KabarNet.in

Aktual Tajam

Copot dan Periksa Komjen Gories Mere !

Posted by KabarNet pada 22/01/2010

Jakarta(KATAKAMI) Senang juga rasanya kalau melihat Kapolri Jenderal Polisi Bambang Hendarso Danuri memusnahkan barang bukti narkoba senilai Rp. 5 Miliar pada hari Rabu (20/1/2010) ini. Kemudian pada gerakan ini dicanangkan juga oleh MABES POLRI program ZERO TOLERANSI NARKOBA. Siapa yang tak senang di Indonesia ini kalau aparat penegak hukum terus gencar melakukan perang terhadap barang haram NARKOBA dan sekutunya.

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) sudah berkali-kali mengingatkan kepada kita semua, NEGARA TIDAK BOLEH KALAH MELAWAN NARKOBA !

Sehingga, itikat baik MABES POLRI perlu didukung dalam hal perang melawan NARKOBA ini. Maju terus Pak Kapolri, babat habis NARKOBA itu sampai ke akar-akarnya. Semua pihak harus mendukung langkah positif MABES POLRI – sepanjang muaranya adalah pemberantasan narkoba secara riil.

Bukan fiksi.

Bukan fantasi.

Bukan juga angan-angan.

Tapi, sebelum program ZERO TOLERANSI NARKOBA itu “dimainkan” ke semua lini dan dalam semua tatanan kehidupan kita berbangsa dan bernegara, maka perlulah kiranya Kapolri Jenderal BHD dan jajarannya diingatkan tentang PR atau PEKERJAAN RUMAH yang belum terselesaikan oleh jajaran KEPOLISIAN.

Apa kabarnya sindikat narkoba internasional yang dipimpin oleh bandar Liem Piek Kiong alias MONAS ?

Tak akan jemu-jemunya kami menyoroti masalah ini !

Sampai langit runtuh, kasus bandar narkoba MONAS ini tak akan pernah berhenti untuk ditagihkan kepada Mabes POLRI – khususnya Badan Narkotika Nasional (BNN).

Bayangkan ada sindikat narkoba bertaraf internasional merajalela di Indonesia dengan dipimpin oleh Liem Piek Kiong alias MONAS.

Sindikat ini ditangkap oleh jajaran DIREKTORAT NARKOBA BARESKRIM POLRI pada bulan November 2007 dengan barang bukti 1 JUTA PIL EKSTASI.

Harga jual untuk 1 juta pil ekstasi, diperkirakan akan meraup keuntungan Rp. 1 Triliun. Bayangkan ! Itu baru yang disita pada saat penangkapan.

Belum termasuk jutaan cikal bakal pil ekstasi yang sudah, sedang dan akan diproduksi oleh sindikat Monas – sebab mereka punya pabriknya sendiri dan sudah dipasarkan ke mancanegara.

Dan pada saat sindikat Monas ditangkap bulan November 2007 itu (sebanyak 9 orang), sebelumnya Monas sudah pernah diloloskan dari jerat hukum sesaat setelah ditangkap. Ditangkap, tapi dilepaskan lagi.

Ditangkap lagi, tapi tetap ada juga beking dari oknum POLRI yang melepaskan Monas berturut-turut. Setelah dilepas, Monas kembali diringkus bulan November 2007.

Tapi apa yang terjadi ?

Dari 9 orang yang ditangkap – 2 diantaranya adalah Monas dan isterinya yang bernama Jet Lie alias Cece. Seperti yang sudah-sudah, bandar narkona MONAS kembali diloloskan dari jerat hukum. Untuk mengakalinya, Monas hanya diadili untuk kepemilikan 1,5 gram sabu. Ajaib kan!

Ada mafia alias bandar narkoba bertaraf internasional diringkus dengan barang bukti 1 juta pil ekstasi, tapi ketika diadili kasusnya justru kepemilikan 1,5 gram sabu.

Yang diajukan ke Pengadilan untuk kasus kepemilikan 1 juta pil ekstasi di Apartemen Taman Anggrek tersebut hanya 3 orang saja – yang 6 orang diloloskan oleh oknum POLRI –.

Salah seorang yang diajukan ke Pengadilan adalah JET LI alias CECE, isteri dari bandar narkoba MONAS. Perempuan ini sudah dijatuhi hukuman MATI dan kini mendekam di dalam Rutan Pondok Bambu Jakarta Timur.

Tapi, walaupun sudah dihukum mati, bisninya si MONAS ini bisa dengan leluasa mengendalikan perdagangan gelap NARKOBA dari dalam penjara. Hebat gak tuh !

Ada terpidana mati kasus narkoba — lalu BNN memiliki alat penyadap canggih — tapi tidak bisa melacak perdagangan narkoba ilegal dari dalam penjara yang dilakukan oleh seorang TERPIDANA MATI ke berbagai manca negara.

Patut dapat diduga, bandar narkoba Liem Piek Kiong alias MONAS ini bisa 3 kali berturut-turut lolos dari jerat hukum adalah karena dibeking oleh KOMISARIS JENDERAL POLISI GORIES MERE.

Dan manusia yang bernama Komjen Gories Mere itu adalah Kepala Pelaksana Harian (Kalakhar) Badan Narkotika Nasional atau BNN.

Nama yang satu ini punya track record yang sangat buruk dalam hal NARKOBA. Mohon maaf saja, hitam harus dikatakan hitam dan putih harus dikatakan putih.

Patut dapat diduga, Komjen Gories Mere dikaitkan dalam kasus pembunuhan lewat jurus penembakan misterius terhadap mafia bandar narkoba Hans Philip tahun 2005 lalu.

Hans Philip mati secara sadis yaitu ditembak di bagian kepala saat berada didalam mobilnya di daerah Bogor.

Patut dapat diduga, Komjen Gories Mere dikaitkan juga namanya dalam kasus PENCURIAN barang bukti narkoba yaitu 13 kg sabu tahun 2006 lalu.

Hilangnya barang bukti ini ramai diberitakan di berbagai media massa dan membuat Kapolri pada saat itu yaitu Jenderal Polisi Sutanto MARAH BESAR. Sutanto tidak mau tahu, barang bukti yang hilang itu HARUS dikembalikan lagi.

Kalau dijual di PASARAN, diperkirakan 13 kg sabu itu akan laku terjual Rp. 13 Miliar ! Setelah Sutanto marah, sim salabim … PENCURI yang mahir dan liar itu tak berdaya dan mengalah. Barang bukti narkoba yang dicurinya bisa “ujug-ujug” kembali ke dalam gudang penyimpanannya.

WARTAWAN bolak-balik menjadi korban kekerasan setiap kali memberitakan soal sepak terjang yang menyangkut nama oknum Jenderal tertentu di MABES POLRI yang identik dengan kejahatan kotor NARKOBA.

Sebutlah inisialnya H dari sebuah harian nasional. Tidak lama setelah ia memberitakan soal hilangnya barang bukti narkoba 13 kg sabu itu, motor yang dipakainya liputan HANCUR dirusak.

Kemudian, sebutlah inisialnya M dari sebuah harian nasional. Tidak lama setelah memberitakan masalah NARKOBA yang menyangkut nama oknum JENDERAL POLRI, ia “diculik” oleh orang suruhan si Jenderal dan dibawa berputar-putar terlebih dahulu.

Baru setelah itu, dia dihadapkan kepada oknum JENDERAL tersebut di suatu tempat. Dan selanjutnya, korban berikutnya yang sudah sangat tidak asing adalah KATAKAMI.COM.

Sudah sejak setahun terakhir sejak kami memberitakan soal bandar narkoba Liem Piek Kiong alias MONAS ini, patut dapat diduga KOMJEN GORIES MERE melakukan seribu satu macam teror yang sangat memprihatinkan. Ia sudah kami laporkan secara resmi ke MABES POLRI.

Singkat kata, untuk apa diadakan program ZERO TOLERANSI NARKOBA jika pada faktanya didalam organisasi POLRI sendiri masih terdapat virus berbahaya yaitu oknum perwira tinggi yang patut dapat diduga menjadi BEKING sindikat mafia narkoba di negeri ini.

Copot dan periksa Komjen Gories Mere !

Bagaimana mungkin, seorang Jenderal berbintang 3 bisa dibiarkan menjabat dalam posisi atau kedudukan yang sangat prestisius seperti ini – ditugaskan menjadi Kalakhar BNN tetapi patut dapat diduga dirinya adalah beking dari sindikat mafia-mafia narkoba bertaraf internasional ? Copot, singkirkan yang sudah sangat membahayakan Indonesia dan khususnya POLRI. Ganti dengan Angkatan yang lebih muda dan lebih berintegritas tinggi !

Komjen Gories Mere sudah hampir 2 tahun menjabat sebagai Kalakhar BNN.

Tidak ada prestasi apapun ! Tidak ada kinerja yang baik ! Kepala badan Reserse & Kriminal POLRI saja sudah dipimpin oleh Angkatan 1977. Sementara Komjen Gories Mere Angkatan 1976.

Ganti Komjen Gories Mere dengan Angkatan yang lebih muda !

Jangan main-main dengan nasib bangsa, negara dan rakyat Indonesia ! Dan satulagi, soal penggunaan alat penyadap. BNN mengklaim bahwa mereka BERHAK menggunakan alat penyadap untuk menyadapi siapapun yang terlibat kasus pidana NARKOBA. Eh, BNN, tutup mulut kalian !

Patut dapat diduga sejak bertahun-tahun yang silam, Komjen Gories Mere sangat sering menyalah-gunakan alat penyadap. Sejak pria Flores ini memimpin Tim Anti Teror Polri.

Sekali lagi, eh, BNN, tutup mulut kalian soal penggunaan alat penyadap !

Patut dapat diduga saat Kapolri dipimpin Jenderal Polisi Sutanto beberapa tahun lalu, Komjen Gories Mere terlibat dalam pemasangan alat penyadap di rumah dinas Kapolri ! Bayangkan itu !

Betapa liarnya seorang bawahan, berani-berani memasnag alat penyadap di rumah dinas ATASANNYA sendiri. Dan atasannya itu, adalah orang nomor satu di POLRI.

Dalam sebuah kesempatan bertemu di tahun 2007, Gories Mere pernah mengeluhkan hal ini kepada Pemimpin Redaksi KATAKAMI.COM Mega Simarmata bahwa dirinya yang dituduh melakukan aksi penyadapan ilegal di rumah dinas Kapolri.

(Habis siapa lagi yang berani berbuat selancang itu kepada atasan ?)

Jangan main-main dengan alat penyadap !

Mantan Presiden Megawati Soekarnoputri pernah menyampaikan kepada KATAKAMI.COM bahwa beliau mendapatkan informasi, ada oknum POLRI yang melakukan perdagangan gelap hasil-hasil penyadapan alias dikomersialisasikan.

Tidak bisa BNN dibiarkan menggunakan alat penyadap seenaknya, tanpa pengawasan yang ketat – terutama sepanjang BNN dipimpin oleh oknum yang patut dapat diduga menjadi biang kerok penyadapan liar dan ilegal.

Presiden SBY harus memerintahkan kepada Kepala Badan Intelijen Negara Sutanto dan Kapolri Jenderal BHD, agar ditertibkan dan sangat diawasi penggunaan ALAT PENYADAP yang digunakan oleh seluruh instansi di republik ini.

Bentuk TIM PENGAWAS ALAT PENYADAP ! Dalam arti kata, silahkan saja instansi-instansi penting menggunakan alat penyadap sesuai dengan domain tugas mereka masing-masing.

Tetapi ikuti prosedur penggunaannya ! Gunakanlah alat penyadap sesuai dengan ketentuan hukum yang berlaku.

Mohon maaf, kalau kami masih belum lelah mengkritisi sepak terjang oknum Jenderal POLRI yang patut dapat diduga namanya identik dengan kejahatan-kejahatan NARKOBA.

Bikin malu saja ! Tapi anehnya, tidak punya malu dan tidak tahu malu !

Semua gerakan atau program positif dari MABES POLRI seputar pemberantasan narkoba, sangat pantas untuk didukung. Inilah yang diharapkan dari Jenderal Polisi Bambang Hendarso Danuri yang akan memasuki masa pensiun per tanggal 1 November 2010 mendatang.

Selama 10 bulan ke depan, Jenderal BHD masih dibutuhkan untuk terus secara giat dan sungguh-sungguh menangani masalah narkoba di negara kita yang tercinta ini.

Siap Jenderal, gerakan zero toleransi narkoba itu tolong diganti namanya menjadi GERAKAN ZERO BEKING MAFIA NARKOBA.

Dan target pertama dari gerakan ini adalah bawahan Jenderal sendiri !

Copot dan bersihkan siapapun yang selama ini pesta pora dan merajalela menjadi BEKING-BEKING sindikat mafia narkoba. Singkirkan !

NEGARA TIDAK BOLEH KALAH MELAWAN NARKOBA !

NEGARA TIDAK BOLEH KALAH MELAWAN BEKING MAFIA NARKOBA !

Bagaimana mau memberantas narkoba sampai ke akar-akarnya, kalau BEKING-BEKING utamanya TIDAK dihajar terlebih dahulu. Tumpas dulu beking-beking narkoba. Lanjutkan ! (MS)

6 Tanggapan to “Copot dan Periksa Komjen Gories Mere !”

  1. muhamad ilham said

    sebuah kajian yang sama sekalitidak berbobot apalagi rasial..matai aja lo

  2. Saya tukar pendapat saya, setelah adanya informasi terakhir :

    PERIKSA ALIRAN DANA/REKENING BRIGJEND “AD” yang naik Jenderal tidak bersekelohah, sesudah Jenderal baru sekolah dan naik jenderal melompat berapa tingkat. Mantan Direktur Narkoba Polda Metrojaya…..

    Rekeningnya secara frequently, disetor terus oleh “MONAS” alias Liem Liem Piek Kiong ????? Spektakuler kan?…Makanya bisa naik Jenderal tanpa do’a dan perjuangan akademis. Makanya BB jadi 1,5 gram sabu-sabu saja….. Dunia…dunia….brengsek sekali sistem sekarang….

  3. Jaka said

    Kalau gitu…mana kerjaan kpk ???? Jangan Century saja diobok-obok…kalau perlu DPR bentuk Pansus untuk periksa Jenderal-Jenderal brengsek tapi tetap jaya di Polri…Jangan pemeriksaan internal….”MENGUAP” so pasti…………………………………

  4. reki said

    plus

  5. dj said

    org dah krja kras mrh d blg gtu klian aja udh yg krja,,, bsa bga nnkap gmbong teroris sma bndar nrkoba

  6. Anonymous said

    periksa jendral2 polri yang munafik

Komentar "PILIHAN" akan diambil menjadi artikel KabarNet.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 5.041 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: