks masalah sikap seorang muslim terhadap BERDOA DI MAKAM ATAU JASAD ORANG YANG SUDHA MENINGGAL ane tambahkan sedikit penjelasan bahwa jika di tingkat hadist-2 Nabi yang biasanya cukup banyak jumlahnya itu masih menimbulkan kebimbangan dala memahami maknanya, maka disarankan untuk kembali kepada petunjuk yang lebih tinggi, yakni AL-QURAN yang berisikan petunjuk-2 Allah SWT langsung. Artinya selama hadist tersebut sejalan atau tidak bertentangan dengan petunjuk dalam kitab suci Al-Quran, maka petunjuk dalam hadist tersebut bisa diimani dan dilaksanakan.

    Pertanyaannya : apakah ada hadist-2 yang bertentangan atau tidak sejalan dengan Al-Quran ?

    Jelas ada, yang menunjukkan bahwa hadist tersebut DIRAGUKAN ASAL-USULNYA ATAU KEASLIAN, apakah seadanya dari Nabi Muhammad SAW atau bukan (tidak jelas), karena para ahli hadist sendiri sudah membuktikan adanya hadist-2 yang sesungguhnya tidak berasal dari Nabi Muhammad SAW, sebagian atau keseluruhan atau sudah mengalami modifikasi sehingga belum tentu sejalan dengan petunjuk Allah SWT dalam kitab suci Al-Quran.

    Jadi umat Islam saat ini disarankan agar SANGAT TELITI DAN BERHATI-2. DEmikian.

  36. Abu Hamdani said

    Astagfirullah Adzim…
    Saat membaca artikel ini, tak terasa air mata ini menetes. Ngeri, Merinding, dan takut.

    Saudaraku… Maafkan saya, awalnya saya hanya ikut2an dalam liqa’ rutinan, kami memang sering dapt penjelasan bahaya menyembah kubur. tapi ana gk nyangka ada yang berani melakukan tindakan sekeji ini. Semoga Allah Swt. Membahagiakan seluruh sahabat Nabi.

    Maka, dengan niat yang kuat ini, qasam ana, Wallahi ana akan tinggalkan liqa’2 ini.. Untuk akhy yang sdh kasih hujjah2 diatas, syukran katsir…

  37. tempakul said

    sebenernye inti masalah pembahasan ini adalah kuburan di bongkar (makam sahabat nabI), coba deh belajar tentang kisah2x orang2x sholih yang sudah tiada lalu dijadikan makam/patung yang semakin berjalannya waktu… patung/makam tersebut dijadikan perantara meminta do’a kepada Allah subhana wa ta’ala…. banyak tuh di al qur’an…baca donk…baca…jangan dijadiin pajangan…. dibaca pun cuma tiap jum’at doank….hehehe

    “Jika manusia mati, maka terputuslah amalnya kecuali dari tiga perkara: shadaqah jariyah, ilmu yang bermanfaat, atau anak shalih yang senantiasa mendoakannya.” (HR. Muslim).

    orang meninggal itu perlu di do’akan bukan malah meminta/sebagai perantara…. ibarat kata tolong sampaikan do’a saya kepada si anu…

    berarti ini sudah jelas menjadi tandingan Allah…..

    semoga dibukakan hati untuk menerima kebenaran…. maksud tujuannya untuk memindahkan makam tersebut tanpa diketahui banyak orang… adalah mulia disisi Allah. tanpa mengurangi kehormatan kita kepada sahabat.

    apakah anda ridho melihat disekitar makam, banyak yang memanjatkan do’a hajat/keperluan nya memohon sambil menangis2x..

    apakah anda ridho menjadikan makam sebagai tandingan Allah yang serba MAHA dari segalanya….. yang harus diratakan misalnya makam mbah priok, batang,dll…

    apakah anda ridho, sholat yang berjama’ah banyak ditinggalkan…. malah makam keramat ramai tiada henti…. inikah islam…

    JUJUR deh… jangan munafik…lihat keadaan sekitar makam…. jangan bodoh or pura2x bodoh… or pura2x ngga melihat keadaan itu…..apalagi mencari pembenaran hal tersebut….

  38. hasbi said

    Orang – Orang yang Beriman di Antara Ahli Kitab dan
    Kebaikan – Kebaikan Mereka
    ‘Kamu (umat Islam) adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, (karena kamu) menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah kemunkaran, dan beriman kepada Allah. Ketika para Ahli Kitab beriman, maka itu akan lebih baik bagi mereka. Beberapa dari mereka ada yang beriman … ‘ (QS Al ‘Imran, 110)
    ‘Mereka itu tidak (semuanya) sama. Ada di antara Ahli Kitab yang jujur, mereka membaca ayat-ayat Allah pada malam hari, dan mereka (juga) bersujud (sholat). ‘ (QS Al ‘Imran, 113)
    ‘Mereka beriman kepada Allah dan hari akhir, menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah kemunkaran, dan bersegera (mengerjakan) berbagai kebajikan. Mereka adalah di antara orang – orang yang saleh. ” (QS Al ‘Imran, 114)
    ‘ Dan kebajikan apa pun yang mereka kerjakan, tidak ada yang mengingkarinya. Dan Allah Maha Mengetahui orang – orang yang bertakwa. ” (QS Al ‘Imran, 115)
    ‘Dan sesungguhnya di antara Ahli Kitab ada yang beriman kepada Allah dan kepada apa yang telah diturunkan kepadamu dan yang diturunkan kepada mereka, karena mereka orang – orang yang berendah hati kepada Allah, dan mereka tidak memperjualbelikan ayat-ayat Allah dengan harga yang murah. Mereka mendapatkan pahala di sisi Tuhan mereka. Sungguh Allah sangat cepat perhitungannya-Nya. ‘ (QS Al Imran, 199)
    ‘Orang – orang yang telah Kami berikan kepada mereka Al-Kitab sebelum Al-Qur’an, mereka beriman (pula) kepadanya (Al-Qur’an). ‘ (QS Al-Qashash, 52)
    ‘Ketika dibacakan (Al-Qur’an) kepada mereka, mereka berkata, “Kami beriman kepadanya, sesungguhnya (Al-Qur’an) itu adalah suatu kebenaran dari Tuhan kita. Sungguh, sebelumnya kami adalah orang muslim”. ‘ (QS Al -Qashash, 53)
    Mereka Bersukacita Atas Al-Qur’an yang diturunkan kepada Nabi Muhammad (SAW) Tidak Ada Ketakutan Bagi Mereka yang Beriman
    ‘Sesungguhnya orang – orang yang beriman, orang-orang Yahudi, orang – orang Nasrani, dan orang – orang Sabiin, siapa saja (di antara mereka) yang beriman kepada Allah dan hari akhir dan melakukan kebajikan, akan ada pahala bagi mereka di sisi Tuhan mereka, tidak ada rasa takut pada mereka, dan mereka tidak bersedih hati. ” (QS Al-Baqarah, 62)
    ‘Sesungguhnya orang – orang yang beriman dan orang-orang Yahudi dan Sabiin dan Nasrani, barangsiapa beriman kepada Allah, hari akhir dan berbuat kebajikan, maka tidak ada rasa khawatir padanya dan mereka tidak bersedih hati. ” (QS Al-Ma’idah, 69 )
    ‘Orang-orang yang telah Kami berikan Kitab, mereka membacanya sebagaimana mestinya , mereka itulah yang beriman kepadanya. ” (QS Al-Baqarah, 121)
    “Dan siapakah yang lebih baik agamanya dari orang yang dengan ikhlas berserah diri sepenuhnya kepada Allah, sedang dia mengerjakan kebaikan, dan mengikuti agama Ibrahim yang lurus? Dan Allah telah memilih Ibrahim menjadi kesayangan (-Nya). “(QS An-Nisa ‘, 125)
    ‘Tetapi orang – orang yang ilmunya mendalam di antara mereka, dan orang – orang yang beriman, mereka beriman kepada (Al-Qur’an) yang telah diturunkan kepadamu (Muhammad), dan kepada (kitab – kitab) yang diturunkan sebelummu, begitu pula mereka yang melaksanakan shalat dan menunaikan zakat, dan beriman kepada Allah dan hari akhir. Kepada mereka akan Kami berikan pahala yang besar. ‘ (QS An-Nisa ‘, 162)
    Makanan Ahli Kitab Merupakan Makanan yang Halal Bagi Umat Islam
    ‘Pada hari ini dihalalkan bagimu segala yang baik – baik. Makanlah (sembelihan) A hli Kitab itu halal bagi kamu dan makananmu juga halal bagi mereka. Dan (dihalalkan bagimu menikahi) perempuan – perempuan yang menjaga kehormatan di antara perempuan – perempuan yang beriman dan perempuan – perempan yang menjaga kehormatan di antara orang yang diberi kitab sebelum kamu, ketika kamu membayar maskawin mereka untuk menikahinya, tidak dengan maksud berzina dan bukan untuk membuat perempuan piaraan. Barangsiapa kafir setelah beriman maka sungguh, sia – sia amal mereka dan di akhirat dia termasuk orang – orang yang rugi. ‘ (QS Al-Maidah, 5)
    Percaya Kepada Nabi Ibrahim AS Merupakan Kepatuhan Orang Hanif
    ‘Katakanlah (hai orang-orang mukmin): “Kami beriman kepada Allah dan apa yang diturunkan kepada kami, dan apa yang diturunkan kepada Ibrahim, Isma’il, Ishaq, Ya’qub dan anak cucunya, dan apa yang diberikan kepada Musa dan Isa serta apa yang diberikan kepada nabi-nabi dari Tuhannya. Kami tidak membeda-bedakan seorangpun diantara mereka dan kami hanya tunduk kepada-Nya “. ‘(QS Al-Baqarah, 136)
    ‘Maka jika mereka beriman kepada apa yang kamu telah beriman kepadanya , sungguh mereka telah mendapat petunjuk; dan jika mereka berpaling, sesungguhnya mereka berada dalam permusuhan (dengan kamu). Maka Allah akan memelihara kamu dari mereka. Dan Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. ‘ (QS Al-Baqarah, 137)
    Panggilan Kaum Muslim Terhadap Ahli Kitab
    ‘Katakanlah: “Hai Ahli Kitab, marilah (berpegang) kepada suatu kalimat (ketetapan) yang tidak ada perselisihan antara kami dan kamu, bahwa tidak kita sembah kecuali Allah dan tidak kita persekutukan Dia dengan sesuatu pun dan tidak (pula) sebagian kita menjadikan sebagian yang lain sebagai Tuhan selain Allah. ” Jika mereka berpaling maka katakanlah kepada mereka: “Saksikanlah, bahwa kami adalah orang-orang yang berserah diri (kepada Allah)”. ‘ (QS Al Imran, 64)
    ‘Sesungguhnya orang yang paling dekat kepada Ibrahim adalah orang-orang yang mengikutinya dan Nabi ini (Muhammad), beserta orang-orang yang beriman (kepada Muhammad), dan Allah adalah pelindung semua orang-orang yang beriman.’ (QS Al Imran Surah, 68)

    Bagaimana Mereka Mengenali Rasulullah
    ‘ Orang-orang yang telah Kami berikan kitab kepadanya, mereka mengenalnya (Muhammad) seperti mereka mengenal anak-anaknya sendiri. Orang-orang yang merugikan dirinya, mereka itu tidak beriman (kepada Allah). ‘ (QS Al-An’aam, 20)
    Ahli Kitab Dalam Al-Qur’an
    ‘Katakanlah: “Hai Ahli Kitab, marilah (berpegang) kepada suatu kalimat (ketetapan) yang tidak ada perselisihan antara kami dan kamu, bahwa tidak kita sembah kecuali Allah dan tidak kita persekutukan Dia dengan sesuatu pun dan tidak (pula) sebagian kita menjadikan sebagian yang lain sebagai Tuhan selain Allah. ” Jika mereka berpaling maka katakanlah kepada mereka: “Saksikanlah, bahwa kami adalah orang-orang yang berserah diri (kepada Allah)”. ‘ (QS Al Imran, 64)
    ‘Pada hari ini dihalalkan bagimu segala yang baik – baik. Makanlah (sembelihan) Ahli Kitab itu halal bagi kamu dan makananmu juga halal bagi mereka. Dan (dihalalkan bagimu menikahi) perempuan – perempuan yang menjaga kehormatan di antara perempuan – perempuan yang beriman dan perempuan – perempan yang menjaga kehormatan di antara orang yang diberi kitab sebelum kamu, ketika kamu membayar maskawin mereka untuk menikahinya, tidak dengan maksud berzina dan bukan untuk membuat perenpuan piaraan. Barangsiapa kafir setelah beriman maka sungguh, sia – sia amal mereka dan di akhirat dia termasuk orang – orang yang rugi. ‘ (QS Al-Maidah, 5)
    ‘Dan sesungguhnya di antara Ahli Kitab ada yang beriman kepada Allah dan kepada apa yang telah diturunkan kepadamu dan yang diturunkan kepada mereka, karena mereka orang – orang yang berendah hati kepada Allah, dan mereka tidak memperjualbelikan ayat-ayat Allah dengan harga yang murah. Mereka mendapatkan pahala di sisi Tuhan mereka. Sungguh Allah sangat cepat perhitungannya-Nya. ‘ (QS Al Imran, 199)
    “Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk. ‘ (QS An-Nahl, 125)
    ‘Sesungguhnya kamu dapati orang-orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang-orang yang beriman ialah orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik. Dan sesungguhnya kamu dapati yang paling dekat persahabatannya dengan orang-orang yang beriman ialah orang-orang yang mengatakan: “Sesungguhnya kami ini orang Nasrani.” Yang demikian itu disebabkan karena di antara mereka itu (orang-orang Nasrani) terdapat pendeta-pendeta dan rahib-rahib, (juga) karena sesungguhnya mereka tidak menyombongkan diri. ‘ (QS Al-Ma’idah, 82)
    ‘Dan janganlah kamu berdebat dengan Ahli Kitab, melainkan dengan cara yang paling baik, kecuali dengan orang-orang zalim di antara mereka, dan katakanlah: “Kami telah beriman kepada (kitab-kitab) yang diturunkan kepada kami dan yang diturunkan kepadamu; Tuhan kami dan Tuhanmu adalah satu; dan kami hanya kepada-Nya berserah diri “. ‘ (QS. Al-‘Ankabut, 46)

    ‘… Ada di antara Ahli Kitab yang jujur, mereka membaca ayat-ayat Allah pada malam hari, dan mereka (juga) bersujud (sholat). Mereka beriman kepada Allah dan hari akhir, menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah kemunkaran, dan bersegera (mengerjakan) berbagai kebajikan. Mereka
    adalah di antara orang – orang yang saleh. Dan kebajikan apa pun yang mereka kerjakan, tidak ada yang mengingkarinya. Dan Allah Maha Mengetahui orang – orang yang bertakwa. ‘ (QS Al ‘Imran, 113-115)
    ‘Sesungguhnya orang – orang yang beriman dan orang-orang Yahudi dan Sabiin dan Nasrani, barangsiapa beriman kepada Allah, hari akhir dan berbuat kebajikan, maka tidak ada rasa khawatir padanya dan mereka tidak bersedih hati.’ (QS Al-Ma’idah, 69)
    ‘Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tidak memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil. ‘ (QS Al-Mumtahana, 8)

  39. Anonym said

    Saya setuju dengan pendapat ini,

    tempakul berkata
    16/05/2013 pada 00:05

    sebenernye inti masalah pembahasan ini adalah kuburan di bongkar (makam sahabat nabI), coba deh belajar tentang kisah2x orang2x sholih yang sudah tiada lalu dijadikan makam/patung yang semakin berjalannya waktu… patung/makam tersebut dijadikan perantara meminta do’a kepada Allah subhana wa ta’ala…. banyak tuh di al qur’an…baca donk…baca…jangan dijadiin pajangan…. dibaca pun cuma tiap jum’at doank….hehehe

    “Jika manusia mati, maka terputuslah amalnya kecuali dari tiga perkara: shadaqah jariyah, ilmu yang bermanfaat, atau anak shalih yang senantiasa mendoakannya.” (HR. Muslim).

    orang meninggal itu perlu di do’akan bukan malah meminta/sebagai perantara…. ibarat kata tolong sampaikan do’a saya kepada si anu…

    berarti ini sudah jelas menjadi tandingan Allah…..

    semoga dibukakan hati untuk menerima kebenaran…. maksud tujuannya untuk memindahkan makam tersebut tanpa diketahui banyak orang… adalah mulia disisi Allah. tanpa mengurangi kehormatan kita kepada sahabat.

    apakah anda ridho melihat disekitar makam, banyak yang memanjatkan do’a hajat/keperluan nya memohon sambil menangis2x..

    apakah anda ridho menjadikan makam sebagai tandingan Allah yang serba MAHA dari segalanya….. yang harus diratakan misalnya makam mbah priok, batang,dll…

    apakah anda ridho, sholat yang berjama’ah banyak ditinggalkan…. malah makam keramat ramai tiada henti…. inikah islam…

    JUJUR deh… jangan munafik…lihat keadaan sekitar makam…. jangan bodoh or pura2x bodoh… or pura2x ngga melihat keadaan itu…..apalagi mencari pembenaran hal tersebut….

  40. Ane Ende said

    yahhh… apapun alasannya kubur sahabat itu tdk layak di bongkar… wong dalam ajaran islam itu yg mati saja hrs kita hormati (memberi salam saat kita masuk k area pekuburan?kpd ahli kubur) apalagi pada yg hidup…

    jadi intinya org2 yg membakar, bahkan membongkar paksa kuburan ini salah dan tidak ada rasa penghormatan terhadap jasad yg telah berperang untuk kebesaran dan penyebaran agama Islam… Pahlawan kemerdekaan saja kita hormati apalagi pahlawan agama seperti sahabat yg syahid tersebut.

    saya salah satu org yg sll menyambangi kubur kakek/buyut saya… membacakan mrk yasin/alfateha/surat ikhlas/ karena saya menghormati mrk… tp bukan berarti saya menyembah mrk atau meminta-minta sesuatu k mereka, saya memohon pada Allah swt, dengan saya membaca itu dosa2 mrk d ampuni d lapangkan, kalaupun kata kaum SAWAH itu g mungkin nyampe… ya itu urusan saya sama Gusti ALLOH… lah kita manusia tahu apa ttg kabul dan tidaknya doa… kita ini hamba, sebagai hamba ya kita minta apapun sama Gusti ALLOH untuk apapun tu…

    klpun ada yg salah minta-minta d kuburan, d keramatkan dll… nahh ni orgnya yg salah mengartikan ajaran agama Islam… org yg begini hrs kita beri pencerahan ttg ajaran islam yg humanis, sosialis dan pluralis hingga golongan manapun di atas dunia ini bisa menerima ajaran Islam. jangan bongkar kuburannya… biarkan pahlawan agama itu tenang, hormati perjuangan mrk untuk Islam,,, kl mrk tdk berjuang mati-matian… kita semua ga akan mengenal islam….

    saya ini org awam tapi kl kita kaji secara sosiologis dan sopan santun… kelakuan membakar, menggali dan membuang jenazah sahabat2 nabi yang syahid ini tidak tepat atau dengan kata lain KEMANA AKHLAK-nya selaku umat muslim yg Islami???

  41. NU Tulen said

    @ Tempakul & Wahabi Lainnya:
    Benar apa yang pernah disampaikan oleh Gusdur… Pernah suatu Ketika Gusdur di tanya mengenai Wahabi dan Beliau Menjawab: “Ada Hadist yg mengatakan… Bahwa Nanti Akan muncul DUA TANDUK SETAN DARI NEGERI NAJD (Hadist) dan dua tanduk setan tersebut saat ini sudah terlihat…
    1. Musailamma Al Kadzab dan 2. Muhammad Bin Abdul Wahab (Yg Membawa ajaran Wahabi).

    Hemat saya Bahwa ajaran Wahabi masih sebatas pada ilmu yang mempelajari tentang Kamar Mandi, jadi tidak usah repot-repot berdebat dng Wahabi
    dan kalau sudah mempermasalahkan mengenai orang yang Hidup dan Orang Yang Mati mereka kaum wahabi terkenal akan Kehasutan dan Iri:
    Bayangkan Terhadap orang yg sudah Mati saja mereka HASUT dan IRI apalagi terhadap Orang yg Masih HIDUP.

    Jika memang Benar ajaran Wahabi memperbolehkan membongkar Makam Orang Mu’min atau Sahabat Nabi karena Kuatir dijadikan Sembahan Manusia maka Ajaran Tersebut mengajak kita sebagai manusia untuk menjadi BINATANG.

    Sesungguhnya Kaum Wahabi itu mengira kita-kita Ahlussunnah ini Sama Seperti Mereka (BINATANG), kalau Ziarah atau membaca Tahlil dan Maulud lalu kita lupa Bahwa Segala sesuatu terjadi atas Izin ALLAH SWT.

    Ketahuilah Wahai Kaum Wahabi Bahwa RasulLAH SAW tidak pernah takut Ummat Islam terhadap Kemusyrikan Setelah Beliau SAW Meninggal kan Dunia yg Fana ini tapi yang Paling di Takuti Nabi SAW adl Bahwa Ummat nya akan DUNIA, Kegilaan thd Kepentingan Dunia, Hedonisme Duniawi seperti Kaum Wahabi saat ini dengan Raja-rajanya.

    Kaum Ahlisunnah Sangat Sadar dan Mengerti Betul tidak ada Perbedaan bagi Yang Hidup maupun yang sudah Mati Tanpa Izin ALLAH Azza Wajalla (Seperti apa yg di Tulis oleh Farsdaq diatas) Bahkan ALLAH SWT Berfirman dlm Al Qur’an ” Bahwa Mereka tidak Mati Bahkan HIDUP DISISI ALLAH dan Mendapatkan Rezeki”

    Sudah lah Wahai Wahabi Taubat lah Nasuha…Ketahuilah Ajaran anda menghilangkan tsb menghilangkan Nurani dan Akal Serta Hati Manusia

  42. Fans Pemberontak Suriah said

    @Pengikut Sekte Wahabi

    Saya mau :
    -membongkar makam Ayah anda,
    -membongkar makam Ibu anda,
    -membongkar makam kakek anda,
    -membongkar makam nenek moyang anda,
    -membongkar makam saudara anda,
    -membongkar makam anak anda,
    -membongkar makam istri anda.

    Niat. tujuan dan cara yg akan saya gunakan adalah niat. tujuan dan cara tidak hormat dgn ‘meniru persis’ niat membongkar. tujuan membongkar dan cara membongkar yg dipraktekkan oleh “mujahidin palsu” di atas.

    Boleh ga?
    anda rela ga?
    ga boleh marah yah..
    ga boleh protes yah…
    ga boleh lapor polisi loh..
    jangan menuntut saya loh…

    pembongkaran akan dimulai besok.

    awas ada yg protes!!

  43. Sy mau bongkar makam2 para mantan presiden RI, Bung Karno n Pak Harto. Trs habis dibongkar mayatnya mau sy lenyapkan spy ga diketahui dimana kuburnya.

    BOLEH???

  44. tempakul said

    Kok tanggapi masalah ini kok ngga luas cara memandangnya ya…. picik banget ya…sempit banget otak nye ya…buka donk2x otak2x ente…. belajar melihat dari sisi yang luas…okeh.

    siapa bilang membongkar kuburan terus di buang / ditaruh dijalan or apalah …. seperti mempermalukan keadaan mayit ya…

    TUJUAN MEMINDAHKAN MAYIT SAHABAT/WALI/PRESIDEN KEK … MENCEGAH ORANG2X AWAM UNTUK MEMINTA/WASILAH/PERANTARA MENYAMPAIKAN DO’A KEPADA ALLAH…..INILAH TUJUAN UTAMA DAKWAH TAUHID….okeh

    caranya adalah memindahkan mayit dengan sembunyi2x…. lalu memindahkan dengan menguburkan kembali dengan layak….. tanpa diketahui oleh masyarakat luas….. ini pun bukan orang sembarangan yang memindahkan…. harus orang2x yang amanah, tebal iman & siap tutup mulut sampe mati u/ merahasiakan dimana kuburan nye berada….. bukan orang2x bodoh/awam tentang agama….

    ini merupakan penghormatan kita kepada orang2x sholeh tersebut….. makanye rasululllah pertama2x berdakwah adalah menegakkan dahwah TAUHID – MENG-ESA-KAN ibadah hanya kepada Allah, semua Aspek.

    makanye tuh ada hadist MELARANG mengunjungi kuburan2x…. karena rasulullah itu tau…. mental spiritual sabahat … masih lemah belum kuat.

    Setelah mental2x sabahat kuat…. TAUHID…nye…. baru deh… rasulullah membolehkan mengunjungi kuburan2x… karena itu mengingatkan kita akan kematian… bahwa siapa aja yang bernafas/hidup… pasti… & pasti akan mati..

    makanye tuh kita ngga boleh sombong, tinggi hati, or apalah… termasuk sakit hati kita…. kita pasti akan mati….sudah kah kita membekali diri kita… menyambut kedatangan malaikat maut….entah kapan…bisa hari ini, besok or lusa…. tidak ada yang menjamin diri kita hidup berapa lama lagi….

    saya mohon ma’af bila bahasa yang saya pakai kurang berkenan… & sedikit hadist / al qur’an yang saya pakai…karena dengan sedikit ilmu yang saya punya…. insya allah cukup menjelaskan hal ini… karena judulnya memakai istilah “membongkar”…padahal itu sebenarnya adalah memindahkan makam sabahat agar tidak dijadikan tandingan Allah subhana wa ta’ala….

    kalo terang2xan memindahkan…. pasti orang2x awam akan berpindah mengikuti mayat sabahat tersebut dipindahkan… iya…ngga…& mengulanginya ya… ngga…

  45. Cape Dech said

    29. Cool Man berkata
    14/05/2013 pada 14:05 e

    @tempakul : cobalah kasih counter atas komennya Farasydaq (komen no.21) KLIK DISINI
    dan Salafy (komen no.19)
    KLIK DISINI
    dan
    KLIK DISINI
    yang begitu lengkap.

    Coba dibantah satu2 hadist yang dia sebutkan. Jangan kasih komen seperti yg trakhir ini, kesannya nggak bagus :)

    malu lah sama pengunjung kabarnet ini :)

    Dan apakah bener seperti yg Salafy katakan bahwa Ibnu Taimiyah (ulama rujukan ente) itu mengatakan bahwa tahlilan itu bukan bid’ah dan pahalanya akan sampai ke mayyit?

    Ayo dong jawab yg bener jangan jawabannya kaya’ komen terakhir gitu :(

  46. Ane Ende said

    waduchh… mas bro tempakul / mba bro… indikasi org yg iman tebal itu apa sich? hehehe lah kl mau kasih masukan disini mbok ya kasihlah bnyk2 hadits dan nas yg banyak dan kuat biar saya yg aawam ini paham…

    jadi kalo makom rasulullah di raudhoh, sahabat abu bakr siddiq serta umar d Masjid Nabawi itu d pindahkan anda juga setuju gitu??? kwakakakak anda lucu sekali… berarti anda harus belajar lagi ushul fiqh sepaket dan tolong kalo belajar agama itu mata rantainya nya harus sampei ke Rasulullah bukan yang lain… saya yakin anda ini basicnya bukan pendidian syariat Islam… yakin saya dari jawaban anda… pasti anda lulusan umum yg belajar syariat islam dari rujukan-rujukan artikel saja… belajarlah agama dari guru langsung… org kita belajar mtk dan kimia saja tanpa guru bisa salah apa lagi belajar agama….

    saya pikir anda benar-benar org yg punya basic agama yg kuat lah anda juga bingung mau kutip hadits serta nas ttg yg anda omongin sendiri,,,, semoga mas bro/mba bro tempakul bisa belajar lagi lebih banyak ttg syari’at islam baru ngomen lagi ttg agama…

    eittt kl masbro/mba bro jawab sdh belajar k ustd.kiyai tertentu… coba tulis runtutan guru anda tempat belajar agama.. sampei g ke Rasulullah… jgn2 ada yg miss itu…

  47. Ane Ende said

    MAS BRO/MBA BRO TEMPAKUL
    coba ente baca ini comment… no 19

    kalo emank ente ahli ttg syariat agama hayoo kt diskusi, saya yg awam dan sedkit ilmu ini akan coba buka2 kitab untuk jawab pertanyaan anda…

    Salafi berkata

    13/05/2013 pada 12:51
    Ibnu Taymiah, Tokoh Rujukan Kaum Wahabi/Salafi Ternyata… Suka Tahlilan di Kuburan!

    Ciri khas dari warga Nahdhiyyin (NU) adalah tahlilan, yakni membacakan Al Qur’an dan wirid2 Tahlil, Tasbih, Tahmid, dan Takbir, yang diniatkan pahalanya untuk dihadiahkan kepada keluarga atau teman atau kaum Muslimin yang sudah meninggal dunia. Hal demikian dikarenakan keyakinan mereka bahwa pahala bacaan dan dzikir yang diniatkan untuk dihadiahkan pahalanya itu sampai kepada si mayyit berdasarkan dalil Hadits dari Rasulullah SAW.

    Praktik kaum Nahdhiyyin ini mendapat kecaman tajam dari Jama’ah Takfiriyah (kelompok yg gemar mengkafirkan umat Islam yang tidak semadzhab dengan mereka), yaitu kaum Salafiyyun alias Wahabi, para pengikut setia Ibnu Taimiah.

    Mereka menuduh Tahlilan sebagai praktik bid’ah yang sesat dan menyesatkan! Tidak pernah disyari’atakan dalam Islam! Dan untuk diketahui, bahwa Islam sejati dalam pandangan kaum Wahabi adalah apa yang disampaikan Ibnu Taimiah! Apa yang diucapkan Ibnu Taimiah adalah Islam dan apa yang ditolak Ibnu Taimiah bukan dari Islam! Pendek kata, bagi kaum Wahhabi/Salafi sejati (bukan Wahabi palsu), Ibnu Taimiah adalah barometer kebenaran Islam!

    Jihad paling digemari kaum Wahabi/Salafi adalah memberantas bid’ah sesat dan menyesatkan, dan tahlilan menurut mereka adalah praktik bid’ah yang sesat dan menyesatkan! Oleh kerena itu, kaum Salafiyyun alias Wahabi, berjuang mati-matian (tapi ga mati beneran) memberantas dan mengecam tahlilan ala NU. Kaum NU di mata kaum Salafi adalah ahli bid’ah, kuburiyyun (doyan ngalap berkah dari kuburan), maulidiyyun, istighatsiyyun, tawassuliyyun dll.

    Pendek kata praktik tahlilan itu bid’ah! Yang melakukannya atau membolehkannya adalah ahli bid’ah…. titik!!!

    Setelah ngotot berjuang meberantas tahlilan, eh lha kok ga taunya ternyata Ibnu Taimiah “Syeikhul-Islam”-nya Wahabi doyan tahlilan juga seperti orang NU.

    Tercatat dalam kitab Majmu’ Fatawa karya Ibnu Taimiah, bahwa pada suatu ketika beliau (Ibnu Taimiah) ditanya:

    “Apakah Pahala bacaan Al Qur’an itu sampai kepada mayyit?”

    Beliau menjawab: “Adapun bacaan di atas kuburan itu dimakruhkan oleh Abu Hanifah, Malik dan dalam salah satu riwayat Ahmad, sementara dalam riwayat beliau lainnya tidak memakruhkannya, ia mengizinkannya kerena telah sampai kepadanya hadis Ibnu Umar r.a. bahwa ia berwasiat agar dibacakan pembukaan dan penutup surah al- Baqarah di atas kuburannya. Dan telah diriwayatkan dari sebagian sahabat agar dibacakan surah al Baqarah di atas kuburan mereka. (Majmû’ Fatâwa, karangan Ibnu Taimiah, 24/298).

    Ia juga ditanya:
    “Apakah bacaan dan sedekah yang dilakukan seseorang untuk dihadiahkan pahalanya kepada mayyit itu sampai atau tidak?”

    Ibnu Taimiah menjawab:
    “Bacaan dan sedekah dan amal-amal kebajikan lainnya tidak diperselisihkan di antara ulama Ahlusunnah wal Jama’ah bahwa akan sampai pahala amal-amal ibadah mâliah (harta) seperti sedekah dan memerdekakan budak, sebagaimana sampai juga pahala doa dan istighfar, shalat jenazah dan mendoakannya di atas kuburan. Para ulama itu berselisih dalam masalah sampainya pahala amal-amal badainiah seperti puasa, shalat dan bacaaan Al Qur’an. Pendapat yang benar (menurut Ibnu Taimiah) adalah semua pahala amal-amal itu akan sampai. Telah tetap dalam Shahihain (Bukhari & Muslim) dari Nabi saw., “Barang siapa mati dan ia ada tanggungan puasa maka keluarganya berpuasa untuknya.” Dalam hadis lain, “Bahwa Nabi memerintah seorang perempuan yang ditinggal mati ibunya sementara ia mempunyai tanggungan puasa agar si anak itu berpuasa untuk ibunya.”… (Majmû’ Fatâwa, karangan Ibnu Taimiah, 24/366)

    Dalam kesempatan lain ia juga ditanya:
    “Apakah bacaan keluarga mayyit, tasbihan, tahmidan dan tahlilan serta takbiran (membaca Al Qur’an, subhanallah, Alhamdulillah, Lâ Ilâha Illallah, dan Allahu Akbar) jika dihadiahkan pahalanya untuk si mayyit akan sampai atau tidak?

    Maka Ibnu Taimiyah menjawab:
    “Akan sampai bacaan keluarga; tasbihan, takbiran mereka, dan seluruh jenis dzikir kepada Allah jika dihadiahkan kepada mayit akan sampai.”

    Jadi sudah jelas sekali Ibnu Taimiah, tokoh rujukan kaum Wahhabi/Salafi, menegaskan bahwa Tahlilan bukan bid’ah dan pahalanya sampai kepada mayyit yang dibacakan tahlil. Maka jika NU dikecam sebagai ahli bid’ah yang sesat dan menyesatkan, maka yang pertama kali harus disesatkan dan dikecam sebagai pelaku Bid’ah adalah Ibnu Taimiah, Syeikhul-Islamnya Salafiyyin alias Wahabi itu!

  48. Ane Ende said

    min… admin… kok comment ane pada d delete sich…

    ane nantangin mas bro/mba bro tempakul ini…

    untuk menerangkan hadits2 dari comment no. 19
    _____________________________________________
    Yang Terhormat Saudara/Saudari @Ane Ende
    Assalamu Alaikum wa Rahmatullah wa Barakatuh

    Terlebih dahulu kami mengucapkan terima kasih atas kesetiaan Anda mengunjungi KabarNet, dan juga atas partisipasi Anda dalam menulis komentar.

    Untuk diketahui, Admin KabarNet tidak pernah men-delete komentar Anda. Terkait masalah komentar yang terlambat muncul, atau tidak muncul secara instan, silahkan membaca penjelasan yang sudah sering kami kemukakan seperti salah satunya pada LINK berikut ini. Silahkan di-Click Link/Tautan berikut di bawah ini:

    LINK: PENJELASAN TERKAIT KOMENTAR YANG TIDAK MUNCUL

    Maaf dan Salam
    Admin KabarNet
    _____________________________________________

    Ibnu Taymiah, Tokoh Rujukan Kaum Wahabi/Salafi Ternyata… Suka Tahlilan di Kuburan!

    Ciri khas dari warga Nahdhiyyin (NU) adalah tahlilan, yakni membacakan Al Qur’an dan wirid2 Tahlil, Tasbih, Tahmid, dan Takbir, yang diniatkan pahalanya untuk dihadiahkan kepada keluarga atau teman atau kaum Muslimin yang sudah meninggal dunia. Hal demikian dikarenakan keyakinan mereka bahwa pahala bacaan dan dzikir yang diniatkan untuk dihadiahkan pahalanya itu sampai kepada si mayyit berdasarkan dalil Hadits dari Rasulullah SAW.

    Praktik kaum Nahdhiyyin ini mendapat kecaman tajam dari Jama’ah Takfiriyah (kelompok yg gemar mengkafirkan umat Islam yang tidak semadzhab dengan mereka), yaitu kaum Salafiyyun alias Wahabi, para pengikut setia Ibnu Taimiah.

    Mereka menuduh Tahlilan sebagai praktik bid’ah yang sesat dan menyesatkan! Tidak pernah disyari’atakan dalam Islam! Dan untuk diketahui, bahwa Islam sejati dalam pandangan kaum Wahabi adalah apa yang disampaikan Ibnu Taimiah! Apa yang diucapkan Ibnu Taimiah adalah Islam dan apa yang ditolak Ibnu Taimiah bukan dari Islam! Pendek kata, bagi kaum Wahhabi/Salafi sejati (bukan Wahabi palsu), Ibnu Taimiah adalah barometer kebenaran Islam!

    Jihad paling digemari kaum Wahabi/Salafi adalah memberantas bid’ah sesat dan menyesatkan, dan tahlilan menurut mereka adalah praktik bid’ah yang sesat dan menyesatkan! Oleh kerena itu, kaum Salafiyyun alias Wahabi, berjuang mati-matian (tapi ga mati beneran) memberantas dan mengecam tahlilan ala NU. Kaum NU di mata kaum Salafi adalah ahli bid’ah, kuburiyyun (doyan ngalap berkah dari kuburan), maulidiyyun, istighatsiyyun, tawassuliyyun dll.

    Pendek kata praktik tahlilan itu bid’ah! Yang melakukannya atau membolehkannya adalah ahli bid’ah…. titik!!!

    Setelah ngotot berjuang meberantas tahlilan, eh lha kok ga taunya ternyata Ibnu Taimiah “Syeikhul-Islam”-nya Wahabi doyan tahlilan juga seperti orang NU.

    Tercatat dalam kitab Majmu’ Fatawa karya Ibnu Taimiah, bahwa pada suatu ketika beliau (Ibnu Taimiah) ditanya:

    “Apakah Pahala bacaan Al Qur’an itu sampai kepada mayyit?”

    Beliau menjawab: “Adapun bacaan di atas kuburan itu dimakruhkan oleh Abu Hanifah, Malik dan dalam salah satu riwayat Ahmad, sementara dalam riwayat beliau lainnya tidak memakruhkannya, ia mengizinkannya kerena telah sampai kepadanya hadis Ibnu Umar r.a. bahwa ia berwasiat agar dibacakan pembukaan dan penutup surah al- Baqarah di atas kuburannya. Dan telah diriwayatkan dari sebagian sahabat agar dibacakan surah al Baqarah di atas kuburan mereka. (Majmû’ Fatâwa, karangan Ibnu Taimiah, 24/298).

    Ia juga ditanya:
    “Apakah bacaan dan sedekah yang dilakukan seseorang untuk dihadiahkan pahalanya kepada mayyit itu sampai atau tidak?”

    Ibnu Taimiah menjawab:
    “Bacaan dan sedekah dan amal-amal kebajikan lainnya tidak diperselisihkan di antara ulama Ahlusunnah wal Jama’ah bahwa akan sampai pahala amal-amal ibadah mâliah (harta) seperti sedekah dan memerdekakan budak, sebagaimana sampai juga pahala doa dan istighfar, shalat jenazah dan mendoakannya di atas kuburan. Para ulama itu berselisih dalam masalah sampainya pahala amal-amal badainiah seperti puasa, shalat dan bacaaan Al Qur’an. Pendapat yang benar (menurut Ibnu Taimiah) adalah semua pahala amal-amal itu akan sampai. Telah tetap dalam Shahihain (Bukhari & Muslim) dari Nabi saw., “Barang siapa mati dan ia ada tanggungan puasa maka keluarganya berpuasa untuknya.” Dalam hadis lain, “Bahwa Nabi memerintah seorang perempuan yang ditinggal mati ibunya sementara ia mempunyai tanggungan puasa agar si anak itu berpuasa untuk ibunya.”… (Majmû’ Fatâwa, karangan Ibnu Taimiah, 24/366)

    Dalam kesempatan lain ia juga ditanya:
    “Apakah bacaan keluarga mayyit, tasbihan, tahmidan dan tahlilan serta takbiran (membaca Al Qur’an, subhanallah, Alhamdulillah, Lâ Ilâha Illallah, dan Allahu Akbar) jika dihadiahkan pahalanya untuk si mayyit akan sampai atau tidak?

    Maka Ibnu Taimiyah menjawab:
    “Akan sampai bacaan keluarga; tasbihan, takbiran mereka, dan seluruh jenis dzikir kepada Allah jika dihadiahkan kepada mayit akan sampai.”

    Jadi sudah jelas sekali Ibnu Taimiah, tokoh rujukan kaum Wahhabi/Salafi, menegaskan bahwa Tahlilan bukan bid’ah dan pahalanya sampai kepada mayyit yang dibacakan tahlil. Maka jika NU dikecam sebagai ahli bid’ah yang sesat dan menyesatkan, maka yang pertama kali harus disesatkan dan dikecam sebagai pelaku Bid’ah adalah Ibnu Taimiah, Syeikhul-Islamnya Salafiyyin alias Wahabi itu!

    Aneh bin ajaib, mengapa kaum Wahabi/Salafi doyan membid’ahkan umat Islam yg melakukan tahlilan, sementara Ibnu Taimiah yang notabene imam mereka sendiri berpandangan sama dengan kalangan Nahdhiyiin (NU),

    Lagi pula kaum Wahabi/Salafi gemar menyanyikan lagu Salaf yang tidak ketahuan pengarangnya… eh ternyata Salafush Sholeh juga doyan tahlilan dan membaca Al Qur’an di atas kuburan! Laah ketahuan kan kalau Wahabi yang mengaku Salafi (mengikuti ulama Salaf) ini ternyata Salafy Gadungan! Yang lebih tepat kaum Wahabi tsb adalah pengikut “Salah – Fi” (Salah tempat)! Bukan Salafy (pengikut Salaf).

    hayooo d bahas yukk mas bro/mba bro tempakul….
    mosok ente berani ngomong g bs counter ini hadits2

    jgn2 bener kl basic pendidikan anda bukan syari’at Islam… jadinya jawban anda ngawur g d sandarkan pada ushul figh dan figh,,,

    coba tolong tuliskan juga pada ulama mana anda berguru tulis mata rantai guru anda itu belajar karo sopo ae… sampei ora k kanjeng Nabi…. jangan-jangan ada yang miss mas bro/mba bro…

    di tunggu ye…

  49. tempakul said

    @ Ane Ende

    rupanya ente ahli debat….= politikus.

    sakit kayaknye hati & otak ente ya…. buta & tuli….sudah kronis nih….susah disembuhkan….jangan2x hati ente udeh mati ya….seperti bangkai.. di jelasin dengan jelas….dijewer pun kalo hati yang mati… ngga bisa apa2x… lah wong udeh mati alias ko-it….moudar….

    Rasulullah itu sudah meninggalkan begitu banyak hadist & meninggalkan islam dengan begitu jelas & gamblang… umat tidak akan tersesat…. siangnye aja sudah terang… malamnye sudah banyak pelita yang menerangi…

    “Dan kami turunkan Al-Qur’an sesuatu yang menjadi penawar (penyembuh penyakit fisik maupun rohani) dan rahmat bagi orang yang beriman kepada-Nya. “(QS. Al-Isra’ : 82)

    ”Barang siapa yang mengada-adakan sesuatu (amalan) dalam urusan (agama) kami yang bukan dari kami, maka (amalan) itu tertolak.” (HR. Bukhori dan Muslim)

    ane tidak ada manfa’atnye berdebat dengan ente… buang waktu dalam menimba ilmu agama…

    wassalam….bye…bye…

  50. NU Tulen said

    @ Tempakul & Wahabi Lainnya:
    Benar apa yang pernah disampaikan oleh Gusdur… Pernah suatu Ketika Gusdur di tanya mengenai Wahabi dan Beliau Menjawab: “Ada Hadist yg mengatakan… Bahwa Nanti Akan muncul DUA TANDUK SETAN DARI NEGERI NAJD (Hadist) dan dua tanduk setan tersebut saat ini sudah terlihat…
    1. Musailamma Al Kadzab dan 2. Muhammad Bin Abdul Wahab (Yg Membawa ajaran Wahabi).

    – Apakah anda sdh belajar caranya ber Wudhu?
    – Apakah anda sdh belajar caranya Sholat?
    – Apakah anda sdh belajar Caranya Mandi Junub?
    – Kalau anda sdh mempelajari saipa Guru anda?
    – Apakah Buang Air Kecil masih Mancur dua sisi?

  51. ali said

    liat di iran kuburan para imam dijaga di rawat makanya umat islam yg bermadzhab suni jgn mau di adu dgn madzhab syiah,kalau dia berani bongkar kuburan sahabat tinggal tunggu waktunya kuburan baginda NABI MUHAMMAD SAWW akan dibongkar,jgn terpengaruh dgn dalil yg dibawa mereka silahkan dengar jawabannya di rasil AM 720 dan tanyakan langsung dgn guru guru disana dgn bahasa yg lugas dan dalil dalil yg bisa dipertanggung jawabkan mereka akan memberi jawaban pada kita

  52. Ane Ende said

    kwakakakak…

    gini2 kl g bisa jawab bilang g ada gunanya…
    ane ini cuma ibu Rumah Tangga bukan politikus….
    ane miris kl ada org yg g punya ilmu fiqh kayak antum terus mau ngomong ttg agama…
    pasti antum basicnya sekolah umum ya…
    belajar ilmu fiqh dmn? jangan2 antum baca Quran masih salah-salah gmn mau baca kitab buat perbandingan…

    antum harus tahu ilmu mahrj itu/tajwid baru di temukan setelah Rasulullah wafat sdh ratusan Tahun malah… silahkan d search tahunny yaaah… Al-Quran juga dulu g ada titik, ga ada tanda baca lohh…. seketika ilmu itu d temukan baru org2 bisa memahami Al-Quran terutama org non Arab, Al-Quran dl d tulis d pelepah-pelepah Kurma, d tulang2… g lama oleh sahabat d bukukan… apa ini juga mau d sebut bid’ah krn Rasul dl g baca Quran bentuk begini??? hayooo…hayooo??? kalo debat pakei ilmu yg banyak dunk… jgn cm bisa bilang g boleh dan g boleh….

    dizaman nabi juga g ada yang namanya DAUROH, NGAJI TIAP MINGGU YG ADA HARI JUMAT… kawakakakak… ini bid’ah juga dunk berarti…

    jangan2 ane benar basic antum itu cuma sekolahan umum… g ngerti agama tp anggep diri paling ngerti ttg agama,,,
    finally kesimpulan yg bisa ane ambil… ya antum itu g ngerti apa2 ttg agama… cuma sok tahu…

    kl tahu hayoo antum jawab pertanyaan dari comment no. 19 atau jwb pertanyaan simple saya…
    kmn antum belajar agama? siapa guru antum sampai g mata rantai k Rasulullah…. ??? jgn2 cuma sampei selat sunda :P

    ane masih ketawa2 ini… soale antum lucu TEMPAKUL…

  53. Ane Ende said

    ade lagi ni nyang ane mau kasih tahuke antum…

    antum tahu…????
    tidak semua ada d nash Al-Quran makanya ada sunah, qiyas, ijma’ dan urf…

    kwakakakakak… jgn2 antum g tahu juga ya arti sunah, qiyas. ijma’ dan urf

    kan ente suka asbun…. ASAL BUNYI!!!!

  54. Ane Ende said

    antum belajar tafsir juga yahh… jgn sampei cuma share nash2 Quran…

    kwakakakakak…. ni ane sedang kumpul2 sama hafidzoh2 lulusan bbrp negara
    mrk ahli tafsir pada ketawa baca comment2 antum…

    TEMPAKUL-TEMPAKUL…. tobatlah… kwakakakakak

  55. Ane Ende said

    teman-teman mohon bantuan ke sahabat saya di FB…

    an. isyana elamientours
    dy sdg d berondong pertanyaan banyak sama wahabi…

  56. LOGIKA said

    Ane Ende berkata :

    ………..
    jadi kalo makom rasulullah di raudhoh, sahabat abu bakr siddiq serta umar d Masjid Nabawi itu d pindahkan anda juga setuju gitu??? kwakakakak anda lucu sekali… berarti anda harus belajar lagi ushul fiqh sepaket dan tolong kalo belajar agama itu mata rantainya nya harus sampei ke Rasulullah bukan yang lain… saya yakin anda ini basicnya bukan pendidian syariat Islam… yakin saya dari jawaban anda… pasti anda lulusan umum yg belajar syariat islam dari rujukan-rujukan artikel saja… belajarlah agama dari guru langsung… org kita belajar mtk dan kimia saja tanpa guru bisa salah apa lagi belajar agama….
    ………..

    _____________

    Saudari ane Ende,

    Maaf jika ane ikut nimbrung sedikit.

    Betul, jika PENDIDIKAN AGAMA adalah dasar penting bagi seseorang untuk bisa pintar menjawab pertanyaan-2 yang berbau agama.

    Tapi ane harap ente jangan lupa, hal itu tidaklah cukup untuk menjadikan seseorang mumpuni bicara soal agama, karena terbukti tidak sedikit yang pendidikan agamanya sedang-sedang saja tapi karena karunia dan keridhoan Allah SWT seseorang bisa menjadi suritauladan bagi sesamanya dalam kehidupan sehari-2.

    Pertanyaannya :
    Apakah ada jaminan lulusan Universitas Kairo misalnya akan menjadi seorang ulama besar ? Pasti anda setuju, jika ane jawab belum tentu, bukan ?

    Apakah ada jaminan orang yang rajin sholat tahajud, bakal masuk syurga ?
    Pasti ente juga etuju jika ane jawab belum tentu, bukan ?

    Mengapa ?

    Karena untuk bisa dikategorikan sholeh menurut Islam, seseorang tidak cukup hanya pernah dapat pendidikan yan g baik, bergaul di lingkungan muslim, rajin beribadah dan sebagainya. Tapi justru yang tidak kalah penting adalah perilakunya dalam kehidupan sehari-hari.
    Gak percaya ?

    Pernahkah ente mendengar, seorang ahli agama yang susah mengeluarkan sedekah ? Sederkah bukan cuma berupa uang, banyak bentuknya, bahkan keridhoannya untuk diundang ceramah dengan sedikit atau tanpa uang transport pun termasuk ibadah kepada Allah SWT walau sudah setenar apapun orang tersebut.

    Justru orang yang cerdas dan mumpuni di bidangnya termasuk agama itu seringkali terlihat biasa-biasa saja dan bersahaja. Tidak terlalu ingin dikenal apalagi dipuji, karena ia sadar unsurnya adalah RIA yang dekat dengan MUBAH. Mubah kebahagiaannya pahalanya alis sia-sia belaka pengorbananannya.

    Intinya, jika kita merasa lebih mengetahui tentang sesuatu tahu daripada orang lain, yang terbaik adalah menutupi kekurangannya dengan kebaikan-2 yang kita ketahui. Seperti sebuah mobil penyok yang kita dempul dan cat ulang untuk membuat mobil yang terlihat reyot menjadi keren lagi. Dari situ ada 2 hal yang kita dapat, yakni :
    1. Pahala atas kebaikan untuk orang lain.
    2. Pahala kebaikan untuk diri-sendiri.
    Aka lebih bahagia bukan jika semua umat Rasulullah SAW insya Allah masuk surga ketimbang sendiri-sendiri ?

    jadi daripada buang-2 energi untuk saling menjatuhkan sesama, lebih baik energinya dipakai untuk saling memperbaiki aklah dengan saling berbagi informasi yang benar tentang agama Islam. saling menasehati dalam kebenaran dan kebajikan adalah perintah Allah SWT dalam kitab suci Al-Quran surat Al-Asr ayat 1-3.

    Silahkan antum buka dan resapi maknanya, insya Allah akan memahami perkataan ane yang bukan siapa-siapa ini.

    Maaf lahir bathin
    Wassalam.

  57. Anonymous said

    org2 yg mndukung yahudi sma juga dy yahudi laknattillah.sahabat toe org tinggi mrtabat@.hanya yuhudi laknatillah yg berani mmbongkar makam sahabat.ya allah ya allah barang siapa ya allah yg telah mmbongkar makam sahabat rasul ketuk lh dy ya allah ketuk lah dia ya allah di tempat itu jga.biar yahudi tau tinggi@ derajat sahabat rasul.allah huakbar 3xxx

  58. Anonymous said

    bangsat bangsat …….

  59. […] SUMBER: Kabarnet.wordoress.com […]

  60. @Logika : Perkataan anda itu 100% ane dukung.
    Tapi ente nggak bisa langsung mengkritik ane ende begitu saja. Ane ende ini cuma sekedar mengcounter omongannya si tempakul yg memang baru belajar ngaji dan belajarnya salah tempat lagi :)
    Coba ente baca omongannya si tempakul itu. Jadi wajar toh ane ende komen seperti itu…iya donkkkkk..

    Ini semua ada sebabnya.
    Coba kalo kaum yg gemar mengkafir-kafirkan org, selalu berkoar-koar Bid’ah..bid’ah..bid’ah….sesaaatt..sesatt (seperti si tempakul) itu diam dan nggak berkoar-koar seperti itu…pasti kami juga nggak akan mengkritik mereka.

    Jadi biarkanlah coba kita liat apa bisa si tempakul jawab komen ana ende (komen #48) dan komen salafi (komen #19) ???

    Pasti kagak bisa…ya iyalaaahhhhh

  61. Muslim РΛLSU said

    Permisi saya mau membaca wirid harian ajaran guru saya:

    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!
    Bid’ah!!… Kafir!!… Syirik!!

    Sudah, terima kasih… besok saya lanjutkan wiridan lagi seperti diatas.

  62. Anonymous said

    Apa yg akan anda lakukan setalah mendengar cerita ini .. ?

  63. wajar dibongkarlha wong itu biasa dijadikan tempat ibadah(tabarruk) buat setan syiah laknatullah

    http://zsulton.blogspot.com/2013/05/para-ulama-al-azhar-kecam-pembongkaran.html

  64. cool man said

    kalo pengikut wahabisme yg sdh mulai byk di indonesia udah pasti anteng aja stelah baca ini, gak ada sdkitpun hati mereka tersentuh dgn peristiwa ini

  65. @Cool Man
    WAHABI…!?!?!

    gw dulu juga cuma sekedar ikut2-an menghujat
    dikit2 wahabi
    dikit2 wahabi
    semuanya dipukul rata jadi 1 golongan, WAHABI

    ternyata setelah gw pelajari, Muhammad bin Abdul Wahab gak membawa mazhab baru
    seperti kebanyakan di jazirah Arab, Muhammad bin Abdul Wahab dia penganut mazhab Fiqih imam Ahmad bin Hambal

    dan setan2 syiah-lah yg sering menggunakan istilah WAHABI untuk memerangi umat ISLAM
    terutama mereka yg orang2 Arab

    dibikinlah propaganda (TAQIYAH) bhw mujahidin adalah bonekanya amerika
    misalkan taliban
    ternyata iran sampe detik ini gak pernah bertempur melawan amerika
    semua

  66. arrisalah13.blogspot.com – Suriah – Berdasar hasil analisa dari pemberitaan media-media islam yang bisa dipercaya dari sisi syar’I maupun duniawi, Ust. Abu Rusydan menegaskan bahwa konflik yang terjadi di Suriah adalah perang agama dan bukan lagi perang ideologi. Hal itu beliau ungkapkan sebagai jawaban atas polemik yang muncul, apakah konflik Suriah itu perang agama atau ideologi.

    “Kenapa kita berbicara Syam itu kok Damaskus dan Suriah?? Kita jawab, kenapa kita berbicara Suriah, kok kita malah bicara Perang Ideologi, kok bukan Perang Agama? Maka saya jawab ini adalah PERANG AGAMA. Sebab istilah Ideologi adalah buatan manusia, sedangkan Agama adalah buatan Allah. Dan peperangan yang terjadi di Suriah sekarang ini merupakan Nubuwah Rosululloh saw tentang perang akhir zaman yang terjadi di kota Damaskus”, tegas beliau dalam kajian Save Syria, Let’s Pray For Them di masjid Baitul Makmur, Solo (15/7).
    Beliau juga memaparkan bahwa Syi’ah adalah sekte diluar islam dan bukan termasuk salah satu madzhab dalam islam. Karenanya sangat aneh jika ada sebagian kaum muslimin yang berkata Syi’ah adalah salah satu madzhab dalam islam.
    “Ada yang berpendapat bahwa konflik Suriah itu kan konflik sektarian, antara sekte Syi’ah dengan sekte Sunni. Sekali lagi saya sampaikan ayyuhal ikhwah, didalam sebuah kitab “Ja’a Daurul Majus” disebutkan bahwa Syiah itu bukan sekte islam, Syi’ah itu bukan Madzhab dalam islam”, ungkap beliau.
    Akar Syiah
    Ahmadinejad & Assad = Syiah
    Dari sejarah awal kemunculan Syi’ah saja bisa ditebak akar lahirnya Syi’ah adalah Majusi Persia. Mana mungkin ada Majusi menjadi golongan dalam islam. Sementara akar Majusi adalah kepercayaan pagan Persia yang menyembah api.
    “Akar munculnya Syi’ah itu dari Majusi. Bahwa hari ini Majusi sudah memegang peranan yang luar biasa dengan menancapkan kuku-kukunya dan taring-taringnya didunia islam. Syi’ah itu berangkat dari balas dendamnya Majusi Persi terhadap islam, kemudian mereka berkolaborasi dengan Yahudi dan Nashrani”, beber Ust. yang pernah mulazamah kepada Dr. Abdullah Azzam di Afghanistan ini.
    Syi’ah Nushairiyyah yang sekarang berkuasa di Suriah hari ini, muncul adalah pada abad ke-3 H di bawah pimpinan Muhammad bin Nashir An-Numairi. Selain mengakusebagai Nabi, ia meyakini bahwa Imam Abul Hasan Al-’Askari (Imam ke-11 dari Syi’ah Ja’fariyyah Imamiyyah) adalah Tuhan.
    “Jadi Syi’ah tidak boleh disebut sekte dari Islam. Tetapi sekali lagi saya sampaikan munculnya Syi’ah didunia berangkat dari gerakan Politik yang dilandasi balas dendam Majusi Persi terhadap Islam,” kata beliau.
    Antara Iran, Amerika dan Israel
    Umat islam Suriah, sasaran utama Syiah dan Salibis Internasional
    Sebetulnya antara Iran (Syi’ah), Amerika (Nasharani) dan Israel (Yahudi) adalah satu tubuh dan bersekongkol. Untuk memuluskan rencananya menguasai dunia, akhirnya mereka membuat sebuah “pencitraan” bagi dunia islam. Digambarkan seakan-akan Iran bermusuhan dengan Israel yang dibantu Amerika. Ini hanya topeng saja untuk menutupi kebengisan Syi’ah yang hobi membantai kaum muslimin sejak zaman Nabi Muhammad saw hingga saat ini (Report: Iran officials told Assad to focus on Israel to pert attention from Syria crisis. http://www.haaretz.com 14 Mar 2012).
    “Salah satu konspirasi Iran, Amerika dan Aliansi Utara nampak saat Taliban di Afghanistan jatuh. Jangan sampai Ahlu sunah yang berkuasa untuk memilih pemimpin, apakah Amanulloh Khan atau yang lainnya. Akhirnya mereka memilih Hamid Karzai. Dan Hamid Karzai adalah pengikut Baha’i salah satu sekte dari Syi’ah, dan setelah saya ketahui ternyata Mahmud Abbas (PLO Palestina) penganut Syi’ah Al-Babiyah. Jadi sekali lagi, Syi’ah sampai hari ini dengan segala sektenya apapun namanya adalah Kebathilan yang kemudian diretas oleh Penjajah Barat,” pungkas beliau.
    Pembebasa al-Aqsa dimulai dari Suriah
    Kalau bukan perang agama, lantas apalagi?
    Pembebasan Al-Aqsa dimulai dari pembebasan Suriah. Rasulullah dalam berbagai hadits banyak menyebut keutamaan bumi Syam. Perang akhir zaman juga terjadi di Damaskus. Untuk itu kaum muslimin harus memberikan perhatian ekstra atas konflik Suriah.
    “Tahriru Aqsho yabda’u bi-Tahrir Suriah, Pembebasan Al Aqsho itu dimulai dengan Pembebasan Suriah, ini menarik sekali yaa ayyahul ikhwah. Jadi tidak keliru ayyuhal ikhwah jika fokus kita pada hari ini membahas Suriah dan Syam,” beber Ust. Abu Rusydan.

  67. Taqiyah adalah perisai perlindungan bagi Syiah

    Taqiyyah adalah ajaran penting dalam madzhab syi’ah, hal ini penting untuk anda ketahui. Setiap ajaran pasti memiliki keyakinan-keyakinan dan ajaran tertentu, dan lazimnya sebuah ajaran yang diinginkan untuk berkembang, keyakinan itu ditulis dalam buku. Kita lihat prakteknya agama Islam sendiri memiliki kitab yang memuat ajaran yang harus diyakini oleh seorang muslim yaitu Al-Qur’an, yang mengandung perintah untuk bertanya kepada yang tahu ketika tidak mengerti tentang segala sesuatu. Begitu juga Al-Qur’an memuat sumpah Allah dengan pena, yang dipahami oleh ummat Islam sebagai perintah untuk menulis dan membaca. Sehingga keterangan dari ulama dituangkan dalam kitab-kitab yang dapat dibaca hingga kini. Madzhab-madzhab fiqih dalam islam pun memiliki kitab-kitab rujukan yang memuat pendapat madzhab itu. “Madzhab syiah” pun demikian pula memiliki kitab-kitab rujukan yang memuat keyakinan-keyakinan syiah, kitab ini berisi ucapan-ucapan Ahlul Bait, 11 imam yang konon harus diikuti. Konon lagi, 11 imam itu disebut juga sebagai salah satu dari tsaqalain (dua pusaka) yang harus diikuti oleh orang muslim. Pusaka satu lagi adalah Al-Qur’an. Selain ucapan Ahlul Bait, kitab-kitab itu juga memuat penjelasan-penjelasan ulama syiah, yang juga harus diikuti karena status ulama menjelaskan ayat-ayat Al-Qur’an dan ucapan Ahlul Bait di atas. Tapi belakangan ulama syiah naik pangkat menjadi wakil imam ma’shum (yang juga ma’dum = tidak ada) untuk mengatur kehidupan keberagaamaan para penganut syiah.

    Tetapi buku-buku yang memuat ajaran syiah itu hampir seluruhnya susah diakses. Terutama buku-buku yang memuat ucapan-ucapan Ahlul Bait, sumber legalitas bagi syiah selain Al-Qur’an, sehingga kita hanya mengetahui ajaran syiah dari mulut-mulut pengikutnya atau dari buku-buku yang ditulis oleh ulama masa kini dan tidak memuat langsung ucapan Ahlul Bait. Ini menimbulkan kerancuan, di satu sisi orang akan mengira bahwa itulah sebenarnya madzhab syiah, tetapi ada golongan lain dari umat Islam yang berkesempatan untuk mengakses ke kitab-kitab induk syiah dan mendapati ternyata ucapan dari penganut syiah tentang madzhabnya itu tidak sesuai dengan isi kitab-kitab tersebut. Perlu diketahui bahwa kitab-kitab syiah itu memuat ajaran-ajaran yang tidak pernah didapat dalam Al-Qur’an serta sabda Nabi SAW. Di sini umat dibuat bingung, akhirnya diadu domba. Ini karena adanya sebagian umat yang celakanya mereka adalah kaum intelektual tetapi terjangkit penyakit lugu dan polos. Mereka begitu saja percaya dengan ucapan-ucapan penganut syiah yang berpropaganda tentang ajarannya tanpa ingin mengecek ke sumber aslinya. Mereka berbenturan dengan orang-orang yang ikhlas ingin mengingatkan umat akan ajaran yang tidak sesuai dengan Al-Qur’an dan sabda Nabi SAW. Akhirnya umat pun diadu domba. Lebih berbahaya lagi bahwa mereka adalah kaum intelektual yang didengar suaranya di masyarakat. Kasihan masyarakat yang terbius oleh “angin surga” baik yang dilontarkan oleh penganut syiah maupun dari intelektual yang lugu lagi polos – tapi bergaya intelek –.

    Tidak ada yang aneh jika kita melihat fenomena “intelek tapi lugu”, karena sikap lugu mereka tertipu oleh angin surga dari da’i-da’i syiah. Tetapi yang patut dicermati adalah penganut atau ustadz-ustadz syiah, mengapa mereka terkesan menutupi isi riwayat-riwayat dari Ahlul Bait? Mengapa ucapan mereka berbeda dengan apa yang tercantum dalam buku-buku riwayat-riwayat Ahlul Bait? Apakah mereka sengaja ingin menyembunyikan riwayat Ahlul Bait atau mengapa? Ini yang barangkali terlintas pada benak kita. Ataukah riwayat itu hanya diperuntukkan bagi kalangan khusus yang sudah dianggap layak untuk mengaksesnya? Apa pun jawabannya, kitab-kitab syiah sudah bukan barang langka lagi, mereka yang benar-benar ingin mengetahuinya pasti akan dapat menemukan dan mengaksesnya, meskipun para ustadz syiah mencoba sekuat tenaga untuk menyembunyikan.

    Sebagai misal, anda tidak akan mendengar penganut atau ustadz syiah menukil riwayat di bawah ini:

    Dari Abu Abdillah – Ja’far Ash-Shadiq – mengatakan: “Ambillah harta orang nashibi di mana saja kamu dapatkan, lalu bayarkan seperlimanya pada kami.”

    Riwayat ini terdapat dalam kitab Tahdzibul Ahkam jilid. 4, hal. 122, kitab Al-Wafi jilid. 6, hal. 43, begitu juga dinukil oleh Al-Bahrani dalam Al-Mahasin An-Nifsaniyah, Al-Bahrani mengatakan riwayat ini diriwayatkan dari banyak jalur.

    Siapakah yang disebut dengan nashibi? Nashibi adalah orang yang memusuhi Ahlul Bait. Tetapi syiah memiliki terminologi yang berbeda atas kata memusuhi Ahlul Bait. yang dimaksud memusuhi Ahlul Bait bukanlah memusuhi alias lawan kata cinta, seperti orang yang memusuhi Ali atau membenci Fathimah, anda tidak akan menemui sikap demikian kecuali pada sebagian orang khawarij yang memang sesat. Tetapi nashibi di sini bermakna mereka yang mendahulukan selain Ali dalam khilafah, alias mereka yang berkeyakinan bahwa Ali bukanlah yang berhak menjadi khalifah sepeninggal Nabi. Kita lihat Al-Bahrani di atas – nama lengkapnya Husain bin Muhammad Al-Ashfur Ad-Darazi Al-Bahrani – dalam kitab yang sama pada hal. 157 memberikan definisi bagi kata nashibi:

    Ini karena kamu telah tahu bahwa nashibi adalah mereka yang mendahulukan selain Ali…

    Maka kata nashibi meliputi seluruh penganut Ahlus Sunnah wal Jama’ah yang meyakini fakta dan kenyataan yang ada bahwa khalifah setelah Nabi adalah Abu Bakar. Riwayat di atas adalah ajakan untuk merampok, mencuri, mencopet dan merampas harta Ahlus Sunnah. Ini jelas dari riwayat di atas yang menjelaskan ambillah harta nashibi – sunni – di mana saja, di jalan, di rumahnya, di kantor, pokoknya di mana saja terdapat harta itu. Barangkali situasi di Indonesia belum kondusif untuk melaksanakan riwayat itu, tetapi riwayat di atas dipraktekkan di Irak hari ini, di mana milisi syiah melakukan perbuatan seperti yang dilakukan oleh pasukan ortodok Serbia kepada muslimin Bosnia.

    Anda tidak akan mendengar riwayat ini dari ustadz syiah. Mengapa demikian? Ternyata ajaran syiah memuat sebuah ajaran yang membolehkan bagi penganut syiah untuk menyembunyikan keyakinannya di depan non syiah, keyakinan itu disebut dengan taqiyyah. Lagi-lagi menurut keterangan ulama syiah sendiri bahwa taqiyah hukumnya wajib hingga imam ke 12 bangkit dari “tidur panjangnya”. Ibnu Babawaih Al -Qummi yang dijuluki Ash-Shaduq – yang selalu berkata benar – mengatakan:

    “Keyakinan kami bahwa taqiyah adalah wajib, meninggalkan taqiyah sama seperti meninggalkan shalat, tidak boleh ditinggalkan hingga keluarnya Imam Mahdi, siapa yang meninggalkan taqiyah sebelum keluarnya Imam Mahdi maka telah keluar dari agama Allah (Islam), keluar dari agama Imamiyah dan menyelisihi Allah, Rasul dan para imam.” (Bisa dilihat dalam kitab Al-I’tiqadat, hal. 114, cetakan Darul Mufid, teks di atas ada pada hal. 108).

    Ucapan ini tentunya tidak berasal dari omong kosong maupun pendapat sendiri, karena dalam ucapan di atas kita lihat ada kata: Keyakinan kami, berarti adalah keyakinan madzhab syiah menurut As-Shaduq. Juga ini bukan satu-satunya ucapan ulama syiah tentang wajibnya taqiyah. Ucapan di atas berdasar pada riwayat Ja’far Ash-Shadiq yang bersabda:

    “Jika kamu katakan bahwa orang yang meninggalkan taqiyah sama dengan orang yang meninggalkan shalat maka kamu telah berkata benar.”

    Bisa dilihat di kitab Biharul Anwar, jilid. 50, hal. 181, jilid. 75, hal. 414, hal. 421, As-Sarair, hal. 476, Kasyful Ghummah, jilid. 3, hal. 252, dan Man Laa Yahdhuruhul Faqih, jilid. 2, hal. 127, serta beberapa sumber lain.

    Juga terdapat riwayat yang mengatakan: “Orang yang meninggalkan taqiyah adalah kafir. (Bisa dilihat di kitab Biharul Anwar, 87/347 dan Fiqhur Ridha, 338).

    Dari sini saja kita sudah bisa mengetahui bahwa tidak ada orang syiah yang tidak bertaqiyah, tetapi sepandai-pandai tupai melompat pasti jatuh juga, sepandai-pandai syiah bertaqiyah akhirnya terbongkar juga – bagi mereka yang tidak lugu –. Perkataan As-Shaduq di atas memberi jawaban bagi kebingungan kita tentang mengapa ucapan ustadz syiah berbeda dengan isi kitab mereka sendiri. Di samping itu kita jadi tahu dan akhirnya berhati-hati dalam mendengar ucapan penganut syiah, karena apa yang diucapkan di mulutnya tidak sesuai dengan keyakinan hatinya. Ini dilakukan agar keyakinan yang sebenarnya diyakini tidak diketahui orang, akhirnya dia selamat dan tidak dijauhi oleh teman-temannya. Karena kaum muslimin masih memiliki tingkat resistensi yang tinggi pada mereka yang beraliran sesat, sehingga orang yang beraliran sesat bisa dijauhi dan dimusuhi. Jika saja penganut syiah menampakkan keyakinan aslinya pasti dia dimusuhi dan dijauhi. Kondisi demikian kurang menguntungkan karena gerak-gerik penganut syiah untuk menyebarkan ajarannya menjadi sempit karena dia ditolak di mana-mana. Praktek menyembunyikan keyakinan agar tidak dibenci orang ini mirip dengan yang disebutkan dalam Al-Qur’an Surat Al-Maidah ayat 41, berikut:

    “Hai Rasul, hendaknya janganlah kamu disedihkan oleh orang-orang yang bersegera (memperlihatkan) kekafirannya, yaitu diantara orang-orang yang mengatakan dengan mulut mereka: “Kami telah beriman”, padahal hati mereka belum beriman…”

    Juga dalam surat Al-Fath ayat 11:

    “Mereka mengucapkan dengan lidahnya apa yang tidak ada dalam hatinya.”

    Juga dalam surat Ali Imran ayat 167:

    “Mereka mengatakan dengan mulutnya apa yang tidak terkandung dalam hatinya.”

    Repotnya, kita tidak memiliki indikator yang membuat kita tahu apakah penganut syiah yang sedang berbicara dengan kita sedang bertaqiyah atau tidak. Kita mengusulkan pada mereka yang berkompeten untuk menciptakan penemuan baru berupa indikator taqiyah, yang mungkin berupa lampu yang menyala bila seorang syiah sedang bertaqiyah. Jika tidak bisa lampu maka apa saja, seperti kerlingan mata atau tanda di kepala atau apa saja, yang penting orang lain di sekitarnya bisa tahu apakah dia sedang bertaqiyah atau tidak. Penemuan ini begitu mendesak supaya kaum muslimin tidak tertaqiyahi (baca: Tertipu) oleh penganut syiah yang menyembunyikan keyakinannya ketika tidak dalam keadaan bahaya. Lalu apakah para imam juga bertaqiyah? Sudah semestinya demikian, karena bagaimana sang imam menyuruh orang untuk bertaqiyah tapi diri mereka sendiri tidak bertaqiyah.

    Di sini terdetik pertanyaan besar, yaitu bagaimana kita tahu para imam sedang bertaqiyah atau tidak? Jika kita membaca sebuah riwayat dari salah seorang imam, maka kita tidak tahu apakah sang imam mengucapkan sabdanya dalam keadaan taqiyah atau tidak, hal ini penting untuk diketahui karena alasan seperti di atas, taqiyah adalah menyembunyikan keyakinan sebenarnya dalam hati dan mengucapkan hal yang berbeda dengan apa yang diyakininya dalam hati. Maka penganut syiah tidak tahu apakah riwayat yang ada adalah benar-benar ajaran imam yang sebenarnya atau hanya taqiyah? Ini adalah masalah yang harus diselesaikan oleh syiah. Jika ada syiah yang berani menyanggah dengan mengatakan bahwa penerapan taqiyah dimulai dari era ghaibah – hilangnya imam – sughra maupun kubra, maka dengan mudah kita jawab: Jika memang demikian maka perintah taqiyah akan muncul tepat sebelum masa ghaibah, yaitu pada era imam Hasan Al-‘Askari, bukannya muncul dari Imam Ja’far As-Shadiq yang hidup jauh sebelum era ghaibah. Maka tidak ada yang menjamin bahwa sabda imam adalah benar-benar ajaran Allah, karena imam juga melakukan taqiyah. Di sini syiah terjebak dalam taqiyah, di mana dia tidak bisa membedakan ajaran imam yang sebenarnya dan ajaran imam yang disampaikan saat bertaqiyah, yang sudah tentu berbeda dengan ajaran imam yang sebenarnya. Dari mana kita mengetahui ajaran imam yang sebenarnya dan ajaran imam yang bertaqiyah? Tidak ada yang bisa memberikan jawaban pasti. Jadi ajaran syiah tidak diketahui mana yang benar-benar ajaran syiah ‘yang dari Allah’ dan mana yang taqiyah. Mestinya penganut syiah hari ini berhati-hati, jangan-jangan ajaran yang mereka anut saat ini bukanlah ajaran syiah sebenarnya, tetapi adalah ajaran dari para imam yang sedang bertaqiyah?!

    Mari kita simak ucapan Al-Bahrani dalam kitab Al-Hadaiq An-Nadhirah, jilid. 1, hal. 89:

    “Banyak riwayat-riwayat syiah yang diucapkan ketika sedang bertaqiyah yang tidak sesuai dengan hukum sebenarnya.”

    Ini pengakuan yang berbahaya, yaitu banyak riwayat syiah yang memuat keterangan kebalikan dari keterangan yang sebenarnya. Pengakuan ini juga masih bisa kita ragukan, yaitu dari mana diketahui bahwa imam sedang bertaqiyah? Juga ini adalah riwayat yang diketahui bahwa imam mengucapkannya dalam keadaan bertaqiyah, lalu bagaimana dengan riwayat lain? Lagi pula bagaimana imam bisa ketahuan sedang bertaqiyah? Apakah taqiyah imam bisa diketahui?

    Dan banyak lagi pertanyaan yang susah didapatkan jawabannya.

  68. Mengapa Syi’ah (Kini) Pakai Istilah Takfiri-Wahabi Kepada Ahlu Sunnah?

    Oleh : Multazim Jamil

    JAKARTA (voa-islam.com) – Konflik Sunni-Syi’ah saat sekarang ini sedang menjadi trending topic di ranah pergerakan. Bisa jadi, ini merupakan efek “domino” dari Jihad Suriah yang sedang menggelora. Di Indonesia sendiri, kasus pengusiran warga Syi’ah di Sampang, Madura, Jawa Timur merupakan konflik fisik yang cukup menggentarkan komunitas Syi’ah.

    Dalam perang opini antara kubu Sunni dan Syi’ah, ada satu fenomena yang unik, yaitu penyebutan istilah Sunni oleh kubu Syi’ah, sering diganti dengan kata Wahabi atau Takfiri. Sementara, kubu Sunni masih tetap menggunakan kata Syi’ah sebagai sebutan bagi Syi’ah baik Nushairiyah, Imamiyah, dan sebagainya.

    Pada siaran Indonesia Lawyers Club (ILC) TV One, Selasa 25 Juni 2013 malam, salah satu narasumber, Haidar Bagir, CEO Mizan, menyebut kelompok Takfiri sebagai biang dari permasalahan Sunni-Syi’ah di Indonesia dan dunia.

    Berlanjut kemudian, terjadi perang opini di dunia maya lewat jejaring sosial Twitter. Pihak Sunni yang malam itu melakukan aksi twitstorm dengan hastag #SyiahBukanIslam, mendapat perlawanan dari pihak Syi’ah dengan hastag #IndonesiaTanpaTakfiri

    Sedikit melakukan perbandingan, labelisasi Takfiri juga digunakan oleh sekelompok warga Nahdhatul Ulama (NU) dalam perang opini melawan kelompok Fundamentalis, jauh sebelum konflik Sunni-Syi’ah ter-blow up dan menjadi headline media massa di Indonesia.

    Sudah mafhum (diketahui banyak orang) bahwa labelisasi Wahabi, Takfiri, Fundamentalis dan lain sebagainya adalah sematan serupa yang dialamatkan kepada Ahlussunnah yang bermanhaj Salaf (oleh kaum Kafir untuk mengadu domba sesama muslim, selain Syi’ah. Karena #SyiahBukanIslam).

    Pada 2003, RAND Corporation, sebuah lembaga think-tank bentukan Barat untuk analisis dunia Islam dan Timur tengah, melalui sebuah rekomendasi berjudul “Civil Democratic Islam: Parnters, Resources, and Strategies”. Rekomendasi berisi pemetaan kawan dan lawan, serta arahan-arahan bagi pemerintah negara-negara yang mayoritas berpenduduk Muslim untuk mengatasi terorisme.

    Rekomendasi ini diawali dengan klasifikasi umat Islam menjadi empat kelompok, yaitu Fundamentalis, Tradisionalis, Modernis, dan Sekuler. Pembagian kelompok ini berdasarkan fleksibilitas masing-masing kelompok terhadap ajaran Islam dan sikap terhadap demokrasi.

    Kelompok Fundamentalis adalah kelompok Islam yang memegang teguh ajaran Islam, bercita-cita menegakkan Syari’ah, dan paling getol menentang demokrasi. Dalam masyarakat kita, kelompok Fundamentalis ini lebih akrab dengan julukan Wahabi atau Takfiri. Sedangkan kelompok Tradisional adalah kelompok Islam yang masih berpegang pada budaya lokal dan seringnya menganggap kelompok Fundamentalis adalah musuh utama.

    …Syi’ah sadar, lawan mereka, secara istilah, adalah Ahlussunnah wal Jama’ah. Namun, jika menggunakan istilah itu sebagai sansak pukul berarti bunuh diri, karena akan berhadapan dengan jutaan warga NU…

    Pada poin kedua rekomendasi RAND Corporation disebutkan, “Support the traditionalists against the fundamentalists”. Adu domba antara kelompok Tradisionalis dan kelompok Fundamentalis, dijadikan strategi sebagai upaya untuk menghancurkan kelompok Fundamentalis.

    Dengan dibantu oleh kelompok Moderat dan kelompok Sekuler, diharapkan koalisi Tradisionalis-Moderat-Sekuler dapat mematikan pergerakan dan ideologi kaum Fundamentalis. Strategi adu domba inilah yang saat ini mungkin sedang diterapkan di Indonesia.

    Ormas Islam terbesar di Indonesia, NU mewakili identitas sebagai kelompok Tradisionalis di Indonesia. Sementara itu, Jaringan Islam Liberal (JIL) mewakili kelompok modernis, walau kini sudah kembang kempis karena dana dari donatur hampir habis.

    Tokoh-tokoh JIL, seperti Ulil Abshar Abdalla, Zuhairi Misrawi, Guntur Romli, dan lain-lain, sering mengklaim diri sebagai “Cendekiawan Muda NU”. Ya, duet Tradisionalis-Modernis seolah telah menjadi pasangan yang serasi, walau kadang muncul penentangan dari internal kalangan Tradisionalis sendiri terhadap pemikiran ala JIL.

    …Hal ini tentu berbanding terbalik dengan jargon Syi’ah yang selama ini mengusung anti-Amerika. Namun ternyata Syi’ah malah latah mengikuti skenario adu domba buatan lembaga riset Amerika, RAND Corporation…

    Nah, kembali ke masalah Syi’ah. Di manakah posisi kelompok Syi’ah dalam grand strategy adu domba buatan RAND Corporation ini? Mari kita cermati kembali penggunaan istilah dan labelisasi oleh pihak Syiah kepada Sunni.

    Penggunaan istilah Takfiri dan Wahabi oleh Syiah sebenarnya mendompleng tren yang sedang menjamur, sebagaimana kebiasaan kaum Tradisionalis yang sering menyematkan label Wahabi atau Takfiri kepada kelompok Fundamentalis.

    Ini menunjukkan kebingungan mereka untuk mengidentifikasi lawan mereka sesungguhnya. Syi’ah sadar, lawan mereka, secara istilah, adalah Ahlussunnah wal Jama’ah. Namun, jika menggunakan istilah itu sebagai sansak pukul berarti bunuh diri, karena akan berhadapan dengan jutaan warga NU. Jadilah ia terjebak dan membebek garis-garis arahan RAND Corporation di atas.

    Hal ini tentu berbanding terbalik dengan jargon Syi’ah yang selama ini mengusung anti-Amerika. Namun ternyata Syi’ah malah latah mengikuti skenario adu domba buatan lembaga riset Amerika, RAND Corporation. Lalu, masih relevankah slogan anti-Amerika bila mereka sendiri demen (suka dan mengikuti) dengan istilah-istilah bikinan Amerika? yang jelas, #SyiahBukanIslam. [Khal-fah]

  69. @ Thaifah dan konco2xnya

    Gue sarankan kepada elo semua untuk menggunakan OTAK eh, salah, AKAL kalian sekaliiiiiiiii ini aza,,,, ya,

    Sesuai dengan paham kalian yg mengataken bahwasanya HARAM MELAKUKAN TAWASUL KE KUBURAN DAN MELABELKANNYA DENGAN PERBUATAN SYIRIK.

    Mari kita perhatikan dengan seksama dan lebih mendetail pernyataan diatas yakni yaitu adalah sebagai berikut :

    kalimat tersebut SANGAT JELAS HANYA MENGHARAMKAN PERBUATAN ORANG HIDUP YG MELAKUKAN RITUAL TAWASUL TSB, BUKAN ORANG YG TELAH WAFAT DIDALAM KUBUR TERSEBUT BUKAN?

    Lantas kenapa mayat di dalam kuburan tersebut yg nggak tau ape2x yg jadi sasaran PELAMPIASAN KEBODOHAN KALIAN SEMUE ? bukankah lebih baik kelen nasehati dengan bijaksana dan penuh kesabaran? begitu yg diajarkan dalam syariat islam bukan?

    Emang opo salah mayat dalam kuburan itu rek? kok apes x itu mayat udeh tenang2x di alam kubur kok dibongkar , mau dibuat opo? mau lo buat zombie ?

    Rasulullaah SAW mencontohkan ketika menaklukan kota Mekah, cuman menghancurkan berhala2x yg ada didalam maupun disekitar Ka’bah aza, tapi tidak merusak Ka’bah seharusnya demikian jugalah yg kelen lakukan dengan menasehati mereka dengan penuh bijaksana dan lemah lembut serta penuh kesabaran bukan MAYAT YG GAK TAU APE2X JADI SASARAN ELO SEMUE

    MUNGKIN ELO SEMUE SALAH MENAFSIRKAN AYAT AL QUR’AN YG MENGATAKEN JIKA MAYAT SUDAH DI ALAM BARZAKH AKAN MENYESAL DAN AKAN MINTA DIKEMBALIKAN LAGI KE ALAM DUNIA UNTUK BERTOBAT DAN BERIBADAH KEPADA ALLAHSWT MAKANYA ELO SEMUA MAU MEMPRAKTEKAN PENAFSIRAN NGAWUR TERSEBUT YA MAKANYA ELO SEMUE SENTIMEN X SAMA MAYAT2X YG ADA DI ALAM KUBUR ?

    aya aya wae lo semue, ngawur tenan.

    goblok kok dipiara, gitu aza kok repot

  70. Salamun ‘ala manittaba’al huda
    Syirik yang dimaksudkan oleh Allah swt dan Rasulnya saw. mungkin berbeda dengan apa yang ditafsirkan oleh sekelompok atau beberapa kelompok yang ada sekarang. Oleh karena itu, fatwa syirik yang difatwakan oleh satu kelompok dari umat Islam belum tentu diterima kelompok lainnya. Kecuali kelompok pembuat fatwa syirik itu dijamin kebenarannya oleh Allah melalui bimbingan Jibril. Jika tidak, ya ga usah bongkar kuburan Para Sahabat Radhiyallahu ‘anhum. Sungguh pembongkaran kedua makan Shabat Nabi ra tidak etis dan terlalu tendensius untuk membuat perpecahan di kalangan ummat Islam.Bagaimana kata dunia non muslim???????melihat pembongkaran dan pencurian Jasad Suci ra.

  71. Anonymous said

    sok tau kabeh

  72. abu Muhammad said

    Dari siapa beritanya? Kalau dari pemerintah Suriah bohong besarlah! Syiah lah pembenci sahabat dan pencerca istri Nabi shollalahu alaihi wa salama. Ini lah faktanya!

  73. Tomi. said

    Astafirulloh al’azim…
    Trkutuk lah org yg berani brbuat sekejam it y allah .

    Amin y allah

  74. mr.blue said

    orang doa di kuburan di bilang minta sama kuburan…. akhirnya kuburan di acak2..

    orang doa di masjid ntar di bilang minta sama masjid… akhirnya masjid di acak2…

    orang doa di ka’bah di bilang minta sama ka’bah…ntr ka’bah di acak2… brani…?

    orang doa di rumah ntar di bilang minta sama rumah… akhirnya ruma di acak2..

    orang ngadem di pohon ntar di bilang minta “adem” sama pohon…akhirnyh pohon di acak2…

    orang berobat ke dokter ntr di sangka minta “kesembuhan” sama dokter…ntr rumah sakit di acak2….

    orang doa di multazam ntar di sangka minta2 sama multazam…

    orang minta duit sama bapak nya ntar di sangka minta “rezeki” sama manusia…

    orang berdoa di bumi…ntr di sangka minta2 sama bumi… akhirmya di acak2 dah…

    orang berdoa ngangkat tangan ke langit ntr di sangka minta2 sama langit…. bisa ngacak2 langit..?

    org yang berdoa di gereja..?
    org yg berdoa di kelenteng…?

    ko ngga di apa2in…. ? tkut ? krena yg ngisi bukan orang mati ? iyah bgtu..? ko ngga malu…? sewot nih…? apa mau so kalem..? biar di bilang okeh ? emang situ okeh ?

    ribet yah klo dikit2 syirik…dikit2 syirik…
    terlalu percaya diri sama “prasangka”,”presepsi”,”asumsi”, “imajinasi”, “fantasi” and “vicki lisasi”..hahahaha….
    prsangka buruk trus…emang udah di belah dadanya orang2 yg doa di makam,di masjid and lain2…? udah tau pasti ngga isi hatinyh minta ke siapa…? atau jangan2….cuman “prasangka” ajah….? masa w harus percaya sama prasangka doang..?

    sempiiit… sempiiit duniaa kayanyh……
    ntr klo di komen… ngatain…nyaci maki… alesan sih da’wah…. mudah2n ajah bner… sama caranyah di benerin….

  75. cacing yang hina said

    yang sebenar benarnya adalah yang di inginkan manu sia adalah kedamaian ketentraman dan ketenangan namun semua ini lekenario allah yang nyata dalam kehidupan penuh warna warni kita hanya bisa kembalikan kehendak robb INNALILLAHI WAINNA ILAIHI ROJI’UN hanya setan lah musuh yang nyata pada dalam diri kita dalam hawanafsu diri sendiri

Komentar "PILIHAN" akan diambil menjadi artikel KabarNet.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 4.906 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: