KabarNet.in

Aktual Tajam

Rusdy Bahalwan Meninggal Dunia

Posted by KabarNet pada 08/08/2011

Surabaya – Dunia sepakbola Indonesia ditinggal salah satu figurnya. Rusdy Bahalwan, mantan pemain dan pelatih Persebaya yang juga pernah menukangi timnas Indonesia. Setelah bertarung melawan penyakit stroke dan degeneratif selama lima tahun terakhir, Rusdy menghembuskan nafas terakhir sekitar pukul 22:30 WIB. Jenazah disemayamkan di rumah di kawasan Rungkut Mejoyo Selatan. Ia akan dimakamkan, Senin (8/8/2011) sore WIB. Rusdy dikenal sebagai pelatih yang melakukan pendekatan moral. Tiga kunci sukses pembinaan pemain adalah menjauhi tangan-tangan kotor, bermental baik, dan istikamah. Tidak heran jika jurnalis senior Erwiyantoro menjuluki metode kepelatihan Rusdy sebagai “sepakbola profetik”.

Di dunia kepelatihan, Rusdy menjadi pelatih terakhir asli Surabaya yang mampu mempersembahkan gelar juara liga Indonesia. Itu terjadi ketika Rusdy menangani Persebaya pada liga 1997. Sukses tersebut mengantarkan Rusdy ke kursi kepelatihan timnas yang bertarung di Piala Tiger 1998.

Jasa-jasa Rusdy di dunia sepakbola nasional meninggalkan bekas mendalam bagi kolega maupun para mantan pemainnya. Saat menderita stroke, publik sepakbola Indonesia berduyun-duyun menggelar kegiatan amal untuk membantu pengobatannya, seperti laga Charity Match Garuda Merah-Putih tahun lalu.

Di luar lapangan, Rusdy dikenal sebagai sosok yang religius. Ayah dari Irfan Bahalwan, Khaira Imadina Bahalwan dan Ikhwannurdin Bahalwan lewat pernikahannya dengan Ramadhani tersebut, dikenal sering memberikan suntikan rohani bagi para pemain binaannya.

Sekilas Rusdy Bahalwan
Rusdy Bahalwan lahir di Surabaya, 7 Juni 1947, dari pasangan Ali Bahalwan dan Rugaiyah Baadillah. Rusdy menamatkan sekolah di SMAN 6, tahun 1966. Kemudian ia diterima di Fakultas Ekonomi Universitas Airlangga (Unair), 1967. Saat kuliah di Unair, waktu Rusdy banyak dihabiskan untuk sepakbola. Ia sampai bolak-balik Surabaya-Jakarta untuk mengikuti training camp (TC) tim nasional. Pada akhirnya Rusdy memilih keluar dari Unair dan menekuni kariernya di sepakbola.

Rusdy menikahi gadis Medan bernama Ramadhani. Perkenalannya dengan Ramadhani juga tak bisa dilepaskan dari sepakbola. Keduanya saling mengenal ketika Rusdy membela Persebaya dalam turnamen Piala Marah Halim yang berlangsung di Medan pada 1976. Dari perkawinannya itu, mereka dikaruniai tiga orang anak, Irfan Bahalwan, Khaira Imandina Bahalwan, dan Ikhwannurdin Bahalwan. Ketiga anaknya itu kini telah beranjak dewasa. Irfan dan Khaira kini menempuh studi di ITS dan Unesa. Sedang Ikhwannurdin menjadi siswa SMAN 16 Surabaya.

Pendidikan agama yang diajarkan orangtuanya telah membawa Rusdy menjadi pelatih sekaligus ustad. Meski bergelut di bidang olahraga, Rusdy selalu memberikan suntikan rohani bagi para pemain binaannya. “Sengaja saya selipkan pesan-pesan moral agar persepakbolaan kita makin maju, serta jauh dari erosi yang merusak,” ucap mantan aktivis Indonesian Moslem Student Association (IMSA) Jatim ini.

Pola pembinaan bernapas agama itu diwujudkan Rusdy dalam tindakan nyata. Salah satunya, bila subuh menjelang, Rusdy tak segan mengetuk pintu kamar-kamar pemainnya yang beragama Islam untuk melaksanakan shalat berjamaah. Dari situ kemudian dilanjutkan dengan kultum (kuliah tujuh menit). Kebersamaan ini akhirnya membawa Rusdy sebagai sosok yang bersahaja di mata pemainnya.

Hal ini pun diakui Mustaqim, mantan pemain tim nasional yang sempat jadi asisten Rusdy. Mustaqim selalu meniru dengan mempraktikkan kegiatan shalat subuh berjamaah itu sampai ia menjadi pelatih.

Rusdy selalu berkata lantang, “Seorang pemain yang sengaja melepas bola agar timnya kalah, itu berarti telah berbuat dosa. Pelatih yang sengaja menginstruksikan pemainnya mencederai pemain bintang lawan, juga telah berbuat dosa. Begitu juga manajer yang mengatur skor akhir pertandingan, serta wasit yang karena sesuatu hal lantas memihak pada salah satu tim, termasuk perbuatan dosa. Karena itu, semua yang telah saya sebutkan di atas harus kita tinggalkan mana kala sepakbola kita mau maju, dan tidak terancam bubar,” tutur dia.

Soal ketidakberesan dalam sepakbola ini, Rusdy tergolong paling getol bersikap. Pernah suatu ketika, ada seorang pemain binaannya yang kecanduan obat-obatan terlarang. Pemain ini sangat terkenal. Dia juga menjadi langganan tim nasional. Rusdy tahu itu semua. Beberapa kali ia peringatkan, namun kelakuannya tak berubah. Akhirnya, dia pun segera mengambil keputusan memecat pemain itu, meski publik akhirnya mencerca dia lantaran sang pemain dianggap pemain hebat.

“Bagi saya moral itu penting. Dan lagi, saya memecat pemain itu karena ingin menyelamatkan dia. Kalau sampai dia tak dipecat karena ketahuan menyimpang, kariernya akan habis,” ucap Rusdy kukuh yang merahasiakan nama pemain itu.

Di mata Rusdy, kunci sukses membina pemain harus menerapkan tiga hal, yakni menjauhi tangan-tangan kotor, mentalnya baik, dan istiqamah. Selain itu, dalam bertanding Rusdy selalu menanamkan prinsip tak mudah menyerah. Biar waktu sedetik pun tersisa, peluang itu masih terbuka.

“Kalau kita ingin maju, berusahalah semaksimal mungkin mengikuti instruksi pelatih. Jangan pernah berpikir untuk kalah dalam pertandingan, walaupun lawan yang dihadapi mempunyai kemampuan lebih baik,” saran dia.

Tak berlebihan kiranya, Rusdy telah meletakkan dasar bermain bola yang brilian. Kalau saya boleh menyebut, Rusdy mencoba memboyong sepakbola profetik, yang mencitrakan moral kenabian. Ini dianggapnya juga berdakwah dengan lebih mengedepankan etos dan kepedulian terhadap kemanusiaan. Bukan semata-mata mementingkan materialisme dan keglamoran dunia selebritis sepakbola.

Sepakbola profetik yang diusung Rusdy adalah yang mencerminkan wajah humanis yang diwujudkan lewat pembaruan sosial dan budaya yang santun dan menjadi setiap tingkah laku sebagai ibadah.

Dalam percaturan dunia kepelatihan, nama Rusdy Bahalwan tidak bisa dipisahkan dengan tim nasional, saat menukangi PSSI tahun 1998, di event Piala Tiger dan PSSI Piala Asia. Bahkan, Rusdy adalah pelatih terakhir asli Surabaya yang mampu mempersembahkan gelar juara di kancah Liga Indonesia. Saat Legenda Copa Dji Sam Soe Indonesia 2006 berlangsung di Sidoarjo, Rudi William Keltjes memelopori para pemain yang terpilih, seperti Ferrel Hattu, Jaya Hartono, Eddy Harto, Maman Suryaman dan Mustaqim untuk membesuk datang ke rumah Rusdy.

Rusdy menderita sakit yang lumayan parah sejak sekitar 2004. Setelah diserang stroke, ia juga mengidap penyakit komplikasi dan degeneratif yang membuat aktivitasnya jadi sangat terbatas. Ia masih terus berjuang melawan sakitnya itu sampai akhirnya kini berpulang ke Yang Maha Kuasa. [slm/kn/biangbola]

2 Tanggapan to “Rusdy Bahalwan Meninggal Dunia”

  1. JINIS said

    Inna lillahi wa inna ilaihi roji’un.

    Masya Allah… beliau meninggal dunia di bulan suci Ramadhan. Bulan penuh Rahmat dan Ampunan dari Allah SWT.

    Insya Allah beliau khusnul khotimah dan ahlil jannah, dan arwahnya senantiasa diliputi oleh Rahmat dan Maghfirah dari Allah SWT Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.
    Dan semoga keluarga almarhum diberi ketabahan oleh Allah SWT, amin,

  2. Pempek Palembang, salah safu makanan tradisional
    dari  Sumatra Selatan yang terbuat dari ikan dann
    tepung sagu ini sudah populer ԁi Indonesia. Rasanya yang
    kenyal urih dengan saus yang asam pedas memang nikmat untuk disantap.

    kunjungi http://www.pempek33.com

Komentar "PILIHAN" akan diambil menjadi artikel KabarNet.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 5.041 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: