KabarNet.in

Aktual Tajam

Vonis Aneh Nunun, Ada Yang Disuap, Tak Ada Yang Menyuap!

Posted by KabarNet pada 10/05/2012

Jakarta – KabarNet: Ada sejumlah pertanyaan yang mengganjal pasca vonis 2 tahun 5 bulan penjara terhadap Nunun Nurbaeti, terpidana kasus suap cek pelawat untuk pemenangan Miranda S. Goeltom sebagai Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia (DGS-BI) 2004. Dalam kasus tipikor tersebut majelis hakim berhasil mengungkap nama 30 orang Anggota DPR Komisi IX periode 2004 yang menerima suap. Majelis hakim juga memvonis Nunun Nurbaeti  setelah dinyatakan bersalah “menyalurkan” uang suap. Namun sampai sekarang nama si penyuap dalam kasus tersebut masih merupakan misteri. Aneh, ada yang terima suap tapi tak ada yang menyuap. Sementara yang berkepentingan (Miranda S. Goeltom) masih bebas melenggang kesana kemari.

Dalam kasus suap cek pelawat untuk pemenangan Miranda S. Goeltom sebagai Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia (DGS-BI) 2004 tersebut, majelis hakim diminta mengungkap nama pemilik uang suap (penyuap/sponsor) yang mendanai pembelian 240 lembar cek pelawat senilai Rp 24 miliar dalam putusan untuk terdakwa kasus suap pemilihan Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia 2004, Nunun Nurbaetie yang telah divonis 2 tahun 5 bulan penjara.

Terkait vonis atas Nunun tersebut, Anggota Badan Pekerja Indonesia Corruption Watch, Emerson Yuntho, menyatakan putusan Nunun menjadi tidak bernilai jika dalam pertimbangannya hakim tak mampu mengungkapkan aktor intelektual atau pihak yang bertanggung jawab menyiapkan dana suap cek pelawat. Karena kasus ini menjadi sangat aneh dan janggal, ada 30 Anggota DPR yang dijebloskan ke penjara karena menerima suap, ada pula Nunun Nurbaeti yang dihukum karena didakwa menyalurkan uang suap tersebut, namun tidak terungkap siapa si penyuap, atau dari siapa uang suap itu.

Emerson juga mendesak hakim membuat putusan yang tidak kering dan mengesampingkan sejumlah kesaksian yang berniat mengaburkan kasus ini. “Hakim harus mencari kebenaran materiil, dan melihat mana kesaksian palsu yang dibuat-buat, mana yang fakta,” ujar Emerson.

Pernyataan Emerson di atas juga dikuatkan oleh Direktur Advokasi Pusat Kajian Anti Korupsi Universitas Gadjah Mada Oce Madril. Menurutnya, putusan hakim terhadap terdakwa kasus suap cek pelawat Nunun Nurbaetie seharusnya turut menyebutkan nama pemilik uang suap (sponsor) pemberi cek. Penyebutan peran Artha Graha, kata Oce, memudahkan penuntasan kasus korupsi pemilihan Deputi Gubernur Senior BI ini. “Itu penting untuk menjerat target berikutnya,” ujarnya.

Menurut Oce, mestinya putusan hakim harus menyatakan keterlibatan sponsor penyedia uang yang dibagi-bagikan oleh Nunun. Dikatakannya, akan aneh jika putusan terhadap Nunun hanya menyebutkan tunggal peran Nunun. Adapun dalam beberapa kali sidang jelas disebutkan Nunun adalah perantara yang membagikan uang dari sponsor pihak ketiga. “Dari mana uang berasal harus disampaikan,” tandasnya.

Nunun dinyatakan terbukti memerintahkan bawahannya di PT Wahana Esa Sejati, Arie Malangjudo, membagikan cek pelawat kepada 30 orang anggota DPR Komisi IX periode 1999-2004. Ketiga puluh orang anggota DPR tersebut akhirnya dijebloskan ke penjara. Cek pelawat itu adalah ucapan terima kasih karena Miranda Swaray Goeltom terpilih sebagai Deputi Gubernur Senior BI 2004 dalam uji kelayakan dan kepatutan di Senayan, pada 8 Juni 2004. Namun siapakah si penyuap (pemilik uang suap) dalam kasus ini sampai sekarang masih belum terungkap.

Putusan untuk terdakwa Nunun Nurbaeti juga dinilai kalangan DPR sebagai putusan aneh yang masih menyisakan sejumlah tanda tanya. Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) dinilai gagal karena tidak mampu mengungkap, untuk kepentingan apa suap itu. “Apa kepentingan Nunun menyuap? Untuk kepentingan siapa dia menyuap? Kenapa majelis hakim menyembunyikan itu? Kenapa tidak digali lebih dalam di pengadilan?” kata Benny K Harman, Ketua Komisi III DPR, Rabu (9/5/2012).

Benny mengatakan, berbagai pertanyaan yang muncul akibat sejumlah kejanggalan yang mencuat dari kasus Nunun ini harus bisa dijawab Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dan majelis hakim dalam perkara tersangka Miranda nantinya. Seperti diketahui, KPK masih melakukan penyidikan kasus Miranda.

Untuk diketahui, saat menjalani persidangan, Nunun mengaku tidak tahu-menahu soal asal usul cek perjalanan tersebut. Ia juga mengaku tidak ingat bagaimana sejumlah uang pencairan sebagian cek perjalanan tersebut bisa mengalir ke rekeningnya. Uang tersebut, menurutnya, ditransfer oleh seseorang ke rekeningnya, padahal dirinya tidak pernah meminta dan tidak tahu untuk apa uang tersebut. Tahu-tahu sejumlah uang sudah masuk ke rekeningnya dengan begitu saja karena ditransfer oleh seseorang.

Sementara itu, Wakil Ketua Komisi III DPR, Nasir Djamil mengatakan, dengan putusan majelis hakim bahwa Nunun yang memperkenalkan Miranda dengan sejumlah anggota Dewan membuktikan bahwa Miranda memiliki kepentingan.

“KPK harus memiliki energi yang lebih besar untuk mengungkap sponsor dari suap cek perjalanan sehingga semua akan jelas siapa pemeran utama dari kasus ini, dan apa kepentingannya,” kata Nasir.

Dalam pada itu, peneliti Indonesia Corruption Watch (ICW) bidang hukum, Donal Fariz, juga menilai putusan majelis hakim Tipikor atas Nunun ini gagal menguak siapa penyandang dana di balik pembelian 480 lembar cek perjalanan yang menjadi alat suap dalam kasus tersebut. Ke depannya, Donal berharap KPK bekerja keras dan independen dalam mengungkap si penyandang dana itu. “Kerja KPK yang extraordinary (luar biasa) sangat dibutuhkan. Kita berharap KPK dan penyidik-penyidiknya benar-benar independen ketika akan menjerat penyandang dana,” ujar Donal, Rabu (9/5/2012).

Putusan majelis hakim Tipikor atas perkara Nunun Nurbaeti tersebut memang tidak mengungkap siapa penyandang dana di balik pembelian cek perjalanan. Selama persidangan, tidak ada saksi yang mengungkapkan hal tersebut. Demikian juga dengan Nunun. Saat diperiksa sebagai terdakwa, Nunun mengaku tidak tahu sumber cek perjalanan yang menjadi alat suap dalam kasusnya. Majelis hakim pun akhirnya ‘MENYIMPULKAN’ TANPA DUKUNGAN ALAT BUKTI DAN SAKSI (yakni hanya berdasarkan ‘keyakinan’ majelis hakim) kalau cek perjalanan itu berasal dari Nunun. [KbrNet/adl]

2 Tanggapan to “Vonis Aneh Nunun, Ada Yang Disuap, Tak Ada Yang Menyuap!”

  1. Polisi berkata

    Yg menyuap SETAN GUNDUL!
    Kasus aneh. Memang bukan Indonesia kalo tdk aneh.

  2. Wanda berkata

    kasihan bu Nunun… jadi korban.

Komentar "PILIHAN" akan diambil menjadi artikel KabarNet.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 4.095 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: