KabarNet.in

Aktual Tajam

Pengakuan Anwar Congo sang Pembantai PKI

Posted by KabarNet pada 30/09/2012

Jakarta – KabarNet: Sebuah pengakuan yang mengejutkan dari seorang bernama Anwar Congo, ia mengaku terang-terangan telah melakukan pembunuhan terhadap ribuan anggota dan organisasi sayap PKI dalam kurun waktu 1965-1966.

TAWA LEBAR menghias bibir seorang lelaki berjas hitam dipadu kemeja putih dengan topi koboi berlambang sherif di kepalanya. Seorang presenter televisi lantas memperkenalkan nama laki-laki itu. “Pak Anwar Congo.” Tepuk tangan sontak menggema.Sekelompok orang yang berseragam oranye loreng hitam yang duduk di deretan penonton tampak gembira dengan kehadiran Anwar di stasiun TV itu. Dari mereka inilah, tepuk tangan berasal. “Anwar Congo bersama rekan-rekannya menemukan sistem baru yang lebih efisien dalam menumpas komunis. Yaitu sebuah sistem yang manusiawi, kurang sadis, dan juga tidak menggunakan kekerasan berlebihan. Tapi ada juga langsung disikat habis saja ya,” kata presenter perempuan itu lagi.

Adegan lalu berpindah. Di sudut tak jauh dari presenter itu, Anwar yang berbaju hijau dipadu celana putih dan sepatu putih sedang melilitkan kawat ke leher seorang pria yang duduk berselonjor. Tangan laki-laki itu diikat ke belakang. “Pak, jangan disiksa dulu,” kata presenter itu begitu melihat Anwar mulai akan menarik kawat yang melilit leher pria itu. Anwar pun menengok dan memberikan senyum khasnya. Tak jelas kapan adegan talkshow itu digelar. Namun logo yang terpampang di sudut kanan atas merupakan logo kedelapan TVRI yang mulai dipakai sejak 1 April 2007 hingga kini.

Anwar merupakan sesepuh dalam organisasi massa Pemuda Pancasila (PP) di Provinsi Sumatera Utara. PP menjadi salah satu organisasi yang dilibatkan dalam pemberantasan PKI. Perlu diketahui, pemberantasan PKI yang dipimpin Letjen Soeharto dilakukan setelah terjadinya Gerakan 30 September pada 30 September 1965.

Pada 30 September 1965 itu, 7 perwira tinggi TNI AD di Jakarta diculik dan dibunuh. Berdasarkan catatan sejumlah buku sejarah, PKI disebut sebagai pelakunya. Beberapa minggu setelah tragedi itu, jutaan orang yang dituduh terlibat PKI pun dibantai. Banyak di antara korban itu adalah mereka yang tidak tahu menahu tentang pembunuhan para jenderal ataupun PKI.

Nah, Anwar mengaku telah melakukan pembunuhan terhadap anggota dan organisasi sayap PKI dalam kurun waktu 1965-1966 itu. Ini pengakuan yang sangat mengejutkan. Sebelumnya tidak pernah ada pelaku yang mengaku melakukan pembantaian terhadap orang yang diduga terlibat PKI. Pengakuan Anwar dan adegan talkshow yang mempertontonkan kemampuan Anwar membantai PKI ini terekam dalam trailer film garapan Joshua Oppenheimer berjudul The Act of Killing atau Jagal. Film ini telah diputar dalam Festival Film Toronto dan Festival Film Telluride, tetapi belum beredar di Indonesia. Inilah film pertama tentang peristiwa 1965 yang menggunakan sudut pandang pelaku.

Berbagai cuplikan yang didapat, kawat merupakan senjata andalan yang digunakan Anwar dalam pembantaian. Pembunuhan dengan lilitan kawat tergolong bersih, tanpa perlu ceceran darah. Ia tidak suka dengan bau dan kotornya ceceran darah. “Leher itu cuma segini,” ujar pria berusia 72 tahun itu sambil membuat ukuran leher dengan pertemuan jari kedua tangannya.

Kali itu perbincangan dilakukan Anwar bersama rekannya, Adi Zulkardi, dalam sebuah mobil VW Safari berkap terbuka. Keduanya merupakan rekan dalam pembantaian tersebut. Mereka berkeliling kota Medan untuk mengenang kembali pembantaian yang dilakukan. Tak ada rasa sesal dalam pembicaraan itu. Kisah pembunuhan pada 1965-1966 itu mengalir bersama canda dan tawa. Mereka menganggap pembunuhan terhadap orang yang disangka PKI dengan kawat sebagai sebuah prestasi .

Clipper (papan penanda scene) bertuliskan Arsan dan Aminah diketuk. Riasan bekas penyiksaan tertempel di muka Anwar dan Adi. Mereka siap berakting sebagai korban.

Namun adegan tak menunjukkan akting keduanya. Mereka justru sedang berdebat mengenai film yang hendak digarap. Safit Pardede dan Herman Koto, kader PP, dan beberapa orang ikut dalam pembicaraan itu. Mereka tengah mengerjakan pembuatan film berjudul Arsan dan Aminah. Film ini akan menggambarkan pembantaian yang mereka lakukan. “Kalau kita sukses bikin film ini, maka kita lebih kejam dari komunis. Tapi ini bukan kesaksian. Ini masalah image, jalan hati masyarakat kita. Tapi penilaian sejarah akan berputar 180 derajat, bahkan 360 derajat,” ungkap Adi.

…”Mimpi buruk telah menghantui ketika tidur, ia merasa mendengar suara korban yang telah dibunuhnya”…

Sebuah skenario film memang telah disiapkan. Semua aksi pembunuhan dengan metode yang pernah dilakukan, termasuk dengan kawat. Semua orang siap berakting sebagai korban maupun pelaku pembunuhan. Anwar terobsesi untuk menuntaskan pembuatan film ini. Mimpi buruk telah menghantui ketika tidur, ia merasa mendengar suara korban yang telah dibunuhnya. Film ini akan menutup mimpi-mimpi buruk itu. Namun ia tak ingin sebuah cerita yang berakhir dengan penyesalan.

Adegan terakhir yang diinginkannya adalah penyerahan medali oleh korban yang dibunuhnya. Medali itu diterimanya  karena mengantar korban ke surga. Penyerahan medali ini dilakukan di depan air terjun Sigura-Gura. Lenggok penari dengan iringan lagu Born Free menutup skenario film ini. Sesal bagi Anwar selesai di sini.

Pembuatan film ini berawal ketika Joshua membuat film  Globalisation Tapes pada tahun 2003. Ia sudah bertemu dengan pelaku pembantaian di daerah perkebunan sekitar kota Medan. Mereka selalu sesumbar mengenai pembantaian yang mereka lakukan pada tahun 1965. Namun pertemuan dengan Anwar baru terjadi pada 2005. Nama Anwar disodorkan kepada Joshua oleh beberapa veteran pelaku pembantaian. Anwar dan Adi dikenal sebagai pembunuh kejam di Sumatera Utara sebagai Pasukan Kodok.

The Act of Killing merupakan film di atas film. Film dokumenter ini membingkai film  Arsan dan Aminah yang dibuat Anwar. Film juga merekam semua adegan dan wawancara dengan Anwar di sela-sela syuting Arsan dan Aminah.

Lewat  The Act of Killing, Joshua menyajikan pengakuan yang mencengangkan dari pelaku pembantaian 1965-1966. Hingga kini pelaku ini merasa sebagai pahlawan. Mereka menganggap pembantaian itu layak dilakukan. “Kami angkat ceritanya, dari sisi pelaku yang membayangkan bahwa perbuatan kejahatan itu pantas  dilihat oleh publik sebagai sebuah aksi heroik,” ujar Joshua melalui surat elektronik, pada 28 September 2012.

Film ini jelas berlawanan dengan propaganda Orde Baru selama puluhan tahun. Masyarakat hingga kini takut atau kurang informasi ketika menerima kehadiran para pelaku pembantaian ini. Trailer film Jagal menunjukkan kedekatan pelaku pembantaian dengan PP, yang pada masa Orde Baru dinaungi oleh pemerintah. Joshua memperingatkan banyak cuplikan yang beredar tidak masuk dalam edit final film Jagal yang ditayangkan di Toronto. Ia menyarankan untuk menunggu pemutaran resmi di Indonesia.

…“Ya saya merasa ditipu. Satu contoh saja judulnya sudah diubah, tanpa minta persetujuan saya”…

Meski belum beredar di negeri ini, film ini langsung menyulut kontroversi. Anwar merasa ditipu oleh sutradara karena mengubah judul film tanpa sepengetahuannya. Bahkan hingga kini ia belum menonton hasil final film The Jagal/The Act of Killing itu. “Ya saya merasa ditipu,” kata Anwar dalam jumpa pers bersama Pengurus PP Sumatera Utara, Rabu 26 September 2012.

Ketua MPW PP Sumatera Utara, Anuar Shah tak mempertimbangkan untuk melakukan tuntutan. “Bisa. Kita akan tuntut,” tandasnya. Meski merasa ditipu, Anwar tidak membantah melakukan pembantaian pada PKI. “Sampai-sampai waktu  itu komunisnya kocar-kacir kita buat,” kata anwar. Apa pun kontroversinya, yang jelas The Act of Killing menambah bukti dugaan pembantaian di Sumatera Utara pascatragedi G30S benar-benar terjadi.

Japto: Ini Masalah Anwar Congo Bukan Masalah PP

Berikut  wawancara dengan Ketua Umum Majelis Nasional Pemuda Pancasila (PP) Kanjeng Raden Mas Haryo (KRMH) Japto Soelistiyo Soerjosoemarno kepada majalah detik usai Muswil PP DKI Jakarta di Twin Plaza Hotel, Jl. S. Parman, Jakarta Barat.

Bagaimana tanggapan Anda atas film the Act of Killing, yang menggambarkan adegan Pemuda Pancasila memburu orang-orang PKI di Sumatera Utara?

Begini, yang namanya Joshua Oppenheimer ini, dia itu produsernya dan juga sutradaranya. Dia mengatakan, membuat film di Indonesia tentang kepemudaan di Indonesia dalam rangka mengambil Ph.D atau gelar S3. Saya nggak tahu kalau dia ketemu Anwar Congo buat film, katanya membuat film pribadi tentang Anwar Congo, itu katanya. Nah, kebetulan kita di sana sedang ada Muswil PP di Medan waktu itu, Muswil PP itu juga diambil gambarnya. Juga waktu acara di DKI Jakarta, waktu itu acara pelepasan di kantor Kemenpora diambil juga gambarnya. Saya nggak tahu kalau maksudnya untuk mendiskreditkan PP, saya nggak tahu sama sekali. Karena kalaupun untuk mendiskreditkan PP itu sangat jauh sekali. Itu tahun 1966, kita kan di tahun 1980-an, saat itu saya saja belum di PP dan masih pelajar.

Apakah Anwar Congo sudah lama di PP?

Memang Pak Anwar Congo merupakan tokoh PP, tapi PP di Medan. Namun itu yang digambarkan di film itu sebuah kejahatan terhadap komunis saja, kalau nggak salah ya. Kenapa nggak sebaliknya? Karena sebelumnya ada pembunuhan sekitar 80 orang, kenapa itu tidak diceritakan? Ini sebenarnya pembalasan atas perbuatan keji orang-orang komunis.

Apakah PP memang dilibatkan dalam kasus pemberantasan PKI tahun 1965?

Oh tidak hanya di sana saja, tapi seluruh Indonesia loh. Kalau waktu PKI, di DKI Jakarta yang merebut DPC-DPC PKI itu tidak hanya PP saja, ada unsur kepemudaan lain seperti Pemuda Ansor. Begitu juga di Jawa Timur, tidak hanya PP,ada Ansor dan Angkatan Darat. Jangan salah.

Apakah  PP akan mempersoalkan film ini?

Mempermasalahkan apa? Ini masalah Anwar Congo, bukan masalah PP. Karena orang yang berbuat itu yang bermasalah. PP sebetulnya organisasi kemasyarakatan dan pemuda saja. Jadi biar itu diselesaikan Anwar Congo sama yang membuat film.

Kalau sampai film ini terpublikasi secara luas, apalagi ada penggambaran PP bagaimana?

Ya silakan dikeluarkan, asal acara-acara musyawarah kita tidak dimasukkan. Kalau itu dimasukkan, ini yang akan saya ajukan klaim ke pembuatnya. Itu saja. ****

Anwar Congo Merasa Ditipu

AnwAr Congo, tokoh organisasi massa Pemuda Pancasila (PP) Medan yang menjadi tokoh utama dalam film “The Act of Killing” besutan Joshua Oppenheimer, merasa telah ditipu oleh sang sutradara. Berikut pengakuan Anwar dalam jumpa pers di kantor Pemuda Pancasila Medan.

Kalau kita bicara mengenai sosok Joshua, kirakira keadaannya seperti apa? Apakah ada order tertentu?

Saya kira tidak seperti itu. Itu hanya kebijaksanaan dia sendiri untuk melengkapi tugas program S3-nya. Dia membuat film itu saya juga heran. Film dokumenter itu diambil dari sejarah Pemuda Pancasila pada tahun 1965.

Saat itu situasinya seperti apa?

Kita akui situasi saat itu memang cukup menegangkan, di mana kalau kita tidak siap, kita yang disiapkan orang.

Berarti ada ancaman?

Ya ada ancaman. Setelah film diputar, apa tanggapan masyarakat? Sampai saat ini saya bingung, karena saya belum pernah lihat. Sampai sekarang ini, macam mana bentuk film dan apa ceritanya saya juga nggak tahu.

Pada saat itu Anda bergabung dengan barisan komando aksi, siapa yang mengajak?

Itu hasrat hati macam-macam pemuda, kami para pemuda antusias terhadap PKI yang telah berbuat seenaknya. Mencederai pemuda. Apalagi kita itu pemuda  yang agak susah. Jadi Pemuda Rakyat itu satu-satunya musuh berat kita waktu itu.

Bergerak sendiri-sendiri, atau ada yang mengatur?

Nggak, dulu ada namanya komando aksi waktu itu, Pak Kamal (Kamaluddin Lubis, sesepuh PP Medan) juga di dalam, Pak Effendi ketua aksinya juga. Di situ kegiatan mulai membesar sampai-sampai komunisnya kocar-kacir kita buat.

Pak Anwar khawatir tidak dengan reaksi masyarakat?

Semua saya serahkan saja ke pengacara saya.

Anda ingin melihat film itu secara utuh?

Siapa yang nggak mau melihat? Tapi sampai sekarang saya belum pernah lihat.

Komunikasi terakhir dengan sutradaranya?

Sudah ada satu bulan nggak komunikasi lagi.

Adakah Anda membuat perjanjian tertulis dengan Joshua (sutradara, red)?

Ada beberapa, cuma saya tidak pernah mengerti karena pakai bahasa Inggris. Kan saya sudah pernah cerita tentang pendidikan saya. Saya hanya orang lapangan. Saya nggak tahu ini apa, artinya apa. Ada memang, tapi saya nggak tahu apa yang diteken.

Anda punya berkasnya?

Nggak tahu saya. Sudah saya cari, tapi nggak kelihatan. Nggak ingat ditaruh di mana.

Kapan Anda gabung dengan komando aksi?

Dari awal saya sudah gabung, karena kantor tempat saya kerja dengan komando aksi itu sebelah-sebelahan.

Inisiatif sendiri?

Inisiatif sendiri.

Anda merasa ditipu dengan film ini?

Ya saya merasa ditipu. Satu contoh saja judulnya sudah diubah, tanpa meminta persetujuan saya. *****

Joshua Oppenheimer : Aneh kalau tak Ada Kontroversi

Berikut  wawancara Monique Shintami dari majalah detik dengan sutradara The Act of Killing, Joshua Oppenheimer:

Bagaimana Anda memfilmkan Anwar Congo dalam The Act of Killing?

Saya mendengar nama Anwar Congo pertama kali dari wawancara dengan banyak pembunuh dan penggerak pembantaian massal 1965-1966 di Sumatera Utara selain membaca dari literatur mengenai premanisme di Medan atau dari buku sejarah resmi

Pemuda Pancasila. Lalu saya datangi rumahnya dan menyatakan maksud saya untuk mewawancarainya dan membuat film dokumenter mengenainya.

Berapa Anwar Congo dibayar? 

Mengenai pembayaran, kami memberikan apa yang kami sebut sebagai ‘uang ganti kerja’ untuk setiap hari yang dihabiskan syuting bersama kami. Bukan honor, bukan uang kontrak atau semacamnya. Jangan bayangkan kami melakukannya seperti manajemen artis atau agensi untuk selebriti. Kami menekan serendah mungkin jumlah uangnya. Sebetulnya, untuk menjamin bahwa tidak seorang pun termotivasi ikut film kami karena uangnya. Yang kami takutkan, kalau bayarannya tinggi, nanti akan ada banyak orang yang datang mengarang-ngarang cerita agar terus bisa ikut film ini. Untuk setiap cerita yang disampaikan, kami ingin itu disertai dengan keinginan dan ketulusan bercerita.

Anwar Congo merasa tertipu, bagaimana tanggapan Anda?

Semua orang yang sudah melihat film ini sepenuhnya akan menyadari tidak mungkin semua adegan yang terdapat di dalamnya dibuat dengan menipu para partisipannya. Bagaimana mungkin? Begitu banyak adegan dibuat dengan disutradarai oleh mereka sendiri, skenario untuk film fiksi yang mereka buat ditulis oleh teman-teman Anwar Congo, dan Anwar menceritakan bagaimana ia membunuh dan membuang mayat korbannya di acara TVRI yang disiarkan untuk umum.

Mereka semua tahu bahwa saya merekam semuanya, tidak ada kamera tersembunyi digunakan dalam film ini. Setiap kali kami membuat film bersama mereka saya selalu menjelaskan apa yang sedang kita kerjakan dan untuk apa. Tanpa kesediaan dan pemahaman para partisipannya, film ini tidak akan pernah ada. Saya pun telah menjelaskan apa fungsi film fiksi Arsan dan Aminah dalam pembuatan film dokumenter mengenai dirinya itu. Saya yakin Anwar paham.  Kalau Anwar kecewa dengan film ini, karena tujuan Anwar untuk mengglory-fikasi kekerasan tidak tercapai, semua orang seharusnya maklum, tujuan film ini tidak mungkin ‘mengamini’ propaganda bohong Orde Baru bahwa kalaupun ada kekerasan terhadap jutaan orang di tahun ‘65-‘66, itu karena diperlukan untuk mempertahankan keutuhan bangsa, semacam necessary evil (kejahatan tapi diperlukan) yang heroik. Itu bohong, yang ada hanya evil, hanya kejahatan.

Apakah sudah memperhitungkan film ini jadi kontroversi?

Kami tahu dan sadar bahwa film ini akan membawa kontroversi terutama di Indonesia, ini sama sekali tidak di luar dugaan kami. Tentu saja film ini jadi kontroversi. Kalau tidak ada kontroversi, maka film ini gagal membawa tugasnya. Bagaimana tidak, selama 47 tahun pembantaian massal terhadap jutaan orang yang dituduh terlibat dalam operasi militer yang amburadul bernama G30S tidak pernah diakui terjadi, ditutup-tutupi, dan tidak disebutkan dalam pelajaran sejarah. Negara belum minta maaf, para pelaku tidak ada yang diadili apalagi dihukum. Sebuah genosida yang penting dalam skala dunia, di negeri sendiri dibicarakan pun tidak. Dan kami angkat ceritanya, dari sisi pelaku yang membayangkan perbuatan kejahatan itu pantas dilihat oleh publik sebagai sebuah aksi heroik. Kami melawan propaganda yang gencar dilancarkan Orde Baru selama berpuluh tahun, tidak heran kalau menjadi kontroversi. Yang mengherankan kalau tidak ada kontroversi.

Berapa lama pembuatan film ini?

Tujuh tahun, dari Agustus 2005, pertama kali saya berjumpa dengan Anwar, sampai 2012.

Apakah kesulitan terbesar yang Anda hadapi?

Kesulitan yang terbesar sebetulnya adalah bagaimana saya meyakinkan diri saya bahwa apa yang saya lakukan ini benar dan bermanfaat bagi kemanusiaan. Film ini mempertanyakan cara kita membayangkan diri kita sehari-hari, dan film ini menolak cara gampangan meyakinkan diri bahwa kita ini ‘orang baik’ semata-mata karena kita meyakininya demikian.

Akankah Anda akan meluncurkan film ini di Indonesia? Kapan?

Tentu saja. Saat yang tepat tentunya ketika film ini diputar perdana (premiere) di Indonesia, tapi kami belum bisa memastikan kapan dan di mana.Anwar Congo mengaku belum menonton film ini.

Mengapa Anda tidak memperlihatkan film ini kepada Anwar?

Kalau Anda menonton film ini, Anda akan melihat bagaimana Anwar sangat terpukul, bahkan secara fisik, ketika menonton salah satu adegan yang membangkitkan trauma psikologis dalam dirinya. Sebelum film ini diluncurkan di Toronto, saya menelepon Anwar dan menyampaikan minggu depan film ini akan main di Festival Film Toronto. Anwar minta agar ia bisa ikut menonton gala premiere film itu di Toronto. Alasan di atas adalah satu yang saya sampaikan, mengapa tidak mungkin bagi kami untuk membawa Anwar ke Toronto atau memutarkan film ini kepadanya.***

Film The Act of Killing bercerita tentang kehidupan Anwar Congo di masa muda. Dulunya, Anwar dan gerombolannya hanyalah preman kelas teri pencatut karcis bioskop, tempat mereka nongkrong. Ketika pemerintahan Sukarno  digulingkan pada 1965, Anwar ‘naik pangkat’. Dia diangkat menjadi pemimpin pasukan pembunuh, membantu tentara  dalam membunuh lebih dari satu juta orang. Korbannya adalah orang-orang yang dituduh komunis, etnis Tionghoa, dan para intelektual. Perjalanan ‘lembah hitam’ itu dilakoni Anwar dan kawan-kawa selama satu tahun.

Anwar Congo selaku pemeran utama dalam film itu belum pernah sekali pun melihat film ‘The Act of Killing’. Dia merasa kecewa pada sutradara. Apalagi saat pembuatan dia diberitahu film itu berjudul ‘Arsan dan Aminah’, bukan ‘The Act of Killing’. Anwar pun merasa ditipu. Majelis Pimpinan Wilayah (MPW) Pemuda Pancasila (PP) menilai film itu melenceng dari kebenaran karena disajikan sepotong-sepotong. Dia pun berencana membuat film tandingan. Anwar Congo yang oleh MPW PP dianggap sebagai sesepuh Pemuda Pancasila di Medan, Sumut dinilai hanya korban. [KbrNet/Slm]

Source: Majalah Detik, edisi 1 – 7 oktober 2012

______________________________________________________________________________________________________

Yang Terhormat Para Pengunjung KabarNet:

Apabila komentar yang Anda kirimkan tidak langsung muncul secara instan, kemungkinan komentar anda:

1] masuk ke dalam antrian traffic internet yang sedang sangat padat di server WP;

atau,

2] terjaring oleh Spam Software yang terpasang di situs KabarNet.

Kalau hal itu terjadi, mohon ditunggu paling lama 24 jam, karena Petugas Admin KabarNet secara berkala pasti memeriksa komentar pengunjung yang terjaring oleh Spam untuk diloloskan secara manual. Terima kasih.

30 Tanggapan to “Pengakuan Anwar Congo sang Pembantai PKI”

  1. Ketika manusia hidup di dunia, manusia boleh saja melakukan apapun yang mereka kehendaki, baik menyiksa sesama ataupun membunuhnya tak ada sedikit pun Tuhan mengintervensi tindakan kita,

    Cuma Tuhan akan menuntut konskwensi kita dikemudian hari, kebebasan apapun yang kalian lakukan tidak akan lepas dari tanggung jawab, sekecil apapun bentuknya terlebih masalah nyawa,
    Karena nyawa merupakan milik Allah langsung, jadi membunuh satu nyawa manusia tanpa alasan yang jelas hukumnya adalah Neraka,,

  2. Anonymous said

    kepada pp pancasila jangan lengah..di jalanan..revenge..

  3. bpkp said

    gila! kejahatan rezim penguasa kita

  4. ade vil said

    Mengejutkan…….

  5. ali hamid said

    Kenapa ga ada yang membahas ttg korban kekejaman pki ? Berapa banyak ulama,tokoh masyarakat,santri,intelektualis yang telah dibantai oleh pki ?bagaimana pki selama bertahun2 melukai hati ummat islam melalui berbagai aksi yg dilakukan lekra dalam melecehkan aqidah islam,jangan membebek dong,lihat kenyataan sejarah,kejadian 65-66 itu adalah reaksi balik terhadap kebrutalan dan kebiadaban pki.

  6. Woy Ali Hamid, kekejaman PKI yang mana? Jangan dibiarkan. Laporkan ke Komnas HAM, diusut, siapa korbannya, di mana saja, siapa pelakunya. Laporkan.

    Laporan masyarakat mengenai kekejaman yang dilakukan terhadap orang yang dituduh komunis sudah dilaporkan, dan hasilnya, Komnas HAM menerbitkan laporan Pelanggaran HAM Berat 1965-1966 dan disampaikan ke pemerintah untuk ditindaklanjuti.

    Dari penyelidikan Komnas HAM selama 4 tahun dan dari laporan setebal 800 halaman itu kita tahu bahwa pembantaian dan kekejaman terhadap orang yang dituduh komunis (tidak semuanya anggota PKI) memang terjadi, meluas, sistematis, dan sungguh keji.

    Nah, sekarang, kekejaman PKI. Di mana, kapan, siapa korbannya, siapa pelakunya. Laporkan.

  7. Medan, 10 Oktober 2012
    Kepada Yang Terhormat,
    Pemimpin Redaksi Majalah Tempo
    di-
    Kebayoran Centre
    Jl. Kebayoran Baru, Majestik
    Jakarta 12240
    red@tempo.co.id

    Saya yang bertanda tangan dibawah ini;

    Nama : H. Yan Paruhum Lubis alias Ucok Majestik
    Tempat, Tgl.Lahir : Sibolga, 22 – 12 – 1934
    Alamat : Jl. Melati Raya No. 4 Blok XIX Lingk. XI Helvetia-Tengah
    Medan, 20124
    HP : 081264408584
    Jabatan : – Majelis Pertimbangan Organisasi Majelis Pimpinan –
    Nasional Pemuda Pancasila.
    – Pinisepuh Pemuda Pancasila.
    – Mantan Ketua Kubu Pancasila Sumut dan Kordinator
    Pemuda Pancasila Kota Medan.

    Bersama surat ini menyampaikan Hak Jawab dan Bantahan sebagaimana diatur dalam UU No. 40 Tahun 1999, Pasal 5: (1), (2), (3); Pasal 18: (2); Peraturan Dewan Pers No.9/Peraturan-DP/X/2008, dan Kode Etik Jurnalistik; terkait pemberitaan Majalah Tempo Edisi 1-7 Oktober 2012, karena terjadi pemberitaan yang tidak benar disebabkan kekeliruan dan tidak akuratnya fakta juga data dalam pemberitaan berjudul: Para Algojo 1965 Pengakuan Anwar Congo; Dari Serdang Bedagai Sampai Medan; Kol 2 Hal 113:

    “…………Anwar dikenal sebagai preman bioskop. Dia dulu menguasai pasar gelap karcis di Medan Bioskop. Oppenheimer menemukan bukti bahwa anggota pasukan pembunuh di Medan pada 1965 rata-rata direkrut dari preman bioskop”.

    “…………Mereka membentuk pasukan pembunuh yang terkenal dan ditakuti di Medan, yaitu Pasukan Kodok. Pasukan ini berada dibawah sayap pemuda partai Ikatan Pendukung Kemerdekaan Indonesia, yang didirikan Jendral AH. Nasution: Pemuda Pancasila. Di Pemuda Pancasila Anwar bisa dikatakan salah satu pendiri dan pinisepuhnya”.

    Kemudian pada Kolom 3 Hal 113:

    “…………..Oppenheimer mempertemukan Anwar dengan kawan lamanya, Ibrahim Sinik, pemilik harian Medan Pos yang lantai atas kantornya sering digunakan Anwar untuk melakukan pembantaian”.

    Tidak akuratnya fakta dan data juga terjadi dalam judul berita, Algojo dan Narasumber Skripsi: Hal 116 Kolom 2; “Sikapnya ini berbeda jauh dibanding saat dia menjelaskan caranya menghabisi orang PKI. Dengan mengambil lokasi lantai atas kantor Medan Pos”.

    Meluruskan pemberitaan diatas bersumber pada Film The Act of Killing karya Joshua Oppenheimer yang mengambil setting dan latar belakang peristiwa demo Kampung Kolam pada 25 Oktober 1965 (penggambaran dalam film tentang sebuah kawasan/perkampungan yang diserang massa Pemuda Pancasila dibantu tentara), dan Majalah Tempo memuatnya tanpa melakukan cek dan ricek ulang kepada saya sebagai salah satu pendiri(pembentuk) Pemuda Pancasila di Sumut yang masih hidup selain Alm. Kosen Cokrosentono dan Alm. HMY. Efendi Nasution alias Fendi Keling, maka saya perlu memberikan hak jawab dan bantahan agar tidak terjadi pemberitaan yang tidak objektif, bias, serta pengkaburan dan pemutarbalikkan sejarah perlawanan masyarakat Sumatra Utara terhadap komunis ditahun 1965. Sekaligus membabi buta menuding organisasi Pemuda Pancasila dijadikan militer melakukan pembantaian massal masa Komunis di Sumatra Utara dan Kota Medan

    Tidak benar dan tidak ada sekelompok pembunuh yang mayoritas adalah preman bioskop, yang kemudian direkrut tentara dan disebut Pasukan Kodok di Sumatra Utara ataupun Kota Medan saat itu. Jika ada anggota Pemuda Pancasila yang direkrut untuk menjadi pembunuh dalam sebuah unit khusus yang disebut Pasukan Kodok, sebagai Ketua Kubu Pancasila Sumut serta Kordinator Pemuda Pancasila Kota Medan dimasa itu, tentunya saya wajib tahu terhadap keberadaan unit itu demikan juga siapa saja anggota Pemuda Pancasila yang direkrut didalamnya. Jadi keterangan seluruh narasumber Joshua Oppenheimer sebagaimana dituangkan dalam film The Act of Killing terhadap keberadaan Pemuda Pancasila di Sumut dan Kota Medan soal pembantaian massal yang dikordinir militer adalah keliru, bercampur fantasi dan euphoria serta tidak didukung fakta dan data yang terjadi saat itu.

    Jika disebut sebagai keterangan atau pengakuan pribadi dari seseorang maupun beberapa orang yang mengaku sebagai pelaku pembunuhan dan pembantaian massal, dan mereka juga anggota organisasi Pemuda Pancasila, keterangan ini juga tidak dapat diyakini keakuratan fakta serta datanya, sebab tidak pernah ada pembantaian massal yang dilakukan dalam kantor Pemuda Pancasila. Apalagi saat itu, kantor dikawasan Pekong Lima, merangkap kantor Redaksi Harian Cahaya, juga kantor bersama IPKI Sumut dengan Ketua Kerani Bukit, Kantor IPKI Medan dengan Ketua Dana, Kantor Pemuda Pancasila Sumut dengan Ketua MY Efendi Nasution dan Kantor Kubu Pancasila Sumut merangkap Kordinator Pemuda Pancasila Kota Medan, yakni saya, Yan Paruhum Lubis. Dan terakhir menjelang pecahnya peristiwa penculikan dan pembunuhan para jendral di Jakarta, menjadi Kantor Dastagor Lubis yang ditunjuk Partai IPKI Sumut menjadi Ketua Pemuda Pancasila Kota Medan. Setelah sebelumnya kantor bersama kami adalah di Jl. Veteran(bersebelahan dan tidak telalu jauh dengan dengan Kantor Jl. Sutomo).

    Materi lain yang tak kalah pentingnya untuk dikoreksi dengan Hak Jawab dan Bantahan, yakni pembantaian dilantai atas kantor Harian Medan Pos. Kantor Harian Medan Pos saat ini berlokasi di Jl. Perdana 107-109 Medan, kantor dan nama Medan Pos baru ada sejak tahun 1973. Penulisan 9 Mei 1966 pada halaman satu bagian depan atas Koran Medan Pos, merujuk pada historis jika sebelum pengalihan kepemilikan kepada Ibrahim Sinik, koran bernama Sinar Pembangunan. Sebelumnya dimasa G-30/S media tadi bernama Harian Cahaya dan berkantor di Jl. Sutomo(Kantor Darah-Pekong Lima dalam dialog Anwar Congo saat berkeliling dengan mobil bersama teman-temannya), bangunan milik Kerani Bukit Ketua IPKI Sumut. Harian Cahaya saat itu dipimpin oleh Pemimpin Redaksi Arsyad Noeh(kerabat kandung Afnawie Noeh, Ketua BPRPI Sumut), dengan Sekretaris Redaksi So Aduon Siregar. Jadi jelas tidak pernah ada pembantaian di lantai atas kantor Harian Medan Pos sebagaimana ditulis dalam berita Tempo.

    Ketika Harian Cahaya masih terbit, AM. Sinnik(kerabat kandung Ibrahim Sinik, bertanggungjawab dalam pendistribusian media ini, sementara Ibrahim Sinik saat itu sebagai pentolan dan aktifis MURBA Sumut beraktifitas menangani usaha dagang keluarganya sebagai distributor buah-buahan di Medan. Jadi yang bersangkutan belum masuk dalam jajaran redaksi Harian Cahaya ataupun jurnalis Harian Cahaya.

    Hingga pemberitaan edisi Tempo terkait Film The Act of Killing, masih saya sendiri yang disebut sebagai Pinisepuh Pemuda Pancasila, kehormatan itu diberikan organisasi untuk mengenang sejarah eksistensi Pemuda Pancasila menghadapi panasnya bara Komunis di Indonesia, juga di Sumatra Utara dan Kota Medan kurun 1963 -1967, khususnya pengorbanan 9 orang anggota Pemuda Pancasila yang dibantai Komunis dalam priode itu. Serta melihat fakta hingga saat ini tinggal saya sendiri pendiri Pemuda Pancasila di Sumatra Utara dan Kota Medan yang masih hidup, selain Alm. Kosen Cokrosentono dan Alm. HMY Efendi Nasution.

    Untuk membantu Redaksi Tempo memahami Hak Jawab dan Bantahan, akan saya berikan kronologis peristiwa yang terjadi yang menjadi satu kesatuan yang utuh dalam Hak Jawab dan Bantahan, dan kewajiban Redaksi Majalah Tempo memuatnya secara utuh. Hak Jawab dan Bantahan saya juga harus dimuat di group Majalah Tempo, yang juga ikut menyiarkan pemberitaan dari Film The Act of Killing, sebagai bentuk permintaan maaf dari Redaksi Majalah Tempo lalai hingga meloloskan berita yang tidak benar, karena tidak akuratnya fakta dan data yang disajikan serta cenderung keliru kepada khalayak tentang Pemuda Pancasila. Hingga cenderung menyesatkan publik, masyarakat yang selama ini menjadi pembaca setia-termasuk saya pribadi yang juga pembaca setia Majalah Tempo.

    Pemuatan secara utuh Hak Jawab dan Bantahan sekaligus kronologis yang saya informasikan, sekaligus untuk koreksi adanya unsur plagiat yang dilakukan Redaksi Majalah Tempo, dengan memuat informasi yang ada dalam The Act of Killing dalam berbagai artikel yang berhubungan dengan pemberitaan dengan Judul Utama: Pengakuan Algojo 1965 dan dipecah menjadi sub-sub judul seperti tersebut diatas, menjadi seolah-olah adalah reportase Jurnalis Majalah Tempo, padahal adalah petikan-petikan dari synopsis Film The Act of Killing dan pernyataan Joshua Oppenheimer. Lalu disiarkan untuk publik tanpa konfirmasi kepada saya sebagai pihak yang mengetahui kronologis peristiwa perlawanan masyarakat Sumatra Utara dan mau tidak mau melibatkan Pemuda Pancasila terhadap Komunis dimasa itu, termasuk peristiwa Demo Kampung Kolam. Bila Redaksi Majalah Tempo tidak memuat Hak Jawab dan Bantahan saya ini secara utuh, saya dengan sukarela akan menyelesaikan permasalahan ini melalui jalur hukum, baik secara pidana ataupun perdata sebagaimana diatur oleh UU Pokok Pers.

    Berikut akan saya terakan kronologis fakta dan data yang saya jalani agar Redaksi Majalah Tempo dan masyarakat mengetahui kondisi yang sebenarnya;

    Tahun 1954: Setelah menjatuhkan Pak Mamat yang terpeleset dari tangga Bioskop Majestik saat berusaha menampar saya, karena menanyakan mengapa Pak Mamat memukuli Entong, teman saya yang ingin masuk kedalam pembukaan bioskop paling megah di Kota Medan saat itu, saya dipanggil dengan sebutan Ucok Majestik. Sejak peristiwa itu, saya dipercaya beberapa pemilik bioskop di Medan menjalankan dan mengamankan operasional bioskop-bioskop di Medan, termasuk Bioskop Majestik yang saat itu adalah milik seorang turunan bernama A Hwat.

    Maret 1962: Sekretaris IPKI Sumut Kosen Cokrosentono yang juga Kepala Penerangan Propinsi Sumut, sekaligus guru pengajar Pancasila di era Presiden Soekarno, bersama Ketua II Partai IPKI Bidang Pemuda MY. Efendi Nasution membawa saya ke Jakarta untuk bertemu Ratu Aminah Hidayat di Menteng Raya 70, dan bertemu Jendral AH. Nasution di Cijantung. Ratu Aminah dan Jendral AH. Nasution minta kami membentuk karyawan IPKI(sayap partai), seperti Kubu Pancasila, Pemuda Pancasila, Sarjana Pancasila dst, di Sumut dan Kota Medan, dengan visi misi menjaga tetap utuh tegaknya 4 Pilar Kebangsaan. Ratu Aminah Hidahat menerangkan, awalnya pada tahun 1959, IPKI membentuk Pemuda Patriotik. Dan pada tahun 1960 dalam kongres pertama IPKI di Lembang-Bandung, Pemuda Patriotik berubah nama menjadi Pemuda Pancasila.

    Juni 1963: MY. Efendi Nasution dilantik menjadi Ketua Wilayah Pemuda Pancasila Sumut di Balai Selekta Jl. Listrik Medan(saat ini lapangan kosong disebelah Gedung Pendam I/ BB), saya yang tidak hadir dalam acara pelantikan tadi, kemudian ditunjuk menjadi Ketua Kubu Pancasila Sumut merangkap Kordinator Pemuda Pancasila Kota Medan oleh Kerani Bukit dan Kosen Cokrosentono. Dengan kantor di Jl. Veteran-dekat Jl. Sutomo. Dan 6 bulan kemudian pindah kekantor di Jl. Sutomo(Pekong Lima) sebagai kantor bersama, di gedung milik Kerani Bukit. Sebagai kordinator Pemuda Pancasila Kota Medan saya menunjuk pengurus ranting kelurahan pertama Pemuda Pancasila di Medan yakni Ranting Pulo Brayan dipimpin Saibun Usman, kemudian saya menunjuk pengurus kecamatan pertama yakni Medan Barat dipimpin Nikolas Pulungan(pemilik Medan Bioskop, Orion Bioskop dan Orange Biokop). Dibentuk juga Kubu Pancasila unit angkatan darat laut dan udara dipimpin Anton Nasution.

    Untuk memperkuat organisasi Kubu Pancasila Sumut dan Pemuda Pancasila Sumut, saya tempatkan orang-orang anggota Pemuda Pancasila dan Kubu Pancasila di bioskop-bioskop sebagai pekerjanya, seperti menjadi Acting Manajer- Supervisor-atau Mandor Besar, yaitu: Bioskop Majestik-Kelly, Bioskop Rex-Dastagor Lubis, Bioskop Deli -Abdullah Teeng dan Syarbaini Tanjung (Ten), Medan Bioskop-Rosiman(pengamanan Medan Bioskop saya ambil alih dari kelompok pemuda Jl. Buntu-PJKA yang saat itu dipimpin Adong), Bioskop Cathay-Barik dan Amran YS(pengamanan Cathay saya ambil alih dari Manis Sembiring dkk), Bioskop Orion-Dahlan, Bioskop Morning-Bakti Lubis, Bioskop Kok Tay-Jep(seorang Pemuda Minang yang biasa kami panggil Jepang), Bioskop Kapitol-Witchin, Bioskop Astanaria-Dame. Hampir setiap malam, saya, Fendi Keling dan Dastagor Lubis menyempatkan diri berbincang perkembangan terakhir Sumut dan Medan, diruangan atas belakang gedung bioskop Rex-Ria(saat ini sebuah restoran didepan gedung UNILAND Medan), sesekali teman Fendi bernama Sahat Gurning bergabung dalam pembicaraan kami.

    17 Agustus 1964: Terjadi bentrok fisik pertama antara massa Pemuda Pancasila dengan Pemuda Rakyat dalam peringatan HUT RI, saya tidak terima hardikan Wakil Ketua Pemuda Rakyat Sumut-Hamid yang memerintahkan agar Pemuda Pancasila berbaris dalam parit, sebab lapangan menurutnya hanya untuk PKI dan ormasnya. Hamid kemudian melakukan propaganda dengan melapor kekantor Kodim dan PM, bahwa Pemuda Pancasila yang saya pimpin berteriak-teriak minta PKI dan ormasnya dibubarkan. Sesuatu yang mustahil karena pada saat itu kami hanya berjumlah 40 orang, diantara ribuan massa PKI yang memenuhi Lapangan Benteng. Saya ditahan Pasi I Kodim Medan Kapten Datuk Akhtar B dan wakilnya Letnan Ramli Markam, namun selang beberapa jam kemudian bebas setelah dijemput Kosen Cokrosentono. Alm. Efendi Nasution yang berjanji akan menyusul saat kami bergerak dari kantor IPKI Sutomo menuju Lapangan Benteng karena ada urusan partai, hingga selesai acara tidak hadir. Dari 40 orang anggota Pemuda Pancasila yang ikut parade ini(namanya dicatat dalam buku besar Partai IPKI termasuk MY Efendi Nasution), tidak ada satupun mereka yang jadi narasumber Joshua yang keterangannya dijadikan dasar pembuatan film The Act of Killing. Anggota Pemuda Pancasila yang ikut HUT RI ini yang sebahagian adalah pengurus IPKI antara lain: Lilik(Kp. Keling), Dahlan, Suhemi Tanjung, Syarbaini Tanjung, Abdullah Teeng, Siwadas(setelah Muslim ganti nama menjadi M. Yusuf), Berlin Tobing, Damos, Keriting, ,Rahmad Lubis, Kiting, Bakti Lubis, Yance, Syahruddin Nasution, Saibun Usman, Mamak Isu, Usman Sitohang, Gusar Panggabean(Abang Alm. Olo Panggabean), Witchin, Sarkunen, Dastagor Lubis, Viktor Sipahutar, Lilik(Glugur Bypass), Dana, Nurdin Ritonga, Iskak Idris, Sailan Daly.

    Sejak keributan Lapangan Benteng itu, PKI dan ormasnya terus melakukan provokasi kepada Pemuda Pancasila. Menjelang meletusnya G-30/S, dengan makin seringnya terjadi gesekan antara massa Pemuda Pancasila dengan PKI dan ormasnya, IPKI pada pertengahan 1965 menunjuk Dastagor Lubis sebagai Ketua Pemuda Pancasila Kota Medan.

    Setelah peristiwa Bandar Betsi(14 Mei 1965), Pemimpin Redaksi Harian Cahaya Arsyad Noeh melapor jika percetakan Mistika yang terletak disekitar Jl. Pemuda dekat kantor Polisi Sektor Barat, dan mencetak Harian Cahaya akan diserang Pemuda Rakyat, karena media itu adalah media yang pertama memuat tewasnya Pelda Sujono dalam peristiwa Bandar Betsi yang salahsatu tokohnya adalah Wariman. Malam harinya sekitar 5 truk masa Pemuda Rakyat yang datang kelokasi percetakan untuk membakar percetakan Mistika berhasil kami halau, namun kepada Polisi Sektor Barat yang dipimpin Ramses Sihombing, mereka melapor jika saya memimpin masa Pemuda Pancasila mengejar dan memukuli mereka seraya minta PKI dibubarkan. Saya sempat ditahan satu malam, dan kembali dijamin oleh Kosen Cokrosentono. Gerah karena saya selalu menggagalkan aksi anarkhinya, PKI kemudian menyerang saya lewat Harian Gotong Royong dan Harapan dalam karikatur Yan Paruhum Lubis  Ucok Majestik  Setan Kota, dengan sketsa diri saya tengah menyembah Jendral AH Nasution yang duduk dikursi kerajaan, serta disamping kanan serta kirinya dikawal Jendral A. Yani dan Jendral Sambas. Setelah hampir 4 hari menyisiri kawasan Kesawan untuk mencari kantor koran dimaksud, akhirnya saya mengobrak-abrik kantor tadi, karena tidak ada satupun yang mengaku bertanggungjawab atas pemuatan karikatur. Sejak peristiwa itu, saya terpaksa mengungsi kerumah Fendi Keling dikawasan Mandala sampai beberapa bulan menjelang meletusnya peristiwa G-30/S, karena rumah saya di Sekip-Petisah-Majestik selalu didatangi patroli polisi yang ingin memberangus saya. Ketika terjadi peralihan pemerintahan, beberapa polisi yang dulunya rutin menyatroni saya, meminta maaf atas peristiwa itu dan mengatakan untunglah saya dapat lolos dari sergapan mereka, karena atasannya saat itu memerintahkan Tembak Ditempat Ucok Majestik.

    29 September 1965 malam: Bakti Lubis di gantung dan disalib massa Pemuda Rakyat di Padang Bulan Way(kini persimpangan S. Parman), Bakti walau luka parah jiwanya berhasil diselamatkan. Sebelumnya, pagi hari saat menyambut Subandrio dilapangan Polonia Medan kami, sempat meneriakkan yel-yel Hidup Pancasila kepada Subandrio di Lapangan Udara Polonia.

    30 September – 1 Oktober 1065 terjadi peristiwa penculikan dan pembunuhan jendral di Jakarta.

    Setelah aksi penculikan dan pembunuhan jendral di Jakarta, Pemuda Pancasila yang ikut bersama-sama dengan elemen masyarakat, pemuda, pelajar dan minta agar massa PKI menyerah dan membubarkan diri, makin sering terlibat kontak fisik dengan PKI dan masanya. Saya mencatat sejak 1964 hingga akhir 1965, pengurus dan kader Pemuda Pancasila yang wafat dibantai PKI sebanyak 9 orang, Mereka yang wafat adalah: M. Nawi Harahap(diabadikan sebagai nama jalan di Medan). Nawi, ditembak Buyung Jafar saat melintasi kediaman aktifis onderbouw PKI ini dikawasan Jl. Halat. Buyung usai melakukan penembakan dengan senapan berhasil melarikan diri. Hasanuddin, tewas di kawasan Kampung Baru saat rombongan Pemuda Pancasila dicegat Pemuda Rakyat.Yusril DS tewas dibacok saat berada disekitar kawasan Glugur dekat sebuah asrama militer. Mobil Willys yang saya kenderai bersama Raja Ganyang Damanik dan Damos, kacanya pecah karena hantaman batu dan benda keras dari massa Pemuda Rakyat. Saya turun kelokasi itu karena pimpinan Pemuda Pancasila disana, Sahat Gurning minta bantuan karena massa Pemuda Pancasila dikeroyok konsentrasi massa Pemuda Rakyat didaerah itu. Abdul Rahim Siregar, tewas di Kawasan Menteng saat rombongan kami melewati kawasan ini. Kaca mobil Willys saya kembali pecah dihantam peluru senapan Pemuda Rakyat. Rustam Efendi Koto dan Suwardi, tewas diserang massa Pemuda Rakyat dikawasan Lr. Gino, dr. med. Adilin Prawiranegara dan M. Yacub, tewas saat demo ke Kampung Kolam. Dan terakhir Ibrahim Umar kader Pemuda Pancasila yang juga anggota IPTR/Aceh Sepakat tewas saat demo Konsulat RRC di Medan.

    Setelah berhasil meminta massa PKI di belakang kawasan Kebun Bunga menyerah, massa Pemuda Pancasila kembali memimpin masa yang anti Komunis untuk demo kekantor SOBSI di Jl. Padang Bulan Way(kini Sp. Iskandar Muda). Masa PKI yang lari untuk bertahan dilantai 2 gedung itu, melempari kami massa demo dengan benda keras seperti batu, kayu bahkan tombak. Dalam tawuran ini, 11 orang anggota Pemuda Pancasila mengalami luka berat dan ringan. Pimpinan masa PKI, Zakir Soobo yang melihat anggotanya dikurung rapatnya pendemo yang berada dibahagian bawah gedung, turun kelantai bawah, sambil menggigit telunjuknya yang dibengkokkan(lambang Palu dan Arit), Zakir yang pegawai Pertamanan Kota Medan dan direncanakan bakal menjadi Walikota Medan bila revolusi berhasil sempat berteriak kepada saya, “Kau pikir sudah menang kau Cok”. Zakir Soobo tewas dalam tawuran ini, sementara kantor kami duduki. Usai demo, massa PKI yang menyerah kami serahkan kepada Datuk Akhtar B dan Ramli Markam yang datang kelokasi kejadian, setelah demo selesai. Setelah itu hingga seminggu setelah demo kami berkemah digedung itu. Hamid, Wakil Ketua Pemuda Rakyat yang kami temui di Gedung SOBSI ini, malam harinya usai demo menyerahkan dokumen propaganda PKI, yang dikubur dihalaman belakang kantor. Diantara tumpukan dokumen, ada terlihat satu berkas yang berisi tulisan, =. CGMI  VS HMI, -. Pemuda Rakyat  VS Pemuda Pancasila, -. Gerwani  VS Wanita Muslimin; -. Masuki lembaga pemerintahan dan partai-partai serta lancarkan politik Divide Et Impera; -. Lakukan segala cara untuk merebut kembali kekuasaan dengan merebut posisi-posisi penting birokrasi pemerintahan dan angkatan bersenjata; -. Ciptakan krisis kepercayaan kepada pemerintah, miskinkan rakyat, dan bila gagal jika terpaksa lakukan langkah penyelamatan(Strategi Survival) agar tidak hancur total. Seluruh dokumen yang disimpan dalam sebuah peti besi itu, kemudian saya serahkan kepada Kapten Datuk Akhtar B dan Letnan Ramli Markam.(versi Komnas HAM selain Zakir Soobo, tewas 2 orang penjaga kantor, dan kantor dibakar. Faktanya yang tewas adalah Zakir, sementara kantor masih ada hingga sekitar tahun 2004 jadi tidak benar terjadi pembakaran. Gedung lantas dijadikan kantor oleh beberapa organisasi seperti kantor Warakawuri, Pepabri, bahkan Perwalian Gereja Indonesia Sumut. Barulah pada akhir tahun 2004 kantor itu dipagari seng, dan beberapa tahun kemudian bangunan yang ada dalam pagar seng telah rata dengan tanah dirubuhkan pengembang)

    24 Oktober 1965: Rosiman bersama Rahmat Lubis mendatangi saya saat berada di Deli Bioskop, mereka menyampaikan bahwa Bang Fendi ingin bicara dirumahnya. Dalam pertemuan dengan Fendi di Mandala, Fendi mengatakan besok ada aksi masa ke Kampung Kolam, perkebunan terlantar yang menjadi basis para petinggi PKI, seperti Wariman(tokoh Pemuda Rakyat yang terlibat Bandar Betsi di Simalungun). Selain saya dan Fendi, terlihat beberapa teman Fendi mendampinginya, seperti Rosiman, Rahmat Lubis dan Arifin Labi-labi. Disepakati demo ke Kampung Kolam akan dilakukan lewat 3 jurusan, dengan massa dipimpin Fendi, massa yang saya pimpin, dan massa yang dipimpin tokoh masyarakat disekitar kawasan Tembung. Besok sorenya ketika berada dikawasan Kampung Kolam dan konsolidasi, kami ketahui Adlin Prawiranegara dan M. Yacub tidak ada dalam barisan. Saat konsolidasi itu, selain beberapa teman yang selalu mendampingi Fendi diatas, beberapa teman Fendi lainnya seperti Johan, Barik, Arifin, Mat Jali dan Buyung ada disekitar Fendi(namun saya tidak melihat satupun sumber Joshua Oppenheimer untuk filmnya dalam demo itu berada di Kampung Kolam). Adlin dan M. Yacub, kami temukan 5 hari kemudian setelah ditunjukkan pengurus Pemuda Rakyat yang mengetahui tempat penguburan jenazah mereka. Jenazah dibenam kedalam rawa(saat ini persis dibawah tugu peringatan Kampung Kolam). Saat ditemukan, kondisi keduanya mengenaskan karena bahagian mata dan bahagian kemaluan sudah tidak berada ditempatnya akibat penganiayaan. Jenazah keduanya, diikat dengan pemberat montik(roda spoor perkebunan untuk pengangkutan barang), lalu bahagian atasnya ditimbuni sampah, kemudian diletakkan bangkai kambing, serta ditancapkan Pohon Pisang. Massa PKI yang menyerah dalam aksi demo ini, kemudian kami serahkan kepada Letkol. RM. Soekardi yang datang bersama pasukan malam harinya setelah massa PKI menyerahkan diri.

    Setelah penculikan dan pembunuhan jendral di Jakarta, Radio Peking terus menyerang mereka yang anti komunis dengan berbagai hujatan, makian dan propaganda lewat siaran berbahasa Indonesia Kami yang rutin setiap malamnya menyimak sumpah serapah itu dari siaran radio di rumah Dana di Jl. Mahkamah, atau rumah Kuteh Sembiring di Jl. Padang Bulan, berkordinasi untuk mengadakan demo ke kantor Konsulat RRC di Jl. Ir. Juanda Medan. Ketika massa demo dari berbagai organisasi massa dan pemuda tiba dilokasi, pendemo tidak dapat mendekati konsulat yang telah dikawal ketat ratusan aparat militer kita. Massa kemudian dikonsentrasikan di seberang lapangan, yang berbatasan dengan jalan kecil dan dipenuhi tentara kita. Karena terus mendesak agar petisi kami diterima, tentara kita yang menjaga aksi demo kemudian berusaha menemui tentara RRC yang menjaga konsulat, dan berada dibalik pintu gerbang konsulat. Saya, Drajat Hasibuan, Parlin Pribadi Hutabarat, dan Ibrahim Umar kemudian maju mewakili kelompok masing-masing, saat tentara kita minta adanya perwakilan massa demo. “Keamanan tuan-tuan kami jamin”, begitu ucapan militer kita kepada militer RRC yang menjaga konsulat, minta dibukakan pintu untuk menerima petisi kami. Penjaga konsulat yang tidak mau membuka pintu gerbang dalam bahasa Indonesia fasih malah mengatakan, “Ini negara kami, kalau mau masuk minta izin Ketua Mao”, lalu 3 tentera RRC tadi segera bergegas melintasi halaman konsulat menuju kedalam gedung konsulat. Saya dan 3 orang lainnya yang merasa kecewa atas sikap militer RRC itu langsung memanjat gerbang konsulat untuk memasuki halaman agar petisi dapat diterima tentara RRC tadi. Beberapa langkah memasuki halaman, terdengar letusan senjata api. Sejenak kami berpandangan, lalu kami berempat bergegas untuk mencapai teras konsulat. Sekitar 5 langkah berjalan, letusan senjata api kembali terdengar. Kami langsung berjongkok, dan memastikan milter yang tadi menolak membuka gerbang ternyata n telah berada di teras konsulat dengan senapan terhunus tengah membidik kami. Merasa terancam kami segera memanjat pagar agar secepatnya keluar dari halaman konsulat. Sayup masih terdengar teriakan militer kita yang berada diluar pagar konsulat dan berteriak untuk tiarap. Saat itu seluruh tentara kita telah mengambil sikap siaga, berjongkok dengan posisi senapan keatas dan diletakkan diantara kedua lututnya, sedangkan seluruh masa demo yang berada diseberang lapangan terlihat total menidurkan diri ketanah. Parlin dan Drajat begitu sampai diluar pagar segera berbaur dengan massa diseberang lapangan yang tiarap. Sementara saya dan Ibrahim Umar yang belakangan keluar, sambil tetap berjongkok mengendap-endap berlindung dibalik pepohonan yang berada didepan pintu gerbang. Lalu kembali terdengar bunyi letusan senjata untuk yang ketiga kalinya. Setelah tembakan usai saya menoleh kepada Ibrahim yang berada disebelah saya, terlihat dia seperti bersujud-tafakkur. Agak lama saya perhatikan kondisinya itu, karena saya pikir dia masih ketakutan akibat bunyi letusan 3 tembakan tadi. Setelah diperhatikan lagi, saya melihat ada cairan putih keluar dari hidungnya, seperti orang terkena flu. Karena tetap tak bergerak, Ibrahim saya angkat, saat itulah saya baru melihat ada luka menganga dihagian belakang kepala searah dengan hidung yang mengeluarkan cairan putih tadi. Barulah saya tersadar jika Ibrahim telah Syahid, lantas saya teriakkan “motor”, minta bantuan agar Ibrahim Umar dibawa mobil kerumah sakit. Masa yang kemudian histeris akibat kejadian itu meneriakkan “Ganyang Cina”, kemudian bergerak menuju kelapangan Polonia Medan. Akibatnya 2 etnik turunan yang baru keluar dari Lapangan Udara Polonia jadi korban amuk massa, saat itulah militer penjaga Polonia yang berusaha membubarkan kerumunan massa mengatakan, “Ini warganegara Malaysia, bubar…bubar…!”. Akibat insiden ini Fendi Keling sempat ditanya Bung Karno dan dianggap rasis, tapi Fendi mengatakan anggota Pemuda Pancasila bermacam etnis dan suku, jadi kejadian itu bukan rasis, spontan akibat tewasnya Ibrahim Umar diterjang militer penjaga Konsulat RRC.

    Sebenarnya, sebelum bertemu dengan seluruh narasumbernya dalam The Act of Killing, Joshua sempat beberapa kali tanpa lelah berkunjung kekediaman saya, dia menginformasikan dari Partai Buruh diluar negeri yang jadi sumbernya, hanya ada 2 nama yang dapat dimintai keterangan yakni Fendi Keling dan Ucok Majestik. Kepada saya Joshua mengiming-imingi akan dibuatkan film tentang heroisme sejarah penumpasan PKI di Sumatra Utara, khususnya peristiwa Demo Kampung Kolam dengan tema Samson dan Delilah. Saya menjawab, jika ingin membuat film jangan khusus Demo Kampung Kolam, tapi ringkasan berdirinya Pemuda Pancasila di Sumut dan Medan hingga terjadinya aksi massa minta pembubaran PKI dengan puncaknya Demo Kampung Kolam. Karena saya tetap ngotot kepada syarat itu, Joshua tidak berani lagi muncul dan beralih kepada para sumber yang keterangannya dijadikan Film The Act of Killing(dalam situsnya The Act of Killing, sumber Joshua berdalih saya minta bayaran yang cukup mahal, sebuah kilah yang tidak dapat diterima akal tentang kegagalannya mendapatkan keterangan saya. Bila melihat kemampuan Joshua selama beberapa tahun di Medan, termasuk menggiring para sumbernya untuk diwawancarai TV lokal). Dan itu membuktikan jika sejak awal pembuatan filmnya, Joshua hanya ingin membuat propaganda tentang Pembantaian Massal dan Pelanggaran HAM, bukan ingin mengangkat kondisi nyata yang terjadi saat itu. Faktanya, Joshua telah berhasil mendapatkan narasumber utama(mahkota), yakni saya H. Yan Paruhum Lubis, tapi karena keterangan saya tidak sesuai selera propagandanya. Joshua kemudian beralih kepada sumber-sumber lain, yang bercampur imajinasi, diragukan keberadaan dan eksistensi serta kemampuan untuk mengingat sejarah awal Pemuda Pancasila Kota Medan dan Sumatra Utara, ataupun rentetan peristiwa yang terjadi kala itu.

    Fakta dan data-data yang yang jadi pengalaman hidup dan telah saya jalani ini, terjadi jauh sebelum peralihan pemerintahan dari Orde Lama ke Orde Baru, jika ada pemikiran yang menganggap saya ataupun mereka yang menentang komunis adalah korban propaganda Orde Baru. Rasanya perlu dilakukan penelitian ulang, dengan berkunjung ke Sumatra Utara dan Kota Medan. Saat ini banyak yang bicara pentingnya menjaga 4 Pilar Kebangsaan; NKRI Harga Mati; dst. Padahal sebelumnya kami Pemuda Pancasila sudah berkorban dan mati untuk itu. Itulah fakta sejarah, bukan propaganda Orde Baru. Termasuk dokumen yang saya peroleh dari tangan Hamid, seluruhnya fakta. Jika Majalah Tempo dan group medianya dapat menembus dokumen-dokumen yang dulunya saya serahkan kepada militer, lebih baik hal itu difinalkan agar dapat menembusnya, daripada memuat analisa-analisa dan propaganda mereka yang sama sekali tidak berada dilapangan saat itu, namun bicara atas kepentingan sesaat semata jadi alat propaganda dengan menjual HAM atau Pembantaian Massal.

    Overste Maliki, Komandan Brigif VII Rimba Raya, saat saya kunjungi di tahanan Sukamulia, dan berada dalam satu ruangan dengan Jalaluddin Yusuf Nasution-Paris Pardede(SOBSI Sumut), Maruli Siahaan, dan tokoh-tokoh lain, dengan latar belakang Palu Arit yang mereka gambar dalam ruangan tahanan sambil menunjukkan telunjuknya yang dibengkokkan(simbol Palu Arit)meneriakkan kepada saya, “Kau pikir sudah menang, Cok”, perkataan yang sama persis dengan ucapan Zakir Soobo saat digedung SOBSI-Iskandar Muda. Itu menunjukkan Pemuda Pancasila adalah musuh abadi Komunis. Segaris bila bila melihat historis sejarah Ratu Aminah Hidayat-Jendral AH Nasution-IPKI dan Pemuda Pancasila.

    Saya sarankan untuk dapat mencatat kondisi masyarakat Sumatra Utara khususnya Kota Medan ketika bangkit bersatu melawan Komunis, Redaksi Majalah Tempo harus menengok kebelakang, bukan hanya kepada Peristiwa Muso di Madiun, tapi jauh sebelum itu yakni Revolusi Sosial di Sumatra Timur, yang berakibat tewasnya tokoh-tokoh masyarakat, termasuk Amir Hamzah yang disebut Komunis adalah kelompok feodal.

    Pengalaman hidup yang terpaksa saya ungkap kepada Majalah Tempo untuk menghadapi propaganda Joshua Oppenheimer, mengingatkan saya meskipun PKI telah bubar tapi Komunis dan syahwatnya untuk berkuasa meskipun lewat merebut kekuasaan, tidak pernah mati di republik ini. Hal itu pula yang menjawab, mengapa saya sempat ditahan Overste Maliki saat dia masih menjadi Komandan Brigif VII Rimba Raya, atau mengapa saya ditahan Gubernur saat itu Brigjen Ulung Sitepu, hanya karena saya mendemo beliau terkait masalah anggaran kakus(dimasa itu ada proyek toilet umum di Pusat Pasar, dimana anggarannya habis namun toiletnya tak pernah ada). Seminggu saya ditahan atas perintah Ulung Sitepu, dan baru bebas setelah Alm. Kosen Cokrosentono yang mengajar tentang Idiologi Pancasila di kantor-kantor militer dan sipil di era Orde Lama itu menjamin dan membebaskan saya. Belakangan baru ketahuan jika Ulung adalah kader Komunis di Sumatra Utara, dan itu menjawab mengapa dia begitu benci kepada saya. Jadi tolong direnungkan, bagaimana bisa santai bila soal idiologi, apalagi bila idiologi itu Komunis. Karena saya dan kawan-kawan telah menjalani masa-masa sulit dan pahit itu.

    Jika Joshua berdasarkan imajinasinya dan imajinasi sumbernya menganggap Pemuda Pancasila adalah alat dari militer, dapat saya kemukan pengalaman saat terjadi kerusuhan yang dikenal dengan “Peristiwa Golden” di Medan. Insiden ini oleh seorang tokoh di Jakarta beberapa tahun lalu ditulis dalam memoarnya dengan menyebutkan saya mati dalam peristiwa itu hingga munculah sosok Olo Panggabean. Dan saya bersyukur, dapat menuntaskan kesalahpahaman itu dengan penulis bukunya secara kekeluargaan. Dan saya menjelaskan, bukan hanya Olo, bahkan seluruh keluarganya yang lain berhubungan baik dengan saya, jadi darimana saya bisa bentrok dengan adik-adik saya itu di Sekip. Dapat saya informasikan, dalam “Peristiwa Golden” ini, beberapa tokoh Pemuda Pancasila bahkan sempat ditahan di Penjara Jl. Gandhi. Tidak ada seorangpun yang dapat menuntaskan masalah itu, hingga kawan-kawan, adik-adik saya di Pemuda Pancasila dalam era Orde Baru ini, harus mendekam dalam tahanan hingga sakit. Saya dan beberapa teman lain yang mengetahui peristiwa tadi kemudian menghadap Raja Inal Siregar ketika itu Kasdam I/BB. Saat itu Raja dihadapan saya, Zulkarnain Rospati, Amril YS, Husni Malik setengah menghardik mengatakan, “Jangan diurus itu, hanya membuat onar dan kerusuhan saja”. Raja lalu agak melunak dan sedikit merubah sikapnya ketika saya katakan, “Janganlah begitu, PKI saja diampuni”. Dan setelah itu atas saran Raja diadakanlah perjanjian antara teman-teman tadi dengan Olo Panggabean di Kodim Medan dengan konsekwensi siapa yang memulai lebih dahulu akan diambil tindakan secara hukum. Kejadian ini dapat menginformasikan bahwa jika benar ada kolaborasi antara militer dengan Pemuda Pancasila, khususnya dalam propaganda Joshua Oppenheimer yang penuh imajinasi dirinya dan para sumbernya tentang Pembantaian Massal itu(benang merah militer dan Pemuda Pancasila). Tentunya kawan-kawan pengurus Pemuda Pancasila tadi tidak perlu mendekam sampai sakit di Jl. Gandhi dalam peristiwa sekitar tahun 1983-1984 itu.

    Dari kronologis yang saya paparkan, Redaksi Majalah Tempo kiranya mendapat gambaran utuh kondisi yang terjadi. Dan jangan berdalih, berdasarkan pengakuan seseorang ataupun para sumber Joshua dalam Filmnya The Act of Killing. Apalagi yang disiarkan dalam pemberitaan adalah utuh tanpa samaran penulisan nama organisasi Pemuda Pancasila dan keberadaan panggung bioskop saat itu, dua dunia yang saya geluti saat itu.

    Saya tekankan, sebagai Pinisepuh Pemuda Pancasila, dan satu-satunya pendiri Pemuda Pancasila di Sumut dan Kota Medan yang masih hidup, selain Alm. Kosen Cokrosentono dan Alm. HMY Efendi Nasution, keterangan ataupun pengakuan sumber Joshua bertolak belakang, tidak objektif, bias, dan tidak sejalan ataupun persis dengan pengalaman hidup yang saya jalani, sejak ikut mendirikan Pemuda Pancasila Sumut, Kubu Pancasila Sumut dan Kordinator Pemuda Pancasila Kota Medan.

    Terakhir saya hanya mengingatkan Redaksi Majalah Tempo, jika terkait idiologi khususnya Komunis, bagaimana bisa santai saja. 9 orang pengurus dan kader Pemuda Pancasila tewas dibantai Komunis, diluar para ulama dan tokoh masyarakat di Sumatra Utara.

    Atas kerjasama Redaksi Majalah Tempo dan group medianya memuat Hak Jawab dan Bantahan ini saya ucapkan terima kasih. Mudah-mudahan demokrasi yang kita bangun bersama setelah era reformasi, dapat kita jaga bersama untuk Indonesia yang lebih baik dimasa mendatang. Semoga……..

    Hormat Saya

    H. Yan Paruhum Lubis
    alias Ucok Majestik

    ( )
    Tembusan:
    1. Dewan Pers di Jakarta
    2. KOMNAS HAM di Jakarta
    3. Komisi Penyiaran di Jakarta
    4. Komisi Informasi di Jakarta
    5. Majelis Pimpinan Nasional Pemuda Pancasila di Jakarta
    6. Majelis Pimpinan Wilayah Pemuda Pancasia Sumatra Utara di Medan
    7. Pimpinan Redaksi Media Massa Cetak dan Elektronik baik Lokal dan Nasional di Jakarta dan Medan
    8. Pertinggal.

  8. Zaman KOMNAS HAM dipimpin Hakim Garuda Nusantara sudah diturunkan itu bos tim penelusuran Korban Pembantaian oleh PKI ke daerah-daerah di Jawa TImur, laporannya lengkap dengan dokumentasi, makam-makamnyapun ada. Tapi belakangan koq yang keluar malah PKI yang dibantai ya???? KOMNAS HAM jadi alat propaganda atau diskriminasi nich

  9. Tempo edisi 22 Oktober sudah memuat Hak Jawab dan Bantahan, namun karena kronologis tidak dimuat masyarakat kurang memahami jika sumber Joshua, diragukan keterangan akurasi fakta dan datanya, karena penuh fantasi, ilusi dan eufroria Joshua dan para sumbernya

    Medan, 10 Oktober 2012
    Kepada Yang Terhormat,
    Pemimpin Redaksi Majalah Tempo
    di-
    Kebayoran Centre
    Jl. Kebayoran Baru, Majestik
    Jakarta 12240
    red@tempo.co.id

    Saya yang bertanda tangan dibawah ini;

    Nama : H. Yan Paruhum Lubis alias Ucok Majestik
    Tempat, Tgl.Lahir : Sibolga, 22 – 12 – 1934
    Alamat : Jl. Melati Raya No. 4 Blok XIX Lingk. XI Helvetia-Tengah
    Medan, 20124
    HP : 081264408584
    Jabatan : – Majelis Pertimbangan Organisasi Majelis Pimpinan –
    Nasional Pemuda Pancasila.
    – Pinisepuh Pemuda Pancasila.
    – Mantan Ketua Kubu Pancasila Sumut dan Kordinator
    Pemuda Pancasila Kota Medan.

    Bersama surat ini menyampaikan Hak Jawab dan Bantahan sebagaimana diatur dalam UU No. 40 Tahun 1999, Pasal 5: (1), (2), (3); Pasal 18: (2); Peraturan Dewan Pers No.9/Peraturan-DP/X/2008, dan Kode Etik Jurnalistik; terkait pemberitaan Majalah Tempo Edisi 1-7 Oktober 2012, karena terjadi pemberitaan yang tidak benar disebabkan kekeliruan dan tidak akuratnya fakta juga data dalam pemberitaan berjudul: Para Algojo 1965 Pengakuan Anwar Congo; Dari Serdang Bedagai Sampai Medan; Kol 2 Hal 113:

    “…………Anwar dikenal sebagai preman bioskop. Dia dulu menguasai pasar gelap karcis di Medan Bioskop. Oppenheimer menemukan bukti bahwa anggota pasukan pembunuh di Medan pada 1965 rata-rata direkrut dari preman bioskop”.

    “…………Mereka membentuk pasukan pembunuh yang terkenal dan ditakuti di Medan, yaitu Pasukan Kodok. Pasukan ini berada dibawah sayap pemuda partai Ikatan Pendukung Kemerdekaan Indonesia, yang didirikan Jendral AH. Nasution: Pemuda Pancasila. Di Pemuda Pancasila Anwar bisa dikatakan salah satu pendiri dan pinisepuhnya”.

    Kemudian pada Kolom 3 Hal 113:

    “…………..Oppenheimer mempertemukan Anwar dengan kawan lamanya, Ibrahim Sinik, pemilik harian Medan Pos yang lantai atas kantornya sering digunakan Anwar untuk melakukan pembantaian”.

    Tidak akuratnya fakta dan data juga terjadi dalam judul berita, Algojo dan Narasumber Skripsi: Hal 116 Kolom 2; “Sikapnya ini berbeda jauh dibanding saat dia menjelaskan caranya menghabisi orang PKI. Dengan mengambil lokasi lantai atas kantor Medan Pos”.

    Meluruskan pemberitaan diatas bersumber pada Film The Act of Killing karya Joshua Oppenheimer yang mengambil setting dan latar belakang peristiwa demo Kampung Kolam pada 25 Oktober 1965 (penggambaran dalam film tentang sebuah kawasan/perkampungan yang diserang massa Pemuda Pancasila dibantu tentara), dan Majalah Tempo memuatnya tanpa melakukan cek dan ricek ulang kepada saya sebagai salah satu pendiri(pembentuk) Pemuda Pancasila di Sumut yang masih hidup selain Alm. Kosen Cokrosentono dan Alm. HMY. Efendi Nasution alias Fendi Keling, maka saya perlu memberikan hak jawab dan bantahan agar tidak terjadi pemberitaan yang tidak objektif, bias, serta pengkaburan dan pemutarbalikkan sejarah perlawanan masyarakat Sumatra Utara terhadap komunis ditahun 1965. Sekaligus membabi buta menuding organisasi Pemuda Pancasila dijadikan militer melakukan pembantaian massal masa Komunis di Sumatra Utara dan Kota Medan

    Tidak benar dan tidak ada sekelompok pembunuh yang mayoritas adalah preman bioskop, yang kemudian direkrut tentara dan disebut Pasukan Kodok di Sumatra Utara ataupun Kota Medan saat itu. Jika ada anggota Pemuda Pancasila yang direkrut untuk menjadi pembunuh dalam sebuah unit khusus yang disebut Pasukan Kodok, sebagai Ketua Kubu Pancasila Sumut serta Kordinator Pemuda Pancasila Kota Medan dimasa itu, tentunya saya wajib tahu terhadap keberadaan unit itu demikan juga siapa saja anggota Pemuda Pancasila yang direkrut didalamnya. Jadi keterangan seluruh narasumber Joshua Oppenheimer sebagaimana dituangkan dalam film The Act of Killing terhadap keberadaan Pemuda Pancasila di Sumut dan Kota Medan soal pembantaian massal yang dikordinir militer adalah keliru, bercampur fantasi dan euphoria serta tidak didukung fakta dan data yang terjadi saat itu.

    Jika disebut sebagai keterangan atau pengakuan pribadi dari seseorang maupun beberapa orang yang mengaku sebagai pelaku pembunuhan dan pembantaian massal, dan mereka juga anggota organisasi Pemuda Pancasila, keterangan ini juga tidak dapat diyakini keakuratan fakta serta datanya, sebab tidak pernah ada pembantaian massal yang dilakukan dalam kantor Pemuda Pancasila. Apalagi saat itu, kantor dikawasan Pekong Lima, merangkap kantor Redaksi Harian Cahaya, juga kantor bersama IPKI Sumut dengan Ketua Kerani Bukit, Kantor IPKI Medan dengan Ketua Dana, Kantor Pemuda Pancasila Sumut dengan Ketua MY Efendi Nasution dan Kantor Kubu Pancasila Sumut merangkap Kordinator Pemuda Pancasila Kota Medan, yakni saya, Yan Paruhum Lubis. Dan terakhir menjelang pecahnya peristiwa penculikan dan pembunuhan para jendral di Jakarta, menjadi Kantor Dastagor Lubis yang ditunjuk Partai IPKI Sumut menjadi Ketua Pemuda Pancasila Kota Medan. Setelah sebelumnya kantor bersama kami adalah di Jl. Veteran(bersebelahan dan tidak telalu jauh dengan dengan Kantor Jl. Sutomo).

    Materi lain yang tak kalah pentingnya untuk dikoreksi dengan Hak Jawab dan Bantahan, yakni pembantaian dilantai atas kantor Harian Medan Pos. Kantor Harian Medan Pos saat ini berlokasi di Jl. Perdana 107-109 Medan, kantor dan nama Medan Pos baru ada sejak tahun 1973. Penulisan 9 Mei 1966 pada halaman satu bagian depan atas Koran Medan Pos, merujuk pada historis jika sebelum pengalihan kepemilikan kepada Ibrahim Sinik, koran bernama Sinar Pembangunan. Sebelumnya dimasa G-30/S media tadi bernama Harian Cahaya dan berkantor di Jl. Sutomo(Kantor Darah-Pekong Lima dalam dialog Anwar Congo saat berkeliling dengan mobil bersama teman-temannya), bangunan milik Kerani Bukit Ketua IPKI Sumut. Harian Cahaya saat itu dipimpin oleh Pemimpin Redaksi Arsyad Noeh(kerabat kandung Afnawie Noeh, Ketua BPRPI Sumut), dengan Sekretaris Redaksi So Aduon Siregar. Jadi jelas tidak pernah ada pembantaian di lantai atas kantor Harian Medan Pos sebagaimana ditulis dalam berita Tempo.

    Ketika Harian Cahaya masih terbit, AM. Sinnik(kerabat kandung Ibrahim Sinik, bertanggungjawab dalam pendistribusian media ini, sementara Ibrahim Sinik saat itu sebagai pentolan dan aktifis MURBA Sumut beraktifitas menangani usaha dagang keluarganya sebagai distributor buah-buahan di Medan. Jadi yang bersangkutan belum masuk dalam jajaran redaksi Harian Cahaya ataupun jurnalis Harian Cahaya.

    Hingga pemberitaan edisi Tempo terkait Film The Act of Killing, masih saya sendiri yang disebut sebagai Pinisepuh Pemuda Pancasila, kehormatan itu diberikan organisasi untuk mengenang sejarah eksistensi Pemuda Pancasila menghadapi panasnya bara Komunis di Indonesia, juga di Sumatra Utara dan Kota Medan kurun 1963 -1967, khususnya pengorbanan 9 orang anggota Pemuda Pancasila yang dibantai Komunis dalam priode itu. Serta melihat fakta hingga saat ini tinggal saya sendiri pendiri Pemuda Pancasila di Sumatra Utara dan Kota Medan yang masih hidup, selain Alm. Kosen Cokrosentono dan Alm. HMY Efendi Nasution.

    Untuk membantu Redaksi Tempo memahami Hak Jawab dan Bantahan, akan saya berikan kronologis peristiwa yang terjadi yang menjadi satu kesatuan yang utuh dalam Hak Jawab dan Bantahan, dan kewajiban Redaksi Majalah Tempo memuatnya secara utuh. Hak Jawab dan Bantahan saya juga harus dimuat di group Majalah Tempo, yang juga ikut menyiarkan pemberitaan dari Film The Act of Killing, sebagai bentuk permintaan maaf dari Redaksi Majalah Tempo lalai hingga meloloskan berita yang tidak benar, karena tidak akuratnya fakta dan data yang disajikan serta cenderung keliru kepada khalayak tentang Pemuda Pancasila. Hingga cenderung menyesatkan publik, masyarakat yang selama ini menjadi pembaca setia-termasuk saya pribadi yang juga pembaca setia Majalah Tempo.

    Pemuatan secara utuh Hak Jawab dan Bantahan sekaligus kronologis yang saya informasikan, sekaligus untuk koreksi adanya unsur plagiat yang dilakukan Redaksi Majalah Tempo, dengan memuat informasi yang ada dalam The Act of Killing dalam berbagai artikel yang berhubungan dengan pemberitaan dengan Judul Utama: Pengakuan Algojo 1965 dan dipecah menjadi sub-sub judul seperti tersebut diatas, menjadi seolah-olah adalah reportase Jurnalis Majalah Tempo, padahal adalah petikan-petikan dari synopsis Film The Act of Killing dan pernyataan Joshua Oppenheimer. Lalu disiarkan untuk publik tanpa konfirmasi kepada saya sebagai pihak yang mengetahui kronologis peristiwa perlawanan masyarakat Sumatra Utara dan mau tidak mau melibatkan Pemuda Pancasila terhadap Komunis dimasa itu, termasuk peristiwa Demo Kampung Kolam. Bila Redaksi Majalah Tempo tidak memuat Hak Jawab dan Bantahan saya ini secara utuh, saya dengan sukarela akan menyelesaikan permasalahan ini melalui jalur hukum, baik secara pidana ataupun perdata sebagaimana diatur oleh UU Pokok Pers.

    Berikut akan saya terakan kronologis fakta dan data yang saya jalani agar Redaksi Majalah Tempo dan masyarakat mengetahui kondisi yang sebenarnya;

    Tahun 1954: Setelah menjatuhkan Pak Mamat yang terpeleset dari tangga Bioskop Majestik saat berusaha menampar saya, karena menanyakan mengapa Pak Mamat memukuli Entong, teman saya yang ingin masuk kedalam pembukaan bioskop paling megah di Kota Medan saat itu, saya dipanggil dengan sebutan Ucok Majestik. Sejak peristiwa itu, saya dipercaya beberapa pemilik bioskop di Medan menjalankan dan mengamankan operasional bioskop-bioskop di Medan, termasuk Bioskop Majestik yang saat itu adalah milik seorang turunan bernama A Hwat.

    Maret 1962: Sekretaris IPKI Sumut Kosen Cokrosentono yang juga Kepala Penerangan Propinsi Sumut, sekaligus guru pengajar Pancasila di era Presiden Soekarno, bersama Ketua II Partai IPKI Bidang Pemuda MY. Efendi Nasution membawa saya ke Jakarta untuk bertemu Ratu Aminah Hidayat di Menteng Raya 70, dan bertemu Jendral AH. Nasution di Cijantung. Ratu Aminah dan Jendral AH. Nasution minta kami membentuk karyawan IPKI(sayap partai), seperti Kubu Pancasila, Pemuda Pancasila, Sarjana Pancasila dst, di Sumut dan Kota Medan, dengan visi misi menjaga tetap utuh tegaknya 4 Pilar Kebangsaan. Ratu Aminah Hidahat menerangkan, awalnya pada tahun 1959, IPKI membentuk Pemuda Patriotik. Dan pada tahun 1960 dalam kongres pertama IPKI di Lembang-Bandung, Pemuda Patriotik berubah nama menjadi Pemuda Pancasila.

    Juni 1963: MY. Efendi Nasution dilantik menjadi Ketua Wilayah Pemuda Pancasila Sumut di Balai Selekta Jl. Listrik Medan(saat ini lapangan kosong disebelah Gedung Pendam I/ BB), saya yang tidak hadir dalam acara pelantikan tadi, kemudian ditunjuk menjadi Ketua Kubu Pancasila Sumut merangkap Kordinator Pemuda Pancasila Kota Medan oleh Kerani Bukit dan Kosen Cokrosentono. Dengan kantor di Jl. Veteran-dekat Jl. Sutomo. Dan 6 bulan kemudian pindah kekantor di Jl. Sutomo(Pekong Lima) sebagai kantor bersama, di gedung milik Kerani Bukit. Sebagai kordinator Pemuda Pancasila Kota Medan saya menunjuk pengurus ranting kelurahan pertama Pemuda Pancasila di Medan yakni Ranting Pulo Brayan dipimpin Saibun Usman, kemudian saya menunjuk pengurus kecamatan pertama yakni Medan Barat dipimpin Nikolas Pulungan(pemilik Medan Bioskop, Orion Bioskop dan Orange Biokop). Dibentuk juga Kubu Pancasila unit angkatan darat laut dan udara dipimpin Anton Nasution.

    Untuk memperkuat organisasi Kubu Pancasila Sumut dan Pemuda Pancasila Sumut, saya tempatkan orang-orang anggota Pemuda Pancasila dan Kubu Pancasila di bioskop-bioskop sebagai pekerjanya, seperti menjadi Acting Manajer- Supervisor-atau Mandor Besar, yaitu: Bioskop Majestik-Kelly, Bioskop Rex-Dastagor Lubis, Bioskop Deli -Abdullah Teeng dan Syarbaini Tanjung (Ten), Medan Bioskop-Rosiman(pengamanan Medan Bioskop saya ambil alih dari kelompok pemuda Jl. Buntu-PJKA yang saat itu dipimpin Adong), Bioskop Cathay-Barik dan Amran YS(pengamanan Cathay saya ambil alih dari Manis Sembiring dkk), Bioskop Orion-Dahlan, Bioskop Morning-Bakti Lubis, Bioskop Kok Tay-Jep(seorang Pemuda Minang yang biasa kami panggil Jepang), Bioskop Kapitol-Witchin, Bioskop Astanaria-Dame. Hampir setiap malam, saya, Fendi Keling dan Dastagor Lubis menyempatkan diri berbincang perkembangan terakhir Sumut dan Medan, diruangan atas belakang gedung bioskop Rex-Ria(saat ini sebuah restoran didepan gedung UNILAND Medan), sesekali teman Fendi bernama Sahat Gurning bergabung dalam pembicaraan kami.

    17 Agustus 1964: Terjadi bentrok fisik pertama antara massa Pemuda Pancasila dengan Pemuda Rakyat dalam peringatan HUT RI, saya tidak terima hardikan Wakil Ketua Pemuda Rakyat Sumut-Hamid yang memerintahkan agar Pemuda Pancasila berbaris dalam parit, sebab lapangan menurutnya hanya untuk PKI dan ormasnya. Hamid kemudian melakukan propaganda dengan melapor kekantor Kodim dan PM, bahwa Pemuda Pancasila yang saya pimpin berteriak-teriak minta PKI dan ormasnya dibubarkan. Sesuatu yang mustahil karena pada saat itu kami hanya berjumlah 40 orang, diantara ribuan massa PKI yang memenuhi Lapangan Benteng. Saya ditahan Pasi I Kodim Medan Kapten Datuk Akhtar B dan wakilnya Letnan Ramli Markam, namun selang beberapa jam kemudian bebas setelah dijemput Kosen Cokrosentono. Alm. Efendi Nasution yang berjanji akan menyusul saat kami bergerak dari kantor IPKI Sutomo menuju Lapangan Benteng karena ada urusan partai, hingga selesai acara tidak hadir. Dari 40 orang anggota Pemuda Pancasila yang ikut parade ini(namanya dicatat dalam buku besar Partai IPKI termasuk MY Efendi Nasution), tidak ada satupun mereka yang jadi narasumber Joshua yang keterangannya dijadikan dasar pembuatan film The Act of Killing. Anggota Pemuda Pancasila yang ikut HUT RI ini yang sebahagian adalah pengurus IPKI antara lain: Lilik(Kp. Keling), Dahlan, Suhemi Tanjung, Syarbaini Tanjung, Abdullah Teeng, Siwadas(setelah Muslim ganti nama menjadi M. Yusuf), Berlin Tobing, Damos, Keriting, ,Rahmad Lubis, Kiting, Bakti Lubis, Yance, Syahruddin Nasution, Saibun Usman, Mamak Isu, Usman Sitohang, Gusar Panggabean(Abang Alm. Olo Panggabean), Witchin, Sarkunen, Dastagor Lubis, Viktor Sipahutar, Lilik(Glugur Bypass), Dana, Nurdin Ritonga, Iskak Idris, Sailan Daly.

    Sejak keributan Lapangan Benteng itu, PKI dan ormasnya terus melakukan provokasi kepada Pemuda Pancasila. Menjelang meletusnya G-30/S, dengan makin seringnya terjadi gesekan antara massa Pemuda Pancasila dengan PKI dan ormasnya, IPKI pada pertengahan 1965 menunjuk Dastagor Lubis sebagai Ketua Pemuda Pancasila Kota Medan.

    Setelah peristiwa Bandar Betsi(14 Mei 1965), Pemimpin Redaksi Harian Cahaya Arsyad Noeh melapor jika percetakan Mistika yang terletak disekitar Jl. Pemuda dekat kantor Polisi Sektor Barat, dan mencetak Harian Cahaya akan diserang Pemuda Rakyat, karena media itu adalah media yang pertama memuat tewasnya Pelda Sujono dalam peristiwa Bandar Betsi yang salahsatu tokohnya adalah Wariman. Malam harinya sekitar 5 truk masa Pemuda Rakyat yang datang kelokasi percetakan untuk membakar percetakan Mistika berhasil kami halau, namun kepada Polisi Sektor Barat yang dipimpin Ramses Sihombing, mereka melapor jika saya memimpin masa Pemuda Pancasila mengejar dan memukuli mereka seraya minta PKI dibubarkan. Saya sempat ditahan satu malam, dan kembali dijamin oleh Kosen Cokrosentono. Gerah karena saya selalu menggagalkan aksi anarkhinya, PKI kemudian menyerang saya lewat Harian Gotong Royong dan Harapan dalam karikatur Yan Paruhum Lubis  Ucok Majestik  Setan Kota, dengan sketsa diri saya tengah menyembah Jendral AH Nasution yang duduk dikursi kerajaan, serta disamping kanan serta kirinya dikawal Jendral A. Yani dan Jendral Sambas. Setelah hampir 4 hari menyisiri kawasan Kesawan untuk mencari kantor koran dimaksud, akhirnya saya mengobrak-abrik kantor tadi, karena tidak ada satupun yang mengaku bertanggungjawab atas pemuatan karikatur. Sejak peristiwa itu, saya terpaksa mengungsi kerumah Fendi Keling dikawasan Mandala sampai beberapa bulan menjelang meletusnya peristiwa G-30/S, karena rumah saya di Sekip-Petisah-Majestik selalu didatangi patroli polisi yang ingin memberangus saya. Ketika terjadi peralihan pemerintahan, beberapa polisi yang dulunya rutin menyatroni saya, meminta maaf atas peristiwa itu dan mengatakan untunglah saya dapat lolos dari sergapan mereka, karena atasannya saat itu memerintahkan Tembak Ditempat Ucok Majestik.

    29 September 1965 malam: Bakti Lubis di gantung dan disalib massa Pemuda Rakyat di Padang Bulan Way(kini persimpangan S. Parman), Bakti walau luka parah jiwanya berhasil diselamatkan. Sebelumnya, pagi hari saat menyambut Subandrio dilapangan Polonia Medan kami, sempat meneriakkan yel-yel Hidup Pancasila kepada Subandrio di Lapangan Udara Polonia.

    30 September – 1 Oktober 1065 terjadi peristiwa penculikan dan pembunuhan jendral di Jakarta.

    Setelah aksi penculikan dan pembunuhan jendral di Jakarta, Pemuda Pancasila yang ikut bersama-sama dengan elemen masyarakat, pemuda, pelajar dan minta agar massa PKI menyerah dan membubarkan diri, makin sering terlibat kontak fisik dengan PKI dan masanya. Saya mencatat sejak 1964 hingga akhir 1965, pengurus dan kader Pemuda Pancasila yang wafat dibantai PKI sebanyak 9 orang, Mereka yang wafat adalah: M. Nawi Harahap(diabadikan sebagai nama jalan di Medan). Nawi, ditembak Buyung Jafar saat melintasi kediaman aktifis onderbouw PKI ini dikawasan Jl. Halat. Buyung usai melakukan penembakan dengan senapan berhasil melarikan diri. Hasanuddin, tewas di kawasan Kampung Baru saat rombongan Pemuda Pancasila dicegat Pemuda Rakyat.Yusril DS tewas dibacok saat berada disekitar kawasan Glugur dekat sebuah asrama militer. Mobil Willys yang saya kenderai bersama Raja Ganyang Damanik dan Damos, kacanya pecah karena hantaman batu dan benda keras dari massa Pemuda Rakyat. Saya turun kelokasi itu karena pimpinan Pemuda Pancasila disana, Sahat Gurning minta bantuan karena massa Pemuda Pancasila dikeroyok konsentrasi massa Pemuda Rakyat didaerah itu. Abdul Rahim Siregar, tewas di Kawasan Menteng saat rombongan kami melewati kawasan ini. Kaca mobil Willys saya kembali pecah dihantam peluru senapan Pemuda Rakyat. Rustam Efendi Koto dan Suwardi, tewas diserang massa Pemuda Rakyat dikawasan Lr. Gino, dr. med. Adilin Prawiranegara dan M. Yacub, tewas saat demo ke Kampung Kolam. Dan terakhir Ibrahim Umar kader Pemuda Pancasila yang juga anggota IPTR/Aceh Sepakat tewas saat demo Konsulat RRC di Medan.

    Setelah berhasil meminta massa PKI di belakang kawasan Kebun Bunga menyerah, massa Pemuda Pancasila kembali memimpin masa yang anti Komunis untuk demo kekantor SOBSI di Jl. Padang Bulan Way(kini Sp. Iskandar Muda). Masa PKI yang lari untuk bertahan dilantai 2 gedung itu, melempari kami massa demo dengan benda keras seperti batu, kayu bahkan tombak. Dalam tawuran ini, 11 orang anggota Pemuda Pancasila mengalami luka berat dan ringan. Pimpinan masa PKI, Zakir Soobo yang melihat anggotanya dikurung rapatnya pendemo yang berada dibahagian bawah gedung, turun kelantai bawah, sambil menggigit telunjuknya yang dibengkokkan(lambang Palu dan Arit), Zakir yang pegawai Pertamanan Kota Medan dan direncanakan bakal menjadi Walikota Medan bila revolusi berhasil sempat berteriak kepada saya, “Kau pikir sudah menang kau Cok”. Zakir Soobo tewas dalam tawuran ini, sementara kantor kami duduki. Usai demo, massa PKI yang menyerah kami serahkan kepada Datuk Akhtar B dan Ramli Markam yang datang kelokasi kejadian, setelah demo selesai. Setelah itu hingga seminggu setelah demo kami berkemah digedung itu. Hamid, Wakil Ketua Pemuda Rakyat yang kami temui di Gedung SOBSI ini, malam harinya usai demo menyerahkan dokumen propaganda PKI, yang dikubur dihalaman belakang kantor. Diantara tumpukan dokumen, ada terlihat satu berkas yang berisi tulisan, =. CGMI  VS HMI, -. Pemuda Rakyat  VS Pemuda Pancasila, -. Gerwani  VS Wanita Muslimin; -. Masuki lembaga pemerintahan dan partai-partai serta lancarkan politik Divide Et Impera; -. Lakukan segala cara untuk merebut kembali kekuasaan dengan merebut posisi-posisi penting birokrasi pemerintahan dan angkatan bersenjata; -. Ciptakan krisis kepercayaan kepada pemerintah, miskinkan rakyat, dan bila gagal jika terpaksa lakukan langkah penyelamatan(Strategi Survival) agar tidak hancur total. Seluruh dokumen yang disimpan dalam sebuah peti besi itu, kemudian saya serahkan kepada Kapten Datuk Akhtar B dan Letnan Ramli Markam.(versi Komnas HAM selain Zakir Soobo, tewas 2 orang penjaga kantor, dan kantor dibakar. Faktanya yang tewas adalah Zakir, sementara kantor masih ada hingga sekitar tahun 2004 jadi tidak benar terjadi pembakaran. Gedung lantas dijadikan kantor oleh beberapa organisasi seperti kantor Warakawuri, Pepabri, bahkan Perwalian Gereja Indonesia Sumut. Barulah pada akhir tahun 2004 kantor itu dipagari seng, dan beberapa tahun kemudian bangunan yang ada dalam pagar seng telah rata dengan tanah dirubuhkan pengembang)

    24 Oktober 1965: Rosiman bersama Rahmat Lubis mendatangi saya saat berada di Deli Bioskop, mereka menyampaikan bahwa Bang Fendi ingin bicara dirumahnya. Dalam pertemuan dengan Fendi di Mandala, Fendi mengatakan besok ada aksi masa ke Kampung Kolam, perkebunan terlantar yang menjadi basis para petinggi PKI, seperti Wariman(tokoh Pemuda Rakyat yang terlibat Bandar Betsi di Simalungun). Selain saya dan Fendi, terlihat beberapa teman Fendi mendampinginya, seperti Rosiman, Rahmat Lubis dan Arifin Labi-labi. Disepakati demo ke Kampung Kolam akan dilakukan lewat 3 jurusan, dengan massa dipimpin Fendi, massa yang saya pimpin, dan massa yang dipimpin tokoh masyarakat disekitar kawasan Tembung. Besok sorenya ketika berada dikawasan Kampung Kolam dan konsolidasi, kami ketahui Adlin Prawiranegara dan M. Yacub tidak ada dalam barisan. Saat konsolidasi itu, selain beberapa teman yang selalu mendampingi Fendi diatas, beberapa teman Fendi lainnya seperti Johan, Barik, Arifin, Mat Jali dan Buyung ada disekitar Fendi(namun saya tidak melihat satupun sumber Joshua Oppenheimer untuk filmnya dalam demo itu berada di Kampung Kolam). Adlin dan M. Yacub, kami temukan 5 hari kemudian setelah ditunjukkan pengurus Pemuda Rakyat yang mengetahui tempat penguburan jenazah mereka. Jenazah dibenam kedalam rawa(saat ini persis dibawah tugu peringatan Kampung Kolam). Saat ditemukan, kondisi keduanya mengenaskan karena bahagian mata dan bahagian kemaluan sudah tidak berada ditempatnya akibat penganiayaan. Jenazah keduanya, diikat dengan pemberat montik(roda spoor perkebunan untuk pengangkutan barang), lalu bahagian atasnya ditimbuni sampah, kemudian diletakkan bangkai kambing, serta ditancapkan Pohon Pisang. Massa PKI yang menyerah dalam aksi demo ini, kemudian kami serahkan kepada Letkol. RM. Soekardi yang datang bersama pasukan malam harinya setelah massa PKI menyerahkan diri.

    Setelah penculikan dan pembunuhan jendral di Jakarta, Radio Peking terus menyerang mereka yang anti komunis dengan berbagai hujatan, makian dan propaganda lewat siaran berbahasa Indonesia Kami yang rutin setiap malamnya menyimak sumpah serapah itu dari siaran radio di rumah Dana di Jl. Mahkamah, atau rumah Kuteh Sembiring di Jl. Padang Bulan, berkordinasi untuk mengadakan demo ke kantor Konsulat RRC di Jl. Ir. Juanda Medan. Ketika massa demo dari berbagai organisasi massa dan pemuda tiba dilokasi, pendemo tidak dapat mendekati konsulat yang telah dikawal ketat ratusan aparat militer kita. Massa kemudian dikonsentrasikan di seberang lapangan, yang berbatasan dengan jalan kecil dan dipenuhi tentara kita. Karena terus mendesak agar petisi kami diterima, tentara kita yang menjaga aksi demo kemudian berusaha menemui tentara RRC yang menjaga konsulat, dan berada dibalik pintu gerbang konsulat. Saya, Drajat Hasibuan, Parlin Pribadi Hutabarat, dan Ibrahim Umar kemudian maju mewakili kelompok masing-masing, saat tentara kita minta adanya perwakilan massa demo. “Keamanan tuan-tuan kami jamin”, begitu ucapan militer kita kepada militer RRC yang menjaga konsulat, minta dibukakan pintu untuk menerima petisi kami. Penjaga konsulat yang tidak mau membuka pintu gerbang dalam bahasa Indonesia fasih malah mengatakan, “Ini negara kami, kalau mau masuk minta izin Ketua Mao”, lalu 3 tentera RRC tadi segera bergegas melintasi halaman konsulat menuju kedalam gedung konsulat. Saya dan 3 orang lainnya yang merasa kecewa atas sikap militer RRC itu langsung memanjat gerbang konsulat untuk memasuki halaman agar petisi dapat diterima tentara RRC tadi. Beberapa langkah memasuki halaman, terdengar letusan senjata api. Sejenak kami berpandangan, lalu kami berempat bergegas untuk mencapai teras konsulat. Sekitar 5 langkah berjalan, letusan senjata api kembali terdengar. Kami langsung berjongkok, dan memastikan milter yang tadi menolak membuka gerbang ternyata n telah berada di teras konsulat dengan senapan terhunus tengah membidik kami. Merasa terancam kami segera memanjat pagar agar secepatnya keluar dari halaman konsulat. Sayup masih terdengar teriakan militer kita yang berada diluar pagar konsulat dan berteriak untuk tiarap. Saat itu seluruh tentara kita telah mengambil sikap siaga, berjongkok dengan posisi senapan keatas dan diletakkan diantara kedua lututnya, sedangkan seluruh masa demo yang berada diseberang lapangan terlihat total menidurkan diri ketanah. Parlin dan Drajat begitu sampai diluar pagar segera berbaur dengan massa diseberang lapangan yang tiarap. Sementara saya dan Ibrahim Umar yang belakangan keluar, sambil tetap berjongkok mengendap-endap berlindung dibalik pepohonan yang berada didepan pintu gerbang. Lalu kembali terdengar bunyi letusan senjata untuk yang ketiga kalinya. Setelah tembakan usai saya menoleh kepada Ibrahim yang berada disebelah saya, terlihat dia seperti bersujud-tafakkur. Agak lama saya perhatikan kondisinya itu, karena saya pikir dia masih ketakutan akibat bunyi letusan 3 tembakan tadi. Setelah diperhatikan lagi, saya melihat ada cairan putih keluar dari hidungnya, seperti orang terkena flu. Karena tetap tak bergerak, Ibrahim saya angkat, saat itulah saya baru melihat ada luka menganga dihagian belakang kepala searah dengan hidung yang mengeluarkan cairan putih tadi. Barulah saya tersadar jika Ibrahim telah Syahid, lantas saya teriakkan “motor”, minta bantuan agar Ibrahim Umar dibawa mobil kerumah sakit. Masa yang kemudian histeris akibat kejadian itu meneriakkan “Ganyang Cina”, kemudian bergerak menuju kelapangan Polonia Medan. Akibatnya 2 etnik turunan yang baru keluar dari Lapangan Udara Polonia jadi korban amuk massa, saat itulah militer penjaga Polonia yang berusaha membubarkan kerumunan massa mengatakan, “Ini warganegara Malaysia, bubar…bubar…!”. Akibat insiden ini Fendi Keling sempat ditanya Bung Karno dan dianggap rasis, tapi Fendi mengatakan anggota Pemuda Pancasila bermacam etnis dan suku, jadi kejadian itu bukan rasis, spontan akibat tewasnya Ibrahim Umar diterjang militer penjaga Konsulat RRC.

    Sebenarnya, sebelum bertemu dengan seluruh narasumbernya dalam The Act of Killing, Joshua sempat beberapa kali tanpa lelah berkunjung kekediaman saya, dia menginformasikan dari Partai Buruh diluar negeri yang jadi sumbernya, hanya ada 2 nama yang dapat dimintai keterangan yakni Fendi Keling dan Ucok Majestik. Kepada saya Joshua mengiming-imingi akan dibuatkan film tentang heroisme sejarah penumpasan PKI di Sumatra Utara, khususnya peristiwa Demo Kampung Kolam dengan tema Samson dan Delilah. Saya menjawab, jika ingin membuat film jangan khusus Demo Kampung Kolam, tapi ringkasan berdirinya Pemuda Pancasila di Sumut dan Medan hingga terjadinya aksi massa minta pembubaran PKI dengan puncaknya Demo Kampung Kolam. Karena saya tetap ngotot kepada syarat itu, Joshua tidak berani lagi muncul dan beralih kepada para sumber yang keterangannya dijadikan Film The Act of Killing(dalam situsnya The Act of Killing, sumber Joshua berdalih saya minta bayaran yang cukup mahal, sebuah kilah yang tidak dapat diterima akal tentang kegagalannya mendapatkan keterangan saya. Bila melihat kemampuan Joshua selama beberapa tahun di Medan, termasuk menggiring para sumbernya untuk diwawancarai TV lokal). Dan itu membuktikan jika sejak awal pembuatan filmnya, Joshua hanya ingin membuat propaganda tentang Pembantaian Massal dan Pelanggaran HAM, bukan ingin mengangkat kondisi nyata yang terjadi saat itu. Faktanya, Joshua telah berhasil mendapatkan narasumber utama(mahkota), yakni saya H. Yan Paruhum Lubis, tapi karena keterangan saya tidak sesuai selera propagandanya. Joshua kemudian beralih kepada sumber-sumber lain, yang bercampur imajinasi, diragukan keberadaan dan eksistensi serta kemampuan untuk mengingat sejarah awal Pemuda Pancasila Kota Medan dan Sumatra Utara, ataupun rentetan peristiwa yang terjadi kala itu.

    Fakta dan data-data yang yang jadi pengalaman hidup dan telah saya jalani ini, terjadi jauh sebelum peralihan pemerintahan dari Orde Lama ke Orde Baru, jika ada pemikiran yang menganggap saya ataupun mereka yang menentang komunis adalah korban propaganda Orde Baru. Rasanya perlu dilakukan penelitian ulang, dengan berkunjung ke Sumatra Utara dan Kota Medan. Saat ini banyak yang bicara pentingnya menjaga 4 Pilar Kebangsaan; NKRI Harga Mati; dst. Padahal sebelumnya kami Pemuda Pancasila sudah berkorban dan mati untuk itu. Itulah fakta sejarah, bukan propaganda Orde Baru. Termasuk dokumen yang saya peroleh dari tangan Hamid, seluruhnya fakta. Jika Majalah Tempo dan group medianya dapat menembus dokumen-dokumen yang dulunya saya serahkan kepada militer, lebih baik hal itu difinalkan agar dapat menembusnya, daripada memuat analisa-analisa dan propaganda mereka yang sama sekali tidak berada dilapangan saat itu, namun bicara atas kepentingan sesaat semata jadi alat propaganda dengan menjual HAM atau Pembantaian Massal.

    Overste Maliki, Komandan Brigif VII Rimba Raya, saat saya kunjungi di tahanan Sukamulia, dan berada dalam satu ruangan dengan Jalaluddin Yusuf Nasution-Paris Pardede(SOBSI Sumut), Maruli Siahaan, dan tokoh-tokoh lain, dengan latar belakang Palu Arit yang mereka gambar dalam ruangan tahanan sambil menunjukkan telunjuknya yang dibengkokkan(simbol Palu Arit)meneriakkan kepada saya, “Kau pikir sudah menang, Cok”, perkataan yang sama persis dengan ucapan Zakir Soobo saat digedung SOBSI-Iskandar Muda. Itu menunjukkan Pemuda Pancasila adalah musuh abadi Komunis. Segaris bila bila melihat historis sejarah Ratu Aminah Hidayat-Jendral AH Nasution-IPKI dan Pemuda Pancasila.

    Saya sarankan untuk dapat mencatat kondisi masyarakat Sumatra Utara khususnya Kota Medan ketika bangkit bersatu melawan Komunis, Redaksi Majalah Tempo harus menengok kebelakang, bukan hanya kepada Peristiwa Muso di Madiun, tapi jauh sebelum itu yakni Revolusi Sosial di Sumatra Timur, yang berakibat tewasnya tokoh-tokoh masyarakat, termasuk Amir Hamzah yang disebut Komunis adalah kelompok feodal.

    Pengalaman hidup yang terpaksa saya ungkap kepada Majalah Tempo untuk menghadapi propaganda Joshua Oppenheimer, mengingatkan saya meskipun PKI telah bubar tapi Komunis dan syahwatnya untuk berkuasa meskipun lewat merebut kekuasaan, tidak pernah mati di republik ini. Hal itu pula yang menjawab, mengapa saya sempat ditahan Overste Maliki saat dia masih menjadi Komandan Brigif VII Rimba Raya, atau mengapa saya ditahan Gubernur saat itu Brigjen Ulung Sitepu, hanya karena saya mendemo beliau terkait masalah anggaran kakus(dimasa itu ada proyek toilet umum di Pusat Pasar, dimana anggarannya habis namun toiletnya tak pernah ada). Seminggu saya ditahan atas perintah Ulung Sitepu, dan baru bebas setelah Alm. Kosen Cokrosentono yang mengajar tentang Idiologi Pancasila di kantor-kantor militer dan sipil di era Orde Lama itu menjamin dan membebaskan saya. Belakangan baru ketahuan jika Ulung adalah kader Komunis di Sumatra Utara, dan itu menjawab mengapa dia begitu benci kepada saya. Jadi tolong direnungkan, bagaimana bisa santai bila soal idiologi, apalagi bila idiologi itu Komunis. Karena saya dan kawan-kawan telah menjalani masa-masa sulit dan pahit itu.

    Jika Joshua berdasarkan imajinasinya dan imajinasi sumbernya menganggap Pemuda Pancasila adalah alat dari militer, dapat saya kemukan pengalaman saat terjadi kerusuhan yang dikenal dengan “Peristiwa Golden” di Medan. Insiden ini oleh seorang tokoh di Jakarta beberapa tahun lalu ditulis dalam memoarnya dengan menyebutkan saya mati dalam peristiwa itu hingga munculah sosok Olo Panggabean. Dan saya bersyukur, dapat menuntaskan kesalahpahaman itu dengan penulis bukunya secara kekeluargaan. Dan saya menjelaskan, bukan hanya Olo, bahkan seluruh keluarganya yang lain berhubungan baik dengan saya, jadi darimana saya bisa bentrok dengan adik-adik saya itu di Sekip. Dapat saya informasikan, dalam “Peristiwa Golden” ini, beberapa tokoh Pemuda Pancasila bahkan sempat ditahan di Penjara Jl. Gandhi. Tidak ada seorangpun yang dapat menuntaskan masalah itu, hingga kawan-kawan, adik-adik saya di Pemuda Pancasila dalam era Orde Baru ini, harus mendekam dalam tahanan hingga sakit. Saya dan beberapa teman lain yang mengetahui peristiwa tadi kemudian menghadap Raja Inal Siregar ketika itu Kasdam I/BB. Saat itu Raja dihadapan saya, Zulkarnain Rospati, Amril YS, Husni Malik setengah menghardik mengatakan, “Jangan diurus itu, hanya membuat onar dan kerusuhan saja”. Raja lalu agak melunak dan sedikit merubah sikapnya ketika saya katakan, “Janganlah begitu, PKI saja diampuni”. Dan setelah itu atas saran Raja diadakanlah perjanjian antara teman-teman tadi dengan Olo Panggabean di Kodim Medan dengan konsekwensi siapa yang memulai lebih dahulu akan diambil tindakan secara hukum. Kejadian ini dapat menginformasikan bahwa jika benar ada kolaborasi antara militer dengan Pemuda Pancasila, khususnya dalam propaganda Joshua Oppenheimer yang penuh imajinasi dirinya dan para sumbernya tentang Pembantaian Massal itu(benang merah militer dan Pemuda Pancasila). Tentunya kawan-kawan pengurus Pemuda Pancasila tadi tidak perlu mendekam sampai sakit di Jl. Gandhi dalam peristiwa sekitar tahun 1983-1984 itu.

    Dari kronologis yang saya paparkan, Redaksi Majalah Tempo kiranya mendapat gambaran utuh kondisi yang terjadi. Dan jangan berdalih, berdasarkan pengakuan seseorang ataupun para sumber Joshua dalam Filmnya The Act of Killing. Apalagi yang disiarkan dalam pemberitaan adalah utuh tanpa samaran penulisan nama organisasi Pemuda Pancasila dan keberadaan panggung bioskop saat itu, dua dunia yang saya geluti saat itu.

    Saya tekankan, sebagai Pinisepuh Pemuda Pancasila, dan satu-satunya pendiri Pemuda Pancasila di Sumut dan Kota Medan yang masih hidup, selain Alm. Kosen Cokrosentono dan Alm. HMY Efendi Nasution, keterangan ataupun pengakuan sumber Joshua bertolak belakang, tidak objektif, bias, dan tidak sejalan ataupun persis dengan pengalaman hidup yang saya jalani, sejak ikut mendirikan Pemuda Pancasila Sumut, Kubu Pancasila Sumut dan Kordinator Pemuda Pancasila Kota Medan.

    Terakhir saya hanya mengingatkan Redaksi Majalah Tempo, jika terkait idiologi khususnya Komunis, bagaimana bisa santai saja. 9 orang pengurus dan kader Pemuda Pancasila tewas dibantai Komunis, diluar para ulama dan tokoh masyarakat di Sumatra Utara.

    Atas kerjasama Redaksi Majalah Tempo dan group medianya memuat Hak Jawab dan Bantahan ini saya ucapkan terima kasih. Mudah-mudahan demokrasi yang kita bangun bersama setelah era reformasi, dapat kita jaga bersama untuk Indonesia yang lebih baik dimasa mendatang. Semoga……..

    Hormat Saya

    H. Yan Paruhum Lubis
    alias Ucok Majestik

    ( )
    Tembusan:
    1. Dewan Pers di Jakarta
    2. KOMNAS HAM di Jakarta
    3. Komisi Penyiaran di Jakarta
    4. Komisi Informasi di Jakarta
    5. Majelis Pimpinan Nasional Pemuda Pancasila di Jakarta
    6. Majelis Pimpinan Wilayah Pemuda Pancasia Sumatra Utara di Medan
    7. Pimpinan Redaksi Media Massa Cetak dan Elektronik baik Lokal dan Nasional di Jakarta dan Medan
    8. Pertinggal.

  10. Cakar Ayam said

    Ini nggak ada capeknya si Alfiannur ini… Dikiranya ada gitu orang yang sempat-sempatnya baca tulisan panjang-panjang gitu. Mending kalo padat informasi dan menarik. Blabar pisan nggak ada bagus-bagusnya. Baca dua paragraf aja malas. Isinya nggak karuan, nggak runut, wah… kacaulah. Mbok belajar dulu menyusun argumen, proporsi, dan konklusi, jangan nurugtug aja nyerocos nggak ada berentinya.

  11. Anonymous said

    komunis tetep setan………..!!!!!!!

  12. Cakar Ayam said

    Ini lagi sok-sokan bilang “Komunis tetap setan.” Woy kalo ngomong pake argumen.

  13. Anonymous said

    cerita ini sangat melengkapi pengetahuan saya yang kebetulan saat ini saya sedang membaca buku yang berjudul “Siapa Menabur Angin Akan Menuai Badai (G30S/PKI dan Apa Peran Bung Karno)” (1988) karya tulis Soegiarso Soerojo…

  14. Marthin Luther said

    ideologi komunis adalah ciptaan yahudi dengan zionismenya buka hanya di indonesia bahkan di rusia dan china sendiri puluhan juta orang tewas akibat ideologi setan ini. prinsip komunis “punya saya punya sya punya kamu punya saya” jaman sekarang ngak di china dan rusia pemimpinya menganut prinsip tersebut jadi ngak ada bedanya dengan rampok!!! waspadalah

  15. Anonymous said

    Dasar PKI (setan)

  16. Anonymous said

    Marthin Luther berkata

    26/05/2013 pada 01:13
    ideologi komunis adalah ciptaan yahudi dengan zionismenya buka hanya di indonesia bahkan di rusia dan china sendiri puluhan juta orang tewas akibat ideologi setan ini. prinsip komunis “punya saya punya sya punya kamu punya saya” jaman sekarang ngak di china dan rusia pemimpinya menganut prinsip tersebut jadi ngak ada bedanya dengan rampok!!! waspadalah

    anda ngmng komunis ciptaan yahudi ??? saya bukan orang yg pegang paham komunis tapi sepertinya perkataan anda tentang komunis itu menganut prinsip rampok agak salah besar … china ?? gk liat itu china sekarang seperti apa ??? salah satu negara yg disegani amerika dan salah satu negara asia yg perkembangan industri dan ekonominya maju paling pesat se-Asia dalam satu dekade terakhir .

  17. VANELLA said

    kekejaman dibalas kekejaman. kebiadaban dibalas dg kebiadaban. berarti kejam semua. biadab semua. msuk neraka semua.

  18. JINWOO said

    jaman skrng gk ada komunis. kapitalis semua. china juga komunis partai nya doank, tp faham nya kapitalis.

  19. tulisan sudah dimuat tempo sebagai bantahan. Mau tahu jawaban tempo? tulisan dibuat berdasarkan film yang dibuat Joshua Oppenheimer? Bagaimana jika narasumber Joshua salah dan cuma ingin tenar walaupun mengarang? sementara anda sudah berasumsi sendiri!

  20. alllllilah said

    baru habis menonton filem “the act of killing”. mengejutkan saya: ada orang yang berasa bangga dan sanggup mengaku dirinya membunuh orang yang tidak berdosa(dlm filem salah seorang mengaku bahawa bukan semuanya yang dibunuh itu adalah ahli pki) ….

  21. Anonymous said

    Buat Ali Hamid tlg boss yg anda bicarakan itu salah besar simple aja boss yg membunuh 7 perwira tinggi itu anggota pki ato tentara angakatan dara?kemudian mengapa anggota,simpatisan atau yg dituduh dkt dgn dibantai jg?anda bs bayangkan klo hal tsb tejadi pada anda atau keluarga anda yg dituduh dan dibantai spt binatang?rakyat kecil yang tdk tau apa2 mengaenai hal tsb dibantai?coba anda pikir baik2..dan yg mengatakan komunis itu punya sy ya sy dan punya kamu punya itu perkataan yg salah dan goblokk…komunis itu ideologi yg ditanamkan adalah SAMA RATA SAMA RASA,kongkrit nya tdk ada yg diatas ato dibawah semua sama,negara bertangung jwb akan kelansungan rakyatnya,artinya berkerja sama,negara menanggung semua hak dan martabat rakyat yg dipimpinya dgn kata lain apa yg dirasakan pemimpin begitu jg yg dirasakan rakyat,tidak ada yg kaya ato miskin krn pemerintah wajib memakmurkan rakyat dan rakyat wajib berkerjatanpa memikirkan nasib perkerjan,pendikan anak atau hal2 lainnya krn negara yang menanggung semua itu untuk kemakmuran negara..gituu boss..ga ky skrg yg kaya makin kaya dan yg miskin makin miskin..

  22. Anonymous said

    Buat Ali Hamid tlg boss yg anda bicarakan itu salah besar simple aja boss yg membunuh 7 perwira tinggi itu anggota pki ato tentara angakatan darat?kemudian mengapa anggota,simpatisan atau yg dituduh dkt dgn PKI dibantai jg tanpa proses hukum?anda bs bayangkan klo hal tsb tejadi pada anda atau keluarga anda yg dituduh dan dibantai spt binatang?rakyat kecil yang di desa tdk tau apa2 mengenai hal tsb dibantai jg?coba anda pikir baik2..dan yg mengatakan komunis itu punya sy ya sy dan punya kamu punya saya itu perkataan yg salah dan goblokk…komunis itu ideologi yg ditanamkan adalah SAMA RATA SAMA RASA,dan persamaan hak sosial,kongkrit nya tdk ada yg diatas ato dibawah semua sama,negara bertangung jwb akan kelangsungngan rakyatnya,artinya berkerja sama,negara menanggung semua hak dan martabat rakyat yg dipimpinnya dgn kata lain apa yg dirasakan pemimpin begitu jg yg dirasakan rakyat,tidak ada yg kaya ato miskin krn semua brkerja demi kelangsungan negara, pemerintah wajib memakmurkan rakyat dan rakyat wajib berkerja tanpa memikirkan nasib perkerjan,pendikan anak atau hal2 lainnya krn hal tsb negara yang menanggung semua itu untuk kemakmuran negara..gituu boss..ga ky skrg yg kaya makin kaya dan yg miskin makin miskin..

  23. Anonymous said

    Propaganda Pemerintah orde baru yang aku inget dulu waktu aku masih sd suka diceritain sama guru sama buku sejarah : Komunis itu ga punya agama alias ga punya Tuhan..akhirnya aku tau kalau yang ga punya agama itu ATHEIS bukan komunis..yang atheis itu yang bunuh rakyat miskin yang ada didesa desa sampe 3 juta orang atas kepentingan kekuasaan orde baru dan perintah dari tentara angkatan darat Letjen SOEHARTO so siapa yang tidak punya Agama??kalian yang menilai sendiri!!wassalam

  24. ra said

    Kalau pernah dengar kisah prri yg sebenarnya.. komunis juga kejam… tentara komunis sukarno saat prri juga membantai puluhan ribu rakyat di sumbar.. nggak hanya dibantai.. juga diperkosa… dalam politik .. kadang gak ada protagonist dan antagonist, dua2nya sama… hanya siapa yg cepat…

    Pernah dengar kekejaman polpot.. pemimpin khmer merah dari partai komunis..???

    Kepala rakyatnya sendiri di bor, dipotong2… korbannya dari bayi, wanita.. sebelum dibantai difoto dulu…

    Jadi yg terjadi di indonesia.. kalo bukan anti pki yg nge bantai dulu .. kalo nggak pki juga akan ngebantai…

    Di sumbar.. para ulama, datuk… juga dibunuh oleh pki, bahkan mesjid di bakar…. ini cerita kakek saya… krn itu terjadi eksodus besar2an …

    Yg
    Saya gak suka si josua ini bicara ttg kemanusiaan.. kenapa gak bikin film ttg agent orange .. ketika us army nyiram senjata kimia yg bikin rakyat vietnam terlahir cacat…. bilang aja ini utk s3 nya.. karirnya kedepan… bullshit bgt deh…. kebetulan si anwar congo preman bodoh yg gsk ngerti inggris dan kontrak

  25. bagi yang lahir ditahun 1950an, pasti pernah merasakan bagaimana jumawanya PKI saat itu, karena merasa mendapat dukungan dari Sukarno serta sudah berakar dalam tubuh birokrat sipil dan Militer. Semua orang yang tidak sejalan apalagi menentang PKI, pasti masuk penjara, Terutama para Ulama Islam seperti Hamka, Natsir, Roem dll. Dalam banyak kejadian didaerah, banyak ulama Islam yang dibantai PKI. Begitu G 30 S dan diikuti oleh kejatuhan Sukarno, maka PKI memakan sendiri buah dari pohon yang telah ditanamnya. Seperti yang diceritakan oleh YP Lubis diatas, memang pada kenyataannya PKI juga didukung oleh negara China, jadi bukan hal yang aneh kalau banyak orang keturunan di Republik ini yang justru memihak PKI, dan harus menerima buahnya juga.
    Yoshua Oppenheimer (seorang keturunan Yahudi), seperti biasa yang dilakukan oleh semua keturunan Yahudi didunia, selalu membuat kerusakan. Pembuatan dokumenter sebagai persyaratan untuk pemenuhan study nya, hanyalah akal-akalannya saja. Dengan segala trik rekayasanya, dibuatlah dokumenter yang sangat menyudutkan Indonesia yang memang itulah yang menjadi tujuan dari Yoshua.
    Secara akal sehat, mana ada seorang pembantai yang mau mengakui semua perbuatannya, pembantai yang mau menceritakan kekejamannya adalah seorang pembantai palsu. Dan hal itu sudah dijelaskan oleh YP Lubis, dimana seorang Anwar Congo adalah orang yang sama sekali tidak dikenalnya dalam semua peristiwa yang terjadi.
    Tempo hanya bagian dari jaringan yahudi, sudah banyak bukti kalau pemilik Tempo, Gunawan Muhammad, sering mendapatkan dana dari Yahudi.

  26. PKI,Soekarno,Jend.Soeharto,dan Perwira TNI lainnya telah membuat berjuta juta orang tidak berdosa meninggal dan saya,kita, bahkan semuanya menjadi bingung.. siapa yang benar dan siapa yang harus disalahkan. ingin menyalahkan PKI tapi ada argument bahwa ini hanya rekayasa pemerintah orde baru.G30S/PKI benar benar menyimpan sejuta misteri yang kini belum terpecahkan,akhirnya semua orang berlomba lomba mencari berbagai sumber tapi hanya dari satu sudut pandang dan mereka langsung meng-iyakan bahwa PKI benar benar SETAN, dan ada juga yang membaca dari sumber lain dan mereka langsung membuat kesimpulan bahwa yang salah dari pihak pemerintah orde baru itu sendiri yang tidak lain adalah jend.Soeharto atau bahkan yang ada malah menyimpang dari cerita aslinya seperti yang diributkan diatas bahwa semua ini ada “kepentingan”. kenapa tidak ada orang yang menyimpulkan dari kedua sudut pandang bahwa PKI dan rezim orde baru itu tidak ada yang salah. bukannya mereka semua memiliki kepentingan yang berbeda beda ? dan akhirnya berebut kekuasaan yang hasilnya menewaskan orang orang tidak berdosa.
    Sedikit tentang profile G30S/PKI,
    Anderson dan McVey memandang G30S(tanpa dibelakangi PKI) sebagai semacam pemberontakan dalam angkatan darat yang dilancarkan para perwira muda JATENG yang merasa jijik terhadapat gaya hidup para jenderal jenderal mereka yang gila kuasa, berfoya-foya,hidup mewah, menelantarkan nasib anak buahnya dan menghambur hamburkan uang negara harus ditendang keluar dari angkatan darat para perwira muda ini ingin mengubah arah angkatan darat menjadi lebih baik, untuk membangun kekuatan mereka, para perwira muda mengajak orang orang tertentu dari AURI dan PKI di dalam operasi mereka dan yang menjadi korban para pejabat tinggi TNI, sepeti Letjen TNI Akhmad Yani, Mayjen Raden Suprapto dll.Saya sama sekali tidak berpihak ke kanan mau kekiri, untuk apa.. karena bagi saya mereka itu sama sama SETANnya, membabi buta orang orang pribumi sendiri.balas dendam memang bukan jalan yang terbaik untuk menyelesaikan masalah, karena melihat kejadian tahun 1948 berlanjut hinggal 1965 terus dan teruss..

  27. Anonymous said

    Alm . Soeharto yang membunuh 7 jendral tersebut ! bukan PKI ! PKI dituduh oleh soeharto .

  28. konveksi surabaya

    Pengakuan Anwar Congo sang Pembantai PKI « KabarNet.in

  29. andres said

    hufffttt…sejarah kelam perjalanan bangsa. Sulit bagi kita melihat dengan jernih ketika hanya kita yang benar…pernahkah kita memandang mungkin memang pikiran orang lain yang benar. Namun seberapapun kelamnya memang harus kita ungkap perlahan, harus ada keberanian mengakui salah dan keberanian memaafkan…
    haruskah selalu hanya cerita kelam yang kita wariskan kepada penerus bangsa ini???

  30. pendidikan kesehatan

    Pengakuan Anwar Congo sang Pembantai PKI « KabarNet.in

Komentar "PILIHAN" akan diambil menjadi artikel KabarNet.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 5.046 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: