KabarNet.in

Aktual Tajam

KH.Abdul Malik Ahmad: Pancasila Bertentangan Dengan Tauhid

Posted by KabarNet pada 04/06/2011

Orangnya tegas, jujur, dan pemberani. Tidak kenal kompromi untuk persoalan akidah menjadi kalimat pas yang melekat dalam pribadinya. Berbeda dengan orang-orang yang mengemis jabatan agar dekat dengan pemerintah, ia justru sebaliknya. Kursi empuk dalam struktur tertinggi Muhammadiyyah pernah ditolaknya semata-mata tidak mau menjadi penjilat untuk Soeharto.

“… karena saya pribadi hubungannya kurang harmonis dengan pemerintah (Soeharto), maka sebaiknya saya jangan ditempatkan jadi orang nomor satu,” ungkapnya mengagetkan koleganya.

Ia adalah KH. Abdul Malik Ahmad atau akrab disapa Buya Malik. Tokoh Ideologis Muhammadiyyah yang sempat heboh di ketika menolak asas tunggal Pancasila di tubuh organisasi yang didirikan KH. Ahmad Dahlan itu periode 1980-an. Bagi Buya Malik, posisi Tauhid tidak boleh bergeser setapal pun meski itu demi alasan pragmatis. Iya kata yang justru menjadi kunci ormas-ormas muslim saat ini agar bisa “memuluskan” jalan dakwahnya.

Kisah ini bermula ketika Soeharto memaksakan tiap Ormas untuk menerima Asas Tunggal Pancasila lewat RUU Organisasi Kemasyarakatan. Muhammadiyyah pun terbelah. Tak mudah memang, sebab melalui lobi yang panjang. Bahkan, Muhammadiyah sampai menunda muktamar ke-41, yang mestinya diselenggarakan Februari 1984, dan akhirnya baru dilaksanakan 7-11 Desember 1985.

Tanda-tanda menerima asas tunggal Pancasila, secara terbuka, mulai tampak pada hari kedua muktamar, pada tanggal 8 Desember. Di pendopo Mangkunegaran, Solo, Haji A.R. Fakhruddin, Ketua PP Muhammadiyah, menyebutkan bahwa asas Pancasila itu diterima, “dengan ikhtiar”.

Dengan ikhtiar, kata Fakhruddin, “Supaya yang dimaksudkan pemerintah itu berhasil, tapi tidak melanggar agama. Kami, para pimpinan, tetap bertekad menegakkan kalimah Allah di Indonesia ini. Tidak merusakkan peraturan-peraturan di Indonesia, tapi tidak menjual iman, tidak menjual agama.”

Presiden Soeharto akhirnya membuka muktamar ke-41 ini. Menyebut diri sebagai orang yang pernah mengecap pendidikan Muhammadiyah, dalam pidatonya Presiden kembali menegaskan bahwa: Pancasila bukanlah tandingan agama. Pancasila bukan pengganti agama. Penegasan ini pernah diusulkan oleh PP Muhammadiyah, supaya dicantumkan dalam batang tubuh UU Organisasi Kemasyarakatan itu.

Namun ternyata pandangan petinggi Muhammadiyyah dan lebih-lebih Soeharto, bertolak belakang dengan pemahaman Buya Malik. Beliau yang kala itu menjadi Wakil Ketua PP Muhammadiyah, mempersolakan Pancasila yang dijadikan lebih tinggi dari tauhid. “Itu yang saya tolak,” katanya. Maka itu konsekuensi menerima asas tunggal bagi Buya Malik adalah kemusyrikan. Sebuah kata yang dapat menjerumuskan kepada kekafiran.

Kalau kita telaah, alasan Buya Malik memang sangat masuk akal. Logika sederhananya, kalau Orde Baru mengatakan Pancasila sebagai satu-satunya asas bagi sebuah ideologi, hal itu sama saja mengakui bahwa Pancasila lebih tinggi dari kitab suci. Dan tokoh Orde Baru lebih tinggi daripada Nabi. Padahal Rasululullah SAW diutus untuk mengapus Syariat-syariat Nabi sebelumnya. Maka bagaimana mungkin Soeharto menghapus Syariat Nabi Muhammad SAW. padahal dia sendiri bukan Nabi.

Ironisnya lagi, Asas Tunggal, seperti kata KH. Firdaus AN, adalah hasil bikinan tiga tokoh militer yang diragukan komitmennya kepada agama. Mereka adalah Soeharto, Amir Machmud, dan Soedomo.

Rupanya, kekuatan Tauhid Buya Malik memang bukan isapan jempol semata. Ketua Gerakan Persaudaraan Muslim Indonesia, Ahmad Soemargono sempat memiliki pengalaman tersendiri saat berguru kepada Buya Malik.
“Dari sekian guru yang paling berkesan itu adalah Buya Malik Ahmad. Kalau mendengarkan ceramahnya saya tersentuh.” Ungkapnya saat diwawancara Republika.

Gogon- sapaan akrab Ahmad Soemargono- juga terkesan dengan karya tafsir Buya Malik yang bernama Tafsir Sinar. Menurutnya, kajian-kajian yang terkandung dalam tulisan beliau memiliki nilai Tauhid yang mendalam.

Segala ujian dan cobaan dalam menegakkan akidah menurut Buya Malik adalah keniscayaan bagi orang beriman. Ini adalah konsekuensi logis tentanga arti menyuarakan kebenaran dan menyingkirkan kebathilan. Dalam tulisannya yang berjudul “Orientalisme” di tahun 1978, Buya menulis,
“Orang-orang beriman dalam menegakkan aqidah dan ajaran Ilahi menuju keredhaan Allah; selalu mendapat rintangan, halangan dan kesulitan; baik yang nyata maupun tersembunyi; yang halus maupun yang kasar; menghadapi rayuan atau tekanan/paksaan yang datang dari orang-orang yang pandai membohong, menipu dan membingungkan; dengan menggunakan bermacam kekuatan, fasilitas dan mass media, yang berakibat langsung ataupun tidak langsung terhadap ummat Islam; sehingga banyak di antara ummat Islam yang terlalai, terlupa dan terpengaruh. Akibatnya kaum Muslimin tidak menyadari bahaya yang dilancarkan oleh orang-orang yang tidak menyukai Islam; bahkan sebagian kita merasakan seolah-olah faham dan sikap yang demikian sebagai ajaran Islam yang murni.”

Kini Buya sudah tiada. Ulama Kharismatik itu menyimpan torehan manis tentang arti perjuangan menegakkan pemurnian tauhid kepada Allahuta’ala. Dengan menolak pencampuran ideologi Pancasila yang jelas-jelas bertentangan dengan Al Qur’an dan Sunnah. Kapankah kembali muncul generasi Muhammadiyyah seperti Buya? Allahua’lam. eramuslim.com

13 Tanggapan to “KH.Abdul Malik Ahmad: Pancasila Bertentangan Dengan Tauhid”

  1. Muhad said

    Rasa-rasanya Pancasila itu adalah ideologi negara bukan agama, kecuali nyembah Pancasila, nah itu baru musrik. Pancasila itu pandangan hidup bangsa Indonesia agar rakyat cinta tanah air. Tidak spt sekarang di era reformasi, rakyat jd terkotak karena suku dan budaya masing2. Coba anda tanyakan dg orang yg tinggal di kalimantan atau diluar Jawa, mereka dianggap org lain alias pendatang. Klu udah gitu hak mereka sbg warga negara dianggap anak tiri alias dipinggirkan.

  2. Betul Pancasila dasar Negara yg hr djaga. Mungkin yg di maksud adalah setiap ormas hrs menganut asas tunggal pancasila. menurut ajaran islam tdk boleh ormas Islam dicampur adukan!!! peristiwa d kalimatanitu ada maknax/hikmahnya jgn langsung menuduh siapa salah krn di sesuai fakta dlm realita mengakibatkan keretaan. krn itu mari kita saling instropeksi diri/ jgn saling menyalahkan tetapi kita cari kebenaran.siapa yg jadi perusak di hutan kalimatan itu fakta???? krn itu mari kita jg negara ini dari orang2 perusak prsatuan kesatuan, hutan/alam ini.

  3. djolodot said

    Yang jelas, terang benderang, cetho welowelo, rakyat masih ter puruk, TIAP HARI DI MEDIA DISUGUHI BERITA PARA PEJABAT YANG KORUPSI DISEGALA KESEMPATAN. APA artinya pancasila, WALLAHU A’LAM

  4. Penonton said

    Pancasila yang isinya :
    1. Ketuhanan Yang Maha Esa.
    2. Kemanusiaan yang adil dan beradab.
    3. Persatuan Indonesia.
    4. Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmah kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan.
    5. Keadilan sosi

  5. Penonton said

    Maaf lengkapnya begini,
    Menurut saya, Pancasila dipilih sebagai dasar negara Indonesia oleh para pendiri bangsa ini bukan dimaksudkan untuk mendikte apalagi sampai istilah membawahi (menganggap lebih rendah tingkatannya) urusan keagamaan rakyat Indonesia terhadap Tuhan sesuai dengan keyakinannya masing-masing, melainkan hanya untuk menegaskan bahwa di dalam negara yang didirikan sejak proklamasi diucapkan tanggal 17 Agustus 1945 ini urusan keagamaan atau hubungan vertikal seluruh rakyat Indonesia terhadap Tuhan-nya sesuai keyakinannya masing-masing itu diakui secara resmi dan dilindungi oleh negara. Jadi sejauh pelaksanaannya tidak menyimpang dan membahayakan keutuhan NKRI, maka negara Indonesia pada prinsipnya tidak melarang rakyatnya (warga negaranya) untuk beriman dan beribadah sesuai dengan keyakinannya masing-masing. Jadi menurut saya, makna Pancasila ini lebih menekankan kepada pandangan dan pendirian negara Indonesia akan agama-agama mana saja ‘yang diakui’ oleh negara atau yang terbuka seluas-luasnya ‘untuk dianut’ oleh rakyatnya ketimbang penekanan lainnya. Jadi rasanya sama sekali tidak ada unsur merendahkan posisi agama apapun di dalamnya sejauh agama tersebut telah diakui secara resmi oleh negara sebagai agama yang dianut oleh rakyatnya dan tidak terindikasi menyimpang yang berpotensi merusak tatanan kehidupan bernegara serta kesatuan NKRI.

  6. anak negari said

    Yg saya bingung kenapa urusan hidup bernegara selalu dipertentangkan dgn urusan Agama atau Iman seseorang, sungguh keduanya penting tapi saya yakin bisa jalan berdampingan seperti 2 potong besi panjang yg membentuk rel kereta, selalu bersama-sama menjelajah seantero tanah negeri sehingga kereta berjalan baik sampai tujuan. Cuma Penyabot yg menginginkan kereta anjlok dg memotong salah satu besi rel. Mengutip syair lagu salah satu band tahun 70an: kami cinta perdamaian, kami rindu perdamaian, datangmu kuharapkan, tibamu kunantikan…
    ya…Indonesia yg damai dan yg sejahtera dalam NKRI.

  7. Penonton said

    Sejatinya ada pihak-2 yang tidak senang Indonesia terlihat kuat, kompak, kaya dan maju sebagai negara dari negara berkembang ke negara maju dan seterusnya. Kuatnya, kompaknya, kayanya dan majunya Indonesia dari negara berkembang menuju negara maju selama ini tidak lepas dari keberadaan Pancasila sebagai Dasar Negara dan Bhineka Tunggal Ika sebagai azas negara.

    Dengan Pancasila, urusan keagamaan rakyat Indonesia dilindungi oleh negara Indonesia.

    Dengan Pancasila, urusan kemanusiaan yang beradab ditegakkan oleh negara Indonesia.

    Dengan Pancasila, urusan persatuan dan keutuhan NKRI dijaga oleh negara Indonesia.

    Dengan Pancasila, urusan demokrasi kerakyatan diwadahi oleh negara Indonesia.

    Dengan Pancasila, urusan keadilan sosial dijamin oleh negara Indonesia.

    Dengan Bhineka Tunggal Ika, urusan perbedaan dan keragaman budaya, hayati, adat, suku, ras, bahasa, pulau-pulau, kekayaan alam, kepentingan, keinginan, perilaku, sepak terjang, jabatan, kekuasaan dan lain-lain diolah dan dipersatukan sebagai keunikan dan kekuatan yang potensial yang membawa kebaikan bagi bangsa dan negara Indonesia.

    Betapa maju dan hebatnya pemikiran para pendiri bangsa ini. Mereka bisa meramukan dan mempersatukan semua perbedaan yang ada menjadi keunikan dan kekuatan yang bernilai tinggi dan strategis bagi bangsa Indonesia dalam mencapai tujuan bangsanya. Apalagi diindikasikan bahwa sebenarnya Indonesialah pewaris kerajaan Atlantis yang sesungguhnya yang banyak diakui-aku oleh bangsa-bangsa lain di dunia. Begitulah hasil penelitian Profesor Santoz dari Brazil selama lebih dari 30 tahun !

    Jadi bangsa Indonesia sesungguhnya merupakan bangsa yang amat sangat beruntung, karena telah mewarisi secara telah (de facto) di dunia kejayaan leluhur dan kekayaan alam yang luar bisa sebagai rahmat dan karunia Allah SWT kepada hamba-Nya.

    Bangsa Indonesia tinggal berusaha mengejar kemajuan dunia dan akheratnya saja secara seimbang dalam NKRI ini. Yang dipandu oleh Pancasila dan diperkuat oleh Bhineka Tunggal Ika, sehingga sulit digoyahkan, sulit diceraiberaikan, sulit diadu domba dan sulit dijerumuskan. Itulah kelebihan bangsa Indonesia dengan Pancasila dan Bhineka Tunggal Ikanya.

  8. Penonton said

    Indonesia adalah negara sangat kaya di Asia Pasifik karena dikaruniai oleh Tuhan dengan kelimpahan berupa :
    – 13.000 buah pulau besar dan kecil.
    – kelengkapan bahan tambang strategis.
    – keragaman besar flora fauna dan hayati.
    – kecukupan rasio sinar matahari dan hujan.
    – kesuburan tanah vulkanik bagi pertanian.
    – keunikan bentang alam.
    – kesetrategisan bagi lalulintas perdagangan dan militer.
    – jumlah tenaga kerja produktif.
    – peluang pasar produk.
    – cagar budaya, situs-situs dan peninggalan arkeologi.
    – bahasa, adat-istiadat, suku dan budaya.

    Siapa yang gak ngiler dengan kondisi Indonesia ?

    Makanya dulu Indonesia menjadi rebutan para penjajah. Bahkan salah satunya pernah menjajah Indonesia selama 350 tahun ! Maka tak salah jika dikatakan bahwa sebetulnya kekayaan Indonesia punya peranan dalam membangun negari para penjajah menjadi negeri maju seperti sekarang ini. itulah gambaran betapa kayanya negeri Indonesiaku tercinta. Negeri yang oleh Profesor Santoz dari Brazil diindikasikan kuat merupakan sisa-sisa warisan kerajaan Atlantis yang amat maju yang hilang ditelan banjir dasyat dahulu kala.

    Bersyukurlah kita menjadi bangsa Indonesia yang dikaruniai Allah dengan semua kelimpahan tersebut. Marilah kita rapatkan barisan untuk menjaga dan mengolahnya dengan baik untuk kemakmuran seluruh rakyat Indonesia sebagaimana yang telah diamanahkan oleh para pendiri republik ini dalam Pembukaan UUD 1945 dan dikuatkan dalam dasar negara Pancasila.

    Indonesia jangan mau diadudomba oleh alasan apapun, kapanpun dan oleh siapapun. Indonesia harus kompak, kuat dan bersatu. Indonesia harus percaya diri dan sedapat mungkin mandiri dalam membangun kembali warisan Atlantis ini. Indonesia harus berusaha tetap fokus pada upaya mencapai kemajuan dan bangsa dalam segala bidang khususnya keimanan, ekonomi, dan teknologi yang memberikan dampak positif bagi kemakmuranseluruh rakyat. Indonesia jangan mau terpancing oleh isu-isu yang sengaja dilemparkan oleh mereka yang tidak senang atau merasa terancam oleh perkembangan dan kemajuan bangsa Indonesia dalam berbagai bidang khususnya dalam persatuan, keimanan, ekonomi dan teknologi. Acuhkan saja isu-isu negatif tak berguna dan bersifat buang-buang energi sia-sia tersebut. Indonesia harus maju terus pantang mundur untuk menjadi negara maju seperti nenek moyangnya dulu, Atlantis, Majapahit dan Sriwijaya.

    Sekali cinta Indonesia, tetap Indonesia.
    Jayalah Indonesiaku.

  9. Mulyandi said

    Pasal 29 (1) yang berbunyi, “Negera berdasarkan atas Ketuhanan yang Maha Esa”, yang terdapat pada Pancasila sebagai asas UUD 1945 alam butir sila Ketuhanan Yang Maha Esa, sama sekali tidak menjelaskan peran agama di dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Hal ini berakibat secara serius pada ketidakjelasan konsep Negara. Indonesia bukan Negara agama tetapi bukan Negara sekuler demikian juga tidak termasuk Negara komunis. Lalu Negara apa? Sementara itu, dalam kenyataannya, apa aplikasi di masyarakat, secara transparan Negara melakukan praktek yang mengarah pada pemisahan Negara dengan agama. Jika Indonesia memang Negara berdasarkan Pancasila dan tidak menghendaki Negara sekuler, mengapa bangunan system kehidupannya adalah sekularisme yang memisahkan antara agama dengan kehidupan? Ketidakjelasan ini secara serius mengakibatkan kekaburan konsep-konsep lainnya yang menjadi subsistem dari system ideologi yang kabur tersebut.

    Kekaburan itu bisa dilihat dari aplikasi sub-sub system yang ada seperti konsep ekonomi, konsep politik dalam negeri, konsep luar negeri, konsep pendidikan, konsep peradilan dan hukum, konsep pertahanan dan keamanan, konsep pergaulan sosial, dan semacamnya. Kekaburan konsep ini pada tataran aplikatif akan menimbulkan kerancuan dan kekaburan pula. Tidak pernah UUD 1945 dan Pancasila melahirkan konsep ekonomi Pancasila secara asli, kecuali mengekor pada ekonomi kapitalis; demikian juga masalah hokum yang tetap mengambil system hokum sekuler produk kolonial Belanda. Jika dirunut, semua bangunan sistem hidup yang tidak jelas ini pada akhirnya akan mengekor secara “Kaffah” pada peradaban Barat yang memiliki idelogi Sekuler, yakni Kapitalisme

  10. NEGARA GAGAL said

    Setuju dgn komentar Sdr.Mulyandi (No.9).

  11. Penonton said

    Menurut rekan Mulyadi,

    Dari titik manakah perjuangan menegakkan kemerdekaan Indonesia ini berangkat atau lahir, apakah dari sekedar kepercayaan rakyatnya saja kah, kesamaan nasibnya saja kah, atau sebab lainnya ?

    Dari manakah ide Pancasila sebagai dasar negara itu muncul, dari sekedar keinginan penduduknya belaka kah, keindahan kalimatnya kah atau dari sebab lainnya ?

    Tentu saja kemerdekaan Indonesia ini lahir karena sudah menjadi suratan takdir dari Yang Maha Kuasa. Namun begitu sesuai dengan petunjuk dari-Nya pula bahwa Allah SWT tidak akan merubah nasib suatu kaum jika kaum tersebut tidak mau berusaha. Jadi untuk mencapai kemerdekaan yang lahir tanggal 17 Agustus 1945 tersebut para pahlawan kita telah berusaha mati-matian dengan sekuat tenaga dan mengorbankan jiwa raga, harta dan kesenangannya. Namun di sisi lain mereka juga realistis melihat latar belakang penduduk negara ini yang penuh keragaman, baik dalam suku, ras, budaya, adat-istiadat, kepentingan, bahkan keyakinannya, sehingga ketika kemerdekaan yang diupayakan dengan susah payah itu telah berhasil diwujudkan, mereka berfikir bagaimanakah cara membawa dan menjaga kemerdekaan itu agar awet dan bermanfaat bagi segenap penduduknya yang beraneka warna dalam bahasa, budaya, adat-istiadat, suku, ras, kepentingan, keyakinan dan lain-lainnya ?

    Tentu hal itu telah menjadi persoalan tersendiri yang tidak mudah dipecahkan, bukan ? Bahkan mungkin bisa jadi akan jauh lebih sulit daripada perjuangan untuk mencapai kemerdekaan itu sendiri walau tidak disertai dengan pengorbanan jiwa dan raga. Untuk itulah kelihatannya para pendiri negara ini sudah sangat matang memikirkan dasar apa yang bisa digunakan untuk mempersatukan dan mengompakkan perbedaan-2 yang ada itu agar tidak menjadikannya sebagai kelemahan yang bisa menganggu kemerdekaan yang susah payah diraih, melainkan menjadikannya sebagai kekuatan yang bisa menjaga dan mewujudkan tujuan dari perjuangan pencapaian kemerdekaan itu sendiri, yakni mengisinya dengan pembangunan yang bisa mensejahterakan dan memakmurkan bangsa Indonesia.

    Memang jika mengisi kemerdekaan itu tidak diiringi dengan rambu-rambu keimanan yang kuat akan mudah berbelok ke kanan atau ke kiri, sehingga menyimpang dari tujuan mulianya. Namun demikian berangkat kembali dari latar belakang berdirinya negara ini yang dilatarbelakangi oleh keragaman yang ada, maka rambu-rambu keimanan tersebut nampaknya akan sulit diterapkan jika tidak bersifat mampu mewadahi semua perbedaan yang ada. Untuk itulah kelihatannya para perintis kemerdekaan Indonesia negara ini telah memikirkan dan menyiapkan konsep khusus yang cocok untuk itu, yakni Pancasila dengan azas Bhineka Tunggal Ika-nya, yang walaupun berbeda-beda tetapi tetap satu, yakni Indonesia.

  12. TANYA said

    Mulyandi berkata
    07/06/2011 pada 13:58

    Pasal 29 (1) yang berbunyi, “Negera berdasarkan atas Ketuhanan yang Maha Esa”, yang terdapat pada Pancasila sebagai asas UUD 1945 alam butir sila Ketuhanan Yang Maha Esa, sama sekali tidak menjelaskan peran agama di dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Hal ini berakibat secara serius pada ketidakjelasan konsep Negara. Indonesia bukan Negara agama tetapi bukan Negara sekuler demikian juga tidak termasuk Negara komunis. Lalu Negara apa? Sementara itu, dalam kenyataannya, apa aplikasi di masyarakat, secara transparan Negara melakukan praktek yang mengarah pada pemisahan Negara dengan agama. Jika Indonesia memang Negara berdasarkan Pancasila dan tidak menghendaki Negara sekuler, mengapa bangunan system kehidupannya adalah sekularisme yang memisahkan antara agama dengan kehidupan? Ketidakjelasan ini secara serius mengakibatkan kekaburan konsep-konsep lainnya yang menjadi subsistem dari system ideologi yang kabur tersebut.

    Sdr. Mulyadi yang saya hormati,

    JIka anda merasa bahwa Sila pertama Pancasila, yakni ‘Ketuhanan Yang Maha Esa’ itu tidak menjelaskan peran agama di dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, menurut saya hal itu terlalu terburu-buru. Menurut saya sebaiknya anda tidak melupakan status Pancasila itu sendiri, yakni sebagai Dasar Negara Republik Indonesia, bukan langsung sebagai Undang-Undang yang bersifat teknis, yang bisa secara langsung menjelaskan rambu-rambu persoalan bangsa Indonesia, termasuk masalah keagamaan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara seperti yang anda uraikan pada cuplikan kalimat anda diatas.

    Sebelum sampai pada kesimpulan seperti itu ada baiknya jika kita membuka diri untuk melihat Kedudukan dan Fungsi Pancasila sbb :

    1. Pancasila sebagai Pandangan Hidup Bangsa

    Dalam kedudukan Pancasila sebagai pandangan hidup bangsa, Pancasila merupakan kerangka acuan dalam menata kehidupan masyarakat Indonesia baik dalam hubungannya dengan Sang Maha Pencipta, diri pribadi, sesama, maupun alam sekitarnya, sehingga di dalam Pancasila telah terkandung konsep dasar mengenai kehidupan, dasar pikiran dan gagasan yang dicita-citakan oleh bangsa Indonesia.

    2. Pancasila sebagai Dasar Negara RI

    Dalam kedudukan Pancasila sebagai dasar negara, Pancasila merupakan sumber dari segala sumber hukum di Indonesia yang mengatur nilai-nilai dan norma-norma dalam kehidupan berbangsa dan bernegara bagi masyarakatnya, termasuk dalam penyelenggaraan pemerintahan negara. Sebagai sumber dari segala sumber hukum di Republik Indonesia, Pancasila merupakan kaidah hukum negara yang secara konstitusional mengatur negara Republik Indonesia beserta seluruh unsur-unsurnya seperti rakyat, wilayah dan pemerintahan.

    3. Pancasila sebagai Ideologi Negara RI

    Dalam kedudukan Pancasilan sebagai ideologi negara, Pancasila menggambarkan jiwa, semangat dan nilai-nilai yang dianut oleh bangsa Indonesia,. Sebagai ideologi negara ia dilahirkan atau berakar atau merupakan kristalisasi dari nilai-nilai budaya bangsa Indonesia sendiri yang dijunjung tinggi oleh masyarakatnya dan kemudian diangkat dan dirumuskan oleh para pendiri negara sebagai dasar dan ideologi negara indonesia.

    Setelah kita mengetahui kedudukan-2 Pancasila di atas, maka kita bisa menyimpulkan bahwa peran agama dalam kehidupan berbangsa dan bernegara sebenarnya sudah amat tercakup dalam kedudukan Pancasila baik sebagai pandangan hidup bangsa, dasar negara maupun ideologi negara.

    Pada kedudukan Pancasila sebagai pandangan hidup bangsa antara lain tersirat pandangan negara untuk mengakui secara resmi agama-agama yang diyakini oleh bangsa Indonesia sebagai pedoman untuk mengatur hubungan vertikal mereka masing-masng dengan Tuhannya. Agama dan keyakinan yang diakui secara resmi oleh negara ini tentunya punya dasar yang bisa dipertanggungjawabkan baik secara lahir dan bathin.

    Pada kedudukan Pancasila sebagai dasar negara antara lain tersirat keharusan bagi negara untuk menjamin dan melindungi rakyat Indonesia untuk melaksanakan seluruh aktivitas keagamaannya sepanjang tidak menyimpang dari nilai-nilai dan norma-norma yang sudah diatur sedemikian rupa sehingga tidak saling bersinggungan antar pemeluk agama. Selain itu tersirat juga bahwa negara tidak mencampuri secara langsung praktek peribadatan rakyatnya, selain menjamin keamanan dan kelancaran rakyatnya dalam beribadah kepada Tuhannya.

    Pada kedudukan Pancasila sebagai ideologi negara antara lain tersirat makna kebersamaan dan gotong royong untuk saling menjaga kerukunan hidup beragama di Indonesia. Kebersamaan dan gotong royong untuk saling menjaga kerukunan hidup beragama itu kemudian diwujudkan dalam satu falsafah hidup (ideologi) yang bisa diterima oleh segenap bangsa Indonesia yang berlatar belakang beragam.

    Jadi Pancasila sifatnya merupakan pedoman untuk menjamin dan mengatur kehidupan beragama di Indonesia agar rakyat Indonesia yang berbeda-beda keyakinannya bisa tetap menyelenggarakan kehidupan beragam secara tertib dan tenteram. Peran masing-masing agama dalam kehidupan berbangsa dan bernegara bagi tiap-tiap penganutnya tentunya tetap menjadi modal utama bagi masing-masing individu dalam mendasari perilakunya sehari-hari. Semua agama pasti menngajarkan kebaikan pada umatnya dan kebaikan tidaklah akan bertentangan dengan nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila, mengingati kedudukan Pancasila yang dilahirkan dari nilai-nilai dan budaya masyarakat Indonesia sendiri, yang salah satunya adalah dalam bidang keagamaan.

  13. ndokk said

    Saya stuju ama penonton, dan jgn salahkan pancasila jika para pejabat negeri ini pada demen korupsi, karena dalam pancasila pun tidak ada perintah untuk korupsi, soal tauhid, lah ntu sila pertama dari pancasila kan ngisyaratin ama tauhid, kita2 nya aja kali yg su’udhzon ama mualif pancasila, padahal mungkin aja tauhid beliau lebih kuat dibanding kita, mending koreksi diri ajalah, toh kita yg bukan ulil amr ntu kan cuman dikenai khitob “Jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka”…

Komentar "PILIHAN" akan diambil menjadi artikel KabarNet.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 5.046 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: