KabarNet.in

Aktual Tajam

Amelia Yani: Ayah Saya Diseret dan Ditembak di Depan Anak-anaknya

Posted by KabarNet pada 13/12/2010

“Di rumah sudah dianiaya, ayah saya ditembak di depan anak-anaknya, kemudian diseret di aspal dan dilempar ke atas truk…”

Jakarta – Putri Jenderal (Purn) Ahmad Yani, Amelia Yani tidak heran dengan keluarnya dokumen pembunuhan G30S PKI di situs Indoleaks. Dia menduga suatu hari hal seperti itu pasti akan diungkit lagi. Dia mengaku memiliki dokumen serupa seperti itu.

“Saya punya dokumen-dokumen seperti itu, yang ucapan-ucapan para dokter. Itu saya simpan, di dalam dokumen itu disebutkan tidak ada penyiksaan,” jelas Amelia saat dihubungi detikcom, Senin (13/12/2010).

Dia menjelaskan, kalau orang beranggapan dari dokumen itu membuktikan tidak ada penyiksaan jelas salah. Dia menegaskan, 8 orang anak almarhum Ahmad Yani dengan jelas melihat adanya penembakan dan penyiksaan.

“Di rumah sudah dianiaya, ayah saya ditembak di depan anak-anaknya, kemudian diseret di aspal dan dilempar ke atas truk. Ayah saya juga sebelumnya dibentak-bentak, apa itu bukan siksaan?” terangnya.

Amelia juga menceritakan bagaimana anak-anak para pahlawan revolusi itu menyimpan trauma, yang hingga kini masih terbayang. Belum lagi saat mereka diminta mengenali jasad ayah mereka yang dikubur di dalam lubang sumur sedalam 12 meter.

“Bagaimana kemudian kami disuruh mengenali jasad para pahlawan itu yang kondisinya sudah rusak. Anaknya Pak Prapto (Letjen TNI Anumerta Suprapto) yang melihat jasad ayahnya hancur di rumah sakit dan diminta mengenali dengan melihat sarung yang dipakai. Ayah saya juga dikenali dari piyama biru yang dikenakan,” tutur Amelia.

Saat itu, dengan melihat kondisi jasad ayah-ayah mereka yang tewas ditembak dan kemudian dikubur di dalam sumur sedalam 12 meter saja sudah merupakan suatu siksaan.

“Itu tidak bisa dimaafkan, itu sebuah kekejaman,” tutupnya.

Sebelumnya, situs sejenis WikiLeaks untuk Indonesia, IndoLeaks, merilis data visum 7 Pahlawan Revolusi. Visum yang diduga kuat milik Jenderal Ahmad Yani, menyebutkan dia gugur dengan 10 luka tembak. Tidak ada penyiksaan sadis seperti disebutkan oleh pemerintah Orde Baru.

Sebuah dokumen visum Pahlawan Revolusi dirilis Indoleaks pada Senin (13/12/2010). Bagian nama orang yang divisum, sengaja dihitamkan. Begitu pula tempat tanggal lahir, pangkat, jabatan dan alamat korban, semua dihitamkan entah oleh IndoLeaks, atau memang sudah demikian.

Namun usia korban terbaca jelas 43 tahun. Kewarganegaraannya Indonesia, jenis kelamin laki-laki dan beragama Islam. Diduga ini adalah dokumen visum Jenderal Ahmad Yani. Ahmad Yani lahir pada 19 Juni 1922 dan wafat 1 Oktober 1965, atau dalam usia 43 tahun.

Sebenarnya, adalagi Pahlawan Revolusi lain yang gugur dalam usia 43 tahun, yaitu Mayjen TNI Anumerta Sutoyo Siswomiharjo. Namun, keterangan visum ini selaras dengan keterangan visum Jenderal Ahmad Yani yang pernah disebutkan dalam makalah pakar politik Indonesia dari Cornell University, AS, Ben Anderson, dalam jurnal ‘Indonesia’ edisi April 1987. [detikNews]

Indoleaks: Tidak Benar Sadisme dalam Pembunuhan Jenderal-Jenderal 1965

Dalam catatan sejarah Orde Baru terkait peristiwa G30S PKI, Letjen S Parman termasuk dalam 4 jenderal yang disiksa sadis sebelum gugur di Lubang Buaya. Penyiksaan sadis ini termasuk disilet dan dipotong alat kelaminnya. Sementara, dokumen visum yang dirilis Indoleaks hanya mengkonfirmasi luka tembak dan patah tulang.

Dokumen visum yang dirilis Indoleaks, Senin (13/12/2010) adalah hasil visum 5 dokter RSPAD yaitu dr Roebino Kertopati, dr Frans Pattiasina, dr Sutomo Tjokronegoro, dr Liaw Yan Siang, dr Lim Joe Thay, pada 5 Oktober 1965. Dokumen ini bercap Panitera Mahkamah Militer Luar Biasa, diduga dari sinilah dokumen itu diperoleh. Salah satu dokumen visum, yang juga ditutup identitasnya, diduga kuat adalah milik Letjen TNI Anumerta S Parman.

Deskripsi luka-lukanya sama dengan keterangan visum Letjen S Parman yang pernah disebutkan dalam makalah pakar politik Indonesia dari Cornell University, AS, Ben Anderson, pada jurnal ‘Indonesia’ edisi April 1987. Jenazah S Parman ditemukan dengan kondisi busuk karena diduga sudah tewas 4 hari sebelumnya. Namun jenazah dikenali oleh Perwira Kesdam Jaya dr Kol CDM Abdullah Hasan.

Selain itu bukti-bukti dikuatkan dengan SIM, foto di dompet, seragam TNI AD dan cincin dengan inisial namanya SPM atau S Parman. S Parman dalam catatan sejarah Orde Baru, mengalami penyiksaan paling sadis seperti Letjen R Soeprapto, Mayjen Soetoyo dan Lettu Pierre Tendean. Mereka antara lain disilet, disundut, bahkan sampai dipotong alat kelaminnya. Namun hal itu tidak terbukti dalam dokumen visum yang ditandatangani 5 dokter RSPAD itu. S Parman diduga kuat gugur akibat 3 luka tembak di kepala. Dia juga mendapat dua luka tembak lain di paha dan pantat. Dia juga mengalami patah tulang di kepala, rahang dan tungkai kiri. Namun, luka ini diduga akibat dijatuhkan ke dalam sumur Lubang Buaya. Luka lain yang disebutkan oleh pemerintah Orde Baru, tidak terbukti.

Kisah sadis menyertai peristiwa G30S PKI dalam sejarah yang dicatat Orde Baru. Letjen Anumerta R Soeprapto misalnya, disebut disilet-silet dan dipotong alat kelaminnya. Namun sebuah dokumen visum yang dirilis situs whistle blower Indoleaks, menunjukkan hal yang berbeda.

Dari situs resminya, Senin (13/12/2010), ada lagi sebuah dokumen visum yang dibuat oleh 4 dokter RSPAD yaitu dr Roebino Kertopati, dr Frans Pattiasina, dr Sutomo Tjokronegoro, dr Liaw Yan Siang, dr Lim Joe Thay, pada 5 Oktober 1965. Bagian nama, tempat tanggal lahir, pangkat, jabatan dan alamat sengaja dihitamkan.

Namun, dari deskripsi luka, diduga kuat adalah dokumen visum Letjen TNI Anumerta R Soeprapto. Data pembandingnya adalah keterangan visum Letjen R Soeprapto yang pernah disebutkan dalam makalah pakar politik Indonesia dari Cornell University, AS, Ben Anderson, pada jurnal ‘Indonesia’ edisi April 1987. Ada kain sarung dan kemeja yang melekat pada korban.

Ada beberapa persamaan dan banyak juga perbedaan antara luka Letjen Soeprapto versi Orde Baru dan dokumen visum yang asli. Berbeda dengan Ahmad Yani, Soeprapto masih hidup saat diculik dari rumahnya. Dia baru gugur di Lubang Buaya.

Dalam versi Orde Baru dan juga dilansir Harian Berita Yudha 9 Oktober 1965, wajah dan tulang kepala Soeprapto remuk namun masih dapat diidentifikasi. Hasil visum juga menunjukkan kalau ada luka dan pukulan benda tumpul yang menyebabkan patah tulang di bagian kepala dan muka.

Nah, justru perbedaannya yang mencolok. Versi TNI menyebutkan ada pengakuan anggota Gerwani, bahwa mereka menyilet-nyilet korban, bahkan memotong alat kelamin korban. Namun, rupanya dalam dokumen yang diungkap Indoleaks, hal itu tidak terbukti.

Laporan visum untuk Soeprapto, selain patah tulang tengkorak di enam titik, adalah patah tulang di betis kanan dan paha kanan. Luka benda tumpul diduga batu atau popor senapan. Soeprapto memang mengalami 3 luka tusuk, namun dari bayonet dan bukan silet.

Soeprapto juga gugur akibat 11 luka tembak di berbagai bagian tubuh. Selain itu tidak ada luka lagi. Tidak ada bukti penyiletan apalagi mutilasi alat kelamin. Pembunuhan Letjen Soeprapto tentu saja tragis, namun tidak sesadis yang dijabarkan dalam catatan sejarah versi Orde Baru.

Sebelumnya, dokumen visum Ahmad Yani yang dirilis Indoleaks juga hanya menyebutkan luka tembak. Padahal Orde Baru mencatat kalau PKI mencungkil mata Pahlawan Revolusi itu.

Ahmad Yani
Situs sejenis WikiLeaks untuk Indonesia, IndoLeaks, merilis data visum 7 Pahlawan Revolusi. Visum yang diduga kuat milik Jenderal Ahmad Yani, menyebutkan dia gugur dengan 10 luka tembak. Tidak ada penyiksaan sadis seperti disebutkan oleh pemerintah Orde Baru.

Sebuah dokumen visum Pahlawan Revolusi dirilis Indoleaks pada Senin (13/12/2010). Bagian nama orang yang divisum, sengaja dihitamkan. Begitu pula tempat tanggal lahir, pangkat, jabatan dan alamat korban, semua dihitamkan entah oleh IndoLeaks, atau memang sudah demikian.

Namun usia korban terbaca jelas 43 tahun. Kewarganegaraannya Indonesia, jenis kelamin laki-laki dan beragama Islam. Diduga ini adalah dokumen visum Jenderal Ahmad Yani. Ahmad Yani lahir pada 19 Juni 1922 dan wafat 1 Oktober 1965, atau dalam usia 43 tahun.

Sebenarnya, adalagi Pahlawan Revolusi lain yang gugur dalam usia 43 tahun, yaitu Mayjen TNI Anumerta Sutoyo Siswomiharjo. Namun, keterangan visum ini selaras dengan keterangan visum Jenderal Ahmad Yani yang pernah disebutkan dalam makalah pakar politik Indonesia dari Cornell University, AS, Ben Anderson, dalam jurnal ‘Indonesia’ edisi April 1987.

Dalam sejarah versi Orde Baru, disebutkan kalau Ahmad Yani ditembak pasukan Cakrabirawa di rumahnya. Versi pemerintah ini, seperti dilansir harian Angkatan Bersendjata dan Berita Yudha, dan menjadi buku putih Orde Baru, juga menyebutkan kalau Ahmad Yani dicungkil matanya.

Lantas bagaimana dengan dokumen visum yang diungkap IndoLeaks? Dokumen yang dibuat oleh 5 dokter RSPAD ini menyebutkan Ahmad Yani gugur dengan luka tembak. Tidak ada luka lain yang diderita tubuh Ahmad Yani.

“8 Luka tembak masuk di bagian depan, 2 luka tembak masuk di bagian belakang. Di perut ada 2 luka tembak ke luar dan di punggung 1 luka tembak ke luar,” demikian hasil visum dr Roebino Kertopati, dr Frans Pattiasina, dr Sutomo Tjokronegoro, dr Liaw Yan Siang, dr Lim Joe Thay.

Di luar itu, tidak ada lagi tanda luka lain. Tidak ada penyiksaan fisik, apalagi sampai pencungkilan mata seperti keterangan pemerintah Orde Baru.

Komentar "PILIHAN" akan diambil menjadi artikel KabarNet.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 4.904 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: