KabarNet.in

Aktual Tajam

SUDAH BENARKAH SHALAT KITA ?

Posted by KabarNet pada 07/04/2011

Oleh: R Mintardjo Wardhani

Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu Al Kitab (Al Qur’an) dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan- perbuatan) keji dan mungkar. Dan sesungguh nya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadat-ibadat yang lain). Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan. (Al-Ankabut:45)

Demikianlah penegasan Allah tentang pentingnya kewajiban mendirikan shalat, karena shalat itu sendiri dapat mencegah dari perbuatan keji dan mungkar dan selain dapat mencegah dari perbuatan keji dan mungkar, shalat mempunyai keutamaan yang sangat besar, bahkan lebih besar dari ibadah yang lainnya. Oleh karena itu sudah seharusnya dalam melaksanakan shalat kita harus mempersiapkan diri seserius dan sebaik mungkin, baik dari segi persiapan fisik maupun dari penguasaan ilmu tentang shalat itu sendiri.

Bahwa semua ibadah yang akan kita kerjakan ada ilmunya, karena hanya dengan ilmulah ibadah kita bisa benar dan hanya dengan ilmulah kita bisa menjadi taqwa, dan hanya orang-orang yang taqwalah yang amalnya diterima Allah.

Oleh karena itu didalam melaksanakan Shalat, kita juga wajib mengerti ilmunya, agar Shalat kita bisa benar dan sesuai dengan tuntunan Agama, sehingga Shalat kita diterima oleh Allah ;

1. Firman Allah, Surat Al-Maidah ( V ) -27, yang artinya

“ Sesungguhnya Allah hanya akan menerima amal orang-orang yang taqwa “

2. Firman Allah, Surat Hud ( XI )- 46, yang artinya :

“  Dan janganlah kamu minta kepada-Ku apa yang kamu tidak mempunyai ilmu tentangnya “

3. Firman Allah, Surat Al-Isra’ ( XVII ) – 36, yang artinya :

“  Dan janganlah kamu ikuti ( kerjakan ) apa yang kamu tidak mempunyai ilmu tentangnya, karena sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya akan dimintai pertang-gungan jawab dari hal itu “

I. Dasar mendirikan Shalat :

Dasar perintah mendirikan shalat selain ayat yang disebutkan diawal diantaranya :

1.  Firman Allah, Surat Al-Baqarah ( II )-43, yang artinya :

“  Dan hendaklah kamu dirikan Shalat dan tunaikanlah Zakat serta ruku’lah beserta orang yang ruku’ “

2.  Firman Allah, Surat An -Nisa’ ( IV )-103 , yang artinya :

“ Sesungguhnya Shalat adalah kewajiban ditentukan waktunya atas orang-orang beriman “

3.  Firman Allah, Surat Thaha ( XX )- 14 : yang artinya

“  Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan (yang hak) selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah Shalat untuk mengingat Aku

dan masih banyak lagi di ayat yang lain tentang Shalat.

4. Hadist Riwayat Buchori dan Muslim, yang artinya :

“  Islam didirikan atas lima sendi, mengaku bahwa tidak ada Tuhan yang wajib disembah selain Allah dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah, dan mendirikan Shalat, dan mengeluarkan Zakat, dan mengerjakan Haji dan berpuasa di bulan Ramadhan “

5. Hadist Riwayat Ahmad, Muslim, Abu Daud, Turmudzi dan Ibnu Majah, yang artinya :

“  Batas antara seseorang dengan kekafirannya ialah meninggalkan Shalat “

6. Hadist Riwayat Baihaqi, yang artinya :

“  Shalat adalah tiang Agama, maka barang siapa yang mendirikannya, sesungguhnya ia telah mendirikan Agama dan barang siapa yang merobohkannya, sesungguhnya ia telah merobohkan Agama “

7. Hadist Riwayat Ahmad, yang artinya :

“  Janji yang mengikat antara Kami dan mereka ialah Shalat, maka barang siapa yang meninggalkannya berarti ia telah kafir “ dan masih banyak lagi hadist yang lain.

II. Bagaimana seharusnya Shalat kita :

Pada kesempatan ini tidak dibahas tentang syarat dan rukun Shalat karena sudah banyak buku-buku yang membahas tentang syarat dan rukun Shalat, namun yang akan dibahas adalah tentang bagaimana pelaksanaan shalat yang benar.

Namun sebelum kita membahas tentang shalat, ada baiknya kalau kita bahas terlebih dahulu tentang pengertian ibadah, dimana shalat itu sendiri adalah merupakan salah satu bentuk ibadah wajib yang tidak boleh ditinggalkan meski dalam kondisi dan situasi apapun, karena shalat juga merupakan salah satu sendi dari rukun islam yang lima.

Ibadah.

a. Definisi Ibadah
Ibadah secara bahasa (etimologi) berarti merendahkan diri serta tunduk. Sedangkan menurut syara’ (terminologi), ibadah mempunyai banyak definisi, tetapi makna dan maksudnya satu. Definisi itu antara lain adalah:

1.  Ibadah adalah taat kepada Allah dengan melaksanakan perintah-Nya melalui lisan para Rasul-Nya.

2.  Ibadah adalah merendahkan diri kepada Allah Azza wa Jalla, yaitu tingkatan tunduk yang paling tinggi disertai dengan rasa mahabbah (kecintaan) yang paling tinggi.

3.  Dan definisi yang paling lengkap, Ibadah adalah sebutan yang mencakup seluruh apa yang dicintai dan diridhai Allah Azza wa Jalla, baik berupa ucapan atau perbuatan, yang zhahir maupun yang bathin.

Ibadah terbagi menjadi ibadah hati, lisan, dan anggota badan.

Rasa khauf (takut), raja’ (mengharap), mahabbah (cinta), tawakkal (ketergantungan), raghbah (senang), adalah ibadah qalbiyah (yang berkaitan dengan hati).

Sedangkan tasbih, tahlil, takbir, tahmid dan syukur dengan lisan dan hati adalah ibadah lisaniyah qalbiyah (lisan dan hati).

Sedangkan shalat, zakat, haji, dan jihad adalah ibadah badaniyah qalbiyah (fisik dan hati), serta masih banyak lagi macam-macam ibadah yang berkaitan dengan amalan hati, lisan dan badan.

Ibadah inilah yang menjadi tujuan penciptaan manusia sebagaimana firman Allah dalam Al-qur’an surat Adz-Dzaariyaat : 56-58, Artinya :

“ Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku. Aku tidak menghendaki rizki sedikit pun dari mereka dan Aku tidak menghendaki supaya mereka memberi makan kepada-Ku. Sesungguhnya Allah Dia-lah Maha Pemberi rizki Yang mempunyai kekuatan lagi sangat kokoh.”

Allah Azza wa Jalla memberitahukan bahwa hikmah penciptaan jin dan manusia adalah agar mereka melaksanakan ibadah hanya kepada Allah Azza wa Jalla. Dan Allah Mahakaya, tidak membutuhkan ibadah mereka, akan tetapi merekalah yang membutuhkan-Nya, karena ketergantungan mereka kepada Allah, maka barangsiapa yang menolak beribadah kepada Allah, ia adalah sombong. Siapa yang beribadah kepada-Nya tetapi dengan selain apa yang disyari’atkan -Nya, maka ia adalah mubtadi’ (pelaku bid’ah).

Dan barangsiapa yang beribadah kepada-Nya hanya dengan apa yang disyari’atkan-Nya, maka ia adalah mukmin muwahhid (yang meng-esakan Allah).

b. Pilar-Pilar Ubudiyyah Yang Benar
Sesungguhnya ibadah itu berlandaskan pada tiga pilar pokok, yaitu: hubb (cinta), khauf (takut), raja’ (harapan).

Rasa cinta harus disertai dengan rasa rendah diri, sedangkan khauf harus dibarengi dengan raja’. Dalam setiap ibadah harus terkumpul unsur-unsur ini. Allah berfirman tentang sifat hamba-hamba Nya yang mukmin:

-  Al-Baqarah ( II )-165, Artinya : “ Adapun orang-orang yang beriman amat sangat cinta-nya kepada Allah.”

-  Al-Maa-idah: 54, Artinya : “ Allah mencintai mereka dan merekapun mencintai-Nya.”

-  Al-Anbiya’: 90, Artinya : “ Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang selalu bersegera dalam (mengerjakan) kebaikan dan mereka berdo’a kepada Kami dengan penuh harap dan cemas. Dan mereka adalah orang-orang yang khusyu’ kepada Kami.”

Sebagian kaum Salaf berkata  :  “ Siapa yang beribadah kepada Allah dengan rasa cinta saja, maka ia adalah zindiq ( zindiq adalah orang yang munafik, sesat dan mulhid ), siapa yang beribadah kepada-Nya dengan raja’ saja, maka ia adalah murji’( murji’ adalah orang murji’ah, yaitu golongan yang mengatakan bahwa amal bukan bagian dari iman, iman hanya dalam hati.) Dan siapa yang beribadah kepada-Nya hanya dengan khauf, maka ia adalah haruriy ( haruriy adalah orang dari golongan khawarij yang pertama kali muncul di Harura’, dekat Kufah, yang berkeyakinan bahwa orang mukmin yang berdosa besar adalah kafir ).

Dan barangsiapa yang beribadah kepada-Nya dengan hubb, khauf, dan raja’, maka ia adalah mukmin muwahhid.

c. Syarat Diterimanya Ibadah
Ibadah adalah perkara tauqifiyah yaitu tidak ada suatu bentuk ibadah yang disyari’atkan kecuali berdasarkan Al-Qur-an dan As-Sunnah. Apa yang tidak disyari’atkan berarti bid’ah mardudah (bid’ah yang ditolak) sebagaimana sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, yang diriwayatkan oleh Muslim, Artinya :

“ Barangsiapa yang beramal tanpa adanya tuntunan dari kami, maka amalan tersebut tertolak.”

Oleh karena itu agar amal ibadah kita dapat diterima, maka ibadah disyaratkan harus benar, dan ibadah itu dikatakan benar apabila memenuhi dua syarat:

-   Ikhlas hanya karena Allah semata, bebas dari syirik besar dan kecil

-   Ittiba’, sesuai dengan tuntunan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam

1.  Ikhlas hanya karena Allah semata, bebas dari syirik besar dan kecil

Syarat yang pertama ( ikhlas karena Allah semata, bebas dari syirik besar dan kecil ) merupakan implementasi dari syahadat laa ilaaha illallaah, karena ia mengharuskan ikhlas beribadah hanya kepada Allah semata sebagaimana Firman Allah sebagai berikut :

Surat Azzumar ( 39 )– 2, yang artinya :

“Sesunguhnya Kami menurunkan kepadamu Kitab (Al Qur’an) dengan (membawa ) kebenaran. Maka sembahlah Allah dengan tulus ikhlas beragama kepada-Nya.”

Surat Azzumar( 39 )– 11, yang artinya :

“  Katakanlah, sesungguhnya aku diperintahkan supaya aku menyembah Allah dengan ihklas karena-Nya “

Surat Al Bayyinah( 98 ) – 5, yang artinya :

“  Dan tidaklah diperintahkan kepada mereka, melainkan supaya mereka menyembah Allah dengan ihklas karenaNya dalam (menjalankan) agama yang lurus , dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus.

dan hadist berikut :

Hadist Riwayat Bukhari, yang artinya :

“  Aku tidak akan menerima suatu ibadah, melainkan yang diihklaskan karena Aku “

Hadist Riwayat Ahmad, yang artinya :

“  Sesuatu yang sangat aku takutkan yang akan menimpa kamu ialah syirik kecil. Ketika Nabi ditanya apa syirik kecil itu, beliau menjawab : ria’ “

2.  Ittiba’, sesuai dengan tuntunan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam

Sedangkan syarat kedua ( sesuai dengan tuntunan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam ) adalah implementasi dari syahadat Muhammad Rasulullah saw, karena ia menuntut wajibnya taat kepada Rasul, mengikuti syari’atnya dan meninggalkan bid’ah atau ibadah-ibadah yang diada-adakan, sebagaimana sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, yang diriwayatkan oleh Muslim, Artinya :

“ Barangsiapa yang beramal tanpa adanya tuntunan dari kami, maka amalan tersebut tertolak.”

Pada syarat yang pertama, kita tidak beribadah kecuali kepada-Nya. Pada syarat yang kedua, bahwasanya Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah utusan-Nya yang menyampaikan ajaran-Nya. Maka kita wajib membenarkan dan mempercayai beritanya serta mentaati perintahnya. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menjelaskan bagai-mana cara kita beribadah kepada Allah, dan beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang kita dari hal-hal baru atau bid’ah. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan bahwa semua bid’ah itu sesat.

Oleh karena itu apabila dalam beribadah kita sudah melaksanakan dengan dasar ihklas hanya karena Allah dan sesuai tuntunan Rasulullah Muhammad saw, berarti kita sudah mengimplementasikan dua kalimah syahadat yaitu “ asyahadu an laa ilaaha illallaah wa asyahadu anna Muhammadar Rosulullah “

D. Keutamaan Ibadah

Ibadah di dalam syari’at Islam merupakan tujuan akhir yang dicintai dan diridhai-Nya. Karenanyalah Allah menciptakan manusia, mengutus para Rasul dan menurunkan Kitab-Kitab suci-Nya. Orang yang melaksanakannya di-puji dan yang enggan melaksanakannya dicela.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam Al-qur’an surat Al-Mu’min ayat 60 yangArtinya :

“ Dan Rabb-mu berfirman, ‘Berdo’alah kepada-Ku, nis-caya akan Aku perkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang sombong tidak mau beribadah kepada-Ku akan masuk Neraka Jahannam dalam keadaan hina dina.’”

Ibadah di dalam Islam tidak disyari’atkan untuk mempersempit atau mempersulit manusia, dan tidak pula untuk menjatuhkan mereka di dalam kesulitan. Akan tetapi ibadah itu disyari’atkan untuk berbagai hikmah yang agung, kemashlahatan besar yang tidak dapat dihitung jumlahnya. Pelaksanaan ibadah dalam Islam semua adalah mudah.

Di antara keutamaan ibadah bahwasanya ibadah mensucikan jiwa dan membersihkannya, dan mengangkatnya ke derajat tertinggi menuju kesempurnaan manusiawi.

Termasuk keutamaan ibadah juga bahwasanya manusia sangat membutuhkan ibadah melebihi segala-galanya, bahkan sangat darurat membutuhkannya. Karena manusia secara tabi’at adalah lemah, fakir (butuh) kepada Allah. Sebagaimana halnya jasad membutuhkan makanan dan minuman, demikian pula hati dan ruh memerlukan ibadah dan menghadap kepada Allah, bahkan kebutuhan ruh manusia kepada ibadah itu lebih besar daripada kebutuhan jasadnya kepada makanan dan minuman, karena sesungguhnya esensi dan subtansi hamba itu adalah hati dan ruhnya, keduanya tidak akan baik kecuali dengan menghadap (bertawajjuh) kepada Allah dengan beribadah. Maka jiwa tidak akan pernah merasakan kedamaian dan ketenteraman kecuali dengan dzikir dan beribadah kepada Allah. Sekalipun seseorang merasakan kelezatan atau kebahagiaan selain dari Allah, maka kelezatan dan kebahagiaan tersebut adalah semu, tidak akan lama, bahkan apa yang ia rasakan itu sama sekali tidak ada kelezatan dan kebahagiaannya.

Adapun bahagia karena Allah dan perasaan takut kepada-Nya, maka itulah kebahagiaan yang tidak akan terhenti dan tidak hilang, dan itulah kesempurnaan dan keindahan serta kebahagiaan yang hakiki, maka, barangsiapa yang menghendaki kebahagiaan abadi hendaklah ia menekuni ibadah kepada Allah semata.

Maka dari itu, hanya orang-orang ahli ibadah sejatilah yang merupakan manusia paling bahagia dan paling lapang dadanya. Tidak ada yang dapat menenteramkan dan mendamaikan serta menjadikan seseorang merasakan kenikmatan hakiki yang ia lakukan kecuali ibadah kepada Allah semata.

Imam Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Tidak ada kebahagiaan, kelezatan, kenikmatan dan kebaikan hati melainkan bila ia meyakini Allah sebagai Rabb, Pencipta Yang Maha Esa dan ia beribadah hanya kepada Allah saja, sebagai puncak tujuannya dan yang paling dicintainya daripada yang lain.

Termasuk keutamaan ibadah bahwasanya ibadah dapat meringankan seseorang untuk melakukan berbagai kebajikan dan meninggalkan kemunkaran, ibadah dapat menghibur seseorang ketika dilanda musibah dan meringankan beban penderitaan saat susah dan mengalami rasa sakit, semua itu ia terima dengan lapang dada dan jiwa yang tenang.

Termasuk keutamaannya juga, bahwasanya seorang hamba dengan ibadahnya kepada Rabb-nya dapat membebaskan dirinya dari belenggu penghambaan kepada makhluk, ketergantungan, harap dan rasa cemas kepada mereka, maka dari itu, ia merasa percaya diri dan berjiwa besar karena ia berharap dan takut hanya kepada Allah saja.

Keutamaan ibadah yang paling besar bahwasanya ibadah merupakan sebab utama untuk meraih keridhaan Allah Subhanahu wa Ta’ala, masuk Surga dan selamat dari siksa Neraka.

Shalat yang benar.

Sebagaimana telah diuraikan diatas tentang Ibadah termasuk syarat diterimanya ibadah, maka dalam shalat-pun yang merupakan salah satu bentuk ibadah, wajib hukumnya harus memenuhi dua syarat tersebut yaitu, Ikhlas hanya karena Allah semata, bebas dari syirik besar dan kecil dan sesuai dengan tuntunan Rasulullah saw..

Shalat adalah ibadah qalbiyah badaniyah ( hati dan fisik  ), dimana ketika shalat, hati ( qolbu ) kita hubungkan langsung dengan Allah azza wa jalla kita tinggalkan sepenuhnya segala urusan dunia dan gerakan dan ucapan ( fisik ) harus sesuai tuntunan Rasulullah.

Didalam berhubungan dengan Allah khususnya dalam shalat kita diwajibkan menggunakan hati ( qolbu ) karena hanya dengan qolbu-lah Allah berhububungan dengan manusia sebagaimana firman Allah dalam Al-qur’an surat Al-anfal ayat 24 ( VIII-24 ) yang artinya :

“Dan ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah berhubungan dengan manusia melalui qalbunya”. , sedangan segala gerak dan ucapan haruslah kita mengikuti yang dicontohkan oleh Rasulullah sebagaimana Hadist Riwayat Ahmad dan Bukhari, yang artinya :

Dari Malik bin Al Huwairits, sesungguhnya Nabi saw telah bersabda :

“ Shalatlah kamu sebagaimana kamu melihat aku Shalat “

hal ini penting untuk difahami karena didalam Al-qur’an tidak diuraikan tentang tatacara shalat. Berikut adalah beberapa hadist Rasulullah saw, yang tidak mungkin seluruhnya dimuat disini, namun diambilkan yang pokok-pokok tentang tuntunan dalam melaksanakan shalat yang dicontohkan oleh Rasulullah Muhammad saw.

a.  Tentang wajibnya tuma’ninah dan meluruskan tulang punggunya :

1.  Hadist Riwayat  HR. Buchori, Muslim dan Ahmad, yang artinya :

Dari Abu Hurairah :  Sesungguhnya Nabi saw pernah masuk Masjid, lalu ada seorang laki-laki masuk, kemudian Shalat, kemudian datang kepada Nabi dan memberi salam. Kemudian berkatalah Nabi : “ Kembalilah, shalatlah lagi, karena sesungguhnya kamu belum Shalat “, maka kembalilah ia, kemudian Shalat seperti Shalatnya tadi, kemudian ia datang dan memberi salam kepada Nabi. Kemudian berkatalah Nabi : “ Kembalilah, shalatlah lagi, karena sesungguhnya kamu belum Shalat “, maka kembalilah ia, kemudian Shalat seperti Shalatnya tadi, kemudian ia datang dan memberi salam kepada Nabi. Kemudian berkatalah Nabi : “ Kembalilah, shalatlah lagi, karena sesungguhnya kamu belum Shalat “.  Begitulah sampai tiga kali, lalu laki-laki tersebut berkata : Demi Dzat yang telah mengutusmu dengan benar sungguh aku tidak dapat berbuat lebih baik lagi selain itu. Oleh karena itu ajarilah aku ! maka bersabdalah Nabi :

“  Apabila kamu berdiri Shalat, maka takbirlah, lalu bacalah ayat yang mudah bagimu, kemudian ruku’lah sehingga tuma’ninah, kemudian bangkitlah sehingga i’tidal dalam keadaan berdiri, kemudian sujudlah sehingga i’tidal dalam keadaan sujud, kemudian bangkitlah sehingga tuma’ninah dalam keadaan duduk, kemudian sujudlah sehingga tuma’ninah dalam keadaan sujud, kemudian berbuatlah yang demikian itu dalam semua Shalatmu “

2.   Hadist Riwayat Ahmad, yang artinya :

Dan dari Abi Qatadah, ia berkata : telah bersabda Rasulullah saw : “ Sejelek-jelak pencuri ialah orang yang mencuri sebagian dari Shalatnya “. Lalu para sahabat bertanya : “ Ya Rasulullah! Bagaimanakah yang disebut orang yang mencuri sebagian dari Shalatnya itu ? Nabi menjawab : “ yaitu orang yang tidak menyempurnakan ruku’ dan sujudnya” atau ia bersabda : “ orang yang tidak meluruskan tulang punggungnya dalam ruku’ dan sujud “

3. Hadist Riwayat Ahmad dam Ibnu Majah, yang artinya :

Dan dari Ali bin Syaiban, sesungguhnya Rasulullah saw telah bersabda : ‘ Tidak ada Shalat bagi orang yang tidak meluruskan punggungnya dalam ruku’ dan sujud “.

4. Hadist Riwayat Imam yang lima, disyahkan oleh Turmidzi, yang artinya :

Dan dari Abi Mas’ud Al Anshari, ia berkata : Telah bersabda Rasulullah saw : “ Tidak cukup Shalatnya seorang laki-laki yang tidak meluruskan tulang punggung ketika sujud dan ruku’ ”

Dari Hadist-hadist tersebut jelas bahwa, didalam Shalat kita diwajibkan tuma’ninah serta meluruskan punggung waktu ruku’ dan sujud, bahkan Nabi mengatakan kepada yang tidak meluruskan punggung sebagai sejelek-jelak pencuri.

b.  Tentang bacaan Surat Al-Fatihah dan menyempurnakan Shalat :

1.  Sebuah Hadist Qudsi yang diriwayatkan oleh Muslim, yang artinya :

“ Kami berada dibelakang imam ( waktu shalat ), maka berkatalah imam itu : Bacalah Al-Fatihah dalam hatimu, karena aku telah mendengar Rasulullah SAW bersabda :  “  Telah

berfirman Allah azza wa jalla : Aku bagi Shalat ( Al-Fatihah ) itu antara-Ku dan hamba-Ku menjadi dua bahagian dan bagi hamba-Ku apa yang dimintanya.  Apabila hamba-Ku mengucapkan : Alhamdu lillahi Rabbil’aalamin ( segala puji bagi Allah, Tuhan seru sekalian alam ), Allah menjawab : hamba-Ku telah memuji Aku, dan apabila hamba-Ku mengucapkan : Ar Rahmaanir Rahiim ( yang maha pengasih lagi maha penyayang ), Allah menjawab : hamba-Ku telah menyanjung Aku, dan apabila hamba-Ku mengucapkan  : Maaliki yaumiddin (  yang memiliki hari akhirat ), Allah menjawab : hamba-Ku telah memuliakan Aku, dan apabila hambaku mengucapkan : Iyyaaka na’budu wa iyyaaka nasta’in ( hanya Engkau saja yang kami sembah dan hanya Engkau saja yang kami mintai pertolongan ), Allah menjawab : ini seperdua untuk Aku dan seperdua lagi untuk hamba-Ku dan bagi hamba-Ku apa yang dimintanya, dan apabila hamba-Ku mengucapkan : Ihdinash shiraathal mustaqim, shiraathal ladziina an’amta ‘alaihim ghairil maghdhuubi ‘alaihim waladh dhaalliin ( tunjukilah kami jalan yang lurus, yaitu jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat atas mereka, bukan jalan orang-orang yang Engkau murkai  dan bukan pula jalan orang-orang yang sesat ), Allah menjawab: ini semua untuk hamba-Ku dan bagi hamba-Ku apa yang dimintanya “

Dari hadist tersebut diatas jelas bahwa didalam Shalat ( membaca Al-Fatihah ) Allah mengajak berdialog dengan kita dan Allah langsung menjawab do’a/ucapan kita, oleh karena itu apabila kita mempunyai ilmunya, kita bisa kita melaksanakan Shalat dengan sempurna sesuai dengan tuntunan Rasul, betapa bahagia hati kita kalau dalam satu hari minimal 5 kali  kita bisa berdialog langsung dengan Allah, pasti tidak ada kebahagian yang melebihi kebahagiaan ketika kita Shalat.

Sebaliknya betapa menyesal dan ruginya apabila didalam Shalat kita tidak mempunyai ilmunya, sehingga ajakan dialog dari Allah tersebut kita sia-siakan begitu saja, do’a/ bacaan kita asal cepat selesai tanpa memberi kesempatan Allah untuk menjawabnya, tentu lebih menyesal lagi apabila Shalat yang kita kerjakan sudah bertahun-tahun bahkan puluhan tahun, karena kita tidak mempunyai ilmunya.

2. Hadist Riwayat Thabrani, yang artinya :

Rasulullah bersabda :

“ Barang siapa yang mendirikan Shalat diwaktunya dan menyempurnakan wudhu’nya dan menyempurnakan berdirinya dan khusyuknya, ruku’nya dan sujudnya, keluarlah shalat itu putih berseri-seri seraya berkata : Semoga Allah memelihara engkau sebagaimana engkau telah memelihara aku, tetapi barang siapa yang mengerjakannya tidak diwaktunya, tidak sempurna wudhu’nya dan tidak menyempurnakan khusyu’nya, ruku’nya dan sujudnya keluarlah shalat tersebut hitam gelap seraya berkata: “ mudah –mudahan Allah menyia-nyiakan engkau sebagaimana engkau menyia-nyiakan aku, sehingga apabila telah sampai ia ketempat yang ia kehendaki, dilipatlah dia sebagai-mana dilipatnya kain buruk, kemudian dipukul dengannya muka orang yang shalat  tersebut “

Dan ternyata Shalat juga mahluk Allah, yang bila kita kerjakan dengan sempurna akan kembali mendo’akan agar Allah memelihara kita, akan tetapi sebaliknya apabila kita menyia-nyiakan shalat maka ia akan mendo’akan kita supaya Allah juga menyia-nyiakan kita

III.  Mengapa Shalat kita harus benar.

Selain sebagai tiang agama, Shalat juga merupakan ibadah yang pertama kali dihisab oleh Allah dihari qiamat dan Shalat juga menjadi kunci ibadah yang lain, oleh karena itu Shalat kita harus kita kerjakan dengan benar :

1. Hadist Riwayat Thabrani, yang artinya :

“  Amalan yang pertama kali dihisab dari seorang hamba pada hari qiamat ialah Shalatnya, jika Shalatnya diterima, diterima pulahlah semua amalannya yang lain, tetapi jika Shalatnya ditolak, ditolak pulalah semua amalan yang lain “

2. Hadist Riwayat Thabrani, yang artinya :

“  Amalan yang pertama kali dihisab dari seorang hamba pada hari qiamat ialah Shalatnya, jika ia baik, baik pulahlah semua amalannya, tetapi jika ia rusak, rusaklah semua amalannya “

BAGAIMANA CARA AGAR SHALAT KITA KHUSYU’

Khusyu’ memang merupakan syarat diterimanya Shalat, oleh karena itu kita wajib melaksanakan Shalat dengan khusyu’ sebagaimana hadist berikut :

1. Hadist Riwayat Muhammad bin Nasr dari Usman bin Abi Dihras, yang artinya :

“ Allah tidak akan menerima amal seseorang, sehingga hatinya khusyu’ “

2. Kutipan Hadist dalam Buku Al Ghazali “ Al Ihya Ulummudin “ yang artinya :

“  Allah tidak akan melihat kepada Shalat yang pelakunya tidak khusyu’ hatinya “

Al- Qur’an Surat Al- Mu’minun 1-2, yang artinya:

“  Sesungguhnya sukseslah orang-orang yang beriman, yang mereka khusyu’ dalam Shalat mereka “

Bagaimana Cara mencapai khusyu’ :

Meskipun kita diwajibkan melaksanakan Shalat dengan khusyu’ namun untuk mencapai khusyu’ bukanlah hal yang mudah, oleh karena itu untuk mencapai Shalat yang khusyu’ tentu ada ilmu-nya/tuntunannya antara lain.

I.  Harus Ihklas.

Tidak ada suatu amalan yang tidak ihklas yang akan diterima oleh Allah, karena tidak ada amalan yang tidak ihklas bisa mencapai ke-khusyu’-an :

1. Surat Azzumar ( 39 )– 2, yang artinya :

“Sesunguhnya Kami menurunkan kepadamu Kitab (Al Qur’an) dengan (membawa ) kebenaran. Maka sembahlah Allah dengan tulus ikhlas beragama kepada-Nya.”

2. Surat Azzumar( 39 )– 11, yang artinya :

“  Katakanlah, sesungguhnya aku diperintahkan supaya aku menyembah Allah dengan ihklas karena-Nya “

3. Surat Al Bayyinah( 98 ) – 5, yang artinya :

“  Dan tidaklah diperintahkan kepada mereka, melainkan supaya mereka menyembah Allah dengan ihklas karenaNya dalam (menjalankan) agama yang lurus , dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus.

dan hadist berikut :

1. Hadist Riwayat Bukhari, yang artinya :

“  Aku tidak akan menerima suatu ibadah, melainkan yang diihklaskan karena Aku “

2. Hadist Riwayat Ahmad, yang artinya :

“  Sesuatu yang sangat aku takutkan yang akan menimpa kamu ialah syirik kecil. Ketika Nabi ditanya apa syirik kecil itu, beliau menjawab : ria’ “

II.  Harus  yaqin bahwa Allah melihat kita.

Hadist Riwayat Muslim, yang artinya :

“ Hendaklah engkau menyembah Allah itu seolah-olah engkau melihatNya, jika engkau tidak sanggup berbuat demikian, bayangkan/yakinlah bahwa Allah melihat engkau “

III. Harus menghayati makna bacaan dan gerakan Shalat.

Suatu yang tidak mungkin, menghayati sesuatu yang kita ucapkan tanpa memahami makna/ artinya, oleh karena itu merupakan kewajiban kita untuk memahami semua arti bacaan dan gerakan yang kita lakukan dalam Shalat.

1. Niat

Bahwa niat Shalat seharusnya sudah kita mulai ketika kita ambil wudlu ( niat adalah perbuatan hati ( qolbu ) yang disampaikan manusia kepada Allah, jadi tidak harus diucapkan karena memang Allah berhubungan dengan manusia dengan qolbunya, adapun niat sebelum takbir sebagai formalitas ), dalam artian bahwa wudlu yang kita kerjakan memang sebagai rangkaian dalam menegakkan shalat, jadi setelah wudlu seharusnya kita lupakan segala urusan dunia, kita mantabkan hati kita, bahwa kita sebentar lagi akan menghadap Sang Pencipta, Sang Pemberi Hidup, Sang Maha Suci, Sang Maha Besar, Sang Maha Kuasa, Sang Maha Perkasa, Sang Maha Mulia, Sang Maha Adil, Sang Maha Pengasih dan Penyayang, Sang Maha Kaya, Sang Maha Pemberi, Sang Maha Pemurah dan Maha segalanya

Kita dengan rasa cemas akan menghadap Allah Sang Maha Pencipta dan Maha Pemberi Hidup karena Allah lah yang mencipta manusia dan jagad raya beserta isinya dan Allah lah yang didalam gemgaman Nya hidup dan mati kita ditentukan.

Kita dengan rendah diri akan menghadap Sang Maha Agung, Maha Mulia dan  Maha Suci, suci dari segala kesalahan, suci dari segala campur tangan mahluknya dan suci dari segalanya.

Kita dengan rasa gembira akan menghadap Sang Maha Pengasih dan Maha Penyayang yang telah berkenan menyediakan waktunya untuk menerima kita, dan kita membayangkan bahwa Allah akan menerima kita dengan segala kelembutan dan kasih sayang, dan kitapun menyambutnya dengan rasa syukur dan suka cita yang mendalam.

Kita dengan rasa takut, akan menghadap Allah Sang Maha Pengampun dengan membawa segala dosa yang telah kita lakukan, untuk memohon pengampunan dari pada Nya, karena memang hanya Dialah yang bisa mengampuni dosa-dosa kita, dengan penuh kecemasan dan ketakutan yang luar biasa, dengan membayangkan bahwa Allah yang begitu Maha Kuasa dan Perkasa pasti akan marah, karena kita begitu bebal dan dungu, yang selalu banyak berbuat dosa, namun demikian kita juga berharap bahwa Allah akan ridho memberikan ampunan kepada kita.

Kita dengan penuh harapan akan menghadap Allah Sang Maha Pemurah dengan mengajukan segala macam permohonan dan permintaan, dan kita juga membayangkan bahwa Allah akan mengabulkan segala permohonan dan permintaan kita dengan penuh rasa optimis.

Jadi dengan bayangan-bayangan tersebut diatas, didalam diri kita akan timbul rasa harap-harap cemas dan hati kita merasa berdebar-debar, kita tidak perlu tegang, namun ada rasa kecemasan dan kegembiraan dan pengharapan. Perasaan tersebut mungkin sama dengan orang awam yang menghadap pembesar ( Gubernur atau Presiden ) yang memberi kesempatan untuk bertemu empat mata dan menerima segala keluhan dan permintaan kepada kita.

Jadi bila ketika kita akan melaksanakan Shalat, hati kita merasa berdebar-debar karena berharap-cemas, insya Allah niat kita sudah benar, sebaliknya bila didalam diri kita tidak ada perasaan apa -apa seperti kita akan mengerjakan pekerjaan rutin biasa, maka itu perlu diperbaiki.

2. Takbir ( Takbiratul Ihram ).

Shalat yang kita laksanakan dimulai dengan Takbir.

Ketika Takbir kita mengangkat kedua tangan, sebagai tanda bahwa kita menyerah dan pasrah semata hanya kepada Allah yang Maha Kuasa dengan sepenuh hati, sambil mengucapkan Allahu akbar ( Allah Maha Besar ). Kita meyakini sepenuh hati betapa Besar Kekuasaan Allah dan betapa kecil dan tidak berdayanya manusia dihadapan Allah.

Allah lah yang mencipta Jagad Raya yang luasnya tidak bisa dibayangkan oleh manusia, bahkan dengan alat secanggih apapun manusia tidak akan bisa mengukur Jagad Raya ciptaan Allah ini, sebaliknya betapa kecil kita dihadapan Allah, bahkan Bumi tempat kita hidup dan didiami lebih dari 6 milyar manusia ini ternyata begitu kecil dibanding Jagad Raya ciptaan Allah ini, Bumi ini bagaikan sebutir debu dipadang pasir yang luas, bahkan lebih kecil dari itu, apalagi kita manusia.

Selain dari pada itu betapa besar pula kekuasaan Allah, sehingga dapat mengatur seluruh jagad raya beserta seluruh isinya yang isi dan luasnya tak terhingga ini dengan begitu sempurna tanpa cacat.

Rasulullah Muhammad saw, menangis semalaman ketika menerima wahyu dari Allah swt tentang penciptaan langit dan bumi serta terjadinya pergantian malam dan siang.

Perlu diketahui bahwa didalam ayat tersebut  Allah mengatakan bahwa, dalam penciptaan langit dan bumi serta terjadinya pergantian malam dan siang terdapat tanda-tanda ( kebesaran Allah ) bagi orang-orang yang berakal ( ahli fikir ).

Pertanyaannya tentu, mengapa Rasulullah Muhammad saw sampai menangis semalaman ketika menerima wahyu tersebut ?, yang pasti ada keistimewaan atau ada suatu hal yang sangat luar biasa dari makna dan kandungan dari wahyu tersebut.

Adapun wahyu tersebut sebagaimana firman Allah dalam surat Ali-Imran sebagai berikut :

QS : Ali Imran 190 yang artinya :

“ Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda ( kebesaran Allah ) bagi orang-orang yang berakal “

QS : Ali Imran 191 ) : “ (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ( semua ) ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka”

Adapun sebab turunya ayat tersebut adalah sebagai berikut :

At Tabrani dari Ibnu Hatim meriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas ra, bahwa orang-orang Quraisy mendatangi kaum Yahudi dan berkata: “Bukti-bukti kebenaran apakah yang dibawa Musa kepadamu?” Pertanyaan itu dijawab: “Tongkatnya dan tangannya yang putih bersinar bagi yang memandangnya”.
Sesudah itu mereka pergi mendatangi kaum Nasrani dan berkata: “Bagaimana halnya Isa?”. Pertanyaan itu dijawab: “Isa itu menyembuhkan mata yang buta sejak lahir dan penyakit lepra serta menghidupkan orang yang sudah mati seijin Allah”.

Selanjutnya mereka mendatangi Rasulullah saw dan berkata: “Mintalah dari Tuhanmu supaya bukit Safa’ itu jadi emas untuk kami”.

Maka pada malam itu berdoalah Nabi Muhammad saw kepada Allah.

Diriwayatkan dari ‘Aisyah ra, bahwa Rasulullah saw berkata: “Wahai ‘Aisyah aku pada malam ini ingin beribadah kepada Allah SWT”.

Jawab Aisyah ra: “Sesungguhnya aku senang jika Rasulullah berada di sampingku. Aku senang melayani kemauan dan kehendakmu” Tetapi baiklah! Aku tidak keberatan.

Maka bangunlah Rasulullah saw dari tempat tidurnya lalu mengambil air wudu, tidak jauh dari tempatnya itu lalu salat.
Di waktu salat beliau menangis sampai-sampai air matanya membasahi kainnya, karena merenungkan ayat Alquran yang dibacanya. Setelah salat beliau duduk memuji-muji Allah dan kembali menangis tersedu-sedu. Kemudian beliau mengangkat kedua belah tangannya berdoa dan menangis lagi dan air matanya membasahi tanah.

Ketika Bilal datang untuk azan subuh dan melihat Nabi saw menangis ia bertanya: “Wahai Rasulullah! Mengapakah Rasulullah menangis, padahal Allah telah mengampuni dosa Rasulullah baik yang terdahulu maupun yang akan datang”.

Nabi menjawab: “Apakah saya ini bukan seorang hamba yang pantas dan layak bersyukur kepada Allah SWT? Dan bagaimana saya tidak menangis? Pada malam ini Allah SWT telah menurunkan ayat kepadaku, selanjutnya beliau berkata:

“Alangkah rugi dan celakanya orang-orang yang m embaca ini dan tidak memikir dan merenungkan kandungan artinya”.

Apakah sebenarnya yang difikirkan Rasulullah Muhammad sehingga beliau sampai menangis semalaman dan berkata “Alangkah rugi dan celakanya orang-orang yang membaca ini dan tidak memikir dan merenungkan kandungan artinya”.

Kita tidak tahu persis, dan hanya Allah dan rasulnya yang tahu, manusia hanya bisa menduga-duga, mungkinkah karena ternyata saat ini yang memikirkan, merenungkan tentang rahasia alam ini bahkan yang mengeksploatasi dan memanfaatkan alam ciptakan Allah ini justru kaum kafir, sedangkan umat Islam yang negaranya diberi kekayaan yang melimpah ruah justru hanya sebagai penonton. Wallahu a’lam

Sudah tentu dan pasti manusia tidak akan bisa menjangkau seluruh ciptaan Allah karena memang manusia oleh Allah hanya diberi ilmu yang sangat sedikit sekali, namun dengan ilmu yang diterima dari Allah tersebut manusia bisa memanfaatkan semaksimal mungkin, dan dengan kemajuan teknologinya manusia sedikit demi sedikit telah mulai dapat menguak kebesaran Allah melalui berbagai ciptaannya, baik yang berada di langit maupun di bumi, bahkan didalam diri manusia sendiri.

Berikut sedikit cuplikkan dari kebesaran ciptaan dan kekuasaan Allah untuk bahan renungan dan pemikiran kita semua, agar kita menyadari, betapi kecil dan tak berdayanya manusia dihadapan Allah swt.

A.   Bumi dan Jagad Raya.

Bumi ( Planet ) yang kita tempati bersama lebih dari 6 milyar manusia ini sangat besar untuk ukuran manusia, namun dibandingkan dengan jagad raya ciptaan Allah ternyata sangat kecil, Bumi ini bagaikan sebutir debu dipadang pasir yang luas, bahkan lebih kecil dari itu. Tidak ada seorang manusiapun yang tahu pasti berapa luas jagad raya ini, dan berapa jumlah benda yang berada di jagad raya ini, berapa juta, berapa milyar, bahkan berapa trilyun benda yang berada di jagad raya ini.

Bumi.

Bumi adalah tempat tinggal manusia, yang saat ini dihuni lebih dari 6 milyar manusia, dan di Bumi inilah manusia hidup sementara untuk mencari bekal hidup yang lebih kekal di akhirat nanti. Segala kebutuhan manusia, oleh Allah telah disediakan semuanya, dan Bumi ini cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup seluruh manusia, kecuali manusia yang serakah sebagaimana dinasehatkan Luqmanul Hakim kepada anaknya : “ Duania ini sebetulnya cukup untuk memenuhi kebutuhan semua manusia, akan tetapi takkan pernah cukup untuk memuaskan keserakahan hanya seorang saja “

Tata Surya

Bumi merupakan salah satu Planet dari Tata Surya yang terdiri dari : ( Matahari, Mercurius, Venus, Bumi, Mars, Yupiter, Saturnus, Uranus, Neptunus  dan Pluto ) di mana sebagai Pusat adalah Matahari, dan Bumi mempunyai 1 bulan ( satelit ) yang selalu mengelilingi Bumi dengan waktu tertentu dan pasti.

Keliling Bumi kurang lebih 40.000 km, dengan diameter lebih kurang 12.500 km, diameter bumi bila dibandingkan dengan diameter Matahari adalah 1 : 200, artinya garis tengah Bumi adalah 1/200 ( seper dua ratus ) garis tengah Matahari.

Jarak antara Bumi dan Matahari diperkirakan 150 juta km. Kalau diukur dengan kecepatan cahaya kira-kira = 8 menit 20 detik, artinya perjalanan cahaya Matahari untuk sampai ke Bumi butuh waktu selama 8 menit 20 detik, dengan perhitungan: ( kecepatan sinar adalah 300.000 km/detik ) = 150.000.000 : 300.000 X 1 detik = 500 detik = 8 menit 20 detik.

Jarak antara Bumi dan Matahari sejauh 150 juta km, bila ditempuh dengan pesawat tempur tercanggih dengan kecepatan 3 X suara  ( 3 X 150 m = 450 m/ detik = 27 km/menit = 1.620 km /jam = 38.880 km/hari  ) = 150.000.000 km : 38.880 km x 1 hari = 3.858 hari = 10 tahun 208 hari. Artinya kalau kita pergi ke Matahari dengan pesawat Jet tercanggih dengan kecepatan 3 x kecepatan suara, kita butuh waktu 10 tahun 208 hari.

Galaxi.

Galaxi adalah kumpulan Tata Surya ( Bintang ) yang jumlahnya kurang lebih 100 milyar Bintang, Bumi yang kita tempati masuk dalam gugusan Galaxi Bima Sakti.

Galaxy Bima Sakti memiliki dua bagian :

Bagian inti, ditengah, berbentuk mirip bola, berisi sekitar 80 milyar Bintang dan ditengahnya ada lobang hitam yang massanya sangat besar dan dapat menarik apapun, termasuk cahaya, disebut Black Hole.

Bagian tepi, berisi sekitar 20 milyar bintang berbentuk cakram, dan tata surya kita berada dipinggir cakram ini.

Jarak terdekat Bumi ( Tata surya ) kita dengan bintang ( Tata surya ) yang lain diperkirakan sejauh 4 tahun cahaya.

Jarak 1 tahun Cahaya = 300.000 km  X 60 ( detik ) X 60 ( menit ) X 24 ( jam ) X 365 ( hari ) = 9.460.800.000.000 km. Jadi 4 tahun cahaya = 37.843.200.000.000 km. ( 37,8 trilyun km ).

Jarak tersebut bila ditempuh dengan pesawat jet tercanggih dengan kecepatan 3 X suara, atau 1.620 km/jam atau 38.880 km/hari = 37.843.200.000.000 km : 38.880 km X 1 hari = 896.172.839 hari = 2.455.268 tahun ( + 2. 5 milyar tahun ), ini baru Bintang terdekat.

Bintang terjauh yang dapat dipantau dengan Teleskop Huble adalah 20 milyar tahun cahaya, atau = 20.000.000.000  X 9.460.800.000.000 Km = 189.126.000.000.000.000.000.000 km,

maka bila ditempuh dengan Pesawat Jet super canggih buatan manusia untuk mencapai tujuan memerlukan waktu ………trulyun tahun, padahal para ahli yakin bahwa masih ada Bintang yang lebih jauh dari itu, , , sekarang kita bandingkan berapa tahun umur manusia.

Cluster dan Supercluster.

Supercluster adalah kumpulan Galaxi yang jumlahnya lebih kurang 100 milyar Galaxi.

Cluster adalah kumpulan Galaxi yang berdekatan, Galaxi Bima Sakti kita membentuk cluster yang terdiri dari 30 Galaxi yang bernama Local Group. Cluster-cluster tersebut membentuk Supersluster. Supercluster tempat Bima Sakti kita adalah local supercluster dengan pusat orbit cluster Virgo.

Hingga saat ini, para ahli dengan peralatan yang tercanggih yang pernah dibuat manusia dan tentunya sampai kapanpun, tidak akan bisa menghitung berapa trilyun planet ( Bintang ) yang ada di Jagat Raya ini, dan berapa km luas Jagad Raya ini.

Jadi sepandai apapun manusia ciptaan Allah ini, tidak akan ada yang bisa, hanya menghitung saja berapa jumlah Bintang yang ada di jagad raya ini, kalau menghitung jumlah Bintang saja tidak bisa, mana mungkin otak manusia bisa menjangkau Dzat Allah ( yang menciptakan jagad raya ini sekaligus mengatur trilyunan Palnet tersebut beserta seluruh mahluk ciptaan yang ada didalamnya termasuk manusia, dengan begitu sempurna ).

Oleh karena itu wajar bila Rasul mengingatkan agar kita tidak memikirkan dzat Allah, sebagaimana hadist yang diriwayatkan oleh  Abu Nu’aim, yang artinya: “ Fikirkanlah tentang mahluk Allah, jangan kamu fikirkan tentang Dzat Allah, maka sesungguhnya kamu tidak akan mampu mencapainya “

Bintang/Planet yang ada di jagad raya yang jumlahnya trilyunan ( bahkan kita akan sulit hanya memberi nama jumlahnya saja ) semuanya bergerak dengan kecepatan dan irama yang sangat mentakjubkan. Bulan mengelilingi Bumi, ( begitu juga bulan yang ada di Planet lainnya ). Bumi beserta Bulan mengelilingi Matahari, Matahari, Bumi, Bulan mengelilingi Galaxi. Galaxi, Matahari, Bumi, Bulan mengelilingi Supercluter, begitu seterusnya. Namun anehnya benda-benda tersebut tidak ada yang bertubrukan satu sama lain, karena semua patuh dan tunduk kepada aturan Allah, semua sangat disiplin mengikuti aturan Allah dengan ketepatan waktu yang sempurna. Siapapun manusia bila dapat mengamati pergerakan benda-benda angkasa di jagad raya ini akan terkagum dan tanpa sadar akan berucap :                              “ Subhanallah,, begitu sempurna semua aturanmu ya Allah “

Begitulah kesempurnaan kebesaran Allah, begitu besar ciptaan dan kekuasaan Allah, Bumi yang kelihatan besar dan bisa memuat dan menghidupi lebih dsri 6 milyar manusia, bila dibandingkan dengan jagad raya ini ternyata hanya bagaikan sebutir debu di padang pasir, lantas bagaimana dengan kita/manusia, pantaskah kita masih sombong dan tidak mau tunduk dan patuh pada aturan Allah, padahal semua yang berada di jagad raya ini telah patuh dan tunduk kepada Allah.

An-Nahl ( XVI ) ayat 49, yang artinya :

” dan hanya kepada  Allah sajalah bersujud segalanya yang ada di langit, maupun yang ada di bumi, sejak binatang-binatang yang berkeliaran, hingga para malaikat. Lagi pula mereka tidak pernah sombong “.

Ali –Imran ( III ) ayat 83, yang artinya :

“ Apakah mereka akan mencari agama lain dari Agama Allah ? padahal seluruh mahkluk yang ada dilangit dan dibumi semuanya menyatakan patuh kepadaNya, suka atau tidak suka. Dan kepada-Nya-lah mereka dikembalikan “.

Itulah sebagian kecil dari kemaha besaran dan  kekuasaan Allah, dan tentunya masih terlalu banyak keajaiban dan kemaha dahsyatan ciptaan Allah di jagad raya ini yang tidak mungkin seluruhnya bisa diungkap disini, dan temuan tersebut baru dapat diuangkap oleh manusia menjelang akhir abad ke 20, dan dengan terus berkembangnya kemajuan teknologi, tentu tidak mustahil manusia akan menemukan ciptaan Allah yang lebih mentakjubkan dari itu.

Begitulah mahluk-mahkluk besar ciptaan Allah yang berada di Jagad Raya ini.

B.   Binatang.

Selanjutnya marilah kita beralih kelingkungan sekitar kita, kita perhatikan mahkluk-mahkluk ciptaan Allah yang setiap saat dapat kita jumpai didepan mata kita, kemudian kita perhatikan dan amati secara lebih mendalam,.

Kalau kita mau memperhatikan dan berfikir, ternyata seluruh mahluk hidup ( binatang ) yang berada Bumi ini, diciptakan oleh Allah dengan begitu sempurna dan luar biasa, bahkan binatang yang setiap hari bisa kita temui, yang kita anggap sebagai mahluk yang tidak berguna, ternyata semua mempunyai kelebihan yang luar bisa, baik dari segi penciptaan maupun dari perilakunya, sehingga dapat dipakai sebagai pelajaran bagi manusia, baik untuk kemajuan teknologi maupun perilaku dan budaya manusia.

Kita ambil satu contoh, misalnya Lalat, mahkluk ini oleh manusia dianggap sebagai mahkluk yang tidak berguna bahkan dianggap menjijikkan sehingga setiap kali bertemu binatang tersebut manusia ingin membunuhnya, namun kalau kita mau memperhatikan dan meneliti ternyata lalat tersebut mempunyai kelebihan luar biasa yang tidak dimiliki manusia.

Begitu juga laba-laba, binatang kecil yang sering hidup di sudut-sudut rumah maupun di ranting-rating dahan yang kelihatannya tidak bermanfaat bagi manusia, ternyata mempunyai kelebihan yang luar biasa, sehingga kedua binatang tersebut bisa menjadi inspirasi bagi bagi kemajuan teknologi maupun perilaku dan budaya manusia, begitu juga mahkluk-mahkluk lain yang tidak bisa dilihat dengan mata telanjang, semuanya diciptakan sangat luar biasa dan semua dijamin rezkinya oleh Allah.

1. Lalat.

Dari segi penciptaan.

Menurut penelitian para ahli, ketika terbang lalat bisa mengepakkan sayapnya hingga mencapai 500 kali per detik, oleh karena itu tidak mengherankan bila kita juga bisa mendenger dengan jelas dengungan suara lalat terbang meskipun binatang tersebut relatif kecil. Padahal hingga saat ini belum ada satupun mesin buatan manusia yang mampu memiliki kecepatan yang luar biasa ini. Kalaulah ada, mesin itu akan hancur dan terbakar akibat gaya gesek. Namun sayap, otot ataupun persendian lalat ini tidak mengalami kerusakan. Lalat dapat terbang ke arah manapun tanpa terpengaruh oleh arah dan kecepatan angin. Dengan teknologi yang paling mutakhir sekalipun, manusia masih belum mampu membuat mesin yang memiliki spesifikasi dan teknik terbang yang luar biasa sebagaimana lalat. Begitulah, makhluk hidup yang cenderung diremehkan dan tidak terlalu mendapat perhatian manusia, dapat melakukan pekerjaan yang tak mampu dilakukan manusia. Tidak diragukan lagi, tidaklah mungkin mengklaim bahwa seekor lalat melakukan ini semua semata-mata karena kemampuan dan kecerdasan yang ia miliki. Semua karakteristik istimewa dari lalat adalah kemampuan yang Allah berikan kepadanya

Dari segi perilaku.

Kalau kita amati secara teliti dan mendalam, maka serangga tersebut memiliki kebiasaan membersihkan diri sampai bagian-bagian yang terkecil dari tubuhnya sekalipun. Lalat tersebut seringkali hinggap di suatu tempat lalu membersihkan tangan dan kakinya secara terpisah. Setelah itu lalat ini membersihkan debu yang menempel pada sayap dan kepalanya dengan menggunakan tangan dan kakinya secara menyeluruh. Lalat ini terus saja melakukan yang demikian sampai yakin akan kebersihannya. Semua lalat dan serangga membersihkan tubuh mereka dengan cara yang sama: dengan penuh perhatian dan ketelitian sampai ke hal-hal yang kecil sekalipun. Ini menunjukkan adanya satu-satunya Pencipta yang mengajarkan kepada mereka cara membersihkan diri mereka sendiri.

2. Laba-laba.

Sekali waktu kita perlu melihat secara dekat dan mengamati bagaimana seekor laba-laba yang merajut sarangnya di sebuah sudut rumah atau di dahan. Jika kita menyadari keharusan untuk memikirkan binatang yang seringkali tidak dihiraukan orang ini, kita akan mengerti bahwa pintu pengetahuan telah dibuka untuk kita. Serangga kecil yang sedang kita saksikan adalah sebuah keajaiban. Sarang laba-laba tersebut memiliki bentuk simetri yang sempurna. Kita pun akan  kagum terhadap seekor laba-laba yang mungil tetapi memiliki kemampuan dalam membuat sebuah disain sempurna yang sedemikian menakjubkan.

Dari hasil pengamatan para ahli, mereka mendapatkan beberapa fakta bahwa, serat yang digunakan laba-laba ternyata 30% lebih fleksibel dari serat karet dengan ketebalan yang sama. Serat yang diproduksi oleh laba-laba ini memiliki mutu yang demikian tinggi sehingga ditiru oleh manusia dalam pembuatan jaket anti peluru. Sungguh luar biasa, sarang laba-laba yang dianggap sederhana oleh kebanyakan manusia, ternyata bisa menjadi inspirasi manusia untuk membuat produk yang begitu specktakuler.

3. Mahkluk Mikroskopis.

Segala sesuatu yang terlihat sepintas oleh manusia ternyata didalamnya terdapat kehidupan, baik yang terlihat ataupun tidak. Tak satu sentimeter persegi pun di bumi ini yang di dalamnya tidak terkandung kehidupan. Manusia, tumbuh-tumbuhan dan hewan-hewan adalah makhluk yang mampu dilihat oleh manusia. Namun, masih ada makhluk-makhluk lain yang tidak terlihat oleh manusia akan tetapi manusia sadar akan keberadaannya. Misalnya rumah yang ia diami yang penuh dengan makhluk-makhluk mikroskopis yang disebut “tungau”. Demikian pula halnya dengan udara yang ia hirup, di dalamnya mengandung virus yang tak terhingga banyaknya, atau tanah kebunnya yang mengandung bakteri yang sangat banyak.

Seseorang yang merenung tentang keanekaragaman yang luar biasa dari kehidupan di bumi akan mengetahui kesempurnaan makhluk-makhluk ini. Tiap makhluk yang ia lihat adalah tanda-tanda keagungan karya seni ciptaan Allah, demikian pula halnya dengan keajaiban luar biasa yang tersembunyi dalam makhluk-makhluk mikroskopis tersebut. Virus, bakteri ataupun tungau yang tidak terlihat oleh mata telanjang memiliki mekanisme tubuh yang unik. Habitat, cara makan, sistim reproduksi dan pertahanan mereka semuanya diciptakan oleh Allah. Seseorang yang memikirkan secara mendalam tentang fenomena ini teringat ayat Allah, dalam Al-Qur’an Surat Al- Ankabut ( XXIX ) ayat 60  yang artinya :

“Dan berapa banyak binatang yang tidak (dapat) membawa (mengurus) rezkinya sendiri. Allah-lah yang memberi rezki kepadanya dan kepadamu dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.”

“Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ( semua ) ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka “

C. Organ Tubuh Kita ( Manusia )

Sekarang kita amati tentang organ tubuh kita sendiri, bagaimana Allah menciptakan tubuh kita dengan begitu sempurna, seluruh bagian organ tubuh kita diciptakan dengan sangat sempurna dan semuanya berfungsi dengan sangat sempurna untuk dapat memenuhi kebutuhan hidup manusia, kita ambilkan satu contoh saja, yaitu Jantung.

Jantung adalah organ yang sangat penting bagi manusia. Organ ini berfungsi sebagai pompa yang mengalirkan darah ke seluruh tubuh sehingga oksigen dapat sampai dan dipergunakan di jaringan tubuh. Jantung mulai bekerja sejak manusia masih dalam kandungan, dan akan tidak akan berhenti sampai manusia meninggal.
Jantung berdenyut kurang lebih 70 kali setiap menit atau 4200 kali setiap jam, 100.800 dalam sehari, dan 36.792.000 kali dalam setahun. Kalau diambil untuk usia pertengahan (60 tahun) maka jantung berdenyut 2.207.520.000 (dua milyar dua ratus tujuh lima ratus dua puluh ribu) kali tanpa henti.

Pertanyaannya, pernahkah kita memikirkan siapa/apa yang mengggerakkan jantung menjadi mesin pompa yang berfungsi menyedot sekaligus mengalirkan darah keseluruh tubuh dengan konsisten dan tapa berhenti sepanjang hidup manusia ? dan bisakah manusia dengan segala keunggulan teknologinya membuat mesin pompa sehebat jantung tersebut ?

Steven Vogel, seorang perekayasa dari Duke University di Amerika, menyatakan bahwa jantung manusia takkan pernah dapat ditiru: Ini karena mesin yang kita punyai, berapa pun keluaran tenaga atau daya-kerjanya, bekerja dengan sangat berbeda. Otot (jantung) adalah mesin yang lembut, basah, selalu mengembang dan mengerut; dan itu sungguh tidak mirip dengan apa pun yang ada dalam perbendaharaan teknologi kita. Jadi, Anda takkan mampu meniru sebuah jantung. Singkatnya, dengan semua teknologinya, manusia takkan pernah mampu membuat jantung. Mereka yang menyatakan bahwa jantung dan keseluruhan tubuh yang melingkupinya ada tanpa melalui penciptaan sengaja, jelas telah melakukan kesalahan besar.
Jantung terdiri dari serabut-serabut otot khusus yang bekerja secara otomatis dan teratur sehingga jantung dapat berdenyut dengan irama yang ritmis. Dalam setiap denyutan, jantung memompakan darah yang kaya oksigen ke seluruh tubuh dan darah yang miskin oksigen ke paru-paru untuk melakukan pertukaran gas.

Ukuran jantung manusia secara kasar adalah sebesar kepalan tangan, terdiri dari dua ruang Atrium, dua ruang Ventrikel, 4 klep jantung masing-masing menghubungkan atrium kiri dan ventrikel kiri, atrium kanan (Bikuspidal) dan ventrikel kanan (Trikuspidal), ventrikel kiri dan aorta (Aortal), ventrikel kanan dan arteri pulmonalis (Pulmonal). Selain itu masih terdapat juga sistem saraf yang mengatur irama denyutan jantung.

Pembuluh darah yang keluar dari ventrikel kiri disebut Aorta, yang mengedarkan darah ke seluruh tubuh. Sedangkan yang keluar dari ventrikel kanan disebut Arteri Pulmonalis yang membawa darah ke paru untuk menukarkan karbondioksida dengan oksigen. Adapun pembuluh darah yang masuk ke Atrium kiri disebut Vena Pulmonal dari paru-paru dan yang masuk ke Atrium kanan disebut Vena Cava dari seluruh tubuh.

Sebagian darah yang keluar dari aorta akan menuju ke jantung dan memperdarahinya, dikenal dengan nama Arteri Koronaria. Pembuluh darah inilah yang sering mengalami gangguan pada penyakit jantung koroner.

Proses pemompaan darah sehingga dapat bersirkulasi dalam tubuh dan paru-paru mengikuti alur sebagai berikut: Pada saat jantung relaks (diastole), darah dari vena cava (kurang oksigen) masuk ke atrium kanan, bersamaan dengan masuknya darah dari vena pulmonalis (kaya oksigen) masuk ke atrium kiri. Suatu proses listrik yang dikenal sebagai pacu jantung merangsang otot-otot atrium untuk berkerut sehingga darah keluar ke ventrikel (baik kanan maupun kiri). Bersamaan dengan terisinya ventrikel oleh darah atrium, impuls listrik mulai merangsang otot ventrikel untuk berkerut, akibatnya darah dipompakan keluar dari ventrikel masing-masing menuju arteri pulmonalis (ventrikel kanan) dan aorta (ventrikel kiri). Setelah berkerut, ventrikel kembali relaksasi. Proses ini berulang terus-menerus sampai kira-kira 60-80 kali/menit.

Jantung manusia memompa 2.200 galon darah setiap hari dan 8.030.000 galon dalam setahun, serta 481.800.000 galon selama enam puluh tahun yaitu dipertengahan usia manusia (beratnya kira-kira 345.000 ton).

Apakah ada pompa lainnya selain jantung yang dapat melakukan pekerjaan berat dalam waktu enam puluh tahun tanpa perbaikan atau perawatan?

Demikianlah kebesaran Allah yang menciptakan jagad raya yang luasnya tak terhingga beserta seluruh isinya dengan segala aturanya yang sangat sempurna.

Kebesaran ciptaaan dan kekuasaan Allah tersebut diatas tentu hanya merupakan sebagaian kecil yang bisa diuangkap oleh manusia, sudah barang tentu dan pasti yang tidak bisa diungkap oleh manusia tentu jauh lebih besar dari itu, karena memang manusia oleh Allah hanya diberi ilmu yang sangat sedikit sekali, sedangkan ilmu Allah tak terbatas, sebagaimana firman Allah dalam Al-qur’an surat Lukman ( XXXI ) ayat 27, yang artinya :

Dan seandainya pohon-pohon di bumi menjadi pena dan laut (menjadi tinta), ditambahkan kepadanya tujuh laut (lagi) sesudah (kering)nya, niscaya tidak akan habis-habisnya (dituliskan) kalimat Allah . Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana

dan dalam Al-qur’an surat Al-Isra’ ( XVII )Ayat 85, yang artinya :

Dan mereka bertanya kepadamu tentang roh. Katakanlah: “Roh itu termasuk urusan Tuhan-ku, dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit “.

Oleh karena itu, kita hanya pantas pasrah, menghambakan diri sepenuh hati kepada Allah, patuh tunduk sepenuhnya terhadap segala aturan Allah.

( Catatan : renungan kebesaran Allah tersebut tentu bukan dilakukan saat mau shalat saja namun sudah melekat di dalam benak kita, sehingga didalam setiap langkah / perbuatan  selalu kita landasi dengan keyakinan bahwa begitu besar kekuasaan Allah sehingga kita mempunyai komitmen yang kuat bahwa hanya Allah-lah satu-satunya dzat yang patut kita sembah )

Setelah kita menyadari kebesaran Allah dan kekerdilan kita,

Selanjutnya kita sedekapkan tangan kedada, kita pegang/dekap erat qolbu ( jantung ) kita dengan harapan Iman yang telah berada di qolbu kita tidak lepas, kita kuatkan qolbu kita, kita mohon perlindungan kepada Allah dari segala godaan yang bisa menggoyahkan Iman kita.

Kita tundukkan wajah kita ketempat sujud dengan penuh tawadhu’ dan kita yakin sepenuh hati bahwa Allah yang Maha Agung berada dihadapan kita yang dengan serius memperhatikan segala gerak gerik kita, dan ucapan kita.

Selanjutnya kita memanjatkan do’a iftitah, dan do’a iftitah yang diajarkan Rasul kepada kita ada beberapa do’a yang diajarkan kepada kita, terserah kita mau pilih yang mana, dan setelah kita membaca do’a iftitah, selanjutnya kita membaca Al Fatihah.

Didalam bacaan Al Faatihah tersebut, kita harus yakin bahwa setiap ayat yang kita baca, Allah pasti akan menjawabNya, sebagaimana hadist qudsi yang telah kita sebutkan diatas,

Rasulullah SAW bersabda :  “  Telah berfirman Allah azza wa jalla : Aku bagi Shalat ( Al-Fatihah ) itu antara-Ku dan hamba-Ku menjadi dua bahagian dan bagi hamba-Ku apa yang dimintanya.

Apabila hamba-Ku mengucapkan : Alhamdu lillahi Rabbil’aalamin ( segala puji bagi Allah, Tuhan seru sekalian alam ), Allah menjawab : hamba-Ku telah memuji Aku,

dan apabila hamba-Ku mengucapkan : Ar Rahmaanir Rahiim ( yang maha pengasih lagi maha penyayang ), Allah menjawab : hamba-Ku telah menyanjung Aku,

dan apabila hamba-Ku mengucapkan  : Maaliki yaumiddin (  yang memiliki hari akhirat ), Allah menjawab : hamba-Ku telah memuliakan Aku,

dan apabila hambaku mengucapkan : Iyyaaka na’budu wa iyyaaka nasta’in ( hanya Engkau saja yang kami sembah dan hanya Engkau saja yang kami mintai pertolongan ), Allah menjawab : ini seperdua untuk Aku dan seperdua lagi untuk hamba-Ku dan bagi hamba-Ku apa yang dimintanya,

dan apabila hamba-Ku mengucapkan : Ihdinash shiraathal mustaqim, shiraathal ladziina an’amta ‘alaihim ghairil maghdhuubi ‘alaihim waladh dhaalliin ( tunjukilah kami jalan yang lurus, yaitu jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat atas mereka, bukan jalan orang-orang yang Engkau murkai  dan bukan pula jalan orang-orang yang sesat ) Allah menjawab: ini semua untuk hamba-Ku dan bagi hamba-Ku apa yang dimintanya “

oleh karena itu setiap selesai membaca satu ayat seharusnya jangan langsung disambung dengan ayat berikutnya, kita berhenti sejenak memberi kesempatan kepada Allah untuk menjawab do’a dan permohonan kita, karena betapa ruginya kalau jawaban dari Allah kita abaikan begitu saja, lantas apa gunanya kita shalat, tidakkah inti shalat kita adalah menyampaikan pujian dan do’a ( permohonan ampun, permohonan petunjuk, dan segala permintaan ) kepada Allah, lantas mengapa jawaban dari Allah kita abaikan ?

Setelah selesai membaca Al-fatihah, kita di sunahkan membaca salah satu surat yang ada di dalam Al-qur’an sesuai keinginan kita, dan setelah selesai membaca surat selanjutnya kita teruskan dengan Ruku”.

3.  Ruku’

Didalam ruku’ ada beberapa do’a yang diajarkan kepada kita, dan seharusnya do’a dalam ruku’ kita baca jika posisi ruku’ kita telah sempurna, ada beberapa sindiran dari Rasul, apabila didalam ruku kita tidak meluruskan pungung kita, sebagaimana telah ditulis diatas antara lain :

-         Dan dari Abi Qatadah, ia berkata : telah bersabda Rasulullah saw : “ Sejelek-jelak pencuri ialah orang yang mencuri sebagian dari Shalatnya “. Lalu para sahabat bertanya : “ Ya Rasulullah! Bagaimanakah yang disebut orang yang mencuri sebagian dari Shalatnya itu ? Nabi menjawab : “ yaitu orang yang tidak menyempurnakan ruku’ dan sujudnya” atau ia bersabda : “ orang yang tidak meluruskan tulang punggungnya dalam ruku’ dan sujud “

-         Hadist Riwayat Ahmad dam Ibnu Majah, yang artinya :

Dan dari Ali bin Syaiban, sesungguhnya Rasulullah saw telah bersabda : ‘ Tidak ada Shalat bagi orang yang tidak meluruskan punggungnya dalam ruku’ dan sujud “.

-         Hadist Riwayat Imam yang lima, disyahkan oleh Turmidzi, yang artinya  :  “ Dan dari Abi Mas’ud Al Anshari, ia berkata : Telah bersabda Rasulullah saw : “ Tidak cukup Shalatnya seorang laki-laki yang tidak meluruskan tulang punggung ketika sujud dan ruku”

Dalam posisi ruku’, kita memanjatkan do’a, kita Agungkan Allah dengan segala keagungan Nya dan kita merasa kecil, tanpa daya sama sekali dihadapan Allah, kita serahkan seluruh jiwa raga kita dan kita tundukkan kepala kita kehadapan Allah yang Maha Agung, seakan kita sedang menanti hukuman yang akan dijatuhkan kepada kita dengan penuh keihlasan.

4.  I’tidal.

Setelah selesai ruku’, kita bangkit berdiri tegak sambil membaca Tasmi’ : “ Sami’allahu liman hamidahu ( Allah maha mendengar orang-orang yang memujiNya ), dan didalam hati, kitapun harus yakin bahwa Allah yang dihadapan kita mendengar pujian yang kita sampaikan, kemudian dalam keadaan berdiri tegak kita mengucapkan : “ robbanaa walakal hamdu mil-us samawaati wamil-ul ardli wamil-u maa syikta min syaiin ba’du, (  ya Allah ya Tuhan kami, bagi Mu segala puji, sepenuh langit dan bumi, dan sepenuh barang yang Engkau kehendaki seudah itu) “.

4. Sujud.

Setelah kita selesai membaca do’a dalam I’tidal, selanjutnya kita melaksanakan sujud diiringi dengan bacaan takbir “ Allahu Akbar “, sama seperti halnya pada waktu ruku’,  do’a yang kita sampaikan kepada Allah dalam sujud, apabila posisi sujud kita benar-benar telah sempurna : dahi, kedua telak tanga, kedua lutut, dan kedua ujung kaki menempel dilantai, dengan posisi paha tegak lurus, dan punggung rata ( tidak boleh ditekuk ). Didalam sujud tersebut kita diajarkan beberapa macam do’a terserah kita maupun pilih do’a yang mana, namun yang terpenting kita harus menghayati do’a yang kita panjatkan kepada Allah tersebut dengan sepenuh hati, kita yakin bahwa Allah adalah yang Maha Suci ( suci dari segala kekeliruan, kesalahan, suci dari campur tangan mahluknya dan suci dari segalanya ) sedang kita adalah mahluk yang hina dan kotor dihadapan Allah, dihadapan Allah kepala kita sungkurkan di tanah dengan ihlas, kita menghambakan diri sepenuh hati kepada Allah, kita hancurkan kesombongan yang masih tersisa dalam diri kita, karena hanya Allahlah yang berhak sombong. Setelah sujud kita mengangkat kepala dengan mengucapkan takbir “ Allahu Akbar “ kemudian duduk.

5. Duduk Antara Dua Sujud.

Setelah duduk kita sempurna, kita membaca do’a : Robbighfirlii wahrhamnii wajburnii warfa’nii warzuqnii wahdinii wa’aafinii wa’fu’annii ( Ya Allah !!, ampunilah dosaku, belas kasihanilah aku, dan cukupkanlah segela kekuranganku, dan angkatlah derajadku, dan berilah rezki kepadaku, dan berilah aku petunjuk dan berilah aku kesehatan kepadaku dan berilah ampunan kepadaku “).

Do’a tersebut harus benar-benar kita hayati dengan sepenuh hati, dan kita ucapkan dengan nada yang lembut dan irama yang pelan, jangan asal selesai, kita bukan membaca, tetapi kita berdo’a, memohon kepada Allah, dzat menciptakan kita, dzat yang didalam genggaman Nya hidup dan mati kita, yang semuanya berisi permohonan untuk kepentingan diri pribadi kita.

Etika berdo’a dalam shalat.

Kadang kita tidak sadar, bahwa waktu berdo’a kepada Allah didalam shalat, kita tidak memakai etika dan sopan santun, bahkan kadang sama sekali tidak sopan, hal ini bisa terjadi mungkin, karena shalat yang kita lakukan kita anggap hanya sebagai aktivitas yang bersifat rutin belaka. Padahal seharusnya kita faham bahwa kita sedang menghadap Dzat Yang Maha Suci dan Maha Agung dan Maha Mulia. Oleh karena itu sudah sewajibnyalah bahwa pada waktu berdo’a didalam shalat, kita harus tahu sopan santun, baik ketika berdiri, ketika ruku’, ketika sujud, maupun pada waktu kita duduk, posisi kita harus sempurna dulu, baru berdo’a, dan janganlah kita berdo’a seenak kita, belum sempurna ( beridiri kita, ruku’ kita, sujud kita, duduk kita ) kita sudah berdoa, karena seluruh yang kita ucapkan adalah berupa pujian dan permohonan kepada Allah.

Contoh sederhana.

Bila kita berbuat kesalahan kepada atasan kita, maka untuk meminta maaf kepada beliau biasanya kita akan menghadap dengan cara yang sesopan mungkin, disertai perasaan harap-harap cemas khawatir akan mendapat marah darinya, setelah duduk kita sempurna, kita baru menyampaikan maksud yang ada didalam hati kita, dengan bahasa yang halus dan nada yang lembut, dengan cara seperti itu mungkin atasan kita akan memberi maaf.

Sebaliknya apabila pada waktu minta maaf kita tidak memakai etika atau sopan santun, kita langsung buka pintu, tanpa ketok pintu lebih dulu, dan sebelum duduk kita sudah langsung minta maaf sambil menuju tempat duduk, namun sebelum selesai menyampaikan permintaan maaf kita berdiri lagi, dan langsung meninggalkan ruangan, kira-kira apa yang akan kita terima, ampunan apa marah.

Tidakkah ibaratnya seperti itu shalat kita, sambil bergerak ( sebelum sempurna berdiri kita, ruku’ kita, sujud kita, maupun pada duduk kita ) kita sudah mengucapkan do’a, sopankah perbuatan seperti ini, padahal yang kita hadapi adalah Allah ( dzat Yang Maha Suci, Maha Agung dan Maha Mulia ), lantas kira-kira diterima apa tidak do’a kita, atau sebaliknya Allah akan marah, karena kita dianggap main-main.

Begitu juga bila kita akan meminta sesuatu kepada atasan, misalnya kenaikan Gaji, tentu sebelum masuk ruangan atasan, kita akan ketok pintu dulu, baru masuk ruangan, kemudian setelah dipersilahkan duduk, baru kita duduk, setelah duduk kita sempurna, kita  menyampai kan maksud yang ada didalam hati kita, dengan memakai bahasa yang sehalus dan nada yang selembut mungkin dengan harapan permohonan kita bisa dikabulkan, dan tentunya permohonan tersebut juga bisa dikabulkan apabila memang sesuai dengan prestasi kita. Sebaliknya jika seandainya kita langsung masuk ruangan tanpa mengetok pintu dan begitu masuk, sebelum duduk, kita langsung minta gaji dinaikkan dan sebelum selesai bicara kita langsung berdiri meninggalkan ruangan, mungkinkah permohonan kita dikabulkan ?, lebih-lebih bila kita tidak berprestasi.

Coba kita renungkan sejenak,,,,  selama ini seperti apakah perilaku kita, ketika menghadap Allah pada waktu shalat, sudahkah kita memakai etika atau sopan santun, sudahkah ketika    ( berdiri kita, ruku’ kita, sujud kita dan duduk kita ) sudah sempurna baru kita berdo’a, dan sudahkah didalam berdo’a  kepada Allah kita memakai nada dan irama yang halus.

Atau justru sebaliknya, kita tidak memakai etika dan sopan santun, kita asal bergerak ( ruku’ sujud ) seenak kita sendiri, gerakan kita begitu cepat, begitu juga pada waktu berdo’a, kita tidak memakai titik dan koma, asal cepat selesai, lantas apa bedanya dengan penyanyi rap yang bernyanyi dengan gerak dan nada yang cepat, tidakkah kita sedang menghadap kepada dzat yang Maha Suci, Maha Agung, Maha Mulia dan Maha Lembut, lantas dimana letak sopan santun kita kepada Allah, tidakkah didalam duduk diantara dua sujud tersebut, begitu banyak permohonan yang kita sampaikan kepada Allah :

“ Robbighfirlii wahrhamnii wajburnii warfa’nii warzuqnii wahdinii wa’aafinii wa’fu’annii         ( Ya Allah !!, ampunilah dosaku, belas kasihanilah aku, dan cukupkanlah segela kekuranganku, dan angkatlah derajadku, dan berilah rezki kepadaku, dan berilah aku petunjuk dan berilah kesehatan kepadaku dan berilah ampunan kepadaku “).

7.  Duduk Tasyahhud/Tahiyyat

Didalam raka’at kedua atau terakhir setelah sujud yang kedua, setelah takbir kita duduk lagi yang disebut duduk tasyahhud ( disebut tasyahud karena dalam do’a ini ada dua kalimah syahadad ) dan dinamai Tahiyyat karena ada kata Attahiyyatu ( artinya penghormatan ), sama seperti apabila kita ruku’, sujud atau duduk diantara dua sujud, do’a hanya boleh kita panjatkan apabila posisi duduk kita telah sempurna.

Karena do’a yang kita abaca adalah dialog antara Nabi Muhammad dengan Allah ketika mi’raj di sidradtul munthaha kita upayakan seakan-akan kita benar-benar berdialog dengan Allah dan Allah benar-benar dihadapan kita

8. Salam.

Setelah semua rangkain rukun shalat kita laksanakan, maka terakhir kita tutup dengan salam,

: “ Assalamu’alaikum warrahmatullaahi wabarakaatuhu “ ,  Semoga keselamatan, rahmat Allah dan berkah Allah akan tetap pada kamu sekalian “ sambil kita menoleh kekanan, selanjutnya menoleh kekiri dengan do’a yang sama.

Salam ini dimaksudkan, agar setelah kita mensucikan diri dihadapan Allah, dengan memohon ampunan dan petunjukknya, memohon perlindungan dan keselamatan, memohon rezki dari pada Nya, kita juga diharapkan dapat menebarkan keselamatan, kasih sayang dan  segala kebaikan bagi keluarga, lingkungan serta masyarakat.

Semoga ada manfaatnya, dan tak lupa permohonan maaf saya sampaikan kepada pembaca, karena sudah pasti banyak kesalahan dan kekurangan, mengingat adanya keterbatasan dan kekurangan dari penulis dan kepada Allah saya mohon ampunan.

==========-min-===========

Sumber :

1. Al-qur’an terjemahan Depag

2. Nailul authar ( kumpulan hadist hukum )

3. Pengertian Ibadah :Yazid bin Abdul Qadir Jawas

10 Tanggapan to “SUDAH BENARKAH SHALAT KITA ?”

  1. abuhanif said

    Semoga tulisan ini mampu meningkatkan kualitas sholat kita …amiin

  2. Abu Nabil said

    II. Harus yaqin Bahwa Allah melihat kita.

    Hadist Riwayat Muslim, yang artinya :

    “ Hendaklah engkau menyembah Allah itu seolah-olah engkau melihatNya, jika engkau tidak sanggup berbuat demikian, bayangkan/yakinlah bahwa Allah melihat engkau “

    Kata2 “bayangkan/yakinlah bahwa Allah melihat engkau” bahasa aslinya FAINNAHU YAROOKA. lebih tepat maknanya “Sesungguhnya Alloh melihat kamu”.

    - Perintah Alloh SWT untuk bersabar dan mendirikan sholat sebagai jalan memperoleh pertolongan Alloh SWT.
    - Bagi orang Yang KHUSYU’ Perbuatan Sabar dan Mendirikan Sholat tidak memberatkan. (Lihat QS. Al Baqarah : (2) ayat 45)

    Artinya : “Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu’”

    Ciri-ciri Orang yang Khusyu’ :
    1. Yakin pasti bertemu Allah SWT (di akherat mempertanggung jawabkan perbuatannya)
    2. Selalu ingat dirinya pasti mati.

    Firman Allah SWT QS. Al Baqarah (2) 46) yang artinya :
    “(yaitu) orang-orang yang meyakini, bahwa mereka akan menemui Tuhannya, dan bahwa mereka akan kembali kepada-Nya.”

    Kalo kita membayangkan melihat Alloh SWT nanti bisa terjebak pada penyerupaan Alloh dengan makhluk. Wallahu A’lam.

  3. Santoso Endro Soebroto said

    Inilah tuntunan yang baik, masak ada pelatihan shalat khusyuk bayar Rp. 100.000,-. Apakah di zaman Rasulullah shalallahu alaihi wasshalam mengajari shalat khusyuk kepada sahabatnya dengan membayar dinar atau dirham ?

  4. djolodot said

    subhanalloh, ampuni dosa2ku ya Alloh. menulislah terus pak Min, insyaalloh manfaat bg orang2 kurang ilmu spt saya. Tulis juga hal kesempurnaan wudhu, kami tunggu. Jazakalloh khoir.

  5. masarul said

    Pelatihan Sholat Khusyu’ hanya penipuan. Peserta diajak berkomunikasi dengan Alloh dengan cara membayangkan dzat (wujud) Alloh.

  6. IBLIS said

    Benar kata MASARUL,syahadat adalah rukun pertama dan sholat rukun kedua, kalau rukun pertama belum faham bagaimana melaksanakan rukun kedua.
    Syahadat itu menyaksikan apa itu TUHAN dan apa itu ALLAH, sudah kenal TUHAN dan kenal ALLAH, LALU TIADAKAN tuhan MELAINKAN allah, bukan hanya sekedar mengucapkan kalimah syahadat saja lalu sudah ISLAM.
    Sholat itu berhubungan(komunikasi) dengan ALLAH, tak mengenal ALLAH bagaimana mau berhubungan dengan DIA,jadi khusyu’ itu sangat bohong kalau tidak mengenal yang kita hubungi.
    Ibadah itu artinya pengabdian bukan menyembah, karena ALLAH tidak butuh persembahanmu bahkan DIA yang memberi kamu makan dan dia tidak perlu kamu beri makan.
    Tulisan yang diatas itu hanya pelajaran SD (sangat dasar), belajarlah lagi ada yang lebih banyak bukan hanya sampai disitu.

  7. Wong Ndeso said

    Saya meskipun Wong nDeso sangat faham tipu daya IBLIS
    Dia bisa berlaku seolah orang yang shaleh dan suci,
    Pada awalnya mempertontonkan perilakunya yang seakan-akan hebat untuk menarik manusia ( lemah iman ) agar mau mengikutinya, tapi secara perlahan tapi pasti akan menjerumuskan manusia kepada kesesatan
    Dan komentar IBLIS diatas tentu salah satu upaya untuk menghalangi manusia agar tidak mau belajar dan membaca kebenaran
    Sekarang saya pingin bukti, bila kamu merasa lebih cerdas dan pandai, buatlah artikel semisal diatas yang benar-benar menyampaikan ajaran kebenaran dari Allah dan Rasulnya
    Saya jamin dia tidak akan bisa dan berani karena bila dia menyampaikan kebenaran berarti membakar dirinya sendiri, tapi kalau menghasut dan memfitnah memang keahliannya

  8. Masarul said

    Iblis@ siapapun anda sy cm mengingatkn, nama adlh doa.
    Sy tdk bth pmbenarn dr iblis laknatulloh.
    Artikel yg ditulis oleh Bpk. R.Mintardjo mengenai sholat bkn tntg syahadat. Pertanyaanx sdr iblis pasti gak sholat, ngapain ikut nimbrung koment. Hargailah tlsn org.
    Khusyu’ sdh ada ketentuanx yg sdh dibhs pd koment sdr abu nabil. Dan amal org kafir tdk diterima Alloh termsk sholatx. Iblis adlh makhluk pertama yg kafir dgn menolak satu saja syariat Alloh yaitu sujud pd Nabi Adam as.
    Peringatan bg semua, bahwa menolak syariat Alloh dlm mengatur kehidpn manusia adlh membatalkn syahadat (murtad=kafir sprt iblis) meskipun sholat ato melaksnkn ibadah mahdhoh yg lain.

  9. mochamad toha said

    Saya terkesan dengan tulisan anda enak dibaca,dan gampang dimengerti.Bagi saya untuk mendapatkan ilmu seperti yang anda tulis, mungkin membutuhkan waktu yang lama dan harus melewati beberapa pertemuan dalam diskusi pengajian. Sudah lumayan banyak buku-buku agama yang saya baca, tapi mungkin karena saya kurang pandai memilih buku-buku yang bermutu,sehingga waktu saya yang sudah senja ini terbuang begitu saja. Saya berharap anda terus menulis dan menerangkan tentang agama Allah ini, dan semoga yang anda usahakan ini dapat memperberat timbangan amalan kebaikan anda dihari akhir nanti. amin

  10. rachmad effendi said

    Subhanallah, bagus tulisannya semoga yang tidak mengerti menjadi mengerti tentang sholat

Komentar "PILIHAN" akan diambil menjadi artikel KabarNet.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 4.870 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: