KabarNet.in

Aktual Tajam

Lagi, Densus 88 Salah Tangkap, Korbannya Ditampar

Posted by KabarNet pada 24/09/2012

Solo – KabarNet: Salah tangkap kembali dilakukan oleh Densus 88 Anti Teror Mabes Polri. Kebrutalan Densus 88 saat menangkap semua aktivis islam yang dituduh teroris tampaknya tidak ada tanda-tanda perbaikan sama sekali.

Kali ini yang mengalami perilaku represif Densus 88 adalah mahasiswa (Dul Rahman), yang merupakan wartawan Kording (Koran Dinding) Risalah Tauhid yang saat itu berada di dekat lokasi kejadian untuk mengambil sejumlah gambar dengan kamera yang di bawanya guna bahan materi Kording. Ia mendapat tugas melakukan peliputan berita tentang penangkapan oleh Densus 88 di sekitar Solo Square.

Saat itu Dul Rahman bersama temannya, Ali, menuju TKP penangkapan oleh Densus 88 (sekitar Solo Square) mengendarai sepeda motor. Dan tiba di Solo Square sekitar pukul 10.30. Karena baterai kamera lemah, Dul Rahman berniat membeli baterai menuju arah barat, sedangkan untuk ke TKP harus ke arah Selatan.

Ali yang menunggu di lokasi parkir, akhirnya menuju ke selatan, mengarah ke TKP. Dan tidak lama kemudian kembali lagi ke arah ujung jalan dekat lokasi parkir kendaraan. Tiba-tiba terlihat Dul Rahman dari arah barat sudah dibawa oleh dua orang Polisi, menuju ke timur.

Dul Rahman yang masih aktif sebagai mahasiswa di Ma’had Abu Bakar Ash-Shidiq Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) ini menuturkan, bahwa dirinya setelah itu digelandang ke Mapolresta Surakarta, kemudian di interogasi oleh 3 orang polisi secara bergantian.

Sebelum di interogasi, Dul Rahman di tampar berkali-kali oleh seorang polisi yang memang bertugas mengintograsi Dul Rahman. Akibat perlakuan kasar, brutal dan tak berprikemanusian tersebut, Dul Rahman mengalami pendarahan cukup parah di mulutnya. “Kemudian, saat penangkapan, Densus 88 Anti Teror sempat melakukan kekerasan dan pemukulan terhadap korban, yaitu memaksa korban masuk ke mobil hingga celana panjang yang dipakai Dul Rahman sobek setengah meter, serta lehernya dipukul dari belakang,” ungkap Ustadz Sholeh, pengurus JAT Solo seperti dikutip salam-online, Ahad (23/9/2012).

Tak cukup sampai disitu, dia juga diancam akan di bunuh jika tidak mau diam. Akibat kekerasan polisi tersebut (Densus 88), Dul Rahman mengalami sakit di tengkuk dan tumit. Selain itu, celana Dul Rahman juga sobek sepanjang 70 cm dan sandal yang di kenakannya ikut rusak akibat perlakuan brutal dari polisi dan Densus 88 di lokasi penangkapan Badri Hartono (40 tahun) tersebut . Dul Rahman diancam dengan kata-kata, ”Mati kamu, mati kamu!”, lanjutnya.

Selain Dul Rahman, ada juga indikasi salah tangkap di hari yang sama, yaitu Fajar terduga teroris yang ditangkap di dekat rumah kontrakannya di Todipan, Laweyan, Solo. keluarganya mendatangi Polresta Surakarta. Fajar Novianto adalah remaja berusia 18 tahun yang masih duduk di kelas 3 salah satu SMA Negeri di Solo.

Di Todipan, Fajar tinggal bersama bibinya, Wiwin (30). Adapun ayah dan ibunya bekerja dan tinggal di Jakarta. “Ayahnya di Jakarta. Kerja sebagai salah seorang karyawan bagian kebersihan PTIK (Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian),” ungkap Wiwin.

Wiwin tidak percaya keponakannya itu terlibat dalam jaringan teroris. Sambil terbata-bata karena menahan tangis, Wiwin mempertanyakan mengapa keponakannya sempat ditabrak mobil Densus 88 saat mengendarai sepeda motor sebelum ditangkap. Dan tetangga yang ingin menolong Fajar saat itu justru dihalang halangi dengan senjata oleh anggota Densus, yang terjadi pada Sabtu sore (22/9/2012).

Dzikron kakak Dul Rahman yang turut datang ke Polresta Solo, juga mengatakan bahwa Densus 88 sudah salah target. Menurutnya Dzikron, Densus harusnya lebih profesional. “Saya anggap Densus tidak profesional karena sudah salah target dengan menangkap adik saya” katanya.

Pihak keluarga Durrahman dan Fajar diterima Kasat Intel Polresta Surakarta, Kompol Fahrudin. Fahrudin menjelaskan, pihaknya tidak memiliki kewenangan untuk menjelaskan keterlibatan Durrahman dan Fajar dalam jaringan teroris. Hal itu adalah kewenangan khusus Densus 88 Anti Teror. “Kami tidak tahu sejauh mana keterlibatan Durrahman dan Fajar. Kami tidak menanganinya. Itu adalah kewenangan Densus,” terang Fahrudin.

JAT Solo dan LUIS Bereaksi
Mendengar ada informasi ada salah tangkap dari anggota JAT, Sholeh Ibrahim yang merupakan Ketua JAT Mudiriyah Solo didampingi oleh Ketua LUIS Edi Lukito mengklarifikasi tentang salah tangkap yang dilakukan oleh Densus 88 ke Mapolres Solo. Karena dari 8 orang yang ditangkap Densus 88, tidak ada indikasi Dul Rahman terlibat dan bukan dari salah satu yang disebutkan ke-8 terduga yang telah ditangkap.

“Kami sedang melakukan mediasi untuk membebaskan Dul Rahman, bisa jadi ada kesalahpahaman. Karena kami yakin Dul Rahman bukan target, jika tidak segera dibebaskan kami akan melakukan langkah terbaik untuk mengawal Dul Rahman,” ungkap Endro Sudarsono yang merupakan Humas LUIS.Dul Rahman akhirnya dibebaskan sekitar pukul 20.00 WIB, tak seberapa lama setelah mediasi yang dilakukan oleh JAT Solo dan LUIS.

Sehubungan dengan itu, JAT Solo menggelar jumpa pers di Masjid Baitussalam Tipes, Solo, Ahad (23/9/2012) pukul 13.45 WIB.Jumpa pers dihadiri Ketua JAT Solo Ustadz Sholeh Ibrahim, Ketua ISAC M. Kurniawan, SH, MH, dan Humas JAT Endro Sudarsono.

Dul Rahman adalah anggota Jamaah Ansharut Tauhid (JAT) yang saat itu ditugaskan melakukan peliputan berita mingguan Koran Dinding (Kording) Risalah Tauhid yang merupakan bagian dari program Sariyah Dakwah Wal I’lam JAT.

Terkait hal itu JAT Solo menilai bahwa apa yang dilakukan Densus 88 Anti Teror terhadap Dul Rahman jauh dari profesional dan tidak lagi proporsional. Dari hasil investigasi, JAT memperoleh fakta-fakta, bahwa Dul Rahman bukan bagian dari Target Operari Densus 88 Anti Teror, namun ditangkap tanpa memberikan alasan penangkapan maupun Surat Penangkapan.

Dengan kejadian tersebut pengurus Jamaah Ansharut Tauhid Solo minta, agar Kapolri meminta maaf kepada korban salah tangkap, Dul Rahman, dan merehabilitasi nama baiknya di masyarakat. “Kami juga minta kepada Provoost Mabes Polri untuk Pro Aktif mengusut para pelaku penganiayaan terhadap korban,” kata Sholeh Ibrahim.

Kepada Presiden RI, JAT Solo minta untuk mengevaluasi keberadaan Densus 88 Anti teror di Indonesia, karena sudah tidak independen, sering melakukan tembak mati korban, melakukan penganiayaan dalam 7 x 24 jam, tidak ada kebebasan menentukan penasihat hukum, di samping beberapa kali melakukan salah tangkap. “Selain itu, kami minta, agar Komnas HAM menyeret dan mengadili oknum Densus 88 Anti Teror yang terlibat dalam pelanggaran HAM,” demikian JAT Solo menutup keterangannya.

Untung saja Dul Rahman itu tidak di-dor mati, jika hal itu terjadi, bisa saja pihak polri akan memberikan keterangan kepada khalayak, bahwa korban ditembak mati karena melawan petugas. Dia adalah pelaku teroris dari jaringan ini dan itu. Tentu saja korban yang sudah mati terbujur kaku tak dapat lagi membela dirinya menuntut keadilan. Seperti kasus dua tahun lalu, dua orang  yang diduga teroris ditembak mati oleh Densus 88 di Cawang, Jakarta Timur, pada tanggal 12/5/2010. Anehnya, Densus 88 yang menembaknya pun tak ada yang tahu siapa kedua sosok yang dibunuhnya itu. Hingga saat ini tak ada penjelasan apapun dari Mabes Polri atas pembunuhan kedua sosok tak dikenal itu. Polisi hanya bisa menyebut keduanya adalah teroris. [KbrNet/Slm]

Baca: 2 Wajah Terduga Teroris yang Belum Diindetifikasi

9 Tanggapan to “Lagi, Densus 88 Salah Tangkap, Korbannya Ditampar”

  1. sueb said

    mana ada sih densus 88 profesional? dari dulu jg mereka seperti itu grusak-grusuk…

  2. laknatullah alaikum ajma’in

  3. Pergeseran isu Simulator SIM

  4. Anonymous said

    makanya jangan deket2 ma ajaran teroris apalagi brsmpati ma teroris kna batunya kan?!

  5. Anonymous said

    makanya jangan deket2 ma ajaran teroris apalagi brsmpati ma teroris kna batunya kan?! haahaahahahaha ktnya brani jihad,baru ditampar aj udh kencing di celana dasar jenggot kambing!!

  6. wong ndeso said

    sekarang sudah jelas siapa sebenrnya teroris sejati yaitu yang seenaknya menangkap dan membantai orang islam

  7. caesar said

    “Anonymous berkata” jangan sembarangan bicara jika tidak mengerti yang sebenarnya. Hati anda dan agama anda sudah rusak dan diobok zionis, tapi anda terlalu bodoh sehingga tidak akan pernah sadar.

  8. Alloh swt pasti mengirim azab pedih kepada manusia yang dholim

  9. densus kafir biadab tidak berkemanusiaan

Komentar "PILIHAN" akan diambil menjadi artikel KabarNet.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 5.073 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: