KabarNet.in

Aktual Tajam

Biografi Sang Jenderal Besar Soedirman

Posted by KabarNet pada 12/03/2010

Jenderal Besar Soedirman (Ejaan Soewandi: Sudirman) lahir di di Dukuh Rembang, Desa Bantar Barang, Kecamatan Rembang, Kabupaten Purbalingga, Jawa Tengah, 24 Januari 1916. Jenderal Sudirman merupakan salah satu tokoh besar di antara sedikit orang lainnya yang pernah dilahirkan oleh suatu revolusi. Saat usianya masih 31 tahun ia sudah menjadi seorang jenderal. Meski menderita sakit paru-paru yang parah, ia tetap bergerilya melawan Belanda. Ia berlatarbelakang seorang guru HIS Muhammadiyah di Cilacap dan giat di kepanduan Hizbul Wathan Ketika pendudukan Jepang, ia masuk tentara Pembela Tanah Air (Peta) di Bogor yang begitu tamat pendidikan, langsung menjadi Komandan Batalyon di Kroya. Menjadi Panglima Divisi V/Banyumas sesudah TKR terbentuk, dan akhirnya terpilih menjadi Panglima Angkatan Perang Republik Indonesia (Panglima TNI). Ia merupakan Pahlawan Pembela Kemerdekaan yang tidak perduli pada keadaan dirinya sendiri demi mempertahankan Republik Indonesia yang dicintainya. Ia tercatat sebagai Panglima sekaligus Jenderal pertama dan termuda Republik ini.

Sudirman merupakan salah satu pejuang dan pemimpin teladan bangsa ini. Pribadinya teguh pada prinsip dan keyakinan, selalu mengedepankan kepentingan masyarakat banyak dan bangsa di atas kepentingan pribadinya. Ia selalu konsisten dan konsekuen dalam membela kepentingan tanah air, bangsa, dan negara. Hal ini boleh dilihat ketika Agresi Militer II Belanda. Ia yang dalam keadaan lemah karena sakit tetap bertekad ikut terjun bergerilya walaupun harus ditandu. Dalam keadaan sakit, ia memimpin dan memberi semangat pada prajuritnya untuk melakukan perlawanan terhadap Belanda. Itulah sebabnya kenapa ia disebutkan merupakan salah satu tokoh besar yang dilahirkan oleh revolusi negeri ini.

Sudirman yang dilahirkan di Bodas Karangjati, Purbalingga, 24 Januari 1916, ini memperoleh pendidikan formal dari Sekolah Taman Siswa, sebuah sekolah yang terkenal berjiwa nasional yang tinggi. Kemudian ia melanjut ke HIK (sekolah guru) Muhammadiyah, Solo tapi tidak sampai tamat. Sudirman muda yang terkenal disiplin dan giat di organisasi Pramuka Hizbul Wathan ini kemudian menjadi guru di sekolah HIS Muhammadiyah di Cilacap. Kedisiplinan, jiwa pendidik dan kepanduan itulah kemudian bekal pribadinya hingga bisa menjadi pemimpin tertinggi Angkatan Perang.

Sementara pendidikan militer diawalinya dengan mengikuti pendidikan tentara Pembela Tanah Air (Peta) di Bogor. Setelah selesai pendidikan, ia diangkat menjadi Komandan Batalyon di Kroya. Ketika itu, pria yang memiliki sikap tegas ini sering memprotes tindakan tentara Jepang yang berbuat sewenang-wenang dan bertindak kasar terhadap anak buahnya. Karena sikap tegasnya itu, suatu kali dirinya hampir saja dibunuh oleh tentara Jepang.

Setelah Indonesia merdeka, dalam suatu pertempuran dengan pasukan Jepang, ia berhasil merebut senjata pasukan Jepang di Banyumas. Itulah jasa pertamanya sebagai tentara pasca kemerdekaan Indonesia. Sesudah Tentara Keamanan Rakyat (TKR) terbentuk, ia kemudian diangkat menjadi Panglima Divisi V/Banyumas dengan pangkat Kolonel. Dan melalui Konferensi TKR tanggal 2 Nopember 1945, ia terpilih menjadi Panglima Besar TKR/Panglima Angkatan Perang Republik Indonesia. Selanjutnya pada tanggal 18 Desember 1945, pangkat Jenderal diberikan padanya lewat pelantikan Presiden. Jadi ia memperoleh pangkat Jenderal tidak melalui Akademi Militer atau pendidikan tinggi lainnya sebagaimana lazimnya, tapi karena prestasinya.

Ketika pasukan sekutu datang ke Indonesia dengan alasan untuk melucuti tentara Jepang, ternyata tentara Belanda ikut dibonceng. Karenanya, TKR akhirnya terlibat pertempuran dengan tentara sekutu. Demikianlah pada Desember 1945, pasukan TKR yang dipimpin oleh Sudirman terlibat pertempuran melawan tentara Inggris di Ambarawa. Dan pada tanggal 12 Desember tahun yang sama, dilancarkanlah serangan serentak terhadap semua kedudukan Inggris. Pertempuran yang berkobar selama lima hari itu akhirnya memaksa pasukan Inggris mengundurkan diri ke Semarang.

Pada saat pasukan Belanda kembali melakukan agresinya atau yang lebih dikenal dengan Agresi Militer II Belanda, Ibukota Negara RI berada di Yogyakarta sebab Kota Jakarta sebelumnya sudah dikuasai. Jenderal Sudirman yang saat itu berada di Yogyakarta sedang sakit. Keadaannya sangat lemah akibat paru-parunya yang hanya tingggal satu yang berfungsi.

Dalam Agresi Militer II Belanda itu, Yogyakarta pun kemudian berhasil dikuasai Belanda. Bung Karno dan Bung Hatta serta beberapa anggota kabinet juga sudah ditawan. Melihat keadaan itu, walaupun Presiden Soekarno sebelumnya telah menganjurkannya untuk tetap tinggal dalam kota untuk melakukan perawatan. Namun anjuran itu tidak bisa dipenuhinya karena dorongan hatinya untuk melakukan perlawanan pada Belanda serta mengingat akan tanggungjawabnya sebagai pemimpin tentara.

Maka dengan ditandu, ia berangkat memimpin pasukan untuk melakukan perang gerilya. Kurang lebih selama tujuh bulan ia berpindah-pindah dari hutan yang satu ke hutan yang lain, dari gunung ke gunung dalam keadaan sakit dan lemah sekali sementara obat juga hampir-hampir tidak ada. Tapi kepada pasukannya ia selalu memberi semangat dan petunjuk seakan dia sendiri tidak merasakan penyakitnya. Namun akhirnya ia harus pulang dari medan gerilya, ia tidak bisa lagi memimpin Angkatan Perang secara langsung, tapi pemikirannya selalu dibutuhkan.

Soedirman sakit. Anak buahnya terpaksa mendatangkan dokter dari Solo. Meski begitu, kesehatan Soedirman tak kunjung membaik. Soedirman kembali ke Yogya, pada 10 Juli 1949. Dia langsung diboyong ke Panti Rapih. Kala itu Yogya sudah dalam kekuasaan Belanda. Rika, suster yang merawat Soedirman, mengatakan bila sang Jenderal dirawat dengan nama samaran: Abdullah Lelana Putra. Pengakuan Rika pada 1985 itu dimuat sebuah surat kabar yang naskahnya kini tersimpan juga di Museum Sasmitaloka. Jenderal Soedirman memakai nama samaran supaya keberadaannya tak diketahui Belanda.

Meski sudah terbaring di ruang perawatan, Soedirman tetap sibuk berjuang. Ia pun masih memimpin rapat kabinet bersama Presiden Sukarno. Keduanya membahas upaya mempertahankan kemerdekaan. Habis dua pekan di Panti Rapih, Soedirman pulang ke rumah. Namun kesehatannya kian mencemaskan usai Belanda bersedia melakukan gencatan senjata, Oktober 1949. Dokter pun meminta dia kembali ke Panti Rapih. Tapi Soedirman memilih beristirahat di wisma tentara, Badakan, Magelang.

Di sana, Soedirman bisa menghirup hawa sejuk. Pemandangan Gunung Sumbing juga terbentang di depan mata. Namun semua itu tak membuat kesehatan Soedirman membaik. Tiga bulan di sana, ia kerap muntah darah. Juga di tempat tidur. Dokter Husein, dari Rumah Sakit Magelang, akhirnya rajin menjenguk Soedirman. Bolak-balik ia memeriksa dan menunggui jenderal itu. Kondisi Jenderal waktu itu tinggal tulang dan kulit saja.

Pada 18 Januari 1950, Soedirman meminta sejumlah petinggi tentara menemuinya di Badakan. Seolah-olah ia mendapat firasat bila hari kematiannya segera tiba. Esok harinya, ia memanggil istri dan tujuh anaknya. Kepada mereka, Soedirman memberikan wejangan. Dia juga sempat bergurau. Kepada keluarga, misalnya, ia menyatakan ingin seperti Lurah Pakis, kenalannya, yang hidup sampai tua dan bisa menimang cucu.

Sebelas hari kemudian, tepatnya Senin, 29 Januari 1950, Soedirman kembali dikelilingi keluarganya. Kondisi tubuh kurus Soedirman makin lemah. Melihat itu, istrinya yang bernama  Siti Alifah berlinang air mata. Ia meminta suaminya agar tegar. Soedirman menatap Alfiah, kemudian ia meminta istrinya menuntun, membaca kalimat tauhid. “Satu kalimat terucap, sang Jenderal pun kemudian mangkat.

Soedirman pergi dalam usia muda, 34 tahun. Esok harinya, ribuan orang ikut mengantarkan jenazahnya ke Taman Makam Pahlawan Semaki, Yogyakarta. Hari itu hujan turun lebat mengguyur Kota Yogya. Tembakan salvo satu regu tentara di pemakaman Semaki mengantar Jenderal Besar ke tempat peristirahatan terakhirnya. Ia dinobatkan sebagai Pahlawan Pembela Kemerdekaan.

Berikut Ini Data Lengkap Tengtang Jenderal Besar Soedirman

Nama: Jenderal Sudirman
Lahir: Bodas Karangjati, Purbalingga, 24 Januari 1916
Meninggal: Magelang, 29 Januari 1950

Agama: Islam

Pendidikan Fomal:
- Sekolah Taman Siswa
- HIK Muhammadiyah, Solo (tidak tamat)

Pendidikan Tentara: Pembela Tanah Air (Peta) di Bogor
Pengalaman Pekerjaan: Guru di HIS Muhammadiyah di Cilacap
Pengalaman Organisasi: Kepanduan Hizbul Wathan

Jabatan di Militer:
- Panglima Besar TKR/TNI, dengan pangkat Jenderal
- Panglima Divisi V/Banyumas, dengan pangkat Kolonel
- Komandan Batalyon di Kroya
Tanda Penghormatan: Pahlawan Pembela Kemerdekaan

Meniggal:
Magelang, 29 Januari 1950

Dimakamkan:
Taman Makam Pahlawan Semaki, Yogyakarta

(Berbagai sumber)

6 Tanggapan to “Biografi Sang Jenderal Besar Soedirman”

  1. tedi rudianto berkata

    mau dong soedirman ditulis oleh taufik adi susilo

  2. arin berkata

    U r the best Jenderal that Indonesian got. We still need u, Jendral!!!! Huges love for u.

  3. riyuzaki berkata

    JENDRAL SOEDIRMAN ADALAH JENDRAL YANG THE BEST IS VERY BEST BLM ADA JENDRAL-JENDRAL YANG HEBAT KYK DIA…YANG BENER BERJUANG DEMI NEGARA LILLAHITAALLA TIDAK PEDULI DENGAN HARTA BAHKAN PENYAKIT YANG DIDERITANYA….

  4. herwi berkata

    kau adalah seorang jendral yg tdk akan pernah hilang d hati rakyat indonesia

  5. darma berkata

    memang engkau lah jendral yang patut di banggakan……
    saya bangga bnget kpda beliau krna beliau sudah brtanggung jawab, dan pertanggung jawaban yg sangt-sangat besar kpda masyarakat yaitu masyarakat indonesia…………

    saya mewakili segenap bangsa indonesia untuk tidak akn prnah melupakan jasa-jasa mu…….

    dan sllu mengingat jasa- jasa mu…….

    smoga di terima di sisi allah dan di tempat kan yang layak untuk jasa-jasa mu kpda negara ini (indonesia)

  6. firman berkata

    semoga aku dan keturunanku memiliki sifat tauladanmu Jenderal…

Komentar "PILIHAN" akan diambil menjadi artikel KabarNet.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 4.096 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: