KabarNet.in

Aktual Tajam

Ketua KPK Abraham Samad Disuruh Pulang Kampung

Posted by KabarNet pada 19/04/2012

Jakarta – KabarNet: Sungguh berat beban amanah dan tanggung-jawab di pundak Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Abraham Samad. Sebelum diangkat menjadi Ketua KPK beliau pernah melontarkan kalimat yang merupakan tekad dan janji, yakni kalau sampai gagal dalam tugas pemberantasan korupsi, maka beliau akan pulang kampung. Seorang Abraham Samad yang masih muda dan bersemangat rupanya kala itu belum menyadari dunia macam apa yang dimasukinya di KPK. Abraham lupa bahwa korupsi di Indonesia sudah menjadi budaya sebagaimana keris, batik dan wayang. Sudah 4 bulan berlalu sejak pengangkatannya namun pemberantasan korupsi yang dijanjikannya masih belum membuahkan hasil, dan kini mulai ditagih. Abraham Samad diminta untuk siap-siap Pulang Kampung!

Penagih janji Abraham Samad itu adalah Ketua Presidium Indonesia Police Watch, Neta S. Pane, yang mengatakan bahwa kini sudah 120 hari Abraham Samad memimpin KPK namun tanda-tanda keberhasilan yang dijanjikannya belum juga terlihat. Jika keadaan tidak berubah dan tetap saja seperti ini, maka 120 hari ke depan Abraham tampaknya harus bersedia mengundurkan diri dan pulang kampung seperti janji yang pernah diucapkannya sebelum menjadi Ketua KPK.

Neta S. Pane yang merupakan deklarator Komite Pengawas KPK menilai bahwa indikasi keberpihakan KPK yang luar biasa terhadap penguasa saat ini adalah yang menjadi sebab KPK berjalan lamban. “KPK telah terkoptasi terhadap kekuasan, sehingga kasus-kasus besar yang pernah dijanjikan Abraham Samad cs akan diungkap menjadi kabur dan sia-sia,” tandas Neta S. Pane seperti dikutip oleh Rakyat Merdeka Online, Rabu (18/4/2012).

Indikasi keberpihakan itu, ujar Neta selanjutnya, tampak dari alot dan rumitnya KPK setiap kali memproses dan menangkap figur-figur yang dekat dengan lingkaran kekuasaan, meski sejumlah saksi sudah terang-terangan menuding mereka terlibat korupsi. “Contohnya, Angelina Sondakh meski sudah ditetapkan sebagai tersangka tapi tidak juga ditahan dan proses hukum. Anas Urbaningrum juga seperti itu, padahal sejumlah saksi sudah mengungkap dugaan keterlibatannya dalam kasus Nazarudin tapi belum juga diproses,” kata Neta menjelaskan.

Bahkan, lanjut Neta, akhir-akhir ini KPK terlihat mengalihkan perhatian masyarakat ke arah kasus-kasus korupsi di sejumlah daerah yang nilai kerugiannya tak seberapa. “Figur atau pihak yang tidak punya jalur kepada kekuasan bisa dengan cepat diproses, dijadikan tersangka dan pahitnya, langsung ditahan oleh KPK,” tambahnya.

Terkait kelambanan KPK ini, Neta S. Pane mengatakan bahwa Komite Pengawas KPK mencatat setidaknya ada 8 kasus besar yang harus dituntaskan oleh Abraham Samad. Yaitu, kasus BLBI, kasus Gayus yang melibatkan pejabat (terutama perwira tinggi Polri), kasus Bank Century, kasus suap Wisma Atlet yang melibatkan ‘bos besar’ dan ‘ketua besar’, kasus Hambalang, kasus dugaan mafia anggaran DPR yang diungkap oleh Wa Ode Nurhayati, kasus Cek Pelawat yang melibatkan Miranda S.Goeltom, dan kasus korupsi di Depnakertrans. “Jika kedelapan kasus itu tak kunjung tuntas, 120 hari ke depan Samad tampaknya harus siap-siap memenuhi janjinya, yakni mundur dan pulang kampung,” pungkasnya.

Akankah Abraham Samad mampu mengungkap kasus-kasus korupsi sesuai janji yang pernah diungkapkannya? Ataukah Daeng yang kita hormati dan menjadi tumpuan harapan masyarakat ini harus pulang kampung ke Sulawesi Selatan dengan wajah tertunduk? Marilah kita tunggu kiprah Ketua KPK yang kita banggakan ini selanjutnya. [KbrNet/adl]

13 Tanggapan to “Ketua KPK Abraham Samad Disuruh Pulang Kampung”

  1. Adnan Watampone said

    Ewako Daeng Abraham,
    Ewako Bugis-Makassar !
    Siri Na’ Pacce. Harumkan Kembali Nama Bugis Makassar
    Paentengngi Siri’mu Daeng

  2. Neta Pane itu asbun! Emangnya gampang memberantas korupsi di negeri ini?
    Maju terus Abragam Samad!

  3. Sang Kata said

    Sabar, 2014 akan ada regenerasi total !!!

  4. yohan said

    Abraham Samad ternyata lo BANCI !! , pulang aja sana aja lo,,, dah jualan bakso di aja di makasar

  5. ellaillaa said

    Mari beri dukungan kepada jajaran KPK agar lebih berani dan lebih sigap!

  6. aris kurniawan said

    yang mengatakan abraham banci lbh banci lagi.seharusnya kasih dukungan buat kpk agar makin kuat bukan malah mencela.BRAVO KPK.

  7. Anonymous said

    PAK ABRAHAM JANGAN GENTAR ,,,MAJU TERUS PANTANG MUNDUR ,,,,,,HIDUP NKRI

  8. RAHMA AYU WIDIYANTI SH.SPd said

    PAK ABRAHAM RESTU SELURUH BANGSAMU ,,,JANGAN GOYAH JANGAN MENYERAH,,APALAGI PULANG KAMPUNG ….KASIHAN BUMI TERCINTA DN SELURUH RAKYAT INDONESIA SIAPA LAGI YANG BERANI DN PEDULI SELAIN KPK

  9. Anonymous said

    Buat apa anda harus terlahir sebagai seorang BUGIS kalau tak punya SIRI’ dan tak mampu TARO ADA TARO GAU, EWAKI DAENG ABRAHAM.
    BY. ANAK BUGIS

  10. taUbat said

    DITAGIH JANJI, ABRAHAM SAMAD NGELES ?

    Rabu, 26 December 2012 | 23:44

    Percuma saja saya datang jauh-jauh dari Makasar jika tidak bisa berbuat untuk bangsa ini, mengikis korupsi di Indonesia ini. Jika dalam setahun tak bisa menuntaskan kasus-kasus korupsi besar di negeri ini saya akan pulang kampung.

    Itulah kutipan bebas ucapan Abraham Samad yang sangat popular, berkesan, dan selalu diingat oleh public, ketika dia mengikuti fit and proper test calon komisioner KPK di Komisi III DPR RI setahun lalu.

    Ketika janji dan sesumbarnya itu memasuki jatuh tempo dan ditagih, Abraham Samad pun memberi jawaban yang sangat diplomatis. Jawaban diplomatis dilontarkannya pada dua kesempatan wawancara TV (TV One dan Metro TV) pada 24 dan 26 Desember 2012).

    Garis besar pernyataan Ketua KPK itu ketika ditagih janjinya adalah sebagai berikut:

    1. Dia tidak lupa dengan sesumbarnya, tetapi system dan mekanisme kerja (collective collegial) di KPK yang dia hadapi saat sudah duduk di dalamnya ternyata tidaklah seperti yang dia bayangkan ketika dia melontarkan janji tersebut.

    2. Pengertian menyelesaikan kasus korupsi besar (kasus Bank Century contohnya) bukanlah selesainya kasus tersebut dalam pengertian “tuntas” menurut awam. Melainkan, terjadinya peningkatan proses dari penyelidikan ke penyidikan itulah yang dimaksud dengan “penyelesaian”. Bukan diukur dari siapa dan berapa jumlah tersangkanya.

    3. Selama setahun dia memimpin KPK sudah banyak progress yang dicapai KPK. Untuk itu dia pun menunjuk beberapa prestasi KPK selama tahun 2012 ini.

    4. Masyarakat dimintanya untuk tetap percaya bahwa KPK akan terus bekerja memenuhi harapan masyarakat.

    Apa sesungguhnya yang ingin disampaikan Abraham Samad dengan pernyataan-pernyataan tersebut? Ngeleskah dia? Masih bisakah publik berharap KPK akan mampu memberantas korupsi di negeri ini?

    Pernyataan pertama menyiratkan bahwa dia, meski sebagai ketua, tidaklah bebas dan tidaklah punya kekuatan super di KPK. Sistem dan iklim kerja collective collegial yang dia hadapi memang (sebagaimana diduga oleh pengamat) sarat dengan kepentingan individu/kelompok. Agaknya, Abraham Samad berharap agar masyarakat memaklumi kesulitannya itu.

    Persoalannya, jika memang dia merasa kesulitan mengatasi/mengendalikan system dan iklim kerja collective collegial di KPK, mengapa dia harus beratahan? Bukankah jika dia memang mengabdi berdasar idealism, sumpah yang sudah terucap pantang ditarik kembali? Atau jangan-jangan jabatan dan fasilitas di KPK memang lebih menarik untuk dipertahankan dan dinikmati?

    Pernyataan kedua menunjukkan bahwa Abraham Samad sedang berusaha merevisi, menurunkan standar, ukuran kinerja misi lembaga yang dia pimpin. Tegasnya, masyarakat jangan hanya menuntut hasil akhir, tetapi juga mengapresisasi prosesnya.

    Di sini, persoalannya bukan soal harga menghargai. Tetapi soal tanggung jawab. Orang yang meminta diapresiasi proses kerjanya, bukan hasilnya, biasanya cenderung berprinsip “yang penting sudah gugur kewajiban”.

    Jika seorang pekerja bersikap “yang penting sudah gugur kewajiban” biasanya cenderung mengabaikan kualitas. Dia bekerja bukan dengan hati dan jiwa, melainkan semata-mata dengan ototnya. Dia tidak punya standar kualitas, dia hanya mengukur kerjanya berdasarkan durasi dan jumlah aksi yang dilakukannya.

    Pernyataan ketiga jelas menyiratkan bahwa Abraham Samad sedang bermain statistic. Peningkatan garis kurva dijadikan indicator kinerja. Masalahnya, KPK bukanlah lembaga yang diharapkan berkinerja gradual (meningkat perlahan) tetapi frontal. KPK dibentuk karena lembaga-lembaga penegakan hukum “regular” terlalu lamban bergerak. Jadi, kuantitas aksi (statistic) bukanlah ukuran kinerja yang tepat digunakan oleh KPK yang memiliki kewenangan serba istimewa tersebut.

    Oleh sebab itu klaim bahwa telah banyak progres yang dicapai KPK dengan menunjuk kasus-kasus kecil dengan tersangka kelas teri (kecuali kasus Hambalang dengan Andi Malarangeng-nya) bukanlah prestasi besar yang memenuhi harapan rakyat sesuai semangat awal pembentukan lembaga KPK tersebut.

    Pernyataan keempat, jika bukan sekedar basa-basi, merupakan janji baru Abraham Samad. Masalahnya, jika janji itu hanya akan berbuah seperti yang dia gambarkan lewat pernyataan kedua maka sesungguhnya masyarakat tidak bisa berharap terlalu banyak pada lembaga KPK pimpinan Abraham Samad ini.

    Tetapi jika keberanian dan gebrakan KPK seperti yang ditunjukan lewat penetapan Andi Alfian Malarangeng sebagai tersangka kasus korupsi proyek Hambalang baru-baru ini terus berlanjut, maka janji Abraham Samad itu layak kita tunggu dan KPK patut terus kita dukung.

    Salam Kompasiana.

  11. taUbat said

    DITAGIH JANJI, ABRAHAM SAMAD NGELES ?

    Rabu, 26 December 2012 | 23:44

    Percuma saja saya datang jauh-jauh dari Makasar jika tidak bisa berbuat untuk bangsa ini, mengikis korupsi di Indonesia ini. Jika dalam setahun tak bisa menuntaskan kasus-kasus korupsi besar di negeri ini saya akan pulang kampung.

    Itulah kutipan bebas ucapan Abraham Samad yang sangat popular, berkesan, dan selalu diingat oleh public, ketika dia mengikuti fit and proper test calon komisioner KPK di Komisi III DPR RI setahun lalu.

    Ketika janji dan sesumbarnya itu memasuki jatuh tempo dan ditagih, Abraham Samad pun memberi jawaban yang sangat diplomatis. Jawaban diplomatis dilontarkannya pada dua kesempatan wawancara TV (TV One dan Metro TV) pada 24 dan 26 Desember 2012).

    Garis besar pernyataan Ketua KPK itu ketika ditagih janjinya adalah sebagai berikut:

    1. Dia tidak lupa dengan sesumbarnya, tetapi system dan mekanisme kerja (collective collegial) di KPK yang dia hadapi saat sudah duduk di dalamnya ternyata tidaklah seperti yang dia bayangkan ketika dia melontarkan janji tersebut.

    2. Pengertian menyelesaikan kasus korupsi besar (kasus Bank Century contohnya) bukanlah selesainya kasus tersebut dalam pengertian “tuntas” menurut awam. Melainkan, terjadinya peningkatan proses dari penyelidikan ke penyidikan itulah yang dimaksud dengan “penyelesaian”. Bukan diukur dari siapa dan berapa jumlah tersangkanya.

    3. Selama setahun dia memimpin KPK sudah banyak progress yang dicapai KPK. Untuk itu dia pun menunjuk beberapa prestasi KPK selama tahun 2012 ini.

    4. Masyarakat dimintanya untuk tetap percaya bahwa KPK akan terus bekerja memenuhi harapan masyarakat.

    Apa sesungguhnya yang ingin disampaikan Abraham Samad dengan pernyataan-pernyataan tersebut? Ngeleskah dia? Masih bisakah publik berharap KPK akan mampu memberantas korupsi di negeri ini?

    Pernyataan pertama menyiratkan bahwa dia, meski sebagai ketua, tidaklah bebas dan tidaklah punya kekuatan super di KPK. Sistem dan iklim kerja collective collegial yang dia hadapi memang (sebagaimana diduga oleh pengamat) sarat dengan kepentingan individu/kelompok. Agaknya, Abraham Samad berharap agar masyarakat memaklumi kesulitannya itu.

    Persoalannya, jika memang dia merasa kesulitan mengatasi/mengendalikan system dan iklim kerja collective collegial di KPK, mengapa dia harus beratahan? Bukankah jika dia memang mengabdi berdasar idealism, sumpah yang sudah terucap pantang ditarik kembali? Atau jangan-jangan jabatan dan fasilitas di KPK memang lebih menarik untuk dipertahankan dan dinikmati?

    Pernyataan kedua menunjukkan bahwa Abraham Samad sedang berusaha merevisi, menurunkan standar, ukuran kinerja misi lembaga yang dia pimpin. Tegasnya, masyarakat jangan hanya menuntut hasil akhir, tetapi juga mengapresisasi prosesnya.

    Di sini, persoalannya bukan soal harga menghargai. Tetapi soal tanggung jawab. Orang yang meminta diapresiasi proses kerjanya, bukan hasilnya, biasanya cenderung berprinsip “yang penting sudah gugur kewajiban”.

    Jika seorang pekerja bersikap “yang penting sudah gugur kewajiban” biasanya cenderung mengabaikan kualitas. Dia bekerja bukan dengan hati dan jiwa, melainkan semata-mata dengan ototnya. Dia tidak punya standar kualitas, dia hanya mengukur kerjanya berdasarkan durasi dan jumlah aksi yang dilakukannya.

    Pernyataan ketiga jelas menyiratkan bahwa Abraham Samad sedang bermain statistic. Peningkatan garis kurva dijadikan indicator kinerja. Masalahnya, KPK bukanlah lembaga yang diharapkan berkinerja gradual (meningkat perlahan) tetapi frontal. KPK dibentuk karena lembaga-lembaga penegakan hukum “regular” terlalu lamban bergerak. Jadi, kuantitas aksi (statistic) bukanlah ukuran kinerja yang tepat digunakan oleh KPK yang memiliki kewenangan serba istimewa tersebut.

    Oleh sebab itu klaim bahwa telah banyak progres yang dicapai KPK dengan menunjuk kasus-kasus kecil dengan tersangka kelas teri (kecuali kasus Hambalang dengan Andi Malarangeng-nya) bukanlah prestasi besar yang memenuhi harapan rakyat sesuai semangat awal pembentukan lembaga KPK tersebut.

    Pernyataan keempat, jika bukan sekedar basa-basi, merupakan janji baru Abraham Samad. Masalahnya, jika janji itu hanya akan berbuah seperti yang dia gambarkan lewat pernyataan kedua maka sesungguhnya masyarakat tidak bisa berharap terlalu banyak pada lembaga KPK pimpinan Abraham Samad ini.

    Tetapi jika keberanian dan gebrakan KPK seperti yang ditunjukan lewat penetapan Andi Alfian Malarangeng sebagai tersangka kasus korupsi proyek Hambalang baru-baru ini terus berlanjut, maka janji Abraham Samad itu layak kita tunggu dan KPK patut terus kita dukung.

    Salam Kompasiana.

  12. Anonymous said

    Apapun yang terjadi Pak Abraham harus tetap optimis……

  13. mahmud pANE said

    jgn buat malu kita orang bugis,,,jgn gentar pak abraham..dari sorotan mata anda saya yakin,,kamu bisa.

Komentar "PILIHAN" akan diambil menjadi artikel KabarNet.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 5.040 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: