KabarNet.in

Aktual Tajam

Kehormatan Polisi

Posted by KabarNet pada 25/03/2010

INSTITUSI polisi sedang menghadapi ujian berat. Berat karena perkara yang kini muncul adalah letusan gunung es yang episentrumnya ada di kepolisian itu sendiri. Sebuah kasus pajak sebesar Rp25 miliar diduga melibatkan sejumlah jenderal polisi. Yang meledakkan kasus itu ke hadapan publik adalah juga jenderal polisi. Akibatnya polisi sibuk berkelahi melawan polisi.

Susno Duadji yang dulu menjadi pemain kunci pertarungan buaya melawan cecak kini juga menjadi pemain kunci. Namun bukan lagi dalam peperangan melawan cecak, melainkan buaya melawan buaya. Publik kini menyaksikannya dengan asyik sekaligus geli. Bagi media, inilah kasus seksi yang tentu saja mengasyikkan. Tetapi bagi kehormatan polisi, ini adalah perkelahian menggelikan dan menyedihkan.

Perdebatan yang mulai muncul sekarang ini adalah apakah seorang Susno Duadji, mantan Kepala Bareskrim Polri yang kini nonjob, harus didaulat menjadi pahlawan atau dikutuk sebagai pengkhianat. Menghabiskan waktu dan energi hanya untuk menjawab pertanyaan dilematis seperti itu. Yang jauh lebih penting sekarang ini adalah menegakkan kehormatan polisi. Caranya tidak lain dan tidak bukan polisi dan seluruh sistem hukum yang mengatur dan dianut harus berpihak pada kebenaran.

Dua aspek yang tengah mengguncang kehormatan polisi dalam soal Susno Duadji. Pertama aspek manajemen internal kepolisian dan kedua aspek penegakan hukum itu sendiri. Terhadap seorang Susno yang masih tercatat sebagai anggota polisi aktif, terlihat begitu lemah aturan internal yang mengharuskannya untuk tunduk. Tidak ada sanksi yang diberikan kepadanya walaupun dia ternyata sudah sangat sering tidak masuk kantor. Bila aturan ada, tetapi implementasinya lemah sehingga terhadap Susno tidak mampu diberlakukan sanksi apa pun, ini adalah masalah kepemimpinan dalam tubuh kepolisian itu sendiri. Patut dipertanyakan mengapa Kapolri sulit sekali menghukum secara internal seorang Susno?

Aspek kedua menyangkut substansi penegakan hukum. Dari kasus Anggodo dan sekarang mencuat lagi kasus makelar kasus pajak yang melibatkan para jenderal polisi, terlihat dengan jelas, betapa rumah kepolisian kita masih sarat dengan permainan. Permainan dengan para makelar yang bisa mengubah yang salah menjadi benar dan yang benar menjadi salah.

Seorang Susno yang mengungkap kecurigaan keterlibatan dua jenderal polisi dalam kasus pajak Rp25 miliar justru dijadikan tersangka atas tuduhan pencemaran nama baik. Padahal yang harus dikerjakan terlebih dahulu adalah pembuktian substansi manipulasi pajak. Bila tuduhan dan kecurigaan tidak terbukti, masukkan Susno segera ke penjara karena pencemaran nama baik. Memperbaiki kebobrokan yang sudah sangat sistemik membutuhkan orang-orang yang nekat menjadi pahlawan kesiangan. Tanpa white devil, kepolisian terlena dalam penegakan hukum yang argumentatif, tidak substantif. Makelar kasus ada dalam praktik, tetapi tiada dalam kata.

Kita semua berkepentingan agar kehormatan polisi harus ditegakkan. Dan itu berarti polisi harus dipaksa untuk membela kebenaran. Karena di situlah nyawa kehormatan dan integritas polisi. (EDITORIAL MI)

Komentar "PILIHAN" akan diambil menjadi artikel KabarNet.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 5.040 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: